Dunia Menulis

Luka

Ada banyak sebab cerpen dianggap gagal total, cerita tidak logis, tokoh datar, konflik cuma sepenting memilih warna cat tembok, ending seperti tukang parkir, “udah, sini aja.” Tapi ada satu jenis kegagalan yang sering luput dari radar penulis (bahkan termasuk penulis senior), yaitu kegagalan teknis. Iya, hal-hal kecil yang katanya kecil, tapi dampaknya bisa mengoyak kesan pembaca sampai lumat. Tanda baca ngawur, typo bertaburan, kalimat tanpa pegangan, tata bahasa berantakan, dan kalimat tidak efektif yang membuat pembaca tersesat di hutan kata tanpa kompas.

Masalah teknis ini sering dianggap sepele. “Ah, penting ceritaku keren, idenya baru, konfliknya kuat.” Oke, kita terima dulu pernyataan itu dengan senyum manis. Tapi izinkan saya, dan semoga pembaca tidak marah, mengangkat pisau bedah satire untuk membedah luka bernanah di tubuh cerpen.

Mari kita mulai dengan tanda baca. Titik dan koma kadang diperlakukan seperti sandal jepit, dipakai sesukanya, kadang hilang, kadang nyelip di tempat yang bukan rumahnya. Padahal, mereka fondasi ritme. Kalau cerpen adalah musik, maka titik dan koma adalah ketukan. Salah satu hilang, nada bisa melenceng. Coba baca: Ia pergi tanpa berkata apa apa. Rasanya seperti makan mie tanpa bumbu, kering dan membuat lidah protes. Tambahkan satu tanda hubung: apa-apa, maka maknanya kembali utuh. Sederhana, tapi vital.

Lalu soal kalimat efektif. Ini sering jadi ajang pertunjukan sirkus kalimat. Panjang, berbelit, kadang sampai pembaca lupa sedang baca cerita atau tesis. Kalimat yang seharusnya mengantar makna malah membawa pembaca jalan-jalan ke awan. Misalnya: Dalam suasana yang penuh tekanan batin dan gejolak perasaan yang tak menentu, ia, sosok pria yang sudah lanjut usia itu, memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan yang mungkin tidak bisa diubah lagi. Hm. Tidak salah sih. Tapi kita bisa memangkas menjadi: Dalam tekanan batin, pria tua itu mengambil keputusan final. Hemat kata, hemat tenaga, hemat napas pembaca.

Soal kalimat baku dan tata bahasa, ini seringkali menjadi korban kreativitas yang terlalu liar. Kadang penulis ingin tampil beda dengan membuat diksi sendiri, struktur sendiri, bahkan membuat semacam bahasa alien, dan hanya dia yang paham. Apakah sah? Sah. Tapi jangan salahkan pembaca kalau mereka memilih meletakkan cerpen di laci penuh debu dan memilih scroll TikTok yang lebih bisa dimengerti. Kadang, demi gaya, penulis tega membantai EYD. Dan celakanya, mereka bangga. “Gue anti-kemapanan.” Padahal, yang anti itu bukan revolusioner, tapi cuma malas baca ulang.

Nah, yang paling menggelikan adalah typo. Kesalahan ketik ini kadang membuat cerpen berubah genre. Cerpen horor menjadi komedi hanya karena satu huruf. Ia menatap masa depan dengan cemas. Tapi yang tertulis: Ia menatap masa depan dengan cemss. Nah lho, pembaca jadi mudah teralihkan pada hal yang jauh dari konteksnya.

Typo sering dianggap hal biasa. Bahkan kadang dianggap bumbu estetika. Tapi bayangkan kalau dalam cerpenmu tertulis: Dia menusuk lehernya dengan pisah.” Tunggu, maksudnya apa ini? Yang ditusuk apa, dengan apa? Satu huruf bisa membelokkan emosi pembaca.

Ironisnya, banyak penulis yang merasa dirinya sudah bagus untuk tak perlu repot menyunting sendiri tulisannya. Mereka merasa kerja editing urusan editor. Wahai penulis, izinkan untuk membisikkan satu fakta getir, tak semua cerpenmu akan beruntung ditemukan oleh editor sabar. Banyak naskahmu akan langsung ditolak hanya karena typo di mana-mana.

Kita memang manusia. Bisa salah. Tapi bukan berarti kita berhenti berusaha agar tulisan kita benar. Menulis itu seni, tapi seni yang tidak belajar aturan hanya akan jadi corat-coret. Cerpenmu bisa punya imajinasi luar biasa, tapi kalau teknisnya compang-camping, ya tetap saja seperti menyajikan wine dalam ember cat.

Menjaga tulisan dari kesalahan teknis itu seperti menyetrika baju sebelum bertemu orang penting. Mungkin tak semua orang sadar kamu sudah menyetrika, tapi kalau bajumu lecek, semua orang pasti lihat. Dan kalau kamu malas menyetrika, jangan heran kalau cerpenmu dianggap kumuh meski kamu merasa itu mahakarya.

Ada saatnya pembaca tersentuh oleh cerita yang kuat. Tapi ada pula saat mereka tersandung oleh koma yang nyasar, atau geli karena kata “pecah” tertulis “peach”. Konyol? Iya. Tapi konyol yang menyakitkan. Kalau kamu benar-benar cinta pada cerpenmu, rawat dia dari akar hingga titik akhir. Jangan biarkan ia tersandung di altar redaktur hanya karena kamu terlalu santai menertibkan tanda baca.

Jadi, mulai sekarang, mari kita bersihkan cerpen kita dari luka teknis. Jangan sampai cerpenmu yang seharusnya menohok justru terpeleset karena hal teknis. Jangan biarkan pembaca menangis bukan karena ceritamu mengharukan, tapi karena frustasi membaca kalimat berbelit. Sebab kadang, luka paling dalam di cerpen bukan di cerita, tapi di naskahnya.

Dan ketika kita tidak ada usaha untuk membersihkan kesalahan, hal itu namanya lukanya luka. Akhirnya, semoga tidak ada luka di antara kita. [] Redaksi

2 thoughts on “Luka”

  1. **Komentar:**

    Tulisan ini sangat relevan bagi para penulis, terutama yang masih meremehkan pentingnya teknis penulisan. Masalah tanda baca dan tata bahasa sering diabaikan dengan dalih kreativitas, padahal hal itu bisa membuat pembaca frustrasi. Ironisnya, banyak penulis malas mengedit karyanya sendiri, mengira itu tugas editor. Gaya penulisan boleh unik, tetapi jika berantakan, siapa yang akan bertahan membacanya?

    **Pertanyaan:**
    Apakah kesalahan teknis dalam penulisan benar-benar bisa menghancurkan cerita yang sebenarnya punya ide bagus?

    1. Halo. Terima kasih sudah membaca dan memberi tanggapan. Saya mencoba menjawab ya. Sangat bisa menghancurkan jika tulisan itu sudah dianggap sebagai tulisan final yang diperuntukkan ke ranah kurasi. Nah tentu akan berbeda tanggapan jika tulisan itu masih dalam taraf pengajuan. Misalnya ada semacam program pendampingan menulis. Kalau dalam posisi seperti itu tentu tulisan tersebut masih dapat diselamatkan. Terima kasih. Salam kreatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *