Dunia Menulis

Tersesat

Cerpen itu semacam perjalanan. Tapi kasihan jika tokohnya tersesat sejak kalimat pertama. Ia tak tahu mau ke mana, siapa dirinya, bahkan kadang lupa sedang berada di cerita jenis apa. Yang lebih tragis, tokoh seperti ini kerap diciptakan penulis yang juga tersesat. Bedanya, tokoh fiktif tak bisa protes. Ia hanya bisa berdiri kikuk di halaman cerita, menunggu pembaca mengelus jidat sambil berkata, “Lho, lho, lho, gimana ini?”

Satu hal yang sering luput disadari, tokoh dalam cerpen bukan sekadar boneka. Ia bukan figuran yang muncul lalu hilang, apalagi hanya alat penyampai pesan moral seperti iklan layanan masyarakat. Tokoh butuh karakter. Bukan sekadar nama atau jenis kelamin. Tapi jiwa. Isi kepala. Isi hati. Dan cara berjalan yang meyakinkan. Bahkan kalau perlu, bau badannya pun terasa.

Masalah muncul saat karakter itu digarap setengah matang. Seolah pembaca bisa menerima begitu saja bahwa tukang becak tahu perbedaan antara antibodi dan antigen. Atau bahwa anak SD bisa mendadak khotbah tentang absurditas hidup karena baru ditinggal mati kucing. Boleh saja sih, tapi kalau tidak ada landasan yang kuat, ya jadinya konyol. Bukan keren. Bukan filosofis. Tapi semacam naskah sinetron yang dipaksa jadi puisi.

Logika dalam cerita fiksi bukan logika realitas, tapi logika semesta yang diciptakan sendiri oleh cerita itu. Kalau tokohmu anak kecil tapi omongannya sebijak Sokrates, ya beri alasan, mungkin diasuh pustakawan dan tinggal di perpus, atau berteman imajiner dengan Plato. Kalau tokohmu perampok, jangan tiba-tiba dia puasa misuh tanpa sebab. Karena, ya, penjahat pun punya selera diksi.

Pembaca kritis. Mereka bisa membedakan mana tokoh yang hidup, dan mana tokoh yang sekadar tumbuh dari tanah liat lalu dijemur buru-buru. Mereka bisa mencium kalau dialogmu dipaksakan dan tindakannya dibuat demi plot, bukan dari kemauan si tokoh.

Ironinya, banyak penulis yang membuat tokohnya bicara bukan karena si tokoh perlu bicara, tapi karena si penulis ingin menyelipkan kalimat keren yang ia dengar di YouTube. Tokohnya mendadak ngomong begini: “Aku ingin hidup seperti awan, bebas tapi tidak kehilangan bentuk.” Padahal dia baru saja ditilang karena melanggar lampu merah. Emangnya dia siapa? Penyair di masa tenang?

Lucunya lagi, banyak tokoh dibuat terlalu baik, terlalu bijak, terlalu tahu segalanya. Padahal tokoh yang kuat justru yang punya kelemahan. Yang kadang ceroboh. Yang salah langkah. Yang bikin pembaca gemas, bukan kagum terus-terusan. Tokoh terlalu sempurna hanya cocok di iklan sabun mandi. Di cerpen, itu racun.

Dan jangan lupakan satu hal paling mendasar, tokoh bukan sekadar penyalur ide penulis. Ia harus hidup mandiri. Kalau penulis pengin ceramah, mending buka seminar. Jangan suruh tokoh melawak demi pesan moral. Sebab akhirnya bukan pesan yang sampai, tapi kebosanan.

Kekuatan tokoh juga akan menentukan ending. Kalau tokohnya dibangun dengan karakter jelas, maka apa pun keputusan akhirnya akan terasa masuk akal. Ending mengguncang bukan soal twist mendadak. Tapi soal keputusan tokoh yang terasa wajar, meski pahit. Ending yang kuat lahir dari perjalanan yang logis, bukan dari sulap.

Tapi ya, kadang kita juga butuh sedikit kelakar. Misal, tokohmu guru matematika yang jago debat, tapi gagal move on dari mantan. Nah, itu menggemaskan. Atau tokoh ibu kos yang kelihatan jutek, ternyata penggemar drama Korea. Itu menyentuh. Tokoh yang hidup selalu menyimpan kejutan. Tapi kejutan itu bukan asal lempar, melainkan hasil penanaman karakter sejak awal.

Dalam dunia cerpen, menciptakan tokoh bukan cuma soal menempelkan profesi dan ciri fisik. Tapi juga merancang cara berpikir, cara melihat dunia, cara menghadapi konflik. Karena pembaca tak hanya ingin tahu si tokoh kerja apa, tapi bagaimana ia bertahan saat dihantam realitas.

Tokoh yang kuat akan membawa cerita ke mana pun ia pergi. Bahkan jika plotmu tipis, tapi tokoh punya daya tarik, cerita tetap bisa berdiri. Sebaliknya, plot secanggih apa pun akan ambyar kalau tokohnya tumpul, tak jelas mau apa.

Maka, wahai penulis, berhentilah menjadikan tokohmu sebagai juru bicara ego. Biarkan mereka hidup. Biarkan mereka salah. Biarkan mereka manusia. Karena kadang, justru dari kesalahan mereka, cerita itu menemukan napas.

Dan satu hal lagi, jika tokohmu datang padamu dalam mimpi lalu bilang, “Tolong, jangan tulis aku seperti kemarin. Aku malu dibaca orang,” maka itu tandanya kamu sudah keterlaluan. Segeralah bertobat. Perbaiki naskahmu. Dan buat tokoh-tokohmu berdiri gagah. Bukan karena sempurna, tapi karakternya jelas. Bukan sekadar berdiri kikuk di tengah cerita seperti orang tersesat. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *