Dunia Menulis

Bukan Kiamat

Konon, di sebuah negeri yang terlalu serius dengan kebenaran, satu typo bisa membuat seseorang dilengserkan dari kasta penulis andal. Satu kalimat tidak efektif bisa menyebabkan pembaca mendadak merasa lebih pintar dari redaktur. Dan satu cerpen yang telanjur dimuat dengan satu-dua cela, langsung membuat penulisnya masuk daftar hitam. Habis sudah, tak ada ampun. Kontrak sosialnya, menulis harus sempurna atau jangan menulis sama sekali.

Lucunya, ini bukan cerita fiksi. Ini bisa jadi cerita kita.

Bayangkan kau sudah menulis cerpen sebulan. Riset sana-sini. Kalimat dipoles, narasi dibelai, paragraf dironce. Kau kirim ke media, dan dimuat. Tapi begitu kau baca lagi di koran itu. Cling! Kau temukan kalimat ganjil: Perempuan itu menatap kosong dengan mata penuh makna yang kosong. Kosong dua kali. Kosong-kosong.

Malu? Tentu. Panik? Lumayan. Ingin kabur ke Kutub Selatan dan buka warung kelapa muda? Sangat.

Tapi mari kita duduk sebentar. Ambil napas. Dan pikirkan, apakah kesalahan itu layak jadi kiamat kecil? Apakah kita layak dilabeli gagal hanya karena satu-dua hal yang lolos dari radar kita, dan redaktur?

Kesalahan dalam tulisan itu seperti ketombe di jas hitam. Mengganggu, tapi tidak berarti kepala kita copot. Typo, kalimat tak efektif, repetisi info, atau kalimat bijak yang lebih panjang dari cerpennya sendiri, semuanya bisa terjadi. Bahkan pada penulis yang sudah punya gelar tak resmi sebagai penulis andal. Sialnya, gelar ini memang jebakan. Begitu kita diberi label andalan, orang mengira kita tak mungkin keliru. Padahal, siapa pun yang masih hidup masih bisa salah. Tuhan saja memberi manusia tombol salah. Masa kita menolak?

Yang lebih menggelikan adalah ketika cerpen itu sudah dibaca ribuan orang, lalu tiba-tiba muncul satu komentar di kolom pembaca: Penulisnya kok bisa pakai kata ‘mendekatkan diri pada jauh’? Itu kan bertentangan! Padahal, ya itu metafora. Atau kadang memang kita yang kurang teliti. Tapi bukankah justru dari situ kita tahu, oh, ternyata masih ada yang harus diperbaiki.

Lalu bagaimana sikap kita?

Pertama, jangan langsung merasa dunia berakhir. Kecuali typo-nya adalah “sayang” jadi “sapi” dan membuat kisah cinta berubah jadi kisah ternak—tenang saja. Malu, boleh. Mengernyit, wajar. Tapi jadikan itu bahan tertawaan yang sehat. Kalau perlu, jadikan lelucon di Instagram: Cerpen dimuat! Eh, ada kalimat yang bikin saya ingin kembali ke rahim ibu. Tapi tenang, ini masih saya yang menulis. Sedang menjadi manusia.

Kedua, jangan biarkan kesalahan menggerogoti kepercayaan diri. Justru itu bukti bahwa kita terus menulis. Orang yang tak pernah salah, biasanya tak pernah menulis. Atau menulis tapi tidak pernah dimuat, jadi tak ada yang bisa dikritik.

Ketiga, akui saja. Dengan jujur dan ringan. Iya, itu kalimat kurang enak. Mungkin karena saya terlalu semangat waktu nulis. Jangan malah ngeles pakai teori sastra posmodernisme demi membenarkan satu kesalahan. Nanti malah makin terlihat tak bijak.

Kita hidup di dunia yang terlalu sering mencintai citra sempurna. Penulis harus sakti. Karya harus steril. Tapi hei, cerpen bukan laboratorium virus. Kesalahan bukan penyakit menular. Kadang justru kesalahan kecil jadi titik haru yang membuat kita makin dekat pada pembaca. Karena pembaca tahu, penulis masih manusia. Masih bisa tersandung kata.

Dan sialnya, di antara yang mencibir typo kita, pasti ada juga yang baca sampai habis dan diam-diam terharu. Tapi ya begitulah dunia: yang cerewet biasanya tak tersentuh, yang tersentuh biasanya diam-diam.

Jadi, apakah setelah cerpen kita yang cacat itu terbit, kita harus pensiun dini? Tidak. Kecuali kita memang lebih cocok buka warung tahu kupat. Tapi kalau menulis itu sudah jadi degup harian, jangan biarkan satu dua titik menghalangi kita. Menulislah terus. Nanti juga kita tertawa sendiri membaca cerpen lama: “Wah, dulu saya nulis ginian ya? Hahaha.” Dan itu tawa yang sehat.

Akhirnya, mari kita jujur,  siapa sih yang tak pernah menulis kalimat jelek? Atau menyisipkan petuah bijak yang ternyata basi? Atau membubuhkan ending yang membuat pembaca ingin marah tapi tak tahu ke mana? Semua penulis punya itu. Tapi mereka terus menulis.

Jadi, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kita bukan sedang mencetak undang-undang. Kita hanya menulis cerita. Dan kadang, salah ketik juga punya kisahnya sendiri.

Yang aib dalam dunia menulis adalah, berhenti menulis hanya karena takut salah. Yang lain? Bukan aib. Bukan Kiamat. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *