Dunia Menulis

Tersesat

Cerpen itu semacam perjalanan. Tapi kasihan jika tokohnya tersesat sejak kalimat pertama. Ia tak tahu mau ke mana, siapa dirinya, bahkan kadang lupa sedang berada di cerita jenis apa. Yang lebih tragis, tokoh seperti ini kerap diciptakan penulis yang juga tersesat. Bedanya, tokoh fiktif tak bisa protes. Ia hanya bisa berdiri kikuk di halaman cerita, menunggu pembaca mengelus jidat sambil berkata, “Lho, lho, lho, gimana ini?”

Satu hal yang sering luput disadari, tokoh dalam cerpen bukan sekadar boneka. Ia bukan figuran yang muncul lalu hilang, apalagi hanya alat penyampai pesan moral seperti iklan layanan masyarakat. Tokoh butuh karakter. Bukan sekadar nama atau jenis kelamin. Tapi jiwa. Isi kepala. Isi hati. Dan cara berjalan yang meyakinkan. Bahkan kalau perlu, bau badannya pun terasa.

Masalah muncul saat karakter itu digarap setengah matang. Seolah pembaca bisa menerima begitu saja bahwa tukang becak tahu perbedaan antara antibodi dan antigen. Atau bahwa anak SD bisa mendadak khotbah tentang absurditas hidup karena baru ditinggal mati kucing. Boleh saja sih, tapi kalau tidak ada landasan yang kuat, ya jadinya konyol. Bukan keren. Bukan filosofis. Tapi semacam naskah sinetron yang dipaksa jadi puisi.

Logika dalam cerita fiksi bukan logika realitas, tapi logika semesta yang diciptakan sendiri oleh cerita itu. Kalau tokohmu anak kecil tapi omongannya sebijak Sokrates, ya beri alasan, mungkin diasuh pustakawan dan tinggal di perpus, atau berteman imajiner dengan Plato. Kalau tokohmu perampok, jangan tiba-tiba dia puasa misuh tanpa sebab. Karena, ya, penjahat pun punya selera diksi.

Pembaca kritis. Mereka bisa membedakan mana tokoh yang hidup, dan mana tokoh yang sekadar tumbuh dari tanah liat lalu dijemur buru-buru. Mereka bisa mencium kalau dialogmu dipaksakan dan tindakannya dibuat demi plot, bukan dari kemauan si tokoh.

Ironinya, banyak penulis yang membuat tokohnya bicara bukan karena si tokoh perlu bicara, tapi karena si penulis ingin menyelipkan kalimat keren yang ia dengar di YouTube. Tokohnya mendadak ngomong begini: “Aku ingin hidup seperti awan, bebas tapi tidak kehilangan bentuk.” Padahal dia baru saja ditilang karena melanggar lampu merah. Emangnya dia siapa? Penyair di masa tenang?

Lucunya lagi, banyak tokoh dibuat terlalu baik, terlalu bijak, terlalu tahu segalanya. Padahal tokoh yang kuat justru yang punya kelemahan. Yang kadang ceroboh. Yang salah langkah. Yang bikin pembaca gemas, bukan kagum terus-terusan. Tokoh terlalu sempurna hanya cocok di iklan sabun mandi. Di cerpen, itu racun.

Dan jangan lupakan satu hal paling mendasar, tokoh bukan sekadar penyalur ide penulis. Ia harus hidup mandiri. Kalau penulis pengin ceramah, mending buka seminar. Jangan suruh tokoh melawak demi pesan moral. Sebab akhirnya bukan pesan yang sampai, tapi kebosanan.

Kekuatan tokoh juga akan menentukan ending. Kalau tokohnya dibangun dengan karakter jelas, maka apa pun keputusan akhirnya akan terasa masuk akal. Ending mengguncang bukan soal twist mendadak. Tapi soal keputusan tokoh yang terasa wajar, meski pahit. Ending yang kuat lahir dari perjalanan yang logis, bukan dari sulap.

Tapi ya, kadang kita juga butuh sedikit kelakar. Misal, tokohmu guru matematika yang jago debat, tapi gagal move on dari mantan. Nah, itu menggemaskan. Atau tokoh ibu kos yang kelihatan jutek, ternyata penggemar drama Korea. Itu menyentuh. Tokoh yang hidup selalu menyimpan kejutan. Tapi kejutan itu bukan asal lempar, melainkan hasil penanaman karakter sejak awal.

Dalam dunia cerpen, menciptakan tokoh bukan cuma soal menempelkan profesi dan ciri fisik. Tapi juga merancang cara berpikir, cara melihat dunia, cara menghadapi konflik. Karena pembaca tak hanya ingin tahu si tokoh kerja apa, tapi bagaimana ia bertahan saat dihantam realitas.

Tokoh yang kuat akan membawa cerita ke mana pun ia pergi. Bahkan jika plotmu tipis, tapi tokoh punya daya tarik, cerita tetap bisa berdiri. Sebaliknya, plot secanggih apa pun akan ambyar kalau tokohnya tumpul, tak jelas mau apa.

Maka, wahai penulis, berhentilah menjadikan tokohmu sebagai juru bicara ego. Biarkan mereka hidup. Biarkan mereka salah. Biarkan mereka manusia. Karena kadang, justru dari kesalahan mereka, cerita itu menemukan napas.

Dan satu hal lagi, jika tokohmu datang padamu dalam mimpi lalu bilang, “Tolong, jangan tulis aku seperti kemarin. Aku malu dibaca orang,” maka itu tandanya kamu sudah keterlaluan. Segeralah bertobat. Perbaiki naskahmu. Dan buat tokoh-tokohmu berdiri gagah. Bukan karena sempurna, tapi karakternya jelas. Bukan sekadar berdiri kikuk di tengah cerita seperti orang tersesat. [] Redaksi

Dunia Menulis

Luka

Ada banyak sebab cerpen dianggap gagal total, cerita tidak logis, tokoh datar, konflik cuma sepenting memilih warna cat tembok, ending seperti tukang parkir, “udah, sini aja.” Tapi ada satu jenis kegagalan yang sering luput dari radar penulis (bahkan termasuk penulis senior), yaitu kegagalan teknis. Iya, hal-hal kecil yang katanya kecil, tapi dampaknya bisa mengoyak kesan pembaca sampai lumat. Tanda baca ngawur, typo bertaburan, kalimat tanpa pegangan, tata bahasa berantakan, dan kalimat tidak efektif yang membuat pembaca tersesat di hutan kata tanpa kompas.

Masalah teknis ini sering dianggap sepele. “Ah, penting ceritaku keren, idenya baru, konfliknya kuat.” Oke, kita terima dulu pernyataan itu dengan senyum manis. Tapi izinkan saya, dan semoga pembaca tidak marah, mengangkat pisau bedah satire untuk membedah luka bernanah di tubuh cerpen.

Mari kita mulai dengan tanda baca. Titik dan koma kadang diperlakukan seperti sandal jepit, dipakai sesukanya, kadang hilang, kadang nyelip di tempat yang bukan rumahnya. Padahal, mereka fondasi ritme. Kalau cerpen adalah musik, maka titik dan koma adalah ketukan. Salah satu hilang, nada bisa melenceng. Coba baca: Ia pergi tanpa berkata apa apa. Rasanya seperti makan mie tanpa bumbu, kering dan membuat lidah protes. Tambahkan satu tanda hubung: apa-apa, maka maknanya kembali utuh. Sederhana, tapi vital.

Lalu soal kalimat efektif. Ini sering jadi ajang pertunjukan sirkus kalimat. Panjang, berbelit, kadang sampai pembaca lupa sedang baca cerita atau tesis. Kalimat yang seharusnya mengantar makna malah membawa pembaca jalan-jalan ke awan. Misalnya: Dalam suasana yang penuh tekanan batin dan gejolak perasaan yang tak menentu, ia, sosok pria yang sudah lanjut usia itu, memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan yang mungkin tidak bisa diubah lagi. Hm. Tidak salah sih. Tapi kita bisa memangkas menjadi: Dalam tekanan batin, pria tua itu mengambil keputusan final. Hemat kata, hemat tenaga, hemat napas pembaca.

Soal kalimat baku dan tata bahasa, ini seringkali menjadi korban kreativitas yang terlalu liar. Kadang penulis ingin tampil beda dengan membuat diksi sendiri, struktur sendiri, bahkan membuat semacam bahasa alien, dan hanya dia yang paham. Apakah sah? Sah. Tapi jangan salahkan pembaca kalau mereka memilih meletakkan cerpen di laci penuh debu dan memilih scroll TikTok yang lebih bisa dimengerti. Kadang, demi gaya, penulis tega membantai EYD. Dan celakanya, mereka bangga. “Gue anti-kemapanan.” Padahal, yang anti itu bukan revolusioner, tapi cuma malas baca ulang.

Nah, yang paling menggelikan adalah typo. Kesalahan ketik ini kadang membuat cerpen berubah genre. Cerpen horor menjadi komedi hanya karena satu huruf. Ia menatap masa depan dengan cemas. Tapi yang tertulis: Ia menatap masa depan dengan cemss. Nah lho, pembaca jadi mudah teralihkan pada hal yang jauh dari konteksnya.

Typo sering dianggap hal biasa. Bahkan kadang dianggap bumbu estetika. Tapi bayangkan kalau dalam cerpenmu tertulis: Dia menusuk lehernya dengan pisah.” Tunggu, maksudnya apa ini? Yang ditusuk apa, dengan apa? Satu huruf bisa membelokkan emosi pembaca.

Ironisnya, banyak penulis yang merasa dirinya sudah bagus untuk tak perlu repot menyunting sendiri tulisannya. Mereka merasa kerja editing urusan editor. Wahai penulis, izinkan untuk membisikkan satu fakta getir, tak semua cerpenmu akan beruntung ditemukan oleh editor sabar. Banyak naskahmu akan langsung ditolak hanya karena typo di mana-mana.

Kita memang manusia. Bisa salah. Tapi bukan berarti kita berhenti berusaha agar tulisan kita benar. Menulis itu seni, tapi seni yang tidak belajar aturan hanya akan jadi corat-coret. Cerpenmu bisa punya imajinasi luar biasa, tapi kalau teknisnya compang-camping, ya tetap saja seperti menyajikan wine dalam ember cat.

Menjaga tulisan dari kesalahan teknis itu seperti menyetrika baju sebelum bertemu orang penting. Mungkin tak semua orang sadar kamu sudah menyetrika, tapi kalau bajumu lecek, semua orang pasti lihat. Dan kalau kamu malas menyetrika, jangan heran kalau cerpenmu dianggap kumuh meski kamu merasa itu mahakarya.

Ada saatnya pembaca tersentuh oleh cerita yang kuat. Tapi ada pula saat mereka tersandung oleh koma yang nyasar, atau geli karena kata “pecah” tertulis “peach”. Konyol? Iya. Tapi konyol yang menyakitkan. Kalau kamu benar-benar cinta pada cerpenmu, rawat dia dari akar hingga titik akhir. Jangan biarkan ia tersandung di altar redaktur hanya karena kamu terlalu santai menertibkan tanda baca.

Jadi, mulai sekarang, mari kita bersihkan cerpen kita dari luka teknis. Jangan sampai cerpenmu yang seharusnya menohok justru terpeleset karena hal teknis. Jangan biarkan pembaca menangis bukan karena ceritamu mengharukan, tapi karena frustasi membaca kalimat berbelit. Sebab kadang, luka paling dalam di cerpen bukan di cerita, tapi di naskahnya.

Dan ketika kita tidak ada usaha untuk membersihkan kesalahan, hal itu namanya lukanya luka. Akhirnya, semoga tidak ada luka di antara kita. [] Redaksi

Dunia Buku

ARO

Ada satu aroma tidak bisa direplika oleh pabrik parfum mana pun. Semuanya menyerah. Ia bukan bau vanila, bukan bau kayu manis, bukan pula bau lavender. Tapi siapa pun pernah memegang buku, membuka lembarannya pelan-pelan, lalu mencium baunya, akan tahu. Ini aroma bikin rindu masa lalu sekaligus masa depan. Aroma buku, bau khas dari kertas, tinta, waktu, dan kenangan.

Mungkin terdengar lebay. Tapi coba saja cari di internet: “Buku bau apa sih?” Maka muncullah teori-teori ilmiah tentang lignin, selulosa, oksidasi tinta. Tapi bagi para pecinta buku, tak butuh laboratorium. Hidung dan hati cukup. Karena aroma buku bukan sekadar senyawa kimia, tapi kombinasi rahasia antara memori dan imajinasi.

Buku baru punya aroma ambisi. Bau tinta segar dan harapan. Ada optimisme merekah saat membuka halaman pertama. Rasanya seperti beli sepatu baru, belum dipakai tapi sudah berandai-andai akan ke mana saja dengannya.

Sementara buku lama punya aroma nostalgia. Kadang baunya mirip gudang, kadang mirip pelukan nenek. Ada debu membuatmu bersin, tapi justru bikin senyum. Buku tua itu seperti kakek bercerita di sore hari, dengan suara berat dan mata berkaca. Lembarnya sudah menguning, tapi justru di situlah hangatnya.

Lucunya, aroma buku ini bisa bikin orang terlihat sangat filosofis. Orang suka bilang baca buku, padahal suka cium-cium baunya. Bacanya malah lupa, karena terlalu sibuk mengendus. Ada pula sampai motret video slow motion buka halaman sambil bilang, “Hmm, baunya itu loh, tenang banget.” Tapi setelah ditanya ceritanya tentang apa, jawabannya: “Belum baca sih, baru nyium.”

Ironis, memang. Buku mestinya dibaca malah jadi objek penciuman. Tapi begitulah. Kita hidup di zaman di mana buku dipeluk lebih erat daripada dibaca. Bahkan sekarang ada  ruangan disemprot dengan smell of paperback nostalgia. Sebentar lagi mungkin ada essential oil dengan label: Bau bab keempat: pencerahan.

Aroma buku telah menjelma identitas. Ia adalah bau kaum intelektual, atau ingin tampak intelektual. Tapi jangan salah. Di balik itu semua, ada kisah haru. Banyak orang mencium buku karena merasa dekat. Merasa disapa. Karena hidup terlalu riuh, dan hanya dalam aroma buku itu mereka merasa tenang.

Saya punya teman, sebut saja namanya ARO. Dulu dia tinggal di rumah kontrakan sempit, sempit sekali, bahkan rak bukunya harus gantian dengan jemuran. Tapi tiap pulang kerja, dia selalu buka satu buku, lalu menciuminya seperti surat cinta. Hanya selalu begitu. Tak sempat membaca, tapi baunya cukup untuk memeluknya setelah sepanjang hari gila. “Aromanya kayak dulu waktu aku masih bisa mimpi,” katanya suatu malam.

Dan saya paham. Betapa mencium buku bisa jadi semacam ritual pereda luka. Seperti mengingat bahwa dunia tak seluruhnya bengis. Halaman-halaman masih diam dan sabar menunggu dibaca.

Tapi tentu saja, kita juga harus waspada. Jangan sampai penciuman ini mengganti akal sehat. Jangan sampai kita mengira mencium buku setara dengan memahami isi. Seperti orang mencium bungkus kopi lalu mengira dirinya sudah jadi barista. Buku bukan aromaterapi semata. Ia mengandung ide, kritik, gagasan. Bukan hanya bau, tapi juga arah.

Ada pula sisi jenaka dari pencinta aroma buku. Pernah suatu kali, ada teman ketahuan mencium buku di toko, lalu dia kembalikan lagi karena tak sanggup beli. Satpam mendekat, bukan karena mencuri, tapi karena ekspresinya terlalu khusyuk hingga tak terasa air matanya meleleh.

“Kamu ngapain, Mas?”

“Cuma cium, Mas.”

“Lain kali bawa tisu, ya.”

Tapi ya begitulah. Aroma buku telah jadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman membaca. Ia seperti senyuman pertama dari seseorang baru kita temui. Belum kenal, tapi sudah membuat jatuh hati.

Dan jika kelak dunia benar-benar digital, ketika buku tinggal dalam bentuk PDF dan e-book, mungkin yang paling kita rindukan bukan halaman atau cover, tapi aromanya. Karena tak ada tombol di layar ponsel untuk merasakan aroma nostalgia dari gesekan jari.

Maka mari kita rawat aroma buku seperti kita merawat ingatan. Bukan untuk disembah, tapi untuk dikenang. Bukan untuk gaya, tapi untuk diselami.

Kalau nanti kau lihat orang mencium buku di sudut toko atau perpustakaan, jangan tergesa menertawainya. Mungkin dia sedang mengenang cinta pertama. Atau sedang menghidupkan harapan lama yang nyaris pindah ke alam baka.

Dan, siapa tahu, buku yang kau cium hari ini, akan jadi wangi kenangan bagi pacar-pacarmu kelak. Eh, salah. Bagi anak cucumu kelak. [] Redaksi

Dunia Menulis

AUM

Ada masa ketika menulis cerpen seperti bercerita pada sahabat, jujur, mengalir, penuh peluh ketika meronce kisah agar kece. Tapi kini, di beberapa halaman antologi cerpen, kita sering mendapati cerpen yang tampaknya lebih sibuk bercumbu dengan majas daripada dengan makna. Kalimatnya berdansa. Lalu jatuh. Lalu kita sebagai pembaca ikut terguling ke selokan karena tak tahu lagi ini cerita, atau puisi, atau apalah.

Fenomena overdosis majas bukan penyakit baru, tapi gejalanya makin menjadi-jadi. Mungkin karena medsos terlalu murah hati memuji, atau pembaca doyan quotes senja karena lebih mudah tersentuh oleh kalimat seperti: Rinduku menari dalam sunyi yang memerah seperti luka di dada langit. Entah langit siapa yang berdarah, tapi penderitaan kata-kata sepertinya makin tidak ditanggung oleh karakter dan plot.

Mari kita bicara serius. Cerpen adalah tentang cerita. Narasi. Konflik. Ketegangan. Dialog hidup. Tokoh bernyawa. Tapi overdosis majas menjadikan cerpen semacam kontes rias wajah, di mana ceritanya sudah pucat pasi, tapi ditimpa bedak metafora tebal agar terlihat hidup. Sayangnya, bukannya bernyawa, tapi justru menjadi seperti zombie, jalan terpincang dengan makna kosong tapi penuh pernak-pernik kata.

Kita tidak membenci personifikasi atau mengusir hiperbola ke comberan. Tapi ketika setiap benda menangis, setiap angin berbisik, dan setiap bayangan mengintip masa lalu, kita lantas bertanya, ini cerita atau seminar pelatihan aktor figuran?

Ada satu cerpen yang pernah saya baca, saking “puitis”-nya, saya lupa siapa tokohnya, apa konfliknya, dan ke mana arah ceritanya. Tapi saya ingat ada embun yang menggigil, bantal yang berzikir, dan tembok yang menyimpan dendam. Saya ingin memeluk tembok itu dan bilang: “Sabar ya, Mbok, Tembok. Ini bukan salahmu.”

Cerpen seperti itu memang tidak buruk. Tapi kadang ia memaksa pembaca jadi sastrawan dadakan, kita harus menafsir tiap kata, menerka makna tiap kalimat, semacam: Hatinya hujan gerimis yang malu-malu mengguyur batu nisan rasa. Siapalah kita ini, cuma manusia biasa yang ingin membaca cerita, bukan menelusuri tesis linguistik.

Ada juga penulis yang beranggapan, semakin banyak menumpahkan majas, makin tinggi mutu tulisannya. Mungkin karena terlalu sering baca cerpen pemenang lomba yang memang kadang gemar berdandan. Tapi perlu diingat, pemenang lomba itu bukan karena mereka banyak pakai majas, melainkan karena mereka tahu kapan dan seberapa banyak majas digunakan. Mereka paham, satu majas yang tepat bisa menikam lebih dalam daripada seratus metafor yang dibentangkan seperti spanduk diskon.

Senyum dulu, yuk. Biar tidak tegang.

Saya pernah menerima kiriman cerpen, dengan catatan: Tolong kasih masukan ya, ini cerpen puitis banget. Saya baca. Tokohnya cuma disebut “ia”, konflik tidak ada, tapi ada 37 kata kerja pasif dan 13 kata “senja”. Ending-nya? Tiba-tiba langit pecah. Saya cuma memberi komentar: Bagus. Untuk jadi caption Instagram.

Kita boleh tertawa, tapi ini realita yang menggelitik. Kadang penulis tak sadar bahwa cerpennya kehilangan kejujuran karena terlalu sibuk mempercantik kata. Padahal, pembaca butuh kejujuran. Butuh cerita yang membuat mereka terisak, tergelak, terpukul, tercenung, atau terpental, bukan hanya terpukau oleh kata-kata manis.

Majas yang baik adalah yang tidak terasa. Tidak terlihat. Ia menyatu dalam narasi seperti garam dalam sup. Tapi ketika majasmu berjejal seperti bumbu rendang yang tidak diaduk, pembaca akan bingung. Mana rasa daging, dan mana rasa kunyit?

Ada satu cerpen jadul yang saya suka, isinya biasa saja. Tentang ibu dan anak. Tapi cara bercerita begitu jernih, tanpa banyak bumbu, hanya satu-dua perumpamaan lembut yang meletupkan makna. Di situlah saya belajar, kekuatan cerita bukan pada seberapa ribet kau merangkai kata, tapi seberapa dalam pembaca bisa merasa.

Menulis cerpen bukan sekadar menjejerkan keindahan diksi. Itu cuma salah satu alat. Menulis adalah menyampaikan rasa, membagi luka, membisikkan tawa, menyusupkan getir, dan menjahit kenyataan agar pembaca menganga. Cerpen yang baik bukan yang bikin pembaca berkata: “Indah sekali bahasanya”, tapi yang bikin mereka berhenti sejenak dan berkata: “Anjir. Cerpennya gilak.”

Jadi, wahai para pemburu majas, marilah kita turun sebentar dari awan yang menyesakkan. Kembali ke bumi, tempat tokoh kita berjalan. Biarkan mereka bicara dengan suaranya sendiri. Biarkan cerita mengalir dengan luka yang jujur, bukan air mata buatan dari langit-langit metafora.

So, bukan soto, cerpen bukan soal seberapa banyak kata-kata berdansa. Tapi seberapa kuat pembaca merasa setelah semua kisah berhenti. Ingat, majasmu harimaumu. Aum. [] Redaksi

Dunia Menulis

Bukan Kiamat

Konon, di sebuah negeri yang terlalu serius dengan kebenaran, satu typo bisa membuat seseorang dilengserkan dari kasta penulis andal. Satu kalimat tidak efektif bisa menyebabkan pembaca mendadak merasa lebih pintar dari redaktur. Dan satu cerpen yang telanjur dimuat dengan satu-dua cela, langsung membuat penulisnya masuk daftar hitam. Habis sudah, tak ada ampun. Kontrak sosialnya, menulis harus sempurna atau jangan menulis sama sekali.

Lucunya, ini bukan cerita fiksi. Ini bisa jadi cerita kita.

Bayangkan kau sudah menulis cerpen sebulan. Riset sana-sini. Kalimat dipoles, narasi dibelai, paragraf dironce. Kau kirim ke media, dan dimuat. Tapi begitu kau baca lagi di koran itu. Cling! Kau temukan kalimat ganjil: Perempuan itu menatap kosong dengan mata penuh makna yang kosong. Kosong dua kali. Kosong-kosong.

Malu? Tentu. Panik? Lumayan. Ingin kabur ke Kutub Selatan dan buka warung kelapa muda? Sangat.

Tapi mari kita duduk sebentar. Ambil napas. Dan pikirkan, apakah kesalahan itu layak jadi kiamat kecil? Apakah kita layak dilabeli gagal hanya karena satu-dua hal yang lolos dari radar kita, dan redaktur?

Kesalahan dalam tulisan itu seperti ketombe di jas hitam. Mengganggu, tapi tidak berarti kepala kita copot. Typo, kalimat tak efektif, repetisi info, atau kalimat bijak yang lebih panjang dari cerpennya sendiri, semuanya bisa terjadi. Bahkan pada penulis yang sudah punya gelar tak resmi sebagai penulis andal. Sialnya, gelar ini memang jebakan. Begitu kita diberi label andalan, orang mengira kita tak mungkin keliru. Padahal, siapa pun yang masih hidup masih bisa salah. Tuhan saja memberi manusia tombol salah. Masa kita menolak?

Yang lebih menggelikan adalah ketika cerpen itu sudah dibaca ribuan orang, lalu tiba-tiba muncul satu komentar di kolom pembaca: Penulisnya kok bisa pakai kata ‘mendekatkan diri pada jauh’? Itu kan bertentangan! Padahal, ya itu metafora. Atau kadang memang kita yang kurang teliti. Tapi bukankah justru dari situ kita tahu, oh, ternyata masih ada yang harus diperbaiki.

Lalu bagaimana sikap kita?

Pertama, jangan langsung merasa dunia berakhir. Kecuali typo-nya adalah “sayang” jadi “sapi” dan membuat kisah cinta berubah jadi kisah ternak—tenang saja. Malu, boleh. Mengernyit, wajar. Tapi jadikan itu bahan tertawaan yang sehat. Kalau perlu, jadikan lelucon di Instagram: Cerpen dimuat! Eh, ada kalimat yang bikin saya ingin kembali ke rahim ibu. Tapi tenang, ini masih saya yang menulis. Sedang menjadi manusia.

Kedua, jangan biarkan kesalahan menggerogoti kepercayaan diri. Justru itu bukti bahwa kita terus menulis. Orang yang tak pernah salah, biasanya tak pernah menulis. Atau menulis tapi tidak pernah dimuat, jadi tak ada yang bisa dikritik.

Ketiga, akui saja. Dengan jujur dan ringan. Iya, itu kalimat kurang enak. Mungkin karena saya terlalu semangat waktu nulis. Jangan malah ngeles pakai teori sastra posmodernisme demi membenarkan satu kesalahan. Nanti malah makin terlihat tak bijak.

Kita hidup di dunia yang terlalu sering mencintai citra sempurna. Penulis harus sakti. Karya harus steril. Tapi hei, cerpen bukan laboratorium virus. Kesalahan bukan penyakit menular. Kadang justru kesalahan kecil jadi titik haru yang membuat kita makin dekat pada pembaca. Karena pembaca tahu, penulis masih manusia. Masih bisa tersandung kata.

Dan sialnya, di antara yang mencibir typo kita, pasti ada juga yang baca sampai habis dan diam-diam terharu. Tapi ya begitulah dunia: yang cerewet biasanya tak tersentuh, yang tersentuh biasanya diam-diam.

Jadi, apakah setelah cerpen kita yang cacat itu terbit, kita harus pensiun dini? Tidak. Kecuali kita memang lebih cocok buka warung tahu kupat. Tapi kalau menulis itu sudah jadi degup harian, jangan biarkan satu dua titik menghalangi kita. Menulislah terus. Nanti juga kita tertawa sendiri membaca cerpen lama: “Wah, dulu saya nulis ginian ya? Hahaha.” Dan itu tawa yang sehat.

Akhirnya, mari kita jujur,  siapa sih yang tak pernah menulis kalimat jelek? Atau menyisipkan petuah bijak yang ternyata basi? Atau membubuhkan ending yang membuat pembaca ingin marah tapi tak tahu ke mana? Semua penulis punya itu. Tapi mereka terus menulis.

Jadi, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kita bukan sedang mencetak undang-undang. Kita hanya menulis cerita. Dan kadang, salah ketik juga punya kisahnya sendiri.

Yang aib dalam dunia menulis adalah, berhenti menulis hanya karena takut salah. Yang lain? Bukan aib. Bukan Kiamat. [] Redaksi

Dunia Menulis

Terserah

Banyak orang mengira, menulis cerpen itu hanya perkara mengatur alur dan mengisi dialog. Mereka lupa, bagian paling berdarah, sering kali adalah di akhir cerita, ending. Itu momen ketika penulis duduk termenung, menatap layar, lalu bertanya ke diri sendiri: “Mereka harus bahagia atau hancur saja sekalian?”

Ending bukan sekadar titik di ujung kalimat. Ia adalah pertanggungjawaban narasi. Ia seperti saksi kunci di persidangan, tidak harus menyenangkan semua orang, tapi harus masuk akal.

Di jagat cerpen, ada mitos kuno yang masih dilestarikan oleh banyak pembaca, bahkan redaktur, bahwa ending bagus harus mengejutkan. Harus twist. Harus membuat pembaca terpental dari kursi sambil ternganga. Padahal tidak semua cerita butuh ledakan. Kadang, ending yang diam-diam menyelinap justru yang lebih menampar.

Lebih lucu lagi, sebagian orang mengira ending cerpen semacam kelas bimbingan moral. Yang jahat harus dihukum. Yang baik harus menikah. Yang murtad harus bertobat. Yang miskin harus kaya. Seakan cerpen adalah khutbah yang disisipkan di antara tokoh dan dialog.

Padahal, hei, ini fiksi. Bukan pelajaran PPKn. Ending cerpen tak wajib mengatur lalu lintas moral. Bahkan saat tokoh baik kalah dan mati mengenaskan, pembaca masih bisa bilang dalam hati: Aku nggak mau hidup kayak dia. Bukankah itu juga sebuah pesan?

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis, dan mungkin beberapa redaktur adalah menyimpulkan cerita di akhir. Memberi penjelasan. Memaksakan makna. Menuliskan dengan huruf kapital: MAKA DARI ITU, KITA HARUS…

Duh. Cerita bukan esai. Ending bukan tempat menyampaikan inti, tapi ruang hening tempat pembaca menarik napas dan memaknai sendiri. Ending bukan kesimpulan. Karena cerita bukan diskusi panel. Ia bukan debat terbuka yang harus ditutup moderator.

Biar pembaca menggumam, “Lho, kok gitu?” atau “Lho, kok malah diem?” atau “Yah, mati?” Tak perlu semua diberi tahu. Toh hidup kita pun tak semua tuntas. Banyak cerita tak punya ending. Atau kalaupun ada, sering kali bukan seperti yang kita harap.

Ada tiga jenis ending:

Pertama, tertutup. Segalanya selesai. Nasib tokoh diketahui. Lalu kunci dilempar ke laut. Penulis pamit dengan tenang.

Kedua, terbuka. Cerita berhenti, tapi kehidupan tokoh terasa masih lanjut. Seakan penulis berkata: “Cukup sampai  di sini, sisanya urusanmu.”

Ketiga, terjerembap. Yang ini paling brutal. Ending yang tiba-tiba menikam. Twist yang tidak kau duga. Tapi tetap logis. Bukan twist abal-abal yang dipaksa hanya untuk efek ‘wow’.

Sayangnya, banyak twist zaman sekarang lebih mirip sulap murahan. Tiba-tiba tokohnya  alien. Atau ternyata semua mimpi. Atau ternyata si tokoh sejak awal sudah mati. Ending semacam itu, kalau tak dibangun dengan narasi solid, cuma bikin pembaca bilang: “Yaelah…”

Ending tak harus menyedihkan untuk jadi kuat. Tapi kadang, yang paling membekas memang yang bikin perih. Yang bikin pembaca menatap dinding beberapa menit setelah menutup cerita. Bukan karena tak paham, tapi karena terlalu paham. Ending yang bagus bukan yang menjawab semua pertanyaan, tapi yang membuat pembaca bertanya kepada diri sendiri.

Ending juga bisa jenaka. Bukan sekadar lucu, tapi menggelitik. Menampar dengan tawa. Seperti tokoh yang akhirnya nikah bukan dengan yang ditaksir, tapi dengan ibu kos. Atau tokoh yang sepanjang cerita mencari Tuhan, tapi malah ketemu cicilan motor.

Ending bukan tempat penulis bertindak sebagai Tuhan. Atau hakim moral. Atau guru agama. Ending adalah tempat penulis merunduk, menyingkir, dan membiarkan cerita bernapas. Tugas penulis bukan memberi jawaban, tapi membiarkan pembaca bertanya.

Maka tak perlu khawatir jika tokohmu mati muda, gagal jadi pahlawan, atau malah kabur ke luar negeri. Itu bukan cerita gagal. Kadang justru di situ letak kekuatannya, kita belajar dari kegagalan, karena hidup memang tak selalu adil.

Wahai penulis, jangan terlalu gelisah saat membuat akhir cerita. Jangan merasa harus memberi pelajaran. Cerita yang ditulis dengan jujur akan mengandung pesan, bahkan jika tokohnya tenggelam tanpa jejak. Pembaca akan menafsirkan. Pembaca akan merasa. Dan itu cukup. Jadi, akhir cerita bukan pamflet. Bukan petuah. Kadang hanya desah napas terakhir, dan terkait rasanya, biarkan terserah pembaca. [] Redaksi

Dunia Buku

Satu, dong!

Hari ketika penulis merilis buku barunya adalah hari sakral. Seperti petani panen padi. Seperti seniman buka pameran. Seperti mantan tiba-tiba minta maaf, sangat berarti, bermakna, dan agak getir. Tapi di tengah segala haru dan doa, datanglah satu fenomena klasik yang entah kenapa tak pernah punah, teman minta buku gratisan.

“Ih, selamat ya! Bagi bukunya dong satu!”

Kalimat itu manis. Sekilas seperti ucapan tulus. Tapi di telinga penulis, nadanya berubah seperti: “Selamat ya, traktir aku pakai hasil keringatmu, boleh?”

Dan anehnya, mereka bilang sambil tertawa. Seakan guyonan. Seolah ini lelucon lama yang masih layak tayang, seperti sinetron azab.

Coba perhatikan, teman yang tak pernah baca tulisan kita, tak pernah beli buku kita yang pertama, tak pernah share atau komen satu pun karya kita, adalah orang pertama yang minta gratisan saat kita rilis buku baru. Dan biasanya mereka bilang: “Kita kan temen.”

Kalimat itu, entah kenapa, langsung membuat udara sekitar jadi dingin. Kita mendadak ingat masa-masa begadang, revisi, deadline, naskah yang ditolak, honor ditunda. Kita ingat bahwa di negeri ini, penulis bukan profesi glamor. Bukan seperti selebgram endorse serum pencerah. Setiap buku terjual mungkin hanya menghasilkan royalti dua ribu sampai lima ribu rupiah. Satu kopi hitam kecil. Kalau teman minta satu buku gratis, itu sama dengan kehilangan royalti dari sepuluh buku. Artinya, temanmu barusan meminum sepuluh cangkir kopi kecil dari darah dan tinta keringatmu.

Lucunya, orang yang enggan beli buku, bahkan diskonan pun ogah, justru tak pernah keberatan beli kuota untuk nonton TikTok 3 jam sehari. Mereka bisa transfer 150 ribu buat beli skincare viral, tapi tak sanggup beli buku 60 ribu yang ditulis temannya sendiri.

Itu seperti datang ke warung tetangga dan bilang, “Wah, laris ya! Bagi mie instannya satu bungkus dong, gratis aja. Kita kan tetangga.”

Konyol? Ya. Tapi di dunia buku, kejadian ini nyata.

Ada teman yang akan bilang, “Ah masa temen nggak dikasih buku?” Tapi justru, teman sejati biasanya tak akan minta. Mereka tahu bahwa mendukung artinya membeli. Mendukung artinya menyebarkan. Mendukung artinya tidak menjadikan keringat orang lain sebagai hadiah gratisan.

Dan jika kau memang benar teman, kau tak akan membebani si penulis dengan kode-kode seperti, “Duh, pengen sih bukunya tapi dompet lagi kurus nih,” sambil melirik nanar. Karena penulis itu bukan dewa. Dia juga bayar listrik. Dia juga harus makan. Bahkan, kadang si penulis tak sanggup beli bukunya sendiri. Ironis, bukan? Penulis yang menciptakan buku, justru tak bisa mengakses hasilnya karena harga cetak dan royalti yang timpang.

Kalau memang harus gratisan, mungkin penulis perlu buat formulir permintaan buku gratis. Dengan pertanyaan seperti ini:

“Sudahkah Anda beli buku saya sebelumnya?”

“Pernahkah Anda membagikan info buku saya di media sosial?”

“Apakah Anda bersedia membayar buku ini dengan nasi goreng telur dan teh manis hangat minimal tiga kali?”

Atau mungkin penulis perlu mencetak buku edisi khusus, halaman kosong semua, cuma ada tulisan besar di depan: Ini buku gratisan, karena kamu minta, bukan karena kamu peduli.

Tapi di tengah geli dan perih itu, selalu ada kejutan manis, teman yang beli lebih dari satu eksemplar. Teman yang berkata, “Aku beli dua. Satu buatku, satu buat aku kasih ke orang.”

Dan percayalah, air mata penulis bisa menetes gara-gara hal itu. Bukan lebay. Tapi karena akhirnya ada juga yang mengerti, membeli buku teman adalah bentuk penghormatan. Bukan soal uangnya, tapi soal pengakuan atas kerja keras.

Jadi, jika temanmu merilis buku, jangan minta gratisan. Beli. Promosikan. Beri ulasan. Tunjukkan bahwa persahabatan itu bukan berarti minta jatah gratis, tapi memberi ruang untuk berkembang. Tak ada yang salah dengan ingin baca, tapi salah besar jika ingin gratis hanya karena merasa dekat.

Karena kedekatan yang membuatmu menuntut tanpa memberi, bukan kedekatan, itu keegoisan berjubah keakraban. Dan buku, sebagaimana cinta, pantas dihargai, bukan diminta tanpa usaha.

Akhir kata, mari kita akhiri tradisi “teman minta buku gratis” dan mulai budaya “teman beli buku teman.” Karena penulis bukan pabrik hadiah. Ia cuma manusia yang sedang berjuang, satu kata demi satu kata. [] Redaksi

Dunia Buku

Tidak Pulang

Pernahkah kau melihat ada bagian rak bukumu yang tiba-tiba kosong dan kau tahu betul siapa pelakunya? Bukan perampok. Bukan penjarah. Tapi temanmu sendiri. Iya, dia yang dengan wajah penuh harap dan bibir manis berkata, “Pinjem bukunya, ya. Cuma bentar kok. Minggu depan kubalikin.” Lalu minggu depan datang. Lalu bulan depan. Lalu tahun depan. Lalu lenyaplah buku itu bersama ikrar dan kenangan.

Meminjam buku dan tak mengembalikan adalah satu dari sekian banyak dosa sosial yang jarang masuk khotbah Jumat, tapi dampaknya menggerus iman literasi secara perlahan. Dan yang lebih menyakitkan, pelakunya sering kali adalah orang baik. Saking baiknya, dia bisa tertawa saat kita menagih bukunya kembali, seakan buku itu cuma pinset alis yang tertinggal di rumah mantan.

Ada keanehan kolektif yang layak dikaji para ahli, mengapa sebagian orang merasa bahwa meminjam buku berarti memiliki buku itu? Apakah karena buku tak bersuara saat digondol? Apakah karena ia tak menggonggong seperti anjing penjaga rumah?

Lucunya, mereka yang paling rajin meminjam buku justru yang paling sering memposting kutipan Paulo Coelho dan mengunggah foto cangkir kopi di samping buku yang mereka tak pernah beli. Mereka berkata, buku itu jendela dunia, tapi tak pernah beli daun jendelanya. Mereka mengaku hobi baca, tapi kalau disuruh kembalikan buku, mendadak amnesia.

Dan mari kita bicarakan hal yang lebih getir, kadang yang hilang bukan buku sembarangan. Bukan majalah gosip. Tapi buku yang kau simpan sejak SMA. Buku dengan catatan kecil di pinggir halaman. Buku dengan bekas tanganmu sendiri. Buku yang penuh sejarah, seperti mantan yang pernah kau perjuangkan, tapi kemudian disunting orang lain tanpa pamit. Sekarang buku itu entah di mana. Mungkin jadi tatakan panci. Mungkin ikut pindah rumah. Mungkin sedang dijual online oleh pelakunya dengan judul, Jarang dibaca, kondisi mulus.

Mungkin sudah waktunya ada lembaga sekelas KPK untuk urusan perbukuan. Komisi Pemberantasan Kehilangan Buku. Dengan pasukan berseragam yang menyita buku-buku yang tak pernah kembali ke pemiliknya. Setiap buku yang hilang diberi chip pelacak. Dan ketika buku itu dibuka oleh orang yang bukan pemilik, akan terdengar suara: “Kembalikan aku, Manis.”

Atau lebih ekstrem lagi, kita jadikan kasus ini masuk pidana ringan. Hukuman sosialnya? Wajib menulis satu cerpen tentang perasaan buku yang ditelantarkan.

Buku itu bukan sekadar kertas dan lem. Ia menyimpan waktu. Kadang saat kau membukanya lagi, kau teringat suasana hujan saat pertama membacanya. Atau bau warung kopi tempat kau menekuri satu bab yang menyentuh. Dan ketika buku itu tak kembali, bukan hanya fisik yang lenyap, tapi juga fragmen kecil dari hidupmu ikut raib.

Ini bukan soal pelit. Bukan tak rela berbagi. Tapi soal etika. Soal tanggung jawab. Buku itu bukan kado gratis dari semesta. Ia dibeli, dipilih, dan dirawat. Jadi ketika kau meminjam dan tak mengembalikan, kau sedang merampas lebih dari sekadar benda. Kau mengambil kenangan, kepercayaan, bahkan sebagian kecil rasa sayang.

Ada jenis peminjam yang lebih dramatis. Dia pinjam satu buku, lalu minta pinjam lagi yang lain. Saat kita tanyakan buku pertama, dia jawab, “Tenang aja, aman kok.” Kata aman itu seperti alarm merah, bisa berarti bukunya dipinjamkan ke orang lain tanpa sepengetahuan kita. Atau lebih parah, sudah tertimbun di balik lemari bersama sandal jepit hilang sebelah dan charger yang telah rusak.

Tapi anehnya, kita tetap meminjamkan buku. Entah karena berharap buku itu akan kembali. Entah karena kita terlalu baik. Atau entah karena kita tahu, setiap kehilangan punya cerita.

Bagi yang sering merasa sungkan menagih, percayalah, itu bukan kejahatan. Itu hakmu. Itu bukan dosa. Kau sedang menagih sesuatu yang memang kau punya. Bukan sedang mengejar utang cinta. Dan bagi yang merasa bangga bisa mengamankan buku orang lain selama bertahun-tahun, cobalah renung sejenak, jika bukumu sendiri yang diperlakukan begitu, masihkah kau bisa tersenyum?

Mungkin, kelak, kita akan bisa berdamai. Dengan kehilangan, dengan rak yang sunyi, dan dengan kenangan tentang buku-buku yang tidak pulang. Tapi untuk saat ini, mari kita sampaikan satu pesan kecil bagi para peminjam buku yang lupa ingatan: Kami tak minta kau kembalikan seluruh cinta. Tapi setidaknya, kembalikan buku itu. [] Redaksi

Dunia Buku

Untuk Ayang

Ada satu bagian dari buku yang sering dilewati pembaca, bukan karena tidak penting, tapi karena sering dianggap basa-basi. Ya, halaman persembahan. Biasanya letaknya di awal, sebelum kata pengantar, sebelum daftar isi. Hanya beberapa baris kalimat kecil, sering kali ditulis miring, dan mungkin, jarang dibaca. Tapi justru di sanalah sering tersembunyi hal paling jujur dari sebuah buku.

Persembahan itu semacam bisikan kecil dari penulis, sebelum ia bicara panjang lebar dalam isinya. Layaknya seorang pementas yang membisikkan doa di belakang panggung, sebelum lampu sorot menyala. Sebuah gestur kecil yang tidak minta tepuk tangan, tapi justru mengandung banyak rasa.

Untuk ibu yang tak lelah cerewet.

Untuk Ibu, yang mengajariku menyiram luka dengan benar.

Untuk dia yang pergi sebelum tahu aku menulis ini.

Untuk ayah yang diam.

Untuk Tuhan yang serba kuasa.

Kalimat-kalimat itu kadang lebih puitis dari isinya. Lebih nyeri dari klimaks cerita. Dan lebih lucu, atau menyedihkan. Ia tidak diulas siapa pun. Tidak dibahas di resensi. Tidak dikutip dalam makalah. Tidak dijadikan caption Instagram oleh pembaca. Ia diabaikan seperti sapaan tukang parkir.

Ada ironi besar di sini. Penulis menyisipkan halaman persembahan sebagai bentuk keintiman. Tapi pembaca sering membacanya dengan tergesa, atau tidak sama sekali. Mungkin karena tidak ada plot. Tidak ada konflik. Tidak ada drama. Hanya satu kalimat yang terasa bukan urusan kita. Padahal, justru di situ kadang terletak rahasia mengapa buku itu lahir.

Lebih jauh, halaman persembahan sering jadi semacam ruang pengakuan dosa. Ada rasa bersalah yang diselipkan, semacam tebusan emosi: Aku telah menulis tentang segala hal di dunia, tapi untukmu, hanya kalimat ini yang bisa kuberi.

Dan lucunya, persembahan bukan hanya ditujukan pada manusia. Ada yang mempersembahkan pada kopi hitam. Pada hujan. Pada kegagalan. Bahkan pada diri sendiri, yang hampir menyerah.

Di titik ini, persembahan menjadi bentuk egosentris yang menggemaskan. Penulis ingin tampak dalam, padahal cuma bingung mau kasih nama siapa. Jadi ya sudah, ditulis saja: Untuk luka-luka yang mengajariku bertahan.

Sah-sah saja. Tapi tetap ada aroma pencitraan ringan di situ. Aroma manis, seperti parfum murahan yang terlalu banyak disemprot.

Dan jangan lupakan tren paling kekinian: persembahan palsu. Ada buku yang ditulis bareng mantan, tapi ditulis: Untuk cinta yang tak pernah pergi.

Ada yang mempersembahkan buku pada seseorang yang selalu mendukung, padahal saat nulis, yang mendukung justru hanya Google dan kucing peliharaan.

Namun tetap, halaman persembahan punya daya tarik magis. Ia menyimpan kisah di balik kisah. Ia menunjukkan sisi lembut penulis, bahkan pada penulis paling galak sekalipun. Seorang pengkritik sosial yang tajam bisa menulis: Untuk Ibu, yang selalu bilang jangan terlalu cerewet. Di situ, pembaca bisa melihat: oalah, ternyata si tukang marah ini juga anak mami.

Dan kadang, yang paling menggetarkan justru persembahan yang ditulis singkat sekali. Cuma satu kata: Maaf. Atau: Terima kasih.

Dua kata itu bisa mengandung ledakan yang lebih besar dari 300 halaman isi buku. Karena ia menandakan perasaan yang tak sempat dikatakan langsung di dunia nyata. Buku menjadi perantara. Semacam surat tak terkirim yang dicetak massal.

Ada juga persembahan yang menggelitik karena terlalu jujur:

Untuk editorku yang sabarnya lebih panjang dari utang negara.

Untuk pembaca yang sabar membaca isi buku ini meski persembahannya tidak buat dia.

Di sini, halaman persembahan melawan ekspektasi. Ia jadi ruang main-main. Sekaligus ruang curhat. Ruang nostalgia. Ruang diam. Dan ruang dendam.

Maka, jangan remehkan halaman kecil itu. Ia mungkin cuma satu halaman. Tapi di situ sering tertulis alasan kenapa seorang penulis rela duduk berjam-jam menghadapi layar kosong. Di situ ada cinta yang ditahan, ada luka yang belum sembuh, ada mimpi yang akhirnya ditulis.

Dan buat pembaca, lain kali, sebelum tergesa membalik ke Bab I, coba tengok dulu halaman persembahannya. Siapa tahu, di situ ada sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum. Atau haru. Atau sekadar merasa: Oh, aku juga pernah merasakannya.

Karena kadang, satu kalimat di halaman persembahan bisa lebih nyangkut dari sepuluh bab yang ditulis setelahnya.

Dan untuk siapa tulisan ini dibuat?

Ah, itu tidak penting. Tapi kalau kamu sampai di sini dan merasa tersindir, mungkin saja, tulisan ini memang untukmu. Ahai. [] Redaksi

Dunia Buku

Rahasia Kecil

Mari kita mulai dengan beberapa fakta yang tak terbantahkan, banyak kisah besar di dunia ini yang lahir dari buku harian. The Diary of Anne Frank, misalnya. Sebuah catatan pribadi yang akhirnya membuka mata dunia tentang kekejaman perang. Atau buku harian Galileo yang mencatat pergerakan bintang yang bikin bumi jadi bulat secara ilmiah. Ada juga buku harian Soe Hok Gie, yang bikin kita tahu bahwa menjadi idealis itu melelahkan, tapi tetap keren sebagai aktivis.

Tapi, mari kita tinggalkan sejenak cerita-cerita besar itu. Karena sejujurnya, tidak semua dari kita hidup dalam perang, menemukan planet, atau punya gebetan aktivis. Kita hidup biasa-biasa saja. Kita bangun kesiangan, nulis caption Instagram berkali-kali, nunggu gajian sambil ngitung sisa mie instan. Dan di titik inilah, buku harian bisa jadi penyelamat yang tidak kita sadari.

Ya, buku harian. Benda sederhana yang kini lebih sering dikalahkan oleh utas. Padahal, justru karena ia tidak online, ia menyelamatkan kita dari banyak hal memalukan.

Buku harian tidak akan menanyakan, “Kok kamu balikan sama dia lagi sih?” atau “Kenapa kamu masih mikirin kerjaan yang udah kamu resign tiga bulan lalu?” Ia hanya menerima. Dan itu saja sudah luar biasa.

Ia tidak menilai, tidak menyela, dan yang paling penting tidak membocorkan. Kecuali kalau kamu ceroboh dan meninggalkannya di meja ruang depan ketika tamu datang. Tapi secara umum, ia lebih aman daripada akun fake yang kamu buat untuk stalking mantan.

Buku harian adalah bentuk terapi paling murah di dunia. Kamu tidak perlu bayar sejuta per sesi. Cukup beli pulpen dan buku kosong. Lalu tulis: Hari ini menyebalkan. Dan entah kenapa, setelah itu, hidup terasa sedikit lebih tertata.

Orang-orang suka bilang: “Kalau ada masalah, cerita ke teman.” Tapi kita semua tahu, tidak semua teman bisa mendengar tanpa menyela dengan cerita masalah mereka sendiri. Buku harian, sekali lagi, tidak punya agenda.

Ia tidak bilang, “Aku ngerti perasaanmu,” lalu langsung curhat tentang dirinya. Ia hanya diam. Kadang diam adalah bentuk simpati paling jujur. Dan buku harian adalah pendengar terbaik yang diamnya tidak menegangkan.

Terkadang kita bahkan tidak sadar, kita menulis bukan untuk dikenang, tapi untuk mengeluarkan. Supaya hati yang penuh tidak meledak. Buku harian jadi tempat parkir emosi yang terlalu sumpek untuk disimpan di kepala.

Zaman sekarang, semua orang menulis. Status, utas, caption, blog. Tapi anehnya, kita jadi kehilangan ruang pribadi. Menulis yang awalnya terapi, berubah jadi pencitraan. Setiap kalimat dipoles agar terlihat bijak, lucu, atau relatable. Bahkan kalimat curhat pun diatur supaya tetap estetik: Kadang, kehilangan mengajarkan kita tentang arti menggenggam. Padahal kenyataannya, kamu cuma kehilangan charger ponsel di rumah temen.

Buku harian tidak butuh filter. Tidak perlu estetika. Tulisannya bisa jelek, acak, bahkan penuh coretan. Justru di situlah kejujurannya lahir. Karena buku harian tidak peduli apakah tulisanmu layak dibaca orang lain, karena memang tidak untuk dibaca siapa-siapa.

Itulah ironi zaman ini, kita punya banyak tempat menulis, tapi jarang punya tempat mencurahkan isi hati yang tidak dikurasi.

Mari lupakan sejenak impian agar buku harian kita jadi karya besar setelah kita mati. Tidak semua orang harus punya catatan yang layak diterbitkan. Dan buku harian tidak harus berisi kisah cinta tragis atau misi menyelamatkan dunia. Cukup dengan kalimat seperti:

Hari ini aku beli bakso tapi ketinggalan dompet.

Tadi ketemu mantan. Untung udah cakepan aku.

Nulis lagi karena bosan, bukan karena sedih.

Tulisan-tulisan kecil seperti itu mungkin tidak akan mengubah dunia. Tapi ia bisa mengubah sedikit mood kita hari itu. Dan itu cukup.

Mungkin kita tak sadar bahwa menulis di buku harian adalah bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang serba cepat dan bising. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, mengenali diri sendiri, dan, kadang menertawakan diri yang terlalu serius menghadapi hidup yang tidak pernah serius pada kita.

Jadi, kalau kamu masih punya buku harian, tulislah. Kalau belum punya, belilah. Tidak perlu yang lucu atau mahal. Kertas buram pun cukup. Jangan pikirkan siapa yang akan membacanya nanti. Karena mungkin, satu-satunya yang perlu membaca tulisan itu adalah dirimu sendiri, di masa depan, ketika kamu lupa pernah bertahan sejauh ini.

Dan kalau suatu hari kamu membuka halaman lama, lalu menemukan tulisan: Hari ini nangis karena nonton iklan mie instan, jangan malu. Tertawalah. Karena di situlah kamu tahu, kamu pernah hidup menyesakkan, bahkan untuk hal sepele.

Jangan anggap remeh buku harian. Ia mungkin benda kecil yang sepi, tapi ia menyimpan suara yang paling jujur, suara kamu, yang akhirnya berani mendengar diri sendiri.

Dan ingat, tidak semua kisah besar itu dimulai dari panggung. Kadang, ia dimulai dari selembar kertas, tinta bekas, dan rahasia kecil yang enggan meledak di tempat umum. [] Redaksi