Rindu adalah rasa sakit yang kita pelihara. Semakin sakit
semakin nikmat, dan percintaan ini memang mustahil sebab kita
di luar manusia. Akan tetapi manusia selalu ada dalam pikiran serta perasaan
kita, hingga suatu waktu kita ingin seperti mereka, yang sesekali berdebat, beberapa
kali marah serta
merajuk, setelahnya hidup kembali tak berjarak. Hanya, kamu lebih suka
berkelana daripada tinggal. Datang kadang-kadang, berangkat tak terencana lalu aku
tetap bertahan di belakang rumah lelaki itu. Apa memang karena kita berbeda, ataukah
si pencipta kita sengaja membuat kita begitu padahal kita juga ada hasrat ingin
dimiliki atau memiliki selamanya.
“Tetapi,
aku merasa belum pernah jadi diriku,” katamu, tenang, namun ada getir yang perlu
kupahami.
“Kenapa?”
tanyaku.
“Aku
selalu terombang-ambing. Diombang-ambing masa, diombang-ambing situasi.”
“Tapi
kamu lebih beruntung dariku. Kamu bisa pergi semaumu. Ke langit, ke hutan, ke
laut, ke mana saja. Kamu bisa masuk ke rumah orang-orang tanpa ada melarang. Barangkali,
kamu satu-satunya yang berhak menikmati isi bumi. Aku sempat berpikir, kamu sudah
tak lagi ingat padaku.”
“Kenyataan
aku selalu kembali. Itu karena aku merindukanmu.”
“Tapi
kamu pergi terlalu lama. Sangat lama. Aku, kamu tahu? Aku kesepian.”
Mendengarku
yang merajuk, kamu segera melingkupiku, menjelajahiku mulai dari pinggir kolam ke tengah kolam, ke tumbuhan
kecil yang daunnya disinggahi sepasang capung. Aku ingin selamanya seperti ini:
merasakanmu dan kurasakan kau juga merasakanku.
“Tetapi
kamu lebih beruntung dariku,” kilahmu lagi.
“Kenapa?”
“Apa
kamu tahu kesedihan macam apa yang paling nikmat di dunia?”
Kurenungkan
kata-katamu, rasanya
belum pernah kamu bicara semanusiawi ini. Kita memang bukan manusia. Bukan
hewan. Bukan pula tumbuhan.
“Ketika
kamu tak dapat menangis sementara kamu sangat ingin menangis.”
“Ummmm….”
“Um?”
“Ketika
kamu tak dapat menangis sementara kamu sangat ingin menangis? Kalimat yang aneh.”
“Kamu
tidak mengerti?”
“Aku
tidak mengerti. Bahasamu terlalu sulit dicerna. Tapi ngomong-ngomong dari mana kamu dapat kata-kata itu? Apa kamu pernah
menyusup ke sebuah universitas seperti yang pernah kita dengar dibicarakan
lelaki itu lalu kamu masuk kelas dan
pura-pura
jadi udara dingin agar ruangan tidak berisik oleh kipas kertas digunakan para
wanita, hanya supaya kamu bisa menguping suatu ilmu penting?”
“Kadang-kadang.”
“Lalu
ilmu apa yang kamu sukai?”
“Banyak.
Mungkin salah satunya filsafat.”
“Apa
itu filsafat? Kedengarannya menarik.”
“Aku
tidak tahu. Orang-orang menyebutnya begitu.”
Kita lalu tertawa dalam bahasa kita di mana orang-orang bisa menyebutnya sebagai
desau angin,
bisa pula gemericik air. Kemudian sesosok lelaki bermuka muram muncul dari
mulut pintu dengan kantong hitam yang langsung dicampakkan pada kita.
Glasakk! Glkglkglkglkglk.
Lelaki
itu tak memperhatikan kita. Tapi kita melihat tangan gadis kecil ditarik-tarik wanita
bersepatu pantofel.
“Eis,
ikut Ibu hari ini,” kata wanita yang ujung kiri roknya membuat kerucut sampai
setengah jengkal di atas lutut.
“Eis
harus ikut Ibu hari ini,” katanya, sekali lagi.
Gadis
kecil itu menarik tangan sendiri dengan gaya anak-anak yang lagi tak suka
diusik.
“Eis
ikut Ibu hari ini!”
“Eis
dengan ayah
saja, Bu.”
“Tidak
bisa. Eis sudah seminggu dengan ayah.”
“Tapi
Eis mau sama ayah
….”
Muka
si wanita menjadi jelek walau tadi riasannya membuat ia kelihatan menggoda, walau
tadi, barangkali, lelaki itu ingin mengatakan hal yang telah lama dipendam-pendam hingga debaran jantungnya begitu
keras begitu dahsyat. Adakah lelaki itu rindu, tanyaku. Kamu tidak jawab. Wanita
itu justru tampak semakin jengkel. Buru-buru ia mendekat ke si lelaki. Dari bibir
ungunya melengkinglah suara, “Ju, kamu bilang dong sama Eis. Bujuk dia. Bujuk dia!”
Lelaki
yang kemudian kita kenal sebagai Ju mulai melunak. Ia membujuk-bujuk lengan
gadis bermata jernih dengan rambut dikepang dua. Ia elus-elus kepalanya, dan bahkan
menari lucu seperti seorang balerina.
“Hari
Sabtu Eis Ayah jemput. Sekarang Eis temani Ibu dulu, ya?”
“Tapi
….”
“Sabtu
pasti Ayah jemput.”
“Janji?”
“Janji.”
Setelah
Eis menautkan kelingking ke jemari Ju, Ju mengantar Eis ke Toyota Starlet merah tua. Mobil pun melaju. Ju berdiri di pintu memandangi
dua orang pergi bersama benda yang kini hanya tampak seperti tungau bergerak. Satu
orang yang akan selamanya ia cintai—gadis itu. Dan seseorang yang pernah
mencintainya—wanita itu.
“Aku
sudah sangat sering menyaksikan hal-hal seperti ini,” katamu sendu. “Manusia
memang begitu. Perasaan manusia selalu berubah-ubah.”
“Berubah-ubah?
Apa maksudnya dengan perasaan yang selalu berubah-ubah?”
“Sewaktu
jatuh cinta, ada kalanya jadi durhaka. Yang satu lari dari rumah masa kecil. Satunya
lagi menyangkal ayah-ibu. Manusia suka menipu diri: berseru atas nama cinta
seolah paham apa itu cinta. Pada kadar terendah cinta tak lebih dari selembar keset usang yang tinggal menunggu waktu untuk dilemparkan.
Si lelaki letih bekerja. Si wanita lelah mengurus anak, mengeluhkan atap bocor,
cucian selalu banyak serta punggung kerap sakit. Keduanya jenuh. Keduanya menghabiskan waktu untuk urusan yang
ujung-ujungnya menimbulkan kalimat yang berakhir dengan tanda seru. Akibatnya mereka
lupa cinta. Mereka lupa untuk bercinta.”
“Tapi
kita tidak akan begitu, ‘kan?” tanyaku, meyakinkanmu, dan mungkin kamu
menganggapku mulai manja lagi. Karena aku terus membicarakan betapa suramnya
kehidupan para manusia, betapa tidak jelasnya perasaan orang-orang dan ternyata hati manusia bisa juga
berpindah-pindah: berurbanisasi, bertransmigrasi bahkan berimigrasi, kamu tahu
harus melakukan apa. Kamu mendekapku, erat-erat, semakin erat, yang bila orang
melihat kita maka akan tampak semacam ombak-ombak kecil: peristiwa keintiman
kita.
**
Sabtu
kali ini terasa sejuk sekali. Meski begitu langit barat serupa kain satin
berwarna keemasan. Seekor burung keluar-masuk pohon, sementara para berudu dan
sekumpulan organisme menyembunyi di tubuhku yang kembali dingin.
Lelaki
itu masuk ke rumah. Terdengar suara pintu yang lagi marah, entah memukul atau
dipukul. Tapi itu sama-sama pukulan. Lalu kupanggil kamu yang tak lagi kurasakan
bersamaku.
“Cinta!”
teriakku, ke pohon kelapa yang buahnya sangat banyak. Aku mengira kamu ada di
sana. “Cintaku, kembalilah! Sini, sini temani aku saja.”
Ju
keluar lagi. Dibantu cahaya mengintip dari mulut pintu, kulihat lelaki itu
meremas perut. Aku mencium aroma alkohol yang berahi. Ia lemparkan botol bir
kosong kepadaku. Juga, ia tumpahkan sekantong puntung rokok bau bercampur
lendir makanan amis. Dasar Ju sialan! Senangnya membuang sampah sembarangan.
“Tapi
di mana kamu, Cintaku?”
Ju
berguling-guling. Tampaknya ada sesuatu membuat keributan di ulu hati Ju. Mungkin
tidak persis di ulu hati, tetapi ia kesakitan di bagian bawah dada. Dan pula, suara
aneh di mulutnya menjelaskan kalau ia ingin muntah sepuasnya, meski muntah agaknya menundah-nunda terjadi.
Ju mengambil batu, melemparkannya ke rumah
tetangga. Sudah tiga kali Ju melakukannya. Ketiga sangat keras. Saat mengambil batu
keempat si tetangga pun datang. Tetangga itu sangat damai hatinya. Air wajahnya
teduh dan sudah sangat paham akan Ju.
“Kau
hanya kena angin duduk. Jangan terlalu banyak begadang dan hiduplah baik-baik,”
kata si tetangga.
Saat
larut akan apa yang kulihat di teras belakang rumah Ju sekonyong-konyong sentuhan
deras menjalari tubuhku. Aku kaget, “Maafkan aku, Sayangku,” katamu, dengan
nada menyesal, “Aku
mencoba masuk ke tubuh Ju, dan ternyata tersesat selama berjam-jam dalam perutnya.”
“Di
perut Ju? Untuk apa melakukannya?”
“Aku
ingin tahu inti masalahnya. Lelaki itu pernah selingkuh. Si wanita membalasnya
dengan cara berselingkuh. Tetapi Ju tidak tahu kalau pembalasan itu cuma bohongan.”
“Bagaimana
kamu tahu itu?”
“Sebelum
menerobos tubuh Ju aku mencari wanita itu lebih dulu.”
Aku
tercengang, kaget dan tidak habis pikir. Kehidupan manusia sungguh sulit dipercaya.
Berputar-putar, berkelok-kelok, bergelombang, tapi itu kenyataan.
Setelah
gelap berlalu hari Minggu tiba lagi. Embun meninggalkan bunga pecah seribu. Matahari
memantul dari jendela nako. Kita melihat Ju membuka pintu dalam keadaan sehat
walafiat.
“Ayah!”
gadis manis tiba-tiba muncul dan langsung melompat ke pangkuan Ju.
“Kenapa
Eis tidak tunggu sampai Ayah jemput?”
“Ibu ajak Eis, Ayah. Lihat, Ibu beli balon besar.
Ibu bilang, kita akan mengirimnya ke langit.”
Ju
menatap lama ke wanita yang berdiri di tengah halaman. Ada tiga balon di tangannya. Merah semuanya. Di
bagian luar kita membaca tulisan: Ju, Sis, Eis. Wanita itu memegang balon
bertanda ‘Ju’. Ju memegang balon bertuliskan ‘Sis’. Anak itu memegangi nama
sendiri. Kita turut bahagia meski berdebar-debar menunggu peristiwa berikutnya.
Mula-mula balon melewati jendela, lalu atap genteng, lalu sejajar dengan antena televisi. Aku, selamanya kolam kecil di belakang rumah Ju yang tak pernah surut merindukanmu. Kamu pengembara yang tak mau luluh. Hai, angin, kasihku, sebagaimana kedirianmu yang bukan dirimu sendiri, aku bergejolak menatapmu terombang-ambing bersama tiga balon besar berwarna merah menuju langit. ***
Riau, Juni 2016-2018
____________________
Jeli Manalu. Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu. Bisa dihubungi di WA: 085278619906. Email: [email protected], Facebook: Jeli Manalu, IG: @jelimanalu


0 Komentar