Cerpen

Yin dan Yang

Cerpen Romi Afriadi

“Dari sekian banyak pelacur yang aku tiduri, kamu jelas spesial bagiku.”

“Jangan bilang kau jatuh cinta padaku, seorang pelacur tak berhak untuk menaruh hati pada lelaki, apalagi pelanggannya.”

“Bukan, tapi aku menemukan ketenangan kala memandang matamu.”

“Omong kosong macam apa itu. Lekas lucuti pakaianmu, lalu tunaikan hasratmu. Aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan gombalanmu.”

Percakapan itu terjadi pada saat pertemuan ketiga kita. Malam itu kau tak hendak menjamahku, bahkan saat aku sudah membuka kancing baju.

“Kali ini aku hanya ingin menemuimu untuk bercerita bukan bercinta,” ujarmu.

“Kau kira aku ini psikiater?” Aku berseru galak, kesal bukan main pada sikapmu.

Namun pada akhirnya memang tak terjadi apa-apa di antara kita malam itu. Kau berubah dari seorang lelaki penjelajah vagina sebagaimana di malam pertama kita berkenalan menjadi lelaki sendu. Hilang semua seringai nakal dan wajah memerah penuh kenikmatan saat pertemuan kedua kau begitu bergairah di ranjang.

“Bodo amat dengan ceritamu, aku bekerja di sini bukan untuk mendengar itu.” Aku masih protes.

“Aku akan membayarmu sesuai tarifmu kencan dengan lelaki lain, bukankah yang terpenting bagimu adalah uang.”

Malam itu, kau menjadi seorang pencerita. Sedangkan aku meski mendengarkan, meski awalnya tidak suka.

***

Hujan masih deras turun dari langit, dari balik bilik wisma remang yang bersiap menanti tamu asing dari tempat-tempat jauh, aku bisa menatap di luar, sepanjang gang basah di mana-mana. Di seberang jalan, sebuah warung milik lelaki tua sedang melayani dua pemuda yang sepertinya membeli rokok. Di sampingnya ada warung menjajakan makanan. Tak banyak perubahan di sana, kecuali tidak adanya belasan pelacur yang hilir mudik menghiasi jalanan, menggoda dan mengajak lelaki mana pun untuk singgah.

“Mia, lebih baik kita turun ke bawah mencari mangsa.”

Sherly mengerling kepadaku. Aku melirik jam, tertera angka 22:37, masih terlampau dini untuk ukuran dunia hiburan. Tapi aku tetap membuntuti Sherly yang melenggang mendahuluiku.

Di bawah, alunan musik sudah mulai mengentak, belum ramai betul. Aku memilih duduk di sofa, mencoba menggoda seorang pria berkemeja panjang yang lewat. Dengan harap cemas, aku menunggu pelanggan di situ. Berapakah pria hidung belang yang akan aku ladeni malam ini? Aku hanya berharap Tuhan berbaik hati dengan mengirimkan banyak lelaki berduit yang tidak pelit. Dan semoga Tuhan tak bosan mendengar permintaan seorang hina sepertiku. Terlepas apakah semua doaku akan ditolak, aku tetap tak punya jalan selain mengirimkan doa kepada-Nya. Sebab, dalam kamus kehidupanku tak ada yang pasti, mungkin akan ada puluhan laki-laki, atau hanya hitungan sebelah jari yang menghampiri.

Barangkali yang datang seorang pemuda tampan, seorang eksekutif muda yang sedang mencari kesenangan tersebab istrinya yang sibuk. Pejabat yang sedang terlibat jual beli jabatan, pria paruh baya yang penisnya akan layu dalam dua kali genjotan. Tapi peduli setan, bagiku yang terpenting cuma uang. Toh, semua lelaki yang tiba sama-sama mencari selangkangan.

“Brengsek!” desahku kesal. Sambil kembali mengisap rokok, aku mengedarkan pandang ke berbagai penjuru.

Jam sebelas malam telah lewat seperempat menit, tapi belum ada satu pun pelanggan yang berhasil aku gaet. Apakah malam ini aku sial? Padahal biasanya aku sudah menuntaskan hasrat tiga pria, paling buruk, setidaknya dapat satu pelanggan.

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

“Boleh saya temenin, Mbak.”

Dalam suasana itulah kau muncul memberi pengharapan. Aku menatapmu yang sedang cengengesan. Diawali tatapan kaget, karena wajahmu masih sangat anak-anak bagiku. Tapi di kamar, kau menunjukkan keahlian yang seharusnya belum dimiliki lelaki seusiamu. Kau buas, memangsa setiap jengkal tubuhku dengan dengus napas yang memburu.

Dua hari berikutnya, kau kembali datang. Bahkan mem-bookingku lebih lama. Malam itu aku senang sekali, sebab tak harus mengangkang untuk banyak lelaki namun mendapatkan uang yang cukup. Lewat kamu, pertama kali aku merasakan sensasi kenikmatan yang berbeda. Apakah aku menyukaimu? Aku buru-buru menghapus itu dari daftar kemungkinan. Kau anak orang terhormat, aku seorang yang nista. Mungkin karena itulah kau memanggilku dengan sebutan Yin, lalu kau menyebut dirimu Yang. Aku melambangkan kegelapan, sedangkan kau kecerahan. Meski bagimu, Yin dan Yang memiliki arti yang berbeda.

***

“Mulai saat ini aku akan memanggilmu Yin, sebaliknya sebut saja aku Yang.”

“Aku tak paham maksudmu.”

“Yin dan Yang itu pertanda keserasian hubungan seksual antara lelaki dan perempuan, keduanya saling melengkapi. Setiap ada Yin pasti ada Yang, begitu pun sebaliknya,” katamu.

Belakangan aku tahu dari sebuah artikel, bahwa itu mitos Cina tentang seksualitas yang muncul pada abad IV sebelum Masehi.

Sejak kunjungan ketiga itu, pertemuan kita selalu diawali dengan bercerita sebelum bercinta. Tentang ayahmu yang merupakan pejabat tinggi negeri ini, tapi tak pernah kau sukai. Bahkan beberapa kali kau berterus terang ingin membunuhnya.

“Dia hanya memberiku banyak uang, bukan kasih sayang.”

Maka, setiap pertemuan aku terus menyiapkan diri terlebih dahulu mendengar curahanmu yang membuatku sakit kepala, sebelum kau mengakhiri dengan kembali merampok selangkanganku.

Aku melihat banyak keanehan dalam dirimu. Setiap berhubungan, kau selalu ingin berada di posisi atas, dan aku selalu di bawah. “Yang harus berada di atas, karena dia laki-laki,” ucapmu. Mana peduli seorang pelacur dengan aturan semacam itu. Di hari lain, kau juga menjuluki alat kelaminku dengan nama Teratai Emas. Aku kembali mencari tahu, itu ternyata juga sebutan dalam teks Cina klasik.

Seiring keanehan itu, kelihaianmu di atas ranjang kian menjadi. Kau menunjukkan kepadaku berbagai posisi bercinta yang tak pernah aku bayangkan kendati aku bersanggama dengan puluhan lelaki hampir tiap malam. Dan kau selalu memberi nama yang tak lazim terkait gaya bercinta kita.

Tapi setelah percumbuan kita yang membara entah pada pertemuan ke berapa. Kau tak lagi berkunjung, jejakmu menghilang, walau aku menunggumu sampai malam terakhir sebelum tempat ini tutup di bulan Ramadan. Lalu aku sadar mulai merindukanmu.

***

Sepanjang Ramadan aku terus memikirkanmu. Aku menjalani kehidupan normal layaknya manusia biasa di bulan suci itu. Siang hari aku puasa, malamnya aku tarawih lalu menyambung dengan tadarus. Tidak ada orang di kampung ini yang mengetahui pekerjaanku, makanya aku bersikap seperti pada umumnya. Berharap Ramadan bisa sedikit membasuh kesalahanku yang menggunung. Sebelum pada waktu-waktu mendatang, aku kembali bergelimang dosa.

Namun aku menyadari, ingatan tentangmu selalu mengusik batok kepalaku, meski aku selalu berusaha mengusir tanpa jeda. Berbagai prasangka juga berkembang biak dalam pikiranku.

“Aku tak akan senang, jika ayahku tidak celaka di tanganku.” Terngiang lagi ceritamu.

“Jangan begitu, bagaimana pun ia tetap ayahmu.”

“Kau tidak tahu betapa bejatnya ayahku. Dia punya istri simpanan di mana-mana, dia jelas melukai ibu. Kadang, jika pulang, dia membawa perempuan-perempuan muda itu dan memasukkannya ke kamar.”

“Bukan ayahmu saja pejabat yang seperti itu, mereka punya uang banyak, punya kekuasaan, segalanya,” jawabku.

Apakah kau sekarang berhasil membunuh ayahmu? Lalu polisi meringkusmu dan mendekapmu dalam penjara? Aku sekarang malah berharap Hari Raya Idul Fitri cepat tiba, dan aku akan menunggumu lagi di tempat biasa kita bertemu.

Tujuh hari pasca lebaran, masa itu datang juga. Pagi sekali aku sudah berkemas, memasukkan pakaian dengan tergesa. Aku senang sekaligus gamang. Gerimis malah turun satu-satu saat aku mulai melangkah menuju jalan kampung sembari menunggu sepupu yang akan mengantarkanku ke terminal kecamatan. Tapi langkahku terhenti saat sebuah mobil sedan menerobos jalanan dan berhenti persis di depan rumah. Aku terkejut, lebih-lebih orang yang datang itu adalah kamu.

“Aku sekarang bukan lagi anak ayahku. Aku sudah memutuskan hubungan apa pun dengannya. Mulai sekarang, apa kau ingin hidup denganku, Yin? Tinggalkan pekerjaan itu, kita bisa mulai semuanya dari bawah.”

Bibirku terkatup, tak tahu harus bercakap apa.

“Mia…, Apakah ada tamu?” Dari dalam rumah, suara ibu menggema.***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November 1991. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah dimuat di media online dan cetak. Beberapa lainnya juga terpilih dalam Antologi, di antaranya: Antologi cerpen #di rumah aja Apajake, Antologi cerpen Rumah Kayu Pustaka, Antologi cerpen genreSosio-Religi Unsa Press, dan Antologi cerpen Mbludus.com. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung. Bisa dihubungi lewat email: [email protected], akun Facebook Romie Afriadhy.

Cerpen

Kabar dari Jauh

Cerpen Jeli Manalu

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Hari-hari berlalu setelahnya. Musim juga berganti. Pepohonan menggugurkan daun, tumbuh lagi dan gugur lagi. Saat Natal tiba, Salomo pulang dari perantauan dan Anggoni yang tinggal di kampung menyambutnya dengan hati gembira. Tetapi malam itu satu peristiwa menegangkan terjadi. Salomo anak paling tua. Empat bulan lagi usianya genap tiga puluh enam tahun. Dua saudari mereka telah lebih dahulu berumahtangga, dan masing-masing sudah memiliki keturunan. Anggoni sendiri anak bungsu, tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dan orangtua sang perempuan acap kali menyuruh anak gadisnya menanyakan Anggoni kapan akan mempersunting putri mereka.

“Menikahlah, Abang,” satu kalimat yang terlontar pelan namun memantul seperti bola keras di kepala Salomo—itu perkataan dari adik kesayangannya, Anggoni, yang kemudian menyebabkan sebuah ledakan di rongga dada Salomo.

Malam itu, di tengah rapat keluarga serta bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara tampak indah bercahaya, Salomo tertunduk memandangi pusaran kopi hitam di bagian atas cangkir. Ia berpikir apakah ke dalam gelas kopinya ia perlu menambahkan satu sendok gula lagi, atau sesekali perlu memvariasikannya dengan krimer kental manis—supaya hidup sedikit lebih manis? Ah ya, belum sempat Salomo memutuskan yang mana dari keduanya, Anggoni bicara lagi, “Kupikir sudah waktunya Abang berumahtangga.”

Dengan bibir bergetar Salomo menjawab bila sampai hari itu juga, belum ada perempuan yang mau diajak hidup bersamanya.

“Aku tak percaya. Abang itu ganteng, tidak perokok, tidak peminum, rajin pula ke gereja. Pokoknya, menikahlah Abang.”

Salomo membisu, tidak tahu dengan cara apa lagi dirinya menjelaskan kenyataan itu.

“Soal dana, kubantu pun nanti. Abang jangan khawatir,” Anggoni melanjutkan kata-kata yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya, meski saat itu, ia tidak menjelaskan tentang dana yang dimaksud adalah dua ekor anak lembu yang sudah ia beli dan rawat dua tahun.

Mendengar Anggoni menyinggung soal uang, Salomo kian geram. Ia merasa adiknya itu bukan saja mendesaknya perihal menikah tetapi sudah sampai pada tahap merendahkan dirinya soal mata pencaharian. Lantas, Salomo menyarankan adiknya itu agar berhenti mengusik hatinya dengan lebih baik mengurus kehidupan masing-masing saja. Dan di hadapan segelas kopi yang belum ditambahkan apakah gula atau krimer kental manis serta di sudut rumah bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara bersinar indah Salomo meninggalkan rapat keluarga. Ia menemui kegelapan malam agar tak seorang pun melihat betapa sakit dirinya, lalu esok harinya ia pergi padahal semua orang seharusnya berkumpul untuk bergembira bersama.

Pada perjalanan sendu yang entah ke mana arahnya kali itu, Salomo terus mengutuki nasib. Ia ingat kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus. Gara-gara ditolak gadis pada masa SMA, ia jadi siswa yang tak bisa diatur. Ia memakan uang SPP dan suka cabut dari kelas. Kata orang yang pernah melihatnya hingga melapor ke guru mengatakan, ia jadi preman di sekitaran toko dan berlagak sebagai juru parkir atau tukang pungut uang kebersihan. Saat mendapat surat panggilan dari sekolah hingga terancam tak bisa mengikuti ujian akhir karena tidak membayar SPP, ibunya panik namun berupaya mencari jalan keluar dengan menjual dua karung buah kopi tanpa sepengetahuan bapak.

Sepanjang merantau dan menjadi orang baik, Salomo sering memikirkan bagaimana kelak ia akan menikah. Ia mulai rajin bertanya tentang besaran sinamot (mahar) untuk anak gadis orang yang profesinya sebagai perawat. Ia pun makin sering menghadiri berbagai undangan adat yang datang padanya. Ragam serta kualitas ulos juga ia pelajari: mana buatan pabrik dan mana hasil tenunan. Ia merasa seandainya kelak menemukan jodoh, dirinya yang sudah merantau lama dan konon di telinga orang bekerja di sebuah perusahaan asing itu kurang pantas saja bila pernikahannya dirayakan terlalu biasa—ia tidak ingin masyarakat sekampung bicara macam-macam ke depannya.

Pernah persiapannya mencapai tujuh puluh persen. Tanpa ada firasat Salomo mendapati hatinya teriris. Mulanya ia menghadiri satu undangan dari kerabat. Di sana, di acara yang dihadirinya itu, ia saksikan kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain. Kekasihnya merangkul erat tangan lelaki lain itu. Dilihatnya lelaki lain itu masih kalah ganteng ketimbang dirinya. Apa kurangku, apa salahku?—ia bertanya pada hati yang lebam.Kata-kata makian sempat terlontar dari bibirnya.Hampir saja ia melayang untuk membanting tubuh lelaki lain itu namun apa daya, si perempuan, toh tak menjadikannya sebagai pusat tujuan.

Saat begitu galau, ia rajin menulis status di facebook. Banyak akun menaruh simpati akan keadaannya, termasuk adiknya, Anggoni mengirim emoji mata yang menangis. Di sisi lain, waktu itu, Salomo tidak tahu kalau Anggoni sebetulnya sudah tak sabar menunggu Salomo supaya menikah secepatnya, agar abangnya itu jangan pula ia langkahi sebagaimana dilakukan dua saudari mereka—Anggoni cemas seandainya itu ia lakukan maka dalam bayangannya Salomo bisa-bisa bernasib sial, yakni tidak mendapatkan jodoh sampai ubanan, dan Anggoni, tak ingin itu terjadi. Ia ingin Salomo bahagia selamanya. Akan tetapi Salomo tidak mengerti hutan hati Anggoni, adik kesayangannya itu. Ia tidak tahu bila Anggoni sudah merasa terdesak agar segera mengakhiri masa lajang. Ia tidak tahu Anggoni berada dalam kegelisahan yang apabila terlalu lama menunda untuk melamar, gadis pujaannya dikhawatirkan malah diembat orang—ada satu teman Anggoni ditinggal menikah sang pacar karena merasa digantung meski alasan temannya itu jelas, yakni menyelesaikan studi di luar negeri yang bersisa tak lebih dari sepuluh bulan.

Sejak rapat keluarga ketika pulang merayakan Natal di kampung yang membuat keduanya sama-sama terluka itu, setahun lamanya Salomo dan Anggoni saling menghindar. Tidak menelepon dan tidak saling berkirim pesan. Suatu hari sewaktu Salomo mengaktifkan lagi aplikasi messenger-nya, ada pesan yang mengakibatkan perasaannya sulit untuk didefinisikan. Pesan itu sudah dua tahun dikirim, pesan ketika dirinya masih akur-akurnya dengan Anggoni, pesan ketika ia belum putus cinta dengan perempuan yang berprofesi sebagai perawat, pesan yang tidak tahu bagaimana itu bisa lolos dari perhatian Salomo.

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayanganku untuk membeli dua ekor anak lembu, supaya ketika mereka besar nanti, bisa kita pergunakan untuk lauk daging pada masing-masing pesta pernikahan kita. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Salomo menyesal. Bibirnya bergetar menyadari kebaikan hati sang adik yang ternyata telah menyiapkan banyak untuk pernikahan mereka kelak. Ia menyesali pertengkaran yang tak menghasilkan apapun itu. Seandainya waktu itu ia tidak langsung tersinggung. Seandainya ia membiarkan adiknya mengutarakan maksud terlebih dahulu, sehingga ia paham akan orangtua kekasih dari adiknya sudah mendesak Anggoni supaya menikahi putri mereka. Salomo kini bersedih. Dalam pikirkannya sekarang hanyalah memperbaiki hubungan dengan sang adik, lebih tepatnya ia merestui Anggoni agar menikah lebih dahulu.

“Halo. Bapak?”

“Ya, aku.”

“Bagaimana kabar Anggoni?”

“Kau tidak tahu kabar?”

“Kabar? Kabar apa?”

“Sudah berapa lama kau tidak mau bicara dengannya?”

Salomo diam, menebak apa yang sedang terjadi.

“Kalian berkelahi lagi, kan?”

“Sudah lama ia tidak meneleponku.”

“Kalau ia tak meneleponmu, kaulah yang meneleponnya.”

Salomo tersentak dengan ponsel yang masih menempel di telinga, belum pernah ia dengar suara bapak ketus begitu. Biasanya bapak senang bercanda. Kali ini bapak terkesan menyerang seakan Salomo sudah melakukan kesalahan yang amat fatal.

Salomo lalu membuka facebook dan mencari nama Anggoni yang sudah sempat ia unfollow itu. Ia gulir ke bawah, ketemu foto adiknya. Posisinya duduk. Kedua tangan beserta dahi bertumpu di lutut. Pose dalam foto itu diambil dari samping. Dibuat gambar lembu sebagai bingkainya. Di bagian tengahnya terdapat tulisan. Salomo men-zoom-in supaya bisa membacanya.

Suatu pagi, aku begitu bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan menolong orang yang lagi kesusahan. Ada yang menggedor-gedor pintu mencari lembu untuk dimasak di sebuah pesta sebab ia tahu aku memiliki apa yang mereka butuhkan. Dua orang yang datang pagi itu tampak begitu memelas. Wajahnya tak tega untuk kutolak. Mereka menawariku dengan harga satu setengah kali lipat atas dua ekor lembuku. Kata mereka, hewan yang mereka persiapkan mendadak pingsan lalu mati dalam perjalanan. Aku pun memenuhi permintaan mereka, mengira seandainya hal serupa menimpaku menjelang pesta pernikahanku kelak—bila itu terjadi, seseorang mungkin sudi membantu karena aku sudah terlebih dahulu melakukanya. Sehari kemudian, setelah daging lembu itu dimasak lalu diantarkan kepadaku sebagai ucapan terima kasih dan aku memakannya begitu lahap karena masakan itu sangat enak, aku baru tahu kalau yang menikah itu ternyata calon istriku.***

Riau, 2017-2020


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu tahun 2018.

Cerpen

Caraphernelia

Cerpen Fina Lanahdiana dan Zahratul Wahdati

“Selamat pagi!”

Dave mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri. Tangannya menyentuh baju, wajah, serta tas jinjingnya seolah-olah sedang memastikan tidak ada yang kurang atau pun tertinggal. Dia tersenyum kepada seekor kucing berwarna abu-abu gelap bermotif seperti pusaran gelombang berwarna hitam di salah satu sisi tubuhnya. Bagian kiri. Sekilas hampir tak tampak pemandangan itu jika tidak diamati dalam jarak dekat dan selekat-lekatnya. Kucing itu sedang duduk begitu saja di taman kecil halaman rumahnya. Tampak malas meskipun ia berada di dekat kolam dengan hiasan batu-batu di bagian tepi, tempat bagi para ikan koi menyambungkan napas hidupnya. 

“Kau tidak boleh nakal ya, Joni!”

Dia mengatakan kalimat itu seperti sedang menasihati anaknya sendiri. Tentu saja Dave tahu, belum pernah ada kucing yang menolak diberi ikan-ikan.

Sesekali matanya memandangi arloji bundar yang melingkari lengannya, “Masih pukul 05.45.”

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Sekitar dua puluh menit selanjutnya, dia sudah sampai di peron. Menunggu kereta yang akan membawanya pergi ke sebuah tempat yang telah membawa lari hati dan pikirannya yang dipenuhi bayang-bayang. Tempat itu seolah seseorang yang mengulurkan tangan ketika Dave sedang jatuh-jatuhnya.

Di peron itu, dia hanya berdiri sendiri, tak ada penumpang lain yang menunggu. Tiba-tiba dia berpikir: Bagaimana jika ternyata kereta yang kau tunggu tidak akan membawamu kembali? Tetapi pikiran itu hanya selintas dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Itu hanya ada dalam dongeng, batinnya.

Tetapi ia begitu heran. “Apa yang sedang terjadi dengan kota ini?”

Dia tak pernah benar-benar yakin sebelumnya dengan apa-apa yang berjalan di atas bumi. Segalanya berjalan normal dan tak mesti diperdebatkan. Lalu lalang orang-orang, lalu lintas yang selalu dipenuhi suara klakson di garis-garis lampu merah, anak-anak berseragam bergegas pergi dan pulang sekolah, remaja tanggung yang memainkan gitar dari angkutan umum satu ke angkutan umum lainnya, pedagang asongan, sepasang muda-mudi yang bertengkar di kafe-kafe ternama, dan hal-hal lain yang selama ini luput ia amati dengan serius.  Tiba-tiba saja kota ini teramat sunyi. Sunyi sekali.

Berkali-kali dia memastikan. Apakah ini mimpi? Tapi ini pasti bukan mimpi. Tidak ada satpam, petugas pemeriksa tiket, tidak ada suara yang memberikan informasi, bahkan tidak ada petugas yang mengatur jalannya kereta.

Dave mengamati tiketnya. Tiket berwarna kuning kecokelatan itu menjelaskan dia harus naik gerbong 5 dan duduk di bangku nomor 21 A.

Meskipun sebenarnya terlampau banyak pertanyaan yang melayang-layang di kepala, dia harus tetap bergegas untuk segera sampai ke kantornya, di sebuah gedung surat kabar lokal yang di dalamnya dia bekerja sebagai wartawan. Menjadi wartawan bukanlah cita-cita yang pernah dia harapkan. Tapi selanjutnya semesta begitu saja menariknya seperti dia tersedot begitu saja, sehingga pada akhirnya mau atau pun tidak mau, harus menyukainya. Dan mungkin memang bisa dikatakan dia telah mencintai pekerjaannya karena telah terlampau terbiasa.

Mulutnya menggumamkan 21 A berulang-ulang seperti sedang merapal mantra. Tak lama dia menemukan gerbong yang dicarinya dan dia segera duduk. Meskipun masih sambil memikirkan dugaan-dugaan kenapa kota ini seperti telah mati atau mungkin seluruh penduduknya telah berpindah tempat ke planet lain yang dipercaya sebagai pengganti bumi yang telah berusia sangat tua, rapuh, dan sakit-sakitan.

“Apakah kereta ini akan tetap berjalan bahkan jika tak ada penumpang-penumpang lain yang biasanya begitu berdesakan? Atau yang terjadi justru sebaliknya, bahwa dia harus menunggu dan menunggu dan menunggu, seperti yang terjadi dalam cerita Alan Lightman dalam wujud sebuah mimpi yang dialami Einstein,Di dalam dunia di mana waktu tidak bisa diukir, tak akan dijumpai jam, kalender, atau pun janji pertemuan yang pasti. Satu kegiatan didahului oleh kegiatan lain, bukan berdasar waktu …

Sepersekian detik selanjutnya, segalanya di luar kendali akal sehatnya. “Apakah ini hutan? Ataukah aku salah menumpang kereta?”

Sebagaimana sebuah mimpi yang cenderung acak dan absurd, pohon-pohon seolah tiba-tiba tumbuh dari bawah kereta. Seperti akar-akar yang bergerak cepat. Menempel di lantai, dinding-dinding hingga menyentuh atap kereta. Segalanya menjadi berwarna hijau. Warna yang sejuk. Seperti embun sisa pagi hari sebelum matahari memunculkan dirinya di awang-awang di atas bumi.

Lalu burung-burung bernyanyi, seperti siulan seorang lelaki yang sedang menggoda gadis yang membuatnya ingin tertarik. Jika hal ini terjadi di dalam hutan sungguhan ketika dia sedang mendaki, adalah hal yang menenangkan dan menyenangkan. Tapi, di sebuah kereta? Lantas dia kehilangan kata-kata apa pun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Kehilangan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya.

Ini rimba. Kereta ini berisi rimba. Suara hewan rimba menyamarkan deru roda kereta yang beradu cium dengan rel. Tapi walaupun terdengar samar, Dave tahu kereta ini sudah mulai bergerak.

Meninggalkan peron. Menjauhkannya dari Joni dan ikan koi yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, dan semua hal yang biasa dia sapa setiap hari.

Dave mengucek lagi matanya, tapi rimba di kereta itu malah makin lebat. Ditatap tiketnya, tulisan di tiket sudah berubah, entah sejak kapan, tujuannya bukan ke kota tempat kantornya ada. Tetapi sebuah kota yang tidak ada di jalur kereta. Kota itu bernama Mayapada.

Dia melongok ke belakang dan ke depan, ke barisan kursi kosong di depannya, yang tertutupi semua dengan akar dan daun.

Rasa penasarannya tak kunjung habis. Dia memutuskan untuk berjalan sepanjang gerbong. Beberapa kali terdengar bunyi kriuk ranting patah. Ini bukan lagi sesuatu yang bisa dianggapnya sebuah candaan. Ingin rasanya berteriak, lalu menampar pipi kanan dan kirinya, mencubit lengannya berkali-kali hingga lebam. Segalanya tampak terlalu nyata.

 Suara burung-burung semakin nyaring dan dia tetap tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Hutan itu meluas, lapang, seperti bukan di dalam sebuah kereta. Pengamatannya tidak ingin sekali pun berpaling, dan segalanya tetap berjalan melampaui apa-apa yang sanggup ditampungnya. Juga langit-langit yang membentuk jalan-jalan kecil dari bayangan pohon-pohon yang menjulang. Batas itu kian tak ada. Baik dinding atau atap kereta, segalanya kini lenyap.

Dia ingat sesuatu di kantongnya. Sebuah ponsel. Tangannya meraih dengan susah payah sebab tangannya sedikit bergetar. Ia tak ingat harus menghubungi siapa, tetapi kemudian yang pertama kali muncul adalah ingatan tentang atasannya.

Panggilan itu terhubung dan dia demikian penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Kira-kira, akan seperti apa reaksi atasannya?

“Halo?”

Terdengar suara dari seberang.

“Aku … Maaf …”

Dave kehilangan kata-kata.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku tersesat …”

Dia mendengus kesal dan begitu mengharap pertolongan.

“Tersesat apa? Kau sedang mengajakku bercanda? Setiap hari kau pergi bekerja dan tak pernah ada masalah lalu tiba-tiba kau bilang dirimu tersesat? Konyol sekali, Dave. Jika kau sedang sakit, kau hanya perlu mengatakannya. Tak perlu mengarang cerita fiktif.”

“Tidak. Aku benar-benar tersesat.”

Lalu sambungan suara itu terputus dengan sendirinya.

Dave mengumpat. Mencoba menelepon atasannya kembali tetapi tidak terhubung. Sinyal penuh. Baterai masih empat garis. Pulsa masih tersisa 119 ribu. Mungkin ponsel atasannya mati. Jadi dia mencoba menelepon teman kantornya yang lain. Terhubung. Ahura.

“Halo, aku tersesat. Mungkin aku salah naik kereta. Tolong bilang ke atasan bahwa aku akan sangat terlambat. Dan kau harus tahu, di sini segalanya menjadi tak masuk akal, tidak ada orang sama sekali. Sunyi.”

“Dave, kau tahu kerjaanku banyak. Jangan main-main.”

“Sumpah! Kau dengar suara burung, kan? kereta yang kunaiki isinya rimba raya dan tak seorang pun bisa aku ajak bicara …”

“Gila, kau!”

Lalu sambungan suara itu terputus, kali ini Dave yakin, teman kantornya ini yang menekan gagang telepon warna merah.

Drrrttt … drrrttt … Suara itu membuat Dave terpelanting ke belakang. Suara rem. Kereta berhenti. Saat ia berusaha keras untuk beranjak dari duduknya, pemandangan itu lenyap dari hadapannya, hutan itu dengan pohon-pohon yang menaunginya. Seperti amblas. Pohon-pohon itu bergerak kembali masuk ke tanah.

“Apa lagi ini? Aku hampir saja dibuat gila.”

Dia ingin keluar, tapi pintu kereta tidak terbuka. Di luar tampak stasiun kecil, tempat singgah sementara, ada seorang nenek duduk memandang ke arah kereta.

Mata nenek itu mirip senja, indah namun sebentar lagi tenggelam dan lenyap. Begitu yang dirasakan Dave. Dave mengamati nenek itu, berteriak pun tidak akan dengar, tidak mungkin juga seorang nenek membantunya keluar dari kereta ini. Tiba-tiba ingatannya memilih sebuah perasaan terluka dan memasangnya ke dalam kepalanya. Seperti seorang perempuan yang sedang mengepas baju di depan cermin.

Kereta bergerak kembali. Hutan itu tumbuh kembali dari lantai gerbong, semakin lebat, dan hanya ada ruang kosong tempat bisa dia duduki, tempat duduknya. Beruntung tak satu pun tanaman-tanaman itu mencekik lehernya. Meskipun tanpa dicekik juga dia sudah kesulitan mengatur napas.

Dave mengingat nenek itu. Nenek itu pernah berada di dalam pelukannya, dan 14 hari kemudian, nenek itu berubah jadi senja yang tenggelam.

Hutan di dalam kereta itu makin lebat, lampu-lampu kereta tertutup, hingga gerbong itu gelap.

Dia mendengar namanya dipanggil, “Dave! Dave!”

Suara itu dari luar kereta. Suara neneknya. Dia coba berlari ke arah kaca jendela, memandang ke belakang, pohon-pohon di tepi rel seperti sedang berlari memunggungi kereta yang ditumpanginya. Namun seperti sebelum keretanya berhenti di stasiun kecil, pemandangan yang semula dialaminya kembali terjadi. Dia kurang suka situasi ini, karena itu membuat kepalanya berisik sekali.

Selain neneknya, perlahan tapi pasti, pemandangan itu kian nyata. Zora, Qui, Dante, Globe, Alofe, Koa, itu adalah sebagian teman-temannya dari masa yang jauh. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka harus bertemu dalam situasi yang tidak tepat ini. Kilasan-kilasan peristiwa merambat seperti kaki laba-laba yang tengah membangun rumah jaringnya. Sedangkan dia adalah mangsa yang kelak terjebak di antaranya.

Situasi yang seolah-olah sengaja menjebaknya. Dia terduduk sambil berusaha keras mengatur ritme napasnya. Sekali lagi, dia mengingat ponsel di kantongnya. Kali ini ia benar-benar merasa butuh bantuan.

Jari-jarinya lincah menekan angka. Tapi tak satu pun bisa dia hubungi. Dipandanginya layar kotak yang sensitif terhadap sentuhan itu, segalanya telah lenyap dari sana. Tak ada tanda-tanda ponselnya terhubung dengan jaringan apa pun. Dia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Tapi menjadi seorang lelaki tak mengizinkannya untuk mudah menangis. Tidak satu pun bisa dia lakukan, kecuali bahwa dia hanya mampu berbicara kepada dirinya sendiri.***

Kendal-Pemalang, Maret 2020


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Zahratul Wahdati, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Randudongkal.

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Cerpen Ken Hanggara

Ingin kuakhiri semuanya hari ini. Kota sudah terlalu busuk. Udara tak lagi nyaman kuhirup. Anjing-anjing yang menemaniku sudah kulepas ke tangan para pencinta satwa. Rumahku sudah dimiliki sejumlah gelandangan terbusuk di Kalodora. Tak ada keluarga, tak ada teman atau sahabat. Bahkan beberapa wanita yang sempat menemaniku selama belasan tahun terakhir kini entah di mana. Aku tak yakin mereka masih mengingat sosok lelaki kaya raya kesepian yang memutuskan tak pernah memiliki anak sampai mati ini. Itulah yang membuat mereka kabur satu per satu; mereka berharap menimang anak dari percintaan atau pernikahan kami, sedang aku menolak kehidupan seperti itu.

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Melihat situasi taman pusat Kota Kalodora yang nyaris tak pernah ramai ini, tiba- tiba membuatku ingin menangis. Bukan demi penyesalan, tapi demi keinginan yang tak pernah orang-orang pahami.

Maka, aku menangis. Di sebuah kursi besi panjang, aku menangis selama kira-kira sepuluh menit. Tak seorang pun tahu. Mungkin hanya malaikat dan setan sajalah yang tahu bagaimana aku menangis sebelum mengakhiri semua ini. Mungkin juga tidak ada yang tahu sampai beberapa hari kemudian bahwa aku berada di sini, memutuskan untuk selesai dari hidup ini di sini, hingga jasadku membusuk dan orang-orang baru akan menyadari itu jikapun ada yang melintas di bagian tenggara taman yang paling sering dijauhi karena terlalu senyap. Mungkin butuh waktu sebulan untuk menemukan jasadku, tapi apa pun itu aku tak peduli.

Namun, aku tak cukup yakin sudah berhasil ‘menghilangkan’ diri sejak tadi malam, meski kubuang identitas dan jejak yang membuat seisi kota, bahkan kaum gelandangan yang sehari-hari tak ada kesempatan menonton TV atau membaca berita tentang diriku di koran lokal, tak akan menemukanku.

Aku tak yakin tak ada seorang pun yang bertanya-tanya kenapa seorang lelaki tenar macam diriku berkeliaran di taman kota, di bagian yang paling senyap, seorang diri pula? Apa yang membuat lelaki itu berpakaian apa adanya, malah cenderung mendekati gaya gelandangan? Apa juga yang membuatnya menyerahkan rumah terbaiknya ke sejumlah gelandangan?

Para gelandangan itu mungkin sempat bertanya-tanya siapa aku, tapi aku tak ingin menjawab, dan pada akhirnya mereka bakal tahu juga setelah membongkar setiap sudut dari rumahku, lantas menemukan foto-foto, piagam dan piala, potongan berita tentang kisah suksesku, berbagai skandal, dan lain-lain.

Jejak-jejakku masih tertinggal di rumah, dan karena itu, menunda kematian kurasa akan jauh lebih baik ketimbang orang kota menemukan jasadku dan headline hari yang sial itu berbunyi: Ali Mudakir, pengusaha tersukses di Kalodora, ditemukan mati bunuh diri di bagian tersenyap dari taman kota setelah dengan sengaja meninggalkan seluruh hartanya untuk para gelandangan.

Itu bukan sesuatu yang kudamba. Orang-orang yang dulu pernah menjadi keluarga dan temanku pasti akan sangat terganggu.

Aku berharap sebuah kedamaian untuk akhir yang buruk ini. Aku mau tak seorang pun menyadari diriku saat sudah menjadi jasad nanti. Aku harap sebagian besar tubuhku bisa berguna untuk beberapa mahasiswa di sebuah fakultas kedokteran, di dalam ruang praktik di mana jasad-jasad tanpa identitas diotopsi demi ilmu pengetahuan, sekalipun mungkin sebagian diriku akan membusuk.

Maka, sisa hari itu kuhabiskan dengan berjalan lebih jauh, menuju pinggiran Kota Kalodora, menelusuri bagian-bagian sunyi dan kemungkinan jarang dilalui orang paling tidak hingga beberapa hari ke depan. Waktu itu hari sudah cukup gelap dan aku berjalan tak terlalu jauh dari jalan utama, tapi wajahku tetap terlindungi oleh kegelapan sebab di kawasan tersebut, lampu-lampu jalan banyak yang tidak berfungsi.

Pernah dulu terjadi perampokan di area sini. Seorang pegawai salah satu bioskop terbaik di Kalodora ditemukan berbaring melingkar bagai udang di kotak sampah dan mungkin saja saat ini lokasi tersebut tak terlalu jauh dariku. Aku pasti tak salah tebak. Kawasan ini memang sepi. Rumah-rumah kosong dibiarkan telantar, dan hanya dihuni beberapa orang gila dan orang liar yang tak tepat disebut gelandangan, melainkan lebih cocok menyandang gelar para pengganggu keamanan. Konon mereka datang dari kota sebelah yang sebagian besar hancur total karena kerusuhan beberapa tahun lalu, dan kini kehidupan di kota tersebut jauh lebih buruk ketimbang kesialan yang sehari-hari ditelan oleh orang-orang termiskin di Kalodora. Bisa dibayangkan seliar apa orang-orang itu jika turun, beraksi merampok, atau memalak orang-orang di jalanan. Bisa dibayangkan nyawa para mangsa tak bakal ada artinya demi kebahagiaan memiliki uang dan hidup bersenang-senang seminggu ke depan untuk mereka.

Tiba-tiba aku memikirkan gagasan itu; mati sebagai korban perampokan dari kaum liar ini, lalu jasadku dibuang, hingga ‘hilang’ dari dunia paling tidak sampai tiga atau empat minggu ke depan. Apa mungkin?

Namun, para pembegal pastilah memilih siapa yang layak menjadi korban, dan aku jelas bukan korban yang menggiurkan, sebab yang kubawa hanyalah pakaian lusuh yang tadi pagi masih dikenakan salah satu gelandangan yang kini kubiarkan menguasai tiap sudut rumahku.

Aku harus melakukan sesuatu untuk memancing orang-orang liar itu ke luar sarang. Mungkin kini mereka mengintai dari balik lorong-lorong gelap di antara rumah-rumah yang lama tidak disambangi pemiliknya sebab sebagian besar dari mereka mati dalam kecelakaan di pabrik bir. Para buruh di pabrik itu tewas dalam kebakaran yang dahsyat beberapa tahun lalu dan kini rumah mereka tak ada yang memiliki, kecuali orang-orang gila dan para begal itu.

Mereka mungkin hanya melihatku sebagai orang gila, atau gelandangan biasa yang tersesat, dan tidak cukup menarik untuk digasak. Demi tewas dengan cara seburuk itu, demi mati sebagai mayat tanpa identitas, aku pancing mereka. Dengan keras kukatakan, “Kalian mau uang dan emas? Ayo, keluar dan bunuh saya!”

Tak seorang pun merespons. Tetap sepi dan hanya terdengar bisik-bisik gerutuan di beberapa rumah: orang-orang gila yang terganggu tidurnya. Kembali kuucap tawaran, tapi tak seorang pun muncul.

Mereka baru tergoda setelah kutampakkan wajahku ke bawah sinar lampu jalanan. Mereka tentu tak sepenuhnya tahu siapa aku, tapi wajahku bukan ciri orang-orang yang lama hidup di jalanan. Mereka dengan sabar mendengarkan sejumlah arahan dariku jika nanti sudah menghabisiku dan menyembunyikan mayatku. Kusampaikan mereka bakal menjemput kekayaan di rumah—di alamat yang kutulis untuk mereka. Tentu alamat itu bukan alamat rumahku. Itu tak lebih alamat palsu sebab jika kutunjukkan rumahku, mati yang kualami bukan lagi mati yang rahasia. Bukankah aku mengharapkan berakhir dan tak seorang pun menyadarinya?

“Bagaimana kami yakin kau tidak bohong?” tanya seseorang dari balik kegelapan.

“Apa gunanya saya berbohong, sedang saya benar-benar bosan hidup?”

“Apa buktinya kau memiliki uang dan emas?”

Tanpa berkata-kata, kulempar sesuatu yang lupa kulepaskan sejak pergi dari rumah mewahku: sebuah arloji emas.

Demikianlah, mereka menghabisiku malam itu. Mayatku dibuang ke suatu selokan di pinggir kota, ditemukan dua hari kemudian oleh sopir taksi yang sedang kencing. Tak ada yang perlu dicemaskan tentang alamat palsu itu. Alamat itu tidak lebih dari sebuah tanah kosong di bagian utara kota, tempat dulu, dua puluh tahun lalu, aku bercinta untuk kali pertama dengan kekasihku yang tidak sudi melanjutkan hubungan kami sebab aku tak pernah berharap memiliki anak.

Aku ingat apa yang kekasih itu katakan usai kami bersetubuh malam itu, “Kamu pasti bisa menjadi ayah yang baik. Tak perlu takut memiliki anak.”

Aku hanya menjawab, “Oh, mustahil. Aku tak akan bisa menjadi ayah yang baik.” ***

Gempol, 14 April-15 Desember 2020


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Museum Anomali 2: Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerpen terbarunya: Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Cerpen

Klub Pemakan Daging

Cerpen Adam Yudhistira

Hellena menyandarkan bahu ke jendela, kedua tangannya bersidekap, kepalanya melongok ke taman yang ada di seberang apartemen. Di bawah rimbun pepohonan willow, seorang pria paruh baya berkacamata hitam sedang berdiri. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat dan tampak sedang linglung. Melihat penampilannya, Hellena menyimpulkan bahwa pria itu pastilah tuna netra. Nalurinya berkata bahwa pria itu sedang membutuhkan bantuannya.

Pria itu berdiri di sebelah kiri patung malaikat granit setinggi 2 meter. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mengikuti suara-suara di sekitarnya; deru mesin-mesin kendaraan, langkah orang-orang yang hilir-mudik, gaduh peralatan logam kuli jalan yang membongkar jalur drainase, dan dua orang yang berbincang santai satu sama lain di atas bangku taman.

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.

Pria itu merogoh kantong kemejanya tepat saat sebuah sedan melintas. Angin yang ditinggalkan sedan tadi menerbangkan bongkahan-bongkahan kerikil serta menghujani orang-orang dengan debu, tak terkecuali pria yang sedang diperhatikan Hellena.

“Dasar pengemudi tolol!”

Gadis berambut pirang itu mengumpat. Sedan tadi terus melesat dan lekas menghilang. Orang-orang yang terkena sapuan kerikil dan debu tampak bersungut-sungut. Pria buta itu masih berdiri di tempatnya, terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah.

Hellena menyambar blazer di atas ranjang, lalu bergegas keluar kamar. Ia berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga, bahkan tak sempat mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu menutup pelan dan meninggalkan derit engsel yang terdengar mirip cericit tikus kesakitan.

***

Hampir sepuluh menit Hellena mendengarkan pria itu bercerita. Ia mengatakan sedang menunggu bantuan seseorang untuk mengantar sepucuk surat ke alamat yang tertera di amplop putih yang tadi melayang dan nyaris terjatuh ke dalam got. Berkat Hellena, sekarang amplop itu telah kembali berada di tangannya.

Mendengar cerita itu, hati Hellena berderak retak, namun dengan cepat menyatu kembali. “Aku akan menolongmu,” katanya sambil memegang lengan pria buta itu. “Berikan surat itu padaku. Aku akan mengantarnya.”

“Terima kasih. Tapi saya tak ingin membuang waktumu.”

“Tak apa,” jawab Hellena tulus. “Aku senang bisa membantu.”

Hellena tiba-tiba merasa sangat sedih ketika membayangkan menjadi pria buta itu. Membayangkan matanya berubah menjadi sepasang bola tak berguna. Menyeberangi jalan raya yang penuh kendaraan seperti ini pasti sesulit melintasi Samudera Atlantik dengan perahu. Kalau nasib sial, ia mungkin akan tertabrak, lalu patah tulang belakang dan lumpuh. Membayangkan semua itu, Hellena bergidik ngeri.

Beberapa bulan terakhir, Hellena memiliki semacam hubungan timbal-balik yang reflektif dengan Tuhan. Ayahnya meninggal, ia dipecat dari pekerjaan, teman dan kekasihnya menjauh, dan entah bagaimana membuat ia berpikir bahwa masalah-masalah berat yang menimpanya itu lantaran ia tak cukup berbuat baik pada sesama.

Hellena ingin membangun reputasi baik di mata orang-orang. Ingatan tentang ayahnya dan masalah-masalah yang tak kunjung selesai itu telah berhasil mencambuknya. Ia memutuskan akan memulainya sedikit demi sedikit. Hal pertama adalah dengan menolong pria buta di hadapannya.

“Boleh aku melihat surat itu lagi?” tanya Hellena. “Aku ingin melihat alamat tujuannya.”

Pria buta itu menyodorkan amplop ke depan, tapi Hellena tegak di sampingnya, membuat arah sodorannya keliru. Tapi dengan cepat gadis itu mengambilnya, lalu membaca alamat yang tertera; Cadbury Resto, Second Avenue.

“Aku tahu tempat ini,” kata Hellena tersenyum lebar. “Serahkan saja padaku. Aku akan mengantarnya dan kujamin surat ini akan tiba di alamatnya.”

“Terima kasih, terima kasih.” Pria buta itu membungkuk hormat. “Akhirnya Tuhan mengirim malaikat untuk menolongku.”

Hellena menepuk-nepuk pundak pria itu. Setelah berbincang-bincang sesaat, ia pun meninggalkannya. Hellena keluar dari taman kota dengan perasaan gembira, karena merasa telah melakukan perbuatan yang berguna.

Separuh perjalanan, gadis itu tiba-tiba berhenti. Ia berpikir, pria buta tadi pasti kesulitan mencari jalan pulang. Seharusnya ia mengantarnya pulang lebih dulu, setelah itu baru mengantarkan surat. Sambil melangkah berbalik arah, Hellena menepuk keningnya, menyadari kebodohannya. Namun setelah kembali, pria yang dicarinya sudah tak ada.

“Cepat sekali,” gumam Hellena terheran-heran.

Hellena berjalan mengikuti trotoar yang mengarah ke pusat kota. Lima menit berselang, ia melihat pria itu berjalan membelah kerumunan, berjejalan dengan orang-orang di halte yang sedang menunggu bus jemputan. Hellena menerobos kerumunan itu dengan susah payah. Sebuah teriakan keras membuat pria buta itu menoleh dan Hellena terkesima.

Pria buta itu dengan tangkas berlari di tengah kerumunan. Tanpa kaca mata dan tanpa tongkat penuntunnya. Hellena hanya bisa mengawasi dari kejauhan, tepat sebelum ia merasa yakin, pria buta itu baru saja menipunya.

“Brengsek!” umpat Hellena kesal.

***

“Tidak seperti biasanya, ya, Jhon?” Seorang pria berkuncir penuh lagak dari Unit Laporan Kejahatan berdiri di samping polisi muda yang baru saja menerima laporan Hellena. “Biasanya kaugalak sekali jika pelapor tidak sedap dipandang.”

“Menyingkirlah, Bung!”

Hellena merasa jengah mendengar perbincangan kurang ajar itu, tapi ia menahan diri untuk tidak mengumpat. “Jadi, apakah kalian akan menindaklanjuti laporanku atau tidak?” tanyanya dengan perasaan muak.

“Tentu saja,” jawab polisi muda yang duduk di belakang monitor. Pria berkuncir tadi sudah menjauh sambil terkekeh-kekeh. “Tapi keterangan Anda belum lengkap.”

“Memangnya apa lagi? Anda telah mendapatkan semua keterangan dariku. Tidakkah itu cukup?”

“Maaf, Nona, bukan Anda yang menentukan cukup atau tidak.” Polisi itu berkata dengan nada tinggi. “Kami memiliki prosedur sebelum menindaklanjuti laporan. Jawab saja pertanyaannya. Hei, Nona? Bisakah Anda berkonsentrasi?”

Perhatian Hellena memang teralihkan beberapa saat. Di meja lain, seorang perempuan paruh baya sedang menangis. Seorang pria berdiri di belakang perempuan itu sambil memijat bahunya. Hellena menduga, pria itu adalah suaminya. Dari perkataan mereka, Hellena memahami penyebab perempuan itu menangis. Anak bungsunya hilang.

Dengan tersendat-sendat, perempuan itu menjelaskan akivitas-aktivitas dan ciri-ciri anaknya. Ia berkata bahwa anaknya berumur 13 tahun dan bersekolah di St. Christoper. Setengah meratap, perempuan itu memuji-muji bahwa anaknya adalah anak yang baik dan berhati lembut. Ia tidak pantas disakiti. Polisi yang memproses laporan itu mengangguk-angguk.

“Nona?”

“Ah, ya. Maaf… “ Hellena tersadar dan kembali menatap polisi yang sedang mengolah laporannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kukira kau bisa memulai dari awal.” Polisi itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi malas yang kentara. “Ceritalah dan aku akan memprosesnya.”

“Aku menduga pria itu berencana melakukan sesuatu yang jahat.”

“Apakah Anda yakin?”

“Tentu saja aku yakin. Ia baru saja menipuku,” sergah Hellena memasang wajah masam. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam kantung rok dan menaruhnya di atas meja. “Ia memberiku ini. Kupikir, Anda bisa memeriksanya atau mencari alamat yang tertera di sana untuk memastikan dugaanku.”

Polisi muda itu membuka amplop yang diberikan Hellena. Di dalamnya, ada secarik kertas. Keningnya mengernyit dan membuat Hellena penasaran. Polisi itu membaca dengan keras sebaris kalimat ganjil yang membuat kening Hellena mengerut.

***

Hellena menemukan restoran tua itu di Second Avenue. Tempat sederhana dengan papan nama bertuliskan Cadbury Resto dari jalinan neon merah di atas pintu masuk. Di ruangan dalam terdapat beberapa pasang meja dan kursi yang berwarna putih kusam. Toples permen mint berbaris rapi bersama gelas-gelas kopi dengan hiasan pilar-pilar gaya Yunani. Lantainya ditutupi karpet hijau mulus. Pada etalase kaca yang berada di dekat rak kayu tertera tulisan Iga Sapi Panggang Harga 8,95$.

Hellena masuk dengan jantung berdebar. Sebuah pisau steik berkilauan di atas meja. Hellena mengambilnya cepat-cepat saat bergegas menuju toilet. Bagaimana pun, gunting kuku tak akan cukup untuk melindungi diri jika sesuatu yang buruk terjadi.

Gadis itu datang sendiri, sebab polisi yang tadi menerima laporannya lebih tertarik melirik blazer berbelahan dada rendah yang dikenakannya, ketimbang menindaklanjuti laporannya.

Hellena mencuci tangan dua kali dengan sabun merah muda beraroma mawar, lalu keluar dan berusaha bersikap biasa saja. Restoran itu sepi. Hanya ada seorang pelayan pria berwajah seperti tirai merosot yang sedang berkonsentrasi mengisi botol saus yang isinya setengah kosong. Hellena melihat peluang itu dan mengendap-endap menuju ruang belakang.

Ketika Hellena membuka pintu ruangan itu, ia menemukan tiga orang sedang menetak potongan-potongan daging di atas meja beton bermarmer. Di antara tumpukan-tumpukan daging itu, yang paling mengerikan adalah onggokan kepala dan potongan kaki milik anak kecil.

Perut Hellena bersiap untuk meledak dan kepalanya terasa sakit luar biasa. Tiba-tiba gadis itu teringat tangisan perempuan paruh baya di kantor polisi yang sedang mencari anak bungsunya, lalu rasa takut hebat mencengkeram dadanya. Ia meraba saku untuk mencari pisau, tapi pisau itu entah di mana. Ia cuma menemukan amplop putih yang menjadi alasannya datang ke restoran itu.

Ini kiriman daging segar terakhirku minggu ini. Selamat menikmati. Tertanda, Sam, anggota Klub Pemakan Daging.’

Usai membaca tulisan di secarik kertas di dalam amplop itu, lidah Hellena tercekat. Ia tak sanggup bersuara, sesuatu seolah menggumpal di tenggorokannya. Hellena berpikir untuk keluar dari restoran itu dan melarikan diri. Tapi tepat saat pikiran itu muncul, sesuatu yang keras menghantam tengkuknya, membuat pandangannya gelap dan sekujur tubuhnya mati rasa.***


Adam Yudhistira, bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga berbahagia mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita.

Cerpen

Dewi Sri

Cerpen Rizka Umami

Malam itu aku membantu ibumu lahiran. Saat semua orang memaksa bapakmu membawa Dewi Sri ke bidan desa atau rumah sakit, ibumu justru ngotot lebih percaya padaku, dukun bayi yang selama ini hanya punya bekal titen.

Jika semua selamat, seharusnya kamu anak kelima yang lahir dari rahim Dewi. Meski dalam hitungan orang-orang, kini kalian lebih familier dengan sebutan empat serangkai. Orang-orang pastinya tidak tahu apa yang akan aku katakan ini.

Sekarang aku ingin membayar utang cerita yang sempat tersendat tempo hari. Yang harusnya jadi anak keempat bukan kamu, karena sebelum kamu lahir sebenarnya ibumu sempat hamil. Sayangnya di usia dua bulan janin itu mati di perut ibumu. Jadilah kamu anak keempat.

Ketika kamu akan lahir, sore itu bapakmu menggedor-gedor pagar rumahku. Ia minta aku segera bersiap-siap. Aku hanya diberi waktu kurang dari 10 menit untuk mengambil beberapa jarik dan perlengkapan seperlunya. Setelah aku keluar dan mengunci pintu rumah, buru-buru bapakmu menarik lenganku, lalu kami melesat.

Jam lima sore, ibumu sudah buka tiga. Ada yang aneh, selain ibumu mengeluarkan banyak darah seperti orang haid, darah itu bergumpal-gumpal merah-hitam. Pekat.

Waktu magrib yang kala itu tiba pukul enam lebih sedikit, aku membantumu keluar dari perut Dewi. Memang tidak sulit, tapi yang membuat orang-orang di sekeliling bapakmu takut, karena kamu keluar bersama darah pekat itu, baunya anyir segar.

“Apa yang bapak lakukan waktu sadar banyak darah yang dikeluarkan ibu, Mbok?”

Aku tidak sempat memperhatikan ekspresi bapakmu. Tapi aku yakin dia orang yang paling tidak siap dengan semua itu. Tidak siap dengan kelahiranmu dan tidak siap menerima rasa sakit yang dialami ibumu.

“Sebentar, Mbok. Bagaimana orang-orang juga tahu kalau aku lahir bersama darah yang tak lazim itu?”

Aku yang waktu itu membantu ibumu berbaring di lantai ubin kamar tengah, tanpa alas apapun. Lantai ubin yang dingin itu rupanya letaknya lebih tinggi dan hal itu mendorong darah yang keluar dari liang ibumu mengalir ke segala arah, ke tempat paling rendah, bahkan sampai ke luar dari pintu kamar tengah.

Oh iya, kamu sengaja dilahirkan di senthong tengah sesuai permintaan ibumu. Sebab baginya senthong itu jadi tempat ibumu menghabiskan waktu sembahyang dan bertemu dengan Sang Hyang Asri, Dewi yang dihormatinya sepanjang hayat.

Aku salut saat pertama kali mendapat cerita dari mbah putrimu, soal ibumu yang di zaman modern seperti ini masih menaruh setia pada inangnya kesuburan, Dewi Sri, yang dianggap sebagai pengendali kehidupan, mengatur rezeki agar selalu cukup.

Jadi wajar jika kemudian seluruh isi rumahmu menaruh hormat pada ibumu, Dewi Sri. Sebab berkat kesetiannya itu, keluarga besarmu tidak pernah satu kali pun mengalami gagal panen, apalagi sampai kelaparan.

“Apa itu juga sebabnya namaku sama seperti nama ibu?”

Begitulah. Ibumu dan kelahiranmu adalah dua simbol yang tidak bisa kami maknai secara utuh. Jauh sebelum ibumu mengandung anak pertama, mbah putrimu sempat mendatangiku, bahkan beberapa kali hanya untuk menceritakan perihal mimpinya yang sama. Tahu kamu apa yang dimimpikan mbah putrimu? Dia memimpikan kelahiranmu.

Benar, Nduk. Jadi apa yang kulakukan saat menolong kelahiranmu, semacam sudah diramalkan mbah putrimu sendiri. Dan selang sepersekian menit setelah aku membersihkan bekas darah di tubuhmu, semilir angin berkesiur, seperti memberi bisikan, bahwa Dewi Sri telah melahirkan Dewi Sri. Ibumu telah melahirkanmu, Dewi Sri yang baru.

“Tapi kenapa beberapa orang menyebutku telah melenyapkan ibu?”

Orang-orang yang melihat aliran darah pekat keluar dari kamarmu pastinya ketakutan. Aku saja ngeri jika tidak melihat sorot mata ibumu yang menandakan semuanya baik-baik saja. Kukira wajar jika perkara darah yang membersamaimu dianggap sebagai pertanda buruk.

Tapi percayalah, Nduk. Anggapan itu akan berangsur lepas pesat sampai nantinya kamu tidak akan mendengarnya lagi. Seperti yang kukatakan berulang kali, kamu bukan penyebab dari apa-apa yang tidak kamu lakukan. Termasuk perkara hidup mati ibumu. Bukankah tiap-tiap kita memang sudah semestinya berawal dan berakhir? Begitu juga ibumu, dan aku atau kamu juga akan berakhir nanti, suatu hari.

Dewi Sri itu, selain dimaknai sebagai penguasa kelahiran dan kesuburan, ia juga mengendalikan kemiskinan dan bencana, memengaruhi kematian. Semua tergantung pemaknaan. Jadi  kuingatkan lagi. Kelahiranmu mesti bisa kamu maknai sendiri. Titenono! Kabeh perkoro mesti biso dititeni. Ada pola yang suatu saat bisa kamu baca dan pahami. Karena itu, Nduk… berhentilah menyalahkan kehadiranmu di bumi Tuhan ini. Semua akan baik-baik saja. Kecuali jika kamu tidak mau menghilangkan anggapanmu itu, bisa jadi kamu telah membiarkan petaka akan benar-benar hadir dalam kehidupanmu.***


Rizka Hidayatul Umami. Kelahiran Tulungagung, 28 Juni. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan dan anak. Bisa disapa via IG: @morfo_biru, Twitter: @morfo_biru, Fb: Tacin

Cerpen

Di Kedai Nori

Cerpen Jeli Manalu

Tampak awan sedang turun. Tak lama setelahnya, gerimis seukuran biji sawi yang berlapis-lapis, jatuh dan melayang membasahi ujung meja. Tuan Am, begitu Nori menyebutnya, menggeser duduk ke bagian dalam kedai. Ia paham gerimis seperti itu. Meski tidak selalu menjadi hujan deras, namun durasi yang panjang sering membuat jalan tanah bercampur batu menuju stasi di pedalaman desa licin.

Tujuh bulan lalu ketika baru dipindahtugaskan ke paroki yang sekarang, dalam situasi seperti itu, pernah suatu kali ia memaksakan berangkat. Masih setengah perjalanan, motor trail-nya tergelincir sewaktu mengelakkan cekungan tanah. Selanjutnya terhempas ke tepian, menyusul terguling ke rawa. Motor trail-nya menginap di antara lumpur dan eceng gondok, sedangkan dirinya berjalan kaki sejauh empat kilo. Ah, tidak. Tidak lagi. Saya tidak mau lagi itu terjadi, batin Tuan Am, yang saat peristiwa itu, ia ingat bagaimana kondisinya berhari-hari. Dengkul nyeri bercampur panas akibat tertusuk duri pandan hutan. Siku lecet. Dahi hingga pelipis memar. Ia kemudian demam, dan dengan perasaan sedih membatalkan misa hari Minggu sebanyak dua kali.

Gerimis seukuran biji sawi namun tebal serta bercampur angin menuntun Tuan Am memesan minuman. “Sudah ada kopi?” tanyanya lebih dahulu, sembari melepas jaket lalu meletakannya di sandaran kursi.

Nori, si pemilik kedai menjawab, “Belum.”

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Apa beberapa orang memang tercipta senang mencari kenyamanan dari satu hati ke hati lainnya? pikir Tuan Am. Gerimis yang menerobos jendela seolah menampar di pipinya. Kiri, juga kanan. Penuh semua wajahnya. Ia meninju dada dan buru-buru mengucap doa tobat: ia mengaku telah berdosa dalam pikiran. Saya sungguh berdosa, katanya. Setelah mengatakan amin paling pelan yang tak terdengar bahkan oleh gerimis, dengan ujung jari ia menarik rokok sebatang. Ia isap rokok itu sambil meluruskan pikiran. Ia menyadari, tak boleh berkesimpulan terhadap permasalahan orang: sebab yang berada di luar hanya tahu luarnya saja, tidak akan pernah mengerti kejadian utuhnya. Dan apabila ada konflik, baik ringan maupun besar, sejatinya, ia hanya perlu mengunci pintu, menyalakan lilin, lalu membicarakannya pada Tuhan.

“Ya sudah kalau begitu, cokelat panas lagi. Tambahkan gula sedikit ya, Nori.”

Kata, “ya” sayup-sayup di telinga Tuan Am.

No-ri. N-O-R-I. Tuan Am mengeja. Sempat ia ragu, apa tadi sungguhan menyebut nama si pemilik kedai? No-ri, ucapnya, sekali lagi. Sebentar senyumnya rekah. Ia juga menggigit ujung kunci motor trail, kemudian merasakan dirinya aneh.  

Dari arah dapur terdengar denting sendok. Lalu aroma cokelat menghampiri meja Tuan Am yang di sananya ia mulai khidmat mengetuk-ngetuk meja.

Ada mobil hijau berhenti di depan kedai. Dari dalamnya muncul suara yang Tuan Am tebak itu suara Ariel Noah duet dengan, apakah itu vokal BCL—Bunga Citra Lestari? Tanya hati Tuan Am. Ia merasa suara serak-serak merdu itu milik BCL, perempuan yang lima bulan lalu kehilangan suami tercintanya: …. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia—Tuan Am menyanyikannya lagi, dan saat itu pula wajahnya berubah murung.

Pada bola matanya tampak semacam jala kemerahan. Bibirnya bergetar. Rokok yang diletakkan di atas asbak menyerupai sayap kupu-kupu padam dan dingin. Kesedihan tumpah di meja beraroma cokelat, beraroma kenangan.

Sepuluh tahun lalu saat bertugas di Paroki A dan usia Tuan Am waktu itu baru 34, hati serta pikirannya pernah diwarnai Lumi Ceri. Lumi Ceri seorang seniman: ia mendapat proyek membuat mural di sepanjang bangunan gereja bagian dalam—sebelumya, Lumi Ceri dikenalkan juru masak pastoran kepada Tuan Am. Tuan Am takjub bagaimana tangan serta jiwa Lumi Ceri lebur dalam dinding yang tadinya hanya putih kosong berubah jadi potongan-potongan kisah dalam kitab suci. Tuan Am merasa, belum pernah dirinya bertemu orang seistimewa Lumi Ceri. Ia juga ingat sudah berjanji menolak perempuan berkunjung ke hatinya. Ini bukan perasaan suka, cuma kagum, katanya pada diri sendiri menyangkal sesuatu yang bergejolak kuat.

Dalam piring, cangkir, asbak, dan pada sebatang rokok Lumi Ceri justru selalu muncul. Kadang kedatangannya dengan wajah sehangat cokelat. Kadang dengan sepasang mata sendu yang di dalamnya adalah hutan, dan dalam hutan itu Tuan Am melihat sebatang pohon berbuah lebat dan hampir saja ia memetiknya.

Suatu hari ia pergi retret. Ia merenungkan kembali pilihan hidup di mana dirinya tidak boleh menikah, meski jauh sebelum itu, orangtuanya memang pernah kurang merestui. Ia kemudian tekun berdoa novena[1]—ia katakan: bukankah hanya kau, hai Maria, ibu Yesus, dan ia, ibu yang telah melahirkan saya, perempuan yang boleh mengisi hati ini? Lalu mengapa sekarang ada yang hadir? Dalam doa tak sungkan Tuan Am mengaku berdebar tiap memikirkan Lumi Ceri. Rok kembang sepanjang betis yang bergoyang saat Lumi Ceri bergerak. Kemeja yang lengannya digulung sehingga Tuan Am bisa menyaksikan langsung kulit tangan Lumi Ceri. Atau syal hijau tua yang ketika akan melukis Lumi Ceri melepasnya dari leher dan meletakkannya di sandaran kursi—suatu hari, Tuan Am menyentuh syal itu, memegangnya dengan hati gelisah, namun saat itulah ia tahu aroma parfum Lumi Ceri perpaduan melati, jeruk, dan mungkin itu cokelat?

Sebotol cokelat selalu ada dalam tas Lumi Ceri. Pernah Lumi Ceri membagi Tuan Am. Ambil saja untuk Anda Pastor, katanya. Lumi Ceri bilang bibir Tuan Am tampak kering, dan napasnya saat bicara menandakan Tuan Am butuh minum. Tuan Am ingat dirinya menolak: ia bilang tidak sedang haus, menutupi hati yang mengatakan: nanti kekasihmu marah. Tapi Lumi Ceri malah bilang tidak ada yang akan marah.

Sejak itu Tuan Am semacam menantikan kapan Lumi Ceri menawarinya lagi sebotol cokelat. Apa ia membawanya dalam tas, atau adakah ia telah menyiapkan dari rumah untuk saya pribadi—Tuan Am tertawa, malu memikirkan dirinya yang mulai ke-geer-an. Untuk meredam perasaan itu, dirinya yang bijaksana berkata kepada dirinya yang kurang bijaksana: dasar Am tidak tahu diri, kau ini seorang pastor. Dilarang jatuh cinta, ingat itu! Sesudahnya ia mengucap doa tobat: Saya mengaku …. Saya berdosa dengan pikiran, dan perbuatan (?) Ah tidak kan, Tuhan. Saya tidak sedang berbuat dosa—ia meralat pada kata ‘perbuatan’. Namun di akhir doa, ia selalu bermohon agar jangan dimasukkan ke dalam pencobaan: agar hatinya jangan sampai menginginkan Lumi Ceri.

Tapi situasi memperindah bangunan gereja membuat kesempatan bertemu Lumi Ceri tak terhindarkan. Di lain sisi Lumi Ceri merasa terharu diperlakukan amat sopan oleh seorang imam, seorang pastor, yang kadang ia menemukan gelas bekas minumnya sudah menggantung bersih di rak—Tuan Am mencucinya selagi Lumi Ceri sibuk. Selain itu peralatan lukis Lumi Ceri juga sering dirapikan. Lumi Ceri merasa dicintai karenanya. Siapa saya, dalam hati ia berkata: hanya seorang hamba. Kebahagiaan pun melingkupinya.

Selesai membuat mural, yang salah satunya tentang Perkawinan di Kana, melalui juru masak pastoran Tuan Am mendengar kabar Lumi Ceri membatalkan pertunangan dengan sang kekasih. Malam harinya tunangan Lumi Ceri datang ke mimpi Tuan Am. Awan turun, gerimis jatuh. Tunangannya itu antara sedih dan murka. Dengan kuda hitam ia menuju Tuan Am, dan tampaklah sebilah pedang berkilat-kilat di tangannya.

Meski kedatangan itu hanya mimpi, Tuan Am tetap membicarakannya dengan Lumi Ceri. Lumi Ceri mengaku jatuh hati padanya. Tuan Am meyakinkan Lumi Ceri itu tidak benar. Itu tidak benar. Kamu hanya mencintai tunanganmu, katanya berkali-kali. Tapi Anda juga menyukai saya bukan, Lumi Ceri mendesak. Tuan Am gundah namun ia membohongi dirinya dan Lumi Ceri. Lumi Ceri bilang tidak mencintai tunangannya, itu hanya perjanjian antara orangtua kedua belah pihak saat mereka masih kecil. Tuan Am tetap meyakinkan Lumi Ceri bila perasaannya yang sekarang tidak benar. Setelahnya Tuan Am meninggalkan Lumi Ceri. Lumi Ceri berlari memeluk Tuan Am dari belakang. Seseorang dari kisi jendela ruang masak melihat peristiwa itu sebagai sebuah kebenaran. 

“Cokelatnya sudah sangat dingin, Tuan Am. Mari diminum dulu,” ujar Nori, membuyarkan Tuan Am dari ingatan.

“Ini tisu. Mata Tuan basah dan merah.”

Tuan Am kikuk, merasa malu ketahuan.

“Gerimis juga sudah reda,” tambah Nori.

Di luar sana Tuan Am melihat hari sudah mulai gelap. Tampak kunang-kunang terbang ke kebun sawi di samping kedai. Meski perjalanan hampir dua jam dan harus pelan-pelan menuju stasi di pedalaman desa, Tuan Am mengerti tidak mungkin menumpang tidur di kedai Nori.  

Tuan Am menyalakan motor trail-nya. Ia bunyikan “pip” saat roda mulai bergerak. Pada kaca spion yang masih diterangi lampu, ia melihat Nori berdiri sambil memegang sesuatu dalam botol dan itu mengingatkannya akan cokelat sepuluh tahun lalu. Dan seketika itu pula, dalam pikiran Tuan Am menyanyi Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari: aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. ***

Riau, Juli 2020


Jeli Manalu, saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018. Buku keduanya “Semangkuk Sup Bayam untuk Tuhan” sedang proses terbit.


[1] Doa sembilan hari berturut-turut untuk memohon suatu wujud kepada Tuhan.

Cerpen

Suara di Tengah Malam

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Bapak pulang dengan wajah lesu. Langkahnya tampak tak bertenaga. Ia seperti ingin segera roboh di tempat tidur. Langkahnya berhenti di ruang tengah lalu duduk di sebuah kursi. Sementara ibu sedang mengambilkan air minum di dapur untuk bapak. Perutku terus bernyanyi sedari sepulang sekolah. Sehari ini, aku baru makan pagi.

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

“Terpaksa ibu harus utang lagi ke warung Mbah Kami. Sebenarnya bapak sempat mendapat uang dari dua penumpang. Tapi entah di mana uang itu sekarang tidak ada. Bapak sudah cari di semua saku, di becak, sampai bolak-balik di jalan yang bapak lewati karena mungkin jatuh, tapi tidak ketemu,” ucap bapak setelah meminum teh hangat di gelas yang ibu sodorkan. Lantas ibu termangu di hadapan bapak.

Aku loyo mendengar kabar itu—sial betul bapak hari ini.

“Ibu malu kalau harus berutang lagi. Utang yang sudah-sudah saja belum dibayar. Ibu tidak enak dengan Mbah Kami,” kata ibu. “Dan lagi, tumben uang bisa hilang, biasanya bapak teliti.”

Aku sudah menduga ibu pasti keberatan bila berutang lagi bahan mentah untuk membuat lauk. Nelangsa sekali kurasakan. Aku sering miris dengan keadaan ini. Sebuah keprihatinan yang sering kualami. Terkadang muncul keinginan untuk melakukan sesuatu, agar keadaan ini cepat berubah—yang kubayangkan lebih sering pekerjaan yang enak dengan bayaran tinggi, tanpa susah payah memeras keringat. Jika menunggu aku menjadi orang sukses dengan sekolah yang sungguh-sungguh, bapak dan ibu masih akan lama menunggu. Sedang aku sebenarnya sudah tidak tega dengan mereka. Namun, jika melakukan hal selain itu, aku tidak tahu sesuatu apa yang harus kutempuh untuk mengubah keadaan.

Sebenarnya keadaan ini bisa membaik andai bapak mau berpindah pekerjaan, yang mana pekerjaan itu masih ada kaitannya dengan apa yang dikerjakan saat ini. Zaman sudah begitu maju, bapak bisa beralih ke ojek. Bapak sendiri pernah bilang padaku, kalau becak kayuh semakin hari semakin sepi peminat. Pelanggan becak kayuh satu per satu pindah ke ojek. Selain itu, sekarang ini membeli sepeda motor tidaklah sesusah dulu. Orang sekarang bisa pergi ke dealer untuk kredit kendaraan, hanya membawa beberapa lembar uang seratus ribuan.

Aku tidak paham dengan jalan pikiran bapak, yang tidak juga berganti dengan ojek. Kami memang tidak punya sepeda motor, tapi aku rasa itu bukan masalah serius. Ibu memiliki tabungan berupa kalung emas pemberian kakek dulu. Kalau hanya untuk membeli sepeda motor bekas kurasa bisa.

Aku berlalu menuju kamar, menutup pintu dan mencoba untuk tegar. Aku harap bapak dan ibu segera mencari jalan keluarnya. Rasa lapar ini begitu menyiksaku. Aku tidak mungkin memaksa ibu untuk berutang, aku tidak ingin menumbuhkan rasa malu di benak ibu. Beberapa menit kemudian, kerut wajahku menahan lapar mengendur, dan berubah menjadi kegembiraan. Ibu mengantar sepiring mie instan beserta nasi ke kamarku. Aku tidak menanyakan dari mana ibu memperoleh mie instan itu. Aku terlampau gembira.

Lega! Akhirnya perutku terisi. Aku bisa mengarungi malam dengan tidur nyenyak. Terlitas pertanyaan perihal nasib bapak dan ibu; apakah mereka sudah makan. Karena memikirkan itu aku tidak bisa tidur, tapi jika menanyakan kepada mereka, apakah sudah makan, rasanya begitu lucu. Menurutku ibu juga tidak tega kepada bapak, bila hanya aku yang diberi makan, apalagi bapak seharian keluar. Ahh, kukira ibu sudah mengupayakan bapak bisa makan juga.

Untuk menghilangkan pertanyaan seputar nasib perut bapak dan ibu, aku terus memupuk keyakinan mereka juga menikmati makan. Selagi aku di kamar tidur, tak kudengar suara mereka, aku tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidak juga kudengar suara yang menandakan mereka mengerjakan sesuatu. Jelang pukul setengah sepuluh aku tidur.

***

Telingaku risih, seperti digelitiki. Dengan setengah sadar aku mengusapnya. Aku mendengar suara langkah kaki, benda-benda beradu—seperti suara panci yang membentur lantai, suara pintu dibuka, suara plastik. Aku kembali mengusap-usap telinga, dan keadaanku masih setengah sadar. Mataku masih ingin mengatup. Aku tidak berpikir macam-macam perihal suara itu. Suara-suara itu tidak henti mengangguku dan aku kembali mengusap-usap telingaku. Aku terus berusaha fokus untuk kembali tidur. Namun, tiba-tiba ada suara aneh hinggap di telingaku, dan aku kaget.

Aku terjaga dengan posisi masih rebahan. Kudengar suara itu seperti jeritan melengking yang menyayat. Benakku memikirkan sesuatu, suara itu mirip suara binatang sekarat. Dugaanku, suara itu berasal dari belakang rumah. Karena rasa kantukku masih menguasai, hingga tidak mengundang minatku untuk mendatangi asal suara itu. Aku kembali berusaha memejamkan mata, dan tidak memedulikannya lagi.

Paginya, aku bangun dengan pegal di sekujur tubuh. Aku keluar kamar tidur tanpa merapikan tempat tidur setelah penglihatanku sempurna bekerja. Aku berjalan menuju ruang tamu dan melihat jam dinding, pukul enam lebih tujuh menit. Waktu yang masih terlampau pagi. Bagiku masih ada waktu panjang untuk sampai ke pukul tujuh. Aku gegas ingin mandi. Ketika melintasi dapur, kuhentikan gerak kakiku, mataku tertuju pada tungku yang rongganya ada sisa pembakaran kayu, serta wajan di atasnya yang kotor. Di samping tungku ada beberapa bilah kayu bakar yang ujungnya berwarna hitam. Ada pula sisa asap yang mengepul dari sana—sudah pasti kayu bakar itu baru saja digunakan dan disiram dengan air.

Ibu memasak? Memasak apa? Bukankah ibu sedang tidak memegang uang? Pertanyaan itu mengingatkanku pada hari kemarin, saat aku menikmati mie instan. Aku tidak memberi ibu pertanyaan perihal asal-usul mie instan itu. Aku semakin yakin mie instan itu hasil ibu berutang—lagi-lagi ibu kembali memaksakan diri berutang dan harus menanggung malu. Ya, ibu memaksakan diri untuk berutang. Kenapa aku bisa begitu yakin kalau ibu berutang? Logikanya begini, ibu sudah memasak, ibu tidak memegang uang, warung Mbah Kami belum buka sepagi ini. Apalagi kalau bukan mengutang di hari kemarin? Aku yakin, kemarin ibu berutang mie instan, sekalian bahan baku lauk untuk hari ini.

Pukul setengah tujuh lebih lima menit aku sudah mengenakan seragam sekolah putih biru. Sembari menenteng tas, aku menuju meja makan. Di atas meja makan telah tersaji daging semur yang baunya sedap sekali, tiga tumpukan piring beserta sendoknya, dan sebakul nasi yang masih mengepul. Perutku langsung melilit, nafsu makanku langsung naik. Aku mengambil nasi, sembari izin kepada ibu untuk makan lebih dulu. Bapak tidak tampak batang hidungnya, entah ke mana.

Sesuap nasi beserta secuil daging kumasukkan ke mulut dengan sendok. Aku antusias sekali. Aku mendadak berhenti mengunyah, digerakan kedua. Daging semur terasa aneh di lidahku. Tekstur kurasa tidak seperti daging ayam. Aku melanjutkan kunyahanku sembari menebak-nebak daging apa yang ibu masak. Namun hingga aku menelan seluruhnya, aku tidak menemukan jawaban. Aku masukkan lagi secuil daging, kembali kurasakan dengan lebih teliti. Aku tetap tidak menemukan jawabannya.

“Ini daging apa, Bu?”

“Makan saja. Bersyukurlah hari ini bisa makan enak, tidak usah banyak tanya!” kata ibu.

Setelah menghabiskan daging semur beserta nasi, lidahku kelu. Ada perasaan tidak enak mendarat di hatiku. Aku mengambil kesimpulan berdasarkan pengalamanku selama ini—walau aku ragu—daging yang baru saja kumakan ialah daging kelinci—aku memang pernah makan daging kelinci di rumah seorang temanku, saat mengerjakan tugas kelompok. Kesimpulan itu menerbitkan sebuah pertanyaan penting; jika ibu berutang kepada Mbah Kami, apa mungkin Mbah Kami menjual daging kelinci? Sepengetahuanku, langka sekali orang menjual daging kelinci, bahkan mungkin di sini tidak ada. Aku tidak mau ambil pusing, pertanyaan itu kubuang jauh-jauh dari kepala. Aku pamit kepada ibu untuk berangkat sekolah.

Di halaman rumah, terdapat pohon mangga yang terkena hama. Pohon itu tidak pernah menghasilkan mangga yang manis. Di bawah pohon itu sampah daun kering biasanya dikumpulkan dan dibakar. Di dekat pembakaran daun kering itu ada tempat sampah terbuat dari bambu. Langkahku terhenti, aku tidak sengaja melihat bercak darah yang masih segar di pecahan batubata. Darah itu juga ada di sisi tempat sampah. Saat kulongok isi tempat sampah perutku seketika mual. Aku teringat dengan suara aneh semalam. Aku teringat dengan daging yang baru saja kumakan. Di tempat sampah itu, aku melihat kepala kucing yang berlumuran darah.**

Jejak Imaji, 2020


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Cerpen

Tokoh Perempuan dalam Cerpen

Cerpen Nana Sastrawan

“Sempurna!”

Tokoh kita melonjak girang dari tempat duduk walaupun hatinya berdebar-debar, dia terkejut, sangat terkejut. Di hadapannya seorang perempuan mengenakan kaus dan celana jins, meskipun tak minim, kausnya teregang ketat karena dada yang montok. Rambutnya tergerai, panjang dan lurus. Wajahnya putih, mata yang jernih, bibir merah pepaya dan hidung mancung. Sungguh, semua yang terlihat adalah bukan imajinasi. Bukan juga sebuah delusi, atau ilusi. Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sempurna.

Sementara itu, malam semakin malam, udara menusuk tulang. Di dalam kamarnya, tokoh kita mencoba menguasai diri, dia menyalakan rokok, tangannya gemetar, pemantik tak bisa menyala meski berulang kali dijentikan. Lalu, pemantik itu jatuh. Dia segera mencari pemantik itu, tangannya meraba-raba lantai, sementara matanya tidak lepas dari sosok perempuan itu. Lampu di kamarnya mati, hanya cahaya bulan yang menembus jendela sebagai penerang gelap. Pemantik itu ditemukan oleh jemarinya.

Klik. Api menyala, seperti unggun. Rokok terbakar.

“Shhhsh….”  Asap mengepul dari mulutnya.

Tokoh kita menatap takjub, dia seolah sedang meneliti setiap lekuk dan bentuk dari perempuan itu. Mata tokoh kita kini berbinar-binar, dia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ada dalam benaknya.

“Sebentar, sebentar!” ucapnya.

Tokoh kita mendekati tumpukan kertas yang berada dekat printer, tangannya kemudian meraup kertas-kertas itu lalu meneliti satu demi satu, sesekali rokoknya dihisap, asap menyelimuti remang malam di kamar.

“Angel? Jasmine atau Ferrina?”

Dia terus meneliti satu demi satu kertas itu sambil sesekali membacanya. Dalam benaknya ada banyak nama-nama yang diingat yang segera dia ingin yakini bahwa nama-nama itu adalah sesuatu yang terjadi pada malam ini.

“Ah, kalau melihatmu sepertinya kau wanita …. modern! Ya modern! Kalau tidak salah …. Jane!” dia lalu mengacak-ngacak tumpukan kertas yang lain.

Cahaya bulan membantu tokoh kita mencari apa yang dia cari, malam ini memang sangat sepi, suara sepelan apapun pasti terdengar, meskipun itu suara napas sendiri. Malam yang sering orang bilang malam yang paling keparat. Bagaimana tidak, malam yang sunyi seperti ini, tokoh kita masih terjaga dalam kegelisahannya.

“Bukan!” serunya, lalu membanting kertas-kertas itu.

Dia memandang kembali perempuan itu dengan rasa putus asa. Dihisaplah rokok berulang kali untuk menghilangkan rasa gugup dan gelisah yang semakin menyerang pikirannya.

“Namaku Neneng,” ucap perempuan itu.

“Neneng?”

“Iya? Ne-ne-ng.”

“Hahaha… kau terlalu modern, nama itu terlalu udik!”

“Aku memang wanita modern diciptakan untuk mengobati kesepianmu.”

Tokoh kita terperanjat, dia sadar akan sesuatu. Kemudian dia melihat layar laptop, dibaca tulisan-tulisan yang baru saja dia ketik. Lalu, matanya terhenti di sebuah nama, kemudian dia alihkan pandangannya kepada sosok perempuan itu. Persis seperti apa yang dia tulis, tidak ada satu pun yang salah, semuanya sempurna!

***

“Kamu seorang perempuan yang hidup di kampung, segalanya terbatas. Bahkan sekolahmu saja tidak sampai atas. Tapi bicaramu seperti intelektual saja!” ucapku sambil memandang sinis kepada perempuan yang berada di depanku.

Dia sama sekali tidak terusik dengan kata-kataku, tangannya terampil mengukir garis-garis di kain, membuat pola-pola binatang dan pohon.

“Memangnya salah jika perempuan kampung sepertiku terdengar lebih cerdas?”

Aku terdiam.

“Sekarang semua orang harus cerdas kalau tidak pemilihan kepala kampung saja bisa adu jotos karena tidak memakai kecerdasan.”

“Jadi, sebagai perempuan, kamu juga bisa adu jotos?”

Dia menghentikan tangannya, mata yang jernih menatap diriku. Dadaku berdesir melihat sorot matanya, wajahnya tampak bersinar, wajah perempuan lokal yang cerdas dan berpendirian.

“Pernahkan kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh?” tanyanya.

“Pernah. Di kota, banyak perempuan menjadi rapuh karena persoalan uang dan cinta.”

“Aneh bukan? Padahal di kota perempuan-perempuan disekolahkan tinggi. Terkadang pendidikan itu tidak membantu sama sekali untuk seseorang menjadi bijaksana dan dewasa.”

“Memangnya di sini tidak ada perempuan yang rapuh?” serangku.

“Kamu lihat sendiri di kampung ini, perempuan-perempuan bekerja sepanjang hari, bahkan terkadang melakukan apa yang biasa laki-laki lakukan. Memanggul beras, mencangkul, memotong kayu dan menggali sumur. Sejak dulu, wanita sudah ditakdirkan untuk perkasa.”

“Apakah itu artinya kamu ingin mengatakan bahwa perempuan lebih hebat dari laki-laki?” tanyaku semakin sinis.

“Setidaknya, kaum lelaki sadar bahwa perempuan itu bukan kaum yang lemah. Mereka pekerja keras dan setia, mereka juga layak untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, terkadang urusan rumah tangga memang dipimpin oleh perempuan,” jawabnya sambil tersenyum.

Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Aku mengamati perempuan ini seluruhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh perempuan kampung yang luar biasa. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan secerdas dan sekeras dia. Sepertinya dia memang bergaul, dia mengamati seluruh kejadian di negeri ini. Mungkin juga, dia rajin membaca hingga wawasannya luas. Saking asyiknya berbincang dengannya aku tidak sadar di mana awalnya kami membicarakan tentang gender. Yang jelas, aku terpesona.

Jemari lentik perempuan itu terus bekerja, menggores kain polos dengan garis-garis halus, penuh penjiwaan dia mengukirnya, tampak garis-garis itu membentuk sesuatu yang indah dan berkarakter. Khas sekali, mungkinkah dia sedang menuangkan keresahan dalam dirinya kepada sebuah kain tenun? Atau, dia memang sebenarnya perempuan yang kesepian? Tetapi tidak terlihat olehku wajah-wajah sepi dalam dirinya, tidak seperti perempuan yang aku kenal di kota. Perempuan kesepian yang duduk di sudut gelap sebuah kafe sambil sesekali menenggak wine.

Perempuan yang duduk di kafe itu berwajah cantik, tubuh yang proporsional dan berpendidikan tinggi, namun itu semua tertutup oleh kemuraman yang terpancar dari raut mukanya. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu naik ke atas panggung kafe, dia meliukan tubuhnya mengikuti suara musik. Kemabukannya membuat perempuan itu semakin menikmati alunan musik, semua mata lelaki memandang dengan hasrat ingin memiliki. Lelaki memang bajingan.

Musik semakin berdentum keras memekakan telingaku. Di sini, aku semakin merasa tak nyaman. Hidup di kota memang serba bising, tak ada kenikmatan yang bisa aku rasakan, seolah semuanya hanya semu dan kemunafikan. Perempuan itu semakin lincah di atas panggung, liukan tubuhnya membuat hasrat lelaki membara. Aku tertegun menyaksikan itu semua. Tanpa kusadari bergelas-gelas wine kutenggak untuk meredam hasrat. Tetapi, tubuhku semakin memanas, kepalaku lunglai, jatuh ke meja.

“Kamu mabuk?” tanya perempuan itu yang entah sejak kapan berada di sampingku.

Aku mengangkat kepala, terasa berat. Kusaksikan kafe sudah tampak lengang. Rupanya, aku memang mabuk.

“Kepalaku hanya sedikit pusing,” jawabku.

“Mari ikut aku!” ajaknya.

“Ke mana?”

“Minum bir.”

Tanganku diseret oleh perempuan itu, aku tak berdaya mengikuti gerak kakinya menuju parkiran lalu masuk ke dalam sebuah mobil.

“Kamu boleh memilikiku dengan harga cocok,” ucapnya setelah di mobil.

Ah, sialan! Mengapa aku harus bertemu dengan perempuan cantik dan cerdas di kota ini tanpa cinta. Mereka hanya butuh uang, mereka tidak butuh kedewasaan dan kebijaksaan dalam menghadapi hidup ini.

“Mau tidak?” katanya setengah memaksa.

“Aku tidak punya uang,” jawabku.

“Miskin!” Perempuan itu melemparkan tubuhku ke luar dari mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkanku yang masih setengah mabuk.

Aku melihat kelebatan cahaya lampu mobilnya saat berbelok dan menuruni tempat parkir, masih teringat dalam benakku, liukan tubuhnya, wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Semua itu hilang dengan sekejap hanya gara-gara uang.

“Kamu melamun?” tanya perempuan kampung itu.

Kulihat matanya yang semakin jernih, dia tersenyum. Guratan ketulusan dari bibirnya membuat dadaku berdesir.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Neneng.”

***

Tokoh kita mengucek-ngucek mata, untuk kesekian kali dia ingin memastikan apakah sosok perempuan di depannya adalah tokoh yang ditulis di cerpennya. Dan untuk kesekian kali dia menyakini bahwa ini memang terjadi. Tokoh cerpennya hidup, berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.

“Aku di sini,” ucapnya.

“Ini mustahil!”

“Tidak. Bukankah segalanya mungkin terjadi di dunia ini.”

“Tapi …”

“Namaku terlalu kampungan bukan untuk ukuran tokoh yang cerdas, modern dan dewasa?”

“Bukan itu. Tetapi mengapa tidak semua perempuan seperti dirimu?”

“Ah, mengapa juga semua laki-laki tidak sepertimu?”

Tokoh kita terdiam, berpikir mencari jawaban.

“Semua itu pilihan, bukan?”

“Pilihan?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, berulang kali, semakin lama semakin keras membuat daun telinga bergetar. Tokoh kita mengangkat kepala diiringi dengan mata terbuka, sorot cahaya matahari menembus kaca jendela, menyilaukan mata. Tokoh kita melihat ke sekeliling kamar, kertas berantakan di mana-mana, buku-buku berserakan dan asbak yang penuh abu, puntung rokok.

Tokoh kita bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri pintu yang digedor, dia membuka pintu, seorang wanita gemuk berdiri dengan wajah yang bengis.

“Bayar kos, udah tiga bulan kamu tidak bayar!” bentaknya.

“Maaf Bu, honor menulis cerpenku belum turun, bisa minta tempo sebulan lagi?”

“Tidak bisa. Bayar atau minggat!”

Perempuan itu tolak pinggang, tokoh kita berpikir mungkin inilah perempuan yang sebenarnya, dan dia adalah laki-laki yang sesungguhnya.***


Nana Sastrawan lahir, 27 Juli. Dia pernah menjadi peserta Mastera Cerpen (Majelis Sastra Asia Tenggara 2013) dari Indonesia bersama. Meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Solilokui (2019). Buku Kumcernya adalah Ilusi-delusi (2015), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Dan buku cerita anak Telolet (2017), Aku Ingin Sekolah (2018), Kids Zaman Now (2018). Buku antologi puisinya, Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011). Penulis bisa disapa di akun Facebook, Youtube, Twitter dengan nama pena di atas, atau kunjungi www.nanasastrawan.com.

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Cerpen Kiki Sulistyo

 “Ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhirmu. Setelah hari itu tidak ada apa-apa lagi.” Begitu kata Bapak ketika suatu malam kami pergi memancing.

Bapak menggunakan pancing lontar tanpa joran. Setelah memasang umpan dan berjalan ke laut, Bapak memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya sejauh-jauhnya. Lantas dia menjauh dari laut, mengikat tali pancing di sebatang tonggak kecil yang sudah ditancapkan di pasir, lalu duduk menunggu. Jika tali pancing bergetar bisa jadi ada ikan yang sedang memakan umpan. Bapak akan menarik tali untuk memeriksa, jika tali pancing semakin kuat getarannya, bisa dipastikan memang umpan sudah dimakan, saatnya menarik tali pancing untuk melihat hasil.

Kadang-kadang Bapak mengajakku. Satu-satunya tugas yang diberikan padaku hanyalah menemaninya; mendengarkan dia bicara. Sering aku tidak benar-benar paham apa maksud kata-katanya.

 “Terus kita masuk ke alam baka?” tanyaku.

“Iya, alam baka. Artinya tidak ada apa-apa.”

 “Bukankah ada malaikat di sana. Ada surga dan neraka?”

Bapak tidak langsung menjawab. Matanya diarahkan ke tali pancing, tak ada getaran di sana. Bunyi ombak yang tiada henti membuatku kadang tidak menyadari hempasan air itu memang ada, terhampar di hadapan kami.

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Bioskop Ramayana. Itulah nama bioskop di kota kami. Mulanya aku kira itu sekadar nama, mungkin nama si pemilik bioskop. Tetapi ketika kulihat di perpustakaan sekolah ada buku berjudul Ramayana, aku jadi mengerti kalau Ramayana adalah sebuah cerita tentang seorang istri raja yang diculik raksasa.

Meski tidak pernah memberikan karcis gratis padaku, aku senang melihat Bapak duduk di kursi  belakang kaca loket. Aku senang melihat dia memberikan karcis pada orang-orang. Aku bayangkan dia serupa malaikat yang memberikan karcis menuju surga pada orang-orang yang baik hatinya. Di mataku semua penonton bioskop adalah orang-orang baik yang akan masuk surga, sebab wajah mereka selalu tampak bercahaya. Sementara kami, bocah-bocah, hanya bisa berdiri di teras bioskop, melihat mereka satu per satu masuk ke dalam gedung tempat surga itu berada. Memang, sebelum lampu bertanda ‘film utama’ menyala, tirai di mulut pintu tidak akan ditutup. Dari luar kami masih bisa melihat beberapa cuplikan film yang akan diputar di masa datang. Saat-saat itu aku seperti diberi kesempatan untuk membayangkan surga, dan kelak akan tiba masa di mana aku bisa turut masuk ke dalamnya.

Tetapi, kata Bapak, surga itu tidak ada.

 “Berarti neraka juga tidak ada, Pak?” tanyaku. Aku menduga Bapak cuma bercanda, meski air mukanya kelihatan serius.

 “Menurutmu kalau surga tidak ada, apakah neraka ada?”

 “Tapi di sekolahan ada yang menjual buku siksa neraka. Orang-orang dibakar, dipotong lidahnya, ditusuk, disetrika, di..”

 “Ssst, lihat. Umpan sudah dimakan.” Bapak memotong kata-kataku. Aku lihat tali pancing bergerak-gerak. Bapak meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Getarannya makin kuat, pertanda memang ada ikan yang sedang memakan umpan. Dengan sigap Bapak menarik kuat-kuat tali pancing itu, terus-menerus, seperti orang hendak menurunkan layang-layang. Aku bayangkan seekor ikan besar telah kami dapatkan; mungkin ikan pari, meski aku berharap itu ikan kerapu, ikan dengan daging yang lembut dan gurih. Aku lihat kegembiraan di wajah Bapak, kegembiraan yang murni. Aku bayangkan kegembiraan yang sama akan memancar di wajah Ibu, kalau nanti kami membawa seekor ikan besar sebagai hasil usaha.

Semenjak bioskop ditutup, Bapak dan Ibu sering bersitegang. Memang tidak pernah sampai berteriak-teriak. Tapi pernah kulihat Bapak dengan muka merah melempar gelas berisi teh panas ke tembok. Aku sempat berteriak, tetapi teriakanku tidak bisa menahan gelas untuk menghantam tembok dan pecah berkeping-keping. Saat itu Ibu menangis. Aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, yang kutahu masalah itu tidak panjang. Mereka segera kembali seperti biasa, tenang dan tak banyak bicara. Sering aku berpikir ketenangan itu bisa terjadi berkat doa-doa Ibu; tidak seperti Bapak, Ibu memang rajin sembahyang. Tetapi di lain kali aku berpikir ketenangan itu terjadi karena Bapak selalu bisa menyadari kesalahannya dan tak sungkan meminta maaf.

Bioskop Ramayana terpaksa harus tutup karena tidak ada lagi orang yang mau menonton. Perlahan-lahan orang memilih membeli pemutar video yang memang baru saja masuk ke kota kami, memenuhi rak toko-toko elektronik. Bersamaan dengan itu, penyewaan maupun para pedagang video bajakan menjamur. Harganya jauh lebih murah dari harga tiket bioskop. Bahkan satu keping bisa berisi beberapa film. Aku merasa tidak ada lagi orang yang mau masuk surga bersama-sama. Mereka membangun surga mereka sendiri, di dalam rumah masing-masing.

Namun, tidak demikian dengan kami, Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli mesin pemutar video, tidak cukup punya uang untuk membawa surga ke rumah kami. Tanpa surga, rumah kami terasa tenang, nyaris tanpa suara-suara. Berbeda dengan rumah para tetangga.  

Sejak bioskop tutup, Bapak beralih mengerjakan apa saja yang dia bisa; jadi tukang catut yang menjualkan barang orang, jadi tukang perbaiki alat-alat elektronik, membantu tukang kayu atau tukang batu, bahkan kadang-kadang membeli nomor porkas. Kami, para bocah yang beranjak remaja, tidak lagi gemar bergerombol di teras bioskop yang pelan-pelan mulai ditempati para pedagang batu akik, tembakau, atau jam tangan. Aku tak lagi menunggu Bapak selesai bertugas sembari menikmati permen Sugus dan melihat orang dewasa lalu-lalang di jalan.

“Nanti di surga kita tidak perlu mancing lagi ya, Pak. Ikan apa saja yang kita mau akan langsung tersedia.” Ternyata, bukan ikan pari atau ikan kerapu yang berhasil kami dapatkan. Ikan yang menggelepar-lepar di pasir itu berwarna keperakan dengan garis-garis hitam. Itu ikan korangan. Tapi aku tidak kecewa, seekor korangan juga enak digoreng, apalagi ditambah sayur bayam dan sambal. Air liur kutelan membayangkan santapan nanti.

Entah kenapa di saat yang sama aku juga teringat pada komik neraka yang kubeli di penjual mainan depan sekolah. Tiba-tiba aku takut Bapak akan masuk neraka karena pernah melempar gelas berisi teh ke tembok. Aku juga teringat pada buku cerita Ramayana, dan takut pada kemungkinan, bahwa pada saat melempar gelas berisi teh itu Bapak sebenarnya hendak meminta Ibu menceburkan diri ke dalam api, seperti permaisuri raja. Aku tidak mau Bapak masuk neraka, aku juga tidak mau Ibu masuk ke dalam api.

 “Sudah Bapak bilang, surga itu tidak ada,” jawab Bapak. Aku perhatikan parasnya untuk mencari jejak kemarahan. Tidak ada. Paras Bapak malah tampak bercahaya seperti ketika dia duduk di belakang kaca loket.

“Kalau surga tidak ada, kenapa Ibu rajin berdoa?” tanyaku sembari memperhatikan Bapak yang sibuk memasukkan ikan ke dalam keranjang dan menyiapkan umpan berikutnya. Bapak bilang, “Karena Ibu tidak ingin kita menderita. Ibu ingin kita hidup bahagia. Tapi kau lihat, tidak ada seorang pun yang membantu kita. Bukan karena orang-orang tidak mau, tetapi karena mereka sendiri juga tidak bahagia. Sebab orang-orang tahu, ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhir mereka.”

 “Saya tidak mengerti, Pak.”  Bapak tidak membalas ucapanku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat kalimat-kalimat itu. Mungkin dari film-film yang dia tonton, mungkin dari pengalaman hidupnya yang tak banyak aku tahu. Kembali dia memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya jauh-jauh ke tengah laut. Baru aku perhatikan tubuh Bapak yang pendek dan kecil seakan menyimpan kekuatan besar. Aku merasa akulah umpan itu, dilemparkan ke tengah laut dan tak tahu adakah ikan yang mau menyambut.

Bunyi ombak tak pernah sedikit pun berhenti, terus berulang-ulang, seperti mendapat siksa sebagaimana orang-orang berdosa dalam komik yang pernah kubaca. Kudongakkan kepala, menatap langit yang tak menampakkan bulan. Aku bayangkan di atas sana, di ruang lapang terbuka itu, berdiri sebuah bioskop. Lalu dengan kegembiraan yang murni, aku, Bapak, Ibu, dan semua kawan-kawanku, masuk ke dalamnya. ****

Mataram, 13 Juni 2020


Kiki Sulistyo, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.