
Ada satu penyakit akut dalam dunia kepenulisan, yaitu pasrah. Sebuah virus yang menjangkiti penulis malas berpikir, mereka yang membiarkan absurditas merajalela tanpa usaha sedikit pun untuk menalarkan. Mereka berdalih, “Ah, di dunia nyata memang ada hal-hal yang tidak masuk akal.” Ya, betul. Tapi kau menulis, bukan sekadar mencatat kenyataan seperti juru tulis kelurahan. Tugasmu adalah menciptakan kelogikaan, bukan mengangkat tangan menyerah.
Mari kita perjelas. Kelogikaan dalam cerita bukan berarti semua harus seperti rumus matematika, tapi setiap peristiwa yang terjadi dalam fiksimu harus punya alasan. Sesuatu boleh aneh, ajaib, di luar nalar manusia normal, tapi tetap harus terasa masuk akal dalam konteks cerita. Jika tidak, maka kau bukan menulis cerita, kau hanya mengarang omong kosong.
Logika adalah konstruksi, bukan warisan. Penulis yang baik adalah arsitek logika. Dunia yang ia bangun mungkin berbeda dengan kenyataan, tapi harus bisa berdiri tegak di atas pondasi yang ia buat sendiri. Jika ada yang berkata, “Di dunia nyata, manusia bisa tiba-tiba hilang tanpa jejak,” lalu ia menulis cerpen tentang seseorang yang lenyap begitu saja tanpa sebab, maka ia penulis pemalas. Penulis yang baik akan berpikir apa penyebabnya? Apakah ia masuk ke dimensi lain? Diculik? Diserap oleh lubang hitam yang tiba-tiba muncul di kamarnya?
Contoh lain, katakanlah ada cerita tentang seorang pria yang selalu bisa menebak angka lotere. Apakah ini masuk akal? Tentu tidak. Tetapi jika penulis memberi latar belakang bahwa ia mantan ilmuwan statistik yang menemukan pola rahasia dalam algoritma lotere, atau ia memiliki semacam kemampuan supranatural yang diperoleh setelah tersambar petir lima kali, maka cerita itu akan punya kaki untuk berdiri. Pembaca tidak akan membanting buku dan mencemooh, “Ah, omong kosong!”
Sebuah cerita harus memiliki sistem internal yang bisa dipahami dan dipercaya pembaca. Realitas bukan Tuhan yang tak bisa digugat. Banyak penulis menjadikan realitas sebagai dewa yang tidak boleh disentuh. Jika di dunia nyata air panas membakar, maka dalam cerita air panas juga harus membakar. Padahal, dalam fiksi, air panas bisa saja menyembuhkan, asal ada alasan yang kuat. Mungkin air itu berasal dari mata air khusus yang mengandung unsur misterius. Mungkin seorang ilmuwan gila telah memanipulasi hukum termodinamika. Atau mungkin kita sedang berada dalam dunia di mana hukum fisika tidak berlaku seperti yang kita kenal.
Contoh konkret dalam kenyataan, tidak ada manusia yang bisa berlari dengan kecepatan cahaya. Tapi dalam fiksi, The Flash bisa melakukannya. Kenapa? Karena penulisnya membangun sistem logika sendiri, yaitu Speed Force, ada hukum-hukum fisika fiksi yang dijelaskan secara internal dalam semesta itu. Kita percaya bukan karena kita bodoh, tapi karena ada usaha menciptakan alasan.
Sebaliknya, jika seseorang menulis cerita tentang manusia yang bisa terbang hanya karena “ya, pokoknya bisa,” tanpa alasan, tanpa aturan, maka cerita itu akan hancur lebur. Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada membaca fiksi yang menganggap pembacanya idiot.
Ironisnya, ada banyak penulis yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang menulis sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka menulis adegan di mana seorang detektif menemukan pembunuh hanya dengan melihat bayangan di cermin, tanpa penjelasan bagaimana itu bisa terjadi. Mereka menulis kisah cinta di mana tokoh utama langsung jatuh cinta hanya karena tatapan lima detik, seolah manusia kehilangan akal sehat mereka begitu saja. Dan yang lebih parah, mereka tidak merasa perlu untuk menjelaskan. “Pokoknya begini, suka atau tidak suka, terima saja.” Begitulah cara seorang penulis membunuh dirinya sendiri. Karena ketika pembaca merasa cerita itu tidak punya dasar, mereka akan kehilangan minat.
Sebaliknya, jika penulis memiliki kecerdasan untuk menyulam logika dalam narasi, ia bisa membuat pembaca percaya pada hal-hal paling gila sekalipun. Penulis fiksi ilmiah bisa membuat kita percaya bahwa ada dunia lain di ujung galaksi. Penulis horor bisa meyakinkan kita bahwa ada makhluk tak terlihat yang mengintai di balik jendela. Penulis fantasi bisa membuat kita percaya bahwa seorang bocah dengan tongkat bisa mengalahkan penyihir paling kuat. Karena mereka tidak hanya menulis, mereka membangun dunia dengan alasan-alasan yang kuat.
Jika ada satu pesan yang harus diambil dari ini semua, maka pesannya sederhana, jangan malas. Jangan menulis hanya berdasarkan kepercayaan bahwa pembaca akan menerima segala omong kosong yang kau berikan. Pembaca tidak bodoh. Mereka bisa membedakan mana cerita yang dipikirkan dengan matang dan mana yang hanya sekadar karangan asal jadi.
Jadi, jika di cerita buatanmu ada ikan yang tiba-tiba muncul di pantai saat bulan purnama, jangan hanya berkata, “Ya, pokoknya ada.” Berilah alasan. Mungkin air laut tercemar zat kimia yang mengubah perilaku ikan. Mungkin ada badai besar yang menggiring mereka ke tepi pantai. Mungkin ini spesies baru hasil mutasi. Apapun itu, selama ada usaha membangun narasi yang masuk akal, pembaca akan percaya. Karena menjadi penulis bukan sekadar menulis. Menjadi penulis berarti berpikir. [] Redaksi









