Ragam

SELEMBAR MERAH DAN SETUMPUK BUKU

Yang teringat adalah The Lord of the Rings itu film? Kaum yang getol membaca meyakinkan itu buku. Di Indonesia, penonton filmnya bisa melebihi satu juta. Namun, jumlah pembaca tetap di hitungan ribuan. Bagi yang berduit membeli novel yang diterjemahkan dalam bahasa Indinesia dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu kepuasan. Buku yang berukuran besar dan tebal. Gambar di sampulnya sering berganti menyesuaikan selera yang dipengaruhi film atau perayaan kesilaman dan kekinian. Buku yang laris.

Apakah novel itu awalan JRR Tolkien mendapat penggemar (fanatik) di Indonesia? Nama pengarang yang kharismatik, berpengaruh besar dalam gubahan-gubahan sastra di dunia, dari masa ke masa.

Rabu, 1 Oktober 2025, anggapan berubah oleh mata dan tangan. Mataku melihat buku berukuran kecil. Gambar di sampul sangat memikat. Gambar yang representatif untuk pembaca masa lalu di Indonesia. Yang menggambar adalah Setyo S. Gambar yang dibuat disesuaikan untuk pembaca di Indonesia. Buku itu berjudul Petani Penakluk Naga (1980) gubahan JRR Tolkien. Bukti bahwa pengarang dunia sudah digemari di Indonesia sejak masa 1980-an.

Mataku melihat seperempat percaya. Benarkah itu novel gubahan JRR Tolkien yang awal diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Tanganku memegang agak tergesa, membuka halaman-halamannya demi mengetahui nama penerjemah dan tahun terbit. Yang terbaca memang penerjemah (Anton Adiwiyoto), bukan penyadur. Buku-buku dari masa lalu agak menjebak gara-gara penerjemahan utuh atau saduran.

Pada mulanya, buku itu dibeli dan dimiliki oleh Himi Nureni, Jakarta, 4 Mei 1981. Pengesahannya adalah tanda tangan bertinta hitam. Aku memegang buku yang usianya hampir sama denganku, yang mau 45 tahun. Buku terbit beberapa bulan sebelum aku lahir, yang belum ditakdirkan sebagai pembaca. Yang lahir memberi tangis, bukan mengucap kata-kata. Pada saat aku belum bisa berkata, banyak orang membaca Petani Penakluk Naga. Para pembaca yang mendapat cerita bermutu. Bukunya tipis, tidak mengharuskan membacanya selama 12 hari.

Aku bertemu buku JRR Tolkein terbitan Gramedia di pasar buku bekas yang beralamat di Gladag (Solo). Aku tidak segera menanyakan harga kepada pedagang. Yang menegangkan adalah mengeluarkan semua buku dari karung, cepat memilih sebelum menjadi rebutan para pembeli.

Siang yang gerah tapi aku cekatan menumpuk beberapa buku. Tanganku memegang novel berjudul Berkeliling Dunia di Bawah Laut (1977) gubahan Jules Verne. Yang menerbitkan edisi terjemahan bahasa Indonesia adalah Gramedia. Mengapa penerbit itu berhasil menyuguhkan novel-novel bermutu kepada para pembaca yang berusia anak dan remaja? Dulu, aku mengetahui buku terbitan Enigma yang berjudul 20.000 Mil di Bawah Lautan gubahan Jules Verne. Yang menerjemahkan adalah Nh Dini. Judul apa yang mula-mula muncul di Indonesia dalam terjemahan yang utuh, bukan saduran? Jules Verne, pengarang tenar di dunia, yang buku-buku sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa.

Yang menerjemahkan Berkeliling Dunia di Bawah Laut adalah Agus Setiadi. Penerjemah ulung yang terjamin mutunya. Agus Setiadi itu bapaknya Hilmar Farid. Aku sebenarnya sudah cukup mendapat dua novel terbitan Gramedia. Kedatanganku ke Gladag membawa selembar merah. Niatnya membeli sedikit buku saja agar aku masih merasa berduit. Apakah membeli dua buku saja?

Di depanku, buku-buku yang dikeluarkan dari karung masih ada beberapa yang menggiurkan. Siang semestinya memberi pesan agar aku menahan nafsu buku. Di hitungan detik setelah semua buku berserakan, aku putuskan bakal menghabiskan selembar merah. Aku harus menukar merah dengan buku-buku bermutu. Jangan ada keraguan dan penyesalan!

Dua buku mencantumkan nama Enid Blyton di tanganku. Sekali lagi, buku-buku itu diterbitkan oleh Gramedia. Maka, sastra (anak) dunia berdatangan ke Indonesia gara-gara Gramedia. Aku memastikan dua buku yang berjudul Tiga Anak Nakal (1996) dan Rag, Tag, dan Bobtail (1996) masuk dalam koleksi, terbaca sebagai penghormatan atas cerita-cerita yang menghampiri jutaan pembaca di dunia.

 Aku merasa Rabu terberkati. Buktinya mataku melihat buku-buku yang bagus. Adanya buku-buku itu membuat mata yang mengantuk segera terbuka dalam sukacita. Yang didapat adalah buku-buku Astrid Lindgren, yang semuanya diterbitkan Gramedia. Bayanganku penerbit itu berkuasa dalam penerbitan buku-buku anak dan remaja selama beberapa dekade, terutama buku-buku terjemahan.

Para penggemar di Indonesia dipuaskan oleh keseriusan Gramedia menerbitkan beberapa judul dari Astrid Lindgren. Yang berhasil dibeli: Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Musim Ceri di Bullerbyn, Detektif Ulung Blomkvist, Ronya Anak Penyamun, dan Kami Anak-Anak Bullerbyn. Sejak awal, niatku membeli untuk dijual kembali. Aku sudah mengoleksi judul-judul itu di rumah. Pilihannya: menjual dengan harga murah atau mahal.

Jika dihitung mungkin jumlah penggemar atau pembaca buku-buku Astrid Lindgren di Indonesia mencapai ribuan orang. Mereka yang terhibur sekaligus belajar kehidupan anak-anak di negeri jauh, yang sulit dicari persamaan-persamaannya dengan anak-anak di Indonesia. Jadi, katalog yang dibuat Gramedia memastikan Astrid Lindgren sebagai pengarang yang ikut menabur subur imajinasi di Indonesia. Pengarang pujaan yang mengalahkan pengarang-pengarang Indonesia, yang buku-bukunya juga diterbitkan oleh Gramedia.

Setiap melihat tampilan buku-buku Gramedia, mata menemukan keistimewaan dalam penentuan ukuran, penggunaan kertas, permainan warna, dan gambar di sampul. Gramedia berani menghadirkan buku-buku ciamik, yang (matang) diperhitungkan untuk betah berada di tangan anak, remaja, dan orangtua. Buku-buku yang menghuni kamar atau rumah dinyatakan sebagai koleksi.

Duitku yang selembar merah bertukar dengan buku-buku yang dulu disantap anak dan remaja di Indonesia masa lalu. Mereka ada yang mampu membeli dan berhak mencantumkan nama atau tanda tangan. Mereka bisa membaca di taman baca atau perpustakaan, yang memunculkan predikat sebagai penyewa atau peminjam. Rabu itu buku-buku dari masa lalu menjadi milikku dalam jangka waktu sebentar atau lama.

Apakah disengaja Gramedia memihak penerbitan buku-buku terjemahan? Aku bisa menjawab: pasti. Penerbit itu yang mengantarkan anak dan remaja terhubung bacaan selera dunia. Mereka membaca buku-buku yang dinikmati oleh anak dan remaja di Prancis, Inggris, Jerman, Denmark, Amerika Serikat, Swiss, dan lain-lain. Bedanya adalah penerbitan edisi terjemahan di Indonesia biasanya terlambat. Yang aku belum tahu adalah pengurusan hak cipta penerjemahan dalam bahasa Indonesia. Pada masa 1970-an dan 1980-an, masalah itu belum terlalu diributkan oleh pihak-pihak dalam bisnis buku atau pengamat bacaan taraf dunia di Indonesia.

Perbedaan sangat tampak saat aku mengambil dua buku terbitan Pustaka Jaya. Aku agak ragu untuk membeli dua buku yang tampangnya tidak menarik. Yang terpegang tanganku: Petualangan Si Nekad (1978) gubahan Paul Jaques Bonzon. Buku yang awalnya terbit dalam bahasa Prancis. Datang ke Indonesia melalui penerjemahan oleh Ida Sundari Hoesen.

Setahuku, penerjemah itu teruji melalui belasan buku yang sudah terbit. Pekerjaan utamanya adalah pengajar di Universitas Indonesia. Namun, ketekunannya menerjemahkan buku-buku berbahasa Prancis agar terbaca di Indonesia mengukuhkannya sebagai penerjemah ulung. Peran terbesarnya adalah mengakrabkan kita dengan kesusastraan Prancis. Jadi, para pembaca buku yang sering jengkel dan sering mengejek mutu buku terjemahan bahasa Indonesia abad XXI bisa membaca semua hasil terjemahan yang dilakukan oleh Ida Sundari Hoesen. Ia tidak harus melakukan penerjemahan melalui edisi bahasa Inggris. Pilihan yang terhormat adalah menerjemahkan dari bahasa asal (Prancis).

Yang terakhir, buku yang berada dalam pegangan tanganku berjudul Dongeng-Dongeng Rusia. Nama yang dicantumkan di sampul buku adalah Adisubroto. Aku menduga buku itu bukan terjemahan. Buktinya, nama yang di sampul khas digunakan orang Indonesia, bukan nama yang lumrah untuk orang Rusia. Maka, aku lekas membukanya. Keterangan di halaman awal dalam buku terbitan Pustaka Jaya: “Diceritakan kembali.” Pustaka anak itu disajikan agar pengetahuan mengenai sastra brtumbuh di Rusia diketahui para pembaca di Indonesia. Padahal, sastra Rusia pernah ikut dalam gegeran sastra-politik masa 1950-an dan 1960-an di Indonesia. Terbitnya dongeng-dongeng dari Rusia mengartikan hubungan dua negara (Indonesia dan Rusia) akrab setelah malapetaka 1965.

Akhirnya, selembar merah bertukar setumpuk buku yang semestinya dibaca oleh anak dan remaja. Pada siang itu peranku adalah penemu dan pembeli, yang berhak memasalahkan lanjutan peran untuk menjadi pedagang buku bekas, pembaca, atau kolektor. [] Durjana

Ragam

BUKU, DEBU, KERINGAT

Subuh yang tidak memberi dingin. Beberapa hari yang lalu, dingin berkuasa atas malam, dini hari, dan pagi. Aku pun ikhlas berkeringat akibat tak bercumbu dengan kipas angin dan mesin pendingin udara. Aku hanya percaya angin yang masuk lewat pintu dan jendela, Angin yang tidak membawa pesan-pesan gaib dari langit.

Jumat, 26 September 2025, aku makin berkeringat setelah subuhan. Yang dilakukan adalah menggerakkan tubuh untuk buku dan debu. Aku harus merapikan rumah. Ribuan buku yang berserakan ditumpuk sembarangan, ditaruh di pinggiran. Keinginan agar ada ruang luas untuk duduk banyak orang.

Siksa terbesar adalah debu dan kotoran yang bersama buku-buku. Pagi dimerdukan suara burung dan ayam. Aku merusaknya gara-gara bersin yang keras dan cempreng. Padahal, jam-jam sebelum aku pulang ke rumah menjelang 12 malam, aku pun sudah bersin-bersin di gedung olahraga, tempat aku menyapu dan mengepel demi mendapat rezeki.

Pagi itu bersin menyiksa bersumber buku dan debu. Aku sebenarnya marah dan menyesal telah lama menelantarkan ribuan buku di rumah. Kutukan diberikan padaku melalui buku-buku. Aku telah khianat atau ingkar. Buktinya, buku-buku itu morat-marit. Beberapa buku terkena air hujan. Ada buku-buku yang tampak bekas dikerikiti tikus-tikus. Pemandangan yang buruk. Semua terjadi seolah menjadi perbuatan dosa. Akulah yang mendosakan diri gara-gara buku. Kutukan belum habis.

Pada saat menumpuk dan mengangkat buku berpindah tempat, aku melihat lagi buku-buku yang selama ini aku ingin baca ulang atau semestinya menjadi dagangan di media sosial. Buku-buku yang telah bersamaku belasan tahun, lama tidak mendapat sentuhan dan tatapan mata. Aku tak lagi mendoakan mereka. Aku lupa bersenandung bersama buku-buku agar arwah para pengarang tidak dihajar sedih dan nestapa. Setengah tahun lebih, aku seperti pengkhianat besar atau sosok munafik terhadap buku-buku. Setelah subuhan, tubuhku dipaksa bersama lagi buku dan debu. Aku yakin bakal keok dan berduka.

Pukul 8 pagi, orang-orang berdatangan, memarkir sepeda motor di pinggir jalan dan pekarangan. Tubuhku sudah lelah dan pikiran tak keruan. Aku minta mereka menata sepeda motor secara rapi. mengajk mereka masuk rumah. Tikar dan karpet sudah aku gelar meski tampak sesak terhimpit rak dan tumpukan buku.

Aku biarkan belasan orang di rumah. Yang aku lakukan adalah mencuci pakaian sambil bersenandung pelan. Lelahku harus diselamatkan oleh air dan lagu-lagu picisan. Pagi itu matahari menyengat. Yang diam dan bergerak bakal berkeringat. Mencuci sedikit menghindarkan sumuk.

Di ruangan yang bau buku dan debu, aku bercerita di hadapan 30-an mahasiswa. Mereka tampak bingung dan ragu mendengar kata-kata yang terucap. Aku malah melihat ada mahasiswa yang memperbaiki matanya. Maksudku, ia menggunakan alat untuk merapikan bulu matanya. Ada pula yang mengeluarkan cermin untuk memastikan wajah masih cantik. Bedak di tangan. Mataku melihat kesibukan-kesibukan yang aneh saat mereka berada dalam kepungan buku.

Aku khawatir mereka bakal pingsan dan mampus. Maka, aku berseru agar tangan mereka jangan menyentuh buku. Bersin! Aku peringatkan agar mereka jangan mengotori tangan dan bersin. Di sela aku berbagi cerita mengenai tulisan dan manusia, aku menyempatkan memberi nasihat tidak bijak: “Jangan terlalu dekat buku-buku! Berdoalah agar besok wajahmu tidak jerawatan! Konon, debu mengakibatkan jerawat.” Mereka tampak tersenyum tidak ikhlas.

Beberapa mahasiswa tampak memiliki keinginan besar mengetahui apa-apa yang terucap mulutku. Menyimak! Mereka pun berani membaca kalimat-kalimat yang ditulis di kertas. Para mahasiswa yang tidak takut debu, tabah dalam bersin, dan yakin tidak jerawatan berhak mendapat hadiah. Beberapa novel aku berikan kepada yang membuat tulisan dan membacakan di ruangan terkutuk ribuan buku. Dua jam berlalu, mereka pun pergi. Aku tergeletak di atas tikar sambil menanti panggilan dari masjid untuk sholat dua rekaat. Siang pun melelahkan.

Malam aku dijanjikan menikmati lelah. Di gedung olah raga, menepati janji menjadi tukang sapu dan mengepel. Malam itu ada jadwal “Kubu Kleco” bermain badminton di lapangan utara, mulai pukul 8 malam. Aku mengenal mereka sejak lama. Beberapa kali mereka menikmati Jumat malam disahkan kerkeringat, berteriak, dan saling ejek dalam lakon bulutangkis.

Dua orang tampak “sombong”. Malam yang seharusnya sehat berkeringat malah dinodai batang-batang rokok yang menyala. Mereka memang perokok yang tidak mau cuti. Yang menimbulkan kepastian mereka sombong adalah buku. Satu orang menikmati kopi dan rokok. Di tangannya, aku melihat ia memegang mesra buku berjudul Istanbul garapan Orhan Pamuk. Aku sebenarnya ingin mengingatkannya bahwa Orhan Pamuk bukan pemain bulutangkis. Orhan Pamuk itu pengarang yang membuatku cemburu setinggi tujuh lagit. Aku yang membaca novel-novel dan esai-esainya merasa “dihinakan” di jurang kebodohan dan kepicikan.

Mengapa ia membaca Istanbul saat Jumat masih meminta keringat? Dugaanku saja, ia mungkin bakal mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke Turki. Ia tidak ingin terpuruk di Solo tanpa jaminan mendapat kekasih dan bisa makan bebek goreng sebulan sekali. Minggat ke negeri asing bisa menjadi penyelamatan. Benarlah bila ia mau khatan Istanbul yang ditulis Orhan Pamuk secara puitis.

Satu lagi lelaki yang melepas kaos. Sosok yang pamer sedang menanggung kegemukan. Kaos dan bajunya cepat sesak. Ia mengerti sedang gendut. Malam itu ia memegang buku berjudul Mitologi garapan Roland Barthes. Pikirku, Roland Barthes menulis tentang gulat, bukan bulutangkis. Mengapa lelaki yang rajin merokok itu malah membuka halaman-halamam Mitologi setelah bermain bulutangkis? Aku ingin mengatakan bahwa buku di tanganya bisa menumbulkan sesat. Selama ini aku mengetahui dirinya sembrono menghabiskan uang untuk berbelanja buku. Ia pasti menjadi keparat jika terus membaca buku dan betah dalam obrolan keintelektualan.

Malam yang jahanam gara-gara dua lelaki membaca Istanbul dan Mitologi. Aku menyumpahi mereka agar menjadi batu di Kalipepe atau berubah menjadi semut di Siberia. Dua lelaki yang tidak pantas diidamkan oleh perempuan yang ingin bahagia dan mendapat hiburan. Dua lelaki itu sepertinya mengartikan hidup cukup kopi, rokok, dan buku. Padahal hari-harinya amburadul.

Jumat berlalu, datanglah Sabtu, 27 September 2025. Siang, aku mengajar murid-murid SMP. Sebuah novel aku jadikan sebagai hadiah. Siang itu kami berbagi cerita mengenai kebodohan-kebodohan dalam mengikuti pelbagai mata pelajaran di sekolah. Aku mengaku kepada mereka pernah bodoh dan tidak naik kelas. Pengakuan yang menjadi hiburan bagi mereka, yang akhirnya berani memamerkan lembaran hasil ujian. Nilai-nilai yang buruk tapi mereka tidak menyesal. Bodoh kadang menghibur dan menciptakan tawa absurd.

Sore, aku berkeringat lagi sebagai tukang sapu, tukang ngepel, dan pelayan di kantin. Di gedung olahraga, tubuhku harus bekerja bersama debu dan kotoran. Sore itu membahagiakan saat teman datang. Sebelumnya, kami sudah kencan untuk bertemu. Duduk sambil minum es teh, kami berbagi cerita mengenai nasib dan mengimajinasikan binatang-binatang. Yang terpenting adalah aku menyerahkan novel gubahan Amin Maalouf yang berjudul Nama Tuhan yang Keseratus. Aku mendapatkan rezeki dari penjualan buku. Yang berlebih adalah obrolan kami menjelang senja.

Aku menikmati senja bareng lagu-lagu asmara. Dua lapangan aku bersihkan, yang utara dan selatan. Para pemain masih berada di lapangan tengah, yang berakhir pada pukul 18.00 WIB. Aku menyempatkan melihat mereka yang tampak semringah dan tertawa. Kaum muda yang memilih main bulutangkis ketimbang menjadwalkan pacaran. Mataku kaget melihat di kubu mereka ada buku. Yang tampak adalah novel-novel Tere Liye. Beberapa orang adalah pembaca novel, yang menggemari Tere Liye. Aku pun mendekat minta izin bergabung bareng mereka untuk obrolan. Sejenak, aku tambah minta izin untuk memotret kehadiran novel-novel Tere Liye di pinggiran lapangan badminton.

Percakapan maghrib yang seru. Telingaku sudah mendengar azan maghrib. Obrolan yang memusat buku. Aku bawakan buku-buku yang menjadi bacaanku. Dua buku yang sempat mereka pegang dan baca adalah The Sun an Her Flowers, Matahari dan Bungaa-Bunganya (Rupi Kaur) dan 700+ Kata-Kata Inspiratif Para Wanita Hebat (Carolyn Warner). Dua buku bersama mereka saat aku tinggal untuk shalat dan meladeni para pembeli di kantin. Yang terdengar di kantin adalah lagu Nadin Amizah dan Iwan Fals yang berjudul “Untukmu”. Tanpa malu, aku iku bersenandung: Katakan padaku/ andaikan kau tahu/ tolonglah kau katakan itu/ lawanku, temanku, saudaraku, keluargaku/ pun aku// siang berganti malam/ terdengar panggilan-Nya/ suara anak-anak kecil yang pergi ke langgar/ menghampiri yang dewasa di sana/ tanpa tahu apa-apa/ melangkah dengan riang gembira. Sebelumnya, lagu itu aku nikmati di Mangkunegara, beberapa bulan yang lalu saat aku dan teman-teman menikmati konser yang megah.

Malam itu aku ingin bahagia. Hari-hariku bertemu para pembaca buku. Mereka masih membuatku bergairah dan mengurangi pengkhianatan terhadap buku-buku. Rombongan pemain di lapangan tengah pamitan sambil membuat permintaan agar Sabtu yang akan datang aku membawakan novel-novel. Mereka mau meminjam meski aku memiliki niat untuk memberikan saja agar senang. Ada yang malah meminta untuk diadakan obrolan buku. Aku balik memberi guyonan kepada mereka: “Jangan telantarkan kekasihmu! Bulutangkis dan buku akan membuatmu dibenci kekasih.” Mereka malah menjawab sambil tertawa: “Saya tidak punya kekasih!” Malam yang berbahaya. Mereka yang suka buku pasti lupa khasiat Sabtu malam. Mereka terbukti tidak mementingkan orang-orang yang harus dicintai tapi memilih berkeringat dan menikmati novel-novel bergelimang nasihat. [] Durjana

Ragam

BUKU RAHASIA

Oleh: Ramdhan S.

Konon, pahlawan itu bertubuh tegap, tak ada rasa takut, otot kawat tulang baja, dan mustahil masuk angin.  Kira-kira demikian gambaran sejarah yang diajarkan di sekolah dasar.  Penulis beruntung mengenal sejarah bukan hanya dari ruang kelas. Sejarah pertama yang ditemui datang diam-diam, lewat sebuah buku tebal berkertas minyak. Buku itu tersimpan di rumah, di kamar tengah di bawah poster F. Totti, Montella, Batisuta dan beberapa pemain bola top liga Italia lainnya.

Bapak tak pernah bercerita dari mana datangnya buku itu, dan ibu hanya memberi pesan sederhana, “Kalau mau baca, jangan bawa keluar rumah.”  Masih teringat jelas peringatan itu. Sebab, ibu menambahkan alasan yang tak bisa dianggap main-main: tetangga kita pernah ditangkap aparat gara-gara buku serupa. Meski tak mengerti, tidak juga banyak tanya. Reformasi telah digaungkan beberapa tahun silam, mungkin ibu masih terbayang Orde Baru. Razia buku sebagai alat bukti kejahatan dan tindak pidana.

Pada masa itu, diperkirakan penulis masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.  Membaca dengan terbata-bata tapi ingatannya meresap. Membaca bukan hanya kegiatan mencari informasi tapi semodel uji nyali.

Di dalam buku rahasia, ada foto-foto peristiwa sejarah yang kelak diketahui sebagai catatan hitam negeri ini.  Dari naskah Ploklamasi, Supersemar, Ade Irma Suryani, Aidit sampai Lapangan Monas dan tukang becak istana.  Ada juga barisan demonstran dengan karangan bunga dan foto lelaki muda bertulisan Arif Rachman Hakim.  Gambar itu menempel di kepala lebih kuat daripada semua pelajaran Pendidikan Moral Pancasila.  Arif, seorang mahasiswa kedokteran tewas saat demonstrasi Tritura 1966. Ditembak atau tertembak aparat tergantung sumber sejarah yang mana.  Konon, tubuhnya tergeletak bersimpah darah di antara antara lautan manusia.

Mereka yang sering menghapal nama jalan pasti tidak asing.  Ia sudah terpampang menjadi nama jalan. Tentu saja, kemudian hari kita tahu Arif Rachman Hakim diabadikan menjadi pahlawan Ampera,  namanya menjadi masjid di Kampus UI Salemba, dan perpustakaan di Sumatera. Seakan dengan memberi nama, negara telah membayar utangnya.

Bertahun-tahun kemudian, kita kembali membaca berita yang mirip. Meski sama berwarna hitam putih, kali ini menggunakan filtel Instagram dan Tik-Tok.

Nama dan situasi berbeda, tapi akhir cerita serupa. Seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan tewas, bukan oleh peluru karet atau timah panas, melainkan roda mobil Brimob dalam  demonstrasi yeng berakhir kacau itu. Ditabrak atau tertabrak, terlindas atau dilindas tergantung siapa yang bicara.

 Usianya muda, penuh semangat, barangkali masih sering bercanda tentang perempuan cantik dan masa depan negeri. Kabar itu menohok, seakan membuka kembali halaman buku minyak yang dulu sudah hilang.

Bedanya, kali ini berita muncul lewat gawai, bukan buku rahasia. Bedanya pula, tidak ada yang memperingatkan saya untuk jangan membawanya keluar rumah. Namun, ironisnya, justru di zaman bebas informasi, nama Affan terasa cepat menguap.  Ia tinggal di batu nisan, di duka keluarga, di linimasa media sosial yang tak butuh waktu sehari untuk pindah topik.

Di era Reformasi jalanan adalah ruang kuliah terbesar. Di media sosial hari ini, kerumunan bergeser ke trending topic, tapi pola dasarnya sama: ramai-ramai membuat kita merasa kuat, sekaligus rawan kehilangan kendali.

Kita tidak sedang berbicara para demonstran saja, aparat yang pun demikian.

Tak heran bila demonstrasi kerap berubah arah. Maksudnya menuntut keadilan, ujung-ujungnya terbakar amarah. Niatnya bertugas dan menertibkan akhirnya rakyat dianggap musuh.  Tentu, selalu ada cerita tentang penyusup atau provokator. Tapi bahkan tanpa mereka, kerumunan itu sendiri punya daya yang bisa mengguncang logika. Ada yang bersorak sambil memecahkan kaca, ada yang menyalakan api, ada pula yang tiba-tiba menjadi korban hanya karena kebetulan berada di jalur salah. 

Durkheim, yang namanya selalu muncul di buku kuliah boleh saja bicara tentang kerumunan dan hilangnya individualitas, tapi kita lebih senang menyebutnya peristiwa kesetanan. 

Beberapa setelah peristiwa itu, selain Affan, ada pula sembilan nama lain yang hilang tanpa memorial. Mereka bukan orator, bukan pemimpin massa, hanya orang-orang biasa yang sial terjebak ketika kerusuhan membakar fasilitas umum. Ada yang terperangkap asap, ada yang pulang tak pernah sampai rumah. Namun berita tentang mereka lebih cepat padam daripada api yang menghanguskan gedung dan halte.

Mungkin inilah yang paling menyakitkan: mati tanpa nama.

Arif Rachman Hakim pantas, katanya, karena ia simbol perlawanan terhadap rezim. Namun, bagaimana dengan Affan Kurniawan? Tidak usah terburu-buru berprasangka buruk.  Kita tunggu saja. Sebab, pemerintah sedang sibuk dengan pergantian menteri dan perbaikan gizi anak.

Sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, kalau mau jujur, adalah catatan kerumunan. Dari kampanye raksasa menjelang pemilu, parade militer, demonstrasi mahasiswa, kupon daging kurban sampai antrean gas elpiji miskin. Kita adalah bangsa yang percaya bahwa bersama-sama kita bisa mengguncang. Tapi bersama-sama pula kita sering lupa, bahwa di tengah lautan manusia itu ada individu yang bisa lenyap begitu saja.

Mungkin benar, bangsa ini pandai mencatat nama pahlawan, tapi lalai menulis nama korban. Kita punya jalan protokol, gedung megah, bandara internasional dengan nama besar. Tapi coba hitung berapa banyak Affan yang tak diingat, mati dalam kerusuhan dan tak pernah masuk buku pelajaran?

Kita tidak sedang menuntut semua nama dijadikan monumen. mustahil. Namun, setidaknya, kita bisa menolak lupa. Kita bisa menolak menganggap kematian sebagai angka statistik. Kita bisa mengingat, meski hanya lewat cerita bahwa pernah ada anak muda bernama Affan yang bermimpi hidup lebih panjang.

Sekarang, buku minyak itu sudah hilang entah ke mana. Barangkali dimakan rayap, barangkali dijual kiloan bersama kertas-kertas tua. Namun, anehnya, justru kehilangan itulah yang membuat hadirnya tulisan ini. Buku bisa lenyap, tapi ingatan tidak.

Kita membayangkan, suatu hari, kalau ada anak kecil membuka buku sejarah di rumahnya, ia tidak hanya menemukan nama Arif Rachman Hakim. Kita menginginkan ingin ia juga membaca nama-nama lain, yang selama ini terkubur tanpa memorial. Affan Kurniawan, dan semua korban anonim yang tak sempat ditulis di prasasti.

Sebab kalau tidak, kita hanya akan mengulang pola lama: melahirkan pahlawan dengan satu nama, lalu membiarkan ratusan nama lain larut seperti debu.

Arif Rachman Hakim memang sudah diabadikan. Ia hidup dalam monumen, dalam narasi resmi, dalam halaman buku pelajaran. Tapi saya berharap, Affan Kurniawan tidak berhenti di batu nisan. Semoga ada yang terus menyebut namanya, meski hanya dalam percakapan kecil, dalam tulisan sederhana, atau dalam doa yang lirih.

Melawan gas air mata, tembakan aparat, apalagi mobil baja kita tidak mampu, tapi menolak lupa bisa diupayakan.

___________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta

Ragam

BERTEDUH DI BUKU

Hujan di Sriwedari, Solo, 24 September 2025. Hujan setelah adzan ashar. Hujan setelah aku berbagi cerita bareng murid-murid SD di Jamsaren. Siang yang ganas berganti hujan yang cukup deras. Hujan itu tiba bukan gara-gara aku bersin tiga kali di kelas. Tubuhku memang bermasalah. Bersin itu tanda yang bikin bimbang.

Semua bermula dari sapu. Siang itu anak-anak menyapu sembarangan dan melempar sapu-sapu di pojok. Aku sengaja mengambilnya untuk mengajar iseng-iseng. Sapu itu aku tampilkan sebagai bedil, gitar, tiang mikrofon, dan lain-lain. Anak-anak suka dan bergantian memberi imajinasi bersumber sapu. Akhirnya, mereka membuat tulisan-tulisan pendek. Ada yang diberi gambar.

Yang mengejutkan, ada sehalaman tulisan mengenai sapu yang berhubungan dengan DPR. Anak itu membuat kalimat yang terlalu berani, yang aku artikan “menyapu” DPR. Anak itu sebenarnya menggunakan kata “membunuh” DPR tapi aku menggantinya agar tidak ada gejala revolusioner. Anak kelas 3 SD yang tampak cengengesan tapi mengerti keburukan-keburukan DPR.

Pulang saat gerimis sudah membasahi sekolah dan jalan. Sepeda motorku tidak bisa melaju kencang. Bagian lampu sudah diikat dengan tali plastik. Plat nomor di belakang pun harus mendapat ikatan agar tidak jatuh. Tetes-tetes hujan makin banyak dan kuat, aku memilih berhenti di kios-kios buku yang terletak di belakang Stadion Sriwedari. Berteduh di buku.

Apakah bisa berteduh di buku? Lihatlah, buku itu bukan payung atau atap! Yang tampak adalah atap kios-kios itu banyak yang bocor. Para penunggu buku murung. Puluhan kios tutup, tanda memilih mati. Di kios-kios, aku memandangi beragam buku bajakan. Yang paling berkuasa adalah buku-buku pelajaran.

Aku tidak ingin kehujanan. Berteduh di buku itu pilihan untuk selamat dari basah. Aku tidak ingin bertambah bersin-bersin lagi. Jangan sampai aku masuk angin!

Sore itu aku memiliki 65 ribu rupiah. Uang itu datang saat siang sedang garang. Pukul 1 siang, ada lelaki yang datang ke GOR Badminton Blulukan. Ia membeli buku mengenai otoritarianisme: 65 ribu. Rabu, hari aku berduit. Di kios-kios Sriwedari aku bakal jadi pembeli?

Ada kios ditunggu dua bocah. Aku menikmati setumpuk novel. Pilihan sudah ditentukan: A Thousand Splendid Suns (2010) gubahan Khaled Hosseini. Buku terbitan Qanita, diberi keterangan “edisi gold”. Buku masih plastikan tapi kondisi kotor. Bocah itu bilang harganya 30 ribu rupiah. “20 ribu saja,” kataku. Oh, aku tega! Akhirnya harga yang disepakati: 25 ribu rupiah. Dua bocah itu tersenyum, aku berpindah ke kios lain. Duitku masih 40 ribu rupiah! Apakah masih bisa untuk membeli buku?

Aku termasuk orang yang mudah terharu dan mewek membaca buku-buku Khaled Hosseini. Beruntung, aku belum pernah melihat film diangkat dari ceritanya. Kesan-kesan dari ceritanya masih mendekam di tubuhku. Aku biasa membujuk teman-teman untuk membaca buku-buku Khaled Hosseini meski mereka kadang tak percaya dengan ingatan dan tafsira yang aku suguhkan, penggalan-penggalan.

Pada saat hujan, aku tidak ingin mata berhujan. Aku mengelak dengan berimajinasi terjadi “hujan buku” atau “hujan huruf”. Kapan itu terjadi? Bayangkan bila hujan buku menjadi kota-kota di Indonesia “terkutuk” dengan novel-novel asmara dan horor. Yang menikmati hujan harus rela kepalanya kejatuhan buku-buku dalam edisi tipis atau tebal. Gagal dengan “hujan buku”, berharap terwujud “hujan huruf”. Aku ingin menjadi bocah yang tubuhku kuyup huruf. Tanganku menerima huruf-huruf dari langit. Sembarang huruf yang membuatku bisa menjadi pencerita atau pendoa.

Lamunan yang payah saat aku masih bersombong membelanjakan duit yang ada di saku celana. Berdiri di depan kios dengan penunggu lelaki tua yang bertampang putus asa akut. Ia pasti menderita sebagai penjual buku yang selalu sepi, dari hari ke hari. Mataku segera melihat buku kecil berwarna coklat-susu. Buku itu berjudul Judy Moody (2006)  gubahan Megan McDonald. Aku sudah membaca tiga bukunya. Aku wajib beli lagi agar memiliki kesombongan bila bercerita di hadapan seribu orang. Ceritanya lucu dan menakjubkan. Aku salah baca. Aku bukan anak atau remaja tapi lelaki brengsek yang mau 45 tahun. Duh, aku telanjur membacanya!

Ada satu buku lagi di tanganku yang berjudul jelek: Mari Jatuh Cinta Lagi (2011). Buku terbitan Zaman. Aku memastikan Zaman sering menerbitkan buku-buku agama. Buku yang di tanganku tentu bukan ajakan untuk kasmaran dan mengumbar berahi. Penglihatanku yang mulai kabur masih bisa membaca nama penulis buku: Ibnu Al Dabbagh. Oh, ulama klasik. Jadi, buku itu terjemahan dari kitab klasi yang berbahasa Arab. Penerjemahnya kurang ajar! Judul yang tidak bermutu. Keterangan di bawah judul: “Kitab Para Perindu Allah”. Aku lekas memilihnya untuk dibeli bareng buku Judy Moody. Lelaki tua yang putus asa itu mau menerima uang dariku 30 ribu rupiah untuk dua buku. Beruntunglah tetap mendapat rezeki saat hujan bikin Rabu yang sendu.

Setengah jam berlalu. Hujan menjadi rintik-rintik saja. Aku harus berani berada di jalan bersama sepeda motor yang kedinginan. Senja itu aku harus ada di GOR Badminton Blulukan untuk ibadah harian: berperan sebagai buruh menyapu dan mengepel.

Sampai di Purwosari, matahari malah nongol setelah hujan. Pemandangan yang membuatku memaafkan matahari setelah tadi siang memberi siksa yang tidak bisa ditebus dengan segelas es teh. Senja, aku menjadi pemilik tiga buku bekas. Aku pun menyadari diriku mulai bekas. Hidup sah telah bekas. Senja yang lekas bekas. Malam bakal datang sambil berharap nanti bisa mengintip bulan sabit. [] Durjana

Ragam

Wawancara Imajiner Bersama Wiji Thukul: Kata yang Tak Pernah Istirahat

Tempat: Sebuah warung kopi di pojok langit. Wiji Thukul telah datang lebih dulu, mengenakan kaus oblong bertuliskan “Lawan!” dan sandal jepit. Ia memesan kopi tubruk, tanpa gula. Kami duduk di bangku kayu, dengan asap rokok yang menggantung malas di udara.

Pewawancara: Mas Wiji, pertama-tama, apa kabar? Di sana masih tetap melawan?

Wiji Thukul: Kabarku ya begini-begini saja. Hidup di alam antara setengah jadi poster, setengah jadi hantu. Tapi tidak apa, toh puisiku masih hidup. Lagipula, di negeri ini yang mati kadang justru lebih cerewet daripada yang hidup.

Pewawancara: Sudah banyak penyair baru bermunculan. Apa Mas Wiji masih sempat baca-baca puisi mereka?

Wiji Thukul: Kadang aku nyelinap ke rak-rak toko buku. Jadi bayangan. Kubaca diam-diam. Ada yang bagus, ada yang bikin aku ingin mati dua kali. Banyak yang sibuk bermain metafora, tapi lupa bagaimana rasanya lapar.

Pewawancara: Wah, agak pedas ini, Mas.

Wiji Thukul: Nggak pedas, cuma jujur. Kalau puisimu bisa dijadikan nasi bungkus buat tukang becak yang baru pulang narik, itu puisi yang benar. Tapi kalau puisimu cuma cocok dibacakan di kafe dengan lampu temaram dan suara musik pelan, ya itu mungkin bukan puisi. Itu dekorasi.

Pewawancara: Puisi-puisi sekarang bukan di kertas, Mas. Koran pada tutup.

Wiji Thukul: Ah, kau ini. Aku tahu. Itu hanya pengandaian.

Pewawancara: Tapi bukankah puisi memang punya banyak rupa, Mas? Ada yang eksperimental, ada yang spiritual, ada yang visual.

Wiji Thukul: Iya, aku ngerti. Tapi banyak penyair sekarang terlalu sibuk mengukir bentuk sampai lupa isi. Puisinya indah, tapi kosong. Seperti lemari kaca tanpa piring. Atau lebih parah: seperti seminar tentang kemiskinan di hotel bintang lima.

Pewawancara: Jadi Mas merasa puisi-puisi sekarang terlalu estetis?

Wiji Thukul: Estetis boleh. Tapi jangan sampai jadi topeng untuk menutupi bahwa kamu tidak punya sikap. Aku nggak minta semua penyair jadi aktivis. Tapi kalau puisimu bisa dibaca tanpa bikin orang mikir apa-apa, itu artinya kamu berhasil menulis tanpa mengganggu siapa-siapa. Dan itu bahaya.

Pewawancara: Bahaya?

Wiji Thukul: Iya. Kekuasaan itu senang sekali pada puisi yang tidak menggugat. Puisi yang bisa dijadikan kutipan instagram pejabat. Puisi yang seperti teh manis: nyaman, sopan, dan cepat dilupakan. Padahal puisi seharusnya seperti kopi pahit: bikin melek dan kadang bikin mules.

Pewawancara: Kalau begitu, bagaimana harapan Mas terhadap perkembangan puisi sekarang?

Wiji Thukul: Harapanku sih sederhana. Biar puisi kembali ke rakyat. Kembali ke jalan. Jangan terlalu sering ngumpet di ruang diskusi ber-AC. Aku pengen lihat puisi dicoretkan di tembok, diteriakkan di demo, disisipkan di selebaran pasar. Bukan sekadar dibukukan, diluncurkan, lalu difoto dengan latar bunga plastik.

Pewawancara: Tapi ada juga penyair muda yang berani bicara soal ketimpangan, Mas.

Wiji Thukul: Benar. Dan itu menyenangkan. Tapi mereka kadang tenggelam di antara penyair-penyair yang sibuk merapikan rima seperti tukang cukur. Yang lebih penting dari berani adalah konsisten. Banyak yang berani hari ini, besok jadi buzzer.

Pewawancara: Jadi Mas menganggap puisi itu harus punya keberpihakan?

Wiji Thukul: Harus. Puisi yang netral itu mitos. Seperti wartawan yang katanya objektif padahal disokong iklan. Bahkan diam pun sikap. Kalau kau diam di depan ketidakadilan, berarti kau sudah memilih berpihak. Hanya saja pada pihak yang salah.

Pewawancara: Jadi bagaimana bentuk puisi yang baik menurut Mas?

Wiji Thukul: Puisi yang bikin orang biasa merasa didengar. Bikin buruh pabrik merasa dia tidak sendirian. Puisi yang bikin mahasiswa nggak cuma sibuk bikin skripsi, tapi juga mikir: “Kok harga kosanku makin mahal, ya?”

Pewawancara: Mas Wiji, kalau boleh menanggapi sedikit, sekarang pemerintah seenaknya menentukan pajak. Kadang rakyat kecil diperas, sementara pengusaha besar dapat keringanan. Apa tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Pajak itu seharusnya gotong royong. Tapi di negeri ini, gotong royong artinya rakyat yang gotong, pejabat yang borong. Rakyat kecil ditagih pajak macam-macam, sementara konglomerat bisa tidur nyenyak karena dapat insentif investasi. Itu bukan pajak, itu perampokan yang pakai jas.

Pewawancara: Tapi katanya demi pembangunan, Mas.

Wiji Thukul: Ah, kata pembangunan itu sering jadi jimat. Padahal yang dibangun cuma gedung-gedung mewah, sementara jalan ke kampung masih becek. Kalau benar demi pembangunan, kenapa rumah rakyat bocor tiap hujan? Jadi pertanyaannya bukan pajak untuk apa, tapi pajak untuk siapa.

Pewawancara: Baik. Kita geser sedikit. Apa Mas Wiji mengikuti berita tentang korupsi dan nepotisme yang masih merajalela?

Wiji Thukul: Tentu. Itu acara rutin. Seperti sinetron tapi bintangnya selalu sama. Bedanya, kalau sinetron bisa tamat, korupsi kita kayak serial tak berkesudahan. Aku yakin, kalau nanti dinosaurus hidup lagi, berita pertama yang mereka baca adalah: Anak pejabat ditangkap KPK, tapi dilepas karena tidak cukup bukti dan terlalu muda untuk paham hukum.

Pewawancara: Ada satu kasus lucu, Mas. Seorang pejabat bilang tidak bisa menjelaskan asal uangnya karena katanya “dikasih Tuhan”. Tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Nah itu! Tuhan sering dijadikan kambing hitam oleh orang yang takut jadi kambing beneran di pengadilan. Kalau Tuhan beneran kasih uang segitu banyak, kenapa bukan ke juru sapu sekolah atau ibu-ibu penjual nasi uduk? Kadang aku yakin Tuhan pun bingung: “Ini siapa yang bilang aku ngasih itu?”

Pewawancara: Jadi menurut Mas, humor bisa jadi cara melawan?

Wiji Thukul: Tentu! Humor itu alat subversif. Ketika kamu menertawakan kekuasaan, kamu sedang mencabut jubah sakralnya. Dulu aku menulis puisi. Sekarang mungkin aku akan bikin stand-up di pasar, temanya: Cara Menjadi Pejabat Tanpa IQ. Bayangkan betapa lucunya kalau rakyat tertawa sambil sadar bahwa mereka sedang dijahili.

Pewawancara: Mas, kalau boleh jujur, banyak orang sekarang mulai apatis. Capek. Merasa percuma marah-marah. Apa Mas punya pesan?

Wiji Thukul: Apatis itu bukan dosa. Itu tanda luka yang dalam. Tapi jangan biarkan luka jadi lumpur. Kita boleh lelah, tapi jangan kehilangan rasa geli terhadap ketidakadilan. Selama kita masih bisa menertawakan kebohongan, berarti kita belum kalah sepenuhnya. Jangan biarkan negara mengatur sampai kapan kamu boleh tertawa.

Pewawancara: Mas, terakhir. Kalau sekarang Mas punya akun media sosial, apa yang bakal Mas unggah pertama?

Wiji Thukul: Mungkin foto sandal jepitku yang bolong. Lalu kutulis: Sandal ini sudah lebih jujur daripada pejabat yang sepatunya selalu mengkilap. Atau video aku baca puisi di WC umum sambil nyemprot pewangi, dengan caption: Inilah tempat paling bersih di negeri yang suka pura-pura wangi.

Pewawancara: Ada pesan khusus untuk penyair muda?

Wiji Thukul: Tentu. Jangan takut bikin puisi yang jelek asal jujur. Daripada bikin puisi indah tapi palsu. Jangan sibuk mengutip Derrida kalau kamu belum pernah ngobrol dengan tukang parkir. Dan yang paling penting: jangan jadi penyair yang takut kehilangan undangan baca puisi. Lebih baik kehilangan panggung daripada kehilangan hati nurani.

Pewawancara: Terakhir, Mas. Kalau Mas bisa turun lagi ke dunia, apa yang akan Mas lakukan pertama kali?

Wiji Thukul: Aku akan ke pasar, beli bakwan, terus duduk di emperan dan baca puisi pakai toa. Biar semua orang denger. Biar mereka tahu: kata-kata belum mati. Dan selagi masih ada ketidakadilan, kata-kata juga belum boleh istirahat.

Pewawancara: Terima kasih, Mas Wiji. Salam untuk langit.

Wiji Thukul: Jangan cuma salam. Lawan juga!

Ragam

BABAD DI ATAS TIKAR DAN SEBOTOL TEH

Lampu-lampu menyala dan tikar-tikar menanti para pembaca yang mengaku memiliki malam di perbatasan Solo. Mereka duduk semaunya, menaruh raga di bawah lampu-lampu putih, yang tidak seutuhnya terang. Yang di atas tikar ingin merayakan buku, yang memerlukan lampu. Buku tak terbaca saat gelap.

Tempat itu berlantai kayu. Namun, orang-orang memilih menggelar tikar. Kepatutan dalam pertemuan. Bangunan yang berkayu dan berbambu seperti lama dalam kesepian. Malam itu sedang menantikan kata-kata yang dihambur-hamburkan oleh moderator, pembicara (pengulas buku), dan pengarang.

Penyapu saat itu ikut duduk bersama kaum buku. Ia sejenak menaruh tubuh di atas tikar, bergeser sebentar untuk duduk di papan-papan kayu yang ditata lumayan rapi. Semula, ia berpikir Minggu, 3 Agustus 2025, bakal rampung dengan sapu dan tongkat pel. Malam itu ia berhasil mendatangi tempat yang cukup jauh. Senja, ia meninggalkan GOR Badminton Blulukan (Colomadu) setelah keringat mengalir dan lelah. Di situ, setiap hari, ia menyapu dan mengepel untuk tiga lapangan yang digunakan para pemain bulutangkis dari pelbagai klub dan kelompok. Pamit dari gedung yang masih ramai dengan jamaah badminton. Permintaan izin untuk bisa dolan dan bertemu (kaum) buku di sebelah timur Solo.

Malam yang meminta angin. Penyapu merasakan angin yang kencang. Angin itu datang dari atas. Tampaklah dua kipas angin yang kusam. Buku pun merindu angin. Di sisi kiri tempat obrolan, penyapu melihat “petromaks” yang tidak menyala. Ia sudah karatan dan kotor. Bertahun-tahun, ia pastinya tidak menyala, hanya tergantung saja. Yang bertugas memberi terang saat malam adalah lampu-lampu, yang saat itu ikut menentukan nasib buku. Penyapu membayangkan masa lalu saat orang-orang berani membaca buku menggunakan lentera atau “petromaks,” belum lampu-lampu berlistrik. Pembaca yang mungkin syahdu.

Lampu dan kipas ingin merestui orang-orang yang lesehan di tikar untuk mengobrolkan novel berjudul Babad Kemuning (2025) gubahan Yuditeha. Novel yang baru saja lahir di jagat sastra Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas. Penyapu datang untuk menghormati pengarang, sebelum ingin mengerti buku. Ia belum memiliki dan membacanya. Kedatangan memang untuk menjadi awam, yang tak berbekal khatam novel atau mengikuti arus perkembangan sastra mutakhir. Lama, ia dalam keterpencilan.

Di samping penyapu, pengarang yang makin kehilangan rambut. Ia penikmat kretek yang tulus. Berulang A Sampoerna menyala, menghasilkan abu-abu ditaruh di asbak gadungan berupa irisan gedebok pisang. Pengarang yang berasap, yang mulai menuturkan masa subur sebagai pengarang. Sebelum perayaan Babad Kemuning, ia terbukti rajin membuat cerita pendek yang beredar di pelbagai koran cetak dan situs. Ia pun menggarap esai-esai kecil mengenai bacaan dan kepengarangan.

Penyapu menikmati kata-kata dari lelaki yang sopan, diselingi tawa yang merdu. Percakapan dua lelaki yang lama tidak bertemu. Yang satu adalah tukang sapu. Yang satu adalah pengarang novel. Yang terbukti adalah Yuditeha memastikan sastra Indonesia tidak sekarat. Ia selalu mengabarkan pemuatan cerita pendek, yang membuat orang-orang masih bersantap sastra ketimbang debat sembrono atau marah-marah yang picik di media sosial.

Malam tanpa “petromaks” yang menyala, penyapu mendapat suguhan teh. Ia terlarang mengeluh gara-gara di hadapannya bukan segelas teh panas atau hangat. Yang tersaji adalah sebotol teh yang mencantumkan kata-kata “Teh Pucuk Harum”. Gelas sedang absen. Panas dan hangat cuma khayalan.

Sebelum buku adalah lagu. Panji Sukma menjadi lelaki bergitar. Ia masih membutuhkan mikrofon, yang menjadikan suara menjadi terdengar keras. Mengapa lagu-lagu mengawali buku? Penyapu belum kepikiran dengan model acara-acara sastra yang turut menghadirkan lagu. Kapan-kapan ia ingin membuat catatan kecil agar menemukan keselarasan yang lama terabaikan.

Tiba saatnya orang-orang bicara tanpa duduk di kursi. Moderator dan dua pembicara lesehan, memastikan tikar plastik menjadi saksi bahwa novel masih dambaan di zaman yang keparat.

Septi Rusdiyana, yang menjadi moderator, memberi awalan sebagai pembaca Babad Kemuning, yang mengarah ke perasaan-perasaan para tokoh, terutama yang perempuan. “Yuditeha menceritakan perasaan perempuan dengan lugas dan jernih,” ujar Septi, Penyapu hanya mendengar, tidak mampu membantah atau menyetujui. Ia belum pembaca Babad Kemuning. Ia sengaja hadir sebagai awam, yang kangen obrolan novel dan menonton pengarang yang sedang kondang di seantero Indonesia.

Di tangan Budi Waluya, terlihat kertas berisi catatan. Pada mulanya, kertas itu terlipat. Pada saat jatahnya untuk bicara selaku pengulas, Budi membuka lipatan kertas. Matanya kadang mengarah ke kertas, sebelum menyampaikan kepada orang-orang yang memberikan telinga. Ia tidak membuat makalah, sekadar catatan meski di keseharian dirinya adalah dosen di UNS dan bergelar doktor.

“Pengenalan konflik lambat,” kritik yang diajukan Budi. Ia agak malu-malu untuk membaca beberapa kritik, Namun, keberanian perlahan muncul saat mulai tersenyum. Buktinya, 50-an halaman awal dalam Babad Kemuning menjadikan Budi merasa lambat berjalan di cerita. Ia mungkin capek tapi akhirnya menemukan konflik, yang mengesahkan novel pantas terpuji, selain kritik-kritik.

Penyapu menyimak sambil berperang melawan selusin nyamuk perkasa. Ia membahasakan ulang apa-apa yang diucapkan Budi, lelaki yang mulai beruban dan tampak mengenakan kaos bergambar Semar. Yang dicatat penyapu setelah menyimak: “Novel butuh teka-teki!”. Perkara itulah yang ikut menentukan nasib Babad Kemuning bagi pembaca yang keranjingan novel atau orang yang menjadi pemula menikmati fiksi.

Giliran Yulita Putri mempersembahkan kata-kata. Ia tampil tak berkerudung tapi penyapu melihatnya berkerudung cerita. Yulita terlalu serius mengurusi novel, yang membuatnya lancar memasalahkan hak-hak anak, seksualitas, alam, kolonialisme, dan lain-lain. Ia bicara lantang, hampir tak ada keraguan dalam menyatakan pendapat-pendapat.

Yulita mahir mementingkan sisi perempuan dalam Babad Kemuning. “Novel ini membuat ingatan teh melebar,” katanya. Ia meyakinkan orang-orang yang bersantai di atas tikar bahwa perkebunan teh bukan sekadar latar untuk sinetron atau film picisan. Teh pun tak hanya minuman. Teh lebih dari komoditas. Novel yang dianggapnya memanggil sejarah. Namun, Yulita malah memanggul beban kebingungan atas sejarah.

Konklusi yang agak tergesa dari Yulita: “Babad Kemunging membuat pembaca banyak pertanyaan.” Ia mungkin menempatkan diri sebagai pembaca yang menggunakan seribu mata. Pembacaan yang bakal melelahkan dan berkepanjangan. Di hadapan novel, ia telanjur “bercocok tanam” pertanyaan, yang belum diketahui jadwal panennya.

Yang mendengar pembahasan Yulita Putri menemukan kekhasan. Pada tuturan-tuturan yang emosional, ia mengakhirinya dengan “seperti itu”. Usaha agar pembaca meyakini omongan atau pendapatnya, setidaknya mau memberi perhatian terhadap hal-hal yang sebelumnya disampaikan. Jadi, penyapu maklum saat mendengar belasan “seperti itu” terucap dalam nada tinggi atau rendah.

“Aku tidak mau klarifikasi,” perkataan Yuditeha sebagai bentuk tanggapan atas hal-hal yang sudah disampaikan Budi dan Yulita. Hampir semua yang dikritik oleh dua pengulas diterima Yuditeha. Ia senang berdalil bahwa kritik itu “peringatan-peringatan dari pembaca yang mahal”. Pengarang yang mengaku beruntung mendapat hasil pembacaan yang serius. “Dikritik jangan marah,” pesannya. Pada saat ikut duduk bergabung bareng moderator dan dua pembicara, pengarang itu tidak merokok. Sebungkus rokoknya tertinggal di samping penyapu.

“Kritik membuatku menyadari ketidaksempurnaan,” ungkap Yuditeha. Yang membuat pengarang terharu adalah “ketepatan” pembacaan Yulita atas tokoh perempuan dalam novel. Pengarang yang merasa menemukan pembaca yang intim, menyentuh pengalamannya sebagai pemulis fiksi dan pembuat album biografi perempuan, terutama ibu. Terharu yang disusul pengakuan tidak kentara mengandung sesalan dan kecewa. Ia merasa belum matang dalam penokohan dan luput menghadirkan pembayangan sejarah dalam novel melalui makanan, pakaian, bunga, dan benda-benda.

Pendengar yang khusyuk selama obrolan adalah perempuan yang rambutnya dikepang. Ia menyebut nama Sekar. Berbagi cerita dan sedikit mengajukan pertanyaan. Yang terasakan sebagai pembaca novel adalah “emosi membuncah”. Penyapu memandangi perempuan dengan rambut berkepang, yang seperti menemukan tokoh dalam novel-novel lawas di Indonesia.

Pertanyaan dijawab pengisahan ke sembarang arah oleh Yuditeha. Siasat agar jawaban tidak terlalu gamblang. Yang mengejutkan, Yuditeha menyatakan bahwa novel itu semula berjudul “Daun Emas.” Pada akhirnya, penulisan dirampungkan dan terbit berjudul Babad Kemuning.

Seorang gadis bernama Gadis memberi penampilan lain, pembacaan puisi karya Chairil Anwar, berjudul Kerawang Bekasi.

Pada saat mau berakhir, Panji Sukma duduk lagi di kursi. Tangan tampak bergitar dan mulut di depan mikrofon. Pengarang kondang yang mengoleksi beragam penghargaan, yang malam itu memilih menjadi penyanyi. Ia berada di kursi tapi tidak berpredikat sebagai pembicara meski sempat memberi ocehan-ocehan kritis dan agak lucu.

Malam makin malam. Penyapu berhasil menghabiskan sebotol teh, yang iklannya dulu sering muncul di televisi. Pengalaman pertama menikmati teh yang dinamakan “pucuk harum”. Padahal, yang minum tidak harum alias kecut oleh keringat dan kenestapaan. Ia tidak berpamitan kepada pengarang dan teman-teman, lekas pulang terkencing-kencing. Minum teh mengakibatkan mudah kencing saat malam di jalanan yang berangin kencang dan dingin.

Sampai di rumah, penyapu ingin merawat segala ingatan selama obrolan buku sambil mencuci seember pakaian keluarga yang kotor. Duduk untuk mengucek dan menyikat sambil membayangkan sebagai pembaca Babad Kemuning. Pengarang yang santun itu memberikan Babad Kemuning. Malam untuk mencuci, belum untuk membaca buku yang diulas oleh Budi dan Yulita. Moderator pun teringat sempat memberi kritik susulan: “Yuditeha unggul di cerita pendek ketimbang novel.” Selama mencuci, ingatan omongan-omongan itu bekal bila telah membuat jadwal sebagai pembaca novel.

Sebelum ikut menghadiri obrolan Babad Kemuning, penyapu membaca The Novelist gubahan Dean Koontz di jeda menyapu, mengepel, dan membantu mengurusi kantin di GOR Badminton Blulukan (Colomadu). Tiga hari menikmati novel mengenai penulis novel, editor, dan kritikus sastra yang seru dan menyebalkan. Malam itu penyapu sengaja tak menyampaikan kepada Yuditeha. Ia merasa sedang mencari pembuktian nasib Yuditeha sebagai novelis dan dua pembicara berlagak kritikus sastra.

Obrolan buku selesai. Mencuci pun selesai. Minggu mau berganti Senin. Penyapu itu lega dan lelah memiliki Minggu. Ia mendambakan tidur yang nyenyak tapi sengaja merusak suasana gara-gara memilih satu lagi sebelum memejamkan mata. Ia mendengarkan “Simfoni Hitam” yang dibawakan Egha De Latoya, bukan edisi yang mula-mula dibawakan Sherina M. Penyapu yang kadang memerlukan kata-kata dari lagu cengeng, tidak selalu harus bereferensi puisi, cerita pendek, atau novel. Ia ingat deretan kata yang mengharukan atau cengengisme: Telah aku nyanyikan alunan-alunan senduku. Telah aku bisikkan cerita-cerita gelapku. Telah aku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi, mengapa aku takkan bisa sentuh hatimu.” Lagu yang pasti tidak cocok untuk mengiringi saat membaca Babad Kemuning. Akhirnya, malam itu penyapu bermimpi buruk! [] Kabut

Ragam

Kala Seniman Bicara Krisis Lingkungan

Pameran Seni Rupa “Fish Out of Water”

Plastik hadir di muka bumi ini diawali oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkannya pada sebuah eksibisi internasional di London, Inggris pada tahun 1862. Plastik temuan Parkes disebut Parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Namun, setelah beberapa dekade yang singkat sejak manusia menggunakan plastik, ia menjadi salah satu momok dalam  persoalan lingkungan. Selain sebagai limbah yang merusak daratan dan mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut.

Poster Pameran Seni Rupa: Fish Out of Water

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, setiap tahunnya, ada delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Dampaknya? Lihatlah bagaimana kondisi hutan bakau Vietnam yang dipenuhi dengan kantung plastik, seekor paus di Thailand mati akibat menelan sampah plastik, dan limbah menyelimuti pantai-pantai Indonesia. Perlahan tapi pasti, persoalan plastik menjadi potret suram mengenai krisis yang mencengkeram Asia.

Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Meski angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tentu persoalan plastik ini tidak bisa terus menerus dibiarkan menghantui peradaban.

Di tengah kekhawatiran itu, Art Xchange Gallery meresponnya dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Fish Out of Water” yang digelar pada 16 Mei – 13 Juni 2019 di Townhouse Cordoba No.77, Pantai Indah Kapuk. Pameran yang menggabungkan berbagai media yang berbeda dari seni lukis, patung, desain produk hingga desain mode, yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan bahan plastik atau memiliki tema terkait tentang masalah plastik.

Foto-Foto: Dok. Art Xchange Gallery

Ada 14 perupa yang ikut serta, di antaranya ada nama Camelia Mitasari Hasibuan, Ignasius Dicky Takndare, Ang Che Che, Budi Asih, Burhanudin Reihan Afnan, Dedi Imawan, Deny Nugraha, Hendro Hadinata, I Made Santika Putra, Denny Rasyid Priyatna, Ahmad Subandiyo, Walid Syarthowi Basmalah, Pardiyanto Semper, dan S. Soneo Santoso.

Tentu saja, sesuai tema perhelatan seni itu nanti, Anda akan dapat melihat bagaimana para perupa merespon sebuah masalah lingkungan melalui karya-karyanya. Sebut saja Ignasius Dicky Takndare, perupa yang memilih kulit kayu sebagai media dan ciri khas karya seni dari Papua itu memamerkan salah satu karyanya yang berjudul “The Long Walks Contemplations”. Menurut Dicky, karya tersebut lahir dari kegelisahannya mengenai persoalan-persoalan lingkungan dan kemanusiaan pada tanah kelahirannya.

“Karya itu berbicara tentang siklus kehidupan. Meskipun ciri khas Papua sangat kuat, tetapi itu berbicara tentang kehidupan semua manusia. Siklus kehidupan dan pertarungannya akan dapat kita lihat serupa gerak dari jarum jam. Dalam karya itu, akan kita temui fase keharmonisan manusia dan alam, fase manusia mulai serakah, fase ketika manusia dengan benda tidak bisa dibedakan lagi, hingga pada akhirnya akan kembali pada fase permulaan zaman,” ungkap Dicky.

Sedangkan bagi Camelia Mitasari Hasibuan, tema tentang alam, lingkungan, ekosistem, dan sampah bukan hal asing lagi bagi perupa perempuan ini. Pada pameran itu nanti, Camelia akan menampilkan dua karyanya. Pada  lukisan “Which One is My Food?” dan  “Harapan yang Tersisa”, ia menjelaskan begitu banyak sampah di lautan saat ini. Hingga lautan yang semula jernih, sekarang menjadi lautan tak ubahnya tempat pembuangan sampah.

Baginya, ini sangat memengaruhi kehidupan ekosistem di lautan. Salah satunya burung pelikan. Burung pelikan adalah salah satu jenis burung yang hidupnya sangat bergantung dengan laut. Burung pelikan biasa mencari ikan-ikan di laut sebagai makanannya. Namun, karena masalah sampah seringkali burung pelikan sulit untuk membedakan antara ikan dan sampah.

“Begitu banyak tempat di bumi ini dipenuhi dengan sampah-sampah hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan hingga ke hutan. Habitat bagi binatang-binatang dan beragam tumbuhan serta tempat mencari makan hingga tempat berkembang biak saat ini tidak hanya menghadapi ancaman pembalakan liar, tetapi juga mulai dipenuhi dengan sampah. Jadi akibat sampah ini, tidak dihadapi oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hutan tidak memiliki pilihan lain kecuali beradaptasi dengan situasi ini,” ujar Camelia.

Direktur Art Xchange Gallery, Benny Oentoro mengatakan, pemilihan judul “Fish Out of Water” seperti sebuah ungkapan. Polusi yang disebabkan oleh plastik, merusak dan mencemari lingkungan kita dapat disamakan dengan ikan yang tidak dapat bernapas jika berada di luar habitatnya. “Seperti ikan, manusia juga akan mati lemas dan tercekik ketika udara yang kita hirup terus menerus terpapar oleh berbagai jenis polusi, termasuk lingkungan kita yang tercemar oleh limbah plastik,” kata Benny.

Melalui pameran ini, Benny berharap, seorang seniman dan karyanya  dapat berperan dan menjadi bagian dari inisiatif global dalam memerangi limbah dan polusi. Karena bagaimanapun, persoalan ini adalah bagian dari dunia tempat kita hidup, dan itu adalah tugas manusia, termasuk seniman untuk melindunginya.

“Kami berusaha menciptakan kesadaran tentang polusi limbah plastik yang telah menjadi ancaman global. Kita harus mulai memainkan peran kita sebelum terlambat. Sebisa mungkin membantu selamatkan planet kita. Dan sebagian dari hasil penjualan karya seni yang kita pamerkan, akan kami sumbangkan untuk komunitas di TPA Bantar Gerbang,” ujar Benny. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Menangkap Refleksi Energi dari Jakarta

Pameran Seni Rupa Rob Pearce

Apa yang kita pikirkan ketika membayangkan sebuah kota bernama Jakarta? Tentu saja, banyak di antara kita akan menggambarkan sebuah kota dengan kepadatan manusia yang berlebihan, kemacetan, polusi udara, dan segala keruwetan hidup di dalamnya. Mengawali bulan Mei ini, Galeri Kertas Studio Hanafi menghadirkan pameran tunggal karya Rob Pearce “It’s All About Story: Past, Present, Future”.

Pameran yang digelar sepanjang 1 – 30 Mei 2019 ini merupakan pameran pembuka untuk rentetan program selanjutnya di tahun 2019. Rob merupakan seniman asal Inggris yang telah berdomisili di Jakarta sejak 1990-an. Ia merasa memiliki keterikatan tersendiri sejak ia pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1970-an. Pada awal kedatangannya, Rob menggeluti bidang fotografi dokumenter sebelum pada akhirnya, ia memilih berkarya melalui jalur seni rupa murni. Ia mengatakan, pameran ini sebagai perayaan. Sebuah perayaan dari energi Jakarta yang ia dapatkan selama tinggal di salah satu kota besar di Indonesia ini.

“Hampir semua inspirasi dan praktik seni dari karya ini berhutang pada jalanan Jakarta. Elemen-elemen yang menginspirasi diperoleh selama beberapa tahun dengan menjelahi jalan-jalan, dan jembatan, suara gaduh, tempat- tempat bising yang dipenuhi oleh debu dan asap knalpot” kata Rob Pearce.

Pada pamerannya ini, Rob Pearce memajang 15 karyanya. Di antaranya ada, Dia Masih Berdansa Denganku, Fragmen Kebenaran, Tanah Melayu: Di Dunia Facebook dan Instagram, Lingkaran Padi, Kesayangan Paco, dan sederet karya lainnya.

Foto-Foto: Dok. Galeri Kertas Studio Hanafi

Pameran It’s All About Story: Past, Present, Future dibuka pada Rabu, 1 Mei 2019 oleh John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar. Menurut John, karya Robert Pearce yang ditampilkan kali ini adalah karya-karya fotografis sederhana yang dia kerjakan selama beberapa dekade sebelum menjadi karya-karya artistik yang luar biasa kompleks dan sangat bergairah. “Setiap elemen sesungguhnya adalah “sebuah cerita”, seperti layaknya sebuah dongeng, ia dibuat untuk dipelajari, dipahami dan memperkaya mental pembacanya,” kata Jhon McGlynn.

Pada pameran ini, Rob Pearce menggunakan material yang berasal dari buku-buku yang sudah dibacanya. Selayaknya memasang kanvas pada spanram, lembar demi lembar halaman buku itu dicopot dan ditempelkan sampai pada ketebalan tertentu pada spanram. “Kertas-kertas buku tersebut ditempeli dengan variasi atau pengolahan sederhana atas kertas warna yang biasa dipakai dalam ritual sembahyang warga Tionghoa. Dengan demikian, pameran ini menjadi penanda penting bahwa usaha untuk menemukan modus penciptaan karya kertas lainnya masih terus akan terus dilakukan Galeri Kertas,” kata Curator in House Galeri Kertas Studio Hanafi, Heru Joni Putra.

Ia mengatakan, pameran Rob Pearce ini merupakan salah satu wujud dari program-program Galeri Kertas Studio Hanafi. “Dari pameran ini sampai ke pameran penutup di penghujung tahun nanti, kita akan terus mencari kait dan simpul antar berbagai karya kertas agar salah satu wilayah penciptaan yang tidak terlalu populer dalam seni rupa kita ini tidak berujung pada keterputusan. Sebab, pada tahun 2019 ini, Galeri Kertas Studio Hanafi mengusung tema “Let’s Fill This Town With Artist,” ujar Heru.

Acara pembukaan gelaran seni itu sendiri juga turut diramaikan oleh pertunjukan musik dari Oppie Andaresta bersama Windy Setiadi, Chiko, dan Arman Chaniago. Mereka menyanyikan puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Baju Bulan”. Pada sesi itu, acara bertambah meriah dengan kehadiran Iwan Fals yang turut menyanyikan dua puisi yang disodorkan oleh Oppie. Selain pameran, Rob bersama Galeri Kertas Studio Hanafi juga melangsungkan empat agenda lainnya, di antaranya: Diskusi Presentasi Perupa Muda bersama Rob Pearce, Diskusi Publik Pameran Rob Pearce bersama dengan Douglas Ramage, Heru Joni Putra, Ika Kusumawardhani, dan perupa Hanafi. Kemudian masih dilanjutkan dengan agenda sharing kolaborasi para pemusik dari Depok yang memiliki genre musik yang berbeda yaitu Lawe Samagaha, Elegi dan Dipo. Mereka akan berkolaborasi untuk menciptakan karya baru.  Pada sesi terakhir pameran tersebut, akan diadakan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Rob Pearce. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Melihat Peta Baru Perupa Indonesia

Pameran Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”

Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar Pameran Seni Rupa Nusantara 2019. Acara tersebut sudah dimulai pada 23 April hingga 12 Mei 2019. Gelaran ini bersifat terbuka dan memberikan kesempatan bagi para perupa di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi, menunjukkan potensi dan kreativitas, serta eksistensinya dalam ajang seni rupa bertaraf nasional, baik bagi para perupa muda maupun para perupa handal yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional. Karena itu, pameran ini sekaligus menjadi media pemetaan perkembangan mutakhir seni rupa di tanah air.

Foto-foto: Dok. Galeri Nasional Indonesia

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, Pameran Seni Rupa Nusantara 2019 berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini, pameran ini tidak hanya menitikberatkan pada keterwakilan suatu wilayah, namun lebih menekankan pada keterampilan (skill) para perupa Indonesia yang diwakili dari hasil karyanya yang tentu sesuai dengan tema pameran yaitu “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”.

“Pameran ini dimaksudkan sebagai sebuah pergulatan luar biasa sesuatu tanda dari berbagai proses kombinasi, dan dari pergulatan itu memungkinkan lahirnya tanda baru. Kelahiran tanda baru akan terus berulang-ulang mengikuti hukum alam sepanjang masa. Persoalan apakah yang baru akan sama dengan yang lama atau lain sama sekali adalah kehendak yang harus kita terima sebagai sebuah proses dialektika,” kata Pustanto.

Menurut Pustanto, modernisme dalam seni seharusnya menghasilkan spirit “shock of the new”, di mana menyuguhkan ‘kebaruan’ adalah ukuran utama dalam perkembangan seni. “ Pada pameran ini, kita ingin melihat kembali kaitan gagasan penciptaan karya masa kini dengan gagasan, ide, pemikiran tradisional yang sesungguhnya terus berkembang. Tradisionalisme di Indonesia berjalan dengan sama lajunya dengan perkembangan modernisme sebagai negara-bangsa poskolonial, walau keduanya berbeda konsep, namun pada praktik sosial kulturalnya bercampur baur membentuk rangkaian gagasan dan praktik yang tak terhingga,” ujar Pustanto.

Pada pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan, Sudjud Dartanto, Suwarno Wisetrotomo, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono ini, menampilkan 55 karya dari 55 seniman yang diperoleh melalui mekanisme seleksi yang sangat ketat. 36 di antaranya merupakan hasil seleksi 886 karya dari 677 seniman yang dijaring melalui aplikasi terbuka, sedangkan 19 seniman dan karyanya merupakan undangan secara khusus berdasarkan pertimbangan kuratorial. Keseluruhan karya-karya yang ditampilkan menunjukkan eksplorasi media yang kaya, di antaranya lukisan, patung, grafis, batik, dan instalasi.

Dari proses panjang itu, deretan karya-karya dari perupa seperti Nasirun, Ade Pasker, Sasha Yuliana, Prabu Perdana, Tri Wahono, Ayu Laksmi, Heri Dono, dan nama-nama perupa lainnya bisa dilihat di sana. Salah satunya, karya Hono Sun yang bertajuk “Merti Desa” yang menggambakran tentang upacara adat Jawa saat memberikan sesaji kepada danyang atau leluhur desa setempat. Sesaji berasal dari kewajiban setiap keluarga untuk menyumbangkan makanan. Merti Desa dilakukan oleh masyarakat desa untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu, maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa.

Ada juga  karya Ajeng Martia Saputri, dengan “Happiness for Sale #2” yang mengingatkan bahwa menjual kebahagiaan adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari, seringkali tanpa disadari. Kebanyakan manusia bertahan hidup dengan cara menukar waktunya dengan uang, yang kemudian uang itu akan ditukar dengan materi yang dianggap bias mendatangkan rasa bahagia dan kepuasan batin.

Konsep lokalitas lainnya juga bisa kita tangkap seperti pada karya I Made Djirna yang menampilkan warna lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui karya “Warna-Warna NTT”. Warna lokal tersebut terinspirasi dari kain tenun tradisional NTT. Wilayah NTT bagian barat dominan dengan warna cokelat, bagian tengah didominasi warna hitam, sedangkan bagian timur merupakan perpaduan cokelat dan hitam dan I Wayan Sujana dengan karyanya “Di Atas Tulang Belulang Agraris” juga menampilkan tradisi melalui kletekan: alat tradisional terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai pengusir burung. Pada lukisan digambarkan ribuan kletekan berebutan menyangga sang calon presiden periode 2019-2024 sebagai analogi posisi masyarakat dan pemimpinnya. Lukisan ini diperkuat dengan instalasi kletekan.

Selain pameran, perhelatan ini juga dilengkapi dengan Program Publik berupa Diskusi Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” dan Kunjungan ke Museum MACAN, pada 24 April 2019 lalu. Diskusi Seni Rupa dirancang untuk menajamkan wacana yang diusung melalui presentasi karya-karya di ruang pamer, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang seni rupa. Sedangkan Kunjungan memberikan kesempatan kepada para perupa peserta pameran untuk mendapatkan pengalaman visual artistik sekaligus memperkaya informasi dan sudut pandang yang bertujuan untuk mendapatkan inspirasi berkarya.

Pustanto berharap, Pameran Seni Rupa Nusantara “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” ini mampu memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya informasi atau pengetahuan terkait seni rupa, mengingat pameran ini juga diselenggarakan bertepatan untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, pembukaan pameran pada 23 April bertepatan dengan tanggal wafatnya Raden Saleh yang saat ini sedang dalam usulan rancangan sebagai tanggal peringatan Hari Seni Rupa Nasional Kami berharap publik dapat mengenal lebih dekat tokoh-tokoh beserta karya para perupa Indonesia yang tak kalah dengan para perupa luar negeri, baik dari segi kedalaman konsep maupun artistik visualnya. Selain itu, pameran ini diharapkan menjadi sarana wisata edukasi kultural yang mampu menarik perhatian publik dalam negeri maupun mancanegara. Juga yang tak kalah penting, diharapkan pameran ini mampu mengisi titik-titik penting perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus mendorong perkembangan tersebut demi kemajuan seni rupa Indonesia,” pungkas Pustanto. [] Wahyu Indro Sasongko