Dunia Buku

Penipu

Dalam dunia buku, seperti dunia yang banyak orang anggap fana ini, sama-sama tak pernah lepas dari dunia tipu-tipu. Sama halnya seperti reaksi kita saat ada teman mau utang. Di satu waktu, kita bisa sibuk menjadi seorang penyidik dengan embel-embel pertanyaan:  

“Buat apa?”

“Keluargamu pada ke mana?”

“Kapan dibalikin?”

Dan berbagai pertanyaan lain yang ujung-ujungnya justru kasih transfer wejangan, bukan uang. Atau tipikal yang kedua, tanpa banyak ba bi bu, langsung tembak dengan kalimat: “Butuh berapa? Aku transfer ya.” Wah, ada ya orang sebaik itu.

Sebut saja buku adalah topeng bermuka dua. Di satu sisi ia bicara perihal data, fakta, riset, bukti dan saksi. Sedangkan di sisi lain, ia bisa meramu adegan serta narasi agar orang percaya itu adalah sebuah kenyataan: kenyataan palsu.

Aku pernah membaca sebuah kalimat dari seorang penulis, bukan seorang sastrawan, melainkan orang biasa yang sering menulis di story WhatsApp, Facebook dan Instagram. Meski begitu, aku merasa justru kalimatnya terbaca apa adanya. Kalimat itu kurang lebih begini: Baca cerpen dan novel itu bisa menggagalkan aksi bunuh diri. Atau ada juga yang bilang: Sesadar-sadarnya orang membaca, tidak ada yang punya kesadaran lebih dari rasa penerimaan dikibuli.

Kita tahu bahwa kalimat based on true story yang sering muncul di awal atau akhir kisah, entah itu di halaman paling awal atau belakang, sebenarnya hanya sebuah simbol yang tak lebih dari sekadar pengakuan absurd. Pada dasarnya tidak ada kisah nyata yang benar-benar istimewa, kecuali sudah melewati proses meracik dan memasak (red: dibumbui)

Kenapa masih banyak orang terhibur nonton film, drama, bahkan sinetron? Padahal sudah tahu pemainnya adalah aktor dan aktris yang sering berganti peran. Novel dan kumcer pun punya penggemarnya sendiri. Mereka tahu jika hampir semua cerita yang dibaca hanyalah karangan semata. Dan entah sebuah karunia atau musibah, jika saat membaca kisahnya, mereka dibuat masuk terlalu jauh dalam cerita. Seolah-olah merekalah pemilik kisah.

Tapi percaya atau tidak, kisah fiksi justru dianggap paling membumi karena bisa menjadi penyelamat hidup di kala bosan menunggu jam istirahat tiba. Atau barangkali, justru bisa memeluk satu nyawa yang hampir terbang dan menghilang, karena menganggap ceritanya begitu persis dengan hidupnya.

Tak bisa dipungkiri, banyak orang terlena dengan muslihat. Sudah tahu dibohongi, tapi tetap bertahan dan menikmati. Sudah tahu fiksi, tapi tetap lanjut membaca, sampai ending pula. Yah, bagaimana ya, namanya juga cinta. Ada yang bilang bisa ngalah-ngalahin logika. Tidak apa-apa dibohongi asal terus bersama. Tidak apa-apa kecewa asal jangan sampai hilang dari cerita.

Buku fiksi itu menyenangkan. Ada banyak topeng yang bisa dikenakan. Jiwa-jiwa melankolis mendadak merasa jadi pahlawan saat tokoh aku dalam novel berhasil menumpas tikus-tikus yang bersembunyi di dalam loker dan sudut ranjang Istana. Atau mendadak menjadi mesin penghasil air mata, padahal sebelumnya pemilik slogan: Pria nggak banyak bicara, tapi banyak polahnya. Atau: Jika menangis ibarat celengan kodok dari tanah liat, maka setiap hari ia akan pecah saking banyaknya koin yang tumpah.

Maka, novel, dongeng, fabel dan cerita fiksi lainnya tetap bisa menjadi primadona. Tak peduli seberapa aneh cerita yang tak masuk di akal, atau seberapa sadis dan dramatis nasib tokoh di dalamnya, semua bisa saja memeluk hati pembacanya. Bahkan, semakin dibaca, maka semakin terbuai dibuatnya. Jangan-jangan, ternyata kamu salah satunya, ya? [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *