
Hayo, siapa yang sampai sekarang masih setia baca buku cinta? Sering nangis sampai sulit bedakan air mata dan ingus. Atau keseringan senyum-senyum sendiri padahal tanggal sudah tua dan perut hanya diisi sekali sehari, seolah lambung bisa otomatis mengecil begitu menelan kata-kata mutiara. Atau barangkali ada juga yang malah uring-uringan hanya karena ceritanya tak sejalan dengan pikiran. Jangan malu. Tapi tak perlu juga sampai posting foto selfie di sosmed dengan mata sembab dan buku terbuka lalu menulis caption: Pria sejati tak pernah malu ketahuan menangis. Wah, itu sih namanya cari perhatian.
Kisah cinta bukan melulu picisan. Seakan baca novel cinta di usia berkepala 4 menjadi hal yang luar biasa. Luar biasa aneh karena dianggap sudah lewat masanya. Semakin berumur, kualitas buku yang dibaca seharusnya lebih berbobot. Politik, ekonomi, kebudayaan, sejarah, ilmu pengetahuan, seni, dan apa pun topiknya asal bukan cinta. Karena perihal cinta hanya cocok dibaca oleh mereka yang sedang dimabuk asmara.
Contoh, ada seorang remaja berseragam putih abu-abu yang baca novel cinta sembari menunggu bus di halte, dianggap sangat wajar. Atau sekelompok mahasiswi sedang berisik membahas novel baru yang sangat romantis di kafe. Lalu apakah dosa jika seorang lelaki dewasa, bertubuh kekar, duduk di ruang tunggu bandara sembari baca kumcer cinta? Juga seorang lansia yang baca cerita cinta remaja adalah sebuah kesalahan? Dituduh inilah, itulah, apalah. Pokoknya segala hal yang mengarah mencurigai.
Memang sih, tidak sedikit orang bilang jika buku tentang perasaan dianggap kekanakan. Bahkan di dunia sastra, cinta bisa dibilang hal paling ujung dari tema yang dianggap keren. Itu sah-sah saja. Namanya juga persepsi: perkara sudut pandang dan opini, bukan tentang benar salah, tepat melenceng, atau bagus dan buruk. Jadi tidak apa-apa jika kamu sudah berumur dan tetap membaca komik cinta. Santai saja. Kalem dan jangan overthinking. Percayalah, mahakarya sastra, serumit apa pun temanya, pasti ada unsur cintanya. Tinggal bagaimana cara menceritakan saja. Itulah yang sebenarnya membuat kualitas cerita tampak berbeda.
Cinta itu seperti micin: penghasil rasa umami pada masakan. Apa itu umami? Gurih. Asal takarannya pas, tentu nggak akan mudah bikin otak nge-lag seperti laptop yang kebanyakan memori: mau di-restart berkali-kali tetap saja lemot. Jika buku tidak ditulis dengan cinta, bagaimana pembaca bisa larut dalam cerita? Jadi jangan terlalu serius memilih buku. Ingat! Kadang judul belum tentu mencerminkan isi. Jadi tetaplah membaca tanpa takut mengambil tema yang disuka. Karena membaca, adalah tentang kepuasan diri. Mereka yang memandang sinis pada buku di genggamanmu, tidak berarti seorang psikopat. Jadi cuek saja. Sesekali bersikaplah tidak peduli pada sekitar. Di sana, kamu akan menemukan asyiknya bercengkerama dengan dirimu sendiri.
Jika kamu pernah mendengar lagu Roman Picisan, bahkan sampai menggilainya, biarkan cukup lagu itu saja yang rela bilang jika cinta itu tidak harus memiliki. Karena kalau kamu benar-benar berusaha, cinta akan selalu bisa dimiliki: meski tak terlihat, tak terasa, juga tak tersentuh. Sama halnya seperti buku cinta yang mungkin saat ini kamu baca: bukan tulisanmu, bukan kisahmu, tapi mampu menenggelamkanmu pada rasa paling dalam di hatimu. Dan itu bukan picisan. Ah, romantisnya. [] Redaksi









