Buku, Resensi

Musik dan Kegilaan

Oleh Gregorius TH Manurung

Dalam penggunaannya, kata gila (selayaknya kata sifat lain) memiliki beragam makna. Pernyataan “Gila ni orang!” bisa berarti orang itu adalah orang dengan sudut pandang, pemikiran, atau praktik hidup yang keluar dari keumuman, atau memang tidak waras.

“Gila” juga bisa menjadi pemakluman. Pemakluman atas tindakan absurd yang dilakukan seseorang karena dia adalah “orang gila”. Namun, seringkali gila mendahului maklum. Kita dibuat merinding terlebih dahulu saat melihat tindakan meminum air seni sendiri atau membakar patung raksasa di tengah galeri seni mewah, sebelum menyatakan “Gila ni orang”.

Kegilaan seperti itulah yang dihadirkan dalam buku Madness Belong to All: Catatan Ganjil Musik Abad 20 karya Aliyuna Pratisti.

Ketika mahasiswa, Aliyuna keranjingan musik dan sering merasa mengetahui lebih dari teman sebaya. Namun, semua berubah ketika ia mengunjungi Perpustakaan Batoe Api di Jatinangor.

Adalah album Raw Power milik band punk pionir The Stooges yang mengubah Aliyuna. Dari mendengar album itu di Perpustakaan Batoe Api, Aliyuna menyadari bahwa ia jauh dari “mengetahui lebih” soal musik. Perjalanan selanjutnya adalah keranjingan musik era 1960-1970 dengan dosis berlebih. Ia jadi lebih menyeriusi musik: mendengar, menyimak, lalu menuliskan catatan atas musik, yang nantinya menjadi buku ini.

Keseriusan Aliyuna terlihat sejak tulisan pertama dalam buku ini, “Legiun Blues Inggris: Dari Idealis hingga Post-Impresionist” (hlm.3-6). Aliyuna menulis interpretasinya atas British Blues,gerakan para musisi blues kulit putih Inggris, utamanya musisi dan penyiar radio BBC, Alexis Korner.

Korner sebenarnya memainkan blues standar. Namun, ia menjadi penting bagi British Blues melalui karya musik, gig di kelab-kelab di London, juga program wawancara para musisi British Blues di radionya. Usaha Korner ini melahirkan banyak musisi yang dari mendengar beberapa nama mereka saja, kita bisa menyadari kehebatan mereka, seperti Eric Clapton, Keith Richard (Rolling Stone), dan Jimmy Page (Led Zeppelin). Yang menarik, Aliyuna membubuhkan aliran Post-Impresionist dari seni rupa untuk menjelaskan interpretasinya atas praktik bunyi Led Zeppelin yang “menggabungkan tradisi blues dengan distrorsi emosional,” – praktik bunyi yang melahirkan heavy metal.

Musik, selayaknya karya seni lain, memang selalu ditafsirkan beragam oleh publik. Interpretasi subjektif atas karya seni adalah keniscayaan. Lalu, muncul pertanyaan: untuk apa ada ulasan musik? Jika memang semua orang memiliki interpretasi, mengapa harus ada seseorang yang ditasbihkan menjadi “jurnalis musik” dan memiliki hak khusus untuk menyampaikan selera dan interpretasinya pada publik?

Aliyuna secara tidak langsung menjawab pertanyaan ini lewat bukunya. Yang dinikmati dari karya jurnalisme musik adalah pendekatan yang digunakan oleh sang jurnalis. Musik, disadari atau tidak, memiliki banyak lapisan yang bisa dikupas dengan beragam pendekatan. Dengan melihat dua unsur musik paling jamak (lirik dan bunyi), kita bisa mengetahui bahwa musik bisa dibahas dari beragam sisi, dan jurnalis musik bekerja untuk mengupas lapisan yang dihadirkan dalam musik yang mereka ulas.

Dari buku ini, kita dapat melihat beragam pendekatan yang dilakukan Aliyuna dalam mengulas musik. Salah satunya dalam esai berjudul “Professor Fripp dan Jukstaposisi Pemikiran (Musik) King Crimson” (hlm.39-47). Di esai ini Aliyuna membahas band mega bintang progressive rock, King Crimson, melalui eksistensi dan kontribusi sang gitaris, Robert Fripp.

King Crimson selama tiga dekade durasi napasnya terus mengalami bongkar-pasang muatan. Keluar-masuk para personel ini terjadi karena perbedaan visi musikal dari masing-masing yang ada di King Crimson. Namun, Robert Fripp, adalah sosok yang selalu hadir di King Crimson. Aliyuna sadar bahwa Fripp adalah arsitek dari band progresif ini.

Robert Fripp adalah sebuah anomali dari stereotipe rock-star yang kita pahami. Ia tidak diberikan anugerah bakat musik (perlu tujuh tahun agar guru gitarnya menyatakan kemampuan Fripp “berkembang”, yang membuatnya menekuni teori musik dari hulu ke hilir). Fripp tidak ketagihan alkohol, narkoba, ataupun seks bebas. Pernyataan Fripp, yang dikutip Aliyuna, bahkan terdengar seperti kutu buku gila: “I have a very modest lifestyle, I don’t have a string of fast cars or fast women, and I don’t take any drugs at all, not even aspirin. My party is: me and books. Me and books and a cup of coffee is an orgy.” (hlm.42). Bagi Fripp, kesadaran yang utuh dapat menghasilkan karya yang sama hebatnya dengan pikiran yang dipengaruhi efek “kapal terbang” zat-zat halusinogen. Dari kesadaran utuh itu, Fripp mengubah perbedaan visi para personel King Crimson menjadi kehebatan band ini. Hasilnya adalah karya yang mengubah lanskap musik rock sejak album debut mereka, In the Court of the Crimson King (1969).

Dalam “Georgia in My Mind: Alih Warna/Alih Media” (hal.119-123). Aliyuna mencatat dan membahas gubahan-gubahan atas lagu “Georgia on My Mind”, musik buatan komponis Hoagy Charmichael dan lirikus Stuartt Gorell, oleh para musisi seperti Spencer Davis, Ray Charles, dan Billie Holiday. Bahkan, diinterpretasikan lebih jauh oleh Rendra dalam puisi Blues untuk Bonnie. Aliyuna menulis bahwa niat awal Charmichael dan Gorell adalah membuat musik manis soal adik Charmichael yang bernama Georgia. Lagu ini lalu diinterpretasikan lebih jauh dan berbeda oleh banyak musisi, juga Rendra yang mengubahnya menjadi puisi lirih soal rasisme atas orang kulit hitam. “Dengan demikian,” tulis Aliyuna, “pengakuan terhadap kehebatan sebuah karya dapat hadir melalui pandangan lain, yaitu ketika ia dapat muncul secara berulang-ulang dalam berbagai bentuk dan ruang-waktu.” (hal.122)

Kegilaan King Crimson, British Blues, juga musisi lain seperti Nick Drake, NEU!, Nirvana, dan The Stooges dicatat oleh Aliyuna dalam 53 esai di buku ini: sebuah kumpulan catatan pendek (kebanyakan tidak lebih dari 6 halaman) atas eksperimentasi gagasan musik selama abad ke-20. Mereka adalah para musisi yang memiliki pengaruh pada perkembangan musik, dan beberapa kurang diterima pada zamannya—bahkan beberapa sampai saat ini kurang terdengar namanya. Mereka adalah orang-orang yang bisa kita kategorikan sebagai “orang gila”.

Dalam lagu All the Madman milik David Bowie (nampaknya lagu ini adalah sumber judul buku), tertulis lirik “They’re all as sane as me” dan “It’s organic minds”. Dalam interpretasi Aliyuna atas lirik lagu ini, kegilaan adalah pemikiran organik yang sebenarnya ada di kepala setiap orang. Yang membedakan adalah seberapa mampu kita menerima dan menikmatinya sebagai anugerah.

Kegilaan itu juga muncul dari Aliyuna. Ia mau dan mampu untuk mendengarkan musik-musik lawas secara serius sambil menggali setiap cerita dan lapisan yang ada di dalamnya – banyak esai di buku ini disertai rujukan pada buku, esai, dan penelitian. Hal yang disayangkan adalah adanya salah ketik pada beberapa esai di buku ini. Ini agak mengganggu pembaca.

Selain itu, mungkin kita akan bertanya: apa pentingnya menuliskan musik atau musisi yang sudah diakui kehebatannya? Saya juga sempat mempertanyakan. Jawaban atas pertanyaan itu terdapat pada sajian tulisan-tulisan di buku ini, yang dengan sangat ambisius mengupas kegilaan dari setiap musik dan musisi yang ada. Sungguh, Aliyuna, kegilaan milik semua orang, terkhusus Anda!


Gregorius TH Manurung, sedang belajar di Sastra Indonesia Universitas Diponegoro. Sehari-hari bergiat di Kelompok Coba-Coba dan menulis musik untuk Highvoltamedia.com.

Buku, Resensi

Catatan, Kisah, dan Pengakuan

Oleh Oscar Maulana

Pada tahun 1994, terbit sebuah buku berjudul Tempat-tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994) garapan Michael Pearson. Michael melakukan perlawatan ke dataran Amerika. Menjelajahi bentangan alam Amerika dengan tujuan menelisik, hal-hal apa saja yang memengaruhi sastrawan Amerika terhadap segala yang ditulis dan dikarangnya.

 Beberapa tokoh sastrawan Amerika fenomenal dan mendunia yang diteliti Michael, semacam William Chuthbert Faulkner (1897) bersama Mississippinya, Georgianya Mary Flannery O’connor (1925), Floridanya Ernest Miller Hemingway (1899), Californianya John Ernst Steinbeck (1920), sampai Missourinya Mark Twain (1835).

Dari beberapa yang ditulis dan dikaji Michael itu, kita patut menduga, para sastrawan moncer tidak bisa lepas dari imaji tempat mukim di sekelilingnya.Baik itu menyoal kota, sejarah, rasialisme, uang, rumah, dan sosial-masyarakat yang lekas dilihatnya. Perkara itu menjadi semacam ramuan yang patut diceritakan dalam sebuah karya, seperti cerita pendek dan novel.

Hal itulah, termaktub dalam novelnya John Steinbeck bertema asal Tortilla Flat (1935), dan diterjemahkan Djokolelono menjadi Dataran Tortilla (2009). Menarasikan rumah dan persahabatan sebagai pergumulan imajinasinya, Steinbeck dalam novel ini berbicara rumah Danny sebagai satu kesatuan manusia-manusia dengan pelbagai macam watak dan tingkah lakunya, kesatuan yang memancarkan kemanisan dan keriaan hidup, kedermawanan. Dan pada akhirnya—kesedihan penuh mistik.

Semacam itulah yang ada pada diri Mahfud Ikhwan. Ketika menulis, Mahfud tidak bisa lepas dari hal-hal yang melekat pada sekelilingnya. Membicarakan sosial masyarakat, desa, perkotaan (urbanisme) dan lingkunganya. Jejak perjalanan kepenulisan, pengakuan dan cerita-cerita yang dialaminya bisa kita tengok lewat buku bertajuk Cerita, Bualan, Kebenaran: Mahfud Ikhwan dan Cerita-cerita yang Ditulisnya.

Dan memang riwayat panjang perjalanan seseorang bisa berujung baik dan nestapa. Berliku, terjal, dan bergelombang. Pelbagai persoalan yang menyergapi diri manusia yang ringkih. Dari perkara bising semacam itu, manusia perlu segera mencari titik ketetapan jati diri (jalan hidup) yang akan ditempuh. Pelbagai macam profesi dewasa ini begitu bejibun banyaknya baik itu berkecimpung di dunia kesenian, menjadi intelektual, politisi, bahkan sastrawan itu sendiri.

Diteror oleh bisingnya deru kota, Mahfud memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang penulis. Kaya akan intrik dan penuh konflik, merajut benang-benang yang kusut dalam pikirannya. Dorongan menjadi seorang penulis, Mahfud mengakui karena rasa kegelisahan. Manakala ditanya kenapa Mahfud menjadi penulis, jawabanya selalu sama: karena saya gelisah. (halaman 7).

Faktor kegelisahan rupanya menjadi penanada awal perjalanan kepenulisannya. Gelisah menghadapi masa depan, gelisah tidak punya uang jajan kala kuliah di perantauan, dan kegelisahan lainya yang menyergap di benak. Dalam proses kegelisahan-kegelisahan yang tak berujung menentu itu, Mahfud berhasil menjadi seorang sastrawan yang cukup moncer dalam jajaran novelis dan cerpenis di Indonesia.

Karya novelnya berjudul kambing dan Hujan (2015) berhasil menyabet penghargaan prestisius sebagai Pemenang Sayembaya Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 lalu. Dan dalam buku terbarunya ini, Mahfud menceritakan proses kreatifnya ketika menulis novel tersebut.

Sama, seperti apa yang diteliti Michael Pearson dalam bukunya, bahwa seorang sastrawan tidak mungkin bisa lepas dari pengaruh lingkungan dalam proses kreatifnya. Pun apa yang dibawa pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini, selain terpengaruh keadaan sosial-kultural di kampung halamannya, juga tersihir oleh pengaruh sastrawan dan sejarawan Indonesia yaitu Kuntowijoyo.

Dalam proses pengerjaan novel Kambing dan Hujan, Mahfud mengakui karya Pak Kunto juga memberi kontribusi secara langsung, misalnya dalam cerpen Rumah yang Terbakar yang menarasikan persinggungan konflik horizontal dua komunitas santri dan kaum abangan, dan pula novel “Pasar” yang bercerita pertentangan halus namun subtil antara nilai-nilai Jawa lama lagi luhur yang diwakili sosok Pak Mantri dengan Kasan Ngali (halaman 68).

Tidak hanya sosok Kunto yang memengaruhi gaya cerita dari Mahfud ini, juga beberapa sastrawan lainya turut serta dalam pergumulan kreativitasnya. Seperti karya terjemahan sosok Koeslah Soebagyo Toer lebih dikagumi Mahfud daripada Pramoedya Ananta Toer (halaman 13), karya Bibhutibhushan Banerji berjudul Pater Pancali turut memengaruhi juga (halaman 14).

Tidak Hanya Kampung

Sitok Srengenge pernah menulis perihal kota. Tulisan itu bertajuk Kota Kata, perkara kata yang diserap menjadi kota. Bagi Sitok, kota-kota itu sebuah nama dipilih lantaran terkait dengan kenangan, tapi tak jarang juga sebagai harapan. Kota-kota semacam Yogyakarta berasal dari kata Ngajogjakarta yang berarti mematut kota atau membangun kota (Tempo, 21 Maret 2010).

Kenangan dan harapan menjadi kata yang pas bagi tercerminnya laku manusia kota. Tidak berbeda jauh dari kenangan-kenangan Mahfud Ikhwan. Dari kota, yang kemudian membesarkan namanya, dan bahkan menggebleng paradigma berfikir. Mahfud mengakui kepengarangannya berasal dari kota ketika membahas desa, bukan sebaliknya (halaman 30).

Kota acap kali mengejawantah lelaku manusianya menjadi urban. Hal itulah yang tercermin dari novelnya berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia, (2009). Di Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud menggambarkan dan menarasikan tokoh utama novel itu, walaupun berlatar desa lantas tidak bisa lepas dari pengaruh kota. Kita lihat fragmen tokohnya begitu menggemari terhadap film kartun dan telenova di televisi (halaman 35).

Lahir dari desa pesisir utara Jawa Timur, Mahfud menyelami pelbagai persoalan yang hinggap pada dirinya. Menceritakan kegelisahan yang timbul manakala hidup di kota, melakoni hidup di kota Yogyakarta selama 20 tahun lebih. Pengalaman di kota turut membekalinya menceritakan kampung halaman, yang sarat akan makna dan peristiwa. Mungkin Mahfud Ikhwan mengikhtirakan semacam para sastrawan dunia dulu lakukan, mengisahkan desa, lingkungan, rumah dan perkara lainnya.


Oscar Maulana, mahasiswa IAIN Surakarta. Bergiat di Komunitas Serambi Kata. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Buku, Resensi

Kopi: Sengsara dan Nikmat

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2020, kita ke toko buku bisa membeli novel berjudul Babad Kopi Parahyangan. Novel bergelimang tangisan. Tawa dan girang ada tapi ditaruh di halaman-halaman terbatas. Kita “minum” sejarah “pahit”. Kita memikirkan nasib orang-orang di masa lalu menanggungkan sengsara gara-gara kopi. Kita membeli dan membaca novel itu tak salah pilih. Urusan asmara terbaca meski pembaca diarahkan ke bentangan sejarah. Novel seperti meledek kita mulai tergoda melakukan pelesiran demi menikmati kopi: meraih sensasi dan mengumumkan ke media sosial tanpa berpikiran sejarah terlalu “pahit”.

Kita bisa membaca novel tanpa ada kopi di meja. Pembaca mendingan menaruh sekian buku bertema kopi atau sejarah: “menemani” pengembaraan imajinasi ke abad XIX. Kita mulai mengutip percakapan si Pelaut dan Karim. Pengalaman dan pengetahuan si Pelaut merangsang Karim merantau ke Parahyangan. Sesumbar si Pelaut: “Parahyangan itu sarangnya mutiara hitam.” Sebutan untuk kopi. Di novel, si Pelaut bertugas sebagai juru penerangan tentang kopi di pelbagai negeri. Ia “terpelajar” dan mahir bercerita. Karim mengingat dan mencatat ocehan-ocehan si Pelaut, bekal meninggalkan kampung halaman menuju Parahyangan. Pembaca maklum saja dengan siasat pengarang menaruh juru penerangan. Evi Sri Rezeki ingin pembaca mengerti khazanah sejarah Nusantara dan dunia, sebelum memberi perhatian melulu ke Parahyangan.

Pembaca sudah menumpuk buku-buku di samping novel bisa membuka buku berjudul The Road to Java Coffe (2013) susunan Prawoto Indarto. Buku mewah sajikan foto-foto “tempo doeloe” dan keterangan-keterangan dari pelbagai referensi. Episode pedih dimulai pada 1711 saat kiriman kopi dari Jawa memecahkan harga lelang tertinggi di Amsterdam. Sejarah mulai bernafsu laba. Pada 1726, kopi asal Jawa menguasai pasar kopi di Eropa. Segala capaian itu mengesahkan penciptaan sengsara di Parahyangan melalui perjanjian VOC dengan bupati dalam misi penanaman kopi. Di halaman sejarah, orang bisa mengingat itu Koffie-stetsel atau Preanger-stetsel. Ribuan ton kopi berhasil dikirimkan ke Eropa, merangsang selera para peminum di Eropa untuk memuja kopi asal Jawa. Sejarah memanjang dengan kehadiran Daendels dan Van den Bosch. Kopi “memahitkan” nasib bumiputra dan mengingatkan Cultuur-Stetsel (1830-1870).

Si Pelaut, tokoh pengantar sejarah dalam novel menjelaskan di balik Cultuur-stetsel pada Karim. Kita mengutip pendapat si Pelaut atas kebijakan Van den Bosch: “Barangkali ia terilhami sistem yang mengungkung Parahyangan sejak tanahnya mengecap wajib tanam kopi: Preanger-stetsel. Gagasan adopsi ini bernama Cultuur-stetsel. Sistem ini diberlakukan di seluruh Nusantara. Dan lebih berat lagi bagi Parahyangan sebab beberapa tanaman baru hendak di-kopi-kan. Tubuh Parahyangan tersayat-sayat nila dan kina.” Pembaca mendingan mengikuti petunjuk-petunjuk si Pelaut untuk mengerti sejarah kopi, sebelum serius memikirkan keberanian Karim dan Euis melakukan perlawanan di perkebunan kopi.

Pada abad XIX, kopi menjadi dalih bagi orang-orang serakah berakibat memberi sengsara untuk bumiputra selalu di bawah perintah Belanda dan pejabat lokal. Karim berhasil sampai Parahyangan, bekerja di perkebunan kopi. Di situ, ia marah dan menggugat. Impian dari kampung halaman menjadi marah tanpa ujung. Pertemuan dengan Euis dan para petani membuktikan lakon penindasan. Kopi memberi duka, setiap hari. Nasib bumiputra jatuh di kemiskinan dan menerima hukuman. Mereka seperti mendapat kutukan. Di tanah-tanah menghasilkan kopi, mereka kelaparan, berdarah, dan mati. Di negeri-negeri sana, kopi itu perdagangan dan minuman nikmat. 

Karim mengajak Euis dan Asep menggerakkan perlawanan bersama para petani memiliki keberanian mengubah nasib. Ikhtiar sampai ke perlawanan mendapat bekal berpengaruh. Karim itu bisa membaca-menulis. Pada suatu hari, ia melihat, memegang, dan membaca Max Havelaar gubahan Multatuli. Ia semakin tersadarkan bahwa kopi menjadikan orang-orang di Parahyangan mendapat “neraka”. Para pejabat dan pengusaha berlaku kejam justru mendapat “surga” alias duit berlimpahan dari kopi. Pembaca mungkin kaget mengamati  tokoh dalam novel mengalami perjumpaan dengan novel “menghancurkan” Cultuur-Steesel dan merangsang perubahan di tanah jajahan pada awal abad XX.

Renungan Karim setelah bekerja di perkebunan kopi dan mendapatkan kesengsaraan: “Sarang mutiara yang semula adalah impian berubah mimpi buruk. Ia dapat paham kebencian para petani pada emas hitam. Ia pun mafhum kecintaan para pengreh praja dan Kompeni pada buah kopi. Kopi adalah batu-batu penyusun istana, kain gemerlap yang membalut tubuh, makan lezat terhidang di meja…” Semua itu mengakibatkan petani lapar, miskin, dan mati. Karim semakin marah dan membesarkan keberanian melawan tumpukan sengsara ditanggung para petani kopi. Di akhir novel, perlawanan itu (secuil) berhasil.

Sengsara belum usai. Evi Sri Rezeki menjelaskan ke pembaca tentang nasib Karim dan para petani di Parahyangan setelah pemberlakuan undang-undang baru, 1870: “Undang-undang yang semula digadang-gadang sebagai pembawa takdir baik bagi hanyalah ilusi sebab kebebasan itu tak pernah sampai ke Parahyangan. Pejabat-pejabat kulit putih tak rela melepas sarang mutiara hitam.” Pembaca mungkin tergoda membuka halaman-halaman buku berjudul Sistem Tanam Paksa (2003) susunan Robert van Niel. “Akhirnya, masalah kopi yang menimbulkan persoalan khusus karena jenis tanaman ini sudah masuk ke dalam penanaman paksa sebelum tahun 1832,” tulis Robert van Niel mengenai Parahyangan berkaitan Cultuur-stetsel. Novel rampung terbaca, sejarah pun teringat. Kita boleh minum kopi dengan pilihan pahit atau manis asal tak melupa Parahyangan. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Buku, Resensi

Sapardi: Mantra dan Pengabdiannya

Oleh Agus Wedi

Sesungguhnya, posisi penting Sapardi Djoko Damono dalam susur galur kesusastraan Indonesia adalah karya dan “pengabdiannya.” Karya-karyanya berlaga di medan penyadaran untuk mendongkel kualitas sastra menjadi sesuatu yang dekat dengan publik. Di lembar pengabdian Sapardi, terlihat bagaimana dia berada di lingkaran inti “proyek” besar sastra (lirik) untuk dicurahkan sehabis-habisnya bagi publik Indonesia. Kerjanya lahir dari kesadaran “empati” yang mencerminkan sastrawan cum-akademisi tidaklah berjarak jauh pada realitasnya.

Begitulah Sapardi. Dalam hal ini, dia memahatkan pemaknaan bahwa sastra atau ilmu semestinya diajarkan dan disebarkan dengan rendah hati, tanpa mengurangi kualitasnya. Sebab, dengan kerendahhatian akan tampak signifikansinya pada aktivitas sastra yang gemilang. Dari sosok Sapardi, kita bisa mendapatkan karakter sastrawan Indonesia yang “bijak” dan teguh: tidak mau kalah pada “kritikan dan waktu. Bentangan waktu telah dibuatnya menjadi sesuatu yang fantastik: menulis puisi, tukang edit, tukang kliping, menerjemah, mengajar, berorator, dan berasmara.

Di lembar waktu, Sapardi telah membuahkan banyak karya. Buku Mantra Orang Jawa merupakan teks penting Sapardi. Di mana dia menjejak sebagai orang Jawa dan merefleksikan panorama dinamika Jawa beserta isinya, tak terkecuali hal-hal yang telah “(di)terlupa(kan)”: mantra.

Sejarah Jawa adalah sejarah mantra. Diakui atau tidak, bentangan sejarah manusia Jawa, mantra menjadi napas atau senjata mistik utama. Bahkan, mantra-mantra yang berkecambah di tanah Nusantara, kebanyakan berbahasa Jawa. Meski bahasa murninya mantra hampir tidak bisa dimengerti baik secara fonetis maupun sintaksis. Tetapi bagi manusia Jawa itu harus dirapalkan demi menyibak segala rahasia, atau demi mencapai sesuatu yang ilahiah. Dalam teks ini, barangkali Sapardi mengingat itu, dan jika boleh dikatakan demikian, membicarakan (karya) manusia Jawa atau mengkaji susastra Jawa, dengan tidak mengikutkan mantra di dalamnya merupakan keteledoran besar yang kadang tidak disadari.

Bisa kita lihat  di halaman awal buku ini. Sapardi menulis: “Konon, di zaman lampau mantra memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan nenek-moyang kita untuk berbagai keperluan hidup sesuai dengan maksudnya. Kata mantra tidak bisa dipisahkan dari Japa, jadi Japa Mantra. Japa berarti dibisikkan atau didesahkan atau diucapkan. Jadi mantra harus dilisankan. Dalam buku ini saya telah menjadikannya puisi saja, tidak perlu dikait-kaitkan dengan maksud penciptaannya dulu meskipun tetap harus dilisankan.”

Sapardi masih mengingat mantra! Kerja mantra pun masih diingatnya, termasuk asal-usulnya. Sebagai orang Jawa yang sadar mantra, Sapardi seperti ingin mengenalkan ke khalayak, jika tidak bisa diselamatkan (oleh manusia Jawa) dari kepunahan. Kesadaran etis Sapardi mengantarkan mantra menjadi karya, sebut saja karya paling panoramik Sapardi, Mantra Orang Jawa.

Kekuatan karya adalah kekuatan mantra. Bisa jadi, kekuatan mantra adalah kekuatan karya. Sapardi memberi pesan, “Siapa tahu masih ada kekuatan [mantra] tersembunyi yang tersisa dalam puisi ini. Kalau memang demikian halnya, kita manfaatkan sajalah [mantar/puisi] yang ada dalam buku ini sebaik-baiknya”. Untuk memotret harapan manusia Jawa dan kontestasi bentangan perjalanan hidupnya yang dibangun dengan mantra.

Sejarah manusia (Jawa) adalah sejarah mantra. Sejak manusia dilahirkannya, mantra ikut dikomat-kamitkannya. Bahkan, dalam peristiwa-peristiwa kecil atau besar dan ketika maut memisahkannya, bacaan atau japa mantra turut serta mengantarnya. Dalam hal ini, puisi-puisi Sapardi mengantar pada konteks itu. Kalau begitu, kita buka puisi Mantra Hari Lahir: aku memohon kepada Hyang Maha/ kepada kulit/ kepada daging/ kepada urat/ kepada tulang/ kepada sumsum.// semoga tahu saja/ bahwa aku ada.

Renung Sapardi, keberadaan manusia sebentuk dengan keberadaan Tuhan dan ekosistem tubuh. Keduanya saling jumpalitan dan bahkan bisa jadi saling berkaitan. Tapi tidak harus dihadap-hadapkan. Penyuwun Sapardi kepada Tuhan di langit, Hyang Maha dan keberadaan tubuhnya untuk selalu mengasihi sepanjang rentetan hidupnya. Sapardi seperti mengemis, dalam bentangan hidup, keduanya tidak boleh tidak ada, dan harus selalu ada: tidak menyiksa dan tidak disiksa olehnya. Tuhan dan tubuhnya dipinta untuk selalu (ada) menjaga keberadaan dan kondisi normalnya. Saya kira, itu sah-sah saja dalam hakikat menghamba.

Disadari, dalam kehidupan normal, kadang manusia memang selalu lupa. Kita lupa mengingat bagaimana kita ada dan tercipta. Melupakan bisa mengantarkan pada keberjarakan. Keberjarakan terhadap yang mencipta atau yang menemani ke-ada-annya (dalam hal ini tubuhnya), bisa jadi ia juga mencipta malapetaka: penyakit selalu datang tak henti-henti, kejadian nahas, himpitan kemiskinan, dan petaka lainnya. Bahkan, kalau dirunut ke akarnya, petaka hadir karena manusia telah menyimpang dari jalan-Nya, sebab melupakan khalik-Nya. Dalam hal ini, Sapardi tegap, ia meminta pengasihan. Dari lahir hingga berada di puncak karir tak menjadikan ia lupa bahkan “buta” pada hakikat hidupnya. Sekali lagi, ia mengingat, ia meminta ke Tuhan Pencipta.

Tumbuh suburnya panorama kehidupan tiada lain atas restu Tuhan. Tetapi, sebagai hamba yang lemah (terbatas), tidak harus bersikap fatalistik (menganggap Tuhan segalanya) atau free will (manusia bebas menentukan segalanya). Diskursus kehidupan cukup dengan berusaha dilandasi kesadaran menyeimbangkan yang langit dan bumi: moderat. Membuat konsep persoalan hidup butuh keberpihakan “kesadaran menjadi hamba” dan perlu disabuk dengan japa mantra kasih (doa pinta). Pada itu, Sapardi menulis Mantra Agar Dikasihi: bapa masuk/ atas nama Hyang Maha./ masuklah ke rahim si Dadap/ turuti sepenuhnya/ apa yang kumaui/ turuti apa saja/ yang kuhendaki/ turuti apa saja/ apa yang kuucapkan.// datanglah kasih/ datanglah sayang/ kasih sayang/ bagi diriku.

Rumusan Sapardi, ketika orang-orang (terkasih) mengasihi, itu kuasa gerak Tuhan yang hadir dalam batin manusia: si Dadap. Pinta atau kemauan yang dikehendaki atau dituruti dan menjadi nyata adalah bentuk keniscayaan belas kasih Tuhan. Bahkan, di puisi lanjutnya, puisi Mantra Pengasihan, 1, dan Mantra Pengasihan, 2, Mantra Pengasihan, 3, hingga puisi Mantra Pengasihan, 9, Sapardi dengan mantap mengatakan, “segala adalah kehendak Hyang Maha.”

Sekadar memberi contoh, misalnya, Mantra Pengasihan, 9: sudahlah, mau apa lagi/ kau dalam genggamanku/ aku dalam genggamanmu/ sudahlah, mau apa lagi/ ini tak lain cinta sejati/ yang disiramkan/ ke tubuhku/ ke tubuhmu/ agar basah/ agar menyerah/ di hari dan wuku/ pada kehendak/ Hyang Tunggal.

Pada hakikatnya, segala yang ada hanyalah manifestasi Hyang Tunggal. Kekuasaan dan gelayutan hidup manusia, baik problem sosial dan asmara menjadi hal yang nyata untuk dibawa ke hadapan Hyang Tunggal. Pengakuan terhadapnya adalah menjanjikan derma dalam sebuah aktivitas suluk spiritual. Dalam prosesnya, seperti puisi Sapardi, “baik yang bisa digenggam atau tak bisa digenggam”, harus dikembalikan lagi atau mengembangkan cara pandang yang humanis terhadap Hyang Tunggal, juga manusia. Sebab, Hyang Tunggal bisa ditemui bukan hanya di perjalanan (suluk) sunyi, tetapi juga di jalan asmara yang ramai.

Mengacu ke laku Sapardi, mantra-mantra tidak selalu harus diperuntukkan ke Hyang Tunggal. Nyanyian langit tidak perlu dijaga ketat kerahasiannya, tetapi juga dipahatkan pada si jelita hati: manusia. Sebentuk permohonan atau berbelas kasih. Untuk hal ini, kita bisa cerap puisi Mantra Menjelang Tidur: aku berniat tidur/ berkasur raga/ berbantal nyawa/ berselimut sukma/ dijaga para bidadari/ nikmat mulia sejati.

Sapardi memberi citra sentilan, permintaan, penuturan yang imajinatif. Puisi mantra magis ini ingin melepaskan katalogsasi ragam peristiwa harian, sekaligus ingin menyusun kenang yang terbiarkan masuk dan tertinggal dalam tidur panjang: kematian. Atau mungkin, ini adalah japa mantra keheningan total Sapardi, suatu penyerahan total pada Hyang Tunggal, Tuhan.

Dalam ilmu supranatural, mantra dikenal bisa membuka tabir kehidupan, juga bisa merubah formulasi pandangan manusia dari sesuatu yang lazim menjadi biasa. Tapi puisi-puisi Sapardi sepertinya tak ingin mengarah ke sana: tidak untuk mengamati, mengintip atau membuka rahasia-rahasia langit yang ritmenya hanya bisa dipahami oleh pribadi-pribadi suci. Namun barangkali, kita yang telah tersihir ritme mantra puisi-puisi Sapardi. Wah!


Agus Wedi, pembaca buku dan aktif di Komunitas Serambi Kata Surakarta. Tulisannya tersiar di beberapa media cetak dan online. Bisa disapa di Instagram @petualangrindu.

Buku, Resensi

Tawaran Eksplorasi Bentuk Bercerita dan Catatan Lain

Oleh Doni Ahmadi

Setelah diumumkan pada Desember tahun lalu, Aib dan Nasib, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019 karangan Minanto akhirnya terbit pada Juli lalu. Sebagaimana karya-karya para pemenang sayembara novel DKJ sebelumnya, buku ini tentu saja ditunggu banyak pembaca. Hal lain yang membuat novel ini begitu dinantikan kemunculannya, tak lain karena catatan pertanggungjawaban dewan juri yang menyebut bahwa novel ini bercerita dengan fragmen-fragmen episodik dan sarat dengan eksperimen bentuk—sesuatu yang jarang mendapat tempat pertama.

Tengok saja beberapa catatan penjurian terhadap naskah para pemenang sayembara novel DKJ sedekade sebelumnya: Orang-orang Oetimu (2018) karya Felix K. Nesi; Semua Ikan di Langit (2016) karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie; Kambing dan Hujan (2014) karya Mahfud Ikhwan; dan Semusim dan Semusim Lagi (2012) karya Andina Dwifatma—tahun 2010 hanya menghasilkan empat unggulan tanpa pemenang utama. Di antara empat pemenang ini, barangkali hanya naskah Ziggy yang memiliki kecenderungan tersebut, para juri mencatatnya sebagai “serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada.”

Sisanya, tema cerita dan kecakapan para pengarang dalam mengolah narasi, tokoh dan peristiwa masih menjadi penentu utama yang membuat karya-karya tersebut berhasil meraih pemenang pertama. Sedangkan novel lain yang dianggap sebagai karya eksperimen biasanya berakhir sebagai pemenang unggulan. Misal, Curriculum Vitae (2016) karya Benny Arnas yang menawarkan bentuk cerita dengan bab-bab yang pendek atau 24 Jam Bersama Gaspar (2016) karya SabdaArmandio yang dianggap menawarkan kebaruan dalam kerangka cerita detektif.

Kehadiran Aib dan Nasib karya Minanto ini bisa dibilang cukup memberi angin segar bagi para penulis dengan kecenderungan avant-garde di Indonesia untuk terus mengeksplorasi bentuk bercerita—alih-alih menyebutnya sebagai bentuk baru, paling tidak—yang sebelumnya belum pernah digunakan para penulis prosa di Indonesia. Hal ini pun sejalan dengan apa yang ditulis Budi Darma pada kumpulan esainya, Solilokui (1983), “Jumlah dan horizon karya sastra Indonesia terbatas, karena itu, hanya dengan menyandarkan diri pada sastra Indonesia kurang menjamin tumbuhnya wawasan sastra. Bukan hanya makin banyak karya sastra yang kita baca makin baik, akan tetapi juga, dan inilah yang perlu, makin banyak karya sastra yang baik mutunya yang kita baca, makin baik juga wawasan sastra kita. Dan karya sastra dunia yang baik bukan main banyaknya.”

Novel Aib dan Nasib nyatanya memang memberikan kita pengalaman pembacaan naratif yang berbeda, novel ini berjalan dari paragraf-paragraf pendek dalam empat rangkaian cerita dengan masing-masing tokoh utama yang berbeda pula dan baru diketahui saling bertaut satu sama lain setelah melewati beberapa bab. Gaya bercerita yang mirip dengan yang dilakukan pengarang Peru, Mario Vargas Llosa, dalam novel The Time of The Hero. Atau dalam konteks sastra Indonesia pernah dilakukan oleh A. Mustafa dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman maupun Nukila Amal dalam novel Cala Ibi.

Pilihan alur maju-mundur, tidak linear, bentuk sirkular, cerita yang tumpang-tindih dalam novel Aib dan Nasib memang membuat novel ini cukup menawarkan gaya pengisahan yang berbeda, dan sekaligus memiliki kesan begitu rumit. Dan memang demikian, pembaca, akan sangat mungkin membalik mundur ke halaman sebelumnya karena hal ini—bab yang kelewat pendek dan tokoh-tokoh utama tiap rangkaian cerita yang berbeda.

Menariknya, cerita yang diangkat dalam Aib dan Nasib ini bisa dibilang cukup karib dengan keseharian orang-orang di Indonesia—terlebih bagi kita yang dekat dengan kabar kriminal di TV—meski berlatar di dua desa kecil di Jawa Barat. Kita akan diajak Minanto menelusuri mulai dari masalah rumah tangga, video skandal seks, hamil di luar nikah, perisakan, kemiskinan, masuknya teknologi, orang yang mendadak gila karena gagal jadi wakil rakyat, hingga gosip di warung makan. Semua hal ini berhasil diramu Minanto dengan cukup baik. Setiap peristiwa terjadi dalam rangkaian kausalitas yang ajek dan masuk akal—jauh dari adegan sinetronik yang serba sekonyong-konyong.

Keberhasilan Minanto membawa sesuatu yang dekat ini pada akhirnya membuat cerita dalam bingkai pengisahan yang rumit menjadi tidak begitu terasa mengganggu. Contohnya adalah dialog dari tokoh Marlina dan Ayahnya berikut ini:

“Kau lupa perkataanku barusan.Sesama saudara itu harus saling membantu.”
“Ini gara-gara sampean tidak bisa bekerja lagi.”
“Lancang! Tidak pantas kamu bicara begitu.”
“Lah, memang aku harus bicara bagaimana lagi? Memang benar begitu…” (hlm. 25)

Dialog macam ini tentunya sudah sering muncul, industri hiburan sudah tak terhitung menghadirkan konflik semacam ini. Hal-hal yang mengacu pada ingatan kolektif dan sesuatu yang familiar memang diracik Minanto sedemikian rupa dan membuat novelnya sama sekali tidak berjarak. Bahkan menjelang akhir kisah, kita, mau tak mau akan sepakat dengan dialog lain dalam novel ini dan dibuat mafhum mengapa antara kita dan novel ini seolah memiliki kedekatan.

“Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. […] Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.” (hlm. 262).

Keberanian Minanto memilih gaya penceritaan penuh fragmen dan sirkuler, serta pemilihan tema yang diangkat dalam novelnya sama sekali tidak keliru dan benar-benar menghadirkan kesegaran. Namun, bukan berarti novel ini tidak punya masalah.

Beberapa pembaca barangkali akan sedikit terganggu dengan tokoh-tokoh misoginis dalam novel ini—Bagong Badrudin, Susanto, Kartono, hingga Pak Sobirin—meski bisa dimaklumi dan para tokohnya pada akhirnya harus berhadapan dengan ironi yang bikin maskulinitasnya dipertanyakan. Belum lagi nasib yang menimpa tokoh-tokoh perempuan tanpa kehendak—Gulabia dan Uripah. (Dalam konteks novel ini, hal ini sebetulnya bisa kita terima dan juga sebagai penguat logika cerita). Selain itu, ada juga salah ketik nama tokoh di beberapa bagian yang sangat bisa direvisi untuk cetakan selanjutnya.

Secara keseluruhan, rasanya Minanto memang berhasil membawa angin segar serta memantik gairah dan tawaran eksplorasi bagi para pengarang setelahnya untuk mencari bentuk narasi maupun penceritaan berbeda di luar konvensional novel-novel Indonesia. Hal yang sekaligus meneruskan harapan Budi Darma, memperkaya wawasan Sastra Indonesia.


Doni Ahmadi, menulis cerita pendek. Bukunya, kumpulan cerita Pengarang Dodit (2019).

Buku, Resensi

Sesuatu yang Kita Sebut “Uang”: Sejarah, Persoalan, dan Masa Depannya

Oleh Zainul Arifin

Tak bisa dipungkiri uang menjadi bagian vital hidup kita. Kebutuhan sehari-hari yang semakin kompleks membuat transaksi barang dan jasa diandalkan pada konsep alat tukar yang dipercayai bersama. Efisiensi itu yang membuat sistem uang lebih diterima daripada sistem barter.

Sejak kehadirannya hingga sekarang, uang mengalami berbagai perkembangan. Perkembangan itu pula yang mempengaruhi bidang industri, jasa dan agrikultur dengan ujung dampaknya pada manusia dan alam. Apalagi belakangan ini konsep e-money (uang elektronik) diperkenalkan dalam transaksi finansial. Untuk itu, tentu tidak salah bila mengajukan pertanyaan: Bagaimana cara kerja uang di masa depan? Dan bagaimana itu berdampak pada masyarakat luas?

Apabila terlintas dalam benak keingintahuan semacam itu, buku Yuval Noah Harari yang terbaru mungkin sekali dapat melegakan kehausan kuriositas tersebut. Buku tersebut berjudul Money.

Buku ini sebenarnya hasil ekstrak dari dua buku Harari sebelumnya, yakni Sapiens dan Homo Deus. Sehingga tak mengherankan buku Money ini tipis hanya 166 halaman, tidak setebal buku-buku Harari yang lain. Justru dengan demikian, tampaknya maksud dari proposal gagasan Harari selama ini menemukan titik tawarnya secara jelas.

Jalan pikirannya adalah Harari menganggap uang, imperium, dan agama sebagai tiga hal yang dapat menyatukan sekaligus mengeksploitasi manusia. Hal ini lebih detail terdapat dalam buku Sapiens bagian ‘penyatuan manusia’. Mengingat imperium telah runtuh, agama sebagai kekuasaan abad pertengahan juga runtuh, maka satu-satunya yang tersisa sebagai the real power adalah uang. Di titik itulah pembahasan tentang uang menjadi penting demi masa depan sapiens.

Penyatu dan Pemisah

“Hidup bagaikan dua sisi mata uang”. Peribahasa itu persis sebagaimana Harari melihat dampak uang terhadap manusia. Bahwa uang sebagai penyatu umat manusia, tetapi sekaligus sebagai pemisah manusia.

Sebagai penyatu umat manusia, uang adalah sistem saling percaya yang paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan (Harari, 2020: 15). Sebab orang-orang bisa tidak memercayai Tuhan, agama maupun raja yang sama, tetapi mereka sama-sama memercayai uang. Misal Osama bin Laden begitu membenci Amerika Serikat, tetapi tetap menyukai dolar. Uang mampu menjembatani perbedaan ras, agama, budaya bahkan orang yang tak saling kenal sekalipun.

Uang bukanlah kenyataan material. Uang adalah produk psikologis. Kita menghasrati uang karena orang lain juga menghasratinya, bukan atas referensi materialnya. Lingkaran hasrat inilah yang bekerja.

Memang dalam sejarah, uang pertama kali berupa jelai, semacam biji-bijian. Yang menunjukkan inheren secara biologis jelai bisa dimakan. Namun dasarnya adalah konvertibilitas dan kepercayaan universal dari uang jelai tersebut. Lalu atas dasar efisiensi, uang koin dan kertas menggantikannya, bahkan hendak beranjak ke uang digital.

Dengan uang semua dapat dijualbelikan. Awalnya terdapat hal-hal yang tak berada dalam domain pasar, seperti cinta, moralitas, kehormatan maupun kemanusiaan. Sehingga tak dapat dijualbelikan dengan uang. Namun, uang selalu memiliki kemampuan menerobos hambatan nilai-nilai tersebut. Karena terdesak maupun kelaparan, maka pasar memberi penawaran.

Tak mengherankan ada orang tua tega menjual anaknya untuk jadi budak demi memberi makan anaknya yang lain. Atau pemeluk agama yang taat menjadi pembunuh lalu membeli pengampunan. Dari sini, kepercayaan pemersatu universal dari uang sesungguhnya tidak diinvestasikan pada manusia maupun nilai sakral, melainkan pada uang itu sendiri. Ketika semua bisa dikonversikan dalam pasar maka yang ada hanya hukum dingin permintaan dan penawaran. Sebuah pasar tanpa perasaan, sehingga tak mengherankan sejarah ekonomi manusia berisi sebuah tarian yang pelik (Harari, 2020: 27).

Sebagai pemisah, sisi gelap uang tak sampai di situ. Pada tahap lanjut, kapitalisme mendapat peran penting. Sejarah kapitalisme sendiri tidak bisa dilepaskan dari revolusi saintifik, yakni pengakuan atas ketidaktahuan dan ide kemajuan. Pengakuan ketidaktahuan tersebut membuat penguasa berinvestasi pada riset supaya produksi dan kekayaan terus meningkat. Sehingga ayat pertama dan paling sakral dalam kapitalisme adalah “keuntungan dari produksi harus diinvestasikan kembali dalam meningkatkan produksi” (Harari, 2020: 41). Di titik itu, dianggap pasar bebas akan mendefinisikan keadilannya sendiri. Padahal eksploitasi terus terjadi baik pada manusia maupun alam. Keserakahan pemilik modal untuk menaikkan laba dilakukan dengan cara membayar rendah upah buruh dan menambah jam kerja. Tentu seakan hal itu dapat diatasi dengan mogok kerja. Namun, bagaimana jika pabrik itu satu-satunya di suatu negara, atau semua pemilik pabrik bersepakat menurunkan upah buruh secara serempak. Buruh tak punya pilihan lain. Eksploitasi menjadi abadi. Pemisahan antar manusia terjadi.

Kaitannya dengan sains adalah bahwa keyakinan kapitalisme pada pertumbuhan ekonomi yang kekal bertentangan dengan kondisi alam (Harari, 2020: 46). Akibatnya limbah, polusi, hutan gundul, banjir dan sebagainya meluas. Untuk itu, riset saintifik dilakukan demi pencarian solusi. Artinya, penelitian dari ilmuwan didanai dalam upaya mencarikan solusi akibat ulah si pendana itu sendiri. Di sinilah tampak siapa yang berkuasa. Uang.

Dengan demikian terjadi kontradiksi abadi bahwa di satu sisi mengakui ketidaktahuan dan di sisi yang lain fanatik pada ide kemajuan. Seperti dua sisi mata uang, sebagai penyatu sekaligus pemisah.

Ketakbergunaan Manusia

Revolusi saintifik membawa umat manusia pada penemuan komputer, internet, robot dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kecanggihan teknologi tersebut bahkan dapat mengalahkan kemampuan manusia. Misal, pekerjaan sopir dapat digantikan robot dengan algoritma canggih seperti drone dalam AI.

Self-driving car (mobil tanpa pengemudi) pernah diujicoba walaupun terjadi kecelakaan. Namun, kita dapat membayangkan apabila semua mobil di jalan raya dioperasikan oleh algoritma, maka risiko kecelakaan akan minim bahkan tidak terjadi sama sekali. Sedangkan kecelakaan oleh manusia dapat dikarenakan mengantuk maupun lelah. AI tidak pernah mengantuk dan lelah.

Sebelum revolusi industri, tenaga kuda dan kerbau sangat berguna sebagai kendaraan dan membajak sawah. Revolusi terjadi dan akhirnya digantikan dengan mobil dan traktor. Kuda dan kerbau menjadi tak berguna. Sangat mungkin, nasib pak sopir akan seperti kuda dan kerbau saat itu.

Pekerjaan guru, buruh, kasir bahkan pengacara dan dokter pun dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Bayangkan data algoritma yang begitu besar diinput dalam waktu singkat ke dalam robot. Sedangkan untuk mendapatkan seorang guru atau pengacara maupun dokter harus menunggu bertahun-tahun untuk proses pembelajaran. Efisiensi sekaligus kecermatan terhadap pekerjaan akan memihak pada robot-robot bukan pada manusia. Di titik itu, muncullah manusia-manusia tak berguna dan tak produktif bagi sistem.

Memang seakan mengada-ada, tetapi fakta itu sedang berlangsung. Misal tentang pekerjaan dokter, terdapat AI bernama Watson dari IBM pada tahun 2011 dipersiapkan untuk mampu mendiagnosis penyakit. Kita tahu bahwa tugas utama dokter adalah mendiagnosis penyakit dengan benar, itupun sering salah diagnosis sehingga perawatan kurang optimal. Sedangkan AI seperti Watson mampu mendiagnosis penyakit seseorang dari bank data genom, riwayat medis baik dari orang tersebut maupun kerabat dengan akurasi yang lebih bagus (Harari, 2020: 99). Apalagi Watson tidak pernah lelah, lapar maupun minta tunjangan lebih. Sehingga pekerjaan dokter sangat mungkin diambil oleh AI seperti Watson suatu saat nanti. Ancaman itu tidak hanya pada pekerjaan dokter umum melainkan dokter spesialis dan tentu pekerjaan-pekerjaan manusia lainnya.

Hal semacam itulah yang dicemaskan Harari bahwa kita sedang berada di ambang revolusi yang sangat penting. Proyek abad ke-20 untuk mengatasi kelaparan, wabah dan perang berbelok pada eksploitasi atas kelas lain. Kini proyek abad ke-21 untuk menggapai keabadian dan kebahagiaan akan melahirkan segelitir elite dan membuang kelas nirguna.

Apabila riset-riset saintifik justru membagi manusia menjadi massa nirguna (useless humans) dan segelintir elite manusia-super (superhumans) yang ditingkatkan, maka liberalisme akan runtuh (Harari, 2020: 160). Pengakuan atas hak menjadi pudar. Uang berlaku sebagai apa jika segelitir elite memiliki robot-robot cerdas, yang bisa bekerja untuk mereka tanpa perlu dibayar? Lalu, konsep penyatu apa yang mengisi kekosongan tersebut?


Zainul Arifin,  pembelajar di Komunitas Bangku Hitam

Buku, Resensi

Pengelana Berbunga dan Tamat

Oleh Bandung Mawardi

Herman Hesse, pengarang Jerman mengingatkan cerita perjalanan: penemuan dan kehilangan. Tokoh-tokoh buatan Herman Hesse terbaca sebagai pencari, pengelana, atau peziarah. Novel paling mengesankan berjudul Siddhartha. Novel sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia diterbitkan oleh Grafiti, Bentang, dan Gramedia Pustaka Utama. Tokoh bernama Siddhartha menempuh perjalanan jauh, meladeni godaan duniawi dan menuruti takjub religiositas. Penulisan novel itu membuat pembaca di Eropa perlahan mengerti Timur itu kiblat pengetahuan dan pengalaman religius. Herman Hesse mengisahkan dengan lembut dan memikat.

Di perjalanan-perjalanan, ragu dan pengharapan bergantian mendera. Pada suatu hari, Siddhartha berjalan dan merenung: “Tetapi, apakah gerangan ini, yang ingin kaupelajari dari ajaran-ajaran dan para guru, dan yang sudah begitu banyak mereka ajarkan padamu? Ia memberi jawab sendiri: “Itu adalah diri, tujuan dan intisari dari apa yang ingin kupelajari. Itu adalah diri, dari mana aku ingin bebas, yang kucoba kuasai. Tetapi, aku tak mampu menguasainya hanya bisa menipunya, hanya bisa melarikan diri darinya, hanya bersembunyi darinya. Sesungguhntya, tak ada hal di dunia ini yang sedemikian menyibukkan pikiranku, karena ini adalah diriku sendiri, misteri kehidupanku, bahwa aku adalah satu dan terpisah dari semua yang lain, bahwa aku adalah Siddhartha!” Di Barat, novel itu menguak kemolekan India, bertaburan renungan mengilhami bagi kesusastraan dunia.

Kita telanjur mengenali Herman Hesse dengan Siddharta. Pada 1915, ia sudah menggubah novela berjudul Knulp, mendahului kemunculan Sidhhartha (1922). Novela menampilkan pengelana, membuktikan pengarang memilih menggerakkan makna dengan tokoh-tokoh berjalan kaki ke segala arah. Berjalan kaki menjadi penentu bagi peristiwa, percakapan, dan perhitungan hakikat kemanusiaan. Knulp, pengelana selalu bergerak dan singgah sejenak ke rumah-rumah para sahabat. Ia tak mau menetap, memilih menggerakkan kaki untuk mengunjungi pelbagai tempat: mengunjungi kebaruan dan nostalgia. Di pelbagai tempat, Knulp mengenali pohon, rumah, jalan, aroma, dan lain-lain. Ia bisa membedakan dan mengalami keragaman di perjalanan selama puluhan tahun. Knulp menjadi manusia-berpeta.

Kehadiran Knulp di rumah teman-teman untuk singgah sehari atau sekian hari sering memberi kegairahan hidup, sodorkan hal-hal menghidupkan setelah orang-orang di kelesuan, sibuk, dan rutin. “Jika ia butuh tumpangan maka si pemilik rumah akan senang dan merasa terhormat,” pengakuan sahabat merasa girang mendapat kunjungan Knulp. Sesaat tapi memberi percik dan kobaran bahwa hidup masih bergelimang makna. Knulp teranggap mendatangkan kesantaian dan keriangan. Menumpang itu memicu kerepotan dan pemberian dari tuan rumah. Knulp memang berhak menerima kebaikan-kebaikan berdalih bukan orang bekerja dan mengantongi gaji. Tata cara itu timbal balik terikat persahabatan.

Pengelanaan memang menawan bagi orang ingin merengkuh dunia. Ia mustahil memiliki dunia tapi berjalan kaki setiap hari seperti mencicil di pengalaman terbesar ketimbang menghuni rumah. Pengelana adalah si penglihat segala, diceritakan dengan kata-kata selalu membikin para pendengar tersihir. Pengelanaan pun berisiko menghancurkan raga akibat hujan, angin, panas, dan bau. Knulp berjalan dan berjalan, berhenti sejenak: meresapkan dan mengisahkan.

Di Indonesia, kesusastraan lama juga sering bercerita perjalanan atau pengelanaan. Kesusastraan Jawa kuno malah memberi penguatan di kisah perjalanan untuk mencari kebenaran, kedamaian, keadilan, dan keluhuran. Orang-orang berjalan kaki dengan doa dan pembacaan atas diri selama bersua dengan sesama, alam, binatang, air, batu, dan lain-lain. Pengelanaan itu mencari, tak pernah mudah dan cepat. Orang berjalan jauh, lama, tersesat, dan terjebak. Herman Hesse bukan pembaca sastra Jawa kuno. Ia memiliki bacaan-bacaan mungkin bersumber dari mitologi Yunani, folklor, dan sastra klasik bertumbuh di Eropa. Ia tekun di pengisahan pengelanaan saat Eropa abad XX bergerak cepat beride modernitas: mengubah manusia dan dunia secara fantastis.

Pada suatu masa, Knulp berjalan dan mampir di pekuburan. Peristiwa terlalu mengesankan bagi pengelana mengingat hidup-mati. Herman Hesse mengisahkan melalui sahabat Knulp: “Pekuburan itu, sebagian besar ditandai dengan salib kayu warna putih, berjajar lurus dan melingkar, dan di atas masing-masing tumbuh bebungaan dan aneka tanaman.” Tempat itu teduh, asri, dan hening. Pilihan bagi pengelana merenung dan mengistirahatkan raga bersama orang-orang pernah hidup. Knulp mengandaikan menghuni kuburan. Ia berujar: “Andai aku sudah mati, akan kutunggu hari minggu dimana gadis-gadis datang ke sini untuk melihat-lihat dan memetik bunga dari kuburan, lalu aku akan mulai bernyanyi, tapi sangat pelan.” Si romantis, keberakhiran pengelanaan pun masih ingin tebar pesona.

Sekian tahun berkelana, menggerakkan kaki dan pandangan mata, Knulp menerima ganjaran: sakit paru-paru. Sakit akibat ia adalah manusia luar rumah, manusia diterpa angin malam dan menanggungkan cuaca buruk. Ia sadar pengelanaan masih membahagiakan tapi raga perlahan hancur. Pada kaki, ia mengerti misi belum selesai. Frederic Gros dalam buku berjudul A Philosophy of Walking (2020) memunculkan pengalaman berjalan kaki para pengarang dunia. Sejarah penggubahan sastra, sejarah berjalan kaki. Pengarang di pertimbangan pengalaman dan menghidupi tokoh-tokoh berkelana, berziarah, dan mencari. Frederic Gros menjelaskan: “Saat berjalan kaki, seseorang sering mengalami sesuatu yang disebut kebahagiaan. Itu sering diuraikan oleh penulis dan penyair ketimbang pemikir besar.” Kebahagiaan teralihkan di gubahan puisi dan novel.

Knulp sudah berjalan jauh. Ia mau berakhir. Keinginan terbesar adalah pulang, berjalan kembali ke tanah asal. Berjalan pulang dalam sakit dan keberlimpahan nostalgia, Knulp menulis puisi pendek, dimaksudkan bakal dibaca para sahabat bila ia sudah menghuni kuburan: Bunga-bunga pasti layu/ Saat kabut datang/ Dan manusia pasti binasa/ Dan masuk kubur/ Manusia adalah bunga-bunga/ Mereka pun akan kembali/ Di musim semi/ Dan mereka takkan pernah sakit lagi/ Dan akan ia maafkan semuanya. Pengelanaan sampai akhir. Ia telah berjumpa dan merengkuh semua, telah menceritakan ke para sahabat. Kebahagiaan itu tamat. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi

Buku, Resensi

Bertemu (Mantan) Penyair

Oleh M. Fauzi Sukri

Bandung Mawardi berperistiwa penemuan puisi. Peristiwa pertemuan itu terjadi melalui majalah-majalah lawas dari tahun 1950-an sampai tahun 1980-an. Bukan melalui buku puisi atau puisi yang dimuat di koran. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan kerja semiotik, analisis sosiologis (meski minimalis), pemaknaan historis, dan sesekali merasakan rasa estetik puisi (meski yang sangat sedikit).

Dari esai ke esai berikutnya, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana: esai-esai yang disuguhkan kepada pembaca ini pertemuan dengan puisi atau pertemuan dengan penyair. Secara umum, yang kita temukan dalam esai-esai Bandung Mawardi ini adalah pertemuan dengan penyair yang diperantarai puisi. Sedangkan puisi itu sendiri lebih banyak diposisikan sebagai dokumen sejarah, bukan sebagai dokumen estetika puisi.

Bandung Mawardi tampak hendak mengungkit-mengungkap kepada pembaca mutakhir: seperti apa puisi yang pernah ditulis seorang yang kemudian menemukan makna kata-kata bahasa Indonesia dengan sangat suntuk serius; seperti apa puisi-puisi yang ditulis penyair muda yang sekarang sudah jadi penyair terkenal dan karyanya diakui pembaca sastra Indonesia mutakhir.

Dari pertemuan Bandung Mawardi dengan puisi-puisi di majalah lawas, kita tahu bahwa cukup banyak penyair yang menulis di masa muda. Radhar Panca Dahana menulis puisi pada umur 15 tahun dengan nama Rpd Reza Morta Vileni. Puisinya dimuat di majalah Zaman 1980. Sampai sekarang Radhar Panca Dahana masih menjadi penyair selain sebagai budayawan. Dari penelusuran majalah lawas, kita juga mendapati sekian tokoh yang pernah menulis puisi tapi sekarang sudah menjadi mantan penyair.

Kita bertemu dengan puisi Soesilo Toer yang menulis puisi pada usia 16 tahun. Begitu juga, puisi-puisi Rendra sudah bertebaran di berbagai media saat berumur 20 tahun. Bandung Mawardi menampilkan puisi Rendra yang dimuat di majalah Kisah. Pada umur 21 tahun, puisi Sobron Aidit dimuat di majalah Kisah pada tahun 1955. Poeradisastra atau Boejoeng Saleh tercatat pernah menulis puisi.

Bandung Mawardi juga mendapati puisi yang ditulis oleh kritikus seni rupa paling produktif di Indonesia: Agus Dermawan T. Sang kritikus seni rupa ini pernah menulis lima puisi yang dimuat di Horison pada 1974. Bandung Mawardi juga bertemu dengan mantan penyair yang dahulu pernah menulis puisi bagus tapi tidak lagi terkenal sebagai penyair. Inilah nasib yang dilakoni dan dipilih Budi Darma.

Dalam majalah Gadis (1978), Bandung Mawardi menemukan puisi yang ditulis oleh tokoh kondang nan penting dalam bahasa Indonesia: Eko Endarmoko. Tokoh penulis buku ampuh Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) dan Tesamoko (2016) ini adalah mantan penyair.

Dan, jika sekarang Anda mengenal Seno Gumira Ajidarma sebagai sastrawan penting di dunia prosa (cerpen dan novel), siapa sangka dia pernah berhasrat menjadi seorang penyair dengan nama pena Mira Sato. Seno menulis puisi saat berumur 20 tahun. Pada masa itu, publik pembaca Indonesia jelas belum begitu kepincut dengan cerpen-cerpennya yang memukau.

Tentu saja, karena berbasis dokumentasi majalah lawas, Bandung Mawardi tampak juga mengungkit puisi-puisi jelek yang pernah ditulis penyair Indonesia pada waktu muda. Sekarang penyair-penyair ini sudah menjadi penyair terkenal dan puisi-puisinya diakui oleh publik sastra Indonesia.

Sapardi Djoko Damono menulis puisi, yang menurut Bandung Mawardi, pantas dicap sebagai bait “bait jelek” berjudul Sketsa Diri. Puisi ini ditulis tahun 1962 dan dimuat di majalah Basis—tempat Sapardi dahulu pernah menjadi salah satu redaktur sastra. Puisi Sketsa Diri ini hampir pasti tidak akan ditemukan dalam buku antologi puisi Sapardi. Namun, Anda bisa membaca petikannya di buku Bandung Mawardi ini. Kita juga bertemu dengan sastrawan nan penyair seperti Triyanto Triwikromo yang pernah menulis puisi dan, sekali lagi menurut Bandung Mawardi, puisi itu ternyata jelek.

Tentu saja, dalam kliping kritik sastra ini, kita mendapati puja-puji terhadap beberapa penyair khususnya Afrizal Malna, Sapardi Damono, dan Goenawan Mohamad.

Selain itu, ada beberapa penyair yang sangat mungkin tidak dikenali oleh penyair, seperti Paramitha atau Slamet Wibisono—untuk menyebut dua saja. Paramitha adalah anak dari penyair kondang Goenawan Mohamad. Slamet Wibisono menulis puisi “Untuk Pramoedya Ananta Toer” yang dimuat di majalah Medan Bahasa edisi Maret 1957. Slamet Wibisono menulis puisi dengan berbagai perasaan perihal perebutan penerjemahan buku sastra kanon dunia (Timur dan Barat) yang dilakukan sastrawan Indonesia pada tahun 1950an.

Jika kita tilik pola kliping kritik puisi yang dilakukan Bandung Mawardi ini, kita bisa mengatakan bahwa, pertama-tama, yang dipilih dan dibahas dari ‘penemuan’ puisi majalah lawas adalah sosok penyair itu sendiri, bukan puisinya. Jika kita meminjam judul buku A. Teeuw, Pokok dan Tokoh, yang ditulis Bandung Mawardi bukan terutama pokok puisi tapi tokoh penyairnya. Yang dihadirkan atau diketemukan Bandung Mawardi adalah lebih banyak tokoh penyair daripada puisi-puisi yang bersifat ‘kebetulan’ ditemukan kembali. Seandainya puisi-puisi yang ditemukan itu tidak begitu tersangkut paut dengan penyair yang jadi tokoh, puisi-puisi yang bertebaran di majalah lawas tidak jadi pilihan untuk diulas.

Kita sedikit sekali mendapati puisi dari penyair yang jelas-jelas tidak terkenal saat itu hingga saat ini. Bandung Mawardi juga tidak mengulas puisi yang tak punya hubungan yang menarik dengan sastra Indonesia mutakhir. Jelas ada semacam seleksi ‘pilih kasih’ dari puisi-puisi yang diulas dalam buku ini. Maka, “Mereka” dalam judul buku ini adalah jelas mereka yang masih punya jejak kiprah sastra sampai sekarang, khususnya yang sudah jadi tokoh.

Buku kliping kritik sastra dari Bandung Mawardi ini adalah lebih banyak peristiwa pertemuan kembali dengan jejak masa lalu tokoh penyair besar atau sastrawan besar melalui jalur puisi. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan dialog antara karya masa lalu dan sastra(wan) masa kini. Di sinilah kita melihat bagaimana pertemuan-pertemuan yang diperantarai puisi bisa berubah menjadi pujaan tapi juga bisa sindiran bahkan ejekan.


M. Fauzi Sukri, penulis Bahasa Ruang, Ruang Puitik (Basabasi, 2018)

Buku, Resensi

Ekonomi Feminin

Oleh Royyan Julian

Melihat dunia yang kian rigid barangkali menjadi titik balik yang membuat orang menyoal ulang keyakinan tentang yang ideal. Dunia manusia dibangun di atas kebudayaan yang bercorak maskulin. Budaya adalah laki-laki, alam ialah perempuan. Budaya, dengan individualitasnya yang egois, telah menyisihkan alam ke sudut tersembunyi. Alam/perempuan punya peran penting sebagai bahan bakar kebudayaan/laki-laki, tetapi tak kasat. Seperti bensin di tangki motor.

Tanggal 21 April lalu, novelis cum feminis Indonesia, Ayu Utami membuat catatan reflektif di halaman Instagram-nya: “… Pekerjaan domestik ini tidak menabung apa-apa selain kehidupan anak atau orang lain. Karir selalu mengandung akumulasi (entah reputasi, uang, dll), tapi pekerjaan rumah tangga ini tidak. Padahal betapa pentingnya…. Di Hari Kartini ini ada baiknya kita melihat emansipasi dengan cara terbalik. Bukan cuma perempuan perlu emansipasi agar bisa masuk ke dunia publik (yang kini identik dengan karir, status, dll), tapi agar kita semua menghargai dunia domestik, dunia yang menumbuhkan dan memelihara hidup, yang umum dianggap sebagai dunia perempuan dan tidak dihargai….”

Persis seperti itulah yang ditulis Katrine Marçal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kritik atas ilmu ekonomi liberal dibongkar dengan menghadirkan sosok ibu Adam Smith yang berperan krusial sepanjang hidupnya, tetapi paradoks dengan teori yang dibangunnya bahwa “bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.” Dengan perspektif feminisme, Marçal meneropong cacat dan ironi Homo economicus sebagai agen dalam ilmu ekonomi Adam Smith.

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Individu egois tersebut bernama ‘manusia ekonomi’. Manusia ekonomi diandaikan sebagai pribadi rasional, dingin, egois, terisolasi, independen, aktif, objektif, kompetitif. Karakter tersebut secara natural dianggap melekat pada sosok laki-laki yang beroposisi dengan sifat perempuan (emosional, hangat, altruis, komunal, dependen, pasif, subjektif, kooperatif). Dengan logika tersebut secara otomatis apa yang disebut sebagai manusia ekonomi adalah figur yang memiliki tabiat maskulin. Laki-laki adalah norma universal dan kemanusiaan bersinonim dengan maskulinitas. Di luar itu adalah liyan—adalah jenis kelamin kedua.

Maka, ketika meruyup ke dunia ekonomi, perempuan akan dipaksa bernapas dalam atmosfer yang berputar dengan mekanisme logika laki-laki. Walhasil, dengan keruwetan urusan domestik—yang sebagian besar masih dibopong perempuan karir—ditambah kompleksitas biologisnya, perempuan menjadi inferior di dunia yang sepenuhnya dipahat laki-laki. Upah rendah perempuan, misalnya, Marçal jelaskan secara dialektis dengan mengajukan argumen Mazhab Chicago yang membingungkan. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia ekonomi tidak berjenis kelamin atau netral patah ketika dihadapkan pada kondisi diskriminatif yang dialami perempuan di dunia profesional.

Individualitas dalam imajinasi kolektif ilmu ekonomi secara alamiah dianggap memang watak manusia dari sononya. Potret janin karya Lennart Nilsson dicomot sebagai analogi manusia ekonomi; individu swasembada. Fetus dikesankan sebagai individu yang mengapung sendirian. Rahim direduksi hanya sebuah ruang. Tubuh dan peran ibu dimutilasi. Realitas zoom in foto-foto Nilsson jauh panggang dari api. Kenyataannya, selama mengambang dalam peranakan, jabang bayi terus-menerus melakukan kontak dan bergantung kepada raga ibu.

Homo economicus sebagai citra ideal yang dianggap natural menyangkal sifat manusia yang selalu bergantung kepada liyan. Bahkan, identitas manusia ekonomi yang individualistik harus kontradiktif dengan dirinya sendiri yang membutuhkan orang lain sebagai kompetitor. Yang nyaris tidak bisa ditampik, sejarah keberhasilan laki-laki sebagai manusia ekonomi membutuhkan perempuan yang menyiapkan makan malam, membersihkan tempat tidur, merawat, mencucikan pakaian; untuk lari dari kerasnya dunia, melabuhkan luka, menyeimbangkan jiwa.  

Sumber daya yang berasal dari moralitas primordial perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia ekonomi yang bertumpu pada akumulasi kapital, kerja perasaan dan altruisme bukan bagian dari mata pencaharian.  Ekonomi dan perawatan adalah dua hal yang terpisah. Hasil kerja domestik perempuan tidak dapat dicandra, tidak memengaruhi kemakmuran, sukar dikuantifikasi, sebab ia adalah siklus: “Debu yang disapu menumpuk lagi. Mulut yang sudah diberi makan kembali lapar. Anak-anak yang tidur kembali bangun. Selesai makan siang, waktunya mencuci piring. Setelah mencuci piring datanglah makan malam. Dan piring kotor kembali perlu dicuci.” Sirkulasi kerja yang tak kekal tersebut berakar dari ontologi perempuan yang karnal dan irasional, mata air cinta. “Para ekonom kadang bercanda,” catat Marçal, “jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, PDB (produk domestik bruto) negaranya turun. Jika, sebaliknya, ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.”

Feminisme gelombang kedua menggiring perempuan memasuki dunia kerja. Bagi Marçal itu tidak benar. Yang tepat, perempuan bermigrasi dari pekerjaan tak berbayar ke profesi bergaji; dari ranah domestik gratisan ke aras publik berupah. Itu pun perempuan harus bergelut melawan ketidakadilan yang lahir dari regulasi seksis kebijakan ketenagakerjaan. Ketika kerja keperawatan menjadi profesional—di rumah sakit atau semacamnya—ia diupah murah. Sebab cinta tidak boleh diperdagangkan. Akhirnya kerja perempuan tetap menjadi perekonomian kedua—meminjam istilah Second Sex Simone Beauvoir.

Kapitalisme yang eksploitatif sebagai anak kandung ekonomi liberal perlu dipulihkan dengan melibatkan perempuan secara adil. Ilmu ekonomi seharusnya tidak mencerabut manusia dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan yang lain. Teori ekonomi yang menyertakan perempuan dengan spirit kesetaraan akan menjadi penyeimbang individu egois yang digerakkan oleh kepentingan diri, setan loba, dan rasa takut. Namun, visi ilmu ekonomi belum beranjak sejauh itu. Harus ada yang memasak steik agar Adam Smith  bisa berkata bahwa menyiapkan makan malam itu tidak penting.


Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Sykeh Raba (2019). Ia bergiat di Sivitas Kotheka dan Universitas Madura.

Buku, Resensi

Revolusi dari Ladang Bawang dan Gandum

Oleh Setyaningsih

Puisi-puisi Pablo Neruda (1904-1973), meski diberi judul 100 Soneta Cinta (2019) yang secara personal dipersembahkan kepada seorang perempuan sekaligus istri dari pernikahan ketiga, Matilde Urrutia, adalah cara lain untuk mencintai kejelataan, rakyat, alam, negeri. Neruda sengaja tidak memilih cara yang keras atau megah seperti tertulis di persembahan, “Tetapi, dengan penuh kerendahan hati, aku membuat soneta-soneta dari kayu belaka; aku memberi mereka bunyi dari benda yang kusam dan murni ini, dan begitulah mereka akan menyentuh telingamu.”

Sebagai penyair yang turut dalam percaturan politik Cile, puisi-puisi Neruda memang suara dari revolusi yang tenang. Di sini, unsur tetumbuhan begitu lekat muncul sebagai metafora sekaligus lanskap kehidupan rakyat yang dekat dengan tanah, matahari, keringat, batu bara, dan kehidupan. Tetumbuhan pernah hadir memperdengarkan manis dari cinta, di sisi lain tepat menggambarkan manis peluh perjuangan.

100 Soneta Cinta terbagi dalam empat babakan waktu; Pagi, Siang, Petang, Malam dengan penomoran romawi. Cerap puisi I, Matilde, nama tetanaman atau anggur atau batu,/ semua apa yang berasal dari bumi dan bertahan:/ kata kepada siapa tumbuh mekar pagi permulaan,/ kepada siapa kemarau memancarkan kilau limau./…/ O nama yang telentang telanjang di selusur bunga/ seperti sebuka pintu menuju lorong labirin rahasia/ yang mengabarkan dan mengobarkan wangi dunia!

Rubrik Iqra majalah Tempo, 6 Mei 2001, menampilkan ulasan tentang peraih Nobel Sastra 1971 berjudul “Pablo Neruda, Batavia, dan Kudeta”. Pada 1930, Neruda sempat dikirim ke Batavia sabagai staf konsulat Cile. Inilah masa-masa penuh kesepian akut dan tidak teredakan meski Neruda menikah dengan perempuan Jawa-Belanda. Selama dua tahun di Batavia, lahirlah puisi-puisi yang cenderung gelap dan surealis. Saat kembali ke Santiago pada 1952, Neruda beralih ke hal-hal biasa yang sangat keseharian. “Ia menulis ode untuk benda-benda remeh-temeh sehari-hari yang menjadi bagian hidup orang jelata seperti bawang, seledri, garam, gunting, tomat, sikat gigi, sepatu tua, dan anggur. Menurut Neruda, sebuah cakrawala benda yang tumbuh dalam bauran keringat, asap, diliputi bunga bakung dan air kencing. Benda-benda yang menurutnya dimiliki sosok rakyat dan dipenuhi noda tetesan sup.”

Peralihan corak puisi juga dipengaruhi oleh sikap politik Neruda yang menguat antara 1943-1947. Dengan melibatkan diri di Partai Komunis Cile dan terpilih menjadi senator, mendukung pemogokan besar pekerja tambang melawan kekuasaan Gonzalez Vida yang pro asing, melawan kediktatoran militer, justru menguatkan potret kejelataan dan perlawanan tenang dalam puisi-puisi. Politik memang ganas, puisi meredakan. Cerap, puisi XXXVI, Kekasih hatiku, ratu di sarang lebah dan pekarangan,/ macan kecil dari untaian benang dan bawang-bawang,/ aku senang memandang kerajaan kecilmu berkilauan:/ anggur, minyak, dan cahaya lilin yang serupa pedang,/ bawang putih, dan tanah yang terbuka bagi tanganmu,/ bahan-bahan biru yang berpendar di telapak tanganmu,/ perpindahan dari alam mimpi ke lembar-lembar selada,/ seekor ular yang melingkar di ladang, di parit-paritnya.

Terutama nuansa agraris hadir di puisi Neruda yang begitu romantik bersahaja memang suatu ironi saat Amerika Latin dirongrong kekuatan asing dan dibawa ke arus industrialisasi yang destruktif. Dari bawang, lembar selada, ulat, ladang, atau anggur, hadir pernyataan sikap moral Neruda untuk mencintai rakyat, negeri, dan Matilde secara khusus. Dari keterlibatan politik dan pengasingan yang keras, pembaca justru mendapati ketakjuban dari hal-hal yang tampak biasa saja.

Tentu, nuansa cinta yang sensual tetap masih dapat tersimak seperti pada puisi XII, Perempuan penuh, daging-tubuh apel, bulan panas berkobar,/ kental aroma rumput laut, lumpur dan sinar yang menyamar,/ rahasia terang macam apa yang terkuak dari tiang-tiangmu?/ Malam purba apa yang lelaki mampu sentuh dengan akalnya? Namun, Neruda bisa saja membolak-balikkan persepsi kita pada kemolekan perempuan yang sebenarnya menunjukkan kemolekan (tubuh) alam. Di sini, gejolak keseharian jauh dari yang politis sanggup diwakili, salah satunya oleh gandum yang menghidupi dan dihidupi setiap rakyat. Cerap puisi XIII, Rerumputan gandum padamu, pada hari yang baik,/ pada musim panen, serbuk tepung itu mengembang:/ bagaikan adonan yang tumbuh jadi buah dada cantik./ Cintaku, menunggu di bumi, adalah bara batu arang.

Kecintaan Neruda pada rakyat pun direkam oleh novelis kelahiran Cile, Antonio Skármeta, di novel Il Postino (2002) dalam hari-hari terakhir Neruda di desa nelayan Isla Negra. Neruda mengatakan kepada Mario si tukang pos bahwa dia lebih butuh penggali kubur daripada dokter, “Penggali kubur adalah profesi terhormat, Mario. Tidakkah kau ingat dalam Hamlet penggali kubur berkata: Tidak ada gentlemen kuno kecuali tukang kebun, penggali parit, dan para pembuat liang kubur; merekalah para penerus profesi Adam.” Gubahan Shakespeare tidak hanya referensi dalam kehidupan bersastra. Ada penghormatan sekaligus kekudusan besar dari profesi yang bersentuhan dengan hal-hal “bawah” secara harfiah maupun esensial.

Mereka yang dekat dengan tanah, tetumbuhan, dan keringat justru mewujudkan religiositas sehari-hari. Di puisi C, Neruda menulis, Alangkah indah dunia! Alangkah wangi peterseli!/ Di hamparan kemanisan, O kapal yang mengarungi! Dan kau, barangkali, permata—dan aku, barangkali./ Tidak akan ada lagi perpecahan pada genta-genta./ Tidak ada lagi apa pun selain segala adalah udara/ terbuka, buah-buah apel dimain-mainkan angin,/ lembar-lembar halaman buku lembab di beranda:/ Dan di sana bunga anyelir bernapas, kita akan/ mulai meluruhkan pakaian yang menghalangi/ keabadian sebuah ciuman kemenangan.

Puisi cinta Neruda memberi keberpihakan pada rakyat biasa, yang dalam kepentingan politik sering menjadi sasaran perbudakan, kapitalisme, kemarjinalan, dan kesengsaraan. Neruda mencintai kaum bawah dengan serius tapi manis seolah menemukan wangi peterseli, bau ladang anggur, atau apel-apel yang membawanya turut berada di pinggir untuk merasakan apa yang benar-benar dialami oleh rakyat dan negerinya. Memang, terkadang revolusi tidak dimulai dari wilayah serba melimpah dan mewah serta di bawah todongan bedil atau panji militer.


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]