Dunia Buku

ARO

Ada satu aroma tidak bisa direplika oleh pabrik parfum mana pun. Semuanya menyerah. Ia bukan bau vanila, bukan bau kayu manis, bukan pula bau lavender. Tapi siapa pun pernah memegang buku, membuka lembarannya pelan-pelan, lalu mencium baunya, akan tahu. Ini aroma bikin rindu masa lalu sekaligus masa depan. Aroma buku, bau khas dari kertas, tinta, waktu, dan kenangan.

Mungkin terdengar lebay. Tapi coba saja cari di internet: “Buku bau apa sih?” Maka muncullah teori-teori ilmiah tentang lignin, selulosa, oksidasi tinta. Tapi bagi para pecinta buku, tak butuh laboratorium. Hidung dan hati cukup. Karena aroma buku bukan sekadar senyawa kimia, tapi kombinasi rahasia antara memori dan imajinasi.

Buku baru punya aroma ambisi. Bau tinta segar dan harapan. Ada optimisme merekah saat membuka halaman pertama. Rasanya seperti beli sepatu baru, belum dipakai tapi sudah berandai-andai akan ke mana saja dengannya.

Sementara buku lama punya aroma nostalgia. Kadang baunya mirip gudang, kadang mirip pelukan nenek. Ada debu membuatmu bersin, tapi justru bikin senyum. Buku tua itu seperti kakek bercerita di sore hari, dengan suara berat dan mata berkaca. Lembarnya sudah menguning, tapi justru di situlah hangatnya.

Lucunya, aroma buku ini bisa bikin orang terlihat sangat filosofis. Orang suka bilang baca buku, padahal suka cium-cium baunya. Bacanya malah lupa, karena terlalu sibuk mengendus. Ada pula sampai motret video slow motion buka halaman sambil bilang, “Hmm, baunya itu loh, tenang banget.” Tapi setelah ditanya ceritanya tentang apa, jawabannya: “Belum baca sih, baru nyium.”

Ironis, memang. Buku mestinya dibaca malah jadi objek penciuman. Tapi begitulah. Kita hidup di zaman di mana buku dipeluk lebih erat daripada dibaca. Bahkan sekarang ada  ruangan disemprot dengan smell of paperback nostalgia. Sebentar lagi mungkin ada essential oil dengan label: Bau bab keempat: pencerahan.

Aroma buku telah menjelma identitas. Ia adalah bau kaum intelektual, atau ingin tampak intelektual. Tapi jangan salah. Di balik itu semua, ada kisah haru. Banyak orang mencium buku karena merasa dekat. Merasa disapa. Karena hidup terlalu riuh, dan hanya dalam aroma buku itu mereka merasa tenang.

Saya punya teman, sebut saja namanya ARO. Dulu dia tinggal di rumah kontrakan sempit, sempit sekali, bahkan rak bukunya harus gantian dengan jemuran. Tapi tiap pulang kerja, dia selalu buka satu buku, lalu menciuminya seperti surat cinta. Hanya selalu begitu. Tak sempat membaca, tapi baunya cukup untuk memeluknya setelah sepanjang hari gila. “Aromanya kayak dulu waktu aku masih bisa mimpi,” katanya suatu malam.

Dan saya paham. Betapa mencium buku bisa jadi semacam ritual pereda luka. Seperti mengingat bahwa dunia tak seluruhnya bengis. Halaman-halaman masih diam dan sabar menunggu dibaca.

Tapi tentu saja, kita juga harus waspada. Jangan sampai penciuman ini mengganti akal sehat. Jangan sampai kita mengira mencium buku setara dengan memahami isi. Seperti orang mencium bungkus kopi lalu mengira dirinya sudah jadi barista. Buku bukan aromaterapi semata. Ia mengandung ide, kritik, gagasan. Bukan hanya bau, tapi juga arah.

Ada pula sisi jenaka dari pencinta aroma buku. Pernah suatu kali, ada teman ketahuan mencium buku di toko, lalu dia kembalikan lagi karena tak sanggup beli. Satpam mendekat, bukan karena mencuri, tapi karena ekspresinya terlalu khusyuk hingga tak terasa air matanya meleleh.

“Kamu ngapain, Mas?”

“Cuma cium, Mas.”

“Lain kali bawa tisu, ya.”

Tapi ya begitulah. Aroma buku telah jadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman membaca. Ia seperti senyuman pertama dari seseorang baru kita temui. Belum kenal, tapi sudah membuat jatuh hati.

Dan jika kelak dunia benar-benar digital, ketika buku tinggal dalam bentuk PDF dan e-book, mungkin yang paling kita rindukan bukan halaman atau cover, tapi aromanya. Karena tak ada tombol di layar ponsel untuk merasakan aroma nostalgia dari gesekan jari.

Maka mari kita rawat aroma buku seperti kita merawat ingatan. Bukan untuk disembah, tapi untuk dikenang. Bukan untuk gaya, tapi untuk diselami.

Kalau nanti kau lihat orang mencium buku di sudut toko atau perpustakaan, jangan tergesa menertawainya. Mungkin dia sedang mengenang cinta pertama. Atau sedang menghidupkan harapan lama yang nyaris pindah ke alam baka.

Dan, siapa tahu, buku yang kau cium hari ini, akan jadi wangi kenangan bagi pacar-pacarmu kelak. Eh, salah. Bagi anak cucumu kelak. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *