Cerpen

Wajah

Cerpen Diana Rustam

Kamu telah memiliki wajah itu selama satu tahun, dan selama itu pula kamu suka memandanginya lama-lama di cermin. Setiap kali menatapnya, kamu memiliki perasaan semacam diawasi oleh wajahmu sendiri.

Kamu meraba mata yang bukan milikmu, ia adalah mata yang tidak memiliki gairah tertentu. Ketika tersenyum, kamu tidak bisa membaca emosi pada mata itu. Kamu menyadari bahwa ia sama sekali tidak mewakili perasaanmu. Kadang kala mata itu masih mempertahankan lengkungnya padahal kamu sudah berhenti tersenyum.

Secara keseluruhan, wajah baru itu jauh lebih baik dari wajah aslimu. Meskipun begitu, kamu sama sekali tidak memiliki rasa percaya diri, sama seperti ketika kamu meminjam sepatu seseorang yang meskipun pas dan cocok, kamu sangat malu memakainya.

Sebagaimana sepatu itu, yang mula-mula hanya kamu pinjam, kamu berharap kelak akan terbiasa dengan wajah yang bukan wajahmu, lalu pelan-pelan melupakan wajahmu sendiri.

Dan yang terpenting bagimu adalah, wajah itu sudah memberi kemerdekaan, paling tidak dari rasa takut saat memandang wajah lamamu yang buruk. Ia juga telah menyelamatkanmu dari keterasingan dan persembunyian yang sunyi. Karena itu, sudah seharusnya kamu berterima kasih kepada dokter Voon untuk wajah baru itu.

*

Sebelum wajah baru itu:

Wajahmu selalu bersembunyi di balik masker dan kacamata hitam semenjak kebakaran yang melelehkannya juga separuh tubuhmu, karena ledakan di tambang tempatmu  bekerja pada sebuah Sabtu yang nahas.

Suatu hari dengan penampilan seperti seseorang yang punya penyakit menjijikkan, kamu berbelanja di toko serba ada. Mata setiap orang menatapmu. Anak-anak bersembunyi di balik tubuh ibu mereka, tetapi juga mengintipmu dari sana dengan gerakan hati-hati. Orang-orang dewasa lebih bisa menahan rasa takut, atau mungkin jijik. Mereka berpura-pura tidak melihat saat kalian berpapasan, tetapi beberapa langkah kemudian mereka akan berbalik menatapmu. Sekali dua kali kamu menangkap basah tingkah itu, mereka kikuk lalu seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

Dengan begitu, kamu merasa telah dipisahkan dan berada pada jenis yang berbeda dari mereka, karena itu kamu menjadi takut pada setiap tatapan.

Saat orang-orang menghindar, seorang lelaki yang mengenakan mantel mendekatimu. Tubuhnya setinggi tubuhmu, sehingga kamu bisa menatapnya dengan baik, dan kamu tidak melihat gelagat yang menyiratkan rasa takut atau jijik. Lelaki itu bahkan menjabat tanganmu yang terbungkus sarung tangan kulit karena jari-jari yang tidak utuh dan saling menempel. Dari tangannya, ia selipkan sebuah kartu nama.

Saat itulah kamu mengenal dokter Voon.

*

Sebelum wajah baru itu:

Seseorang menyelinap masuk ke rumah Nona Yeselle, tetanggamu yang tinggal sendirian. Saat itu pukul 00.00 dan kamu belum tidur.

Dari jendela kamarmu, kamu melihat seseorang sedang mencekik Yeselle di kamar tidurnya. Yeselle meronta dan tampaknya ia berusaha melawan. Lampu kamar Yeselle belum padam sehingga kamu bisa melihat bayangan mereka dari balik jendela bertirai. Yang entah atas dorongan apa kamu tidak rela. Bisa jadi diam-diam kamu menyukai Yeselle, sebuah perasaan samar yang perlu kamu pastikan. Kendatipun begitu, dorongan yang muncul tidak bisa kamu tolak.

Rumahmu dan rumah Yeselle hanya dipisahkan pagar kayu yang bisa kaulompati dengan enteng, sehingga tidak butuh waktu lama untuk bisa menerobos masuk dan berhadapan dengan seorang laki-laki yang menutup wajahnya dengan sesuatu yang menyerupai topeng dari kain hitam yang hanya dilubangi pada bagian mata, hidung, dan mulut.

Menerjangnya dengan segenap tenaga yang kamu miliki, kamu bergulat dengan laki-laki itu di lantai. Yeselle keluar dan kamu tidak tahu apa yang selanjutnya ia lakukan.

Laki-laki itu mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya dan mengacungkan ke arahmu yang mulai pucat. Tidak ada pilihan untukmu kecuali kursi di samping tempat tidur yang segera kamu sambar lantas menghantamkannya ke arah laki-laki bertopeng itu. Ambruk dan bersimbah darah, ia tergeletak dalam keadaan tengkurap dan wajahnya menoleh ke kiri. Kamu pikir lelaki itu sudah mati, lalu kamu mencari Yeselle. Gadis itu ternyata sudah berdiri di belakangmu, tubuhnya gemetar, tangannya menggenggam gagang telepon, lalu dengan suara tergagap-gagap ia memberitahu bahwa ia baru saja menghubungi polisi.

Kembali ke kamar, kamu memeriksa lelaki itu, tetapi tubuhnya sudah tidak ada, yang kamu temukan hanya darah yang berceceran di lantai dan  jendela yang terbuka.

Polisi datang setelah peristiwa itu, mereka bertanya tentang wajah. Tetapi kamu dan Yeselle tidak bisa menggambarkan bagaimana wajahnya. Kamu menyadari bahwa wajah adalah identitas, semestinya kamu lucuti topengnya.

Menurut polisi, lelaki itu memiliki jari yang unik.

Lelaki itu dicurigai sebagai buronan polisi. Bertahun-tahun muncul di tempat berbeda untuk kejahatan yang sama, tetapi tujuan dari lelaki itu membunuh belum diketahui. Ia selalu meninggalkan pola serupa pada korban-korbannya, menyayat wajah mereka dengan pisau lipat hingga sulit dikenali.

Sejak malam itu, Yeselle selalu berbicara kepadamu dan membawakan makanan kecil buatnya. Ia berbicara hanya dengan memandang sepatu atau bahumu. Tidak sekali pun matanya singgah pada wajahmu. Lama-kelamaan kamulah yang lebih dulu menunduk setiap kali ia datang atau berpapasan dengannya.

*

Sebelum wajah baru itu:

Kamu berada di sebuah rumah sakit yang terletak di pinggiran kota, jauh dari pemukiman padat. Jika bukan karena  kartu nama yang kamu terima tempo hari, kamu tidak akan sampai di rumah sakit yang sepertinya kurang banyak diketahui orang.

Menurutmu rumah sakit itu sunyi. Tidak ada suara brankar didorong, atau seseorang yang histeris dan menangis untuk orang lain.

Dua atau tiga pasien duduk di kursi taman, wajah mereka bagai tersengat puluhan tawon. Kadang kala mereka saling bicara dengan lebih banyak gerakan tangan, tetapi lebih sering mereka diam, barangkali untuk menghemat tenaga.

Beberapa yang lewat dengan kursi roda didampingi perawat. Wajah mereka tidak ada bedanya dengan kepompong ulat sutera, putih dililit kasa. Sedikit bagian mata terbuka, dan segaris pada bagian mulut dan hidung.

Kamu pun duduk di kursi roda yang mirip dengan mereka, seorang perawat perempuan yang jarang bicara mendorongmu dari belakang menuju ruang bedah.

Malam sebelumnya di rumah sakit itu, kamu takut kehilangan dirimu yang meskipun telah meleleh masih bisa kamu rasakan sebagai dirimu, di menit berikutnya kamu juga mengharapkan wajah yang bisa diterima oleh orang-orang di sekitarmu.

Kamu melewati sebuah ruangan di sebelah ruang bedah. Di sana, seseorang sedang terbaring di atas brankar, wajahnya ditutupi kain hijau. Tangan kirinya menjuntai lemas dengan jari ke enam yang mencuat seperti duri randu di pangkal jempolnya. Kamu bertanya-tanya, apakah dia masih hidup?

Tiba di sebuah ruangan yang dingin dan sunyi, kamu dibaringkan dan melihat wajah dokter Voon yang kedua kali. Ia berkata padamu, “Kamu akan mendapatkan hidup yang ke dua” setelah itu suaranya menggema dalam kepalamu untuk beberapa saat lalu hilang bersama kesadaran yang kamu bawa ke tempat itu.

*

Setelah wajah baru itu:

Seorang pria muda yang rambutnya panjang dan dikuncir ke atas menodongkan senjata api di kepalamu. Kejadian itu tiba-tiba saja di sebuah bilik warung internet. Kamu bingung, ingin bertanya, tetapi tidak diizinkan untuk bicara saat itu.

Kamu sudah diawasi sejak lama, begitu yang ia katakan. Ia menyebut namamu, tetapi itu bukan namamu.

Di ruang interogasi, kamu dipaksa mengaku sebagai Silias. Tubuhmu babak belur, jari-jari tanganmu patah, empat gigi depanmu tanggal, mereka membuat rasa sakit sedemikian rupa agar kamu mengatakan sesuatu yang ingin mereka dengar.

Kamu bersumpah bahwa kamu adalah Orell, sejak lahir hingga saat ini, itu tidak pernah berubah.

Tetapi, sesuatu membuatmu terperanjat dan bagaimana pun juga kamu tidak bisa percaya bahwa sidik jarimu tidak dikenali sebagai Orell, tetapi sebagai Silias.

Mereka lalu mengatakan bahwa Silias akhirnya ditemukan.

Kamu benar-benar merasa telah dihapuskan dari dunia dan menjadi orang asing, seolah-olah kamu adalah mata tunas yang ditempelkan pada batang pohon yang tidak kamu ketahui lalu kamu kehilangan dirimu dan menjadi pohon itu. Lantas menit-menit selanjutnya kamu menyesali kartu nama dan ruang bedah rumah sakit.

Kamu bertanya pada dirimu dengan hati gemetar, jika wajah itu bukan milikmu, dan sidik jari itu juga bukan milikmu, lalu apa yang tersisa yang bisa disebut dirimu? ***

Makassar, 2026.

____________________

Diana Rustam. Menulis cerpen dan puisi. Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerpen dan puisinya telah dimuat media daring. Media sosial Fb @Diana Rustam dan IG @dianarustam_

Cerpen

Wajah Murung Cut Nyak Meutia

Cerpen Sapta Arif

Ridho baru saja menonton konten video TikTok tentang curhatan seorang korban penipuan aplikasi exchange ketika Ayu mengatakan bahwa ia ingin mulai membeli kripto untuk investasi pendidikan anak mereka.

Lelaki itu menekan layar ponsel, menatap murung wajah istrinya. Dahinya berkerut. “Apa katamu?” tanyanya.

Ayu menunjukkan layar ponsel. Di layar aplikasi TikTok tampak wajah Timothy Ronald sedang memberikan edukasi finansial secara live streaming bersama rekannya. Mereka menyarankan pada seorang penelepon untuk mengamankan tabungan sepuluh juta dan mempersiapkan uang keperluan tiga bulan ke depan sebelum berinvestasi ke kripto. Ridho memandangi wajah istrinya, lalu tumpahan susu di lantai tak jauh dari kaki Ayu yang duduk selonjoran.

Ridho bangkit membuka laci meja, matanya sayu melihat tiga lembar uang bergambar Mohammad Hoesni Tamrin, dua lembar bergambar Frans Kaisiepo, selembar bergambar Ir. H. Djuanda Kertawidjaja, dan selembar Ir. Soekarno yang tersenyum padanya. Ridho hafal nama setiap pahlawan yang tercetak di setiap lembar uang. Tetapi, tentu saja yang paling ia perhatikan adalah wajah Cut Nyak Meutia yang murung. Wajah itu ia simpan dalam wadah khusus berukuran dua puluh kali lima belas senti berbahan plastik bening. Jumlahnya paling banyak. Ridho memperkirakan, mungkin hampir tiga puluh. Atau malah sudah lebih setelah subuh tadi ia kembali memasukkan tiga lembar.

“Kita masih punya kopi, Yu?”

Ridho beranjak ke teras, mendaratkan bokong ke kursi kayu, mengeluarkan sebatang rokok Nalami, dan menyulutnya. Mereka sudah menikah selama lima tahun dan memiliki seorang anak. Kursi kayu ini adalah satu-satunya tempat Ridho menghilangkan penat. Bukan karena rumah mereka terlampau kecil yang hanya berukuran enam kali enam dengan satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruang tengah yang tidak seberapa. Melainkan, ia teringat kembali kalau hari ini sudah tanggal 15 bulan enam dan belum ada kabar royalti penjualan bukunya masuk di email.

“Ini kopi terakhir, Bang. Tinggal teh, gula pun sudah habis,” ucap Ayu sambil meletakkan cangkir kopi sepaket dengan lepek di atas meja mungil di samping kursi. Ridho mengambil cangkir lantas menghirup asap yang mengepul di atasnya sebelum menyeruput. Seperti biasanya, rasa kopi yang ampang. Ridho melirik wajah Ayu yang masih terpekur menatap wajahnya. Istrinya pasti menuang air sebelum mendidih, lagi dan lagi. Ridho pernah protes tetapi selalu berakhir dengan pertengkaran. Istrinya kerap mengungkit-ungkit dan menuduh jika Ridho lebih suka kopi buatan Yu Sumi, janda penjual kopi di pertigaan pasar Siman.

“Siska pernah bilang kalau kita punya tabungan lebih, ada baiknya mencoba investasi di kripto Bang. Banyak orang mendadak kaya dari situ,” ucap Ayu yang duduk di dingklik kayu sebelah pintu. “Abang ingat Siska, kan? Teman SMA-ku dulu. Awalnya, banyak yang kasihan padanya. Masih muda, sudah jadi janda. Suaminya kabur sama perempuan lain. Tapi, eh tapi, mujur benar nasibnya Bang. Ya… itu, dia nyoba di kripto. Pas reuni kemarin, dia bawa Brio merah.”

Ayu menoleh ke dalam rumah, memastikan anaknya masih terlelap. Lalu, menatap wajah suaminya lagi, “Awalnya hanya buat nabung, Bang. Katanya biar aman. Kemudian, ada temannya yang menyarankan untuk ikut apa namanya itu…” jari telunjuk Ayu mengetuk-ngetuk pipi kiri, “Rebonding! Eh, apa namanya, pokoknya ada ing-ing-nya… Langsung deh, dia jadi tajir melintir kayak sekarang.”

Ridho paham betul maksudnya trading. Tetapi, alih-alih menanggapinya, Ridho mengembuskan napas panjang, lalu berkata, “Kamu sudah cek email lagi? Sudah tengah bulan, belum ada kabar dari penerbit.”

Wajah Ayu mendadak masam. Tidak berselang lama, terdengar tangis bayi. Ayu gegas bangkit sambil berteriak, “Eh, Mira…”

Percakapan semacam ini tidak pernah selesai. Mereka akan beku meratapi nasib. Ridho memang penulis dengan banyak buku yang masih beredar di toko-toko buku besar. Tetapi, mengandalkan royalti penjualan buku yang dikirim enam bulan sekali bukan ide bagus untuk bertahan hidup. Ia sudah mulai mendaftar menjadi guru di beberapa sekolah. Sayang, usianya telanjur kepala empat. Sekolah-sekolah hari ini lebih menyukai guru-guru muda yang melek aplikasi edit konten video. Bukan sekadar mengedit tulisan seperti yang sering dilakukan Ridho untuk pekerjaan sambilan. Sementara Ayu, terlalu nyaman menjadi ibu rumah tangga yang saban hari tak pernah lepas dari aplikasi TikTok. Sambil berangan-angan menjadi konten kreator Facebook Pro seperti ibu rumah tangga kebanyakan yang kerap ia saksikan.

Masalah sebenarnya bukan tentang investasi kripto. Ridho sudah lama membayangkan bisa mengamankan tabungan menjadi kepingan-kepingan emas antam. Bahkan Ridho pernah nekat mencicil dengan membeli emas digital di aplikasi pegadaian. Belum terkumpul 1 gram, Ridho harus mencairkannya lagi menjadi uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Ia pun sadar kalau tidak bisa menggantungkan hidup dari tulisan. Bisnis ini telanjur mati suri sejak lama. Belum lagi, banyak muncul penulis muda yang dianggap membawa angin segar di dunia yang kering pendapatan ini. Ia tentu pernah membayangkan dan berupaya menulis seserius mungkin agar novelnya bisa mencapai label best seller seperti teman angkatan kuliahnya dulu. Tetapi, otaknya kadung beku untuk beralih gaya menulis. Dan terus terpaku menggarap hal-hal serius yang berat bagi kebanyakan orang.

Usaha untuk beralih ke gaya populer pernah nekat dilakoninya. Dua draft novel jadi, lalu dikirimkan keduanya sekaligus ke dua penerbit berbeda. Jawaban dari masing-masing penerbit hampir sama. Editor mengatakan gaya ini bukan kekhasan Ridho, apalagi tema yang diangkat terlalu remeh temeh. Mereka tak mau mengambil risiko bertaruh dengan pasar.

***

Ridho mengambil bungkus rokok, lalu meremasnya. Ia merogoh saku celana, dipandanganya tiga lembar uang: wajah Frans Kaisiepo, Ratulangi, dan Cut Nyak Meutia yang selalu murung. Bisa beli satu bungkus rokok, gula dan kopi, batinnya. Ridho masih memandang wajah Cut Nyak Meutia, membandingkan dengan wajah Frans Kaisiepo dan Ratulangi. Frans Kaisiepo bungkam tanpa senyum. Sedangkan Ratulangi bibirnya serasa dipaksa tersenyum. Tersentak oleh suatu hal, Ridho bangkit. Membuka laci mejanya. Dari sekian wajah yang tersemat di pecahan uang di laci, hanya wajah Soekarno dan Hatta yang terlihat tersenyum lepas.

“Sialan!” gumamnya. “Mereka masih terjajah, hanya Soekarno dan Hatta yang merasa merdeka.” Ridho tersenyum satir.

Dilihatnya kembali wajah Cut Nyak Meutia. “Macam mana nasibmu? Menikah tiga kali, suami pertama jadi pengecut, kedua mati, ah… kasihan. Bahkan setelah dianggap pahlawan wajahmu tetap murung terus.”

Ridho duduk, mengangkat selembar uang seribuan ke atas. Ia sandarkan punggungnya ke kursi hingga terangkat dua kaki depan kursi tersebut. Ridho menerawang uang dan menerawang isi pikirannya sendiri. “Bahkan, untuk memilih pahlawan yang menjadi ikon uang saja, negara kita sangat patriarkis! Cih!”

“Untung saja, saya memilih kamu dibanding pahlawan lain untuk sedekah subuh. Kau dapat pahala jariyah,” Ridho terkekeh sendiri.

Terlalu hanyut dalam pikirannya, Ridho tersentak oleh teriakan Ayu, “Bang!”

Ridho kaget hingga hilang keseimbangan. Tubuhnya tersungkur ke depan, hingga kepalanya membentur meja. Meja pun bergetar membuat segelas air putih tumpah membasahi tumpukan buku.

“Duh, Abang gimana si? Malah ngelamun!”

Tanpa mengatakan apapun, Ridho menyelamatkan buku-buku yang basah. Lalu mengelap meja dengan ujung bajunya.

Kesal tidak ditanggapi, sekaligus tanpa rasa bersalah sedikitpun, Ayu menekan suaranya, “Bang! Ini lho…” sembari menggendong Mira, Ayu menunjukkan layar ponsel.

Ridho meraih ponsel dengan malas. Ia memandang pesan What’sApp dari Siska, lalu memandang wajah istrinya yang masam. Dua hal itu ia lakukan berkali-kali sampai istrinya heran dengan yang dilakukan suaminya.

“Bang! Kok diem aja! Itu lho, Siska mau pinjam uang?”

Ridho masih tercenung. Belum lama istrinya, ah, bahkan belum ada satu setengah jam yang lalu istrinya bercerita soal Siska yang tajir melintir, kini malah mau pinjam uang padanya. Pada keluarganya yang bahkan untuk beli kopi dan gula saja masih mempertimbangkan dua sampai tiga kali.

“Aku barusan tanya Fera, kasihan Bang, Si Siska ini. Fera cerita banyak, kalau Siska habis kena tipu aplikasi apa itu namanya…” Ayu merenung tidak sampai lima detik, lalu kembali berkata, “eceng-eceng atau apa gitu Bang.”

Aplikasi exchange, batin Ridho membenarkan. Tetapi, Ridho masih diam mematung melihat tingkah istrinya.

“Hanya satu juta Bang, katanya untuk bertahan hidup seminggu. Sambil nanti dia ngurus ke polisi atau ke mana gitu.”

Ridho mengerutkan dahi, berupaya menerjemahkan perkataan istrinya. Ia ingat Fera. Tiga orang ini memang berteman karib saat SMA. Tetapi, Ridho menganggap persahabatan mereka sama sekali tidak menguntungkan bagi keluarganya. Baik Fera maupun Siska lebih suka mengumbar kekayaan. Entah di media sosial atau bahkan ketika mereka bertiga bertemu. Apalagi, saat reuni terakhir. Siska bawa Brio merah, sedangkan Fera bawa Honda Jazz putih lengkap dengan suaminya yang diperkirakan sepuluh tahun lebih tua darinya.

Tidak berselang lama, Ridho membuka laci dan mengeluarkan wadah plastik berwarna bening. Ayu paham betul wadah itu berisi uang seribuan yang entah berjumlah berapa.

“Nah! Kan! Akhirnya, kau bisa membantu, Mutia.” Ridho memberikan wadah itu pada Ayu sambil terkekeh. “Berikan saja ini pada Siska ya!”

Ridho berlalu meninggalkan istrinya yang diam mematung. Tangan kanannya menggendong Mira, sedangkan tangan kirinya memegang wadah plastik itu. Ayu melihat suaminya berjalan keluar.

Tidak lama kemudian, Ridho melongokkan kepala dari muka pintu, “Oh ya! Jangan lupa sampaikan pada Siska, ngga perlu ngutang! Katakan saja, itu sedekah subuh kita!”***

Ponorogo, Oktober-Desember 2025

____________________

Sapta Arif. Menulis cerita pendek dan puisi. Buku terbarunya, kumpulan cerita Tanah Hayat dan Cinta Martina (JBS, 2026). Kenali lebih hangat melalui IG:@saptaarif.