Dunia Buku

Rahasia Kecil

Mari kita mulai dengan beberapa fakta yang tak terbantahkan, banyak kisah besar di dunia ini yang lahir dari buku harian. The Diary of Anne Frank, misalnya. Sebuah catatan pribadi yang akhirnya membuka mata dunia tentang kekejaman perang. Atau buku harian Galileo yang mencatat pergerakan bintang yang bikin bumi jadi bulat secara ilmiah. Ada juga buku harian Soe Hok Gie, yang bikin kita tahu bahwa menjadi idealis itu melelahkan, tapi tetap keren sebagai aktivis.

Tapi, mari kita tinggalkan sejenak cerita-cerita besar itu. Karena sejujurnya, tidak semua dari kita hidup dalam perang, menemukan planet, atau punya gebetan aktivis. Kita hidup biasa-biasa saja. Kita bangun kesiangan, nulis caption Instagram berkali-kali, nunggu gajian sambil ngitung sisa mie instan. Dan di titik inilah, buku harian bisa jadi penyelamat yang tidak kita sadari.

Ya, buku harian. Benda sederhana yang kini lebih sering dikalahkan oleh utas. Padahal, justru karena ia tidak online, ia menyelamatkan kita dari banyak hal memalukan.

Buku harian tidak akan menanyakan, “Kok kamu balikan sama dia lagi sih?” atau “Kenapa kamu masih mikirin kerjaan yang udah kamu resign tiga bulan lalu?” Ia hanya menerima. Dan itu saja sudah luar biasa.

Ia tidak menilai, tidak menyela, dan yang paling penting tidak membocorkan. Kecuali kalau kamu ceroboh dan meninggalkannya di meja ruang depan ketika tamu datang. Tapi secara umum, ia lebih aman daripada akun fake yang kamu buat untuk stalking mantan.

Buku harian adalah bentuk terapi paling murah di dunia. Kamu tidak perlu bayar sejuta per sesi. Cukup beli pulpen dan buku kosong. Lalu tulis: Hari ini menyebalkan. Dan entah kenapa, setelah itu, hidup terasa sedikit lebih tertata.

Orang-orang suka bilang: “Kalau ada masalah, cerita ke teman.” Tapi kita semua tahu, tidak semua teman bisa mendengar tanpa menyela dengan cerita masalah mereka sendiri. Buku harian, sekali lagi, tidak punya agenda.

Ia tidak bilang, “Aku ngerti perasaanmu,” lalu langsung curhat tentang dirinya. Ia hanya diam. Kadang diam adalah bentuk simpati paling jujur. Dan buku harian adalah pendengar terbaik yang diamnya tidak menegangkan.

Terkadang kita bahkan tidak sadar, kita menulis bukan untuk dikenang, tapi untuk mengeluarkan. Supaya hati yang penuh tidak meledak. Buku harian jadi tempat parkir emosi yang terlalu sumpek untuk disimpan di kepala.

Zaman sekarang, semua orang menulis. Status, utas, caption, blog. Tapi anehnya, kita jadi kehilangan ruang pribadi. Menulis yang awalnya terapi, berubah jadi pencitraan. Setiap kalimat dipoles agar terlihat bijak, lucu, atau relatable. Bahkan kalimat curhat pun diatur supaya tetap estetik: Kadang, kehilangan mengajarkan kita tentang arti menggenggam. Padahal kenyataannya, kamu cuma kehilangan charger ponsel di rumah temen.

Buku harian tidak butuh filter. Tidak perlu estetika. Tulisannya bisa jelek, acak, bahkan penuh coretan. Justru di situlah kejujurannya lahir. Karena buku harian tidak peduli apakah tulisanmu layak dibaca orang lain, karena memang tidak untuk dibaca siapa-siapa.

Itulah ironi zaman ini, kita punya banyak tempat menulis, tapi jarang punya tempat mencurahkan isi hati yang tidak dikurasi.

Mari lupakan sejenak impian agar buku harian kita jadi karya besar setelah kita mati. Tidak semua orang harus punya catatan yang layak diterbitkan. Dan buku harian tidak harus berisi kisah cinta tragis atau misi menyelamatkan dunia. Cukup dengan kalimat seperti:

Hari ini aku beli bakso tapi ketinggalan dompet.

Tadi ketemu mantan. Untung udah cakepan aku.

Nulis lagi karena bosan, bukan karena sedih.

Tulisan-tulisan kecil seperti itu mungkin tidak akan mengubah dunia. Tapi ia bisa mengubah sedikit mood kita hari itu. Dan itu cukup.

Mungkin kita tak sadar bahwa menulis di buku harian adalah bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang serba cepat dan bising. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, mengenali diri sendiri, dan, kadang menertawakan diri yang terlalu serius menghadapi hidup yang tidak pernah serius pada kita.

Jadi, kalau kamu masih punya buku harian, tulislah. Kalau belum punya, belilah. Tidak perlu yang lucu atau mahal. Kertas buram pun cukup. Jangan pikirkan siapa yang akan membacanya nanti. Karena mungkin, satu-satunya yang perlu membaca tulisan itu adalah dirimu sendiri, di masa depan, ketika kamu lupa pernah bertahan sejauh ini.

Dan kalau suatu hari kamu membuka halaman lama, lalu menemukan tulisan: Hari ini nangis karena nonton iklan mie instan, jangan malu. Tertawalah. Karena di situlah kamu tahu, kamu pernah hidup menyesakkan, bahkan untuk hal sepele.

Jangan anggap remeh buku harian. Ia mungkin benda kecil yang sepi, tapi ia menyimpan suara yang paling jujur, suara kamu, yang akhirnya berani mendengar diri sendiri.

Dan ingat, tidak semua kisah besar itu dimulai dari panggung. Kadang, ia dimulai dari selembar kertas, tinta bekas, dan rahasia kecil yang enggan meledak di tempat umum. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *