Ragam

BUKU DI KETINGGIAN

Pagi itu dimulai dengan dolan ke Mushola Al Mubarokah (Tanon Lor, Gedongan, Colomadu). Ibadah subuh sejenak, ditambahi pengajian bertema utang. Tema yang berat bagi pemilik utang. Aku kadang menunduk malu ketimbang meratap. Pagi-pagi sudah berurusan utang. Sekian orang bertanya kepada penceramah. Jawaban-jawaban ringkas diberikan tapi aku sadar utang-utangku belum terjawab dengan kata atau kedipan mata.

Kesempurnaan pagi dengan sarapan bersama. Jamaah mendapat suguhan nasi liwet. Utang belum bisa diusir dari kepala saat mulut berulang dimasuki nasi liwet dan kerupuk. Utang tidak lenyap. Segelas teh diminum tapi utang terus menjadi masalah sebelum matahari terbit dan memberi sinar yang lekas panas.

Pulang ke rumah sejenak, berlanjut kumpul bareng warga untuk jalan-jalan keliling kampung. Matahari sudah pamer terang dan panas. Aku belum bisa pamer wajah semringah. Jalan-jalan dalam hitungan menit. Para warga berkumpul di depan rumah tetangga, duduk dan bercakap sambil menikmati timlo. Pagiku sarapan dua kali saat utang bertahan menjadi tema besar selama beberapa jam.

Aku ingin berganti tema mumpung Ahad, 17 September 2023. Keinginan mungkin mewujud jika dolan ke Masjid Sheikh Zayed (Solo). Aku sudah membuat janji dengan Ahmad untuk dolan bareng. Sejak awal, kita merasa punya alasan dolan ke masjid apik dan megah. Alasan terkuat adalah obrolan buku di perpustakaan yang terdapat dalam Masjid Sheikh Zayed. Ahad itu menghadirkan pemikir ampuh dari Jogjakarta yang bernama Irfan Afifi. Buku laris dan berpengaruh yang ditulisnya berjudul Saya, Jawa, dan Islam. Dulu, aku membaca dan meresensinya. Aku masih ingat isinya tapi tidak sempat mencarinya di rumah. Ribuan buku tampak berantakan dan berdebu. Aku menghindari berkeringat dan bersin untuk mencari buku.

Pada jelang 12 siang, aku dan Ahmad naik sepeda motor menuju Masjid Sheikh Zayed. Di jalan, panas dan panas dan panas dan panas. Suasana yang tidak harus dilawan selusin gelas berisi es teh. Hitungan menit saja, kami tiba di masjid: kagum dan bingung. Kagum melihat arsitekturnya. Bingung menyaksikan ribuan orang berada di sekitaran masjid. Konon, mereka mewujudkan hasrat piknik dan ibadah.

Masjid megah memiliki perpustakaan? Semula, aku meragu kebijakan mengadakan perpustakaan di masjid hasil kerja sama dua negara: Indonesia dan Uni Emirat Arab. Namun, ragu terjawab dengan adanya acara pembukaan perpustakaan. Obrolan dua buku diselenggarakan tapi aku cuma mengikuti yang hari kedua. Lega mengetahui masih ada masjid “mementingkan” perpustakaan. Di sana, kami tidak mengetahui keberadaan perpustakaan. Di mana-mana hanya melihat orang-orang. Akhirnya, petugas memberi informasi bahwa perpustakaan berada di atas. Aku tersenyum sejenak membayangkan perpustakaan di ketinggian. Benarlah bila buku-buku harus berada di tempat (ter)tinggi!

Berdua naik tangga. Sepi dan sepi. Tangga itu sepi dan terang. Tangga menuju buku-buku tak seramai di bawah: kerumunan orang berpotret. Kami belum berjanji berpotret. Di tangga, kami hanya bercakap sembarangan untuk menuju buku. Kaki-kaki ingin sampai ke buku-buku. Aku sudah membayangkan perpustakaan itu anggun, teduh, dan menakjubkan gara-gara melihat masjid yang megah.

  Pintu terbuka, terlihat orang-orang di ruangan. Mereka terlihat ketimbang buku-buku. Mereka itu panitia acara. Aku sudah senang memasuki perpustakaan, terhindar dari panas dan keramaian. Di ketinggian, aku bertemu orang dan buku. Mataku lekas jelalatan. Aku agak memejamkan mata menghilangkan imajinasi tadi. Yang terjadi: aku dan Ahmad berada di ruangan kecil yang dinamakan perpustakaan. Yang terlihat: sembilan rak buku belum terisi penuh. Kepastian bahwa itu perpustakaan adalah buku-buku.

Aku segera menuju rak-rak: memanjakan mata melihat buku-buku. Tangan lekas bergerak mengambil beberapa buku, membuka sejenak, dan membaca acak. Buku-buku masih baru. Di hadapanku, buku-buku terbitan Basa Basi, Ircisod, Diva, Cantrik, Lentera Hati, dan lain-lain. Senang mengetahui buku-buku yang aku belum memiliki dan membacanya. Ada janji kelak datang lagi untuk membaca di ketinggian tanpa terkena sinar matahari.

Yang membuatku merasa tenang dan teduh: ruangan itu memiliki 30-an lampu. Warna lampu kuning yang terang. Buku-buku dalam sorotan lampu, tidak lupa mendapatkan dingin dari mesin-mesin yang terdengar lembut. Buku dan lampu, dua benda yang selama ini membuatku mudah takjub meski ada keinginan persekutuan romantis: buku dan matahari. Aku tetap meyakini matahari turut hadir bukan panasnya tapi terangnya. Ruangan itu memiliki belasan jendela berukuran besar. Aku tentu tidak mau mengartikan buku dan jendela biasa diucapkan orang-orang berlagak sebagai pembaca dan penyeru. Aku justru ingin mengaitkan buku, lampu, dan matahari saja.

Orang-orang mulai berdatangan. Mereka duduk di karpet empuk dan pastinya tidak berdebu. Menit-menit menanti kedatangan Irfan Afifi. Aku terlibat percakapan bersama teman-teman. Tema obrolan singkat tidak keruan. Aku beruntung agak terhindar dari tema utang, berganti menjadi buku. Siang di ketinggian bersama buku itu hiburan membahagiakan ketimbang minum segelas es teh dan bergaya di depan kamera.

Acara pun dimulai. Perempuan berbaju biru dan berkerudung kuning sudah mengumbar kata-kata di mikrofon. Aku mendengarnya merdu. Sosok yang telah lama aku mengenalnya: Yessita. Siang itu aku menganggapnya “perempuan berkerudung buku”. Ia memang rajin membaca buku, selain senang pergi ke pelbagai tempat dengan mengendarai sepeda onthel. Mikrofon di tangannya memastikan orang-orang bakal terlibat dalam perbincangan mengacu buku berjudul Saya, Jawa, dan Islam.

Di sampingku, ada pula “perempuan berkerudung buku”. Perannya adalah pengunjung dan penggembira. Aku kagum melihatnya yang berkerudung. Ia rajin mengunjungi tempat ibadah setiap Minggu tapi bukan masjid. Kunjungan ke masjid dengan berkerudung itu dituntun oleh buku dan perjumpaan bersama teman-teman. Kami saling berbisik, tersenyum, dan tertawa kecil. Ia tidak hanya pembaca buku tapi pengarang kondang dan membuat gerakan-gerakan keaksaraan yang berpengaruh di Solo-Indonesia.

Di samping Yessita, lelaki berbaju putih lengan panjang. Ia tidak mengenakan peci. Lelaki bernama Irfan Afifi. Aku sering melihat fotonya di media sosial. Di Masjid Sheikh Zayed, aku melihat sosoknya. Omongan yang cukup memikat mengenai pengalaman religius dan penulisan. Aku menyimaknya sambil menyantap arem-arem. Di kardus untuk para pengikut acara, isinya jajanan dan sebotol minuman. Aku menghabiskannya tanpa membutuhkan lima menit. Arem-arem membuatku “marem” mengetahui sosok dan pemikiran Irfan Afifi.

“Saya malu,” kata Irfan Afifi mengenai dirinya yang membuat tulisan-tulisan. Malu mungkin berkaitan mutu dan kesungguhan. Ia biasa menulis dengan beragam acuan dan pengalaman. Tulisan-tulisannya bersebaran, sulit diniatkan sejak awal untuk menjadi keutuhan berupa buku. Akhirnya, tulisan-tulisan bisa dijadikan buku gara-gara ditemukan pihak yang mengikat. Namun, ia berulang menolak diterbitkan menjadi buku.

Yang ia ceritakan membuatku mengangguk. Pada suatu malam, pihak penerbit mendatangi (lagi) rumah Irfan Afifi, yang publik mengetahuinya bernama Langgar. Semula, Irfan Afifi tetap akan menolak keinginan penerbit. Jawaban berubah setelah mengetahui suasana dan rasa malam. Irfan Afifi menyadari pertemuan itu saat malam yang indah, malam yang mengingatkan kelahiran Nabi Muhammad. Akhirnya, ia bermufakat buku boleh diterbitkan dimaksudkan sebagai “hadiah untuk Nabi Muhammad”. Akibatya, buku itu laris! Konon, kini sudah cetak ulang kesembilan.

“Saya menulis terus-menerus,” omongan Irfan Afifi, Yang diinginkan adalah menulis, bukanya menjadi penulis. Aku sedikit memahami maksud kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ia ingin terus menulis tentang Jawa dan Islam meski memiliki tahun-tahun suntuk berfilsafat.

Aku mendengar omongan-omongannya sambil melihat meja yang ada di depannya. Di atas meja, ada sepiring jeruk dan sepiring kue. Botol minuman dan gelas. Yessita dan Irfan Afifi mendapat suguhan yang lezat tapi mereka harus sering omong.

Di belakang mereka, tiga jendela besar. Aku masih bisa melihat langit lewat jendela. Yang sempat membuatku takjub: di jendela sisi selatan, bagian atasnya menampilkan pemandangan yang bercerita. Burung-burung gereja terbang dan hinggap di jendela. Namanya burung gereja berkunjung dan ingin berumah di masjid. Mereka sedang menjadi arsitek. Mereka berusaha membuat sarang. Pemandangan yang menjadi selingan saat aku memandangi Yessita, Irfan Afifi, jeruk, kue, dan buku.

“Aku ingin menjadi burung yang berumah bersama buku-buku,” penggalan lamunanku. Burung-burung itu mengetahui orang-orang dalam ruangan sedang membicarakan hal-hal yang berat. Mereka mengikuti acara sambil membuat sarang tapi tidak mendapat suguhan.

Di depanku, ada lelaki yang berjaket. Ia mungkin tidak tahan dinginnya ruangan. Lelaki yang “mengganggu” penglihatanku untuk secara utuh menikmati persekutuan manusia, buku, makanan, minuman, dan buku di depan. Namun, aku malah mendapat pesan besar. Di bagian belakang jaket, aku melihat peta Indonesia yang diwarnai merah dan putih. Di bawah peta, ada tulisan: “Menulis adalah keberanian”. Aku tersenyum saja, belum berani mengangguk atau geleng-geleng kepala.

Menit-menit berlalu, acara selesai. Aku segera mendatangi meja. Misi terbesarku adalah mengambil jeruk yang “telantar” tanpa ada yang menikmatinya selama acara. Anggapanku, jeruk-jeruk mendapat “ilmu” dari omongan-omongan Irfan Afifi. Aku ingin memakannya, berharap sekalian “memakan ilmu” yang segar dan lezat. Pada saat mendatangi meja, aku bersalaman dengan Irfan Afifi dan terlibat obrolan bersama Ramdhon dan Bagus Sigit Setiawan. Misiku makan jeruk menjadi meriah kata-kata.

Sore itu membahagiakan. Di ketinggian, buku-buku telah memberi panggilan untuk berpikir dan mencipta percakapan-percakapan yang menggairahkan. Aku tentu berharap kelak bakal datang lagi untuk melihat buku-buku dan menikmati arem-arem. [] Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *