Cerpen

Kegelapan adalah Sebaik-baik Pemandangan

Cerpen Erwin Setia

Seusai mimpi buruk pada malam itu, Bono ingin sekali agar matanya buta seperti nenek dan yang dilihatnya hanya kegelapan. Ia lebih menyukai kegelapan. Ini aneh. Bono adalah penyuka hal-hal cerah dan terang. Semua orang terdekatnya tahu betul mengenai itu. Ia akan memilih baju warna matahari ketimbang dongker dan buku bersampul ramai ketimbang temaram. Ia menyukai yang terang-benderang dan ketika kemudian ia malah mengharapkan dan menyukai kegelapan, tentu ganjil sekali.

Untuk memahami Bono pada hari ini, perlu kiranya menyusuri jalan hidup Bono pada hari-hari lalunya. Manusia, bagaimanapun, dibesarkan oleh hari-hari silam.

Bono ketika kecil adalah anak lelaki kurus yang senang melukis dengan media apa pun. Sebelum ayah-ibu Bono sadar akan kebiasaan anaknya, Bono biasa melukis dengan cat air yang bertumpuk di gudang, ia melukisi tembok, pakaian ayahnya, lantai, dan apa pun selain kanvas. Kemudian, setelah kekagetan dan kegeraman sesaat, melihat kelakuan anaknya itu, ibu Bono membelikannya seperangkat alat lukis.

Meskipun sudah memiliki seperangkat alat lukis, terkadang Bono tetap mencoret-moreti objek-objek yang seharusnya tak boleh dilukisi. Bono, bagaimanapun, hanyalah seorang kanak-kanak. Tetapi, ayah Bono, sebagai pegawai perusahaan multinasional sibuk, yang sangat tidak menghendaki hal-hal mengecewakan sesampainya di rumah selepas pulang dari kantor, tak mau peduli, biarpun anak kecil Bono mesti tetap diberi pelajaran.

Maka itulah salah satu hari yang terus Bono ingat, ketika ayahnya menampar wajahnya sampai ia terempas dan menangis keras, akibat Bono melukis wajah seorang lelaki yang mirip ayahnya di jas ayahnya yang tersampir di kamar. Ibunya datang. Mengangkat Bono. Menatap tajam ayahnya. Ayahnya membalas tatapan itu lebih tajam. Ayahnya masuk ke kamar dan membanting pintu. Ibu Bono mengelus dan memeluk Bono.

Beranjak besar, Bono dititipi untuk tinggal bersama neneknya yang sudah tak mampu melihat di kota seberang. Ayahnya dipindahtugaskan ke kota yang jauh. Bono ingin ikut. Tapi ibu, yang menemani ayah, melarang. “Kota itu sangat jauh, Bono.” Bono merajuk dan jawaban ibunya tetap sama. “Nanti ibu dan ayah akan rajin mengunjungi rumah nenek, kok. Membelikanmu apa saja yang kamu mau. Oke, sayang?”

Bono tidak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Ia hanya menghambur ke dekapan ibunya, dekapan panjang, yang mungkin akan berlangsung lebih panjang jika saja ayah Bono tak memotong, “Ayo, Bu, pesawat kita akan segera berangkat.”

Setelah hari itu, Bono tidak lagi berjumpa ibu dan ayahnya, kecuali satu tahun sekali. Biasanya ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek dan menemuinya pada pengujung tahun, ketika ayahnya libur panjang. Kadang mereka juga mengunjungi rumah nenek pada libur lebaran, tapi yang demikian itu jarang sekali.

Satu hal yang Bono perhatikan, tiap ibu dan ayahnya datang ke rumah nenek dari tahun ke tahun, adalah paras ibunya. Paras ibunya selalu tampak lebih gelap dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Bono tak tahu mengapa dan ia juga tak berani menanyakan perihal itu kepada ibunya apalagi kepada ayahnya. Kendati gelap, sesungguhnyalah ibu Bono selalu menguarkan senyuman. Namun, senyuman itu, lebih terlihat menyedihkan daripada memancarkan aura kegembiraan.

Ibu dan ayahnya datang dan pulang, dan perubahan paras ibunya tetap serupa kotak kaca hitam yang belum terpecahkan di kepala Bono.

Semenjak paras gelap ibunya menggelayuti pikiran Bono, ia menjadi pemburu hal-hal terang dan cerah. Mulai dari pakaian, sampul buku, tema film, sepatu, benda pecah belah, koleksi lukisan, dan lain sebagainya. Bono berharap usahanya itu bisa berdampak pada ibunya. Barangkali, pada perjumpaan berikutnya, wajah ibunya akan kembali cerah atau setidaknya tak bertambah gelap.

Usaha Bono sia-sia belaka.

Ia memang semakin banyak membeli hal-hal bertema cerah dan terang-benderang hingga teman-temannya mengidentikkan sesuatu yang semacam itu kepada Bono. Misalkan mereka menjumpai sampul buku yang heboh bukan main dengan gradasi warna-warna cerah di toko buku atau menemui poster film dengan corak terang di area bioskop, mereka akan berseru, “Wah, ini Bono banget!” Namun ketika hari kedatangan ibu dan ayahnya tiba, kadar gelap di paras ibunya semakin tinggi. Seolah-olah waktu berputar hanya untuk mempergelap paras ibu.

Satu hal lagi yang baru Bono sadari adalah paras ayahnya. Sementara wajah ibunya kian menyerupai awan-awan musim hujan, wajah ayahnya justru sebaliknya, tampak berbinar seakan-akan seluruh cahaya wajah ibu direnggut wajah ayah.

Menyadari itu, rasa iba Bono kepada ibunya semakin menjadi-jadi. Pada saat yang sama, rasa bencinya kepada ayah kembali tumbuh dan menyubur. Rasa benci yang sebetulnya sudah coba ia kubur. Rasa benci yang bermula dari hari ketika ayahnya menamparnya semena-mena. Bono akan terus membenci ayahnya sejak hari itu andai saja ibu tak menasihatinya. “Bono, tolong kamu maafkan ayahmu, ya. Jangan sampai kamu membenci ayahmu sendiri. Biar bagaimanapun ayah tetaplah ayah yang harus dicintai dan dihormati, bukan dibenci. Oke, sayang?”

Satu tahun sebelum malam yang membuat Bono beralih mencintai kegelapan, ibu dan ayahnya datang dengan wajah bertolak belakang. Wajah ibu makin layu. Wajah ayah makin mekar. Namun, ada hal lain yang benar-benar membuat Bono tak lagi bisa memendam rasa penasarannya perihal perubahan ibu. Hari itu wajah ibu bukan hanya sendu, melainkan juga luka memar tampak di sekitar pelipis dan bagian bawah rahangnya.

“Ibu tidak apa-apa, Bono,” jawab ibu saat Bono bertanya soal luka memar di area wajahnya. Mendapati jawaban begitu, Bono memandangi ayahnya yang tampak biasa-biasa saja, seolah tak ambil peduli dengan kondisi istrinya.

“Ada apa kau lihat-lihat ayah seperti itu, Bono?” Ayahnya bertanya dengan nada membentak dan Bono menimpalinya dengan pandangan menyilet.

Bono baru saja akan mengatakan sesuatu pada ayah, ketika ibunya berujar lirih, “Sudah, Bono. Ibu memang tidak kenapa-kenapa. Tak usah mengkhawatirkan ibu.”

Pada kunjungan kali itu, yang sekaligus kunjungan terakhir ibu dan ayahnya, mereka tidak menginap di rumah nenek berminggu-minggu seperti biasanya. Mereka menginap hanya beberapa hari. Ketika nenek menanyakan kenapa ayah dan ibu buru-buru sekali, ibu bilang kerjaan ayah sedang melimpah sehingga mereka tidak bisa berlama-lama. Ayah membenarkan ucapan ibu dan mereka pun pulang.

Sebelum pulang, ibu mengelus kepala Bono dan mengecup kening anak tunggalnya itu. Bono sudah beranjak dewasa. Ia tampak rikuh diperlakukan begitu, tapi pada kemudian hari ia berharap kala itu ibu mengelus kepala dan mengecup keningnya lebih lama.

Hal terakhir yang Bono lihat dari ibu menjelang kepulangannya adalah punggung ibu saat hendak menaiki taksi. Dan Bono kembali baru menyadari satu hal: punggung ibu terlihat bungkuk, padahal usia ibu belum begitu tua.

Sore sebelum malam kelam itu, seharusnya jadwal ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek. Tetapi, mereka tak datang. Yang datang hanyalah sebuah telepon dari kota yang sangat jauh, kota tempat ibu dan ayah tinggal. Suara di telepon itu pun bukan suara ibu dan ayah, melainkan suara semi bariton seorang lelaki asing. Nenek dengan tergopoh-gopoh mengangkat telepon itu. Tak lama kemudian nenek pingsan. Telepon rumah itu terjatuh dan kabelnya menjuntai-juntai. Tapi masih menyala. Setelah membaringkan tubuh nenek di atas sofa, Bono mengangkat telepon itu. Rupanya telepon dari kepolisian tempat tinggal ibu dan ayah. Ketika suara di seberang telepon mencapai inti persoalan, Bono nyaris pingsan dan membuat telepon terjatuh sebagaimana nenek barusan, namun ia menahannya. Bono mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, menutup telepon, dan duduk melamun di sofa bersampingan dengan neneknya yang belum siuman.

Bono melamun terus-menerus hingga ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya Bono bermimpi persis seperti isi cerita polisi di telepon tadi. Mimpi itu begitu nyata, terang-benderang, dan tak terhalangi suatu apa pun. Dalam mimpi itu, Bono melihat darah begitu merah, cahaya mentari begitu menyilaukan, dan desing pisau begitu tajam. Dalam mimpi itu, Bono melihat dua orang yang begitu dikenalnya, dua orang yang menjadi perantara Bono lahir ke muka bumi dan merasakan hidup. Dalam mimpi itu, Bono merasakan hawa begitu dingin dan aroma anyir darah begitu pekat. Dalam mimpi itu, Bono duduk di sebuah kursi dan menyaksikan dua kematian. Seorang lelaki berjas rapi yang tak lain adalah ayahnya, ternganga seolah menjerit dalam kebisuan dengan dada berlubang di atas tempat tidur. Seorang perempuan dengan pakaian koyak moyak dan rambut berantakan yang tak lain adalah ibunya, tersenyum pilu dengan nadi terputus di atas lantai.

Sebangun dari tidur, bayangan mengerikan mimpi itu masih terus menghantui Bono dengan amat jelas. Bono melihat ke arah neneknya dan ia ingin seperti nenek agar yang dilihatnya hanya kegelapan. Sebab, bagi Bono, kegelapan adalah sebaik-baik pemandangan.***


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Berkabung

Cerpen Rahma Syukriah Sy

Hendak kuapakan tubuh suamiku yang terbujur kaku ini? Bisakah kusimpan saja? Kalau ia yang kusayangi membusuk bagaimana?

“Pak, aku harus bagaimana?”

***

Orang-orang membawa nasi berkat, berjalan gontai penuh tawa, berbincang riang entah apa saja. Besek, kata mereka. Isinya tak tanggung-tanggung, nasi lengkap dengan lauk, lalapan serta sambal. Lalu ditambah buah-buahan, kue basah dan agar-agar. Bahkan di antara mereka saling rebut, demi mendapatkan lebih banyak berkat untuk dibawa pulang. Bagi mereka berbagi besek, bentuk berkat untuk semua tetangga dan sanak saudara. Tak jarang di antara mereka membawa dua sampai tiga besek.

Dari wajah mereka yang gembira, siapa sangka sesungguhnya nasi berkat itu mereka bawa dari rumah duka. Ah, kegembiraan dan kesedihan kadang begitu lekat, dan doa-doa hanya sebentuk ritual, selebihnya untung rugi. Jika kita ingin beruntung dan tak mau rugi, cukup pergi ke rumah duka, lalu mengaji. Nasi berkat sudah menanti.

Aku mengintip dari kaca jendela, orang-orang bersarung pulang mengaji dari rumah Pak Waluyo yang meninggal sore kemarin.

“Serius benar, ada apa?” Suamiku yang sebelumnya tengah terbaring di kasur menguntit, lalu mengejutkanku.

“Itu, Pak. Orang-orang pulang melayat.”

“Memangnya kenapa?”

Kupalingkan badan, kamar kontrakan kami berukuran tiga kali empat, dari tempatku berdiri aku masih bisa melihat senyumnya. Aku berjalan mendekatinya, memandangnya, mengelus tangannya yang kian keriput, gurat-gurat menua sudah memenuhi wajahnya. Tapi senyumnya masih sama.

“Tidak, Pak. Aku hanya berpikir. Maut bisa datang tiba-tiba. Kemarin aku masih melihat Pak Waluyo lewat di depan rumah. Sorenya sudah diumumkan di musala beliau berpulang.”

“Iya, tinggal kita menunggu giliran.”

“Pak.” Kuelus tangannya, “Jangan ngomong gitu, kita akan bersama selamanya.”

Perbincangan itu tak berlanjut lagi, aku hanya berbaring di sampingnya, sesekali terdengar ia terbatuk-batuk sedang matanya terpejam. Puluhan tahun hidup di perantauan bersamanya tak pernah ia mengeluh. Walau hidup serba berat, tapi berdua bisa kami lewati. Mungkin itu cara Tuhan mencintai kami, hingga usia senja, tak dikaruniai anak juga anugerah. Untuk bertahan hidup berdua saja kami susah, apalah nasib jika punya anak?

Hidup di kota tak seenak di kampung. Di kota serba uang, jangankan bertahan hidup, mati saja masih perlu uang. Masih teringat perbincangan kami dulu. Dua tahun lalu, teman kami sesama pemulung meninggal dan tak punya biaya sepeser pun. Beruntung keluarganya dari kampung datang menjemput setelah sebelumnya dibawa dengan ambulans ke rumah sakit.

Sejak saat itulah, aku dan suami memutuskan menabung setiap hari barang dua ribu atau lima ribu perak. Persiapan kematian kami. Mengingat tak ada siapa-siapa yang akan mengurus kami.

“Untuk biaya pemakaman delapan ratus ribu katanya, Bu.”

“Ooo.” Itu saja komentarku, semoga uang segitu bisa terkumpul nanti.

“Ada lagi, uang penyelenggaraan jenazah sejuta lima ratus.”

Tak tanggung terkejutnya aku mendengar perkataan suamiku. Hah? Penyelenggaraan jenazah yang dimaksud memandikan, mengafani, mensalatkan, mendoakan. Itu dibayar? Melihat aku yang tak ada respon. Suamiku hanya tersenyum lalu berkata, “Memang begitu, Bu! Semuanya bayar, belum nanti nasi berkat, uang tahlilan, dan lain-lainnya.” Kenapa urusan mati menjadi berat begini? Tak bisakah kita mati lalu disalatkan oleh jemaah musala, dan dikubur di TPU, tanpa ada tetek bengek lainnya?

Aku memejamkan mata mengingat-ingat perbincangan itu. Sebelum akhirnya terlelap tidur di sampingnya, aku masih mendengar beberapa kali suamiku terbatuk.

Entah pukul berapa aku terbangun, rasanya dingin sekali, biasanya kalau tidak selepas hujan tak dingin begini. Aku beranjak dari tempat tidur lalu memeriksa jendela, barangkali lupa ditutup. Tidak! Sudah terkunci rapat, lalu aku beringsut mengambil minum. Tepat di sebelah suamiku yang tertidur kusediakan termos, agar jika nanti ia butuh minum, aku bisa langsung mengambilnya. Suamiku suka minum hangat. Sejak menderita batuk parah enam bulan lalu, air hangatlah satu-satunya yang bisa melegakan dadanya. Kadang ia sesak,  semalaman batuk tak berkesudahan sampai-sampai suaranya parau. Sempat beberapa kali kubawa ia ke puskesmas. Kata dokter, suamiku sakit paru-paru. Obatnya sangat banyak, dan harus ditebus setiap bulannya. Hal itu yang menyebabkan tabungan kami terkuras. Setelahnya kami tak ke puskesmas lagi.

Anehnya, setelah rutin minum obat badannya makin menyusut. Tak ada tenaga lagi, ia banyak berbaring. Tak kuizinkan lagi memulung bersamaku.

“Pak, mau minum dulu?”

Aku membangunkan suamiku yang tampak lelap tidurnya. Sedari tadi aku terbangun tak sekalipun kudengar suara batuknya. Kulihat jam dinding sudah pukul tiga pagi, biasanya ia bangun sekadar meminta minum atau hendak ke kamar mandi.

“Pak,”

Tak ada jawaban, kugenggam pergelangan tangannya yang hanya tinggal tulang itu, dingin. Aku khawatir, spontan kuguncang-guncang bahunya, memanggil-manggilnya tapi tak ada jawaban. Perasaan risau menjalar sampai ke hati, rasanya perih. Kukuatkan hati mendekatkan telinga ke hidungnya. Benar, tak ada suara, tak ada deru napas.

Lama aku termenung, tak bisa membendung air mata. Tak menyangka sesakit ini rasanya ditinggalkan. Kubaringkan diri di sampingnya kembali, menatap lama wajahnya yang lusuh, tirus. Pak, aku harus bagaimana?

Seharian itu aku hanya berbaring di samping jenazah suamiku, tak tahu hendak apa, aku tak punya uang sepeser pun. Kembali kuhitung-hitung, berapa kira-kira total biaya yang diperlukan. Kepalaku menjadi sakit, rasanya tak bisa berpikir apa-apa lagi.

Hari itu rasanya berlangsung lama sekali. Sesekali kuhalau lalat yang hinggap di jasad suamiku. Aku benar-benar hilang akal, tidak tahu harus minta pertolongan kepada siapa. Hingga magrib menjelang jasad suamiku belum terurus. Aku berjalan ke sisi jendela, lagi orang-orang yang sama lewat di depan rumah, membawa nasi berkat dari rumah pak Waluyo, pengajian hari ketiga.

“Pak, apa aku minta tolong orang-orang itu? Minta belas kasihan menguburkanmu dengan cuma-cuma.”

Hening, malam makin dingin. Kembali kubaringkan diri di samping tubuh suamiku yang mulai kaku.

“Tak apa-apa, Pak. Ada aku, aku akan menemanimu.”

Entah jam berapa, aku tertidur lelap sekali, rasanya lelah menangis dan berpikir seharian. Ketika terbangun kurasakan gelap gulita, mungkin lampu mati, kuraba-raba di sebelahku, masih ada suamiku yang kaku, lalu kupeluk ia erat-erat. Dulu semasa hidup, ia selalu ada untukku, apa pun ia lakukan untukku, satu saja yang ia tak bisa. Ia tak bisa berada dalam kegelapan, tidur pun kami menyalakan lampu terang. Jika gelap, tiba-tiba ia akan sesak dan panik, ia benci gelap. Kembali kueratkan pelukan.

“Tak apa, Pak! Ada aku.”

Pagi menjelang, aku masih bingung hendak diapakan suamiku yang semakin banyak dihinggapi lalat. Apa aku kubur saja di lantai rumah ini? Bagaimana kalau aku bongkar saja ubinnya, rasanya tak begitu susah. Kutempelkan telinga mengetuk-ngetuk ubin, mencari bagian yang suaranya agak redam. Satu, dua, tiga, empat, kutandai bagian yang mungkin bisa dilepas.

Dengan peralatan seadanya, palu, pisau dapur dan gunting mulai memecah satu per satu ubin. Dua ubin berhasil kulepas, tapi ubin lainnya sulit dipecah. Lalu kuputuskan menggali lewat dua ubin itu.

Ketika proses penggalian lewat dua ubin itu aku perpikir tentang bagaimana cara menguburkan suamiku. Aku perlu memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil. Tentu saja setelah itu lubang ini akan cukup mengubur tubuhnya. Tak kupikir lebih lama lagi, dengan alat yang kupakai untuk menggali, kupotong-potong suamiku dengan perlahan, agar ia tak merasakan sakit.

“Pak, sabar ya! Sebentar lagi akan kukubur.”

Sesekali di sela pekerjaanku memotong-motong suamiku, kuhalau lalat yang kian banyak. Tak cukup pisau, kuambil gergaji, sepertinya bisa mempercepat pekerjaanku. Aku tak mau menunggu malam tiba, aku ingin menguburkan suamiku secepatnya. Kasihan, sudah terlalu lama jenazahnya terlantar.

Sedang konsentrasi dengan pekerjaanku, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku kaget, pekerjaanku belum selesai. Baru kaki dan tangan yang berhasil kupotong. Tak kuhiraukan ketukan itu. Aku melanjutkan memotong bagian dada. Pikirku, ini tak akan lama, sejam atau dua jam lagi ubin akan tertutup. Namun, ketukan itu terus terjadi, bahkan sudah menjadi gedoran, tampak tak sabar. Gedoran pun beralih ke jendela, aku masih tak menghiraukan, pekerjaanku kulanjutkan.

“Tak apa-apa, Pak! Sebentar lagi selesai.”

Tiba-tiba pintu didobrak, dibuka paksa. Orang-orang masuk, aku merasa kami diserang. Aku melihat mereka yang lalu lalang membawa nasi berkat beberapa hari lalu. Mereka menunjuk-nunjuk ke arahku sembari berteriak-teriak, lalu beberapa orang memegangiku, berusaha menyeretku ke luar.

“Aku ingin menguburkan suamiku!” Berkali-kali kuteriakkan itu, tapi mereka abai.***


Rahma Syukriah Sy, seorang ibu (agak) muda, penikmat puisi dan karya sastra yang menghabiskan hari-hari bermain bersama dua buah hati yang lucu-lucu dan adik-adik di Rumah Belajar Ka Rahma. Sekarang tengah aktif mengikuti event-event menulis dan menerbitkan beberapa antologi bersama. Bisa mengunjunginya di FB, IG dan akun Opinia dengan username yang sama @RahmaSyukriahSy

Cerpen

Ingin Kuinjak Kepala Orang Ini

Cerpen Aliurridha

“Jadi antar Ibu pulang?” Pertanyaan itu datang ketujuh kalinya. Bantal tebal yang menutup telingaku tak cukup membendung suara cemprengnya. Selang lima menit sekali, dia datang ke depan pintu kamarku, meneriakiku dengan pertanyaan yang sama. “Sebentar. Sepuluh menit lagi,” balasku. Ketika gerutuannya menjauh, aku merasa lega. Tetapi itu sebentar saja, karena tidak sampai lima menit, dia sudah datang lagi, memanggil namaku dan mengulang pertanyaan yang sama: “Alif… Jadi antar Ibu pulang?” Sialan, ingin kuinjak kepala orang ini. Namun, aku berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.

Dengan mata mengantuk dan pikiran terantuk kesal akibat kurang tidur, aku membasuh wajah sembari berharap air bisa membilas kantuk dan kesalku. Semalam aku tidur kemalaman, persis seperti malam kemarin, seperti juga malam sebelum kemarin, seperti juga malam tahun lalu, seperti juga malam sepuluh tahun lalu; aku benar-benar tidak ingat kapan terakhir kali aku tidak tidur kemalaman. Seingatku, sejak aku punya kesadaran tentang hidup yang brengsek ini, aku selalu tidur kemalaman.

“Ibu sudah nunggu di depan, Bang,” kata istriku.

“Aku tahu,” balasku ketus.

Tidak perlu dikatakan juga aku tahu. Dari tadi ibu sudah mengganggu tidurku. Padahal sudah kukatakan kalau aku akan mengantarnya jam tujuh, tapi belum juga jam setengah enam ibu sudah bolak-balik membangunkanku.

Kulihat ibu tengah duduk pada sebuah kursi kayu di teras rumah. Di sebelahnya, terbaring sebuah tas ransel berwarna cokelat yang rasanya terlalu besar untuk tubuhnya yang terlalu kecil. Beberapa lubang terlihat pada tas ransel yang telah terlalu lama membebani pundaknya. Kaosnya yang agak kebesaran itu tersingkap pada bagian pundak, memperlihatkan tulang bahu yang menonjol seperti ruas-ruas akar pohon yang menyeruak dari dalam tanah. Topi berwarna cokelat bersetia di kepalanya, menutupi rambut pendek berwarna abu-abu, menyusul kisah kelabu yang menjadi warna dominan dalam hidupnya.

“Ibu sudah sarapan?” tanyaku.

“Sudah,” jawabnya singkat tanpa menoleh.

“Kita jalan sekarang?”

Ibu mengangguk. Kemudian dia berdiri memasang tas ransel jeleknya. “Tetapi ongkosnya belum dikasih.”

“Astaga! Tunggu sebentar.”

Istriku bergegas lari ke dalam rumah. Tak berapa lama dia telah kembali dengan beberapa lembar uang, dua kotak roti, dan sebotol air mineral yang langsung diserahkan kepada ibu.

“Ini buat ongkos bus. Ini buat pegangan Ibu.” Istriku menyerahkan beberapa lembar uang untuk Ibu.

Ketika aku sedang memanaskan motor, mendadak kudengar suara Hanifa dari dalam rumah. “Mau ikut! Mau ikut!” rengeknya. Anak ini biasanya tidak pernah bangun pagi, apalagi sepagi ini. Paling cepat dia bangun jam Sembilan. Tetapi kali ini dia seolah tahu aku akan keluar mengantar ibu, dia jadi bangun lebih pagi dari biasanya.

“Ayah hanya sebentar, mengantar nenek ke terminal,” jelas istriku.

Hanifah tidak peduli. “Pokoknya ikut. Harus ikut. Mau ikut. Ikut. Ikut. Ikut….”

“Biar sudah dia ikut,” kataku.

“Tapi, Bang. Nanti kalau dia ketiduran di jalan bagaimana?”

“Kalau dia tidur nanti Abang tinggal di pasar seperti Hitam.”

Istriku tertawa. Dia pikir aku bercanda. Itu membuatku merasa cocok dengannya. Amarahku selalu reda setiap melihat tawa dan senyumnya. Padahal yang kukatakan tadi itu serius, jika kesalku sudah tak terbendung, mungkin aku benar-benar meninggalkan Hanifa di pasar seperti halnya dulu aku meninggalkan Hitam di pasar. Berkali-kali aku dibuat kesal oleh Hitam. Tiga kali ia melahirkan di lemari pakaianku, tiga kali juga aku membuangnya di pasar, dan tiga kali pula ia tahu jalan pulang ke rumahku. Tetapi semenyebalkan-menyebalkannya Hanifa dan Hitam, tentu saja tidak ada yang lebih menyebalkan dari ibu. Dia jauh lebih menyebalkan daripada seluruh orang menyebalkan di alam semesta ini digabung-satukan.

Ibu datang ke rumahku setiap kali dia bertengkar dengan ibunya, saudara-saudaranya, atau juga tetangga-tetangganya. Kemudian dia akan melampiaskan emosinya ke aku, ke istriku, dan ke anak-anakku. Kemudian dia akan pergi begitu saja setelah hatinya lega seperti halnya dulu dia pergi begitu saja dari hidupku di saat aku bahkan belum seusia Hanifa. Ibu dengan tega meninggalkanku bersama suaminya yang suka menginjak-injak kepalaku. Lalu, tiba-tiba dia kembali ke hidupku ketika aku merasa sudah tidak butuh perlindungannya. Dan ketika dia mengatakan aku ini ibumu, seketika itu juga aku ingin menginjak kepalanya. Tetapi, aku selalu berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.

Benar kata istriku, baru setengah jalan Hanifah sudah tertidur. Dia duduk di depan, di kursi bantu untuk balita. Sialan! Aku berhenti di pinggir jalan, dan tanpa menoleh ke belakang aku berkata kepada Ibu: “Bu, Hanifah tidur. Bisa Ibu pegang dia?”

Ibu tidak menjawab. Kuulangi lagi pertanyaanku. Kali ini sedikit lebih keras.

“Ibu pegang ini,” kata ibu.

Aku menoleh ke belakang dan melihat barang pemberian istriku berada di tangannya. “Kamu pegang saja anakmu. Kalau Ibu pegang dia, nanti Ibu jatuh,” lanjutnya dengan nada yang tidak ada enak-enaknya di telinga. Aku sebenarnya mau mengatakan kalau barang-barangnya bisa ditaruh di depan saja. Tetapi kuurungkan niatku, aku kenal ibuku. Aku benar-benar mengenalnya.

Bersusah payah aku jalan sambil satu tanganku memegang Hanifah pada bagian dadanya agar kepalanya tidak terantuk kepala motor. Mendadak kurasakan sesuatu yang hangat menempel pada tanganku. Sialan! Dia tidur sampai ileran.

Sesampainya di terminal, Damri ternyata belum datang. “Nanti jam sembilan baru datang,” kata lelaki bertopi merah. “Tetapi kalau mau beli tiketnya. Bisa beli di dia.” Lelaki bertopi merah menunjuk lelaki berkulit hitam legam dengan kaos oblong berwarna cokelat yang telah pudar di beberapa bagian. Wajah lelaki itu jelek bukan main. Namun, pada bagian dada di kaosnya tertulis Pria Tampan Kesepian. Aku ingin mengumpat ketika membacanya.

“Busnya belum datang, Tapi Ibu bisa beli tiketnya di Bapak itu,” kataku.

Tanpa perlu kami panggil, lelaki berbaju cokelat mendatangi kami. Semakin dekat, wajahnya terlihat semakin jelek saja.

“Damri belum datang. Ini kalau mau tiketnya. Harganya 130 ribu,” kata si lelaki buruk rupa.

Sialan! Calo ini ngambil untung banyak betul. Disangkanya aku tidak tahu harga tiketnya.

“Ini kenapa tulisannya Titian Mas. Saya mau naik Damri,” kata ibuku.

Lelaki itu mencoret tulisan Titian Mas pada kwitansi pembayaran, lalu menulis Damri.

“Kamu pikir saya bodoh. Saya ini sekolah sampai SMA. Kamu palingan cuma sampai SD,” kata ibuku.

Lelaki itu menunjukkan gejala akan marah. Wajahnya terlihat semakin jelek saja.

“Ini Bang tiketnya,” kata temannya yang berambut ikal.

Setelah mengambil tiket dari temannya yang berambut ikal, lelaki buruk rupa ini langsung menulis 120 ribu pada kwitansi itu. Dia menurunkan harganya. Itu pun dia masih untung banyak. Ongkos bus ke tempat tujuan ibu hanya 85 ribu. Ketika aku hendak menarik tangan ibuku agar tidak mengeluarkan dompet, Hanifah menggeliat di gendongan. Dia bangun lalu mengucek-ngucek matanya. “Ayah pulang! Ayah pulang!” rengeknya. Hanifa menangis sambil menarik kerah bajuku. Aku tidak jadi menghentikan ibu. Tetapi ibu juga tidak mengeluarkan dompetnya.

Ibuku bukan orang bodoh. Dia tidak akan tertipu oleh calo yang, dari rupanya saja, terlihat lebih bodoh darinya.

“Mana busnya?” tanya ibuku lagi.

“Tunggu sudah. Itu orang-orang juga sedang tunggu Damri,” kata laki-laki itu. Dia menunjuk beberapa orang yang duduk di halte dengan barang bawaan beraneka rupa.

“Mana busnya?”

“Tunggu sudah. Nanti jam sembilan datang.”

“Ayah pulang… Ayah pulang….”

“Mana busnya?”

Kulihat cuping hidung lelaki jelek itu kembang-kempis. Wajahnya benar-benar kesal. Aku segera menghampiri ibuku. “Bu, Alif balik duluan ya. Hanifah rewel,” kataku. Dia sekilas menatapku dengan tatapan dingin sebelum kemudian mengangguk. Aku berupaya menahan senyumku sebisa mungkin ketika aku melihat lelaki jelek itu menahan geramnya. Biar sudah kamu untung 35 ribu, 35 ribu kali juga kamu akan ditanyai hal yang sama oleh ibuku. Dia tidak akan berhenti bertanya sampai busnya berada tepat di depan matanya.

Aku meninggalkan terminal dengan perasaan lega. Rasanya seperti ketika aku meninggalkan Hitam di pasar. Aku berharap ibu akan mendapat pengalaman buruk dari kedatangannya kali ini agar dia jera dan tidak pernah datang lagi. Tetapi, tentu saja, itu tidak mungkin. Tidak ada pengalaman buruk yang bisa menghalangi ibu untuk kembali melakukan apa yang ingin dilakukannya. Dua kali dia kembali ke Saudi, padahal di sana, dia diperkosa berkali-kali oleh majikannya, tapi dia tidak punya pilihan selain kembali ke sana karena suaminya yang pemabuk itu tidak tahu cara mencari uang. Hingga di kali ketiga dia mau balik ke Saudi, KJRI memulangkannya karena kondisi kejiwaannya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja. Ya, ibuku gila sejak hari itu, dan gilanya masih sering kambuh. Setiap gilanya kambuh, trauma masa kecilku juga kambuh, dan setiap trauma masa kecilku kambuh, aku jadi ingin menginjak kepalanya. Untungnya aku selalu berhasil menahan diriku.***

Blencong, 2021-2022


Aliurridha, Pengajar  di Universitas Terbuka. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Dia diundang sebagai emerging writer dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2023. Dia tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.

Puisi

Puisi Diana Rustam

Burasa’

Hai anak lelaki

Ambil kulit pokok pisang itu

Jemur dan jadikan tali temali

Ikatlah nasi santan yang ditaburi ibumu dengan garam

Yang telah ia bungkus dalam daun pisang

Ikatlah hai anak lelaki, dua tiga atau empat serumpun

Jagalah api. Lihat ibumu menanaknya di atas tungku semalam suntuk sampai ia terkantuk-kantuk

Burasa’ itu bekalmu dari tangannya, merantaulah

Pulanglah kelak

Jangan pernah lupa cara mengikatnya

Sekalipun dunia telah mengajarkan banyak

Ingat dari mana kau pertama kali berangkat.

Makassar 2023


Tamu

Ada yang pamit

Ada yang bersedih

Bukan sebab yang pamit akan pergi

Tetapi yang bersedih menangis apabila yang pergi datang kembali sementara dirinya sudah tiada lagi

Makassar 2023


Lebaran dan Dua Orang Tua

Takbir bersahut

Nasu palekko

Burasa’

Di tata di atas nampan

Ada dua orang yang ompong giginya bungkuk punggungnya

Laki-laki dan perempuan bersarung berkerudung

Duduk berhadapan di lantai menekuri nampan

Perempuan berkerudung harap cemas membaca

Pesan yang datang di telepon genggam bututnya

“Maaf lahir bathin. Ananda masih sibuk, tak jadi mudik”

Lantas ia berkata pada laki-laki bersarung, “Anak kita ketinggalan kapalnya”

Makassar 2023


Bocah dan Kata-kata

Bocah laki-laki itu memunguti kata-kata yang melompat garang dari bibir bapaknya. dikulumnya kata-kata itu hingga gembung pipinya. pipinya kempis dan di kepalanya kata-kata itu telah duduk-duduk manis

Bocah laki-laki itu rajin sekali mengabsen kata-kata yang duduk manis setiap hari. Mahir pula ia mengawinkan kata-kata itu hingga mereka beranak-pinak di mulutnya.

Makassar 2023.


Eboni

Tahukah kamu? Eboni itu

Sekarang tidak lagi ia dipanggil begitu

Ia patung ia kapal-kapalan ia mobil-mobilan ia vas

dalam lemari atau di atas meja pajangan untuk dipandang dikagumi tetamu kadang pula diabaikan sampai berdebu

Pernahkah kau bertanya?

Adakah ia gundah?

Rindukah ia pulang menjadi dirinya di hutan berdiri sebagai pohon bersama semak belukar dan kijang dan burung-burung dan kabut yang turun menciumi pucuk-pucuknya?

Mari kita tanyakan

Pasang telingamu tajam-tajam

Mungkin ada sesuatu yang ia ingin ia katakan

Makassar 2023


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Cerpen

Seandainya Boleh Memilih

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Ia baru saja lahir dari kuburannya dan masih rebah di dalam lubangnya di sebuah pekuburan tua dan tak tahu telah berapa lama terkubur di dalamnya. Seingatnya sejak Perang Bharatayudha. Tubuhnya masih seperti dulu; tegap, gagah, serta berotot meskipun berselimut keringat, daki, dan debu. Rambutnya tergerai sepundak; kotor dan seamis bangkai ikan pada lungkang. Tak ada suara karena ia terdiam dan keheningan telah menyerap semuanya. Di bawah tubuhnya tak ada apa-apa lagi; batu, pasir, bunga, keranda, serta ubarampe lainnya, atau sisa bau dupa atau yang semacamnya. Itu kalau semua sesuai dugaannya. Ia tak ingat segalanya seperti halnya tak lupa seluruh masa lalunya meskipun ia sangat menginginkan semua itu lenyap dari benaknya.

Ia sangsi adakah upacara militer yang mengiringi prosesi pemakamannya: terompet, drum band, tembakan salvo…. Barangkali hanya sepi yang menyambut kematiannya dan penguburan itu tak lebih mewah daripada prosesi anjing kurap yang dicampakkan ke comberan. Ia tersenyum masam. Siapa pula yang butuh semua kemurahan itu. Mati, ya tinggal mati saja. Tak peduli di mana atau dengan cara apa mati dan dikuburnya.

“Kuturuti permintaanmu. Datanglah ke tempat itu! Di sana Arjuna akan menemuimu,”  suara itu kembali berkumandang di kepala.

Barangkali ia telah mengigau dalam matinya. Mungkin arwahnya gentayangan dan mengamuk di kerajaan langit sana, memrotes sana-sini, menggugat hidup serta matinya yang tidak adil. Dan ia pun lalu dibangunkan dari tidur panjangnya; lengkap dengan busana, senjata pusaka, juga kepala yang telah kembali ke asalnya.

Dan terbayang lagi jejak itu, jejak kematiannya. Dan kenangan menyakitkan itu pun kembali lagi. Ketika itu kereta perangnya menuju arah matahari, sementara kereta perang orang itu menjauhi, dan ia telah merentangkan gendewanya seperti halnya orang itu. Untuk apa Salya menghentakkan laju kereta ketika bidikan panahnya sudah tepat pada leher orang itu? Mestinya panah itu tidak hanya menyerempet rambut.

Ia berdiri mematung dan tampak murung. Betapa pedih dan perih saat menyadari  pengkhianat itu ternyata orang terdekatnya sendiri. Ia meraba lehernya dan terbayang lagi ketika panah orang itu memenggalnya dan tempurung itu terpental, menggelinding, dan darah, darahnya, berceceran membasahi tanah di padang ilalang.

Ia menggeram. Salya, orang yang kepadanya ia titipkan nyawanya, bapak angkat yang telah dianggapnya sebagai bapak sendiri, kusir kereta perangnya ketika pertempuran itu terjadi ternyata lebih mencintai orang itu dan memilih dirinya yang harus mati. Ia menghela napas panjang, lalu menengadah seolah-olah ingin menemukan jawaban atas ribuan pertanyaan di benaknya dan di langit sana tak ada apa-apa kecuali awan lembayung. Ah, alangkah bahagia andai ia bisa memilih cara dan tempat matinya sendiri.

Tiba-tiba ia menggeram. Wajah yang semula seolah-olah onggokan kain basah di pojokan kamar mandi itu tiba-tiba memancarkan sinar. Sorot mata rusa tua yang ketinggalan kawanannya itu seketika menjadi mata seekor singa yang siap menerkam mangsanya.

“Arjuna.”

Ia menyebutkan nama itu penuh kebencian sementara darahnya mendidih seperti minyak di wajan penggorengan. Urat-urat di batang lehernya menyembul seukuran akar pohon kelapa. Teringat lagi apa yang telah orang itu perbuat kepadanya, semuanya, dan ia pun muntab.

“Arjuna, aku akan menyayat-nyayat wajah tampanmu hingga tak ada yang bisa mengenalinya. Melumatkan kepalamu hingga jadi bubur. Memutilasi tubuhmu menjadi potongan-potongan kecil sehingga  ketika nanti ada yang menemukan daging atau tulang itu, tidak akan pernah ada yang tahu berasal dari bagian tubuh yang mana.”

Serta-merta ia melompat dari dalam lubang kuburnya seolah-olah tersengat bara api pada telapak kakinya, lalu berlari seakan-akan sudah ketinggalan janji. Lajunya secepat kilat di angkasa. Jalan setapak penuh ranting kering dan daun ilalang diterjangnya, lubang dan bebatuan dilompatinya. Ia menuju ke tenggelamnya matahari dan tak tahu alasannya dan tak peduli.

Napas terengah-engah dan keringat bercucuran ketika ia sampai di tempat yang dulunya padang ilalang itu. Padang Kurusetra! Genderang perang, suara madali, dan tiupan maut sangkakala seakan-akan terdengar lagi; suara-suara yang telah mengiringi kematian teman, guru, serta orang-orang yang dikenalnya. Mereka telah menjadi tumbal, dan mati dengan berbagai cara ini: termutilasi, bermandikan darah, darah mereka sendiri atau musuhnya.

Keluarga Kuru telah musnah, tumpas, dan habis, diiringi mampusnya ratusan ribu prajurit Astina dan Amarta serta para pelengkap penderita lainnya. Orang-orang itu masih teman dan saudaranya. Dirinya dan kakak-beradik berjumlah seratus  itu pernah bersama-sama main gundu di masa-masa lalu. Itu semua demi apa kalau bukan supaya Bharatayudha bisa tetap berlangsung sesuai nubuatnya dan betapa bangsatnya para dewa ternyata.

“Arjuna! Arjuna!”

Ia memanggil-manggil, tapi tak ada jawaban.  Padang itu kini cuma menyisakan kenangan kengerian dan kesia-siaan, juga darah yang telah mengubah warna tanah itu menjadi merah. Juga mayat-mayat yang teronggok tak berbentuk lagi. Juga tumpukan daging berbelatung, bertebaran, berserakan,  dan tumpang tindih. Burung-burung pemakan bangkai berpesta di atasnya sambil memekik-mekik kegirangan. Juga bau busuk itu, bau yang menusuk-nusuk lubang hidung dan masih tercium dari jarak sepuluh ribu kaki. Ia masih ingat semua itu seolah-olah perang saudara itu terjadi baru saja.

“Arjuna! Arjuna! Di mana kau?”

Tiba-tiba terdengar sahutan dan itu suara perempuan.

“Karna, anakku.”

Ia mencari-cari dengan matanya, dan memastikan suara itu tidak pernah ada kecuali hanya di dalam pikirannya. Ia masih ingat nada, irama, kelembutannya, dan semua itu justru membuatnya makin menderita. Ah, Kunti, ibunya yang bukan ibunya, bunda yang tak pernah ia rasakan air susunya. Adakah rintihan yang terucap ketika bayi mungil yang bermandikan air ketuban itu keluar dari rahimnya, melewati batang lehernya, lalu menjebol keperawanan kupingnya?

Ia tersenyum masam. Seandainya boleh memilih, ia ingin batu yang mengandungnya, atau apa saja, asalkan bukan perempuan yang sukanya merancap, tapi maunya tetap gadis ini. Kunti oh, Kunti.

Ia mengumam pelan walau masih terasakan olehnya kepedihan itu. Bibir itu menguncup, sorot matanya meredup. Di mana perempuan ini saat kusir pedati itu mengaisnya sedangkan ia bukan makanan sisa di tempat sampah? Sedang apa perempuan ini saat seluruh penonton lomba memanah itu menertawai meskipun dialah pemenangnya? Seandainya boleh memilih, ia ingin tak pernah ada karena sakit ini begitu lara.

“Karna, anakku, jangan kau sakiti adikmu!”

Ia menegakkan kepala seperti ular cobra disentuh ekornya, dan tiba-tiba merasa sedang diingatkan lagi akan tujuannya semula: membunuh Arjuna! Seketika awan hitam menghilang dari wajahnya, dan berubah menjadi rona merah darah. Rahangnya mengeras, melengkapi keriap matanya yang buas.

“Adik macam apa yang menghianati kakaknya? Adik jenis apa yang rela mengorbankan kakak demi ambisinya”

“Anakku, demi kepentingan yang lebih mulia….”

“Siapa yang mulia dan tercela?” Ia memotong ucapan itu. “Siapa yang mengangkat kamu sebagai hakim sehingga berhak memutuskan Kurawa sebagai angkara murka dan Pandawa pembasminya?”

“Karna, anakku, darma bakti seorang ksatria adalah…..”

“Arjuna tak pantas disebut satria. Dia sama busuk dengan lainnya!” ucapnya berapi-api, memenggal kalimat yang belum selesai tadi.

“Anakku, jangan turuti nafsu amarahmu….”

“Enyahlah kau! Minggat!” 

Ia memukul-mukul kepala agar bunyi-bunyi itu  terhenti, tapi bising di pikirannya lebih menguasai. Mulutnya mengumpat-umpat, tapi suara itu terus menyeruak di lubang telinganya; berisik, bertalu-talu, bergaung, dan bercampur-baur dengan umpatan, tangisan, serta jeritan. Ia menjambaki rambutnya sambil tertawa dan bergelakak seperti orang gila.

Ketika segala hiruk-pikuk itu tiba-tiba sirna, serta-merta ia berdiri mematung, termenung, dan merasa baru saja membunuh ibu yang selama ini bersemayam di relung hatinya: suara-suara itu telah mati, menemani hatinya yang sepi.

Namun, sedetik kemudian ia menggeram. Arjuna harus mati, dan tak ada lagi yang bisa menghalang-halangi, termasuk Kunti yang konon ibunya itu walaupun sekarang bukan lagi. Kuburanlah yang telah melahirkannya, baru saja. Dan nasihat itu pernah didengarnya dulu, dulu sekali. Kini ia tak butuh lagi.

Tak ada hutang yang dibawa mati kecuali hutang budi. Apa pun maksud di baliknya, Kurawa-lah yang telah mengangkat derajat, memanusiakan, serta menganggapnya ada dan berharga. Perjalanan hidup itu telah memaksanya untuk memilih. Dan sampai saat ini, ia tak menyesali pilihan itu. Pandawa tak pantas disebut saudara! Saudara yang mempermalukan saudara sendiri adalah kriminal dan boleh dibikin modar dengan cara yang sekeji-kejinya.

Ia mengatur napasnya yang memburu, sementara gemuruh di dadanya masih terasa, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Susah payah ia membujuki otak lelahnya. Persetan dengan suara perempuan itu!

“Arjuna!”

Ia meneriakkan nama itu sekeras-kerasnya, lalu menengadah, menajamkan mata dan telinga. Namun, tak ada suara apa-apa kecuali sepi serta lautan ilalang yang membentang. Padang itu bagaikan kanvas raksasa yang dipenuhi warna hijau, coklat, putih, dan hitam. Sementara itu, angin semilir, udara mengalir, dan langit menjelang senja masih seperti hari-hari sebelumnya.

“Arjuna, keluarlah dari persembunyianmu!”

Bunyi itu berpusing-pusing bising, mengarungi gelombang udara sebelum akhirnya menghilang di balik cakrawala nan jauh di sana. Udara senyap, kicau burung lenyap dan yang terdengar hanya bunyi napasnya sendiri yang memburu-buru seperti anjing lagi birahi. Tiba-tiba sekelebat cahaya turun dari langit, berputar-putar, bergemuruh laksana angin puyuh, lalu berhenti. Dan Arjuna pun memperlihatkan wujudnya. Satria lelananging jagat ini mendekat. Rupa tampannya masih bersinar. Dia bersedekap dengan kepala menunduk seolah-olah murid sedang berdiri di hadapan gurunya.

Ia mendengkus. Orang itu hanya berjarak empat-lima langkah di depannya. Begitu dekatnya, tapi betapa jauhnya bagi jiwa yang dipenuhi oleh kecurigaan ini. Meskipun penengah Pandawa ini tampak enggan, ia tak ingin tertipu oleh lagak lagunya. Ia memandang tajam orang yang sebentar lagi jadi mayat ini lalu berucap dingin, tajam, dan kejam.

“Arjuna, kuburku terasa gelap, lembab, dan pengap. Hanya kematianmu yang bisa membuatnya hangat.” Ia tak ragu mengungkapkan keterusterangan yang tidak sopan itu.

“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah,” jawab Arjuna. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dahi, menghaturkan sungkem.

“Aku selalu dihantui mimpi buruk bahkan di dalam matiku. Kuburku terasa sesak dan menghimpit.”

“Kakang, hamba hanya sekadar titah.”

“Arjuna, karena mulut kotormu aku harus merelakan harga diriku diinjak-injak. Sebab busuk otakmu guru Durna menjauhiku.”

”Maafkan hamba, Kakang.”

”Tahukah kamu bagaimana rasanya menjadi anak yang dibuang ibunya dan saudara yang tidak diinginkan oleh adik-adiknya?” suara itu terdengar getir.

”Kakang, maafkan hamba.”

”Aku coba mengasihimu sebagaimana seharusnya, tapi tak bisa. Luka ini begitu dalamnya. Aku telah coba memaafkan kamu sebagaimana semestinya, tapi tak mampu. Dendam ini telah membatu.”

“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah. Raga ini hamba baktikan. Jiwa ini hamba ikhlaskan.”

Sesaat ia ragu mendengar kerelaan itu, teringat akan masa lalu, yaitu ketika mereka sama-sama sedang berguru kepada Resi Durna, dan bercanda tawa di sela-selanya. Mereka juga pernah berdiam di rahim yang sama meskipun terlahir dari lubang berbeda. Ia ksatria dan tak mungkin baginya berkulikat nista; membunuh musuh yang tak mau melawannya salah satunya.

Ia menarik napas dalam-dalam. Sesaat matanya terpejam, coba menguraikan otaknya yang sengkarut. Ia sudah sampai sejauh ini, dan tak ada jalan untuk kembali. Keadilan harus diperjuangkan dan ia telah terlanjur membongkar rumah kuburannya. Tiba-tiba bibirnya mengatup, tubuhnya gemetar, kedua tangannya mengepal-ngepal, lalu tertawa kecil.  Arjuna bukan musuhnya ataupun saudaranya. Dia orang yang harus mati, dan saat ini juga!

Seketika ia menerjang sosok di hadapannya. Tangan kanannya terayun sekuat tenaga ke arah kepala, kaki kanannya melayang dengan gerakan memutar, menghantam lumbal kanan, disusul kaki kiri menerjang bagian tubuh lainnya.

“Bangsat, lawan aku! Mumpung tak ada mulut berbisa Kresna! Selagi tak ada guru batil bernama Durna. Hanya kamu dan aku!” 

Arjuna bergelangsar, terlempar, dan berguling-guling. Darah mengalir dari mulut dan  hidungnya. Alis matanya sobek. Dia tampak kesakitan dan menderita. Dia menyeka darah yang membanjiri hampir seluruh wajahnya lalu kembali berdiri di tempat yang sama, bersikap seperti sebelumnya, bersiap menghadapi matinya seperti kambing kurban dihadapan tukang jagalnya.

“Hamba tidak akan melawan, Kakang,” jawabnya.

Ia makin marah. Bukan jawaban semacam itu yang diharapkannya. Seketika ia kembali menerjang seumpama banjir bandang. Ia meninju mulut yang baru selesai bicara tadi. Ia menghantam ulu hati hingga tubuh itu tertekuk dan terbungkuk-bungkuk.

“Arjuna,  lawan aku. Keluarkan semua kesaktianmu!”

Arjuna menegakkan tubuh, sempoyongan dan limbung. Bibirnya pecah dan berdarah dan beberapa giginya goyah.

“Tidak, Kakang! Saya sudah berdamai dengan masa lalu.”

Ia menerkam dada, menginjak-injak perut, dan menjadikan kepala itu seumpama bola. Ia memukul, mencakar, menampar, menendang, dan mencekik sambil meraung-raung.

“Masa lalumu, bukanlah masa laluku. Andai aku bisa melupakannya!”

Arjuna terjatuh, terguling-guling, terbanting-banting. Dia coba berdiri, tertatih-tatih, jerih, terhuyung-huyung. Sekujur tubuhnya cobak-cabik oleh luka, dari kepala hingga kaki.

“Kakang, bunuhlah hamba jika itu bisa membuat Kakang bahagia. Namun, mohon kiranya hamba izin bersiap lebih dahulu!”

Susah payah Arjuna melucuti dirinya sendiri. Kakinya goyah dan wajahnya tertampak letih. Ia melemparkan gendewa di tangannya, keris pulanggeni yang terselip di pinggang, lalu kain limarsawo, juga ikat pinggang limarkatanggi. Seterusnya, dia menguraikan gelung minangkara lalu melemparkannya, pun membuang kalung candrakanta juga cincin mustika ampal.

Sementara itu, tak peduli dengan yang dilakukan orang di depannya, ia berdiri kaku seperti arca penunggu candi. Gebaran di hati dan pikirannya sudah mati. Ia telah membunuhnya baru saja dan persetan dengan jiwa satria. Kalau perlu, ia akan menikam jantung orang itu meskipun orang itu lagi tertidur lelap di pelukan selir-selirnya. 

Ia lalu mengambil napas, mengembuskan kuat-kuat lewat mulutnya. Dengan bibir terkatup, ia menyiapkan gendewa wijaya, memasang panah taksaka. Ia membidik tepat ke arah jantung orang di hadapannya, lalu menarik tali busurnya sekuat tenaga.

“Arjuna, demi masa lalu, masa kini, dan masa nanti, aku harus membunuhmu.”

“Hamba siap, Kakang,” jawab Arjuna lirih.   

Arjuna tersenyum pada orang yang sangat menginginkan nyawanya ini. Dia justru merentangkan kedua tangannya, membuka dadanya lebar-lebar sambil melemparkan panah pasopati yang sedari tadi ditimangnya tanpa peduli arah jatuhnya.

“Hamba pamit….”

Panah pasopati itu terlempar ke tumpukan batu tepat pada pangkalnya, lalu melesat bagai peluru kendali, menerjang pori-pori udara dan semuanya. Ia terkesiap dan segera menyadari bagaimana akhir kisah ini nantinya. Seketika senyum getir tersungging di bibir. Hidup ini, terutama hidupnya, ternyata begitu lucu, absurd, dan sia-sia. Ia pun memejamkan mata, menyambut mautnya. Setengah detik kemudian, panah pasopati itu menembus leher; memotong kulit, daging, otot, tulang, dan semua yang menghalangi laju geraknya. Tempurung kepala itu terpental dan menggelinding. Darah berselerak membasahi ilalang.***

                                                                               Pekalongan, 3 September 2021


Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal November 2022. Naskah lakon Ikan-Ikan di Kedung Mayit menjadi Nominator Lomba Naskah Lakon Dewan Kesenian Jakarta, Desember 2022.

Cerpen

Susu Kemasan Berwarna-Warni untuk Kenta

Cerpen Chan

Seperti sihir, begitu Satoshi sampai di depan showcase minimarket itu, tangisan Kenta–bocah yang digendongnya–terhenti. Lelaki yang sempat panik ketika Kenta menangis dan mengamuk karena suara sirine ambulan itu pun tersenyum lega. “Ternyata betul dugaanku. Kau menyukai benda-benda berwarna-warni.”

Sambil tertawa riang, Kenta menggapai-gapai kaca showcase yang memajang puluhan botol minuman beraneka warna. Antusiasmenya sama besar dengan ketika ia menggapai-gapai poster tokoh anime karya Satoshi atau benda-benda penuh warna lainnya.

Satoshi segera membuka pintu showcase. Sergapan hawa dingin membuat Kenta sedikit menggigil. Namun, bocah sepuluh bulan itu tetap bersemangat, terutama ketika ia mendapati barisan botol susu kemasan dengan rasa buah-buahan beraneka warna. Mengilat karena tersorot lampu showcase dan ditempeli embun, botol-botol itu kian tampak menarik.

Begitu tangannya yang terbilang kurus untuk bayi seusianya itu bisa menjangkau botol-botol, Kenta pun beraksi, menarik-memorak-porandakan botol-botol itu sambil berseru girang. Satoshi pun dibuat kewalahan. Namun, lelaki itu sama sekali tidak marah atau merasa malu–seperti kebanyakan orang dewasa saat direpotkan oleh tingkah laku anak-anak. Ia malah tertawa dan sama antusiasnya dengan Kenta ketika menata ulang botol-botol tersebut. Keduanya tampak seperti sedang berlomba memberantakkan dan merapikan. Satoshi baru barhenti dan membiarkan Kenta asyik sendiri setelah dikejutkan oleh sebuah suara yang lembut dan hangat.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

Pemilik suara itu adalah seorang wanita awal dua puluhan. Rambut hitam berkilaunya dikuncir kuda. Matanya memancarkan keriangan dan kehangatan. Senyumannya terlihat tulus dan menyenangkan. Ia mengenakan apron biru dan kemeja kuning, seragam pegawai mini market tersebut. Di dada kirinya terdapat papan nama bertuliskan “Yamanaka”. Ia terlihat sedikit berisi, mungkin karena pipinya putih merona itu sedikit tembam. Secara keseluruhan, ia bisa dibilang manis. Sejenak Satoshi tertegun. Begitu juga Kenta.

“Apakah susu ini aman untuk bayi di bawah satu tahun?” Itulah kata-kata pertama Satoshi setelah berhasil menguasai diri. Lelaki yang berprofesi sebagai mangaka lepas itu menunjuk sebuah botol ungu-putih berisi susu rasa anggur di genggaman Kenta.

Wanita bermarga Yamanaka itu memperhatikan botol tersebut sambil menyapa Kenta. “Sepertinya bayi belum diperbolehkan,” katanya beberapa saat kemudian, “tapi jangan khawatir. Ada produk susu khusus bayi dengan aneka rasa.” Usai berkata, ia mengajak Kenta berkenalan. Dan tanpa bisa Satoshi duga karena belum pernah terjadi sebelumnya, Kenta mencondongkan badan dan menjulurkan tangan ke wanita itu.

“Wah, kau ingin kugendong?” Wanita itu berseru kegirangan seperti seorang anak kecil yang diajak ke taman hiburan. Ia mengalihkan pandangan ke Satoshi yang berusaha menerka penyebab tingkah ajaib Kenta. “Bolehkah aku menggendongnya?”

“Tentu saja.” Dengan sigap Satoshi membuka tali gendongan dan menyerahkan Kenta.

Satoshi dan wanita itu pun mulai mengobrol tentang cuaca dan Kenta, kemudian disambung dengan basa-basi tentang produk-produk di minimarket tersebut. Setelah merasa kehangatan sudah terjalin, keduanya memperdalam percakapan dengan perkenalan dan tanya jawab singkat soal kehidupan masing-masing. Dari situ Satoshi tahu bahwa wanita itu bernama depan Miko dan masih lajang serta usia mereka terpaut lima tahun saja. Dan selama percakapan itu terjadi, Kenta tampak bahagia. Dan kebahagiaan itu menjalar ke dada Satoshi.

Akan tetapi, kebahagiaan itu terusik selama beberapa detik. Suara sirine ambulan yang lewat di depan mini market membuat Kenta menangis panik. Bocah itu memeluk Miko erat-erat.

“Jangan takut, itu bukan suara monster.” Dengan kelembutan seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya yang gelisah, Miko menepuk-nepuk punggung Kenta.

“Ah, maaf. Ia trauma terhadap suara sirine.”

“Oh, begitu.” Keterangan itu membuat Miko kian simpatik terhadap Kenta. Dan upayanya berhasil menenangkan Kenta beberapa detik kemudian.

Sayangnya, tidak ada kebahagiaan yang berlangsung selamanya. Beberapa bahkan berlangsung terlalu singkat. Dan kebahagiaan yang Kenta alami termasuk jenis yang kedua. Pertemuan mereka pun diakhiri oleh sang manajer mini market yang suaranya lebih mengganggu ketimbang decit roda troli yang rusak.

“Nona Yamanaka, tolong segera ke selasar delapan. Rapikan tumpukan kaleng buah potong yang berantakan.”

“Maaf, aku harus kembali bekerja.” Miko menyerahkan Kenta pada Satoshi. Ia melakukannya dengan berat hati dan Satoshi dan Kenta menerima perpisahan itu dengan sama beratnya pula, terutama Kenta. Mata bocah itu terus terpaku pada punggung Miko dan tangannya terus menggapai-gapai.

Satoshi mengembuskan napas. “Pasti kau menyukainya karena wanita itu mirip ibumu bukan?” Ia mengusap-usap kepala Kenta. “Wajah mereka berdua memang mirip. Dan seandainya sifat keduanya sama, hidupmu tentu sempurna.”

Satoshi berjalan menuju lorong tempat susu khusus bayi berada kemudian mengambil beberapa susu kemasan dengan warna berbeda dan meletakkannya di keranjang belanja. Tepat saat ia hendak memasukkan kardus susu dua ratus gram berwarna ungu ponselnya berdering.

Penelepon Satoshi adalah seorang pria pertengahan tiga puluhan yang tampak kelelahan dan kantung mata kendur. Ia berdiri di luar kamar perawatan sebuah rumah sakit di kota yang sama dengan Satoshi tinggal. “Halo, bagaimana kabar kalian?” tanyanya saat Satoshi menjawab panggilannya.

“Kami baik-baik saja. Kami sedang berbelanja. Bagaimana kabar kalian?” Satoshi menjawab sambil menyerahkan kemasan susu tadi kepada Kenta agar bocah itu diam.

Lelaki itu membuka pintu dan menatap seorang wanita yang berada di ranjang dalam posisi setengah duduk. Ia tertunduk sehingga rambutnya menutupi wajah dan sorot matanya yang memancarkan kesedihan. Di meja kecil di samping wanita itu terhidang makanan. Perutnya berkali-kali berbunyi dan ia belum makan selama dua puluh jam lebih. Namun, ia tampak tidak berselera. Tangan kanannya diinfus sedangkan pergelangan tangan kirinya diperban.

“Baik,” jawab lelaki itu, “dokter bilang, ‘kondisinya membaik dan urat-urat yang putus bisa diperbaiki.’.”

“Baguslah. Apakah kami sudah boleh berkunjung?”

“Soal itu ….” Lelaki itu kembali memandang ke dalam ruangan. ” Kurasa itu bukan ide yang baik untuk saat ini. Dokter bilang, ‘itu bisa membuatnya kembali mengamuk atau membuatnya tertekan karena rasa bersalah lalu melakukan tindakan bodoh itu lagi. Ia juga membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi tubuh dan jiwanya’. Karena itulah aku ingin meminta maaf padamu karena harus merepotkanmu selama beberapa hari lagi.”

“Oh, tidak masalah. Aku tidak merasa direpotkan.” Satoshi tersenyum sambil mengusap-usap kepala Kenta yang masih asyik memainkan kemasan susu dalam genggamannya. “Oh, iya, kurasa aku telah menemukan apa yang bisa membuat Kenta berhenti menangis. Ia menyukai warna-warna terang. Dinding apartemen kalian terlalu suram.”

“Begitukah? Baiklah, aku akan menggantinya.”

“Lalu, satu lagi ….” Satoshi menjeda kalimatnya untuk mengumpulkan keberanian sekaligus menimbang apakah itu waktu yang tepat untuk mengatakannya, “ada baiknya sesekali kau meluangkan waktu untuk–”

“Maafkan aku,” potong lelaki itu, “aku ada urusan penting. Aku harus ke kantor untuk presentasi dengan klien. Kita akan lanjutkan percakapan ini lain kali saja.” Lelaki itu menyudahi panggilan.

Satoshi mengembuskan napas. Namun, begitu melihat wajah Kenta, urat-urat emosi yang sempat bertonjolan di wajahnya saat mendengar kata-kata lelaki itu berangsur mengendur. “Maafkanlah dia. Sejak kecil dia memang begitu. Di kepalanya hanya ada tugas dan belajar. Mungkin itulah yang menyebabkan ibumu melakukan tindakan itu. Kau tahu, terkadang sesekali seorang wanita memerlukan bantuan pria dalam mengasuh anak, terutama ibumu, wanita pemurung yang memiliki anak yang super-aktif. Tapi tenang saja, pamanmu ini akan selalu ada untukmu. Dan aku jamin kau akan senang bersamaku karena kita akan mengajak Miko makan malam. Kau setuju?”

Seolah mengerti, ketika mendengar nama Miko disebut, Kenta tertawa. Keduanya pun menuju selasar delapan.***

14 Februari 2023


Chan, seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Cerpen

Menghafal Wajah

Cerpen Fahrul Rozi 

Ini bermula ketika hujan turun dari pagi sampai petang hari Jumat. Satu warga melapor melihat sosok misterius dengan mata besar berwarna hijau dan mulut selebar kuali menculik anak gadisnya. Warga yang lain melaporkan melihat dewi bersayap hitam dengan rambut pendek—serupa Milda, anak Pak Diman—telah membawa pergi anak gadisnya dan tidak pernah kembali. Yang lain lagi melaporkan melihat lelaki dengan ekor belang berjalan dengan istrinya di malam hari dan ia tidak pernah pulang ke rumah. Semua laporan itu aku tulis di kolom kasus orang hilang. Tidak diragukan lagi. Aku menulis semua laporan tidak masuk akal itu di atas kertas folio.

Saat pulang ke rumah aku berkata pada diriku sendiri bahwa semua laporan yang aku terima hari ini adalah rekayasa biasa. Mereka hanya iseng datang ke kantor polisi untuk membuat laporan palsu. Tapi itu menyelamatkanku dari kebosanan. Jika mereka tidak datang, sudah pasti aku bakal membusuk di kantor polisi.

Aku berhenti di sebuah kedai dekat stasiun. Memesan kopi. Duduk di bawah langit gelap, aku mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Ketika pelayan menaruh cangkir, aku teringat bahwa besok libur. Aku punya banyak waktu malam ini. Besok aku bisa berkunjung ke rumah adikku atau menghabiskan waktu di luar. Menaiki kereta, transit kemudian berhenti di stasiun selanjutnya. Setelah itu berjalan kaki di trotoar. Membeli roti dan duduk di teras toko. Aku tidak sabar menantikan besok.

Selesai menghabiskan kopi aku keluar kedai. Menyusuri jalan pulang. Malam sudah larut, angkutan umum tidak beroperasi jadi aku berjalan kaki di sepanjang jalan gelap. Di gang sekelompok pemuda membentuk lingkaran. Menyembah sebotol alkohol. Berkelakak.

Rumahku gelap, segelap malam ini. Aku membuka pintu dan menghidupkan satu persatu lampu. Melepaskan semua pakaian, memasukkannya ke dalam bak lantas merebahkan diri di atas ranjang. Aku langsung tertidur. Nyenyak sekali. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini dalam hidupku. Aku bermimpi mendengar jeritan perempuan. Ia seperti meminta tolong. Dalam mimpiku, suara itu tiba-tiba lenyap dan berganti suara biola. Aku mendengarkannya dengan saksama. Di mimpiku yang gelap dan hanya gesekan biola yang terdengar, aku bangkit seperti vampir.

Tubuhku tergerak secara naluriah. Berjalan layaknya boneka. Mungkin ini mimpi tapi aku mendengar dengan jelas gesekan biola itu. Aku tidak tahu. Lagi pula membedakan dunia realitas dengan dunia lain merupakan hal yang sulit.

Aku berjalan keluar dari kegelapan. Perempuan dengan kulit kuning sawo tidur di atas bangku. Perempuan itu tidur sangat pulas. Aku tidak tega membangunkannya. Ia tidak terlihat seperti gelandangan yang tinggal di pinggir rel kereta atau gang kecil berbau tengik. Ia memakai gaun hijau dengan rambut hitam sepinggul. Sepatu bot hitam. Mungkin ia jelmaan Nyi Roro Kidul atau semacamnya. Dengan berat hati aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia menggeliat. Matanya terbuka perlahan. Ia berkata sesuatu tapi aku tidak menangkap maksudnya. Setelah ia sadar, aku pergi meninggalkannya. Mimpi yang aneh.

***

Matahari menyembul dari ventilasi kamar. Aroma tanah yang diguyur hujan meruak dari kisi-kisi jendela. Aku bangkit, pergi berjemur di luar rumah. Sebelum menikmati hari libur, aku membersihkan rumah. Pukul 10.21, aku membatalkan niatku karena tiba-tiba hujan mengguyur deras. Memikirkan liburan yang gagal, aku bingung mau melakukan apa. Selama satu jam lebih aku hanya duduk di teras, menyaksikan hujan turun.

Aku kembali ke kamar dan tidur. Hari sudah malam ketika aku bangun. Di luar masih hujan. Pintu rumah diketuk. Pelan. Aku diam. Siapa yang berkunjung di tengah hujan deras begini? Ketukan pintu terulang setelah jeda sejenak. Tetap pelan. Dengan malas aku bangkit dan membukakan pintu. Seorang perempuan, yang sepertinya aku kenal berdiri di depan rumah.

“Akhirnya aku menemukanmu,” lirihnya. Ia melepas jas hujan, menepuk-nepuk pakaiannya. “Aku sudah mencarimu sejak terakhir kita bertemu. Apa aku boleh masuk?”

Dengan ragu-ragu aku memintanya masuk. Ia melihat sekeliling rumah. “Rumah yang bersih,” Aku lupa kapan bertemu dengan perempuan ini. Mungkin sudah bertahun-tahun. Aku mencoba mengingat wajah teman SD, SMP, dan SMA, tapi yang muncul wajah orang hilang.

Perempuan itu duduk di kursi, menciptakan hening. Aku pergi dari keheningan, membuat teh. Usai menyajikan teh aku berdiri tidak jauh darinya. Seperti pengawal putri kerajaan, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Hening kembali. Ia menyeruput teh.

“Mengapa kamu tahu rumahku… dan Siapa namamu?” sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu tenggelam di tengah hujan lebat, dan namanya tidak aku ketahui. Ia berdiri lantas menarik tanganku keluar.

“Kita mau ke mana?” tanyaku di antara deru hujan.

 “Ke tempat teman-teman kita,” katanya dengan suara keras.

Kami berlari di bawah langit hitam. Tangan kami bergandengan seperti kekasih yang melarikan diri dari nasib. Jalanan gelap dan hujan mengguyur tanpa henti. Cahaya berpendar di depan kami. Cahaya yang hangat. Lamat-lamat hujan berhenti. Seorang lelaki berdiri di bawah tiang lampu, berbalut cahaya kuning dia memberi hormat.

“Selamat datang di Big House. Teman-teman sudah menunggu kalian di dalam.”

 “Ayo, masuk,” bisik perempuan itu. Kami masuk ke halaman rumah yang luas. Rumah besar berdiri dengan gagah. Bukan. Itu istana. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Mereka membukakan pintu setelah memberi hormat. Aku diam. Yang ada di depanku sekarang bukan mimpi. Ini benar-benar nyata.

Laki-laki dan perempuan berdansa di bawah sinar lampu. Sementara perempuan bergaun merah duduk mantap di depan piano. Jari lentiknya menari di atas tuts, memainkan Ballade milik Chopin. Seorang perempuan bergaun hitam datang menghampiriku. Ia menarik tanganku ke tengah ruang dansa. Kami berdansa. Sepasang kekasih tersenyum ke arahku. Menjelang permainan pianis berakhir langkah kami melambat dan berhenti. Semua bertepuk tangan. Semua tersenyum bahagia. Perempuan yang membawaku bertanya.

“Apakah kamu menikmatinya?”

Aku mengangguk mantap. “Terima kasih telah mengajakku kemari. Terima kasih banyak,”

“Jika berkenan, tinggalah di sini bersama kami,”

 “Terima kasih, tapi aku ada kerjaan besok. Maaf.”

***

“Bangun Jun.” Seorang berteriak di telingaku. Aku mengenal suara ini. Dia Bagas, atasanku. “Kamu sudah makan siang?”

Aku melihat Bagas berdiri di sampingku. Foto orang hilang berserakan di atas meja kerjaku. Awalnya aku tidak tertarik, tetapi setelah diperhatikan aku pernah bertemu dengan mereka. Sebentar. Beri aku waktu untuk berpikir. Semalam aku tidur, seorang perempuan datang ke rumah lalu ia mengajakku pergi. Kami berlari di tengah hujan, seorang lelaki menyambut di bawah tiang lampu. Seorang perempuan lain mengajakku berdansa, dan setelah itu aku tidak ingat. Aku mengambil secarik foto, melihatnya dengan saksama. Mengambil yang lain. Memeriksanya kembali. Ini sungguh mengejutkan.

“Jun, kamu baik-baik saja? Jangan memaksakan diri, oke.”

Di luar masih hujan. Suara Bagas lenyap. Aku bangkit menepuk bahu Bagas sembari berkata, “aku menemukan mereka. Aku berhasil menemukan mereka, Pak. Mereka tidak jauh dari sini.”

Bagas membelalak serupa sapi. Dia balik menepuk bahuku dan berkata. “Sebaiknya kamu pulang lebih awal lalu istirahat. Aku akan meminta Andi mengurus kasus ini.”**

 Sewon, 18-10-2022


Fahrul Rozi, lahir pada 10 Agustus. Penulis lepas dan buruh tata letak buku. Saat ini tinggal di Jogja. Bisa dihubungi di Instagram @Ojiy__ atau melalui email: [email protected]

Puisi

Puisi Joe Hasan

Puasa 3

orang-orang itu

datang mencari surga

di meja biru

menuju lobang paling hasrat

harum vodka di mejanya

abadi di mataku

dejavu datang tergesa-gesa

klik

aku buka jendela

mengeja suara mereka

pemuda kampung

badan ringkih

yang tidak mencari surga di perut ibu

lalu hening

sementara

saja

pagi aku diserang

bola-bola yang saling memukul

puasa ini

sungguh menguras kesabaran

aku masih sabar

menanti kedatangan perempuan tua

perawan

kita sama-sama mencari

surga yang tidak ke mana-mana

 (Baubau, 2023)


Puasa 6

apa yang mati

tak lagi mati

macet hanya menunaskan sabar

kini tumbuh

berdaun…

berbuah…

malam-malam

aku tidak lagi memetik kutuk

telah sembuh

bibir yang seharian

dengan kata yang super keramat

puasa hampir batal

ah, apa benar

jiwa yang bangun tengah malam

jiwa yang mudah marah

ialah yang dirindui Tuhan

untuk tak lupa Asmaul Husna?

(Baubau, 2023)


Perut Imam

subuh nanti

aku ingin berkelana

di perut imam

memetik doa-doa rapat

membaginya pada anak-anak jalanan

yang kehilangan peluk

dan di sana

kutemukan dusta paling purna

sisa-sisa ayat yang terapal tak berbekas

katanya telah berkali-kali khatam

apa mungkin aku yang tersesat di perutnya?

karena subuh belum sampai di rumah Tuhan

lalu aku berjanji pagi ini

tidak akan berkelana ke mana-mana

selain pada puisi

 (Baubau, 2023)


Puasa Kelima Belas

di rumah tuamu

hujan yang jatuh menjadi tua

tidak seperti biasa

kau meminta bunga sakura

untuk dibagi pada para musafir

tentu tidak gratis

semua letih ada bayaran lebih

tuturmu pada suatu petang

meski pahala dan amal tetap utama

bukankah pahala dan amal mudah terselesaikan

kala bayaran tercukupi sesuai keringat yang keluar

untuk hari kelima belas

permintaan itu tergolong terlambat

tapi kuingat petuah lama

yang masih hidup di segala dinding rumah tua ini

bahwa tak ada kebaikan yang terlambat

dan makin malam

hujan makin redup

redup…

redup…

tinggal ringkih tubuh terbungkus gigil

(Baubau, 2022)


Setiap Menit

setiap menit di pagi hari adalah menantikan

pesan-pesan yang mengudara

aku membunuh suara

lelah menjadi raja dalam rumah

pagi datang buru-buru

ketukan pintu tak ada perasaan lagi

mengejar uang dan begitulah setiap harinya

setiap menit adalah penantian

untuk kubalas lagi tanpa berlama-lama

berjanji bertemu di bawah pohon tomat

biar bekerjalah dulu

aku akan pamit pulang

meneguk izin sanak saudara

begitu pula kau

bukankah waktu tak pernah berlari

hanya kita yang begitu tergesa-gesa

setiap menit adalah menunggu pagi

dan setiap pagi adalah hadirmu

 (Baubau, 2020)


Tubuh Lain

mengaduh pada tubuh lain

seperti dejavu

permintaan 10 tahun lalu

datang menyerempet

tapi tubuh telah menegak

mimpi sudah bertemu tuan

sementara dia masih tidak mau pulang

dan kau kejar lewati puluhan pulau

berkali-kali

aku perlu menyelamatkan aku

yang terlalu lama diam

pada kegelisahan

biarkan kali ini puisi bersuara

meski tetap tak mampu

kepada tubuh lain

yang tidak menanam rindu

tiada lagi pengorbanan

pengalaman cukup memberi tahu segala

aku ingin pergi dengan tidak mengingat pulang

di sana letak segala gelisah

yang sulit mengaduh

saat ini

pada tubuh lain

aku mencatat sejarah sendiri

dengan tinta yang semakin hari

semakin purba

(Baubau, 2022)


Suara Subuh

hanya telinga yang terjaga

diam-diam menyebut asma Tuhan

suara subuh dari jauh

terbang mendekat

mendekap pada embun daun

mengintip lewat jendela telanjang

lalu memaksa masuk

seketika itu

debu-debu yang bertandang

ikut sujud

melunasi rindu

(Baubau, 2020)


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.

Cerpen

Akankah Ajal Mau Berkompromi dengan Rindu?

Cerpen Andri Saptono

Kerinduan kepada anak lanang yang tak tersampaikan menumpukkan kabut di bola mata Sanyoto. Semisal kisah Yakub yang merindukan Yusuf hingga rabun bola matanya[i].

Ya, tahun-tahun belakangan ini anaknya memang jarang sekali pulang. Kecuali, pulang setahun sekali ketika lebaran. Anak lanangnya pulang bersama dua anaknya: laki dan perempuan, serta dua pembantu sekaligus rewang mereka. Jadi mobil itu dipenuhi dengan rewang dan barang bawaan.

Namun yang kadang membuat Sanyoto dan istrinya galau, biasanya anaknya itu juga cepat pergi dari rumahnya. Keluarga putranya itu sekadar transit di rumahnya terus pergi lagi ke villa di Tawangmangu. Di sana mereka berwisata sekaligus ngadem selama seminggu. Sanyoto kadang berkecil hati kalau rumahnya ini tak cukup menyenangkan bagi anak dan terutama cucu-cucunya itu.

Sanyoto tidak tahu mengapa hal ini terjadi pada dirinya dan mengapa anaknya bersikap begitu. Rasanya begitu sedikit sekali waktu anaknya untuk menyinggahi orang tua sendiri.

“Itu karena anakmu terlalu takut dengan istrinya,” kata Paimin, tetangganya.

“Ah, kelihatannya tidak begitu,” bantah Sanyoto.

“Tetapi mengapa cepat sekali pergi, dan manut saja kalau istrinya mengajaknya ke Tawangmangu? Masak singgah di rumah orang tua, cuma maknyuk[ii] saja.”

Sanyoto tak bisa menjawab. Ia jadi terkenang dengan masa-masa dulu ketika anaknya masih tinggal bersama mereka. Anak lelaki semata wayang itu ia besarkan dengan tirakat dan beragam laku prihatin. Dengan kungkum[iii] di tempuran sungai, puasa mutih[iv] dan ngrowot[v] selama tujuh tahun, dengan nyepi ke puncak Lawu. Seorang peziarah di Argo Dalem[vi] pernah menujumkan kalau anaknya akan menjadi tokoh penting di negara ini. Seperti yang sekarang ia ketahui anaknya duduk di parlemen, duduk sebagai anggota DPR yang terhormat. Dikenal  sebagai politikus ulung.

Tetapi, mengapa ia merasa makin tak kenal dengan darah dagingnya itu. Ya, ia tahu wajah itu adalah turunan wajah miliknya. Tubuh itu yang pendek gempal  dan rahang yang kukuh yang sama dirinya. Ia merasa dapat mengenali diri sendiri ketika muda pada sosok anak lanangnya itu. Tetapi selain itu, mengapa ia merasa makin tak kenal? Anak lelakinya Ngadiyo yang ketika SMA masih tinggal bersama dirinya, kemudian ia kuliahkan di Jogja, di salah satu universitas ternama di Kota Pelajar itu. Hingga kemudian ia nikahkan dan ia kontrakan di sebuah rumah kecil karena mereka belum bisa mandiri.

Saat-saat awal anaknya berumah tangga, Sanyoto dan istrinya masih sempat rajin menengok anaknya itu, meskipun sebulan sekali. Membawakan beras, sayur mayur, atau ayam dari desa. Biasanya suplai makanan itu juga cepat habis dimakan bersama dengan teman-teman kuliah anaknya yang sering datang ke kontrakannya itu.

Hal itu tak mengapa bagi Sanyoto. Ia senang anaknya tidak pelit kepada temannya. Tetapi, mengapa sekarang anaknya malah pelit kepada orang tuanya sendiri. Bukan pelit soal harta tapi pelit soal waktu untuk pulang menengok. Menginap satu dua hari saja. Seolah itu perjalanan paling jauh yang akan ditempuh anaknya itu.

Oh, tidak, ia tak pernah bisa puas dengan percakapan di telepon atau sekadar chatingan dengan telepon pintar yang dibelikan anaknya. Adalah istrinya yang biasa menjawab telepon atau membalas pesan dari anaknya yang seminggu sekali masih bertukar kabar.

Juga terkadang ia bertanya sendiri, apakah nasibnya yang dicueki anak sendiri merupakan ganjaran karena ia juga sama menelantarkan kedua orang tuanya dulu? Rasanya hal itu tidak ia lakukan. Ia tinggal nyaris seumur hidup bersama mereka hingga keduanya meninggal. Ia sendiri yang menguburkan mereka berdua, nyelameti[vii] hingga sewunan[viii].

Memang ia sendiri agak pangling[ix] ternyata anaknya berbeda dengan dirinya dan orang di desa, yang kebanyakan petani atau pergi ke pabrik, tetapi anaknya ternyata melampaui orang di desa ini. Menjadi seorang tokoh politik yang terkenal, bahkan mungkin di tingkat internasional. Rasanya mongkog[x] punya anak menjadi pejabat penting. Tetapi, ia merasa tidak siap dengan konsekuensi yang tidak normal itu; kesibukan anaknya yang melalaikan keberadaan orang tuanya sendiri. 

Sebagai kesibukan ia dan istrinya menanam padi dan pelbagai sayur di sawah yang dibelikan anaknya. Di sawah itu Sanyoto membuat sebuah gubug dari bambu. Dengan kesibukan begini mereka merasa tidak akan nglangut di rumah. Pun kalau panen, pisang dan sayuran sering ia bagikan kepada tetangga-tetangganya. Toh, makanan rasanya tak pernah habis di rumah.

***

 “Menurutmu apa kita yang harus ke Jakarta sana, menengok cucu kita lagi, Bu? Kalau anak kita belum ada waktu, biar kita saja yang ke sana. Entahlah, rasanya aku pengin ke sana. Anggap saja ini keinginan terakhirku.”

“Halah, mbok jangan bilang gitu, Pak. Panjenengan baru umur enam puluh tahun.”

“Rasanya itu tak berlaku padaku, Bu.”

Mbok jangan pesimis to, Pak.”

Percakapan itu terjadi malam ini. Ketika mereka akan berbaring di penghujung Rajab.

“Dua bulan lagi, Ramadhan ya bu?”

“Iya, berarti tiga bulan lagi, lebaran.”

“Semoga kita menangi[xi] bulan Ramadhan, ya Bu.”

“Insya Alloh, Pak.”

Suaminya diam. Suasana tambah ngelangut saja di kamar.

“Oh ya, Dio telepon tadi siang. Katanya, selama tiga bulan dia ada safari keliling Indonesia. Tidak bisa mampir,” istrinya bicara.

“Tiga bulan? Artinya lebaran ini tidak bisa mampir?”

“Kira-kira begitu.”

“Duh, kok sibuk banget to.”

Istrinya berbaring duluan. Cepat sekali memejamkan mata. Mungkin karena seharian di sawah. Akan tetapi Sanyoto masih saja sulit memejamkan mata. Hingga, ia bisa memejamkan mata kemudian setelah memantapkan dalam hati, ia akan mengajak istrinya ke Jakarta besok. Ya, besok pagi, hendak ia nyatakan keinginan itu pada istrinya.

****

Istrinya tidak terkejut ketika suaminya dadakan mengajak ke Jakarta pagi itu. Diiyakan saja. Sebab ia tahu keadaan hati suaminya. Betapa lelaki itu ingin sekali melihat anaknya. Karena hanya Ngadiyo itulah anak semata wayangnya. Tapi, siapa sangka anak laki-laki semata wayangnya itu seakan milik menantunya. Ia tahu hal itu tapi tak ingin ia nyatakan kepada suaminya. Takut membuat suaminya tambah terluka.

“Apa ditelepon dulu. Biar mereka persiapan menjemput kita di stasiun, Pak?”

“Kamu aja yang telepon.”

Istrinya mengambil telepon pintar yang mahal itu. Ia menekan nomor kontak anaknya. Tersambung.

“Assalamu’alaikum, Dio… apa kamu sedang sibuk sekarang?”

“Wa’alaikum salam. Tidak Bu. Tapi, masih dinas luar kota. Wonten dhawuh napa?[xii]

“Oalah, ini Bapakmu kangen, ngajak nengok Dodo dan Lusi,”

Istrinya melirik pada suaminya yang cemberut saja disinggung begitu.

“Ya, silakan Bu. Tapi, dalem[xiii] tidak tahu bisa pulang kapan. Jadi mungkin nanti di sana hanya ketemu dengan Ndari dan anak-anak.”

Yo wis. Tak apa. Ini kami berangkat pagi. Tolong nanti ada yang jemput di stasiun ya?”

Nggih[xiv] Bu. Pak Rejo nanti biar yang jemput.”

“Pembantumu itu masih awet to?”

“Iya Bu. Tak kasih gaji dua kali lipat biar dia kerasan.”

Ibunya manggut-manggut. Kemudian pamitan. Telepon ditutup.

“Gimana Pak, jadi berangkat? Ngadiyo masih di Bali sekarang.”

“Ya, jadi berangkat. Nanti kita nginep di sana seminggu. Kunci rumah kamu titipkan kepada Mbakyu Giyem saja.”

Perempuan yang telah menjadi istrinya lebih dari 40 tahun itu tersenyum saja, mengiyakan semua keinginan suaminya. Paham apa yang ada di dalam dada lelakinya.

“Pak, aku mau tanya?”

“Soal apa?”

“Bapak ridha anak kita jadi orang besar seperti sekarang? Bapak, yang rutin tirakat kungkum  setiap malam Jumat. Suka puasa mutih dan ngrowot  selama tujuh tahun biar si Ngadiyo itu jadi sukses, tapi akhirnya jarang pulang menengok kita?”

Lelaki itu terkesiap dengan pertanyaan istrinya. Sejenak ia menghela napas.

 “Kalau mau jujur, sakjane[xv] tidak seperti ini harapanku Bu. Tapi, kalau memang sudah begini pinastine[xvi], mau apa lagi? Ya, semoga saja, anak itu masih menangi jasadku di atas bumi kalau aku mati, Bu.”

Perempuan itu tergugu dengan jawaban suaminya.

Yo wis, ayo mangkat saiki.”[xvii]

Perempuan itu mengangguk. Sendika dhawuh[xviii] dengan perintah suaminya. Seakan perintah suaminya memang harus ia turuti karena begitu rapuh sekali umur mereka. Entah hari ini, atau besok rasanya ajal itu begitu dekat. Sementara tidak ada yang tahu, akankah ajal mau berkompromi dengan rindu?*****


Andri Saptono, tinggal di Karanganyar. Sibuk berbuku dan mengelola penerbitan indie. Sedang menyiapkan novel untuk ulang tahunnya yang ke-40. Alamat surelnya: [email protected].


[i] Kisah Nabi Yakub yang rindu dengan Yusuf yang hilang karena “dibuang” oleh saudara-saudaranya.

[ii] Maknyuk, Jawa, ungkapan superlatif yang maknanya waktu yang sangat singkat.

[iii] Tirakat dengan berendam di sungai pada malam hari, di waktu tertentu. Sungai pun dipilih yang terkenal angker. Misal berendam di sendang atau tempat mata air atau tempuran.

[iv] Puasa dengan berbuka makan nasi putih saja, atau umbi-umbian yang berwarna putih.

[v] Puasa dengan berbuka hanya dengan makan umbi-umbian. Kesemua laku prihatin tersebut menjadi tradisi orang Jawa yang ingin hajat dirinya terkabul.

[vi] Argo Dalem, salah satu dari tiga puncak di Gunung Lawu, Jawa Tengah; yang lainnya ada Argo Dumilah dan Argo Dumuling. Konon merupakan pusat lokasi mistis di pulau Jawa ini.

[vii] Selametan, upacara atau ritual yang maknanya agar arwah leluhur selamat di kehidupannya (alam Barzah).

[viii] Sewunan, bagian dari acara selametan untuk orang meninggal, atau selametan seribu hari.

[ix] Takjub, tidak kenal, lebih dimaksudkan sebagai pujian.

[x] Mongkog, Jawa, bangga, ikut berbesar hati

[xi] Menangi, Jawa, masih bersua baik zahir maupun batin.

[xii] Wonten dhawuh napa? Jawa, terjemah bebasnya ada perintah apa. Tetapi, ini biasa dipakai untuk berbasa-basi dalam budaya Jawa sekaligus menunjukkan ikram (ingin memuliakan kepada orang yang dihadapi, entah karena lebih tua, atasan, atau mungkin orang tua sendiri)

[xiii] Dalem, Jawa, saya (kromo inggil)

[xiv] Nggih, Jawa, ya

[xv] Sakjane, Jawa, seandainya atau inginnya

[xvi] Pinastine, Jawa, takdirnya atau ketetapan di Lauh Mahfuz

[xvii] Jawa, Ya sudah, ayo berangkat sekarang.

[xviii] Sendika dhawuh, Jawa, manut dan menaati perintah

Cerpen

Penembak Penari Sema

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Orhan Fatih menetap di Ankara. Sudah  tiga tahun ia mendirikan toko roti yang laris dikunjungi pembeli. Ia mempekerjakan imigran gelap asal Suriah. Ketika leluhurnya, keturunan Ottoman, diusir Ataturk dari bumi Turki, mereka melakukan pelarian ke Suriah. Mencari perlindungan di Damaskus. Kini, keturunan Ottoman diperkenankan kembali ke Turki, ia memilih tinggal Ankara. Dibawa istri, dan dua anak lelakinya, mencoba peruntungan nasib di Ankara. Beberapa pegawai yang setia—seperti Saad—merupakan imigran gelap dari Damaskus. Mereka memperoleh kehidupan baru di toko roti Orhan Fatih, meskipun kadang bermusuhan dengan penduduk setempat.

Tiap sore Orhan Fatih melihat seorang polisi tua mampir ke toko rotinya. Membeli baklava[1]. Saad menemui polisi tua itu dengan wajah ramah. Kadang mereka berbincang akrab. Orhan Fatih diam-diam selalu memperhatikan keakraban mereka. Ia berharap tidak akan pernah mendapat perseteruan dengan penduduk setempat yang tak menghendaki kehadiran imigran gelap.

Suatu peristiwa menyedihkan tak pernah diduga Orhan Fatih. Terjadi kerusuhan, malam hari, anak-anak muda murka menyerbu dan membakar toko roti. Perkelahian antara karyawan toko roti dengan anak muda setempat telah membangkitkan rasa marah banyak orang. Mereka menyerbu toko roti, membakar, dan menganiaya para imigran gelap. Orhan Fatih tak bisa mencegah beberapa karyawannya terkena amuk, terbakar, dan luka memar kena hajar anak-anak muda.   

Polisi tua itu datang untuk menyelamatkan toko roti yang terbakar dan melindungi beberapa karyawan yang terluka karena pembantaian anak-anak muda. Ia mengusir anak-anak muda yang beringas, termasuk di antaranya Anka, anak sulungnya. Pekerja toko yang terluka diangkut ambulans ke rumah sakit. Orhan Fatih tak meratapi toko rotinya terbakar, tetapi ia lebih memikirkan para pekerja yang terluka.

Setelah peristiwa pembakaran toko roti, Orhan Fatih tak lagi pernah bertemu polisi tua. Ia membangun toko rotinya, dan membuka kembali dengan banyak pelanggan baru yang datang. Tetapi polisi tua itu tak pernah hadir. Orhan Fatih sempat mendengar kisah, polisi tua itu pensiun, dan meninggalkan Ankara. Pensiunan polisi itu tinggal di Konya, bekerja sebagai aparat keamanan di Mevlana Museum. Ia menikmati hidup sebagai darwis, penari sema di Mevlana Cultural Center, pada malam ketika para turis duduk terpaku di gedung pertunjukan itu.

***

Siang itu Orhan Fatih menerima kedatangan pensiunan polisi yang melakukan perjalanan jauh dari Konya ke Ankara, mengendarai sedan tua. Pensiunan polisi masih tampak ramah seperti semula. Tetapi kini wajahnya terlihat sunyi. Pensiunan polisi itu betapa bahagia melihat toko roti kembali ramai dikunjungi para pembeli. Ia mencari-cari Saad, yang dulu selalu menyalami dan mengambilkan baklava kesukaannya.

“Bisa bertemu Saad?” tanya pensiunan polisi, ketika bertemu Orhan Fatih. Pemilik toko roti itu memandanginya sebentar. Tajam dan penuh selidik.

“Ia masih kerja di dalam.”

“Boleh saya bertemu dengannya?”

Orhan Fatih mengantar pensiunan polisi itu ke dapur. Saad tengah membuat adonan roti dengan wajah menunduk, dan mengabaikan kehadiran pensiunan polisi. Ketika punggungnya tegak, memandang pensiunan polisi itu, segera menyalaminya. Kening dan pelipis kanan Saad menampakkan bekas luka. Tetapi tetap tampak tampan wajahnya.

“Mau kau ikut aku ke Konya?” tanya pensiunan polisi itu serius. “Aku selalu merasa bersalah, tak bisa melindungimu dari serangan anak-anak muda yang marah sampai menyerang dan membakar toko roti.”

Lama Saad memandangi pensiunan polisi itu. “Kalau saya ikut ke Konya, apa yang bisa saya kerjakan?”

“Kau bisa bekerja di Mevlana Museum,” balas pensiunan polisi. “Kita akan bersama-sama menari sema. Sesekali kita pentas di Mevlana Cultural Center.”

“Biar saya pikirkan dulu,” kata Saad, tak ingin menolak permintaan pensiunan polisi. Orhan Fatih memandangi Saad. Ia ingin memastikan, apakah lelaki imigran gelap itu akan meninggalkannya atau tetap bersamanya di toko roti. Teman-teman Saad memilih meninggalkan toko roti, mencari pekerjaan lain, takut bila kembali diserang anak-anak muda yang tak suka pada mereka.

Pensiunan polisi itu meninggalkan toko roti dengan harapan Saad akan menyusulnya tinggal di Konya. Orhan Fatih mulai cemas dengan kebimbangan Saad, yang kadang ditampakkannya saat merenung seorang diri. Ia tak ingin kehilangan Saad. Dulu leluhurnya berada di Damaskus senantiasa dilindungi leluhur Saad turun-temurun. Ketika Orhan Fatih berpamitan hendak kembali ke Turki, ayah Saad sempat berpesan, “Aku titip anak bungsuku, Saad, agar tetap hidup bersamamu. Anak lelakiku yang sulung sudah meninggal dalam pertempuran sebagai pemberontak. Aku tak mau Saad juga ikut mati di medan perang. Berangkatlah lebih dulu ke Turki. Tiba waktunya nanti biar Saad menyusulmu. Kau akan tinggal di mana? Ankara? Baik. Saad akan mencarimu di kota itu. Sering-seringlah memberi kabar pada kami di sini.”

Orhan Fatih merasa tak bisa melindungi Saad, ketika pemuda itu benar-benar pamit padanya, untuk mengikuti pensiunan polisi ke Konya. “Saya mau kerja di Mevlana Museum. Saya ingin menjadi penari sema.”

“Baiklah. Aku akan menengokmu sesekali,” kata Orhan Fatih, tak tega melepas Saad. Ia teringat pesan ayah pemuda itu. Tetapi ia merasa tak mungkin menguasai jiwa pemuda itu. Saad boleh memilih kehidupannya sendiri. Ia ingin menjadi penari sema. Pensiunan  polisi itu memang memiliki daya tarik yang luar biasa.

Orhan Fatih melepas Saad meninggalkan Ankara dengan menumpang bis ke Konya. Ia  mulai mencemaskan pemuda itu. Ia teringat akan anak lelaki pensiunan polisi, Anka, yang menyusup diam-diam dalam penyerangan dan pembakaran toko roti. Anka tidak pernah ditangkap, apalagi diadili. Ia bebas berkeliaran. Orhan Fatih mulai mencemaskan kelakuan anak lelaki pensiunan polisi itu. Ia tak ingin kebencian Anka pada Saad terus membara sampai saat ini.

***

Mimpi mengenai penembakan Anka terhadap Saad di pelataran Mevlana Cultural Center  menggelisahkan Orhan Fatih. Mimpi itu sangat jelas, seperti bakal terjadi. Anka mengarahkan senapan berburu untuk menghabisi Saad dengan perangai bengis. Pagi harinya Orhan Fatih berpamitan pada istri dan kedua anaknya, mengendarai mobil menuju Konya. Ia belum pernah melakukan ziarah ke makam Rumi. Sejak kecil di Damaskus, ia mendengar kisah kebesaran Rumi, tarian sema dan Mevlana Museum yang selalu dikunjungi para peziarah. Ia juga ingin menonton pertunjukan tari sema di Mevlana Cultural Center, satu kilometer sebelah timur Mevlana Museum. Laju mobilnya melewati hamparan padang-padang tandus sepanjang jalan. Ia mencapai Konya siang hari, dan bertemu Saad yang sedang membersihkan taman di Mevlana Museum. Saad tampak rajin seperti ketika bekerja di toko roti, dan tak banyak mengeluh.

Wajah Saad tampak sangat bahagia melihat kedatangan Orhan Fatih.  

“Kau tak ingin kembali kerja padaku?” tanya Orhan Fatih, yang selalu tampak ramah. “Aku akan mudah melindungimu, bila kau bekerja di toko roti.”

“Saya sangat bahagia tinggal di kota ini,” tukas Saad, “bisa menari sema di Mevlana Cultural Center.”

Kembali terlintas dalam benak Orhan Fatih akan mimpinya semalam: Anka menembak Saad dengan senapan berburu, pada  senyap malam, di pelataran Mevlana Cultural Center. Orhan Fatih sempat singgah di apartemen Saad sebelum berangkat ke Mevlana Cultural Center dan menonton pertunjukan tari sema. Ia juga melihat pensiunan polisi turut serta menari sema dengan iringan tabla[2], flute, dan baglama[3]. Orhan Fatih sempat terlupa akan mimpinya saat pertunjukan tari sema itu dipergelarkan. Tetapi saat malam turun, dan lelaki pemilik toko roti itu mengantarkan Saad kembali ke apartemen, di pelataran Mevlana Cultural Center, ia kembali teringat akan mimpi penembakan yang dilakukan Anka. Ia cemas, mencari-cari sosok tubuh Anka yang  berkelebat di pelataran Mevlana Cultural Center. Ia melihat sosok itu sedang membidikkan senapan berburu ke tubuh Saad. Ia menutup pandangan Anka agar tak tepat membidik ke arah tubuh Saad. “Kau mesti meneruskan keturunan keluarga, seperti harapan ayahmu,” kata Orhan Fatih.

Ledakan senapan berburu itu sangat mengejutkan. Orhan Fatih melindungi tubuh Saad dari bidikan Anka. Peluru melukai bahu kanan Orhan Fatih. Lelaki setengah baya itu tergeletak.. Gaduh. Saad berlutut di sisi tubuh Orhan Fatih. Terdengar suara langkah kaki orang berderap meringkus Anka, yang melakukan perlawanan saat ditangkap. Betapa gugup pensiunan polisi itu memanggil ambulans untuk mengantar tubuh Orhan Fatih ke rumah sakit, “Maafkan aku! Mengapa kebencian anakku tak terkendali serupa ini?”***

                                                                                                             Konya, Turki, Juli 2022

                                                                                                 Pandana Merdeka, Maret 2023

[1] makanan ringan terdiri dari kacang walnut yang dicincang diberi pemanis dan dibungkus adonan roti tipis.

[2] instrumen musik perkusi tradisional

[3] instrumen musik yang dipetik, kecapi berleher panjang. 


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).