
Di zaman serba instan seperti saat ini, bukan hal sulit untuk memperoleh sesuatu. Mulai dari makanan, baju, sepatu, skincare, alat-alat rumah tangga, barang elektronik, bahkan asesoris dan benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, semua transaksi bisa dilakukan melalui scroll dan klik di gawai. Sebegitu mudahnya akses, seolah jarak dan waktu bisa dibayar tunai dan kredit. Macam akad nikah, atau akad jual beli tanah.
Jasa antar paket jadi semakin beragam. Dulu, yang mungkin proses pengantaran butuh waktu berhari-hari, bahkan seminggu lebih. Kini, banyak jasa pengiriman menawarkan opsi Esok Pasti Datang, juga Paket Sehari Sampai. Saking mudahnya transaksi, saking cepatnya kegiatan “menunggu” usai, maka semakin dekat pula jarak antar kurir satu dengan kurir yang lain bertandang ke rumah. Jika perlu, dalam seminggu, satu kurir bisa mengantar paket ke rumah yang sama hampir setiap hari.
Fenomena itu membuatku ingin menarik mundur waktu, bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi hanya mengenang sesuatu. Aku ingat saat masih remaja, teman sebangku pernah menyelipkan secarik kertas bertuliskan “Semoga kamu menyadari betapa aku rela terluka saat berani memutuskan mencintaimu” untuk teman sekelasku yang lain, pada sebuah buku puisi tipis, yang dua hari sebelumnya ia beli di toko buku bekas dekat lapangan badminton, tak jauh dari sekolah.
Buku itu ia masukkan secara diam-diam ke dalam tas teman perempuan sekelas kami di jam istirahat. Tiga hari setelahnya, heboh kabar jika teman perempuan sekelas kami itu jadian dengan teman sekelas kami yang lain, yang sialnya, bukan teman sebangkuku itu. Kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan? Teman sebangku yang sengaja tak menorehkan namanya? Teman sekelasku yang lain yang mengaku-ngaku tulisan di secarik kertas di buku puisi itu adalah miliknya? Atau justru bukunya, yang hanya mampu menjadi saksi bisu munculnya tragedi asmara tiga teman sekelas?
Sesungguhnya, tidak ada yang patut disalahkan. Anggap saja semesta sedang bermain-main dengan perasaan-perasaan mereka. Buku itu unik. Bisa dibilang, zaman dulu buku lebih sering menjadi kurir. Entah untuk menyampaikan contekan ke teman, ajakan untuk merokok di lorong belakang sekolah, atau sekadar menyelipkan selembar tiket nonton bioskop pada gebetan. Apa pun alasannya, mungkin jika setiap buku bisa bicara, setidaknya ada tiga reaksi yang akan mereka tunjukkan.
Reaksi pertama, ngomel: “Bagaimana bisa bocah ingusan itu melibatkanku untuk menyampaikan perasaan, sementara aku belum pernah ia baca.”
Reaksi kedua: cuek. Buku tak peduli akan diperlakukan bagaimana. Buku puisi cinta tak marah saat diselipkan kertas bertuliskan ajakan duel akibat tak sengaja bersenggolan saat keluar dari kamar kecil. Buku panduan mengerjakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi, tak merasa kecil saat pada akhirnya berpindah-pindah inang dan berakhir sebagai bungkus gorengan (ini sih bukan cuek lagi, tapi sudah pasrah namanya).
Reaksi ketiga: bahagia. Aku membayangkan buku semacam ini adalah seseorang yang mencintai tanpa pamrih. Ia tidak sedih, apalagi kecewa, saat dirinya masih bertahan di rak diskon paling bawah. Kalaupun berhasil ada tangan menyentuhnya, membolak-balik, lalu membelinya, tapi belum sempat terbaca, ia tetap bahagia. Bukankah cinta paling tulus semacam keikhlasan untuk mau tetap tinggal dalam penantian panjang, sampai akhirnya waktu berpihak dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan intim (red: membaca dan dibaca).
Juga, sukarela menjadi penolong bagi jiwa-jiwa introvert. Kadang diselipi setangkai mawar berduri hingga mengering dan menghapus kalimat-kalimat penting di halaman tujuh puluh dua. Kadang ada halaman sengaja dirobek dan diremas-remas tanpa ampun untuk nimpuk orang. Ada lagi, buku sekadar menjadi kurir tanpa pesanan yang begitu tersampaikan secara diam-diam, malah berakhir masuk ke gudang, bahkan dibuang karena dianggap tak penting.
Buku sejatinya seperti manusia dengan banyak perasaan. Hanya saja, buku tidak punya pilihan kecuali menunggu. Entah itu menunggu seseorang yang benar-benar mau membacanya, atau menunggu untuk sering dipindahtangankan: bisa sebagai kurir dengan pesan khusus, atau justru sebagai kurir tanpa pesanan.
Jadi, apakah kamu pernah menyelipkan sesuatu di novel yang belum pernah dibaca? Atau kamu justru mencorat-coret isi buku puisi lalu setelahnya kauberikan pada seseorang? [] Redaksi
