Cerpen

Berkabung

Cerpen Rahma Syukriah Sy

Hendak kuapakan tubuh suamiku yang terbujur kaku ini? Bisakah kusimpan saja? Kalau ia yang kusayangi membusuk bagaimana?

“Pak, aku harus bagaimana?”

***

Orang-orang membawa nasi berkat, berjalan gontai penuh tawa, berbincang riang entah apa saja. Besek, kata mereka. Isinya tak tanggung-tanggung, nasi lengkap dengan lauk, lalapan serta sambal. Lalu ditambah buah-buahan, kue basah dan agar-agar. Bahkan di antara mereka saling rebut, demi mendapatkan lebih banyak berkat untuk dibawa pulang. Bagi mereka berbagi besek, bentuk berkat untuk semua tetangga dan sanak saudara. Tak jarang di antara mereka membawa dua sampai tiga besek.

Dari wajah mereka yang gembira, siapa sangka sesungguhnya nasi berkat itu mereka bawa dari rumah duka. Ah, kegembiraan dan kesedihan kadang begitu lekat, dan doa-doa hanya sebentuk ritual, selebihnya untung rugi. Jika kita ingin beruntung dan tak mau rugi, cukup pergi ke rumah duka, lalu mengaji. Nasi berkat sudah menanti.

Aku mengintip dari kaca jendela, orang-orang bersarung pulang mengaji dari rumah Pak Waluyo yang meninggal sore kemarin.

“Serius benar, ada apa?” Suamiku yang sebelumnya tengah terbaring di kasur menguntit, lalu mengejutkanku.

“Itu, Pak. Orang-orang pulang melayat.”

“Memangnya kenapa?”

Kupalingkan badan, kamar kontrakan kami berukuran tiga kali empat, dari tempatku berdiri aku masih bisa melihat senyumnya. Aku berjalan mendekatinya, memandangnya, mengelus tangannya yang kian keriput, gurat-gurat menua sudah memenuhi wajahnya. Tapi senyumnya masih sama.

“Tidak, Pak. Aku hanya berpikir. Maut bisa datang tiba-tiba. Kemarin aku masih melihat Pak Waluyo lewat di depan rumah. Sorenya sudah diumumkan di musala beliau berpulang.”

“Iya, tinggal kita menunggu giliran.”

“Pak.” Kuelus tangannya, “Jangan ngomong gitu, kita akan bersama selamanya.”

Perbincangan itu tak berlanjut lagi, aku hanya berbaring di sampingnya, sesekali terdengar ia terbatuk-batuk sedang matanya terpejam. Puluhan tahun hidup di perantauan bersamanya tak pernah ia mengeluh. Walau hidup serba berat, tapi berdua bisa kami lewati. Mungkin itu cara Tuhan mencintai kami, hingga usia senja, tak dikaruniai anak juga anugerah. Untuk bertahan hidup berdua saja kami susah, apalah nasib jika punya anak?

Hidup di kota tak seenak di kampung. Di kota serba uang, jangankan bertahan hidup, mati saja masih perlu uang. Masih teringat perbincangan kami dulu. Dua tahun lalu, teman kami sesama pemulung meninggal dan tak punya biaya sepeser pun. Beruntung keluarganya dari kampung datang menjemput setelah sebelumnya dibawa dengan ambulans ke rumah sakit.

Sejak saat itulah, aku dan suami memutuskan menabung setiap hari barang dua ribu atau lima ribu perak. Persiapan kematian kami. Mengingat tak ada siapa-siapa yang akan mengurus kami.

“Untuk biaya pemakaman delapan ratus ribu katanya, Bu.”

“Ooo.” Itu saja komentarku, semoga uang segitu bisa terkumpul nanti.

“Ada lagi, uang penyelenggaraan jenazah sejuta lima ratus.”

Tak tanggung terkejutnya aku mendengar perkataan suamiku. Hah? Penyelenggaraan jenazah yang dimaksud memandikan, mengafani, mensalatkan, mendoakan. Itu dibayar? Melihat aku yang tak ada respon. Suamiku hanya tersenyum lalu berkata, “Memang begitu, Bu! Semuanya bayar, belum nanti nasi berkat, uang tahlilan, dan lain-lainnya.” Kenapa urusan mati menjadi berat begini? Tak bisakah kita mati lalu disalatkan oleh jemaah musala, dan dikubur di TPU, tanpa ada tetek bengek lainnya?

Aku memejamkan mata mengingat-ingat perbincangan itu. Sebelum akhirnya terlelap tidur di sampingnya, aku masih mendengar beberapa kali suamiku terbatuk.

Entah pukul berapa aku terbangun, rasanya dingin sekali, biasanya kalau tidak selepas hujan tak dingin begini. Aku beranjak dari tempat tidur lalu memeriksa jendela, barangkali lupa ditutup. Tidak! Sudah terkunci rapat, lalu aku beringsut mengambil minum. Tepat di sebelah suamiku yang tertidur kusediakan termos, agar jika nanti ia butuh minum, aku bisa langsung mengambilnya. Suamiku suka minum hangat. Sejak menderita batuk parah enam bulan lalu, air hangatlah satu-satunya yang bisa melegakan dadanya. Kadang ia sesak,  semalaman batuk tak berkesudahan sampai-sampai suaranya parau. Sempat beberapa kali kubawa ia ke puskesmas. Kata dokter, suamiku sakit paru-paru. Obatnya sangat banyak, dan harus ditebus setiap bulannya. Hal itu yang menyebabkan tabungan kami terkuras. Setelahnya kami tak ke puskesmas lagi.

Anehnya, setelah rutin minum obat badannya makin menyusut. Tak ada tenaga lagi, ia banyak berbaring. Tak kuizinkan lagi memulung bersamaku.

“Pak, mau minum dulu?”

Aku membangunkan suamiku yang tampak lelap tidurnya. Sedari tadi aku terbangun tak sekalipun kudengar suara batuknya. Kulihat jam dinding sudah pukul tiga pagi, biasanya ia bangun sekadar meminta minum atau hendak ke kamar mandi.

“Pak,”

Tak ada jawaban, kugenggam pergelangan tangannya yang hanya tinggal tulang itu, dingin. Aku khawatir, spontan kuguncang-guncang bahunya, memanggil-manggilnya tapi tak ada jawaban. Perasaan risau menjalar sampai ke hati, rasanya perih. Kukuatkan hati mendekatkan telinga ke hidungnya. Benar, tak ada suara, tak ada deru napas.

Lama aku termenung, tak bisa membendung air mata. Tak menyangka sesakit ini rasanya ditinggalkan. Kubaringkan diri di sampingnya kembali, menatap lama wajahnya yang lusuh, tirus. Pak, aku harus bagaimana?

Seharian itu aku hanya berbaring di samping jenazah suamiku, tak tahu hendak apa, aku tak punya uang sepeser pun. Kembali kuhitung-hitung, berapa kira-kira total biaya yang diperlukan. Kepalaku menjadi sakit, rasanya tak bisa berpikir apa-apa lagi.

Hari itu rasanya berlangsung lama sekali. Sesekali kuhalau lalat yang hinggap di jasad suamiku. Aku benar-benar hilang akal, tidak tahu harus minta pertolongan kepada siapa. Hingga magrib menjelang jasad suamiku belum terurus. Aku berjalan ke sisi jendela, lagi orang-orang yang sama lewat di depan rumah, membawa nasi berkat dari rumah pak Waluyo, pengajian hari ketiga.

“Pak, apa aku minta tolong orang-orang itu? Minta belas kasihan menguburkanmu dengan cuma-cuma.”

Hening, malam makin dingin. Kembali kubaringkan diri di samping tubuh suamiku yang mulai kaku.

“Tak apa-apa, Pak. Ada aku, aku akan menemanimu.”

Entah jam berapa, aku tertidur lelap sekali, rasanya lelah menangis dan berpikir seharian. Ketika terbangun kurasakan gelap gulita, mungkin lampu mati, kuraba-raba di sebelahku, masih ada suamiku yang kaku, lalu kupeluk ia erat-erat. Dulu semasa hidup, ia selalu ada untukku, apa pun ia lakukan untukku, satu saja yang ia tak bisa. Ia tak bisa berada dalam kegelapan, tidur pun kami menyalakan lampu terang. Jika gelap, tiba-tiba ia akan sesak dan panik, ia benci gelap. Kembali kueratkan pelukan.

“Tak apa, Pak! Ada aku.”

Pagi menjelang, aku masih bingung hendak diapakan suamiku yang semakin banyak dihinggapi lalat. Apa aku kubur saja di lantai rumah ini? Bagaimana kalau aku bongkar saja ubinnya, rasanya tak begitu susah. Kutempelkan telinga mengetuk-ngetuk ubin, mencari bagian yang suaranya agak redam. Satu, dua, tiga, empat, kutandai bagian yang mungkin bisa dilepas.

Dengan peralatan seadanya, palu, pisau dapur dan gunting mulai memecah satu per satu ubin. Dua ubin berhasil kulepas, tapi ubin lainnya sulit dipecah. Lalu kuputuskan menggali lewat dua ubin itu.

Ketika proses penggalian lewat dua ubin itu aku perpikir tentang bagaimana cara menguburkan suamiku. Aku perlu memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil. Tentu saja setelah itu lubang ini akan cukup mengubur tubuhnya. Tak kupikir lebih lama lagi, dengan alat yang kupakai untuk menggali, kupotong-potong suamiku dengan perlahan, agar ia tak merasakan sakit.

“Pak, sabar ya! Sebentar lagi akan kukubur.”

Sesekali di sela pekerjaanku memotong-motong suamiku, kuhalau lalat yang kian banyak. Tak cukup pisau, kuambil gergaji, sepertinya bisa mempercepat pekerjaanku. Aku tak mau menunggu malam tiba, aku ingin menguburkan suamiku secepatnya. Kasihan, sudah terlalu lama jenazahnya terlantar.

Sedang konsentrasi dengan pekerjaanku, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku kaget, pekerjaanku belum selesai. Baru kaki dan tangan yang berhasil kupotong. Tak kuhiraukan ketukan itu. Aku melanjutkan memotong bagian dada. Pikirku, ini tak akan lama, sejam atau dua jam lagi ubin akan tertutup. Namun, ketukan itu terus terjadi, bahkan sudah menjadi gedoran, tampak tak sabar. Gedoran pun beralih ke jendela, aku masih tak menghiraukan, pekerjaanku kulanjutkan.

“Tak apa-apa, Pak! Sebentar lagi selesai.”

Tiba-tiba pintu didobrak, dibuka paksa. Orang-orang masuk, aku merasa kami diserang. Aku melihat mereka yang lalu lalang membawa nasi berkat beberapa hari lalu. Mereka menunjuk-nunjuk ke arahku sembari berteriak-teriak, lalu beberapa orang memegangiku, berusaha menyeretku ke luar.

“Aku ingin menguburkan suamiku!” Berkali-kali kuteriakkan itu, tapi mereka abai.***


Rahma Syukriah Sy, seorang ibu (agak) muda, penikmat puisi dan karya sastra yang menghabiskan hari-hari bermain bersama dua buah hati yang lucu-lucu dan adik-adik di Rumah Belajar Ka Rahma. Sekarang tengah aktif mengikuti event-event menulis dan menerbitkan beberapa antologi bersama. Bisa mengunjunginya di FB, IG dan akun Opinia dengan username yang sama @RahmaSyukriahSy

Cerpen

Ingin Kuinjak Kepala Orang Ini

Cerpen Aliurridha

“Jadi antar Ibu pulang?” Pertanyaan itu datang ketujuh kalinya. Bantal tebal yang menutup telingaku tak cukup membendung suara cemprengnya. Selang lima menit sekali, dia datang ke depan pintu kamarku, meneriakiku dengan pertanyaan yang sama. “Sebentar. Sepuluh menit lagi,” balasku. Ketika gerutuannya menjauh, aku merasa lega. Tetapi itu sebentar saja, karena tidak sampai lima menit, dia sudah datang lagi, memanggil namaku dan mengulang pertanyaan yang sama: “Alif… Jadi antar Ibu pulang?” Sialan, ingin kuinjak kepala orang ini. Namun, aku berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.

Dengan mata mengantuk dan pikiran terantuk kesal akibat kurang tidur, aku membasuh wajah sembari berharap air bisa membilas kantuk dan kesalku. Semalam aku tidur kemalaman, persis seperti malam kemarin, seperti juga malam sebelum kemarin, seperti juga malam tahun lalu, seperti juga malam sepuluh tahun lalu; aku benar-benar tidak ingat kapan terakhir kali aku tidak tidur kemalaman. Seingatku, sejak aku punya kesadaran tentang hidup yang brengsek ini, aku selalu tidur kemalaman.

“Ibu sudah nunggu di depan, Bang,” kata istriku.

“Aku tahu,” balasku ketus.

Tidak perlu dikatakan juga aku tahu. Dari tadi ibu sudah mengganggu tidurku. Padahal sudah kukatakan kalau aku akan mengantarnya jam tujuh, tapi belum juga jam setengah enam ibu sudah bolak-balik membangunkanku.

Kulihat ibu tengah duduk pada sebuah kursi kayu di teras rumah. Di sebelahnya, terbaring sebuah tas ransel berwarna cokelat yang rasanya terlalu besar untuk tubuhnya yang terlalu kecil. Beberapa lubang terlihat pada tas ransel yang telah terlalu lama membebani pundaknya. Kaosnya yang agak kebesaran itu tersingkap pada bagian pundak, memperlihatkan tulang bahu yang menonjol seperti ruas-ruas akar pohon yang menyeruak dari dalam tanah. Topi berwarna cokelat bersetia di kepalanya, menutupi rambut pendek berwarna abu-abu, menyusul kisah kelabu yang menjadi warna dominan dalam hidupnya.

“Ibu sudah sarapan?” tanyaku.

“Sudah,” jawabnya singkat tanpa menoleh.

“Kita jalan sekarang?”

Ibu mengangguk. Kemudian dia berdiri memasang tas ransel jeleknya. “Tetapi ongkosnya belum dikasih.”

“Astaga! Tunggu sebentar.”

Istriku bergegas lari ke dalam rumah. Tak berapa lama dia telah kembali dengan beberapa lembar uang, dua kotak roti, dan sebotol air mineral yang langsung diserahkan kepada ibu.

“Ini buat ongkos bus. Ini buat pegangan Ibu.” Istriku menyerahkan beberapa lembar uang untuk Ibu.

Ketika aku sedang memanaskan motor, mendadak kudengar suara Hanifa dari dalam rumah. “Mau ikut! Mau ikut!” rengeknya. Anak ini biasanya tidak pernah bangun pagi, apalagi sepagi ini. Paling cepat dia bangun jam Sembilan. Tetapi kali ini dia seolah tahu aku akan keluar mengantar ibu, dia jadi bangun lebih pagi dari biasanya.

“Ayah hanya sebentar, mengantar nenek ke terminal,” jelas istriku.

Hanifah tidak peduli. “Pokoknya ikut. Harus ikut. Mau ikut. Ikut. Ikut. Ikut….”

“Biar sudah dia ikut,” kataku.

“Tapi, Bang. Nanti kalau dia ketiduran di jalan bagaimana?”

“Kalau dia tidur nanti Abang tinggal di pasar seperti Hitam.”

Istriku tertawa. Dia pikir aku bercanda. Itu membuatku merasa cocok dengannya. Amarahku selalu reda setiap melihat tawa dan senyumnya. Padahal yang kukatakan tadi itu serius, jika kesalku sudah tak terbendung, mungkin aku benar-benar meninggalkan Hanifa di pasar seperti halnya dulu aku meninggalkan Hitam di pasar. Berkali-kali aku dibuat kesal oleh Hitam. Tiga kali ia melahirkan di lemari pakaianku, tiga kali juga aku membuangnya di pasar, dan tiga kali pula ia tahu jalan pulang ke rumahku. Tetapi semenyebalkan-menyebalkannya Hanifa dan Hitam, tentu saja tidak ada yang lebih menyebalkan dari ibu. Dia jauh lebih menyebalkan daripada seluruh orang menyebalkan di alam semesta ini digabung-satukan.

Ibu datang ke rumahku setiap kali dia bertengkar dengan ibunya, saudara-saudaranya, atau juga tetangga-tetangganya. Kemudian dia akan melampiaskan emosinya ke aku, ke istriku, dan ke anak-anakku. Kemudian dia akan pergi begitu saja setelah hatinya lega seperti halnya dulu dia pergi begitu saja dari hidupku di saat aku bahkan belum seusia Hanifa. Ibu dengan tega meninggalkanku bersama suaminya yang suka menginjak-injak kepalaku. Lalu, tiba-tiba dia kembali ke hidupku ketika aku merasa sudah tidak butuh perlindungannya. Dan ketika dia mengatakan aku ini ibumu, seketika itu juga aku ingin menginjak kepalanya. Tetapi, aku selalu berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.

Benar kata istriku, baru setengah jalan Hanifah sudah tertidur. Dia duduk di depan, di kursi bantu untuk balita. Sialan! Aku berhenti di pinggir jalan, dan tanpa menoleh ke belakang aku berkata kepada Ibu: “Bu, Hanifah tidur. Bisa Ibu pegang dia?”

Ibu tidak menjawab. Kuulangi lagi pertanyaanku. Kali ini sedikit lebih keras.

“Ibu pegang ini,” kata ibu.

Aku menoleh ke belakang dan melihat barang pemberian istriku berada di tangannya. “Kamu pegang saja anakmu. Kalau Ibu pegang dia, nanti Ibu jatuh,” lanjutnya dengan nada yang tidak ada enak-enaknya di telinga. Aku sebenarnya mau mengatakan kalau barang-barangnya bisa ditaruh di depan saja. Tetapi kuurungkan niatku, aku kenal ibuku. Aku benar-benar mengenalnya.

Bersusah payah aku jalan sambil satu tanganku memegang Hanifah pada bagian dadanya agar kepalanya tidak terantuk kepala motor. Mendadak kurasakan sesuatu yang hangat menempel pada tanganku. Sialan! Dia tidur sampai ileran.

Sesampainya di terminal, Damri ternyata belum datang. “Nanti jam sembilan baru datang,” kata lelaki bertopi merah. “Tetapi kalau mau beli tiketnya. Bisa beli di dia.” Lelaki bertopi merah menunjuk lelaki berkulit hitam legam dengan kaos oblong berwarna cokelat yang telah pudar di beberapa bagian. Wajah lelaki itu jelek bukan main. Namun, pada bagian dada di kaosnya tertulis Pria Tampan Kesepian. Aku ingin mengumpat ketika membacanya.

“Busnya belum datang, Tapi Ibu bisa beli tiketnya di Bapak itu,” kataku.

Tanpa perlu kami panggil, lelaki berbaju cokelat mendatangi kami. Semakin dekat, wajahnya terlihat semakin jelek saja.

“Damri belum datang. Ini kalau mau tiketnya. Harganya 130 ribu,” kata si lelaki buruk rupa.

Sialan! Calo ini ngambil untung banyak betul. Disangkanya aku tidak tahu harga tiketnya.

“Ini kenapa tulisannya Titian Mas. Saya mau naik Damri,” kata ibuku.

Lelaki itu mencoret tulisan Titian Mas pada kwitansi pembayaran, lalu menulis Damri.

“Kamu pikir saya bodoh. Saya ini sekolah sampai SMA. Kamu palingan cuma sampai SD,” kata ibuku.

Lelaki itu menunjukkan gejala akan marah. Wajahnya terlihat semakin jelek saja.

“Ini Bang tiketnya,” kata temannya yang berambut ikal.

Setelah mengambil tiket dari temannya yang berambut ikal, lelaki buruk rupa ini langsung menulis 120 ribu pada kwitansi itu. Dia menurunkan harganya. Itu pun dia masih untung banyak. Ongkos bus ke tempat tujuan ibu hanya 85 ribu. Ketika aku hendak menarik tangan ibuku agar tidak mengeluarkan dompet, Hanifah menggeliat di gendongan. Dia bangun lalu mengucek-ngucek matanya. “Ayah pulang! Ayah pulang!” rengeknya. Hanifa menangis sambil menarik kerah bajuku. Aku tidak jadi menghentikan ibu. Tetapi ibu juga tidak mengeluarkan dompetnya.

Ibuku bukan orang bodoh. Dia tidak akan tertipu oleh calo yang, dari rupanya saja, terlihat lebih bodoh darinya.

“Mana busnya?” tanya ibuku lagi.

“Tunggu sudah. Itu orang-orang juga sedang tunggu Damri,” kata laki-laki itu. Dia menunjuk beberapa orang yang duduk di halte dengan barang bawaan beraneka rupa.

“Mana busnya?”

“Tunggu sudah. Nanti jam sembilan datang.”

“Ayah pulang… Ayah pulang….”

“Mana busnya?”

Kulihat cuping hidung lelaki jelek itu kembang-kempis. Wajahnya benar-benar kesal. Aku segera menghampiri ibuku. “Bu, Alif balik duluan ya. Hanifah rewel,” kataku. Dia sekilas menatapku dengan tatapan dingin sebelum kemudian mengangguk. Aku berupaya menahan senyumku sebisa mungkin ketika aku melihat lelaki jelek itu menahan geramnya. Biar sudah kamu untung 35 ribu, 35 ribu kali juga kamu akan ditanyai hal yang sama oleh ibuku. Dia tidak akan berhenti bertanya sampai busnya berada tepat di depan matanya.

Aku meninggalkan terminal dengan perasaan lega. Rasanya seperti ketika aku meninggalkan Hitam di pasar. Aku berharap ibu akan mendapat pengalaman buruk dari kedatangannya kali ini agar dia jera dan tidak pernah datang lagi. Tetapi, tentu saja, itu tidak mungkin. Tidak ada pengalaman buruk yang bisa menghalangi ibu untuk kembali melakukan apa yang ingin dilakukannya. Dua kali dia kembali ke Saudi, padahal di sana, dia diperkosa berkali-kali oleh majikannya, tapi dia tidak punya pilihan selain kembali ke sana karena suaminya yang pemabuk itu tidak tahu cara mencari uang. Hingga di kali ketiga dia mau balik ke Saudi, KJRI memulangkannya karena kondisi kejiwaannya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja. Ya, ibuku gila sejak hari itu, dan gilanya masih sering kambuh. Setiap gilanya kambuh, trauma masa kecilku juga kambuh, dan setiap trauma masa kecilku kambuh, aku jadi ingin menginjak kepalanya. Untungnya aku selalu berhasil menahan diriku.***

Blencong, 2021-2022


Aliurridha, Pengajar  di Universitas Terbuka. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Dia diundang sebagai emerging writer dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2023. Dia tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Seandainya Boleh Memilih

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Ia baru saja lahir dari kuburannya dan masih rebah di dalam lubangnya di sebuah pekuburan tua dan tak tahu telah berapa lama terkubur di dalamnya. Seingatnya sejak Perang Bharatayudha. Tubuhnya masih seperti dulu; tegap, gagah, serta berotot meskipun berselimut keringat, daki, dan debu. Rambutnya tergerai sepundak; kotor dan seamis bangkai ikan pada lungkang. Tak ada suara karena ia terdiam dan keheningan telah menyerap semuanya. Di bawah tubuhnya tak ada apa-apa lagi; batu, pasir, bunga, keranda, serta ubarampe lainnya, atau sisa bau dupa atau yang semacamnya. Itu kalau semua sesuai dugaannya. Ia tak ingat segalanya seperti halnya tak lupa seluruh masa lalunya meskipun ia sangat menginginkan semua itu lenyap dari benaknya.

Ia sangsi adakah upacara militer yang mengiringi prosesi pemakamannya: terompet, drum band, tembakan salvo…. Barangkali hanya sepi yang menyambut kematiannya dan penguburan itu tak lebih mewah daripada prosesi anjing kurap yang dicampakkan ke comberan. Ia tersenyum masam. Siapa pula yang butuh semua kemurahan itu. Mati, ya tinggal mati saja. Tak peduli di mana atau dengan cara apa mati dan dikuburnya.

“Kuturuti permintaanmu. Datanglah ke tempat itu! Di sana Arjuna akan menemuimu,”  suara itu kembali berkumandang di kepala.

Barangkali ia telah mengigau dalam matinya. Mungkin arwahnya gentayangan dan mengamuk di kerajaan langit sana, memrotes sana-sini, menggugat hidup serta matinya yang tidak adil. Dan ia pun lalu dibangunkan dari tidur panjangnya; lengkap dengan busana, senjata pusaka, juga kepala yang telah kembali ke asalnya.

Dan terbayang lagi jejak itu, jejak kematiannya. Dan kenangan menyakitkan itu pun kembali lagi. Ketika itu kereta perangnya menuju arah matahari, sementara kereta perang orang itu menjauhi, dan ia telah merentangkan gendewanya seperti halnya orang itu. Untuk apa Salya menghentakkan laju kereta ketika bidikan panahnya sudah tepat pada leher orang itu? Mestinya panah itu tidak hanya menyerempet rambut.

Ia berdiri mematung dan tampak murung. Betapa pedih dan perih saat menyadari  pengkhianat itu ternyata orang terdekatnya sendiri. Ia meraba lehernya dan terbayang lagi ketika panah orang itu memenggalnya dan tempurung itu terpental, menggelinding, dan darah, darahnya, berceceran membasahi tanah di padang ilalang.

Ia menggeram. Salya, orang yang kepadanya ia titipkan nyawanya, bapak angkat yang telah dianggapnya sebagai bapak sendiri, kusir kereta perangnya ketika pertempuran itu terjadi ternyata lebih mencintai orang itu dan memilih dirinya yang harus mati. Ia menghela napas panjang, lalu menengadah seolah-olah ingin menemukan jawaban atas ribuan pertanyaan di benaknya dan di langit sana tak ada apa-apa kecuali awan lembayung. Ah, alangkah bahagia andai ia bisa memilih cara dan tempat matinya sendiri.

Tiba-tiba ia menggeram. Wajah yang semula seolah-olah onggokan kain basah di pojokan kamar mandi itu tiba-tiba memancarkan sinar. Sorot mata rusa tua yang ketinggalan kawanannya itu seketika menjadi mata seekor singa yang siap menerkam mangsanya.

“Arjuna.”

Ia menyebutkan nama itu penuh kebencian sementara darahnya mendidih seperti minyak di wajan penggorengan. Urat-urat di batang lehernya menyembul seukuran akar pohon kelapa. Teringat lagi apa yang telah orang itu perbuat kepadanya, semuanya, dan ia pun muntab.

“Arjuna, aku akan menyayat-nyayat wajah tampanmu hingga tak ada yang bisa mengenalinya. Melumatkan kepalamu hingga jadi bubur. Memutilasi tubuhmu menjadi potongan-potongan kecil sehingga  ketika nanti ada yang menemukan daging atau tulang itu, tidak akan pernah ada yang tahu berasal dari bagian tubuh yang mana.”

Serta-merta ia melompat dari dalam lubang kuburnya seolah-olah tersengat bara api pada telapak kakinya, lalu berlari seakan-akan sudah ketinggalan janji. Lajunya secepat kilat di angkasa. Jalan setapak penuh ranting kering dan daun ilalang diterjangnya, lubang dan bebatuan dilompatinya. Ia menuju ke tenggelamnya matahari dan tak tahu alasannya dan tak peduli.

Napas terengah-engah dan keringat bercucuran ketika ia sampai di tempat yang dulunya padang ilalang itu. Padang Kurusetra! Genderang perang, suara madali, dan tiupan maut sangkakala seakan-akan terdengar lagi; suara-suara yang telah mengiringi kematian teman, guru, serta orang-orang yang dikenalnya. Mereka telah menjadi tumbal, dan mati dengan berbagai cara ini: termutilasi, bermandikan darah, darah mereka sendiri atau musuhnya.

Keluarga Kuru telah musnah, tumpas, dan habis, diiringi mampusnya ratusan ribu prajurit Astina dan Amarta serta para pelengkap penderita lainnya. Orang-orang itu masih teman dan saudaranya. Dirinya dan kakak-beradik berjumlah seratus  itu pernah bersama-sama main gundu di masa-masa lalu. Itu semua demi apa kalau bukan supaya Bharatayudha bisa tetap berlangsung sesuai nubuatnya dan betapa bangsatnya para dewa ternyata.

“Arjuna! Arjuna!”

Ia memanggil-manggil, tapi tak ada jawaban.  Padang itu kini cuma menyisakan kenangan kengerian dan kesia-siaan, juga darah yang telah mengubah warna tanah itu menjadi merah. Juga mayat-mayat yang teronggok tak berbentuk lagi. Juga tumpukan daging berbelatung, bertebaran, berserakan,  dan tumpang tindih. Burung-burung pemakan bangkai berpesta di atasnya sambil memekik-mekik kegirangan. Juga bau busuk itu, bau yang menusuk-nusuk lubang hidung dan masih tercium dari jarak sepuluh ribu kaki. Ia masih ingat semua itu seolah-olah perang saudara itu terjadi baru saja.

“Arjuna! Arjuna! Di mana kau?”

Tiba-tiba terdengar sahutan dan itu suara perempuan.

“Karna, anakku.”

Ia mencari-cari dengan matanya, dan memastikan suara itu tidak pernah ada kecuali hanya di dalam pikirannya. Ia masih ingat nada, irama, kelembutannya, dan semua itu justru membuatnya makin menderita. Ah, Kunti, ibunya yang bukan ibunya, bunda yang tak pernah ia rasakan air susunya. Adakah rintihan yang terucap ketika bayi mungil yang bermandikan air ketuban itu keluar dari rahimnya, melewati batang lehernya, lalu menjebol keperawanan kupingnya?

Ia tersenyum masam. Seandainya boleh memilih, ia ingin batu yang mengandungnya, atau apa saja, asalkan bukan perempuan yang sukanya merancap, tapi maunya tetap gadis ini. Kunti oh, Kunti.

Ia mengumam pelan walau masih terasakan olehnya kepedihan itu. Bibir itu menguncup, sorot matanya meredup. Di mana perempuan ini saat kusir pedati itu mengaisnya sedangkan ia bukan makanan sisa di tempat sampah? Sedang apa perempuan ini saat seluruh penonton lomba memanah itu menertawai meskipun dialah pemenangnya? Seandainya boleh memilih, ia ingin tak pernah ada karena sakit ini begitu lara.

“Karna, anakku, jangan kau sakiti adikmu!”

Ia menegakkan kepala seperti ular cobra disentuh ekornya, dan tiba-tiba merasa sedang diingatkan lagi akan tujuannya semula: membunuh Arjuna! Seketika awan hitam menghilang dari wajahnya, dan berubah menjadi rona merah darah. Rahangnya mengeras, melengkapi keriap matanya yang buas.

“Adik macam apa yang menghianati kakaknya? Adik jenis apa yang rela mengorbankan kakak demi ambisinya”

“Anakku, demi kepentingan yang lebih mulia….”

“Siapa yang mulia dan tercela?” Ia memotong ucapan itu. “Siapa yang mengangkat kamu sebagai hakim sehingga berhak memutuskan Kurawa sebagai angkara murka dan Pandawa pembasminya?”

“Karna, anakku, darma bakti seorang ksatria adalah…..”

“Arjuna tak pantas disebut satria. Dia sama busuk dengan lainnya!” ucapnya berapi-api, memenggal kalimat yang belum selesai tadi.

“Anakku, jangan turuti nafsu amarahmu….”

“Enyahlah kau! Minggat!” 

Ia memukul-mukul kepala agar bunyi-bunyi itu  terhenti, tapi bising di pikirannya lebih menguasai. Mulutnya mengumpat-umpat, tapi suara itu terus menyeruak di lubang telinganya; berisik, bertalu-talu, bergaung, dan bercampur-baur dengan umpatan, tangisan, serta jeritan. Ia menjambaki rambutnya sambil tertawa dan bergelakak seperti orang gila.

Ketika segala hiruk-pikuk itu tiba-tiba sirna, serta-merta ia berdiri mematung, termenung, dan merasa baru saja membunuh ibu yang selama ini bersemayam di relung hatinya: suara-suara itu telah mati, menemani hatinya yang sepi.

Namun, sedetik kemudian ia menggeram. Arjuna harus mati, dan tak ada lagi yang bisa menghalang-halangi, termasuk Kunti yang konon ibunya itu walaupun sekarang bukan lagi. Kuburanlah yang telah melahirkannya, baru saja. Dan nasihat itu pernah didengarnya dulu, dulu sekali. Kini ia tak butuh lagi.

Tak ada hutang yang dibawa mati kecuali hutang budi. Apa pun maksud di baliknya, Kurawa-lah yang telah mengangkat derajat, memanusiakan, serta menganggapnya ada dan berharga. Perjalanan hidup itu telah memaksanya untuk memilih. Dan sampai saat ini, ia tak menyesali pilihan itu. Pandawa tak pantas disebut saudara! Saudara yang mempermalukan saudara sendiri adalah kriminal dan boleh dibikin modar dengan cara yang sekeji-kejinya.

Ia mengatur napasnya yang memburu, sementara gemuruh di dadanya masih terasa, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Susah payah ia membujuki otak lelahnya. Persetan dengan suara perempuan itu!

“Arjuna!”

Ia meneriakkan nama itu sekeras-kerasnya, lalu menengadah, menajamkan mata dan telinga. Namun, tak ada suara apa-apa kecuali sepi serta lautan ilalang yang membentang. Padang itu bagaikan kanvas raksasa yang dipenuhi warna hijau, coklat, putih, dan hitam. Sementara itu, angin semilir, udara mengalir, dan langit menjelang senja masih seperti hari-hari sebelumnya.

“Arjuna, keluarlah dari persembunyianmu!”

Bunyi itu berpusing-pusing bising, mengarungi gelombang udara sebelum akhirnya menghilang di balik cakrawala nan jauh di sana. Udara senyap, kicau burung lenyap dan yang terdengar hanya bunyi napasnya sendiri yang memburu-buru seperti anjing lagi birahi. Tiba-tiba sekelebat cahaya turun dari langit, berputar-putar, bergemuruh laksana angin puyuh, lalu berhenti. Dan Arjuna pun memperlihatkan wujudnya. Satria lelananging jagat ini mendekat. Rupa tampannya masih bersinar. Dia bersedekap dengan kepala menunduk seolah-olah murid sedang berdiri di hadapan gurunya.

Ia mendengkus. Orang itu hanya berjarak empat-lima langkah di depannya. Begitu dekatnya, tapi betapa jauhnya bagi jiwa yang dipenuhi oleh kecurigaan ini. Meskipun penengah Pandawa ini tampak enggan, ia tak ingin tertipu oleh lagak lagunya. Ia memandang tajam orang yang sebentar lagi jadi mayat ini lalu berucap dingin, tajam, dan kejam.

“Arjuna, kuburku terasa gelap, lembab, dan pengap. Hanya kematianmu yang bisa membuatnya hangat.” Ia tak ragu mengungkapkan keterusterangan yang tidak sopan itu.

“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah,” jawab Arjuna. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dahi, menghaturkan sungkem.

“Aku selalu dihantui mimpi buruk bahkan di dalam matiku. Kuburku terasa sesak dan menghimpit.”

“Kakang, hamba hanya sekadar titah.”

“Arjuna, karena mulut kotormu aku harus merelakan harga diriku diinjak-injak. Sebab busuk otakmu guru Durna menjauhiku.”

”Maafkan hamba, Kakang.”

”Tahukah kamu bagaimana rasanya menjadi anak yang dibuang ibunya dan saudara yang tidak diinginkan oleh adik-adiknya?” suara itu terdengar getir.

”Kakang, maafkan hamba.”

”Aku coba mengasihimu sebagaimana seharusnya, tapi tak bisa. Luka ini begitu dalamnya. Aku telah coba memaafkan kamu sebagaimana semestinya, tapi tak mampu. Dendam ini telah membatu.”

“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah. Raga ini hamba baktikan. Jiwa ini hamba ikhlaskan.”

Sesaat ia ragu mendengar kerelaan itu, teringat akan masa lalu, yaitu ketika mereka sama-sama sedang berguru kepada Resi Durna, dan bercanda tawa di sela-selanya. Mereka juga pernah berdiam di rahim yang sama meskipun terlahir dari lubang berbeda. Ia ksatria dan tak mungkin baginya berkulikat nista; membunuh musuh yang tak mau melawannya salah satunya.

Ia menarik napas dalam-dalam. Sesaat matanya terpejam, coba menguraikan otaknya yang sengkarut. Ia sudah sampai sejauh ini, dan tak ada jalan untuk kembali. Keadilan harus diperjuangkan dan ia telah terlanjur membongkar rumah kuburannya. Tiba-tiba bibirnya mengatup, tubuhnya gemetar, kedua tangannya mengepal-ngepal, lalu tertawa kecil.  Arjuna bukan musuhnya ataupun saudaranya. Dia orang yang harus mati, dan saat ini juga!

Seketika ia menerjang sosok di hadapannya. Tangan kanannya terayun sekuat tenaga ke arah kepala, kaki kanannya melayang dengan gerakan memutar, menghantam lumbal kanan, disusul kaki kiri menerjang bagian tubuh lainnya.

“Bangsat, lawan aku! Mumpung tak ada mulut berbisa Kresna! Selagi tak ada guru batil bernama Durna. Hanya kamu dan aku!” 

Arjuna bergelangsar, terlempar, dan berguling-guling. Darah mengalir dari mulut dan  hidungnya. Alis matanya sobek. Dia tampak kesakitan dan menderita. Dia menyeka darah yang membanjiri hampir seluruh wajahnya lalu kembali berdiri di tempat yang sama, bersikap seperti sebelumnya, bersiap menghadapi matinya seperti kambing kurban dihadapan tukang jagalnya.

“Hamba tidak akan melawan, Kakang,” jawabnya.

Ia makin marah. Bukan jawaban semacam itu yang diharapkannya. Seketika ia kembali menerjang seumpama banjir bandang. Ia meninju mulut yang baru selesai bicara tadi. Ia menghantam ulu hati hingga tubuh itu tertekuk dan terbungkuk-bungkuk.

“Arjuna,  lawan aku. Keluarkan semua kesaktianmu!”

Arjuna menegakkan tubuh, sempoyongan dan limbung. Bibirnya pecah dan berdarah dan beberapa giginya goyah.

“Tidak, Kakang! Saya sudah berdamai dengan masa lalu.”

Ia menerkam dada, menginjak-injak perut, dan menjadikan kepala itu seumpama bola. Ia memukul, mencakar, menampar, menendang, dan mencekik sambil meraung-raung.

“Masa lalumu, bukanlah masa laluku. Andai aku bisa melupakannya!”

Arjuna terjatuh, terguling-guling, terbanting-banting. Dia coba berdiri, tertatih-tatih, jerih, terhuyung-huyung. Sekujur tubuhnya cobak-cabik oleh luka, dari kepala hingga kaki.

“Kakang, bunuhlah hamba jika itu bisa membuat Kakang bahagia. Namun, mohon kiranya hamba izin bersiap lebih dahulu!”

Susah payah Arjuna melucuti dirinya sendiri. Kakinya goyah dan wajahnya tertampak letih. Ia melemparkan gendewa di tangannya, keris pulanggeni yang terselip di pinggang, lalu kain limarsawo, juga ikat pinggang limarkatanggi. Seterusnya, dia menguraikan gelung minangkara lalu melemparkannya, pun membuang kalung candrakanta juga cincin mustika ampal.

Sementara itu, tak peduli dengan yang dilakukan orang di depannya, ia berdiri kaku seperti arca penunggu candi. Gebaran di hati dan pikirannya sudah mati. Ia telah membunuhnya baru saja dan persetan dengan jiwa satria. Kalau perlu, ia akan menikam jantung orang itu meskipun orang itu lagi tertidur lelap di pelukan selir-selirnya. 

Ia lalu mengambil napas, mengembuskan kuat-kuat lewat mulutnya. Dengan bibir terkatup, ia menyiapkan gendewa wijaya, memasang panah taksaka. Ia membidik tepat ke arah jantung orang di hadapannya, lalu menarik tali busurnya sekuat tenaga.

“Arjuna, demi masa lalu, masa kini, dan masa nanti, aku harus membunuhmu.”

“Hamba siap, Kakang,” jawab Arjuna lirih.   

Arjuna tersenyum pada orang yang sangat menginginkan nyawanya ini. Dia justru merentangkan kedua tangannya, membuka dadanya lebar-lebar sambil melemparkan panah pasopati yang sedari tadi ditimangnya tanpa peduli arah jatuhnya.

“Hamba pamit….”

Panah pasopati itu terlempar ke tumpukan batu tepat pada pangkalnya, lalu melesat bagai peluru kendali, menerjang pori-pori udara dan semuanya. Ia terkesiap dan segera menyadari bagaimana akhir kisah ini nantinya. Seketika senyum getir tersungging di bibir. Hidup ini, terutama hidupnya, ternyata begitu lucu, absurd, dan sia-sia. Ia pun memejamkan mata, menyambut mautnya. Setengah detik kemudian, panah pasopati itu menembus leher; memotong kulit, daging, otot, tulang, dan semua yang menghalangi laju geraknya. Tempurung kepala itu terpental dan menggelinding. Darah berselerak membasahi ilalang.***

                                                                               Pekalongan, 3 September 2021


Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal November 2022. Naskah lakon Ikan-Ikan di Kedung Mayit menjadi Nominator Lomba Naskah Lakon Dewan Kesenian Jakarta, Desember 2022.

Cerpen

Susu Kemasan Berwarna-Warni untuk Kenta

Cerpen Chan

Seperti sihir, begitu Satoshi sampai di depan showcase minimarket itu, tangisan Kenta–bocah yang digendongnya–terhenti. Lelaki yang sempat panik ketika Kenta menangis dan mengamuk karena suara sirine ambulan itu pun tersenyum lega. “Ternyata betul dugaanku. Kau menyukai benda-benda berwarna-warni.”

Sambil tertawa riang, Kenta menggapai-gapai kaca showcase yang memajang puluhan botol minuman beraneka warna. Antusiasmenya sama besar dengan ketika ia menggapai-gapai poster tokoh anime karya Satoshi atau benda-benda penuh warna lainnya.

Satoshi segera membuka pintu showcase. Sergapan hawa dingin membuat Kenta sedikit menggigil. Namun, bocah sepuluh bulan itu tetap bersemangat, terutama ketika ia mendapati barisan botol susu kemasan dengan rasa buah-buahan beraneka warna. Mengilat karena tersorot lampu showcase dan ditempeli embun, botol-botol itu kian tampak menarik.

Begitu tangannya yang terbilang kurus untuk bayi seusianya itu bisa menjangkau botol-botol, Kenta pun beraksi, menarik-memorak-porandakan botol-botol itu sambil berseru girang. Satoshi pun dibuat kewalahan. Namun, lelaki itu sama sekali tidak marah atau merasa malu–seperti kebanyakan orang dewasa saat direpotkan oleh tingkah laku anak-anak. Ia malah tertawa dan sama antusiasnya dengan Kenta ketika menata ulang botol-botol tersebut. Keduanya tampak seperti sedang berlomba memberantakkan dan merapikan. Satoshi baru barhenti dan membiarkan Kenta asyik sendiri setelah dikejutkan oleh sebuah suara yang lembut dan hangat.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

Pemilik suara itu adalah seorang wanita awal dua puluhan. Rambut hitam berkilaunya dikuncir kuda. Matanya memancarkan keriangan dan kehangatan. Senyumannya terlihat tulus dan menyenangkan. Ia mengenakan apron biru dan kemeja kuning, seragam pegawai mini market tersebut. Di dada kirinya terdapat papan nama bertuliskan “Yamanaka”. Ia terlihat sedikit berisi, mungkin karena pipinya putih merona itu sedikit tembam. Secara keseluruhan, ia bisa dibilang manis. Sejenak Satoshi tertegun. Begitu juga Kenta.

“Apakah susu ini aman untuk bayi di bawah satu tahun?” Itulah kata-kata pertama Satoshi setelah berhasil menguasai diri. Lelaki yang berprofesi sebagai mangaka lepas itu menunjuk sebuah botol ungu-putih berisi susu rasa anggur di genggaman Kenta.

Wanita bermarga Yamanaka itu memperhatikan botol tersebut sambil menyapa Kenta. “Sepertinya bayi belum diperbolehkan,” katanya beberapa saat kemudian, “tapi jangan khawatir. Ada produk susu khusus bayi dengan aneka rasa.” Usai berkata, ia mengajak Kenta berkenalan. Dan tanpa bisa Satoshi duga karena belum pernah terjadi sebelumnya, Kenta mencondongkan badan dan menjulurkan tangan ke wanita itu.

“Wah, kau ingin kugendong?” Wanita itu berseru kegirangan seperti seorang anak kecil yang diajak ke taman hiburan. Ia mengalihkan pandangan ke Satoshi yang berusaha menerka penyebab tingkah ajaib Kenta. “Bolehkah aku menggendongnya?”

“Tentu saja.” Dengan sigap Satoshi membuka tali gendongan dan menyerahkan Kenta.

Satoshi dan wanita itu pun mulai mengobrol tentang cuaca dan Kenta, kemudian disambung dengan basa-basi tentang produk-produk di minimarket tersebut. Setelah merasa kehangatan sudah terjalin, keduanya memperdalam percakapan dengan perkenalan dan tanya jawab singkat soal kehidupan masing-masing. Dari situ Satoshi tahu bahwa wanita itu bernama depan Miko dan masih lajang serta usia mereka terpaut lima tahun saja. Dan selama percakapan itu terjadi, Kenta tampak bahagia. Dan kebahagiaan itu menjalar ke dada Satoshi.

Akan tetapi, kebahagiaan itu terusik selama beberapa detik. Suara sirine ambulan yang lewat di depan mini market membuat Kenta menangis panik. Bocah itu memeluk Miko erat-erat.

“Jangan takut, itu bukan suara monster.” Dengan kelembutan seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya yang gelisah, Miko menepuk-nepuk punggung Kenta.

“Ah, maaf. Ia trauma terhadap suara sirine.”

“Oh, begitu.” Keterangan itu membuat Miko kian simpatik terhadap Kenta. Dan upayanya berhasil menenangkan Kenta beberapa detik kemudian.

Sayangnya, tidak ada kebahagiaan yang berlangsung selamanya. Beberapa bahkan berlangsung terlalu singkat. Dan kebahagiaan yang Kenta alami termasuk jenis yang kedua. Pertemuan mereka pun diakhiri oleh sang manajer mini market yang suaranya lebih mengganggu ketimbang decit roda troli yang rusak.

“Nona Yamanaka, tolong segera ke selasar delapan. Rapikan tumpukan kaleng buah potong yang berantakan.”

“Maaf, aku harus kembali bekerja.” Miko menyerahkan Kenta pada Satoshi. Ia melakukannya dengan berat hati dan Satoshi dan Kenta menerima perpisahan itu dengan sama beratnya pula, terutama Kenta. Mata bocah itu terus terpaku pada punggung Miko dan tangannya terus menggapai-gapai.

Satoshi mengembuskan napas. “Pasti kau menyukainya karena wanita itu mirip ibumu bukan?” Ia mengusap-usap kepala Kenta. “Wajah mereka berdua memang mirip. Dan seandainya sifat keduanya sama, hidupmu tentu sempurna.”

Satoshi berjalan menuju lorong tempat susu khusus bayi berada kemudian mengambil beberapa susu kemasan dengan warna berbeda dan meletakkannya di keranjang belanja. Tepat saat ia hendak memasukkan kardus susu dua ratus gram berwarna ungu ponselnya berdering.

Penelepon Satoshi adalah seorang pria pertengahan tiga puluhan yang tampak kelelahan dan kantung mata kendur. Ia berdiri di luar kamar perawatan sebuah rumah sakit di kota yang sama dengan Satoshi tinggal. “Halo, bagaimana kabar kalian?” tanyanya saat Satoshi menjawab panggilannya.

“Kami baik-baik saja. Kami sedang berbelanja. Bagaimana kabar kalian?” Satoshi menjawab sambil menyerahkan kemasan susu tadi kepada Kenta agar bocah itu diam.

Lelaki itu membuka pintu dan menatap seorang wanita yang berada di ranjang dalam posisi setengah duduk. Ia tertunduk sehingga rambutnya menutupi wajah dan sorot matanya yang memancarkan kesedihan. Di meja kecil di samping wanita itu terhidang makanan. Perutnya berkali-kali berbunyi dan ia belum makan selama dua puluh jam lebih. Namun, ia tampak tidak berselera. Tangan kanannya diinfus sedangkan pergelangan tangan kirinya diperban.

“Baik,” jawab lelaki itu, “dokter bilang, ‘kondisinya membaik dan urat-urat yang putus bisa diperbaiki.’.”

“Baguslah. Apakah kami sudah boleh berkunjung?”

“Soal itu ….” Lelaki itu kembali memandang ke dalam ruangan. ” Kurasa itu bukan ide yang baik untuk saat ini. Dokter bilang, ‘itu bisa membuatnya kembali mengamuk atau membuatnya tertekan karena rasa bersalah lalu melakukan tindakan bodoh itu lagi. Ia juga membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi tubuh dan jiwanya’. Karena itulah aku ingin meminta maaf padamu karena harus merepotkanmu selama beberapa hari lagi.”

“Oh, tidak masalah. Aku tidak merasa direpotkan.” Satoshi tersenyum sambil mengusap-usap kepala Kenta yang masih asyik memainkan kemasan susu dalam genggamannya. “Oh, iya, kurasa aku telah menemukan apa yang bisa membuat Kenta berhenti menangis. Ia menyukai warna-warna terang. Dinding apartemen kalian terlalu suram.”

“Begitukah? Baiklah, aku akan menggantinya.”

“Lalu, satu lagi ….” Satoshi menjeda kalimatnya untuk mengumpulkan keberanian sekaligus menimbang apakah itu waktu yang tepat untuk mengatakannya, “ada baiknya sesekali kau meluangkan waktu untuk–”

“Maafkan aku,” potong lelaki itu, “aku ada urusan penting. Aku harus ke kantor untuk presentasi dengan klien. Kita akan lanjutkan percakapan ini lain kali saja.” Lelaki itu menyudahi panggilan.

Satoshi mengembuskan napas. Namun, begitu melihat wajah Kenta, urat-urat emosi yang sempat bertonjolan di wajahnya saat mendengar kata-kata lelaki itu berangsur mengendur. “Maafkanlah dia. Sejak kecil dia memang begitu. Di kepalanya hanya ada tugas dan belajar. Mungkin itulah yang menyebabkan ibumu melakukan tindakan itu. Kau tahu, terkadang sesekali seorang wanita memerlukan bantuan pria dalam mengasuh anak, terutama ibumu, wanita pemurung yang memiliki anak yang super-aktif. Tapi tenang saja, pamanmu ini akan selalu ada untukmu. Dan aku jamin kau akan senang bersamaku karena kita akan mengajak Miko makan malam. Kau setuju?”

Seolah mengerti, ketika mendengar nama Miko disebut, Kenta tertawa. Keduanya pun menuju selasar delapan.***

14 Februari 2023


Chan, seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Cerpen

Menghafal Wajah

Cerpen Fahrul Rozi 

Ini bermula ketika hujan turun dari pagi sampai petang hari Jumat. Satu warga melapor melihat sosok misterius dengan mata besar berwarna hijau dan mulut selebar kuali menculik anak gadisnya. Warga yang lain melaporkan melihat dewi bersayap hitam dengan rambut pendek—serupa Milda, anak Pak Diman—telah membawa pergi anak gadisnya dan tidak pernah kembali. Yang lain lagi melaporkan melihat lelaki dengan ekor belang berjalan dengan istrinya di malam hari dan ia tidak pernah pulang ke rumah. Semua laporan itu aku tulis di kolom kasus orang hilang. Tidak diragukan lagi. Aku menulis semua laporan tidak masuk akal itu di atas kertas folio.

Saat pulang ke rumah aku berkata pada diriku sendiri bahwa semua laporan yang aku terima hari ini adalah rekayasa biasa. Mereka hanya iseng datang ke kantor polisi untuk membuat laporan palsu. Tapi itu menyelamatkanku dari kebosanan. Jika mereka tidak datang, sudah pasti aku bakal membusuk di kantor polisi.

Aku berhenti di sebuah kedai dekat stasiun. Memesan kopi. Duduk di bawah langit gelap, aku mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Ketika pelayan menaruh cangkir, aku teringat bahwa besok libur. Aku punya banyak waktu malam ini. Besok aku bisa berkunjung ke rumah adikku atau menghabiskan waktu di luar. Menaiki kereta, transit kemudian berhenti di stasiun selanjutnya. Setelah itu berjalan kaki di trotoar. Membeli roti dan duduk di teras toko. Aku tidak sabar menantikan besok.

Selesai menghabiskan kopi aku keluar kedai. Menyusuri jalan pulang. Malam sudah larut, angkutan umum tidak beroperasi jadi aku berjalan kaki di sepanjang jalan gelap. Di gang sekelompok pemuda membentuk lingkaran. Menyembah sebotol alkohol. Berkelakak.

Rumahku gelap, segelap malam ini. Aku membuka pintu dan menghidupkan satu persatu lampu. Melepaskan semua pakaian, memasukkannya ke dalam bak lantas merebahkan diri di atas ranjang. Aku langsung tertidur. Nyenyak sekali. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini dalam hidupku. Aku bermimpi mendengar jeritan perempuan. Ia seperti meminta tolong. Dalam mimpiku, suara itu tiba-tiba lenyap dan berganti suara biola. Aku mendengarkannya dengan saksama. Di mimpiku yang gelap dan hanya gesekan biola yang terdengar, aku bangkit seperti vampir.

Tubuhku tergerak secara naluriah. Berjalan layaknya boneka. Mungkin ini mimpi tapi aku mendengar dengan jelas gesekan biola itu. Aku tidak tahu. Lagi pula membedakan dunia realitas dengan dunia lain merupakan hal yang sulit.

Aku berjalan keluar dari kegelapan. Perempuan dengan kulit kuning sawo tidur di atas bangku. Perempuan itu tidur sangat pulas. Aku tidak tega membangunkannya. Ia tidak terlihat seperti gelandangan yang tinggal di pinggir rel kereta atau gang kecil berbau tengik. Ia memakai gaun hijau dengan rambut hitam sepinggul. Sepatu bot hitam. Mungkin ia jelmaan Nyi Roro Kidul atau semacamnya. Dengan berat hati aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia menggeliat. Matanya terbuka perlahan. Ia berkata sesuatu tapi aku tidak menangkap maksudnya. Setelah ia sadar, aku pergi meninggalkannya. Mimpi yang aneh.

***

Matahari menyembul dari ventilasi kamar. Aroma tanah yang diguyur hujan meruak dari kisi-kisi jendela. Aku bangkit, pergi berjemur di luar rumah. Sebelum menikmati hari libur, aku membersihkan rumah. Pukul 10.21, aku membatalkan niatku karena tiba-tiba hujan mengguyur deras. Memikirkan liburan yang gagal, aku bingung mau melakukan apa. Selama satu jam lebih aku hanya duduk di teras, menyaksikan hujan turun.

Aku kembali ke kamar dan tidur. Hari sudah malam ketika aku bangun. Di luar masih hujan. Pintu rumah diketuk. Pelan. Aku diam. Siapa yang berkunjung di tengah hujan deras begini? Ketukan pintu terulang setelah jeda sejenak. Tetap pelan. Dengan malas aku bangkit dan membukakan pintu. Seorang perempuan, yang sepertinya aku kenal berdiri di depan rumah.

“Akhirnya aku menemukanmu,” lirihnya. Ia melepas jas hujan, menepuk-nepuk pakaiannya. “Aku sudah mencarimu sejak terakhir kita bertemu. Apa aku boleh masuk?”

Dengan ragu-ragu aku memintanya masuk. Ia melihat sekeliling rumah. “Rumah yang bersih,” Aku lupa kapan bertemu dengan perempuan ini. Mungkin sudah bertahun-tahun. Aku mencoba mengingat wajah teman SD, SMP, dan SMA, tapi yang muncul wajah orang hilang.

Perempuan itu duduk di kursi, menciptakan hening. Aku pergi dari keheningan, membuat teh. Usai menyajikan teh aku berdiri tidak jauh darinya. Seperti pengawal putri kerajaan, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Hening kembali. Ia menyeruput teh.

“Mengapa kamu tahu rumahku… dan Siapa namamu?” sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu tenggelam di tengah hujan lebat, dan namanya tidak aku ketahui. Ia berdiri lantas menarik tanganku keluar.

“Kita mau ke mana?” tanyaku di antara deru hujan.

 “Ke tempat teman-teman kita,” katanya dengan suara keras.

Kami berlari di bawah langit hitam. Tangan kami bergandengan seperti kekasih yang melarikan diri dari nasib. Jalanan gelap dan hujan mengguyur tanpa henti. Cahaya berpendar di depan kami. Cahaya yang hangat. Lamat-lamat hujan berhenti. Seorang lelaki berdiri di bawah tiang lampu, berbalut cahaya kuning dia memberi hormat.

“Selamat datang di Big House. Teman-teman sudah menunggu kalian di dalam.”

 “Ayo, masuk,” bisik perempuan itu. Kami masuk ke halaman rumah yang luas. Rumah besar berdiri dengan gagah. Bukan. Itu istana. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Mereka membukakan pintu setelah memberi hormat. Aku diam. Yang ada di depanku sekarang bukan mimpi. Ini benar-benar nyata.

Laki-laki dan perempuan berdansa di bawah sinar lampu. Sementara perempuan bergaun merah duduk mantap di depan piano. Jari lentiknya menari di atas tuts, memainkan Ballade milik Chopin. Seorang perempuan bergaun hitam datang menghampiriku. Ia menarik tanganku ke tengah ruang dansa. Kami berdansa. Sepasang kekasih tersenyum ke arahku. Menjelang permainan pianis berakhir langkah kami melambat dan berhenti. Semua bertepuk tangan. Semua tersenyum bahagia. Perempuan yang membawaku bertanya.

“Apakah kamu menikmatinya?”

Aku mengangguk mantap. “Terima kasih telah mengajakku kemari. Terima kasih banyak,”

“Jika berkenan, tinggalah di sini bersama kami,”

 “Terima kasih, tapi aku ada kerjaan besok. Maaf.”

***

“Bangun Jun.” Seorang berteriak di telingaku. Aku mengenal suara ini. Dia Bagas, atasanku. “Kamu sudah makan siang?”

Aku melihat Bagas berdiri di sampingku. Foto orang hilang berserakan di atas meja kerjaku. Awalnya aku tidak tertarik, tetapi setelah diperhatikan aku pernah bertemu dengan mereka. Sebentar. Beri aku waktu untuk berpikir. Semalam aku tidur, seorang perempuan datang ke rumah lalu ia mengajakku pergi. Kami berlari di tengah hujan, seorang lelaki menyambut di bawah tiang lampu. Seorang perempuan lain mengajakku berdansa, dan setelah itu aku tidak ingat. Aku mengambil secarik foto, melihatnya dengan saksama. Mengambil yang lain. Memeriksanya kembali. Ini sungguh mengejutkan.

“Jun, kamu baik-baik saja? Jangan memaksakan diri, oke.”

Di luar masih hujan. Suara Bagas lenyap. Aku bangkit menepuk bahu Bagas sembari berkata, “aku menemukan mereka. Aku berhasil menemukan mereka, Pak. Mereka tidak jauh dari sini.”

Bagas membelalak serupa sapi. Dia balik menepuk bahuku dan berkata. “Sebaiknya kamu pulang lebih awal lalu istirahat. Aku akan meminta Andi mengurus kasus ini.”**

 Sewon, 18-10-2022


Fahrul Rozi, lahir pada 10 Agustus. Penulis lepas dan buruh tata letak buku. Saat ini tinggal di Jogja. Bisa dihubungi di Instagram @Ojiy__ atau melalui email: [email protected]

Cerpen

Akankah Ajal Mau Berkompromi dengan Rindu?

Cerpen Andri Saptono

Kerinduan kepada anak lanang yang tak tersampaikan menumpukkan kabut di bola mata Sanyoto. Semisal kisah Yakub yang merindukan Yusuf hingga rabun bola matanya[i].

Ya, tahun-tahun belakangan ini anaknya memang jarang sekali pulang. Kecuali, pulang setahun sekali ketika lebaran. Anak lanangnya pulang bersama dua anaknya: laki dan perempuan, serta dua pembantu sekaligus rewang mereka. Jadi mobil itu dipenuhi dengan rewang dan barang bawaan.

Namun yang kadang membuat Sanyoto dan istrinya galau, biasanya anaknya itu juga cepat pergi dari rumahnya. Keluarga putranya itu sekadar transit di rumahnya terus pergi lagi ke villa di Tawangmangu. Di sana mereka berwisata sekaligus ngadem selama seminggu. Sanyoto kadang berkecil hati kalau rumahnya ini tak cukup menyenangkan bagi anak dan terutama cucu-cucunya itu.

Sanyoto tidak tahu mengapa hal ini terjadi pada dirinya dan mengapa anaknya bersikap begitu. Rasanya begitu sedikit sekali waktu anaknya untuk menyinggahi orang tua sendiri.

“Itu karena anakmu terlalu takut dengan istrinya,” kata Paimin, tetangganya.

“Ah, kelihatannya tidak begitu,” bantah Sanyoto.

“Tetapi mengapa cepat sekali pergi, dan manut saja kalau istrinya mengajaknya ke Tawangmangu? Masak singgah di rumah orang tua, cuma maknyuk[ii] saja.”

Sanyoto tak bisa menjawab. Ia jadi terkenang dengan masa-masa dulu ketika anaknya masih tinggal bersama mereka. Anak lelaki semata wayang itu ia besarkan dengan tirakat dan beragam laku prihatin. Dengan kungkum[iii] di tempuran sungai, puasa mutih[iv] dan ngrowot[v] selama tujuh tahun, dengan nyepi ke puncak Lawu. Seorang peziarah di Argo Dalem[vi] pernah menujumkan kalau anaknya akan menjadi tokoh penting di negara ini. Seperti yang sekarang ia ketahui anaknya duduk di parlemen, duduk sebagai anggota DPR yang terhormat. Dikenal  sebagai politikus ulung.

Tetapi, mengapa ia merasa makin tak kenal dengan darah dagingnya itu. Ya, ia tahu wajah itu adalah turunan wajah miliknya. Tubuh itu yang pendek gempal  dan rahang yang kukuh yang sama dirinya. Ia merasa dapat mengenali diri sendiri ketika muda pada sosok anak lanangnya itu. Tetapi selain itu, mengapa ia merasa makin tak kenal? Anak lelakinya Ngadiyo yang ketika SMA masih tinggal bersama dirinya, kemudian ia kuliahkan di Jogja, di salah satu universitas ternama di Kota Pelajar itu. Hingga kemudian ia nikahkan dan ia kontrakan di sebuah rumah kecil karena mereka belum bisa mandiri.

Saat-saat awal anaknya berumah tangga, Sanyoto dan istrinya masih sempat rajin menengok anaknya itu, meskipun sebulan sekali. Membawakan beras, sayur mayur, atau ayam dari desa. Biasanya suplai makanan itu juga cepat habis dimakan bersama dengan teman-teman kuliah anaknya yang sering datang ke kontrakannya itu.

Hal itu tak mengapa bagi Sanyoto. Ia senang anaknya tidak pelit kepada temannya. Tetapi, mengapa sekarang anaknya malah pelit kepada orang tuanya sendiri. Bukan pelit soal harta tapi pelit soal waktu untuk pulang menengok. Menginap satu dua hari saja. Seolah itu perjalanan paling jauh yang akan ditempuh anaknya itu.

Oh, tidak, ia tak pernah bisa puas dengan percakapan di telepon atau sekadar chatingan dengan telepon pintar yang dibelikan anaknya. Adalah istrinya yang biasa menjawab telepon atau membalas pesan dari anaknya yang seminggu sekali masih bertukar kabar.

Juga terkadang ia bertanya sendiri, apakah nasibnya yang dicueki anak sendiri merupakan ganjaran karena ia juga sama menelantarkan kedua orang tuanya dulu? Rasanya hal itu tidak ia lakukan. Ia tinggal nyaris seumur hidup bersama mereka hingga keduanya meninggal. Ia sendiri yang menguburkan mereka berdua, nyelameti[vii] hingga sewunan[viii].

Memang ia sendiri agak pangling[ix] ternyata anaknya berbeda dengan dirinya dan orang di desa, yang kebanyakan petani atau pergi ke pabrik, tetapi anaknya ternyata melampaui orang di desa ini. Menjadi seorang tokoh politik yang terkenal, bahkan mungkin di tingkat internasional. Rasanya mongkog[x] punya anak menjadi pejabat penting. Tetapi, ia merasa tidak siap dengan konsekuensi yang tidak normal itu; kesibukan anaknya yang melalaikan keberadaan orang tuanya sendiri. 

Sebagai kesibukan ia dan istrinya menanam padi dan pelbagai sayur di sawah yang dibelikan anaknya. Di sawah itu Sanyoto membuat sebuah gubug dari bambu. Dengan kesibukan begini mereka merasa tidak akan nglangut di rumah. Pun kalau panen, pisang dan sayuran sering ia bagikan kepada tetangga-tetangganya. Toh, makanan rasanya tak pernah habis di rumah.

***

 “Menurutmu apa kita yang harus ke Jakarta sana, menengok cucu kita lagi, Bu? Kalau anak kita belum ada waktu, biar kita saja yang ke sana. Entahlah, rasanya aku pengin ke sana. Anggap saja ini keinginan terakhirku.”

“Halah, mbok jangan bilang gitu, Pak. Panjenengan baru umur enam puluh tahun.”

“Rasanya itu tak berlaku padaku, Bu.”

Mbok jangan pesimis to, Pak.”

Percakapan itu terjadi malam ini. Ketika mereka akan berbaring di penghujung Rajab.

“Dua bulan lagi, Ramadhan ya bu?”

“Iya, berarti tiga bulan lagi, lebaran.”

“Semoga kita menangi[xi] bulan Ramadhan, ya Bu.”

“Insya Alloh, Pak.”

Suaminya diam. Suasana tambah ngelangut saja di kamar.

“Oh ya, Dio telepon tadi siang. Katanya, selama tiga bulan dia ada safari keliling Indonesia. Tidak bisa mampir,” istrinya bicara.

“Tiga bulan? Artinya lebaran ini tidak bisa mampir?”

“Kira-kira begitu.”

“Duh, kok sibuk banget to.”

Istrinya berbaring duluan. Cepat sekali memejamkan mata. Mungkin karena seharian di sawah. Akan tetapi Sanyoto masih saja sulit memejamkan mata. Hingga, ia bisa memejamkan mata kemudian setelah memantapkan dalam hati, ia akan mengajak istrinya ke Jakarta besok. Ya, besok pagi, hendak ia nyatakan keinginan itu pada istrinya.

****

Istrinya tidak terkejut ketika suaminya dadakan mengajak ke Jakarta pagi itu. Diiyakan saja. Sebab ia tahu keadaan hati suaminya. Betapa lelaki itu ingin sekali melihat anaknya. Karena hanya Ngadiyo itulah anak semata wayangnya. Tapi, siapa sangka anak laki-laki semata wayangnya itu seakan milik menantunya. Ia tahu hal itu tapi tak ingin ia nyatakan kepada suaminya. Takut membuat suaminya tambah terluka.

“Apa ditelepon dulu. Biar mereka persiapan menjemput kita di stasiun, Pak?”

“Kamu aja yang telepon.”

Istrinya mengambil telepon pintar yang mahal itu. Ia menekan nomor kontak anaknya. Tersambung.

“Assalamu’alaikum, Dio… apa kamu sedang sibuk sekarang?”

“Wa’alaikum salam. Tidak Bu. Tapi, masih dinas luar kota. Wonten dhawuh napa?[xii]

“Oalah, ini Bapakmu kangen, ngajak nengok Dodo dan Lusi,”

Istrinya melirik pada suaminya yang cemberut saja disinggung begitu.

“Ya, silakan Bu. Tapi, dalem[xiii] tidak tahu bisa pulang kapan. Jadi mungkin nanti di sana hanya ketemu dengan Ndari dan anak-anak.”

Yo wis. Tak apa. Ini kami berangkat pagi. Tolong nanti ada yang jemput di stasiun ya?”

Nggih[xiv] Bu. Pak Rejo nanti biar yang jemput.”

“Pembantumu itu masih awet to?”

“Iya Bu. Tak kasih gaji dua kali lipat biar dia kerasan.”

Ibunya manggut-manggut. Kemudian pamitan. Telepon ditutup.

“Gimana Pak, jadi berangkat? Ngadiyo masih di Bali sekarang.”

“Ya, jadi berangkat. Nanti kita nginep di sana seminggu. Kunci rumah kamu titipkan kepada Mbakyu Giyem saja.”

Perempuan yang telah menjadi istrinya lebih dari 40 tahun itu tersenyum saja, mengiyakan semua keinginan suaminya. Paham apa yang ada di dalam dada lelakinya.

“Pak, aku mau tanya?”

“Soal apa?”

“Bapak ridha anak kita jadi orang besar seperti sekarang? Bapak, yang rutin tirakat kungkum  setiap malam Jumat. Suka puasa mutih dan ngrowot  selama tujuh tahun biar si Ngadiyo itu jadi sukses, tapi akhirnya jarang pulang menengok kita?”

Lelaki itu terkesiap dengan pertanyaan istrinya. Sejenak ia menghela napas.

 “Kalau mau jujur, sakjane[xv] tidak seperti ini harapanku Bu. Tapi, kalau memang sudah begini pinastine[xvi], mau apa lagi? Ya, semoga saja, anak itu masih menangi jasadku di atas bumi kalau aku mati, Bu.”

Perempuan itu tergugu dengan jawaban suaminya.

Yo wis, ayo mangkat saiki.”[xvii]

Perempuan itu mengangguk. Sendika dhawuh[xviii] dengan perintah suaminya. Seakan perintah suaminya memang harus ia turuti karena begitu rapuh sekali umur mereka. Entah hari ini, atau besok rasanya ajal itu begitu dekat. Sementara tidak ada yang tahu, akankah ajal mau berkompromi dengan rindu?*****


Andri Saptono, tinggal di Karanganyar. Sibuk berbuku dan mengelola penerbitan indie. Sedang menyiapkan novel untuk ulang tahunnya yang ke-40. Alamat surelnya: [email protected].


[i] Kisah Nabi Yakub yang rindu dengan Yusuf yang hilang karena “dibuang” oleh saudara-saudaranya.

[ii] Maknyuk, Jawa, ungkapan superlatif yang maknanya waktu yang sangat singkat.

[iii] Tirakat dengan berendam di sungai pada malam hari, di waktu tertentu. Sungai pun dipilih yang terkenal angker. Misal berendam di sendang atau tempat mata air atau tempuran.

[iv] Puasa dengan berbuka makan nasi putih saja, atau umbi-umbian yang berwarna putih.

[v] Puasa dengan berbuka hanya dengan makan umbi-umbian. Kesemua laku prihatin tersebut menjadi tradisi orang Jawa yang ingin hajat dirinya terkabul.

[vi] Argo Dalem, salah satu dari tiga puncak di Gunung Lawu, Jawa Tengah; yang lainnya ada Argo Dumilah dan Argo Dumuling. Konon merupakan pusat lokasi mistis di pulau Jawa ini.

[vii] Selametan, upacara atau ritual yang maknanya agar arwah leluhur selamat di kehidupannya (alam Barzah).

[viii] Sewunan, bagian dari acara selametan untuk orang meninggal, atau selametan seribu hari.

[ix] Takjub, tidak kenal, lebih dimaksudkan sebagai pujian.

[x] Mongkog, Jawa, bangga, ikut berbesar hati

[xi] Menangi, Jawa, masih bersua baik zahir maupun batin.

[xii] Wonten dhawuh napa? Jawa, terjemah bebasnya ada perintah apa. Tetapi, ini biasa dipakai untuk berbasa-basi dalam budaya Jawa sekaligus menunjukkan ikram (ingin memuliakan kepada orang yang dihadapi, entah karena lebih tua, atasan, atau mungkin orang tua sendiri)

[xiii] Dalem, Jawa, saya (kromo inggil)

[xiv] Nggih, Jawa, ya

[xv] Sakjane, Jawa, seandainya atau inginnya

[xvi] Pinastine, Jawa, takdirnya atau ketetapan di Lauh Mahfuz

[xvii] Jawa, Ya sudah, ayo berangkat sekarang.

[xviii] Sendika dhawuh, Jawa, manut dan menaati perintah

Cerpen

Penembak Penari Sema

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Orhan Fatih menetap di Ankara. Sudah  tiga tahun ia mendirikan toko roti yang laris dikunjungi pembeli. Ia mempekerjakan imigran gelap asal Suriah. Ketika leluhurnya, keturunan Ottoman, diusir Ataturk dari bumi Turki, mereka melakukan pelarian ke Suriah. Mencari perlindungan di Damaskus. Kini, keturunan Ottoman diperkenankan kembali ke Turki, ia memilih tinggal Ankara. Dibawa istri, dan dua anak lelakinya, mencoba peruntungan nasib di Ankara. Beberapa pegawai yang setia—seperti Saad—merupakan imigran gelap dari Damaskus. Mereka memperoleh kehidupan baru di toko roti Orhan Fatih, meskipun kadang bermusuhan dengan penduduk setempat.

Tiap sore Orhan Fatih melihat seorang polisi tua mampir ke toko rotinya. Membeli baklava[1]. Saad menemui polisi tua itu dengan wajah ramah. Kadang mereka berbincang akrab. Orhan Fatih diam-diam selalu memperhatikan keakraban mereka. Ia berharap tidak akan pernah mendapat perseteruan dengan penduduk setempat yang tak menghendaki kehadiran imigran gelap.

Suatu peristiwa menyedihkan tak pernah diduga Orhan Fatih. Terjadi kerusuhan, malam hari, anak-anak muda murka menyerbu dan membakar toko roti. Perkelahian antara karyawan toko roti dengan anak muda setempat telah membangkitkan rasa marah banyak orang. Mereka menyerbu toko roti, membakar, dan menganiaya para imigran gelap. Orhan Fatih tak bisa mencegah beberapa karyawannya terkena amuk, terbakar, dan luka memar kena hajar anak-anak muda.   

Polisi tua itu datang untuk menyelamatkan toko roti yang terbakar dan melindungi beberapa karyawan yang terluka karena pembantaian anak-anak muda. Ia mengusir anak-anak muda yang beringas, termasuk di antaranya Anka, anak sulungnya. Pekerja toko yang terluka diangkut ambulans ke rumah sakit. Orhan Fatih tak meratapi toko rotinya terbakar, tetapi ia lebih memikirkan para pekerja yang terluka.

Setelah peristiwa pembakaran toko roti, Orhan Fatih tak lagi pernah bertemu polisi tua. Ia membangun toko rotinya, dan membuka kembali dengan banyak pelanggan baru yang datang. Tetapi polisi tua itu tak pernah hadir. Orhan Fatih sempat mendengar kisah, polisi tua itu pensiun, dan meninggalkan Ankara. Pensiunan polisi itu tinggal di Konya, bekerja sebagai aparat keamanan di Mevlana Museum. Ia menikmati hidup sebagai darwis, penari sema di Mevlana Cultural Center, pada malam ketika para turis duduk terpaku di gedung pertunjukan itu.

***

Siang itu Orhan Fatih menerima kedatangan pensiunan polisi yang melakukan perjalanan jauh dari Konya ke Ankara, mengendarai sedan tua. Pensiunan polisi masih tampak ramah seperti semula. Tetapi kini wajahnya terlihat sunyi. Pensiunan polisi itu betapa bahagia melihat toko roti kembali ramai dikunjungi para pembeli. Ia mencari-cari Saad, yang dulu selalu menyalami dan mengambilkan baklava kesukaannya.

“Bisa bertemu Saad?” tanya pensiunan polisi, ketika bertemu Orhan Fatih. Pemilik toko roti itu memandanginya sebentar. Tajam dan penuh selidik.

“Ia masih kerja di dalam.”

“Boleh saya bertemu dengannya?”

Orhan Fatih mengantar pensiunan polisi itu ke dapur. Saad tengah membuat adonan roti dengan wajah menunduk, dan mengabaikan kehadiran pensiunan polisi. Ketika punggungnya tegak, memandang pensiunan polisi itu, segera menyalaminya. Kening dan pelipis kanan Saad menampakkan bekas luka. Tetapi tetap tampak tampan wajahnya.

“Mau kau ikut aku ke Konya?” tanya pensiunan polisi itu serius. “Aku selalu merasa bersalah, tak bisa melindungimu dari serangan anak-anak muda yang marah sampai menyerang dan membakar toko roti.”

Lama Saad memandangi pensiunan polisi itu. “Kalau saya ikut ke Konya, apa yang bisa saya kerjakan?”

“Kau bisa bekerja di Mevlana Museum,” balas pensiunan polisi. “Kita akan bersama-sama menari sema. Sesekali kita pentas di Mevlana Cultural Center.”

“Biar saya pikirkan dulu,” kata Saad, tak ingin menolak permintaan pensiunan polisi. Orhan Fatih memandangi Saad. Ia ingin memastikan, apakah lelaki imigran gelap itu akan meninggalkannya atau tetap bersamanya di toko roti. Teman-teman Saad memilih meninggalkan toko roti, mencari pekerjaan lain, takut bila kembali diserang anak-anak muda yang tak suka pada mereka.

Pensiunan polisi itu meninggalkan toko roti dengan harapan Saad akan menyusulnya tinggal di Konya. Orhan Fatih mulai cemas dengan kebimbangan Saad, yang kadang ditampakkannya saat merenung seorang diri. Ia tak ingin kehilangan Saad. Dulu leluhurnya berada di Damaskus senantiasa dilindungi leluhur Saad turun-temurun. Ketika Orhan Fatih berpamitan hendak kembali ke Turki, ayah Saad sempat berpesan, “Aku titip anak bungsuku, Saad, agar tetap hidup bersamamu. Anak lelakiku yang sulung sudah meninggal dalam pertempuran sebagai pemberontak. Aku tak mau Saad juga ikut mati di medan perang. Berangkatlah lebih dulu ke Turki. Tiba waktunya nanti biar Saad menyusulmu. Kau akan tinggal di mana? Ankara? Baik. Saad akan mencarimu di kota itu. Sering-seringlah memberi kabar pada kami di sini.”

Orhan Fatih merasa tak bisa melindungi Saad, ketika pemuda itu benar-benar pamit padanya, untuk mengikuti pensiunan polisi ke Konya. “Saya mau kerja di Mevlana Museum. Saya ingin menjadi penari sema.”

“Baiklah. Aku akan menengokmu sesekali,” kata Orhan Fatih, tak tega melepas Saad. Ia teringat pesan ayah pemuda itu. Tetapi ia merasa tak mungkin menguasai jiwa pemuda itu. Saad boleh memilih kehidupannya sendiri. Ia ingin menjadi penari sema. Pensiunan  polisi itu memang memiliki daya tarik yang luar biasa.

Orhan Fatih melepas Saad meninggalkan Ankara dengan menumpang bis ke Konya. Ia  mulai mencemaskan pemuda itu. Ia teringat akan anak lelaki pensiunan polisi, Anka, yang menyusup diam-diam dalam penyerangan dan pembakaran toko roti. Anka tidak pernah ditangkap, apalagi diadili. Ia bebas berkeliaran. Orhan Fatih mulai mencemaskan kelakuan anak lelaki pensiunan polisi itu. Ia tak ingin kebencian Anka pada Saad terus membara sampai saat ini.

***

Mimpi mengenai penembakan Anka terhadap Saad di pelataran Mevlana Cultural Center  menggelisahkan Orhan Fatih. Mimpi itu sangat jelas, seperti bakal terjadi. Anka mengarahkan senapan berburu untuk menghabisi Saad dengan perangai bengis. Pagi harinya Orhan Fatih berpamitan pada istri dan kedua anaknya, mengendarai mobil menuju Konya. Ia belum pernah melakukan ziarah ke makam Rumi. Sejak kecil di Damaskus, ia mendengar kisah kebesaran Rumi, tarian sema dan Mevlana Museum yang selalu dikunjungi para peziarah. Ia juga ingin menonton pertunjukan tari sema di Mevlana Cultural Center, satu kilometer sebelah timur Mevlana Museum. Laju mobilnya melewati hamparan padang-padang tandus sepanjang jalan. Ia mencapai Konya siang hari, dan bertemu Saad yang sedang membersihkan taman di Mevlana Museum. Saad tampak rajin seperti ketika bekerja di toko roti, dan tak banyak mengeluh.

Wajah Saad tampak sangat bahagia melihat kedatangan Orhan Fatih.  

“Kau tak ingin kembali kerja padaku?” tanya Orhan Fatih, yang selalu tampak ramah. “Aku akan mudah melindungimu, bila kau bekerja di toko roti.”

“Saya sangat bahagia tinggal di kota ini,” tukas Saad, “bisa menari sema di Mevlana Cultural Center.”

Kembali terlintas dalam benak Orhan Fatih akan mimpinya semalam: Anka menembak Saad dengan senapan berburu, pada  senyap malam, di pelataran Mevlana Cultural Center. Orhan Fatih sempat singgah di apartemen Saad sebelum berangkat ke Mevlana Cultural Center dan menonton pertunjukan tari sema. Ia juga melihat pensiunan polisi turut serta menari sema dengan iringan tabla[2], flute, dan baglama[3]. Orhan Fatih sempat terlupa akan mimpinya saat pertunjukan tari sema itu dipergelarkan. Tetapi saat malam turun, dan lelaki pemilik toko roti itu mengantarkan Saad kembali ke apartemen, di pelataran Mevlana Cultural Center, ia kembali teringat akan mimpi penembakan yang dilakukan Anka. Ia cemas, mencari-cari sosok tubuh Anka yang  berkelebat di pelataran Mevlana Cultural Center. Ia melihat sosok itu sedang membidikkan senapan berburu ke tubuh Saad. Ia menutup pandangan Anka agar tak tepat membidik ke arah tubuh Saad. “Kau mesti meneruskan keturunan keluarga, seperti harapan ayahmu,” kata Orhan Fatih.

Ledakan senapan berburu itu sangat mengejutkan. Orhan Fatih melindungi tubuh Saad dari bidikan Anka. Peluru melukai bahu kanan Orhan Fatih. Lelaki setengah baya itu tergeletak.. Gaduh. Saad berlutut di sisi tubuh Orhan Fatih. Terdengar suara langkah kaki orang berderap meringkus Anka, yang melakukan perlawanan saat ditangkap. Betapa gugup pensiunan polisi itu memanggil ambulans untuk mengantar tubuh Orhan Fatih ke rumah sakit, “Maafkan aku! Mengapa kebencian anakku tak terkendali serupa ini?”***

                                                                                                             Konya, Turki, Juli 2022

                                                                                                 Pandana Merdeka, Maret 2023

[1] makanan ringan terdiri dari kacang walnut yang dicincang diberi pemanis dan dibungkus adonan roti tipis.

[2] instrumen musik perkusi tradisional

[3] instrumen musik yang dipetik, kecapi berleher panjang. 


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Cerpen

Syarat

Cerpen Kesit Himawan

Nama Rudi Koplak akhir-akhir ini menjadi buah bibir di desaku, Desa Sambisari. Pemuda yang sehari-hari tidak jelas apa pekerjaannya, kini setiap hari didatangi banyak orang. Berbagai jenis kendaraan silih berganti parkir di halaman rumahnya. Dari kabar yang sampai di telingaku, Rudi Koplak kini telah menjadi “orang pintar”. Menurut salah satu tamu, setiap permohonan dari orang yang datang kepadanya pasti terkabul, termasuk perkara menolak hujan.

Besok malam, tepatnya Jumat Kliwon, Desa Sambisari akan mengadakan pertunjukkan seni dalam ajang pesta rakyat di balai Desa Sambisari. Sedangkan saat ini sedang musim hujan. Kepala Desa memintaku untuk mencari pawang hujan agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Sebenarnya aku tidak percaya atau mungkin bisa dikatakan belum percaya atas perihal yang aku anggap tidak masuk akal. Dalam pemahamanku, keberhasilan seorang pawang hujan bisa menghentikan hujan hanyalah kebetulan belaka. Karena memang saat itu sudah waktunya hujan reda atau memang bukan waktunya turun hujan.

Pagi ini, aku memutuskan untuk menemui Rudi Koplak karena desakan terus-menerus dari warga desa. Rudi Koplak adalah satu-satunya pawang hujan yang pernah kudengar. Setelah mengutarakan maksud kedatanganku. Rudi Koplak mulai menjelaskan tentang profesinya. Setiap orang yang datang kepadanya mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Mulai dari menyingkirkan hujan, permintaan nomor togel, pencarian residivis, sampai perkara ranjang. Dia bercerita bahwa pernah ada seorang guru ngaji yang datang ke rumahnya untuk meminta “syarat” agar para anak didiknya bisa diajak untuk memadu kasih. Namun dia tidak bersedia memenuhi keinginan guru ngaji tersebut. Bukan karena dia tidak mampu, namun baginya apa yang dirasa tidak baik, akan menjadikan buah yang buruk di kehidupannya.

Rudi Koplak berbicara lantang dengan suara serak-serak basahnya,. “Sudah. Yang penting yakin ya!”Aku hanya mengangguk saja. Dalam hatiku menahan tawa atas apa yang diucapkannya. Karena seumur hidup baru kali ini, aku berhubungan dengan dukun. Kemudian Rudi Koplak berdiri dari duduknya. Dia melangkah keluar rumah. Aku menunggu dengan sabar sambil mengisap rokok dan melihat sekeliling ruangan tamu. Tidak beberapa lama, Rudi Koplak masuk ke rumah sambil membawa sebuah daun merah kecil yang dibalik, ditusuk dengan lidi dan di bawah daun itu terdapat satu siung bawang merah. Dari penjelasan dukun itu, daun itu bernama sinom merah.  Menurutnya, sinom merah sebagai simbol atas sebuah permintaan. Dia bercerita kalau pohon itu adanya hanya di puncak Gunung Kendalisodo yang bernama puncak Hanoman. Dengan lelaku tirakat, puasa dan tidak tidur sebulan penuh di gunung itu, akhirnya dia mendapatkan wangsit untuk mengambil pohon sinom merah. Dia mengatakan kalau Kyai Anoman yang selama ini membantunya sebagai pawang hujan. Kyai Anoman memiliki ajian Sappo Angen pemberian Dewa Bayu yang akan menyingkirkan segala penghalang yang ada di depan mata, termasuk hujan. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan kisah itu..

“Syarat ini dibawa dengan tangan kiri. Nanti ditancapkan di tanah, di tempat yang jarang disambangi orang. Jangan sampai ambruk!” pesannya kepadaku. “Oh, iya. Satu lagi, jangan berbicara dengan orang lain mulai sekarang sebelum kamu menancapkan syarat ini di tanah,” tambahnya sebelum kakiku melangkah keluar dari rumahnya.

***

Sejak pagi, mendung hitam menggantung rata di langit Desa Sambisari. Setiap orang berkali-kali menengadah berharap mendung segera menyingkir. Aku turut cemas. Aku terus berdoa agar “syarat” berupa daun sinom merah yang diberikan Rudi Koplak benar-benar bisa menjadi penyingkir mendung agar hujan tidak terjadi nanti malam. Aku masih ingat suara serak-serak basah dari mulut Rudi Koplak. Yang penting yakin ya!

Kesibukan dalam persiapan acara sedikit mengalihkan perhatianku. Namun sesekali, aku melihat langit. Warna hitam itu perlahan-lahan mulai bergeser menjauh. Ada sedikit perasaan lega. Aku merasa malam ini tidak terjadi hujan, juga menjadi tanggung jawabku. Karena aku yang mencari pawang hujan dan menaruh “syarat” penolak hujan.

Ketika semua perlengkapan untuk acara pentas seni selesai dipersiapkan, aku beranjak ke tempat “syarat” yang aku letakkan, yaitu di belakang balai desa. Jantungku berdebar-debar dengan keras. Terdengar riuh suara gerombolan bebek. Mereka bergerak ke arah benda yang kutancapkan. Belum sempat aku mengusir mereka, gerombolan bebek itu menerjang daun sinom merah dan bawang yang ditusuk lidi itu. Benda itu ambruk. Kebetulan di belakang balai desa adalah rumpun bambu yang berbatasan dengan area persawahan. Aku tidak menyadari bahwa tempat itu menjadi jalur bebek yang sedang digembala. Memang sebenarnya aku sedikit menyepelekan benda yang diberikan dukun itu. Sehingga aku tidak begitu mempertimbangkan pemilihan letak untuk menancapkan “syarat” yang diberikan Rudi Koplak. Gegas aku mengusir gerombolan sialan itu. Mengambil benda yang diberikan Rudi Koplak dan mencari tempat yang kurasa lebih aman dari segala gangguan.  

Langit sore tampak ayu dengan semburat jingga keunguan. Aku lega, apa yang terjadi dengan “syarat” yang diberikan si dukun ternyata tetap bekerja dengan baik. Bahuku ditepuk seseorang dari belakang. Spontan, aku menoleh. Setelah selesai memindah benda itu, aku kembali ke halaman balai desa melihat tim dekorasi menyelesaikan pekerjaannya.

Yang penting yakin ya!”. Suara serak-serak basah itu kembali bergema di gendang telingaku.

“Terima kasih, Kang Koplak. Nanti malam, acara pasti ramai,” jawabku. Anggukan kepalanya sebagai tanda setuju sambil melangkah meninggalkanku.

Aliran kedatangan warga ke balai desa seperti air sungai Desa Sambisari yang deras. Warga riuh bertepuk tangan setiap kali pertunjukkan pentas selesai. Malam ini, setiap dusun menyajikan penampilan yang terbaik. Maklum saja, sejak adanya pandemi wabah penyakit, jarang sekali diadakan hiburan di desa ini. Sehingga antusias warga begitu besar. Semua wajah penonton berbinar-binar. Pertunjukan yang paling ditunggu adalah pementasan tari Kethek Ogleng.

Gendhing Suwe Ora Jamu mengalun sebagai tanda pementasan tari Kethek Ogleng dimulai. Penari itu bergerak gesit menyerupai gerakan kera. Naik ke atas kursi. Kemudian dia memanjat batang bambu di mana terdapat tali yang menggantung di antara di batang bambu. Dengan luwesnya, penari itu bergelantungan. Tepuk sorak dan teriakan memberi semangat penari Kethek Ogleng itu.

Di tengah-tengah gerak lincah yang penari kera putih itu, hujan turun dengan hebatnya tanpa ada tanda-tanda rintik hujan atau langit yang menghitam. Aku berlari tergopoh-gopoh menuju daun sinom merah yang tadi kutancapkan. Benda itu masih berdiri tegak. Tetapi hujan tetap turun dengan derasnya. Aku teringat kejadian tadi sore. Aku merasa sangat bersalah. Kelalaianku membuat acara pentas seni malam ini berakhir berantakan.

Dari jauh, aku melihat Rudi Koplak lari tergopoh-gopoh. Pakaiannya basah menerjang hujan. Kemudian dia menghampiriku.  “Maaf. Hari ini, hari nahasku,” ucap Rudi Koplak lirih hampir tak terdengar, terkalahkan deras hujan. Aku melangkah gontai meninggalkan Balai Desa Sambisari dengan penyesalan yang mungkin tak akan bisa terobati.***


Kesit Himawan Setyadji, lahir di Saradan, Wonogiri. Kini tinggal di Sukoharjo. Selain berkecimpung di bidang arsitektur, saat ini juga bergiat menulis di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Surat menyurat bisa melalui alamat surel: [email protected]

Cerpen

Boneka

Cerpen Yeni Kartikasari

Mustika merasakan telinganya berdenging. Saat pandanganya dibuang ke luar jendela, kebenciannya bagai bara dalam sekam. Baginya, dendam bukanlah sebuah kejahatan, jika dibalas sedikit demi sedikit. Di samping kolong amben, ia menata sesajen. Jerami dibakar, dupa dinyalakan. Ia bergerak dengan perlahan supaya tidak diketahui siapapun, sekalipun ibunya yang sakit dan bergumam tentang karma. Mustika tak tahu persis apa yang dimaksud ibunya. Hanya kesumat yang saat ini Mustika pikirkan.

“Mampus!” gumam Mustika.

Serabut kelapa ditata memajang. Ujung-ujungnya dipangkas rapi sebelum ditekuk menjadi dua bagian. Mustika mengikat lengkukan seperti membentuk kepala hingga dua cabang di bawahnya seolah menyerupai kaki. Ketika bagian lengan telah ditambahkan, ia sedikit menjauhkan tangannya—memastikan boneka telah berbentuk. Sebuah foto dikeluarkan dari kantong. Kedua matanya memandang dengan amarah. Selesai ritual nanti, ia ingin segera menusuk-nusuknya.

Namun, hati Mustika berkecamuk saat memutarkan boneka di atas anglo. Jika upayanya menjauhkan Kinanti dari Damar berujung kematian, Mustika akan menanggung dosa besar. Apalagi, ibunya pernah mengatakan perbuatan syirik dapat mendatangkan kesialan. Saat asap jerami berlenggak-lenggok di udara, Mustika terseret bayangannya.

“Kamu pasti lupa,” ucap Kinanti seraya mengulurkan sampur di pentas bulan purnama. Mustika menerimanya dengan terpaksa. Ia sempat berpikir, apakah Kinanti rela kehilangan pamor?

Kenangan itu tidak dapat diusir dari benak Mustika. Sampur itu mengembalikan kepercayaan dirinya, sehingga ia dapat melenggang ke kanan-kiri, sesekali dikalungkan ke leher bujang ganong yang menghampiri. Saat itu, Mustika sangat menginginkan Damar mendekat di tengah tariannya. Tetapi, kenyataan memang sering mencurangi harapan. Damar justru meninggalkan lapangan di saat penonton semakin bergairah. Langkah Mustika berubah lemah setelah pandangannya bertemu dengan jathil lainnya. Dari gerakan mulut mereka, ada dua kata yang terserap; Kinanti dan masuk angin. Menyadari keberadaan Kinanti nihil, anggainya mencuat, nuraninya berdebar-debar. Perlahan, Mustika menepi dan berlari memikul bimbang.

Sejak mengetahui bahwa Damar menemani Kinanti di bilik rias, Mustika menyaksikan bahwa cinta tidak bergerak atas muruwah dan petuah. Di ambang kelambu, Mustika berdiri dengan punggung terguncang dan bibir bergetar. Damar menadahi muntahan Kinanti dengan rompinya. Bau telur busuk dan amonia menguar seiring dengan keluarnya sari-sari makanan. Hal yang memerihkan perlahan terjadi, Damar mengusap air liur, mengolesi minyak kayu putih, dan mengeluarkan sebuah koin untuk mengerok tubuh Kinanti. Lagi, kerelaan itu membuat Mustika menangis.

Kebenciannya mendarah daging pada pementasan berikutnya. Pada pagelaran reyog obyok di telaga Ngebel, hatinya terasa ditusuk ribuan jarum. Di antara keriuhan penonton yang berteriak cabul, Damar berjalan sambil menenteng topeng bujang ganong ke tengah panggung. Sebelum dipakai, ia berjalan memutari Kinanti dan mencolek pinggangnya. Gong berdentang-dentang, terompet ditiup panjang. Damar melakukan gerakan magak dengan iringan senggakan. Mustika sangat geram menyaksikan Damar memajukan kepala dan mengulir tangannya seperti hendak merengkuh Kinanti. Lekas, api cemburu menyulut dengan ganas.

Mustika yang merasa muak dengan kejadian itu akhirnya mulai merencanakan pembalasan. Lewat ilmu sihir yang dipelajari dari internet, ia mengumpulkan barang-barang perlengkapan; anglo, jerami, dupa, tanah kuburan, paku, jarum, serabut kelapa, dan bunga setaman. Ia ingin menunjukan bahwa orang-orang yang tersakiti tidak dapat terkalahkan.

“Tikus tengik!” umpatnya.

Satu persatu, air mata Mustika berjatuhan. Beriring dengan gerakan memutar boneka di atas anglo, jerit tangis memekik telinganya. Samar-samar, Mustika mendengar kata ibu. Dalam beberapa saat, pintu kamarnya digedor-gedor.***


Yeni Kartikasari, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. Dapat disapa melalui @yeni_kartikasarii.

Cerpen

Kisah Paman yang Disembunyikan

Cerpen Era Ari Astanto

Jika engkau ingin seperti Paman, itu wajar. Aku tahu engkau diam-diam membayangkan punya harta yang melimpah. Punya istri cantik dan baik. Apalagi dia memintamu mencari istri lagi setelah beberapa tahun belum juga dapat menumbuhkan keturunanmu di rahimnya. Lebih luar biasa lagi istrimu sendiri yang mencarikan istri kedua untukmu. Sangat langka terjadi, bukan? Jika demikian, engkau boleh merasa bahagia dan merasa menjadi lelaki paling beruntung. Apa yang engkau rasakan itu wajar belaka. Tapi aku tidak yakin kau merasa demikian, jika kau tahu kisah Paman yang dia sembunyikan.

Karir Paman di ibu kota memang gemilang, tapi tidak perihal jodoh. Begitu banyak wanita yang menolaknya. Entah karena apa tidak ada yang tahu persisnya. Padahal, wajah Paman tidak bisa disebut jelek walau juga tidak termasuk rupawan. Dia sering diolok-olok kawan-kawannya sebagai bujang lapuk lantaran usianya sudah berkepala empat.

“Mungkin karena kau hanya mencari wanita yang berparas biasa-biasa saja.” Kata seorang temannya suatu kali.

“Mungkin kau perlu mencari yang sangat cantik sekalian. Siapa tahu jodohmu malah yang cantik.” Kata teman yang lain sambil terkekeh, diikuti semua temannya.

Paman hanya nyengir, lalu ikut tertawa. Dia berpikir tidak perlu menanggapi serius olok-olok semacam itu.

“Lho, siapa tahu kan?” Tegas salah seorang temannya lagi.

“Sebaiknya dicoba. Masak takut. Kan sudah terlatih ditolak.”

Tawa teman-temannya meledak. Lagi-lagi Paman ikut tertawa.

“Aku ada saran. Mungkin Niki, yang karyawan baru itu, bisa kau dekati. Agak tomboi sih, tapi kupikir itu bukan soal.”

“Benar itu. Dia sangat cantik dan lumayan kalem lho, meski tomboi. Andai aku belum punya tiga anak, sudah kudekati dia.”

“Terlalu cantik dan muda buatku,” jawab Paman sambil tertawa. Dia tahu usia Niki belum menyentuh angka dua tujuh.

“Didekati saja dulu.”

“Atau harus kami comblangin?”

“Tidak perlu. Biar aku dekati sendiri.” Kata Paman dengan sok jantan.

“Oke. Kami tunggu kabar apa pun darimu.” Nadanya terkesan meragukan kesungguhan Paman.

Kali ini Paman tidak ingin diremehkan. Dia menunjukkan keberaniannya kepada teman-temannya dengan mendekati Niki, meski tidak berharap akan diterima. Justru dengan begitu dia bisa berbincang dan bercanda dengan sangat santai. Di mata teman-temannya sikap Paman sungguh tidak seperti saat mendekati wanita-wanita sebelumnya. Tapi, mereka bersikap biasa-biasa saja saat memergoki Paman berbincang dengan Niki.

Seiiring waktu, Paman dan Niki tampak semakin akrab dan lekat. Paman bisa merasakan kedekatan itu, meski tidak yakin diterima. Walau begitu, dia tetap mengatakan keinginannya memperistri Niki, saat makan malam bersamanya. Paman yang sudah bersiap mendengar kata-kata penolakan menjadi terkejut saat Niki mengatakan bersedia, meski dengan syarat.

“Apa itu?”

“Aku harus minta pendapat temanku dulu. Apa jawabannya, itulah keputusanku.”

“Boleh. Tapi, kenapa bukan meminta pendapat orang tuamu saja?”

“Tidak. Aku merasa temanku itu lebih memahami siapa aku.”

“Baiklah. Berapa lama aku harus menunggu?”

“Dua atau tiga hari. Bagaimana?”

“Aku akan menunggu dengan tenang. Cepat waktu segitu.”

Niki tersenyum. Sesungging senyum yang teramat manis di mata Paman.

***

“Aku berhasil, Kawan.” Paman berkata dengan wajah berseri kepada kawan-kawannya, saat mereka berkumpul di sebuah kafe.

“Kau yakin?” Nada kawan di samping kirinya seolah tak percaya.

“Tentu saja. Kami akan menikah satu bulan lagi.”

Tak bisa dipungkiri, kawan-kawannya kini memandang tak percaya.

“Aku sungguh-sungguh,” Paman berusaha meyakinkan mereka.

Sesaat kemudian mereka memberi ucapan selamat dan menyalami Paman, seperti baru saja memenangkan kuis berhadiah mobil mewah. Tapi, wajah mereka tak bisa menyembunyikan rasa masih tidak percaya. “Kami tunggu undangan resminya.” Kata salah satu dari mereka. “Tentu. Pasti itu.” Kata Paman dengan wajah tetatp berseri dan nada suara bersemangat.

***

Paman akhirnya berhasil menanggalkan predikat bujang lapuk. Teman-temannya pun ikut berbahagia dengan keberhasilan itu. Mereka memeluk erat Paman di acara pesta pernikahannya. Wajah mereka berhias senyum ceria saat memberikan ucapan selamat kepada Paman. Senyum Paman pun seperti tak pernah terjeda barang sejenak di hari bersejarah itu. Ini memang peristiwa indah yang tak akan mungkin dia lupakan. Aku sudah tidak akan lagi disebut sebagai perjaka tua, pikirnya.

Hari-hari selanjutnya menjadi saat-saat indah bagi Paman.

Kenapa dulu aku ketakutan mendekati wanita cantik, jika jodohku ternyata memang yang cantik? Walau dia tidak bisa memasak, tapi itu bukan masalah bagiku. Yang penting dia sangat menyenangkan saat di kamar. Dan lebih penting lagi, dia penyabar dan pengertian.

Begitulah pikir Paman saat merenungkan dirinya dan Niki.

Sampai suatu hari, Paman mengerutkan dahi, bertanya-tanya dalam hati saat melihat Niki tampak gelisah. “Ada masalah apa, Sayang? Wajahmu tampak gelisah.”

“Aku takut mengatakannya. Takut Mas marah.”

“Asal tidak mengatakan telah menyesal menikah denganku, aku tidak akan marah. Katakan saja.”

“Tentu aku tidak menyesal menjadi istrimu, Mas. Hanya saja aku merasa berhutang budi kepada Cici.”

“Hutang budi soal apa memangnya? Selekasnya kita balas kebaikannya.”

“Mas ingat soal aku harus minta pendapat temanku waktu kamu bilang ingin menikahiku?”

“Iya. Masih. Lalu?”

“Aku ingin membalas pemikirannya itu dengan memberikan sesuatu kepadanya. Apakah Mas setuju?”

Paman berpikir sejenak. “Boleh. Tanpa dia mungkin kita tidak jadi menikah. Kamu ingin memberikan apa kepadanya?”

“Mungkin sepeda motor. Atau Ponsel yang bagus. Atau apalah. Yang penting pantas.”

Paman tertawa mendengar perkataan Niki. “Boleh. Itu gampang. Besok kita belikan sepeda motor.”

“Sungguh?” Niki nyaris tak percaya dengan jawaban Paman.

“He-em,” jawab Paman tegas. Anggukan kepalanya pun terlihat mantap.

Niki tersenyum ceria dan segera memeluk serta mencium Paman berulang kali.

***

Tiga tahun berlalu terhitung sejak acara pesta pernikahan itu. Niki belum juga bisa hamil. Sebagai lelaki yang sudah berumur sangat matang, tentu dia memikirkan tentang keturunan. Dia berpikir, jangan sampai saat lanjut usia dia baru punya bayi. Itu sangat merepotkan. Gelagat kegelisahan itu tertangkap Niki. Berkali-kali dia minta maaf karena hal itu, walaupun kata dokter mereka berdua tidak punya masalah pada kesuburan.

“Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin akulah yang sudah terlalu berumur.”

“Tidak, Mas. Umur lelaki tidak menjadi penghalang untuk membuahi. Apalagi punyamu sangat bagus. Aku jadi merasa bersalah padamu, Mas.”

Paman membelai Niki dengan lembut, lalu perlahan menarik kepala Niki bersandar di dadanya. “Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin belum waktunya saja.”

“Bagaimana kalau Mas menikah lagi saja? Tapi, aku yang mencarikan.” Niki berkata dengan hati-hati. “Aku rela kamu menikah lagi, Mas.”

Paman terkejut dengan perkataan istrinya. Tepatnya karena tidak percaya. Sudah mengizinkan untuk menikah lagi, dan masih mau mencarikan pula. Nalurinya ingin segera punya keturunan tertarik dengan tawaran istrinya itu. Tapi, dia menahan diri dengan mengatakan “tidak”. Namun, Niki bersikeras akan mencarikan Paman istri lagi. Melihat keteguhan istrinya itu, Paman menyerah. “Baiklah jika kamu benar-benar rela dan mau mencarikan untukku, Sayang.”

Niki tersenyum. Wajahnya kembali cerah. “Terima kasih, Mas. Akan aku ingat-ingat siapa di antara teman-temanku yang belum menikah dan sekiranya cocok untukmu, untuk kita. Dan yang penting mau satu atap denganku.”

“Terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali. Beruntungnya aku punya istri sepertimu.”

Beberapa pekan kemudian Niki mengajukan sebuah nama kepada Paman. “Aku sudah mengatakan semua duduk perkaranya kepada Cici, Mas. Dia dengan senang hati mau menikah denganmu.”

“Jika kamu yakin dia akan baik kepadamu, aku setuju saja.”

***

Pada tahun baru sebelum pandemi covid-19 menyerang, Paman pulang beserta kedua istrinya. Memperkenalkan Cici kepada saudara-saudara di kampung. Semua saudaranya tentu terkejut dan takjub mendengar cerita tentang kebaikan Niki. Di antara saudara-sudaranya tentu ada yang iri dengan keberuntungan Paman. Aku tahu irinya mereka itu hanya karena Paman punya dua istri yang rukun. Tapi, apakah mereka merasakan apa yang kurasa? Mereka berdua terlalu rukun bagiku. Itu ganjil menurutku. Ah, mungkin itu hanya karena aku belum pernah melihat ada yang lebih rukun atau setidaknya sama rukunnya seperti Niki dan Cici. Aku segera menepis prasangkaku.

Keganjilan yang kurasakan saat tahun baru sebelum pandemi terjawab setelah pandemi mereda dan Paman bisa pulang lagi ke kampung halaman, tapi sendirian. Paman bercerita kepadaku, dan mengakunya hanya kepadaku. Suatu hari dia merasa tidak enak badan sehingga memutuskan pulang lebih awal dari kantor tempatnya bekerja. Dia mendapati rumah sangat lengang, sementara pintu depan tidak dikunci. Dia langsung masuk tanpa menaruh curiga apa pun, mengira kedua istrinya sedang tidur. Agar tidak mengganggu, dia berusaha melangkah tanpa menimbulkan berisik, menuju kamar Niki. Pintu kamar itu tampak terbuka beberapa inci. Perlahan dia mendorongnya tanpa menimbulkan suara. Matanya seketika terbelalak saat melihat dua wanita bergumul di atas ranjang tanpa penutup tubuh apa pun.

Paman ingin berteriak, tapi yang terjadi justru mulutnya tertutup rapat. Dengan tubuh gemetar dia merogoh ponsel di sakunya. Mengambil video secukupnya. Lantas, perlahan berbalik dan melangkah ke ruang depan. Menjatuhkan diri di atas sofa dengan tubuh masih gemetar menahan kekecewaan yang menjelma amarah.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).