
Di antara orang yang baca tulisan: Menangislah, Jika Kamu Ingin Menangis, bertanya kepada saya terkait bagaimana cara membuat resensi buku cerita yang baik. Tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.
Ada sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan mulai diwariskan, menulis resensi buku cerpen dengan gaya buku pelajaran IPS kelas tiga. Mulai dari ringkasan cerita, tokoh, latar, amanat, sampai kesimpulan. Pokoknya kalau bukan kayak anak SD mengerjakan PR, belum sah disebut resensi. Bahkan ada pula yang memberi judul resensinya dengan gaya garing seperti: Kisah Haru Tentang Persahabatan dan Perjuangan. Hadeh. Membacanya seperti masuk ke lubang nostalgia sinetron 2003, penuh harapan, tapi isinya klise.
Mari kita tarik napas. Pelan-pelan. Lalu kita buang segala anggapan bahwa resensi adalah ringkasan. Bukan. Resensi yang baik tidak menceritakan ulang. Resensi yang baik memaknai. Bukan bicara apa ceritanya, tapi apa yang terjadi pada saya setelah membaca cerita itu.
Sama seperti kamu tidak butuh laporan lengkap tentang siapa mantan pacar gebetanmu, kamu hanya ingin tahu kenapa dia tidak bisa move on. Nah, resensi itu bukan laporan investigasi cerita, tapi pengakuan emosi pembaca.
Coba kita bayangkan begini. Ada satu buku cerpen berjudul: Dunia yang Terbakar oleh Luka Kecil. Isinya sepuluh cerpen, semua berkisah tentang luka-luka batin manusia. Nah, si A menulis resensi dengan cara menyebutkan satu per satu ceritanya: Cerpen pertama tentang seorang anak kecil yang trauma karena disiksa ayahnya. Cerpen kedua tentang perempuan yang tak bisa memaafkan ibunya. Cerpen ketiga dan seterusnya.
Lalu dia menutupnya dengan kalimat: Buku ini mengajarkan kita untuk tidak menyakiti orang lain. Wah. Betapa naif dan polosnya simpulan itu. Kita sedang membicarakan manusia yang berdarah dan berlumur konflik batin, tapi disimpulkan seperti pesan moral pada iklan sabun: Mari saling menyayangi.
Sebaliknya, bayangkan resensi penulis lain. Ia menulis:
Setelah membaca cerpen-cerpen dalam buku ini, saya mendadak merasa canggung dengan keheningan di meja makan rumah saya. Saya teringat ibu saya yang selalu bilang: “makan jangan bersuara” seperti mantra, tapi saya tahu, itu hanya alasan untuk menyembunyikan tangis. Cerpen keempat, entah mengapa, membuat saya menyesal tidak pernah bertanya pada ibu, apakah ia bahagia?
Nah! Di situlah resensi menemukan rohnya. Bukan soal cerita, tapi soal bagaimana cerita itu mengguncang, menyenggol, menggoda, atau malah menampar pembaca. Kalau kita hanya mengulang isi cerita, buat apa ada banyak orang menulis resensi? Toh hasilnya akan seragam, isi-cerita-tokoh-latar-amanat. Ajaibnya, masih banyak redaktur media yang memuat tulisan seperti itu. Ironis, bukan?
Kita harus akui, ada pula penulis resensi yang sok keren. Dia pakai istilah semiotik, strukturalisme, dekonstruksi, dan teori-teori yang terdengar seperti nama penyakit. Resensinya tak lebih dari parade kutipan Derrida dan Barthes, tapi sayangnya ia lupa, pembaca ingin tahu rasa, bukan rumus.
Dia seperti orang yang sedang menceritakan makanan enak tapi hanya menyebutkan kandungan gizi, jumlah kalori, dan teori metabolisme, tanpa pernah mengatakan: “ini gurih banget, dan bikin kangen.” Maka resensinya pun hambar. Canggih, tapi tidak menggugah. Akhirnya jatuh ke kubangan narsisme intelektual, membahas buku hanya untuk memamerkan kecerdasan sendiri, bukan untuk mengajak orang ikut merasakan.
Misalnya sebuah resensi buku cerpen berjudul: Sajak yang Terselip di Celana Dalam (Judul-Judul cerpen dalam buku itu memang liar). Tapi si peresensi malah sibuk menganalisis gaya bahasa dengan cara formal:
Penulis menggunakan diksi vulgar untuk menarik perhatian pembaca, namun secara semantik hal ini menciptakan ambiguitas yang kontraproduktif terhadap nilai-nilai kultural.
Kita bisa mengelus dada. Kalau niatnya menulis esai akademik, silakan. Tapi ini kan resensi untuk umum, bukan abstrak skripsi. Sementara, kalau mau membahas kebrutalan diksi, kenapa tidak bilang saja:
Ketika saya membaca kata ‘celana dalam’, saya mendadak merasa diawasi. Buku ini seolah menyindir ruang privat yang paling rawan, pikiran liar yang disensor oleh sopan santun. Tapi hidup sehari-hari kita sepertinya memang begitu. Penuh yang tak terucap.
Nah, itu namanya mengajak pembaca masuk ke dalam perasaan, bukan cuma mengupas kulit luarnya.
Ada pula model resensi yang kebablasan spoiler. Bahkan dia ceritakan sampai ending-nya, lengkap dengan twist dan kejutan cerita. Saya membayangkan si penulis cerpennya sedang membaca resensi itu sambil berkata lirih, “Astaga, kamu kok tega!”
Kalau semua rahasia dibeberkan, lalu untuk apa pembaca membeli bukunya? Ini bukan pesta keluarga di mana semua orang harus tahu siapa selingkuh dengan siapa. Cerita butuh ruang kejut. Dan resensi yang baik justru menjaga letupan-letupan itu agar tetap hidup. Karena itu, resensi bukan mengisahkan kembali, tapi memantik rasa penasaran.
Contoh buruk:
Di akhir cerita, ternyata si tokoh utama adalah hantu. Wah, mengejutkan!
Contoh baik:
Cerpen ini membuat saya mempertanyakan batas antara hidup dan mati. Saya jadi curiga, jangan-jangan obrolan saya dengan kakek minggu lalu adalah percakapan dengan kenangan.
Lebih enak, kan? Kita tidak tahu ceritanya secara utuh, tapi kita tertarik.
Dalam dunia resensi, selera itu penting. Tapi bukan berarti selera pribadi dibela mati-matian seperti suporter klub bola. Kadang ada yang terlalu subjektif dan menjatuhkan:
Buku ini jelek. Ceritanya tidak jelas. Tokohnya aneh.Tidak layak disarankan.
Lalu kita cek profilnya, baru baca dua buku cerpen sepanjang hidup. Satu waktu disuruh guru, satu lagi karena suka sama penulisnya yang cakep. Nah, ini bukan resensi. Ini komentar iseng yang tersesat ke kolom budaya.
Menulis resensi harus jujur, tapi juga beradab. Kalau tak suka, sampaikan dengan argumen yang membuka kemungkinan tafsir, bukan vonis. Dan kalau suka, jangan hanya bilang “ceritanya bagus banget” lalu selesai. Itu pujian yang membuat pembaca hanya senyum basa-basi, bukan mengangguk tanda sepakat.
Ada kalanya pula, resensi membawa kita ke ruang kenangan. Kita membaca satu cerpen, lalu teringat masa kecil, atau pertengkaran dengan kekasih yang belum pulih. Dan itulah yang harus ditulis. Karena resensi adalah medan pertemuan antara teks dan pengalaman pembaca. Maka setiap orang akan menulisnya berbeda. Satu buku bisa lahir dalam seribu resensi, dan semua sah, semua layak dibaca, asal bukan ringkasan cerita yang dibungkus dengan kalimat manis, lalu disebar dengan bangga.
Misalnya resensi cerpen tentang seorang perempuan yang diam saja sepanjang cerita. Saya tak tahu nama tokohnya, tak tahu apa motivasinya. Tapi dari diamnya itu, saya merasa ditampar. Saya akan menulis:
Kadang, cerita terbaik adalah tentang orang yang tidak bicara. Karena diamnya memekakkan. Karena saya pun pernah diam, saat semestinya marah. Cerpen ini, anehnya, membalas diam saya sendiri.
Resensi seperti itulah yang saya inginkan. Yang bukan hanya bicara tentang buku, tapi juga tentang diri kita sendiri. Karena buku adalah cermin, dan resensi adalah pengakuan diam-diam yang kita buat di hadapan cermin itu.
Jadi, kalau hari ini kamu ingin menulis resensi cerpen, jangan mulai dengan: Buku ini terdiri dari sepuluh cerita yang semuanya menarik. Itu kalimat pembuka yang sudah pensiun sejak tahun 2002. Mulailah dengan rasa. Dengan tanya. Dengan bingung. Bahkan kalau perlu, dengan marah atau tawa kecil. Karena cerita yang baik, selalu membekas. Dan tugas peresensi adalah menunjukkan bekas itu, bukan membersihkannya.
Jangan takut membuat resensi yang tidak akademis. Yang penting jernih. Jangan takut menulis dengan jenaka. Yang penting tajam. Jangan malu memasukkan pengalaman pribadi, bahkan yang menyedihkan. Karena mungkin, ada yang membaca resensimu dan berkata: “Saya juga merasakan itu.”
Dan pada saat itulah, resensi berhenti menjadi sekadar tulisan. Ia menjadi jembatan. Ia menjadi pengakuan. Ia menjadi semacam bisikan pelan di antara dua pembaca yang tak saling kenal, tapi punya luka yang serupa. Tentang rasa yang dirasa. Dan bukankah itu tujuan membaca yang sesungguhnya? [] Redaksi
