
Ada satu bagian dari buku yang sering dilewati pembaca, bukan karena tidak penting, tapi karena sering dianggap basa-basi. Ya, halaman persembahan. Biasanya letaknya di awal, sebelum kata pengantar, sebelum daftar isi. Hanya beberapa baris kalimat kecil, sering kali ditulis miring, dan mungkin, jarang dibaca. Tapi justru di sanalah sering tersembunyi hal paling jujur dari sebuah buku.
Persembahan itu semacam bisikan kecil dari penulis, sebelum ia bicara panjang lebar dalam isinya. Layaknya seorang pementas yang membisikkan doa di belakang panggung, sebelum lampu sorot menyala. Sebuah gestur kecil yang tidak minta tepuk tangan, tapi justru mengandung banyak rasa.
Untuk ibu yang tak lelah cerewet.
Untuk Ibu, yang mengajariku menyiram luka dengan benar.
Untuk dia yang pergi sebelum tahu aku menulis ini.
Untuk ayah yang diam.
Untuk Tuhan yang serba kuasa.
Kalimat-kalimat itu kadang lebih puitis dari isinya. Lebih nyeri dari klimaks cerita. Dan lebih lucu, atau menyedihkan. Ia tidak diulas siapa pun. Tidak dibahas di resensi. Tidak dikutip dalam makalah. Tidak dijadikan caption Instagram oleh pembaca. Ia diabaikan seperti sapaan tukang parkir.
Ada ironi besar di sini. Penulis menyisipkan halaman persembahan sebagai bentuk keintiman. Tapi pembaca sering membacanya dengan tergesa, atau tidak sama sekali. Mungkin karena tidak ada plot. Tidak ada konflik. Tidak ada drama. Hanya satu kalimat yang terasa bukan urusan kita. Padahal, justru di situ kadang terletak rahasia mengapa buku itu lahir.
Lebih jauh, halaman persembahan sering jadi semacam ruang pengakuan dosa. Ada rasa bersalah yang diselipkan, semacam tebusan emosi: Aku telah menulis tentang segala hal di dunia, tapi untukmu, hanya kalimat ini yang bisa kuberi.
Dan lucunya, persembahan bukan hanya ditujukan pada manusia. Ada yang mempersembahkan pada kopi hitam. Pada hujan. Pada kegagalan. Bahkan pada diri sendiri, yang hampir menyerah.
Di titik ini, persembahan menjadi bentuk egosentris yang menggemaskan. Penulis ingin tampak dalam, padahal cuma bingung mau kasih nama siapa. Jadi ya sudah, ditulis saja: Untuk luka-luka yang mengajariku bertahan.
Sah-sah saja. Tapi tetap ada aroma pencitraan ringan di situ. Aroma manis, seperti parfum murahan yang terlalu banyak disemprot.
Dan jangan lupakan tren paling kekinian: persembahan palsu. Ada buku yang ditulis bareng mantan, tapi ditulis: Untuk cinta yang tak pernah pergi.
Ada yang mempersembahkan buku pada seseorang yang selalu mendukung, padahal saat nulis, yang mendukung justru hanya Google dan kucing peliharaan.
Namun tetap, halaman persembahan punya daya tarik magis. Ia menyimpan kisah di balik kisah. Ia menunjukkan sisi lembut penulis, bahkan pada penulis paling galak sekalipun. Seorang pengkritik sosial yang tajam bisa menulis: Untuk Ibu, yang selalu bilang jangan terlalu cerewet. Di situ, pembaca bisa melihat: oalah, ternyata si tukang marah ini juga anak mami.
Dan kadang, yang paling menggetarkan justru persembahan yang ditulis singkat sekali. Cuma satu kata: Maaf. Atau: Terima kasih.
Dua kata itu bisa mengandung ledakan yang lebih besar dari 300 halaman isi buku. Karena ia menandakan perasaan yang tak sempat dikatakan langsung di dunia nyata. Buku menjadi perantara. Semacam surat tak terkirim yang dicetak massal.
Ada juga persembahan yang menggelitik karena terlalu jujur:
Untuk editorku yang sabarnya lebih panjang dari utang negara.
Untuk pembaca yang sabar membaca isi buku ini meski persembahannya tidak buat dia.
Di sini, halaman persembahan melawan ekspektasi. Ia jadi ruang main-main. Sekaligus ruang curhat. Ruang nostalgia. Ruang diam. Dan ruang dendam.
Maka, jangan remehkan halaman kecil itu. Ia mungkin cuma satu halaman. Tapi di situ sering tertulis alasan kenapa seorang penulis rela duduk berjam-jam menghadapi layar kosong. Di situ ada cinta yang ditahan, ada luka yang belum sembuh, ada mimpi yang akhirnya ditulis.
Dan buat pembaca, lain kali, sebelum tergesa membalik ke Bab I, coba tengok dulu halaman persembahannya. Siapa tahu, di situ ada sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum. Atau haru. Atau sekadar merasa: Oh, aku juga pernah merasakannya.
Karena kadang, satu kalimat di halaman persembahan bisa lebih nyangkut dari sepuluh bab yang ditulis setelahnya.
Dan untuk siapa tulisan ini dibuat?
Ah, itu tidak penting. Tapi kalau kamu sampai di sini dan merasa tersindir, mungkin saja, tulisan ini memang untukmu. Ahai. [] Redaksi
