Dunia Buku

Luka Kecil dari Halaman yang Terlupa

Ada rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Bukan rasa bersalah karena lupa ulang tahun pacar, bukan karena tak balas pesan ibu, bukan juga karena telat bayar utang ke teman. Tapi ini: rasa bersalah karena tidak menyelesaikan membaca buku. Iya, hanya itu, tapi rasanya seperti habis ninggalin orang yang sedang bercerita dengan mata berbinar, lalu kita berdiri dan bilang, “Maaf ya, aku mau beli cilok dulu.” Dan tidak pernah kembali.

Buku itu tetap diam di rak, di meja kerja, di dalam tas, atau di tab digital, dengan penanda halaman menggantung, seperti cinta tak sampai. Awalnya kita menyambutnya penuh gairah, memotret sampulnya, memuji kalimat-kalimat pembukanya, bahkan tak jarang mengutip sebaris kalimat dan mengunggahnya dengan caption puitis. Tapi setelah bab dua atau tiga, hidup kita mendadak penuh alasan. Sibuk, capek, banyak kerjaan, banyak pikiran, sinyal wifi lemah. Padahal waktu buat scroll TikTok dua jam sehari tetap tersedia. Dan lucunya, kita masih sempat nonton serial tiga musim habis dalam seminggu. Jadi mari jujur: bukan waktunya yang hilang, tapi niatnya yang lelah.

Lucunya lagi, kita sering lebih fasih bicara soal buku yang belum kita tuntaskan, daripada buku yang benar-benar kita pahami. Kita puja-puji isinya padahal baru baca prolog. Kita bahas gagasannya dengan percaya diri meski isi bukunya sendiri belum kita jamah lebih dari 30 halaman. Ironi paling lucu? Kita bahkan beli buku berikutnya, padahal yang sebelumnya masih terengah-engah. Ini bukan membaca, ini koleksi rasa bersalah.

Ada semacam kesepakatan diam-diam di antara para pembaca masa kini, bahwa membeli buku adalah tindakan intelektual, walau membacanya bisa ditunda seumur hidup. Buku pun tak lebih dari pajangan estetik di meja kopi atau rak kayu minimalis yang jadi latar belakang video call. Kita pamer barisan punggung buku, bukan isi kepala. Dan saat seseorang bertanya, “Bagus bukunya?” kita jawab, “Wah, banget!” tanpa bisa menyebut satu tokoh pun dari cerita itu. Luar biasa. Pujian palsu yang nyaris religius.

Tapi jangan kira rasa bersalah itu tak punya kuasa. Ia hadir diam-diam. Saat kita membuka rak buku dan tatapan sampul itu seolah memelas. Saat penanda halaman yang masih setengah perjalanan itu menuding seperti hakim kecil. Saat kita mencoba baca buku lain, dan yang belum selesai seakan bersuara, “Loh, aku belum kelar, kamu udah main sama yang lain?” Astaga, selingkuh literasi!

Namun, tidak semua ketidakselesaian adalah bentuk pengabaian. Ada buku-buku yang justru terlalu menyentuh, terlalu dalam, hingga kita tak sanggup menuntaskannya. Kita tahu akan ada luka di akhir cerita, dan kita belum siap. Kita menunda bab terakhir karena tak ingin berpisah. Rasanya seperti menahan pelukan, takut kalau selesai, tak ada lagi yang bisa digenggam. Pembaca yang seperti ini bukan pelupa, melainkan pencinta yang gentar. Dan itu juga bentuk kesetiaan yang unik, meski menyakitkan.

Buku, tentu saja, tidak pernah menuntut. Ia diam, tidak seperti manusia yang ngambek kalau ditinggal chat. Tapi justru karena diam itulah, kita sering merasa disindir. Diam buku adalah cermin. Kita malu melihatnya. Kita tahu betapa sering kita kalah oleh gawai, oleh notifikasi, oleh distraksi, oleh malas yang kita bungkus dengan dalih “butuh waktu yang tenang untuk membaca.” Padahal kita tahu, waktu tenang itu hanyalah mitos. Yang tenang itu bukan waktunya, tapi niatnya.

Namun, di tengah rasa bersalah itu, mari beri sedikit kelonggaran pada diri sendiri. Tidak menyelesaikan buku bukanlah kejahatan budaya. Dunia tidak akan runtuh, pustakawan tidak akan mencabut gelar kita sebagai pembaca, dan Dewan Sastra Internasional pun tidak akan membuang nama kita. Kadang memang ada buku yang tidak cocok, ada yang momennya tidak tepat, ada yang bahasanya terlalu jauh, ada yang hati kita belum sampai. Itu bukan kegagalan, hanya ketidaksesuaian yang wajar. Bahkan manusia pun banyak yang tidak cocok meski sudah pacaran lima tahun.

Jika boleh jujur, bukankah hidup kita juga penuh dengan hal-hal yang tidak selesai? Surat cinta yang tak pernah dikirim. Lagu yang hanya kita dengarkan separuh. Percakapan yang menggantung. Perasaan yang tidak diucapkan. Maka, buku yang tak selesai pun tak perlu dipaksa ditamatkan. Biarkan ia jadi bagian dari jejak. Bahkan yang tak rampung pun bisa mengajarkan banyak hal.

Namun kalau kau sempat, kalau hatimu tenang, dan semesta memberi sedikit ruang, kembalilah. Duduklah kembali. Buka halaman itu. Lanjutkan membaca. Tak usah merasa harus paham semuanya. Tak perlu merasa wajib mengulasnya. Cukup selesaikan, dengan perasaan yang sama seperti menepati janji kecil: kepada diri sendiri, kepada kata-kata yang pernah membuatmu berhenti sejenak dari riuh dunia.

Jika pada akhirnya buku itu tetap tak selesai dibaca, setidaknya kau sudah mencobanya. Kau sudah pernah membuka lembar pertamanya, menatapnya dengan niat baik, dan memulai satu langkah kecil. Percayalah, hal itu sudah lebih dari cukup.[] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *