Cerpen Sapta Arif

Ridho baru saja menonton konten video TikTok tentang curhatan seorang korban penipuan aplikasi exchange ketika Ayu mengatakan bahwa ia ingin mulai membeli kripto untuk investasi pendidikan anak mereka.
Lelaki itu menekan layar ponsel, menatap murung wajah istrinya. Dahinya berkerut. “Apa katamu?” tanyanya.
Ayu menunjukkan layar ponsel. Di layar aplikasi TikTok tampak wajah Timothy Ronald sedang memberikan edukasi finansial secara live streaming bersama rekannya. Mereka menyarankan pada seorang penelepon untuk mengamankan tabungan sepuluh juta dan mempersiapkan uang keperluan tiga bulan ke depan sebelum berinvestasi ke kripto. Ridho memandangi wajah istrinya, lalu tumpahan susu di lantai tak jauh dari kaki Ayu yang duduk selonjoran.
Ridho bangkit membuka laci meja, matanya sayu melihat tiga lembar uang bergambar Mohammad Hoesni Tamrin, dua lembar bergambar Frans Kaisiepo, selembar bergambar Ir. H. Djuanda Kertawidjaja, dan selembar Ir. Soekarno yang tersenyum padanya. Ridho hafal nama setiap pahlawan yang tercetak di setiap lembar uang. Tetapi, tentu saja yang paling ia perhatikan adalah wajah Cut Nyak Meutia yang murung. Wajah itu ia simpan dalam wadah khusus berukuran dua puluh kali lima belas senti berbahan plastik bening. Jumlahnya paling banyak. Ridho memperkirakan, mungkin hampir tiga puluh. Atau malah sudah lebih setelah subuh tadi ia kembali memasukkan tiga lembar.
“Kita masih punya kopi, Yu?”
Ridho beranjak ke teras, mendaratkan bokong ke kursi kayu, mengeluarkan sebatang rokok Nalami, dan menyulutnya. Mereka sudah menikah selama lima tahun dan memiliki seorang anak. Kursi kayu ini adalah satu-satunya tempat Ridho menghilangkan penat. Bukan karena rumah mereka terlampau kecil yang hanya berukuran enam kali enam dengan satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruang tengah yang tidak seberapa. Melainkan, ia teringat kembali kalau hari ini sudah tanggal 15 bulan enam dan belum ada kabar royalti penjualan bukunya masuk di email.
“Ini kopi terakhir, Bang. Tinggal teh, gula pun sudah habis,” ucap Ayu sambil meletakkan cangkir kopi sepaket dengan lepek di atas meja mungil di samping kursi. Ridho mengambil cangkir lantas menghirup asap yang mengepul di atasnya sebelum menyeruput. Seperti biasanya, rasa kopi yang ampang. Ridho melirik wajah Ayu yang masih terpekur menatap wajahnya. Istrinya pasti menuang air sebelum mendidih, lagi dan lagi. Ridho pernah protes tetapi selalu berakhir dengan pertengkaran. Istrinya kerap mengungkit-ungkit dan menuduh jika Ridho lebih suka kopi buatan Yu Sumi, janda penjual kopi di pertigaan pasar Siman.
“Siska pernah bilang kalau kita punya tabungan lebih, ada baiknya mencoba investasi di kripto Bang. Banyak orang mendadak kaya dari situ,” ucap Ayu yang duduk di dingklik kayu sebelah pintu. “Abang ingat Siska, kan? Teman SMA-ku dulu. Awalnya, banyak yang kasihan padanya. Masih muda, sudah jadi janda. Suaminya kabur sama perempuan lain. Tapi, eh tapi, mujur benar nasibnya Bang. Ya… itu, dia nyoba di kripto. Pas reuni kemarin, dia bawa Brio merah.”
Ayu menoleh ke dalam rumah, memastikan anaknya masih terlelap. Lalu, menatap wajah suaminya lagi, “Awalnya hanya buat nabung, Bang. Katanya biar aman. Kemudian, ada temannya yang menyarankan untuk ikut apa namanya itu…” jari telunjuk Ayu mengetuk-ngetuk pipi kiri, “Rebonding! Eh, apa namanya, pokoknya ada ing-ing-nya… Langsung deh, dia jadi tajir melintir kayak sekarang.”
Ridho paham betul maksudnya trading. Tetapi, alih-alih menanggapinya, Ridho mengembuskan napas panjang, lalu berkata, “Kamu sudah cek email lagi? Sudah tengah bulan, belum ada kabar dari penerbit.”
Wajah Ayu mendadak masam. Tidak berselang lama, terdengar tangis bayi. Ayu gegas bangkit sambil berteriak, “Eh, Mira…”
Percakapan semacam ini tidak pernah selesai. Mereka akan beku meratapi nasib. Ridho memang penulis dengan banyak buku yang masih beredar di toko-toko buku besar. Tetapi, mengandalkan royalti penjualan buku yang dikirim enam bulan sekali bukan ide bagus untuk bertahan hidup. Ia sudah mulai mendaftar menjadi guru di beberapa sekolah. Sayang, usianya telanjur kepala empat. Sekolah-sekolah hari ini lebih menyukai guru-guru muda yang melek aplikasi edit konten video. Bukan sekadar mengedit tulisan seperti yang sering dilakukan Ridho untuk pekerjaan sambilan. Sementara Ayu, terlalu nyaman menjadi ibu rumah tangga yang saban hari tak pernah lepas dari aplikasi TikTok. Sambil berangan-angan menjadi konten kreator Facebook Pro seperti ibu rumah tangga kebanyakan yang kerap ia saksikan.
Masalah sebenarnya bukan tentang investasi kripto. Ridho sudah lama membayangkan bisa mengamankan tabungan menjadi kepingan-kepingan emas antam. Bahkan Ridho pernah nekat mencicil dengan membeli emas digital di aplikasi pegadaian. Belum terkumpul 1 gram, Ridho harus mencairkannya lagi menjadi uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Ia pun sadar kalau tidak bisa menggantungkan hidup dari tulisan. Bisnis ini telanjur mati suri sejak lama. Belum lagi, banyak muncul penulis muda yang dianggap membawa angin segar di dunia yang kering pendapatan ini. Ia tentu pernah membayangkan dan berupaya menulis seserius mungkin agar novelnya bisa mencapai label best seller seperti teman angkatan kuliahnya dulu. Tetapi, otaknya kadung beku untuk beralih gaya menulis. Dan terus terpaku menggarap hal-hal serius yang berat bagi kebanyakan orang.
Usaha untuk beralih ke gaya populer pernah nekat dilakoninya. Dua draft novel jadi, lalu dikirimkan keduanya sekaligus ke dua penerbit berbeda. Jawaban dari masing-masing penerbit hampir sama. Editor mengatakan gaya ini bukan kekhasan Ridho, apalagi tema yang diangkat terlalu remeh temeh. Mereka tak mau mengambil risiko bertaruh dengan pasar.
***
Ridho mengambil bungkus rokok, lalu meremasnya. Ia merogoh saku celana, dipandanganya tiga lembar uang: wajah Frans Kaisiepo, Ratulangi, dan Cut Nyak Meutia yang selalu murung. Bisa beli satu bungkus rokok, gula dan kopi, batinnya. Ridho masih memandang wajah Cut Nyak Meutia, membandingkan dengan wajah Frans Kaisiepo dan Ratulangi. Frans Kaisiepo bungkam tanpa senyum. Sedangkan Ratulangi bibirnya serasa dipaksa tersenyum. Tersentak oleh suatu hal, Ridho bangkit. Membuka laci mejanya. Dari sekian wajah yang tersemat di pecahan uang di laci, hanya wajah Soekarno dan Hatta yang terlihat tersenyum lepas.
“Sialan!” gumamnya. “Mereka masih terjajah, hanya Soekarno dan Hatta yang merasa merdeka.” Ridho tersenyum satir.
Dilihatnya kembali wajah Cut Nyak Meutia. “Macam mana nasibmu? Menikah tiga kali, suami pertama jadi pengecut, kedua mati, ah… kasihan. Bahkan setelah dianggap pahlawan wajahmu tetap murung terus.”
Ridho duduk, mengangkat selembar uang seribuan ke atas. Ia sandarkan punggungnya ke kursi hingga terangkat dua kaki depan kursi tersebut. Ridho menerawang uang dan menerawang isi pikirannya sendiri. “Bahkan, untuk memilih pahlawan yang menjadi ikon uang saja, negara kita sangat patriarkis! Cih!”
“Untung saja, saya memilih kamu dibanding pahlawan lain untuk sedekah subuh. Kau dapat pahala jariyah,” Ridho terkekeh sendiri.
Terlalu hanyut dalam pikirannya, Ridho tersentak oleh teriakan Ayu, “Bang!”
Ridho kaget hingga hilang keseimbangan. Tubuhnya tersungkur ke depan, hingga kepalanya membentur meja. Meja pun bergetar membuat segelas air putih tumpah membasahi tumpukan buku.
“Duh, Abang gimana si? Malah ngelamun!”
Tanpa mengatakan apapun, Ridho menyelamatkan buku-buku yang basah. Lalu mengelap meja dengan ujung bajunya.
Kesal tidak ditanggapi, sekaligus tanpa rasa bersalah sedikitpun, Ayu menekan suaranya, “Bang! Ini lho…” sembari menggendong Mira, Ayu menunjukkan layar ponsel.
Ridho meraih ponsel dengan malas. Ia memandang pesan What’sApp dari Siska, lalu memandang wajah istrinya yang masam. Dua hal itu ia lakukan berkali-kali sampai istrinya heran dengan yang dilakukan suaminya.
“Bang! Kok diem aja! Itu lho, Siska mau pinjam uang?”
Ridho masih tercenung. Belum lama istrinya, ah, bahkan belum ada satu setengah jam yang lalu istrinya bercerita soal Siska yang tajir melintir, kini malah mau pinjam uang padanya. Pada keluarganya yang bahkan untuk beli kopi dan gula saja masih mempertimbangkan dua sampai tiga kali.
“Aku barusan tanya Fera, kasihan Bang, Si Siska ini. Fera cerita banyak, kalau Siska habis kena tipu aplikasi apa itu namanya…” Ayu merenung tidak sampai lima detik, lalu kembali berkata, “eceng-eceng atau apa gitu Bang.”
Aplikasi exchange, batin Ridho membenarkan. Tetapi, Ridho masih diam mematung melihat tingkah istrinya.
“Hanya satu juta Bang, katanya untuk bertahan hidup seminggu. Sambil nanti dia ngurus ke polisi atau ke mana gitu.”
Ridho mengerutkan dahi, berupaya menerjemahkan perkataan istrinya. Ia ingat Fera. Tiga orang ini memang berteman karib saat SMA. Tetapi, Ridho menganggap persahabatan mereka sama sekali tidak menguntungkan bagi keluarganya. Baik Fera maupun Siska lebih suka mengumbar kekayaan. Entah di media sosial atau bahkan ketika mereka bertiga bertemu. Apalagi, saat reuni terakhir. Siska bawa Brio merah, sedangkan Fera bawa Honda Jazz putih lengkap dengan suaminya yang diperkirakan sepuluh tahun lebih tua darinya.
Tidak berselang lama, Ridho membuka laci dan mengeluarkan wadah plastik berwarna bening. Ayu paham betul wadah itu berisi uang seribuan yang entah berjumlah berapa.
“Nah! Kan! Akhirnya, kau bisa membantu, Mutia.” Ridho memberikan wadah itu pada Ayu sambil terkekeh. “Berikan saja ini pada Siska ya!”
Ridho berlalu meninggalkan istrinya yang diam mematung. Tangan kanannya menggendong Mira, sedangkan tangan kirinya memegang wadah plastik itu. Ayu melihat suaminya berjalan keluar.
Tidak lama kemudian, Ridho melongokkan kepala dari muka pintu, “Oh ya! Jangan lupa sampaikan pada Siska, ngga perlu ngutang! Katakan saja, itu sedekah subuh kita!”***
Ponorogo, Oktober-Desember 2025
____________________
Sapta Arif. Menulis cerita pendek dan puisi. Buku terbarunya, kumpulan cerita Tanah Hayat dan Cinta Martina (JBS, 2026). Kenali lebih hangat melalui IG:@saptaarif.
