
Ini tentang hobi. Atau kecintaan. Bisa juga merupakan jalan tikus menuju pelarian sekadar mengisi kekosongan. Atau, rasa kecanduan yang sulit lepas macam asap nikotin. Apa pun alasannya, bagi sebagian kecil orang, buku bisa menjadi jamuan paling nikmat untuk membunuh sepi. Ya, sepi. Bukankah kesepian memang hanya bisa diobati melalui jalan sunyi? Perjalanan tanpa suara yang mampu meramaikan isi kepala dengan pemikiran, serta menyulut percikan rasa di hati yang hampir padam.
Aku punya seorang teman yang katanya hobi berkhayal. Bahkan, baginya, mengkhayal sudah dianggap aktivitas seperti halnya bekerja. Ada jatah waktu. Ada jeda istirahat. Bahkan ada juga masa libur. Temanku pernah bilang: “Aku merasa justru lebih hidup di rumah khayal. Akulah sang pengendali. Tidak ada satu pun peran kecil di setiap tokoh dan adegan yang kuciptakan. Seperti sebuah drama yang menjadikanku seorang penulis skenario, sekaligus sutradara.”
Lalu apa kaitan khayal dengan buku? Drabuk, begitu jawab temanku tadi. Sama halnya dengan drakor, jika durasi filmnya hanya satu hingga dua jam saja, maka drabuk yang dinikmati ibarat cerpen. Namun, jika drakor sudah punya banyak series, yang mungkin tidak bisa selesai dalam satu kali dua puluh empat jam, maka drabuk sudah selayak novel panjang.
Sampai di sini, aku yakin kamu masih belum menemukan hubungan aktivitas mengkhayal, drakor dan drabuk. Mari sejenak kita duduk bersila, boleh sembari ngopi, ngeteh atau makan camilan hangat diiringi lagu-lagu puisi yang mungkin hanya punya pendengar segelintir orang saja.
Sudah siap? Mari kita mulai. Melamun adalah anak turunan langsung dari menghkayal. Jika mengkhayal butuh energi untuk membayangkan, entah itu tokoh, alur, adegan dan suasana. Sedangkan melamun, itu sebuah jeda. Semacam hari tenang sebelum pemilu, mengheningkan cipta saat upacara, atau rehat sembari merokok tanpa memikirkan apa-apa. Melamun bisa dikatakan sebuah jembatan. Jembatan lengang yang bisa memberi ruang bagi pejalannya untuk tidak tergesa-gesa sampai ke tujuan.
Pernahkah kamu menonton serial hingga mata benar-benar lelah sampai tak kuasa lanjut meski hasrat menuntaskan tak bisa dibendung? Lalu kamu memilih hengkang ke kamar mandi: cuci muka. Atau menuju kulkas untuk mengambil sebotol soda. Atau mungkin malah masuk ke kamar sekadar rebahan tanpa melakukan apa-apa, termasuk tidur. Tapi, entah disadari atau tidak, di saat jeda itu, tanpa sengaja sekelebat bayang-bayang datang memenuhi kepala seolah meneruskan cerita. Bisa alur maju, alur mundur, atau bisa juga alur maju mundur. Meski memang hanya sebatas tebak menebak, atau mereka ulang peristiwa.
Begitu pun terjadi saat membaca novel panjang. Saat kita memutuskan meletakkan pembatas buku pada halaman tertentu, maka bersiap-siaplah pikiranmu berkelana. Mungkin saat sedang memasak, teringat adegan ciuman sepasang kekasih yang keduanya lupa menutup pintu ruang tamu hingga anak tetangga nyelonong masuk tanpa permisi. Atau mungkin saat mandi, teringat aksi kejar mengejar antara pencuri ternak dan hansip gadungan di pematang sawah. Bukan soal ceritanya, tapi lebih kepada hasrat ingin segera menyelesaikannya. Apakah punya akhir yang membagongkan? Atau justru malah memunculkan kalimat: “Oh, rupanya begini doang.”
Drabuk tidak selalu happy ending, sad ending, atau so so. Sesungguhnya bukan perkara ending, melainkan tentang rasa cemas, bingung, takut, bahkan perasaan-perasaan menyiksa lainnya yang menggiring raga untuk terus terjaga. Membuka halaman demi halaman buku, lalu menuntaskannya. Setidaknya, jika benar kamu sampai harus terus melamun hanya karena sebuah buku yang belum selesai kamu baca, anggap saja itu hukuman atas penundaan. Tak perlu minta maaf pada buku, karena buku tak pernah suka drama. Mereka bahkan tidak menagih janji yang pernah terucap dari pembacanya.
Jadi, apakah kamu berhasil tetap merasa baik-baik saja ketika mengambil jeda saat membaca buku? Atau justru terus melamun setelah menyelesaikan sebuah buku? [] Redaksi
