Ada begitu banyak hal yang masih menjadi misteri. Bukan hanya di muka bumi yang katanya penuh dengan panggung sandiwara, tapi juga di dasar samudera paling dalam, sedalam pikiran kotor yang lupa sudah berapa lama belum dilaundry. Atau, jangan-jangan ada banyak artefak menggantung di langit-langit angkasa yang lupa ditemukan hingga gagal menjadi sejarah.

Sesungguhnya, bukan tentang misterinya, melainkan pesan-pesan yang bisa jadi sengaja disembunyikan. Apa kalian tahu—sebenarnya aku yakin kalian sudah tahu—jika orang yang paling pandai berkamuflase adalah penulis? Ada satu buku lawas, yang ketika kubaca ulang, aliran ceritanya bisa terus bercabang ke mana-mana seperti anak sungai. Penulisnya pandai bernarasi. Ia tidak menciptakan plot yang menghanyutkan, melainkan membawa pembaca untuk terus berpikir dan memutuskan sendiri ke mana arah cerita itu akan berakhir.

Sayangnya, banyak orang justru merasa dijebak. Terlalu banyak ruang kosong yang pada akhirnya membuat pembaca kecewa, lalu mengeluh, Aku membaca untuk menikmati, bukan mencari-cari jawaban seperti sedang ujian nasional.

Padahal, buku yang dianggap penuh lubang jebakan itu justru memiliki nyawa. Ibarat seorang kekasih yang tak banyak bicara, namun selalu mendengar dan memperhatikan. Mungkin ia tidak membuat perasaanmu melayang-layang saking romantisnya. Tapi ia tahu kapan waktu yang tepat untuk memelukmu.

Jadi hal ini bukan soal misteri, ruang kosong, atau jebakan, tapi soal keterbukaan dan keikhlasan untuk menerima. Membuka hati dan pikiran agar tidak terjebak dalam monolog. Karena buku, bukan hanya bercerita tentang kisah-kisah relate kehidupan sehari-hari yang membuatmu merasa ke-ge er-an. Apalagi sampai tidak bisa tidur karena berpikir jika penulisnya sengaja membuatkan cerita khusus untukmu saja.

Ketahuilah, penulis tetaplah seorang manusia. Kadang ia menitipkan trauma pada tokoh anak kecil yang benci asap rokok sejak kehilangan sosok ayah. Atau mengukir sebuah kehidupan rumah tangga paling sempurna dengan memunculkan tokoh istri yang diam-diam selalu menyisihkan lauk paling lezat demi menyambut suaminya. Atau, bisa jadi ingin sejenak menjadi jahat, dengan menciptakan tokoh pembunuh bayaran yang tak berperasaan dalam menghabisi targetnya. Ssssstttttt, ini hanya rahasia yang tidak benar-benar bisa menjadi sebuah rahasia. Bisa nyata begitu, bisa juga tidak benar-benar seperti itu.

Jadi, jika saat membaca sebuah buku, kamu merasa kosong, itu bukan berarti penulisnya buruk, atau kamu yang tidak lekas memahami maksud penulisnya. Melainkan, kamu hanya belum benar-benar mau terbuka untuk mengenal dan memahami cerita. Pada dasarnya, tidak ada cerita yang sia-sia. Sama halnya dengan buku dan segala misterinya. Pada akhirnya, kamu akan mengerti, jika dalam setiap narasi dan kisah, selalu menyimpan sesuatu dari penulisnya. Entah itu sebuah kebenaran yang dianggap fiksi, atau kebohongan yang terlanjur dipercaya. [] Redaksi