Cerpen Kesit Himawan Setyadji

Awan lari tergopoh-gopoh menyusuri labirin stasiun di antara orang-orang yang saling berlomba-lomba mengejar keberangkatan KRL. Elevator tidak cukup cepat untuk mengantarnya ke depan pintu gerbong. Naik turun tangga menjadi pilihan, meski keringat akan bercucuran. Awan terus mengumpat, sembari sesekali melihat jam tangan. “Anjing! Terlambat!” Pagi ini jadwal presentasi desain proyek rumah sakit di kantornya.
Meski roda gerbong sudah bergulir menjauhi stasiun, namun pikiran Awan masih tertinggal di peron. Beberapa menit sebelumnya, ketika pintu gerbong akan segera ditutup, dia menyerobot mendahului perempuan berbaju ungu dan berbadan dua. Perasaan berdosa terus menghantuinya. Persoalan desakan waktu mematikan hati nuraninya. Tempat duduk mereka tidak jauh, bahkan Awan sempat mendengar perempuan itu bicara dengan seseorang perihal kampungnya yang terancam digusur dampak proyek besar yang segera dibangun. Hal itu semakin membuatnya cemas. Sejenak di benak Awan sempat terlintas bayangan rumah kecil warisan bapaknya di kampung, rumah tempat dia dan istrinya akan membesarkan anak yang kini sedang berada di kandungan.
Seiring laju kereta, ingatan Awan pada kejadian di depan pintu gerbong mulai menjauh. Pandangan kosong seperti lahan permukiman yang telah diratakan sebelum didirikan bangunan. Jajaran gedung di belakang kaca-kaca gerbong menjelma tampilan desain di layar laptopnya. Penumpang lain mengimpit berjarak lima belas sentimeter dari batang hidungnya, berubah menjadi wajah dingin klien yang akan dihadapinya nanti. Embusan bau napas dan keringat menambah penat pikirannya. Tangannya masih kuat menggenggampegangan di bawah langit-langit gerbong. Namun matanya hampir menyerah. Sesekali kepalanya terbentur bahu penumpang lain. Tujuh stasiun sudah terlewati. Tersisa tiga stasiun lagi untuk sampai tujuan. Isi gerbong mulai surut. Awan melangkah ke kursi kosong di samping pintu gerbong. Sisa perjalanan cukup untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Tengah bulan lalu, Awan menyerahkan surat kepada pimpinan kantor. Keputusannya untuk berhenti bekerja sebenarnya sudah bulat, namun pimpinan menahannya dan berjanji memberikan bonus besar jika dia mampu menyelesaikan proyek desain rumah sakit. Isi dalam kandungan istri, membuatnya sedikit melunakkan rencana itu. Siang malam, Awan mengerjakan desain yang ditugaskan pimpinan. Tidak hanya di kantor, di rumah pun dia melanjutkan pekerjaan itu. Dia berusaha menyelesaikan tugas secepat mungkin. Janji pimpinan terngiang-ngiang membakar semangatnya.
Semalam, ketika Awan masih bergelut dengan pekerjaan. Istrinya terbangun dan menunjukkan foto USG anaknya.
“Bayinya terbelit tali pusar. Kata dokter kemungkinan operasi sesar,” kata istrinya penuh risau dengan besarnya biaya persalinan.
“Tenang saja, Dik,” kata Awan. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia akan mendapat bonus dari kantor. Dengan uang itu, permasalahan biaya kelahiran anaknya sudah ada solusi. Mereka saling berbalas pandang dengan senyum yang tersungging. Kelegaan terlihat dari mata istrinya yang berkaca-kaca. Sementara jemarinya menari di laptop, dia membayangkan anaknya tertidur cantik di ranjang bayi bagus dengan pakaian ungu. Kemudian, dia menoleh ke arah istrinya yang sudah berbaring di kasur.
Kelelahan dan kejenuhan sudah menumpuk di pundaknya. Pengerjaan desain rumah sakit telah menyita banyak waktunya. Dia mengerjakannya sendiri, karena teman-teman di kantor juga sudah memiliki beban proyek masing-masing. Ketika hal itu mendera, ingatan bonus yang akan diterima menjadi obat penawar rasa lelahnya. Namun sedikit kegundahan bercokol di hatinya, pimpinannya tidak memberitahu di mana lokasi proyek itu akan dibangun.
Kakinya yang menjulur tersaruk penumpang lain. Awan tersentak memaksa matanya terbuka. Nama stasiun tujuan terdengar dari pengeras suara. Laptop dimatikan dan dimasukkan kembali ke tas. Pintu gerbong segera terbuka. Dia berdiri gontai melangkah ke pintu keluar stasiun. Sejenak di peron, tangannya mengeluarkan ponsel memesan ojek dari aplikasi daring. Dia kembali berlari ke luar stasiun menuju pengemudi ojek yang sudah menunggunya di jalan depan stasiun.
Awan sampai di kantor dengan muka lusuh. Kelopak matanya menggantung. Rambutnya berantakan. Masih ada waktu sepuluh menit untuk presentasi. Setelah membasuh muka di kamar mandi. Dia melangkah pelan menuju ke ruang rapat. Di dalam ruangan sudah duduk beberapa orang termasuk pimpinannya. Ketika tangannya membuka pintu, secara tak sengaja terdengar pembicaraan pimpinan dengan seseorang yang diduganya pemilik proyek. Sebuah nama kampung disebut sebagai lokasi proyek. Pintu ruang rapat terasa berat untuk dibuka. Dinding kantor mulai mengimpitnya. Dadanya mulai sesak, membuat napasnya menjadi pendek. Ruangan kantor yang sebelumnya ramai suara papan ketik komputer tiba-tiba membisu. Dia kembali teringat dengan perempuan berbaju ungu dan berbadan dua yang antreannya diserobot saat di stasiun.
Tangannya menarik pelan pegangan menutup pintu ruang rapat. Dia berbalik arah menjauhi ruangan rapat. Ponsel kembali diambilnya. Dia termangu duduk di tangga depan pintu kantor, memandang foto USG kandungan istrinya di layar ponsel. Lalu, dia menulis beberapa kata. Awan menghela napas panjang. Jarinya menekan tanda kirim. Sebuah kalimat kepada pimpinannya: Pak, saya berhenti sekarang saja. Bonusnya tidak saya ambil.
____________________

Kesit H. Setyadji, tinggal di Palur, Sukoharjo. Bekerja sebagai tukang gambar di Omah Pandan Studio.
