
Ada yang aneh tapi nyata. kita hidup di zaman koneksi cepat, tapi pikiran di kepala justru makin lambat. Informasi berseliweran tak kenal jeda, tapi yang mampir di kepala cuma potongan tulisan dari akun gosip. Bukan karena tidak ada buku. Bukan karena sulit mengakses bacaan. Tapi karena anggapan orang dewasa merasa tak perlu membaca.
Ah, membaca. Kata yang terdengar begitu romantis bagi penggila literasi, tetapi terdengar seperti kutukan buat yang merasa sudah kenyang ilmu. Seolah membaca itu pekerjaan anak sekolah dan tukang tulis. Seakan kalau sudah dewasa, sudah kerja, sudah bercucu, otomatis jadi makhluk serbatahu, yang informasi bisa cukup didapat dari obrolan di warung kopi dan chat di grup WhatsApp.
Padahal, kegemaran membaca itu bukan bakat. Bukan warisan genetik. Dan sama sekali bukan cuma hobi yang cocok dipajang di bio Instagram. Itu kebiasaan. Yang bisa dibentuk. Yang bisa diasah. Dan bisa ditanam kapan saja, ke siapa saja, sepanjang hidup. Tapi sayangnya, sering ditinggal begitu saja.
Mari kita buka sedikit fakta menyebalkan tapi perlu, masih terlalu banyak orang dewasa yang merasa tidak punya waktu untuk membaca. “Sibuk, Bro. Mana sempat?” katanya, padahal tiap hari bisa nonton tiga episode drama Korea dan lima video prank dari YouTube.
Mereka ingin tahu sesuatu, tapi enggan mencari tahu. Maunya diberi tahu. Maunya instan. “Tanya aja langsung, lebih cepet,” katanya. Lalu ketika pengetahuan yang didapat mentah dan sesat, mereka marah-marah.
Ini bukan hanya ironi, ini sudah seperti lelucon yang tak lucu. Sebab bagaimana mengaku cerdas dan modern, jika enggan melakukan hal paling dasar dalam membangun kapasitas berpikir: membaca?
Kebiasaan membaca, jika sudah mendarah daging, punya efek luar biasa. Ia mengajarkan kita menunda kesimpulan, memperkaya perspektif, membuat kepala seperti ruang tamu yang siap menerima siapa saja, bukan ruang tahanan ego yang menolak semua ide selain miliknya sendiri.
Dan ada yang lebih menarik, membaca bisa menunda kepikunan. Ini bukan omong kosong dari motivator pagi yang berjas tapi pakai celana training. Ini fakta dari banyak studi. Membaca membuat otak aktif, memelihara daya ingat, dan melatih fokus. Membaca adalah senam otak. Tapi yang satu ini tak perlu alat bantu, cukup buku dan sedikit kemauan.
Bayangkan, ada yang sejak pensiun tidak pernah membaca lagi. Yang dibuka cuma grup WhatsApp, itu pun hanya untuk memastikan siapa yang meninggal minggu ini. Saat diajak bicara, jawabannya melantur. Bukan karena takdir, tapi karena membiarkan kepala jadi sarang debu. Tapi kenapa mereka tidak juga tertarik membaca?
Barangkali karena bacaan kadung dianggap beban, bukan teman. Kita mewarisi pola pikir membaca itu harus ada gunanya langsung, bisa diuji, bisa ditampilkan. Baca koran, harus bisa nyambung pas ngobrol politik. Baca novel, harus bisa bikin resensi. Kalau tidak, dianggap buang waktu.
Itu pola pikir warisan pendidikan lama, yang menjadikan membaca sebagai alat ukur nilai. Padahal, membaca itu baiknya seperti ngobrol dengan dunia. Kadang tidak perlu paham dulu, cukup penasaran, cukup terbuka. Kalau semua harus langsung paham dan menghasilkan, maka cinta pun tidak akan ada yang bertahan, karena siapa yang langsung ngerti pasangan seperti apa? Lalu, bagaimana menumbuhkan kebiasaan membaca bukan hanya pada anak, tetapi juga orang dewasa?
Jawabannya sederhana tapi bikin dahi berkerut, jangan didoktrin. Jangan dipaksa. Perkenalkan bacaan yang dekat, ringan, dan jenaka. Jangan langsung kasih Sapiens ke bapak-bapak pensiunan. Berikan dulu tulisan pendek menggugah. Cerita harian. Humor receh. Artikel menyentil. Biar mereka tahu, membaca tidak harus berat. Bisa menggelitik yang membuat senyum kecil sembari ngopi sore.
Juga, penting mengenalkan suasana membaca sebagai aktivitas santai. Tidak usah sakral. Tidak perlu pakai lilin dan instrumental klasik. Cukup dengan suasana nyaman dan buku yang tidak menakutkan.
Katakanlah, ada orang yang dulu sama sekali tak suka membaca. Baginya buku simbol trauma, tugas sekolah, ujian, nilai merah. Tapi ketika ia terkena insomnia dan mulai mencari bacaan pendek di ponsel, dia ketagihan. Mulai dari cerpen lucu, artikel ringan, hingga kini tak bisa tidur tanpa membaca dua puluh halaman novel setiap malam. Tak ada kata terlambat. Yang perlu cuma pintu yang pas.
Kita juga bisa membuat membaca jadi pengalaman bersama. Misalnya, satu keluarga membaca buku yang sama, lalu didiskusikan tiap akhir pekan. Bukan buat nilai, tapi buat berbagi tawa atau marah bareng. Atau di kantor, daripada meeting yang isinya saling menyalahkan, kenapa tidak ada satu sesi tukar kutipan minggu ini?
Kita bisa saling memperkenalkan bacaan seperti memperkenalkan makanan. “Nih, ada cerita lucu yang bikin aku ketawa sendiri tadi malam,” lalu kirim PDF atau tautannya. Itu lebih menyenangkan daripada menyebar video hoaks cara menyembuhkan asam urat dengen bersiul.
Membaca bukan cuma buat mereka yang kerja di dunia literasi. Sama seperti olahraga bukan cuma untuk atlet. Kita semua butuh gerak tubuh, sebagaimana kita butuh gerak otak. Tanpa membaca, pikiran kita jadi seperti sumur yang tak pernah ditimba. Diam. Berlumut. Dan lama-lama bau.
Seseorang yang terbiasa membaca bisa membedakan mana opini dan mana fakta. Ia tidak mudah tersulut hanya karena judul berita. Ia tahu bahwa tidak semua hal bisa ditangkap lewat satu video viral berdurasi satu menit. Ia bisa diam dalam percakapan tanpa merasa perlu selalu punya pendapat, karena ia tahu diam pun bagian dari memahami. Sebaliknya, yang tidak pernah membaca biasanya cepat kesal. Karena hanya hidup dari emosi, bukan dari informasi.
Seorang ibu tua datang setiap Rabu sore di perpustakaan desa. Ia tidak bisa membaca. Tapi ia minta dibacakan cerita. Ia tertawa ketika tokohnya lucu. Ia menangis ketika tokohnya kehilangan. Ia bilang, “Saya jadi merasa punya teman.” Dan begitulah adanya, membaca memberi kita teman, bahkan saat dunia sepi dan orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Jadi, tidak ada alasan logis untuk menghindar dari membaca. Kecuali kalau memang lebih nyaman hidup dengan kepala kosong. Membaca tidak perlu alasan mulia. Tidak usah ditunggu pensiun atau dapat pencerahan spiritual. Cukup mulai dari mana saja, dan kapan saja.
Kalau hari ini bisa tertawa dari tulisan lucu, itu juga membaca. Kalau bisa menangis karena kisah dari orang yang tak kita kenal, itu juga membaca. Kalau bisa menghindari hoaks dan tidak mudah dibodohi, itu juga berkat membaca. Dan jika suatu hari, kita sudah terlalu tua untuk ingat jalan pulang, mungkin membaca bisa jadi pengingat kecil bahwa kita pernah hidup, dengan isi kepala yang tidak kosong-kosong amat.[] Redaksi
