Dunia Buku

Bukan Picisan

Hayo, siapa yang sampai sekarang masih setia baca buku cinta? Sering nangis sampai sulit bedakan air mata dan ingus. Atau keseringan senyum-senyum sendiri padahal tanggal sudah tua dan perut hanya diisi sekali sehari, seolah lambung bisa otomatis mengecil begitu menelan kata-kata mutiara. Atau barangkali ada juga yang malah uring-uringan hanya karena ceritanya tak sejalan dengan pikiran. Jangan malu. Tapi tak perlu juga sampai posting foto selfie di sosmed dengan mata sembab dan buku terbuka lalu menulis caption: Pria sejati tak pernah malu ketahuan menangis. Wah, itu sih namanya cari perhatian.

Kisah cinta bukan melulu picisan. Seakan baca novel cinta di usia berkepala 4 menjadi hal yang luar biasa. Luar biasa aneh karena dianggap sudah lewat masanya. Semakin berumur, kualitas buku yang dibaca seharusnya lebih berbobot. Politik, ekonomi, kebudayaan, sejarah, ilmu pengetahuan, seni, dan apa pun topiknya asal bukan cinta. Karena perihal cinta hanya cocok dibaca oleh mereka yang sedang dimabuk asmara.

Contoh, ada seorang remaja berseragam putih abu-abu yang baca novel cinta sembari menunggu bus di halte, dianggap sangat wajar. Atau sekelompok mahasiswi sedang berisik membahas novel baru yang sangat romantis di kafe. Lalu apakah dosa jika seorang lelaki dewasa, bertubuh kekar, duduk di ruang tunggu bandara sembari baca kumcer cinta? Juga seorang lansia yang baca cerita cinta remaja adalah sebuah kesalahan? Dituduh inilah, itulah, apalah. Pokoknya segala hal yang mengarah mencurigai.

Memang sih, tidak sedikit orang bilang jika buku tentang perasaan dianggap kekanakan. Bahkan di dunia sastra, cinta bisa dibilang hal paling ujung dari tema yang dianggap keren. Itu sah-sah saja. Namanya juga persepsi: perkara sudut pandang dan opini, bukan tentang benar salah, tepat melenceng, atau bagus dan buruk. Jadi tidak apa-apa jika kamu sudah berumur dan tetap membaca komik cinta. Santai saja. Kalem dan jangan overthinking. Percayalah, mahakarya sastra, serumit apa pun temanya, pasti ada unsur cintanya. Tinggal bagaimana cara menceritakan saja. Itulah yang sebenarnya membuat kualitas cerita tampak berbeda.

Cinta itu seperti micin: penghasil rasa umami pada masakan. Apa itu umami? Gurih. Asal takarannya pas, tentu nggak akan mudah bikin otak nge-lag seperti laptop yang kebanyakan memori: mau di-restart berkali-kali tetap saja lemot. Jika buku tidak ditulis dengan cinta, bagaimana pembaca bisa larut dalam cerita? Jadi jangan terlalu serius memilih buku. Ingat! Kadang judul belum tentu mencerminkan isi. Jadi tetaplah membaca tanpa takut mengambil tema yang disuka. Karena membaca, adalah tentang kepuasan diri. Mereka yang memandang sinis pada buku di genggamanmu, tidak berarti seorang psikopat. Jadi cuek saja. Sesekali bersikaplah tidak peduli pada sekitar. Di sana, kamu akan menemukan asyiknya bercengkerama dengan dirimu sendiri.

Jika kamu pernah mendengar lagu Roman Picisan, bahkan sampai menggilainya, biarkan cukup lagu itu saja yang rela bilang jika cinta itu tidak harus memiliki. Karena kalau kamu benar-benar berusaha, cinta akan selalu bisa dimiliki: meski tak terlihat, tak terasa, juga tak tersentuh. Sama halnya seperti buku cinta yang mungkin saat ini kamu baca: bukan tulisanmu, bukan kisahmu, tapi mampu menenggelamkanmu pada rasa paling dalam di hatimu. Dan itu bukan picisan. Ah, romantisnya. [] Redaksi

Dunia Buku

Sok-sokan

Ada satu dosa besar yang sering dituduhkan kepada siapa pun yang membawa buku ke mana-mana: sok-sokan. Sok intelek, sok rajin, sok kutu buku, sok cool, sok anti-gadget, sok bijak, sok sibuk cari makna hidup, bahkan sok nggak butuh teman. Pokoknya semua yang sok-sokan itu bisa melekat ke punggung kita hanya karena satu hal sederhana, membaca buku di tempat umum.

Padahal, siapa sih yang benar-benar sok? Yang mengira membaca buku harus selalu dikaitkan dengan adu kepintaran itu siapa? Yang menyangka bahwa duduk membaca novel di ruang tunggu dokter berarti ingin pamer ke pasien lain itu siapa? Apakah kita harus menulis: Saya hanya sedang mengisi waktu, bukan mengkhotbahi kalian, di kover buku kita agar tidak dikira sedang melakukan provokasi intelektual?

Lucunya, ketika orang membawa ponsel lalu scroll TikTok atau Instagram dengan ekspresi khusyuk, tak ada yang bilang dia sok asik, sok update, atau sok influencer. Tapi ketika kau membuka buku, bahkan buku puisi paling kalem pun, seolah kau sedang membaca mantra kuno untuk memanggil alien, reaksinya bisa dramatis sekali. Mulai dari lirikan mata, gumaman kecil, hingga cibiran penuh curiga. Mengapa begitu?

Mungkin karena buku itu diam. Tak bersuara. Tak mencari validasi. Dan diam, bagi sebagian orang, itu mengganggu. Buku tidak butuh notifikasi, tidak perlu like, tidak minta swipe. Ia hanya duduk tenang di pangkuanmu, menyajikan dunia tanpa mengganggu dunia. Dan justru di situlah bahayanya bagi banyak orang, buku itu terlalu independen. Ia membuatmu terlihat tak butuh keramaian. Dan dalam dunia yang menuntut kita tampil ramai, itu dianggap ancaman.

Maka, membawa buku ke mana-mana bukan cuma tindakan membaca, tapi juga bentuk keteguhan. Seperti membawa payung kecil saat semua orang lebih suka kehujanan lalu upload: Hujan itu romantis. Membawa buku seperti membawa bekal ketika yang lain sibuk antre beli camilan. Praktis, tapi dianggap kurang rame.

Tapi biarlah. Jangan kecil hati hanya karena kupingmu dipanaskan ejekan sok kutu buku. Bukankah kutu buku lebih baik daripada kutu gosip?

Lagipula, siapa sih yang mau menunggu antrean panjang di bank sambil ngelamun membatin, kenapa hidupku begini-begini aja? Lebih baik membuka halaman novel, larut dalam kisah fiktif, lalu lupa bahwa saldo di rekening tinggal seratus dua ribu. Kan lumayan, sebelum kenyataan menampar, setidaknya kita sempat mimpi sebentar.

Jadi, bagaimana caranya agar kita tetap nyaman membaca buku di tempat umum?

Pertama, ikhlaskan pandangan orang. Kita tidak bisa mengontrol komentar mereka, tapi kita bisa memilih genre buku yang membuat kita tetap waras. Kalau mereka bilang kita sok intelek, ya sudah, anggap saja itu promosi gratis. Dan kalau ada yang menyeletuk, “Wih, rajin amat sih, baca buku di halte!” cukup jawab, “Biar nggak baca pikiran orang, Mas.”

Kedua, siasati ejekan dengan humor. Jika mereka bilang, “Sok cool banget sih bawa buku ke kafe,” kau bisa senyum dan balas, “Daripada sok sweet sama mantan, ya kan?” Humor itu pelindung paling elegan dari sarkasme dunia.

Ketiga, bangun komunitas diam-diam. Kadang kita menemukan orang lain di taman kota yang juga sedang membaca. Senyum tipis cukup. Tak usah saling sapa kalau belum siap, tapi rasakan getarannya, kita tidak sendiri. Dunia ini memang kadang bising, tapi selalu ada yang memilih membaca daripada ribut di kolom komentar.

Keempat, dan ini yang paling penting, ingat alasanmu membawa buku. Karena kau tahu, buku bisa jadi penolong saat dunia terlalu hampa. Bisa jadi penyelamat saat sinyal hilang. Bisa jadi teman ketika urusan tertunda, antrean mengular, atau janji temu molor sejam. Buku tidak akan menatapmu dengan sinis saat kau bosan. Ia setia tanpa banyak cingcong.

Akhirnya, kita harus akui, membaca di tempat umum itu tindakan romantis yang sunyi. Seperti sedang kencan dengan pikiran sendiri. Tak butuh validasi. Tak butuh pujian. Hanya ingin menikmati ruang hening di tengah riuh notifikasi dunia.

Ada ironi di sana, ketika dunia makin ribut soal kecepatan, kita diam-diam memilih lambat. Memilih tenggelam dalam kalimat. Memilih tidak ikut rebutan bicara, tapi mendengarkan cerita dari halaman ke halaman. Dan kalau ada yang mencemooh, biarkan. Kadang cemooh adalah suara orang yang rindu membaca tapi tak tahu bagaimana memulainya.

Karena itu, mari tetap membawa buku ke mana pun. Di tas, di saku, di tangan. Kita tak harus mengubah dunia dengan bacaan kita. Tapi kita bisa menyelamatkan diri sendiri. Dan itu lebih dari cukup. Yang penting, jangan lupa satu hal, kalau buku itu teman, jangan hanya dibawa. [] Redaksi

Dunia Buku

Teman Perjalanan

Dunia penuh orang sibuk. Kerja, kuliah, sekolah, bermain, bahkan juga sibuk mencari kesibukan itu sendiri. Semakin sibuk, maka akan terselamatkan hidupnya. Dunia memang tidak ke mana-mana, diam, bahkan cenderung tak peduli. Tetapi banyak orang merasa jika dunia itu terlalu seksi, menggoda, dan sangat menggairahkan hingga layak untuk dikejar. Pokoknya seperti mantan terindah yang belum juga dipersunting orang. Serba salah. Kesal, tapi kok masih sering kangen.

Paragraf di atas hanya intermezo. Dunia adalah sebuah kehidupan dengan banyak perjalanan. Lalu buku, sering kali terlibat di dalamnya. Katanya sih, agar bisa membunuh waktu. Seperti seorang mahasiswa yang ketahuan membawa buku tebal berjudul berat di KRL. Tapi tidak sempat baca karena sibuk berdesak-desakan. Kadang saat berhasil dapat tempat duduk, buku justru dipegang erat-erat macam balonku ada lima. Atau berakhir sebagai bantalan kepala saking beratnya mata menahan kantuk.

Ada juga kisah seorang remaja yang berangkat sekolah dengan buku puisi tipis di tangannya. Mungkin perjalanan pulang ke rumah usai sekolah tergolong singkat, bisa jadi untuk memahami khusyuk satu judul puisinya saja tidak akan sempat. Tapi karena memang sengaja menjadi sarana mendekati teman mading yang keranjingan puisi, pada akhirnya sebuah perjalanan bus Trans yang seharusnya berhenti di halte 3, bablas menuju halte 13 sesuai pemberhentian gebetan. Bedah puisi, katanya, padahal sebenarnya pedekate.

Di pesawat, ada seorang dosen dengan niat awal ingin menyelesaikan sebuah novel sepanjang perjalanan Jakarta menuju Papua. Sayang, rencana terpaksa gagal karena mendadak ditelepon atasan untuk membuat materi presentasi. Apakah buku akan kecewa? Sepertinya tidak. Buku tidak baperan. Tidak menangis sesenggukan hanya karena merasa dimarahi pacar di chat. Padahal chat itulah yang bisa jadi tidak punya perasaan. Mereka hanya huruf yang terangkai hingga menjadi kalimat. Perkara pemakaian huruf kapital semua, atau ada tanda seru dua, sudah diterjemahkan beda, itu hal lain. Siapa yang salah? Tentu saja kamu. Iya, kamu itu.

Meski begitu, ada juga kisah seorang perempuan pekerja yang rela meninggalkan keluarga demi tugas negara. Dia menyimpan tiga buku kumpulan cerpen tebal di koper, lalu dua buku lainnya di tas ransel miliknya. Perempuan itu menikmati ratusan kilometer di atas mobil sewaan, dengan membaca buku di tangannya. Dia benar-benar memperlakukan buku sesuai kodratnya: dibuka, lalu dibaca. Bukan semata ingin membunuh waktu, melainkan mengais jejak-jejak rasa, karena buku-buku itu rupanya pemberian seseorang yang begitu dicintai. Apakah buku itu lantas bahagia? Tidak juga. Bukan karena buku tak berperasaan, tapi karena buku sanggup berperan menjadi lebih dari itu.

Buku bukan sekadar teman perjalanan. Tapi sebagai kurir yang ingin menyampaikan protes seorang aktivis pada penguasa. Atau sebagai hantu yang menakut-nakuti pembacanya hingga lebih memilih menahan kencing sampai pagi menjelang. Atau yang paling romantis, buku juga bisa menjadi agen penyalur perasaan. Jarak yang terasa jauh menjadi lebih dekat hanya karena mencium aroma buku. Bukan aroma kertas pudar, melainkan jejak-jejak kenangan yang sesekali menyeruak tajam.

Jadi, saat perjalanan manakah kamu bisa benar-benar membawa buku sebagai teman? [] Redaksi

Dunia Buku

ARO

Ada satu aroma tidak bisa direplika oleh pabrik parfum mana pun. Semuanya menyerah. Ia bukan bau vanila, bukan bau kayu manis, bukan pula bau lavender. Tapi siapa pun pernah memegang buku, membuka lembarannya pelan-pelan, lalu mencium baunya, akan tahu. Ini aroma bikin rindu masa lalu sekaligus masa depan. Aroma buku, bau khas dari kertas, tinta, waktu, dan kenangan.

Mungkin terdengar lebay. Tapi coba saja cari di internet: “Buku bau apa sih?” Maka muncullah teori-teori ilmiah tentang lignin, selulosa, oksidasi tinta. Tapi bagi para pecinta buku, tak butuh laboratorium. Hidung dan hati cukup. Karena aroma buku bukan sekadar senyawa kimia, tapi kombinasi rahasia antara memori dan imajinasi.

Buku baru punya aroma ambisi. Bau tinta segar dan harapan. Ada optimisme merekah saat membuka halaman pertama. Rasanya seperti beli sepatu baru, belum dipakai tapi sudah berandai-andai akan ke mana saja dengannya.

Sementara buku lama punya aroma nostalgia. Kadang baunya mirip gudang, kadang mirip pelukan nenek. Ada debu membuatmu bersin, tapi justru bikin senyum. Buku tua itu seperti kakek bercerita di sore hari, dengan suara berat dan mata berkaca. Lembarnya sudah menguning, tapi justru di situlah hangatnya.

Lucunya, aroma buku ini bisa bikin orang terlihat sangat filosofis. Orang suka bilang baca buku, padahal suka cium-cium baunya. Bacanya malah lupa, karena terlalu sibuk mengendus. Ada pula sampai motret video slow motion buka halaman sambil bilang, “Hmm, baunya itu loh, tenang banget.” Tapi setelah ditanya ceritanya tentang apa, jawabannya: “Belum baca sih, baru nyium.”

Ironis, memang. Buku mestinya dibaca malah jadi objek penciuman. Tapi begitulah. Kita hidup di zaman di mana buku dipeluk lebih erat daripada dibaca. Bahkan sekarang ada  ruangan disemprot dengan smell of paperback nostalgia. Sebentar lagi mungkin ada essential oil dengan label: Bau bab keempat: pencerahan.

Aroma buku telah menjelma identitas. Ia adalah bau kaum intelektual, atau ingin tampak intelektual. Tapi jangan salah. Di balik itu semua, ada kisah haru. Banyak orang mencium buku karena merasa dekat. Merasa disapa. Karena hidup terlalu riuh, dan hanya dalam aroma buku itu mereka merasa tenang.

Saya punya teman, sebut saja namanya ARO. Dulu dia tinggal di rumah kontrakan sempit, sempit sekali, bahkan rak bukunya harus gantian dengan jemuran. Tapi tiap pulang kerja, dia selalu buka satu buku, lalu menciuminya seperti surat cinta. Hanya selalu begitu. Tak sempat membaca, tapi baunya cukup untuk memeluknya setelah sepanjang hari gila. “Aromanya kayak dulu waktu aku masih bisa mimpi,” katanya suatu malam.

Dan saya paham. Betapa mencium buku bisa jadi semacam ritual pereda luka. Seperti mengingat bahwa dunia tak seluruhnya bengis. Halaman-halaman masih diam dan sabar menunggu dibaca.

Tapi tentu saja, kita juga harus waspada. Jangan sampai penciuman ini mengganti akal sehat. Jangan sampai kita mengira mencium buku setara dengan memahami isi. Seperti orang mencium bungkus kopi lalu mengira dirinya sudah jadi barista. Buku bukan aromaterapi semata. Ia mengandung ide, kritik, gagasan. Bukan hanya bau, tapi juga arah.

Ada pula sisi jenaka dari pencinta aroma buku. Pernah suatu kali, ada teman ketahuan mencium buku di toko, lalu dia kembalikan lagi karena tak sanggup beli. Satpam mendekat, bukan karena mencuri, tapi karena ekspresinya terlalu khusyuk hingga tak terasa air matanya meleleh.

“Kamu ngapain, Mas?”

“Cuma cium, Mas.”

“Lain kali bawa tisu, ya.”

Tapi ya begitulah. Aroma buku telah jadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman membaca. Ia seperti senyuman pertama dari seseorang baru kita temui. Belum kenal, tapi sudah membuat jatuh hati.

Dan jika kelak dunia benar-benar digital, ketika buku tinggal dalam bentuk PDF dan e-book, mungkin yang paling kita rindukan bukan halaman atau cover, tapi aromanya. Karena tak ada tombol di layar ponsel untuk merasakan aroma nostalgia dari gesekan jari.

Maka mari kita rawat aroma buku seperti kita merawat ingatan. Bukan untuk disembah, tapi untuk dikenang. Bukan untuk gaya, tapi untuk diselami.

Kalau nanti kau lihat orang mencium buku di sudut toko atau perpustakaan, jangan tergesa menertawainya. Mungkin dia sedang mengenang cinta pertama. Atau sedang menghidupkan harapan lama yang nyaris pindah ke alam baka.

Dan, siapa tahu, buku yang kau cium hari ini, akan jadi wangi kenangan bagi pacar-pacarmu kelak. Eh, salah. Bagi anak cucumu kelak. [] Redaksi

Dunia Buku

Satu, dong!

Hari ketika penulis merilis buku barunya adalah hari sakral. Seperti petani panen padi. Seperti seniman buka pameran. Seperti mantan tiba-tiba minta maaf, sangat berarti, bermakna, dan agak getir. Tapi di tengah segala haru dan doa, datanglah satu fenomena klasik yang entah kenapa tak pernah punah, teman minta buku gratisan.

“Ih, selamat ya! Bagi bukunya dong satu!”

Kalimat itu manis. Sekilas seperti ucapan tulus. Tapi di telinga penulis, nadanya berubah seperti: “Selamat ya, traktir aku pakai hasil keringatmu, boleh?”

Dan anehnya, mereka bilang sambil tertawa. Seakan guyonan. Seolah ini lelucon lama yang masih layak tayang, seperti sinetron azab.

Coba perhatikan, teman yang tak pernah baca tulisan kita, tak pernah beli buku kita yang pertama, tak pernah share atau komen satu pun karya kita, adalah orang pertama yang minta gratisan saat kita rilis buku baru. Dan biasanya mereka bilang: “Kita kan temen.”

Kalimat itu, entah kenapa, langsung membuat udara sekitar jadi dingin. Kita mendadak ingat masa-masa begadang, revisi, deadline, naskah yang ditolak, honor ditunda. Kita ingat bahwa di negeri ini, penulis bukan profesi glamor. Bukan seperti selebgram endorse serum pencerah. Setiap buku terjual mungkin hanya menghasilkan royalti dua ribu sampai lima ribu rupiah. Satu kopi hitam kecil. Kalau teman minta satu buku gratis, itu sama dengan kehilangan royalti dari sepuluh buku. Artinya, temanmu barusan meminum sepuluh cangkir kopi kecil dari darah dan tinta keringatmu.

Lucunya, orang yang enggan beli buku, bahkan diskonan pun ogah, justru tak pernah keberatan beli kuota untuk nonton TikTok 3 jam sehari. Mereka bisa transfer 150 ribu buat beli skincare viral, tapi tak sanggup beli buku 60 ribu yang ditulis temannya sendiri.

Itu seperti datang ke warung tetangga dan bilang, “Wah, laris ya! Bagi mie instannya satu bungkus dong, gratis aja. Kita kan tetangga.”

Konyol? Ya. Tapi di dunia buku, kejadian ini nyata.

Ada teman yang akan bilang, “Ah masa temen nggak dikasih buku?” Tapi justru, teman sejati biasanya tak akan minta. Mereka tahu bahwa mendukung artinya membeli. Mendukung artinya menyebarkan. Mendukung artinya tidak menjadikan keringat orang lain sebagai hadiah gratisan.

Dan jika kau memang benar teman, kau tak akan membebani si penulis dengan kode-kode seperti, “Duh, pengen sih bukunya tapi dompet lagi kurus nih,” sambil melirik nanar. Karena penulis itu bukan dewa. Dia juga bayar listrik. Dia juga harus makan. Bahkan, kadang si penulis tak sanggup beli bukunya sendiri. Ironis, bukan? Penulis yang menciptakan buku, justru tak bisa mengakses hasilnya karena harga cetak dan royalti yang timpang.

Kalau memang harus gratisan, mungkin penulis perlu buat formulir permintaan buku gratis. Dengan pertanyaan seperti ini:

“Sudahkah Anda beli buku saya sebelumnya?”

“Pernahkah Anda membagikan info buku saya di media sosial?”

“Apakah Anda bersedia membayar buku ini dengan nasi goreng telur dan teh manis hangat minimal tiga kali?”

Atau mungkin penulis perlu mencetak buku edisi khusus, halaman kosong semua, cuma ada tulisan besar di depan: Ini buku gratisan, karena kamu minta, bukan karena kamu peduli.

Tapi di tengah geli dan perih itu, selalu ada kejutan manis, teman yang beli lebih dari satu eksemplar. Teman yang berkata, “Aku beli dua. Satu buatku, satu buat aku kasih ke orang.”

Dan percayalah, air mata penulis bisa menetes gara-gara hal itu. Bukan lebay. Tapi karena akhirnya ada juga yang mengerti, membeli buku teman adalah bentuk penghormatan. Bukan soal uangnya, tapi soal pengakuan atas kerja keras.

Jadi, jika temanmu merilis buku, jangan minta gratisan. Beli. Promosikan. Beri ulasan. Tunjukkan bahwa persahabatan itu bukan berarti minta jatah gratis, tapi memberi ruang untuk berkembang. Tak ada yang salah dengan ingin baca, tapi salah besar jika ingin gratis hanya karena merasa dekat.

Karena kedekatan yang membuatmu menuntut tanpa memberi, bukan kedekatan, itu keegoisan berjubah keakraban. Dan buku, sebagaimana cinta, pantas dihargai, bukan diminta tanpa usaha.

Akhir kata, mari kita akhiri tradisi “teman minta buku gratis” dan mulai budaya “teman beli buku teman.” Karena penulis bukan pabrik hadiah. Ia cuma manusia yang sedang berjuang, satu kata demi satu kata. [] Redaksi

Dunia Buku

Tidak Pulang

Pernahkah kau melihat ada bagian rak bukumu yang tiba-tiba kosong dan kau tahu betul siapa pelakunya? Bukan perampok. Bukan penjarah. Tapi temanmu sendiri. Iya, dia yang dengan wajah penuh harap dan bibir manis berkata, “Pinjem bukunya, ya. Cuma bentar kok. Minggu depan kubalikin.” Lalu minggu depan datang. Lalu bulan depan. Lalu tahun depan. Lalu lenyaplah buku itu bersama ikrar dan kenangan.

Meminjam buku dan tak mengembalikan adalah satu dari sekian banyak dosa sosial yang jarang masuk khotbah Jumat, tapi dampaknya menggerus iman literasi secara perlahan. Dan yang lebih menyakitkan, pelakunya sering kali adalah orang baik. Saking baiknya, dia bisa tertawa saat kita menagih bukunya kembali, seakan buku itu cuma pinset alis yang tertinggal di rumah mantan.

Ada keanehan kolektif yang layak dikaji para ahli, mengapa sebagian orang merasa bahwa meminjam buku berarti memiliki buku itu? Apakah karena buku tak bersuara saat digondol? Apakah karena ia tak menggonggong seperti anjing penjaga rumah?

Lucunya, mereka yang paling rajin meminjam buku justru yang paling sering memposting kutipan Paulo Coelho dan mengunggah foto cangkir kopi di samping buku yang mereka tak pernah beli. Mereka berkata, buku itu jendela dunia, tapi tak pernah beli daun jendelanya. Mereka mengaku hobi baca, tapi kalau disuruh kembalikan buku, mendadak amnesia.

Dan mari kita bicarakan hal yang lebih getir, kadang yang hilang bukan buku sembarangan. Bukan majalah gosip. Tapi buku yang kau simpan sejak SMA. Buku dengan catatan kecil di pinggir halaman. Buku dengan bekas tanganmu sendiri. Buku yang penuh sejarah, seperti mantan yang pernah kau perjuangkan, tapi kemudian disunting orang lain tanpa pamit. Sekarang buku itu entah di mana. Mungkin jadi tatakan panci. Mungkin ikut pindah rumah. Mungkin sedang dijual online oleh pelakunya dengan judul, Jarang dibaca, kondisi mulus.

Mungkin sudah waktunya ada lembaga sekelas KPK untuk urusan perbukuan. Komisi Pemberantasan Kehilangan Buku. Dengan pasukan berseragam yang menyita buku-buku yang tak pernah kembali ke pemiliknya. Setiap buku yang hilang diberi chip pelacak. Dan ketika buku itu dibuka oleh orang yang bukan pemilik, akan terdengar suara: “Kembalikan aku, Manis.”

Atau lebih ekstrem lagi, kita jadikan kasus ini masuk pidana ringan. Hukuman sosialnya? Wajib menulis satu cerpen tentang perasaan buku yang ditelantarkan.

Buku itu bukan sekadar kertas dan lem. Ia menyimpan waktu. Kadang saat kau membukanya lagi, kau teringat suasana hujan saat pertama membacanya. Atau bau warung kopi tempat kau menekuri satu bab yang menyentuh. Dan ketika buku itu tak kembali, bukan hanya fisik yang lenyap, tapi juga fragmen kecil dari hidupmu ikut raib.

Ini bukan soal pelit. Bukan tak rela berbagi. Tapi soal etika. Soal tanggung jawab. Buku itu bukan kado gratis dari semesta. Ia dibeli, dipilih, dan dirawat. Jadi ketika kau meminjam dan tak mengembalikan, kau sedang merampas lebih dari sekadar benda. Kau mengambil kenangan, kepercayaan, bahkan sebagian kecil rasa sayang.

Ada jenis peminjam yang lebih dramatis. Dia pinjam satu buku, lalu minta pinjam lagi yang lain. Saat kita tanyakan buku pertama, dia jawab, “Tenang aja, aman kok.” Kata aman itu seperti alarm merah, bisa berarti bukunya dipinjamkan ke orang lain tanpa sepengetahuan kita. Atau lebih parah, sudah tertimbun di balik lemari bersama sandal jepit hilang sebelah dan charger yang telah rusak.

Tapi anehnya, kita tetap meminjamkan buku. Entah karena berharap buku itu akan kembali. Entah karena kita terlalu baik. Atau entah karena kita tahu, setiap kehilangan punya cerita.

Bagi yang sering merasa sungkan menagih, percayalah, itu bukan kejahatan. Itu hakmu. Itu bukan dosa. Kau sedang menagih sesuatu yang memang kau punya. Bukan sedang mengejar utang cinta. Dan bagi yang merasa bangga bisa mengamankan buku orang lain selama bertahun-tahun, cobalah renung sejenak, jika bukumu sendiri yang diperlakukan begitu, masihkah kau bisa tersenyum?

Mungkin, kelak, kita akan bisa berdamai. Dengan kehilangan, dengan rak yang sunyi, dan dengan kenangan tentang buku-buku yang tidak pulang. Tapi untuk saat ini, mari kita sampaikan satu pesan kecil bagi para peminjam buku yang lupa ingatan: Kami tak minta kau kembalikan seluruh cinta. Tapi setidaknya, kembalikan buku itu. [] Redaksi

Dunia Buku

Untuk Ayang

Ada satu bagian dari buku yang sering dilewati pembaca, bukan karena tidak penting, tapi karena sering dianggap basa-basi. Ya, halaman persembahan. Biasanya letaknya di awal, sebelum kata pengantar, sebelum daftar isi. Hanya beberapa baris kalimat kecil, sering kali ditulis miring, dan mungkin, jarang dibaca. Tapi justru di sanalah sering tersembunyi hal paling jujur dari sebuah buku.

Persembahan itu semacam bisikan kecil dari penulis, sebelum ia bicara panjang lebar dalam isinya. Layaknya seorang pementas yang membisikkan doa di belakang panggung, sebelum lampu sorot menyala. Sebuah gestur kecil yang tidak minta tepuk tangan, tapi justru mengandung banyak rasa.

Untuk ibu yang tak lelah cerewet.

Untuk Ibu, yang mengajariku menyiram luka dengan benar.

Untuk dia yang pergi sebelum tahu aku menulis ini.

Untuk ayah yang diam.

Untuk Tuhan yang serba kuasa.

Kalimat-kalimat itu kadang lebih puitis dari isinya. Lebih nyeri dari klimaks cerita. Dan lebih lucu, atau menyedihkan. Ia tidak diulas siapa pun. Tidak dibahas di resensi. Tidak dikutip dalam makalah. Tidak dijadikan caption Instagram oleh pembaca. Ia diabaikan seperti sapaan tukang parkir.

Ada ironi besar di sini. Penulis menyisipkan halaman persembahan sebagai bentuk keintiman. Tapi pembaca sering membacanya dengan tergesa, atau tidak sama sekali. Mungkin karena tidak ada plot. Tidak ada konflik. Tidak ada drama. Hanya satu kalimat yang terasa bukan urusan kita. Padahal, justru di situ kadang terletak rahasia mengapa buku itu lahir.

Lebih jauh, halaman persembahan sering jadi semacam ruang pengakuan dosa. Ada rasa bersalah yang diselipkan, semacam tebusan emosi: Aku telah menulis tentang segala hal di dunia, tapi untukmu, hanya kalimat ini yang bisa kuberi.

Dan lucunya, persembahan bukan hanya ditujukan pada manusia. Ada yang mempersembahkan pada kopi hitam. Pada hujan. Pada kegagalan. Bahkan pada diri sendiri, yang hampir menyerah.

Di titik ini, persembahan menjadi bentuk egosentris yang menggemaskan. Penulis ingin tampak dalam, padahal cuma bingung mau kasih nama siapa. Jadi ya sudah, ditulis saja: Untuk luka-luka yang mengajariku bertahan.

Sah-sah saja. Tapi tetap ada aroma pencitraan ringan di situ. Aroma manis, seperti parfum murahan yang terlalu banyak disemprot.

Dan jangan lupakan tren paling kekinian: persembahan palsu. Ada buku yang ditulis bareng mantan, tapi ditulis: Untuk cinta yang tak pernah pergi.

Ada yang mempersembahkan buku pada seseorang yang selalu mendukung, padahal saat nulis, yang mendukung justru hanya Google dan kucing peliharaan.

Namun tetap, halaman persembahan punya daya tarik magis. Ia menyimpan kisah di balik kisah. Ia menunjukkan sisi lembut penulis, bahkan pada penulis paling galak sekalipun. Seorang pengkritik sosial yang tajam bisa menulis: Untuk Ibu, yang selalu bilang jangan terlalu cerewet. Di situ, pembaca bisa melihat: oalah, ternyata si tukang marah ini juga anak mami.

Dan kadang, yang paling menggetarkan justru persembahan yang ditulis singkat sekali. Cuma satu kata: Maaf. Atau: Terima kasih.

Dua kata itu bisa mengandung ledakan yang lebih besar dari 300 halaman isi buku. Karena ia menandakan perasaan yang tak sempat dikatakan langsung di dunia nyata. Buku menjadi perantara. Semacam surat tak terkirim yang dicetak massal.

Ada juga persembahan yang menggelitik karena terlalu jujur:

Untuk editorku yang sabarnya lebih panjang dari utang negara.

Untuk pembaca yang sabar membaca isi buku ini meski persembahannya tidak buat dia.

Di sini, halaman persembahan melawan ekspektasi. Ia jadi ruang main-main. Sekaligus ruang curhat. Ruang nostalgia. Ruang diam. Dan ruang dendam.

Maka, jangan remehkan halaman kecil itu. Ia mungkin cuma satu halaman. Tapi di situ sering tertulis alasan kenapa seorang penulis rela duduk berjam-jam menghadapi layar kosong. Di situ ada cinta yang ditahan, ada luka yang belum sembuh, ada mimpi yang akhirnya ditulis.

Dan buat pembaca, lain kali, sebelum tergesa membalik ke Bab I, coba tengok dulu halaman persembahannya. Siapa tahu, di situ ada sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum. Atau haru. Atau sekadar merasa: Oh, aku juga pernah merasakannya.

Karena kadang, satu kalimat di halaman persembahan bisa lebih nyangkut dari sepuluh bab yang ditulis setelahnya.

Dan untuk siapa tulisan ini dibuat?

Ah, itu tidak penting. Tapi kalau kamu sampai di sini dan merasa tersindir, mungkin saja, tulisan ini memang untukmu. Ahai. [] Redaksi

Dunia Buku

Rahasia Kecil

Mari kita mulai dengan beberapa fakta yang tak terbantahkan, banyak kisah besar di dunia ini yang lahir dari buku harian. The Diary of Anne Frank, misalnya. Sebuah catatan pribadi yang akhirnya membuka mata dunia tentang kekejaman perang. Atau buku harian Galileo yang mencatat pergerakan bintang yang bikin bumi jadi bulat secara ilmiah. Ada juga buku harian Soe Hok Gie, yang bikin kita tahu bahwa menjadi idealis itu melelahkan, tapi tetap keren sebagai aktivis.

Tapi, mari kita tinggalkan sejenak cerita-cerita besar itu. Karena sejujurnya, tidak semua dari kita hidup dalam perang, menemukan planet, atau punya gebetan aktivis. Kita hidup biasa-biasa saja. Kita bangun kesiangan, nulis caption Instagram berkali-kali, nunggu gajian sambil ngitung sisa mie instan. Dan di titik inilah, buku harian bisa jadi penyelamat yang tidak kita sadari.

Ya, buku harian. Benda sederhana yang kini lebih sering dikalahkan oleh utas. Padahal, justru karena ia tidak online, ia menyelamatkan kita dari banyak hal memalukan.

Buku harian tidak akan menanyakan, “Kok kamu balikan sama dia lagi sih?” atau “Kenapa kamu masih mikirin kerjaan yang udah kamu resign tiga bulan lalu?” Ia hanya menerima. Dan itu saja sudah luar biasa.

Ia tidak menilai, tidak menyela, dan yang paling penting tidak membocorkan. Kecuali kalau kamu ceroboh dan meninggalkannya di meja ruang depan ketika tamu datang. Tapi secara umum, ia lebih aman daripada akun fake yang kamu buat untuk stalking mantan.

Buku harian adalah bentuk terapi paling murah di dunia. Kamu tidak perlu bayar sejuta per sesi. Cukup beli pulpen dan buku kosong. Lalu tulis: Hari ini menyebalkan. Dan entah kenapa, setelah itu, hidup terasa sedikit lebih tertata.

Orang-orang suka bilang: “Kalau ada masalah, cerita ke teman.” Tapi kita semua tahu, tidak semua teman bisa mendengar tanpa menyela dengan cerita masalah mereka sendiri. Buku harian, sekali lagi, tidak punya agenda.

Ia tidak bilang, “Aku ngerti perasaanmu,” lalu langsung curhat tentang dirinya. Ia hanya diam. Kadang diam adalah bentuk simpati paling jujur. Dan buku harian adalah pendengar terbaik yang diamnya tidak menegangkan.

Terkadang kita bahkan tidak sadar, kita menulis bukan untuk dikenang, tapi untuk mengeluarkan. Supaya hati yang penuh tidak meledak. Buku harian jadi tempat parkir emosi yang terlalu sumpek untuk disimpan di kepala.

Zaman sekarang, semua orang menulis. Status, utas, caption, blog. Tapi anehnya, kita jadi kehilangan ruang pribadi. Menulis yang awalnya terapi, berubah jadi pencitraan. Setiap kalimat dipoles agar terlihat bijak, lucu, atau relatable. Bahkan kalimat curhat pun diatur supaya tetap estetik: Kadang, kehilangan mengajarkan kita tentang arti menggenggam. Padahal kenyataannya, kamu cuma kehilangan charger ponsel di rumah temen.

Buku harian tidak butuh filter. Tidak perlu estetika. Tulisannya bisa jelek, acak, bahkan penuh coretan. Justru di situlah kejujurannya lahir. Karena buku harian tidak peduli apakah tulisanmu layak dibaca orang lain, karena memang tidak untuk dibaca siapa-siapa.

Itulah ironi zaman ini, kita punya banyak tempat menulis, tapi jarang punya tempat mencurahkan isi hati yang tidak dikurasi.

Mari lupakan sejenak impian agar buku harian kita jadi karya besar setelah kita mati. Tidak semua orang harus punya catatan yang layak diterbitkan. Dan buku harian tidak harus berisi kisah cinta tragis atau misi menyelamatkan dunia. Cukup dengan kalimat seperti:

Hari ini aku beli bakso tapi ketinggalan dompet.

Tadi ketemu mantan. Untung udah cakepan aku.

Nulis lagi karena bosan, bukan karena sedih.

Tulisan-tulisan kecil seperti itu mungkin tidak akan mengubah dunia. Tapi ia bisa mengubah sedikit mood kita hari itu. Dan itu cukup.

Mungkin kita tak sadar bahwa menulis di buku harian adalah bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang serba cepat dan bising. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, mengenali diri sendiri, dan, kadang menertawakan diri yang terlalu serius menghadapi hidup yang tidak pernah serius pada kita.

Jadi, kalau kamu masih punya buku harian, tulislah. Kalau belum punya, belilah. Tidak perlu yang lucu atau mahal. Kertas buram pun cukup. Jangan pikirkan siapa yang akan membacanya nanti. Karena mungkin, satu-satunya yang perlu membaca tulisan itu adalah dirimu sendiri, di masa depan, ketika kamu lupa pernah bertahan sejauh ini.

Dan kalau suatu hari kamu membuka halaman lama, lalu menemukan tulisan: Hari ini nangis karena nonton iklan mie instan, jangan malu. Tertawalah. Karena di situlah kamu tahu, kamu pernah hidup menyesakkan, bahkan untuk hal sepele.

Jangan anggap remeh buku harian. Ia mungkin benda kecil yang sepi, tapi ia menyimpan suara yang paling jujur, suara kamu, yang akhirnya berani mendengar diri sendiri.

Dan ingat, tidak semua kisah besar itu dimulai dari panggung. Kadang, ia dimulai dari selembar kertas, tinta bekas, dan rahasia kecil yang enggan meledak di tempat umum. [] Redaksi

Dunia Buku

Zine

Kalau kamu pernah menemukan selembar atau beberapa lembar kertas fotokopian dengan layout terlihat asal, huruf ketik miring-miring, ilustrasi aneh, dan isinya penuh ocehan nyeleneh, selamat, kamu sedang memegang sesuatu yang lebih jujur dari sebagian besar media arus utama: zine.

Zine, atau majalah mini yang sering dijajakan di pojok acara musik, lapak buku indie, atau bahkan dibagikan gratis lewat amplop bekas, sering dianggap cuma pelampiasan kaum sambat, alias mereka yang hidupnya penuh keluh. Tapi, ah, betapa meremehkannya. Zine bukan cuma kumpulan tangis emosional remaja yang baru diputusin pacar sambil dengar The Smiths. Ia adalah bentuk perlawanan paling murah, paling sederhana, dan anehnya paling mencerahkan.

Bayangkan, di zaman ketika semua orang berlomba menulis konten agar masuk page di Google, penulis zine malah sibuk menyusun kalimat yang bahkan tidak peduli dengan EYD. Lha, wong mereka lebih tertarik menyempurnakan logika sosial daripada tanda baca. Mereka tak sedang cari adsense, mereka sedang cari akal sehat.

Zine tidak butuh like, tidak peduli views. Zine lahir dari rasa gelisah yang malas dirapikan. Ia tidak menawarkan solusi lima langkah menuju hidup produktif, tapi menawarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab oleh talkshow televisi: kenapa upah buruh masih di bawah harga skincare? Kenapa ruang seni penuh pujian kosong? Kenapa mahasiswa demo dianggap pengganggu?

Penulis zine, dengan segala keterbatasannya, menuliskan kritik yang tak mungkin lolos redaksi koran nasional. Karena jelas, mana mungkin kamu bisa menulis esai tentang Mengapa Dosen Lebih Takut Reputasi daripada Kebenaran di media yang sponsornya adalah institusi pendidikan itu sendiri? Zine-lah tempatnya.

Dan ironi yang menyenangkan, meski sering dicap tidak profesional, isi zine justru sering lebih tajam daripada editorial surat kabar yang sudah diedit tujuh kali. Lho, profesional itu yang mana? Yang tulisannya aman, atau yang tulisannya bikin mikir?

Kita sering dikibuli oleh ukuran. Buku tebal dianggap serius. Koran besar dianggap penting. Tapi zine? Ah, kertas fotokopian dua warna. Kelihatan kayak tugas akhir anak DKV semester dua. Padahal, justru dari kertas-kertas kecil ini, kita bisa membaca hal-hal besar yang ditutupi oleh hal-hal resmi.

Ada zine yang membahas kegelisahan pekerja kantoran yang tiap hari harus senyum di depan klien tapi menangis di kamar mandi. Ada yang menyoroti absurditas peraturan kampus yang melarang mahasiswa nongkrong di kampus tapi membiarkan pungli berjamaah. Ada yang isinya puisi bukan soal cinta, tapi tentang kesedihan kelas menengah yang pura-pura bahagia.

Dan yang paling ajaib, semuanya ditulis tanpa pura-pura. Penulis zine tidak pakai jargon akademik. Tidak pakai kutipan Pramoedya yang dipelintir seenaknya. Mereka menulis dari perut, bukan dari catatan kaki. Dari emosi yang dimasak pelan-pelan, bukan dari algoritma medsos.

Humor di zine bukan jenis humor yang bisa kamu tonton di prime time. Ini humor yang muncul dari keputusasaan yang terlalu dalam untuk ditangisi, jadi ya ditertawakan saja. Misalnya, sebuah zine pernah menulis: Negara bilang kita harus optimis, padahal kita baru bisa beli Indomie setelah utang ke warung.

Atau kutipan yang satu ini: Kita semua punya hak sama. Sayangnya, hak di sini seperti sandal hotel: yang hanya bisa dipakai oleh yang nginep di sana. Jikapun di luar ada yang memakai itu sandal bekas.

Itu bukan cengengesan semata. Itu sarkasme yang cerdas. Karena zine tahu, kalau marah-marah tanpa selipan lelucon, kamu cuma akan dicap baper. Tapi kalau marah sambil bikin orang ketawa, nah, di situ letak kekuatan zine. Ia membuat orang berpikir sambil nyengir. Dan itu lebih efektif daripada orasi satu jam yang biasanya bikin ngantuk.

Yang paling mengagumkan dari zine adalah ia tidak tunduk pada siapa pun. Tidak perlu izin cetak. Tidak perlu restu penerbit. Bahkan tidak butuh ISBN yang sering dianggap sebagai tanda keseriusan sebuah publikasi. Padahal, banyak buku ber-ISBN yang isinya seperti status yang gagal.

Zine percaya satu hal, kebenaran tidak perlu didistribusikan oleh jaringan toko buku. Cukup lewat amplop bekas, selipan di paket kopi, atau ditinggalkan diam-diam di halte. Ia menyebar seperti virus idealisme, menulari siapa pun yang cukup penasaran untuk membaca.

Zine adalah pembangkangan yang tidak mengangkat senjata, tapi pena bekas. Ia bukan bacaan yang menjanjikan harapan palsu. Tapi ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga, kesadaran.

Di dunia yang isinya penuh motivasi murahan: Cara cepat jadi sukses, zine hadir seperti sepiring sambal terasi di restoran, menyengat, tak sopan, tapi jujur dan bikin nagih.

Jadi, lain kali kalau kamu melihat lembaran kertas aneh tanpa sampul mengilap dan tata letak kacau, jangan buru-buru buang. Boleh jadi itu bukan sampah, tapi nurani yang menyamar. Dan jika ada yang merasa tersindir oleh isi zine, mungkin dia bagian dari masalah. [] Redaksi

Dunia Buku

Kasih yang Tak Pernah Tak Sampai

Perjalanan, dalam hal apa pun, pasti ada tujuannya. Seperti saat perut mendadak lapar, buka dompet tapi hanya tersisa selembar uang kertas sepuluh ribuan, otomatis otak secepat kilat menuntun langkah menuju opsi paling tepat: warung nasi padang dengan tulisan besar Serba 10ribu, warung tegal dengan banyak menu rumahan, atau paling irit beli dua bungkus mi instan dan sebutir telur di warung kelontong depan, pun jika mau menahan malu bisa pura-pura mampir ke rumah teman dan berharap akan ditawari makan. Tentu opsi terakhir semacam taruhan. Jika beruntung, maka perut akan kenyang tanpa modal.

Perihal buku, bisa jadi bernasib sama. Ada orang yang menganggap buku sebagai kebutuhan seperti halnya makan. Biasanya, bagi mereka, wujud dan aroma buku sudah tak lagi penting. Cover terlipat dan usang. Kertas menguning dengan banyak bercak dan kotoran. Selama jenis buku masuk kategori peminatan, maka pertimbangan terakhir hanya perihal harga. Bagi pencinta buku dengan kantong pas-pasan, datang ke toko dan bazar buku baru dengan poster besar Diskon Up to 90%, seperti masuk ke dalam surga yang dirindukan. Tapi jika tak mampu, maka berkunjung ke lapak buku bekas pun bisa dianggap telah berhasil masuk di halaman depan surganya.

Ada lagi cerita, orangtua yang katanya ingin menjadikan anak-anak sebagai generasi cerdas dan beretika. Banyak iklan berseliweran agar memiliki buku-buku parenting tebal dengan puluhan series versi lengkap, dengan harapan kelak di masa depan akan dilabeli sebagai orangtua idaman anak dan menantu. Ditambah serangkaian buku paket berisi dongeng dan kisah-kisah inspiratif yang katanya bisa mengawal tumbuh kembang anak di usia emas mereka. Buku berkualitas cetak tinggi hingga memunculkan nominal jutaan. Seakan angka mustahil bagi mereka yang berkantong tipis.

Tapi tunggu dulu. Drama sesungguhnya baru saja dimulai. Masuklah opsi: bisa dicicil setiap hari, setiap minggu, bahkan setiap bulan, atau sistem arisan buku berkelompok dengan setoran miring. Hal itu bisa menjadi alternatif bahwa tak selamanya buku mahal sulit untuk digapai. Berlandaskan prinsip: apa pun jika demi anak, maka akan diperjuangkan. Tak peduli seberapa mahal harga bukunya.

Tapi kisah belum usai sampai di situ. Orangtua mulai cemas. Bagaimana jika bukunya rusak? Apalagi sampai hilang. Maka muncullah rak dan lemari khusus untuk menyimpan buku-buku tebal dan mahal itu. Jika bisa lemari kaca, agar tetap terlihat kalau ada tamu berkunjung.

Maka buku yang katanya demi anak itu, yang covernya penuh warna dan gambar, akhirnya benar-benar tak pernah tersentuh tangan anak-anak. Orangtualah yang memegang, membacakan, bahkan menimang dengan sangat hati-hati. Mereka pikir tugas menjadi orangtua selesai dengan mewariskan sekumpulan buku keren. Berharap dengan punya buku-buku hebat, maka tumbuh kembang anak juga pasti hebat. Bagaimana anak bisa dekat dengan buku, apalagi menyerap ilmunya, jika menyentuh pun tidak boleh. Kalau pun boleh memegang, membuka-buka, lalu membaca, itu saja diawasi dalam radius tertentu. Jangan sampai buku yang rencana akan menjadi warisan turun-temurun, putus di satu generasi hanya karena lalai dalam pengawasan.

Padahal, buku murah belum tentu murahan. Buku bekas bukan berarti tak layak. Memberi yang terbaik juga tidak harus mahal. Kalau kantong tak sampai untuk membeli buku mahal, bukan berarti tak bisa kesampaian membeli buku murah dengan isi yang kurang lebih sama. Begitulah cara buku mengasihi. Karena bagi buku-buku itu sendiri, kasih tak sampai itu sebenarnya tidak ada. Mereka tak pernah berubah, isinya tetap sama meski zaman berubah-ubah. Tugasnya hanya menunggu untuk dibuka dan dibaca. Jadi, apa pilihanmu saat ingin beli buku di saat kantong sedang kembang kempis? [] Redaksi