Ragam

DATANG DAN PERGI

Sastra dimulai dengan matahari yang meninggi. Panas yang tidak mungkin diusir dengan seribu gelas es teh. Sastra malah buku-buku di atas meja, yang terlindung di tenda tapi udara tak melegakan. Yang terjadi adalah keramaian dan suara-suara tak merdu dari panggung, yang terdapat di halaman Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar.

Buku-buku yang ditata rapi, yang menanti tatapan pengunjung. Para pengarang yang berkumpul dalam tenda. Mereka bukan kaum yang selalu rapi. Raga-raga yang menyesaki tenda. Kebersamaan untuk terus menjadi pencerita dan mencipta kabar-kabar baik. Sejak pagi, mereka mungkin sudah mandi dan berharap tampilannya rapi. Namun, Kamis, 7 September 2023, tidak memberi janji mereka terhindar dari keringat dan bau kecut. Mereka tetap hadir dan membantah sebagai pengecut.

Aku menyapa dan bersalaman. Peristiwa di belakang kantor, di belakang birokrasi. Sastra bukan birokrasi. Konon, sastra itu setara bagi orang-orang yang ingin saling akrab, memiliki, dan mendoakan. Yang menggerakkan sastra tak memiliki seragam, jam dinas, dan gaji. Mereka di belakang kantor, membawa buku-buku dan menghadirkan kesanggupan bersastra dengan napas panjang meski gerah dan lelah.

Di situ, perjamuan disahkan dengan pisang rebus dan pisang goreng. Aku menikmatinya sambil memandangi para pengarang dan buku. Suasana yang memang harus berada di luar kantor. Mereka bisa bersama mungkin sengaja absen dari pekerjaan atau meninggalkan rumah seharian demi kepantasan sastra. Aku pun datang untuk penghormatan kepada mereka dan buku-buku.

Percakapan dan gosip yang berharap tak terdengar matahari. Suara-suara kami kalah dengan keramaian acara dinamakan Festival Literasi Kabupaten Karanganyar, yang mementingkan kotak-kotak bersuara keras dan lantang. Kami hanya bermulut untuk mengantarkan kata-kata didengar sebagai berita, keluhan, pengharapan, atau mengingatkan.

Menit-menit yang bergerak lambat ketimbang ratusan sepeda motor dan mobil lewat di jalan besar depan Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar. Kami pun harus berpindah menuju depan, tak selamanya di belakang.

Kerumunan remaja mengenakan seragam. Mereka itu murid-murid berdatangan dari puluhan sekolah di Karanganyar. Guru-guru duduk dan memegang gawai, bertugas mendampingi murid-murid. Mereka hadir dalam merayakan keramaian, yang mungkin tak menyisakan kesan dan makna terbawa pulang. Kehadiran yang memastikan ramai, bukan keterlibatan untuk bersastra. Aku tidak terlalu kaget saat berada di halaman depan kantor. Birokrasi sedang membuktikan pengaruh dan “perintah”.

Aku bergerak dari rumah di Colomadu sengaja menghormati para pengarang dan sastra, belum ada keinginan macam-macam memikirkan kabupaten, kantor, sekolah, dan lain-lain. Aku tercatat memegang KTP Karanganyar, membuatku agak terhubung dengan acara: lazim bila harus melewati Solo agar bisa mencapai alamat acara di dekat perkantoran pemerintah, masjid, pertokoan, dan alun-alun.

Di depan kantor, yang aku saksikan kemegahan. Yang terpikirkan olehku seharusnya kesederhanaan tapi tampilan di depan kantor memberi kebingungan. Sastra di halaman. Sastra di pinggir jalan besar. Yang mengherankan, sastra di atas panggung besar.

Siang itu tiga orang berada di atas panggung: Beri Hanna, Andri Saptono, dan Rudi Agus Hartanto. Mereka memainkan peran-peran untuk pengesahan diskusi buku berjudul Pelajaran Membaca (2023). Saat di belakang, mereka hanya bermulut. Di atas panggung, setiap orang mendapatkan mikrofon.

Aku melihat dan menghitung: 6 kotak pengeras suara. Pada bagian atas, terlihat 9 lampu. Siang dengan matahari terang, mereka belum harus disorot lampu. Sastra masih bermatahari, bukan sastra dalam sorotan lampu.

Tiga lelaki duduk di kursi berwarna cerah. Mereka harus duduk agar tampak berwibawa, terhindar dari capek. Meja itu berhiaskan dua buku Pelajaran Membaca gubahan Beri. Pemandangan yang megah. Aku menontonnya dari jarak agak jauh, posisinya di bawah. Di kursi warna merah, aku memandang ketiganya dengan kekhawatiran. Mereka dalam kekuasaan mikrofon, kotak pengeras suara, dan panggung yang tinggi. Sastra bisa salah tingkah.

Kursi-kursi yang semuanya tidak terisi. Orang-orang berdatangan tidak untuk sastra. Mereka membawa pesan dari pihak-pihak yang menginginkan keramaian acara dan perpustakaan mendapat ratusan pengunjung. Siang itu sastra merasa kesepian. Karpet-karpet merah di bawah panggung telah sepi, setelah menjadi tempat duduk bagi puluhan murid saat menonton teman-temannya bernyanyi di panggung. Siang adalah hasil penjumlahan karpet dan kursi berwarna merah. Orang-orang yang berada di sana adalah kaum tabah tanpa keharusan mengisi presensi: bukti kehadiran.

Tiga orang bergantian omong. Mikrofon-mikrofon yang membuat suara mereka mendatangi kuping dengan kekuatan besar. Suara yang tidak dijamin sampai ke ratusan pasang telinga yang berseragam dan pegawai-pegawai yang berada di dalam kantor. Sastra yang bermikrofon justru mudah kesepian, terabaikan, dan sekadar menyaingi bising jalan. Aku duduk dan menikmati sambil membayangkan matahari ingin ikut duduk di kursi.

Buku memuat cerita-cerita mengenai babi, sejarah, nama, dan lain-lain. Pengarang yang didudukkan di panggung sedang mengisahkan diri dan memberi cuilan-cuilan cerita. Moderator tak lupa memberi bujukan agar orang-orang membeli buku. Pembahas berkepentingan menyatakan keunikan dan keampuhan buku. Mikrofon di tangan mereka berbeda dari peristiwa berjualan jamu di pasar atau alun-alun. Mikrofon diajak bekerja keras.

Dua buku ditata di meja. Buku di tangan pembahas. Buku di tenda terletak di belakang kantor. Berulang aku melihat Pelajaran Membaca. Aku sempat menyentuhnya saat di meja. Belum ada kemampuan membelinya. Aku datang mengajak teman dengan duit 30-an ribu di kantong celana. Janjiku nanti mau mengajaknya makan mie ayam sebagai perayaan sarapan dan makan siang.

Aku membuktikan keberadaan buku Pelajaran Membaca di belakang dan depan kantor. Apa buku itu berada di perpustakaan? Aku agak tolol membayangkan Pelajaran Membaca telah menjadi koleksi di Perpustakaan Karanganyar atau direncanakan menjadi pembelian untuk koleksi baru. Aku bakal sedih bila Pelajaran Membaca absen atau gagal masuk ke Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar.

Pada siang makin panas, temanku datang, ikut berada di depan panggung. Ia berseragam polisi. Aku memang mengabarinya agar mengetahui ada acara perbukuan atau literasi. Kantornya tidak jauh dari tempat acara. Jadi, siang itu hari ratusan murid, guru-guru, para pengarang, dan polisi. Pemandangan yang aneh.

Panggung disepikan menandai istirahat. Aku bersama dua teman meninggalkan kantor, mencari tempat makan. Kami sampai di rumah rendah dengan tanaman yang mengepungnya. Rumah lawas yang dinyatakan sebagai angkringan. Aku menyantap dua bungkus nasi (sambal teri dan sambal bandeng), segelas teh, satu bakwan, dan dua bungkus balung kethek. Siang yang menjadi teduh di rumah rendah. Lagu-lagu keroncong dan langgam terdengar, pelan saja.

Aku malah membayangkan obrolan sastra sederhana bisa terjadi di situ. Sastra yang bakal mengakrabkan ketimbang panitia acara menaruh sastra di panggung megah. Aku mengerti para pengarang itu salah tingkah dengan  pembuatan acara dan petunjuk-petunjuk panitia. Mereka mungkin bermufakat denganku jika mengadakan obrolan sastra di angkringan. Pilihan lain: acara obrolan Pelajaran Membaca diadakan di ruangan. Sastra masuk kantor, bukan di depan kantor.

Makan rampung digenapi obrolan-obrolan mengandung sejarah dan politik. Kami kembali ke Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar. Pemandangan tetap ramai tapi murid-murid berganti. Puluhan murid dengan seragam berbeda, menggantikan rombongan sebelumnya. Puluhan murid datang lagi, seragamnya berbeda. Mereka dari beberapa sekolah. Banyak yang masuk ke kantor, beberapa ikut duduk di kursi merah “ikut” acara sastra.

Di depan, aku melihat Yuditeha, pengarang terkenal. Ia berdiri dengan mikrofon, diselingi bergerak ke sembarang arah. Ia sedang memberi cerita dan memandu agar orang-orang berkemauan menulis cerita pendek. Yudi dihadirkan sebagai “pengajar” dan pembujuk agar murid-murid berani menulis cerita. Yudi sudah mengerti murid-murid itu datang dan pergi, tak bakal menetap selama acara.

Aku tidak ikut duduk di kursi merah. Aku memilih duduk di lantai, bersandar di tiang di samping tatanan kursi. Inginku menjadi penonton sambil menikmati omongan-omongan Yudi. Yang terbayangkan memang terjadi, murid-murid meninggalkan kursi. Jatah waktu kehadiran atau durasi di acara sudah berakhir. Mereka harus mengikuti petunjuk guru untuk mengisi daftar presensi. Acara belum selesai tapi ratusan murid tetap dalam agenda datang dan pergi sesuai undangan resmi dari panitia.

Kursi-kursi kosong. Yudi mengajak beberapa murid dan teman yang bertahan berpindah ke depan. Sekian kursi ditata melingkar, bermaksud obrolan menjadi akrab. Keramaian tetap terjadi di depan kantor. Orang-orang masuk kantor. Di jalan, keramaian belum berhenti. Yudi mencipta “keramaian” bersama sedikit orang, yang membuktikan sastra itu tabah dan bergairah.

Aku agak prihatin. Pada saat menikmati omongan Yudi dan memandangi para murid, terdengar suara bertema minuman. Menit-menit  yang berlalu, Yudi dengan mikrofon mengoceh tentang cerita. Ia kehausan saat matahari berada tepat di atas kantor. Yudi tidak memesan es teh. Yang diinginkan adalah air untuk melegakan dan membasahi tenggorokan. Permintaan yang lucu, yang menyindir. Datanglah panitia dengan tiga botol air. Yudi tentu tidak langsung meminum semuanya. Akibatnya bisa kembung dan omongannya berair.

Hari menjelang sore. Aku pun harus pergi meninggalkan Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar. Tugas rutin menjemput anak-anak di sekolah. Pukul tiga sore, aku menuju sekolah anak-anak. Di sana, aku duduk dengan para penjemput. Duduk yang disahkan buku berjudul ABC Karang-Mengarang susunan Poerwardarminta di tangan. Buku lawas tapi cukup lezat.

Pada saat membaca halaman demi halaman, Yudi mungkin belum rampung mengantar orang-orang bergerak dalam cerita pendek. Di sana, yang datang dan pergi menjadi sastra makin salah tingkah. Aku pun salah tingkah untuk mengerti sastra, kantor, siang, mikrofon, pisang, dan lain-lain. Aku pulang bersama anak-anak, berharap selamat sampai rumah dan berlanjut mencuci pakaian kotor. [] Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *