Cerpen

Istri Jenderal

Cerpen Moony Tan

Suara gemericik air yang menetes di kaleng terdengar dengan jelas, membangunkanku. Rupanya aku telah tertidur, namun aku tidak dapat melihat apa-apa. Sekelilingku gelap. Apakah aku buta? Ataukah aku berada di ruang gelap? Sementara di kakiku, seperti ada yang mengalir, terasa perih. Apakah itu darah? Lantai ruang ini becek. Aku tidak tahu, aku berada di ruang apa? 

“Tolong, tolong!” teriakku kencang. Aku mendengar suaraku menggema.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku disekap di ruang ini. Aku juga tidak ingat, peristiwa apa yang kualami, sehingga tangan dan kakiku harus diikat. Apa kesalahanku, hingga aku diperlakukan seperti ini? Tiba-tiba ada bunyi langkah kaki mendekat. Tampaknya lebih dari satu orang. Aku ketakutan dan badanku gemetar. Apakah mereka orang jahat ataukah orang yang akan menolongku?

Saat orang itu tiba, menyalakan lampu dan terbelalaklah mataku dan jeritanku mengagetkan mereka. “Tenang, tenang.” Seorang pemuda berpakaian polisi menghampiriku dan melepaskan ikatan tangan dan kakiku.

“Pak, kenapa saya berada di sini?”

“Sudah, kamu tidak ada waktu lagi. Kamu cepat pulang ke rumah orang tuamu.”

“Lantas, Bu Nani bagaimana?” tanyaku 

“Kamu cepat pulang, jangan banyak tanya. Nyawa kamu terancam,” jelas pemuda itu.

Aku cepat-cepat berjalan meski terseok-seok. Kendati kepalaku masih terasa sakit, kakiku perih dan memar, tapi aku paksakan diri untuk berjalan.

“Kau coba telepon ambulan.” Pemuda itu memberi instruksi pada salah seorang polisi.

“Siap inspektur,” kata salah seorang Bharatu.

Ketika mereka sedang sibuk mengurus jenazah Bu Nani, aku mengemas beberapa pakaian. Tanganku gemetaran, aku menangis melihat ibu terbujur kaku. Hatiku berkecamuk dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya.

“Istri Jenderal meninggal. Tolong jemput aku sekarang, Pak.” Aku menelpon bapakku.

Maksudmu, Bu Nani?”

“Iya, Pak.”

“Innalillahiwainnailaihirojiun. Nak, bukankah kamu harus tetap di sana.”

“Inspektur menyuruhku segera pulang malam ini, Pak. Bapak jemput aku ya. Aku ketakutan,” rengekku.

“Baiklah, kamu kemasi pakaian dulu. Setengah jam, bapak sampai di sana.”

“Kelamaan, Pak. Aku takut.” Aku menangis.

“Kalau begitu, pesan grab saja.”

“Baik, Pak. Bapak tunggu aku ya.”

“Baik, Nduk.”

***

“Ini bukan pertama kali. Kau sudah berulang kali bertemu suamiku. Kau tidak tahu malu. Berani-beraninya merebut suami orang.” Nani langsung memborbardil kata-kata ketika bertemu Maya, selingkuhan suaminya. 

“Heh, kau yang harusnya introspeksi. Aku tidak pernah mencari suamimu, dan tidak pernah mau merebut suami orang, justru suamimulah yang terus menerus mencariku,” kata Maya.

Aku  mulai ingat samar-samar pertengkaran Bu Nani dengan Maya, sosialita yang lagi naik daun.

“Saya beri kau kesempatan untuk tinggalkan suami saya. Kalau tidak, tahu rasa,” ancam Bu Nani. 

“Siapa yang mau dengan suamimu. Saya sudah menolak kedatangannya berulang kali, tapi dialah yang terus datang ke rumah saya.”

“Aduhh, kau sungguh keras kepala.” Tangan Bu Nani mencengkeram kerah baju Maya dan mencekik leher yang memakai kalung Mutiara berliontin berlian.

“Kau lihat, ini kalung pemberian Jenderal. Kau tidak punya, kan?” Tawa Maya mengejek.

“Persetan dengan semua itu.” Bu Nani langsung menarik kalung Maya dengan kencang, dan butiran mutiara itu berceceran di tanah.

“Apa ini? Kok ada serbuk putih di mutiara?” tanya Bu Nani heran sambil menjambak rambut Maya. 

Maya tertawa. Didoronglah tubuh Maya hingga jatuh ke belakang. Ketika aku mencoba melerai pertengkaran mereka, masuklah Jenderal Trisna, kepalaku dihantam benda berat, sehingga membuat aku pingsan.  Aku menceritakan semua kejadian itu kepada bapakku, ketika kepalaku sudah berangsur pulih dan mengingat kejadiannya. 

“Wah, kalau begitu kau harus bersaksi di pengadilan, Nduk,” kata bapakku.

“Tapi aku tidak ingat kejadian detailnya, Pak.”

“Ceritakanlah apa saja yang kau ingat.”

“Baik, Pak.”

***

Airbus A380 yang kunaiki memang salah satu jet pribadi termahal di dunia. Di dalam jet pribadi ini, selain memiliki ruang makan yang elegan, juga terdapat ruang konser, bar, ruang gimnastik dan ruang kantor cukup besar yang dilengkapi dengan perabotan mewah.

“Permisi, Bu Jenderal, ini juice kiwi dan timun pesanan, Ibu.” Seorang pramugari meletakkan minuman di atas meja.

“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum.

Sudah tiga tahun ini, aku menemani Jenderal Trisna bertugas. Orang memanggilku Bu Jenderal, tapi sebetulnya kami masih menikah siri. Itupun hanya ajudan dan orang terdekat yang tahu. Jenderal masih memakai surat nikah istri pertama, sehingga hanya orang-orang terdekat saja yang tahu bahwa aku hanyalah pengganti Bu Nani. Jika ada yang sampai membocorkan rahasia ini, maka nyawanya melayang. 

Jenderal Trisna tidak mau nikah sirinya terbongkar, hal yang bisa membuatnya menerima sanksi pemecatan, karena dianggap menurunkan kehormatan dan martabat Polri.

            Sepintas terlihat kehidupanku tampak diimpikan banyak gadis-gadis muda. Orang hanya melihat hidupku bak putri kerajaan, serba mewah, bergelimang harta, dihormati orang-orang, apalagi hidup bersama petinggi yang mempunyai kekuasaan. Apa yang kurang? Status sebagai istri Jenderal memiliki banyak keuntungan. Hidup di kalangan orang-orang tajir, yang memiliki uang tak berseri.

            Kenikmatan hidup yang diidamkan banyak orang terlihat terasa bahagia. Namun sesuatu yang terlihat, belum tentu sesuai dengan kenyataan. Setiap hari, hidupku dalam bahaya. Semua perintah Jenderal harus kuturuti, tidak boleh ada satu pun celah yang membuat Jenderal mencurigaiku. Itulah sebabnya, kemewahan yang kudapatkan itu senilai dengan nyawaku.

Entah bagaimana, saat ini degupan jantungku terasa kencang sekali. Meski aku berusaha duduk tenang di dalam pesawat, disertai juice Kiwi Mentimun, namun aku tidak dapat merasakan kenyamanan. Untuk meredakan dag dig dugku, aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ke kamar. Sewaktu aku melewati ruang rapat, di mana terlihat ada beberapa petinggi korps Bhayangkara, aku menjadi heran. Aku mendapat peringatan. “Maaf, Bu, tempat ini tidak boleh dilewati.” Salah seorang ajudan Jenderal menghalangi langkahku.

“Kenapa tidak boleh?” tanyaku memperpanjang waktu, berusaha untuk mendengar apa yang dirapatkan.

“Ini perintah Jenderal,” jawabnya singkat.

Aku diam saja, samar-samar aku menjadi terkejut, ketika mendengar nama Bu Nani disebutkan. Karena rasa penasaran, aku langsung melempar microdot tiny audio recorder ke karpet rapat. Microdot itu ukurannya hanya 12 mm saja. Warnanya hitam. Jadi nyaris tak terlihat oleh mata saat berada di atas karpet bulu cokelat gelap itu.

“Ok, baiklah.” Aku meninggalkan tempat itu dan langsung masuk ke kamarku. Di dalam kamar diam-diam kudengar semua pembicaraan di ruang rapat rahasia. Saat sedang asyik mendengarkan, tiba-tiba Jenderal Trisna memasuki kamarku dan mencabut ear phone yang kudengar.

“Apa ini? Kau tadi menguping ya!” Hardik Jenderal Trisna dengan suara kerasnya. “Kau tidak tahu diri. Berani-beraninya mematai-mataiku. Aku sudah memberi kehidupan serba mewah kepadamu, tapi kau tidak menghargaiku. Kau malah mencurigaiku.”

Aku menjadi gemetaran. Tidak kusangka tini recorder sekecil itu dapat diketahui Jenderal. Tanpa ampun lagi, Jenderal Trisna menghajarku.

“Ampun, Pak. Ampunnn.” Aku berusaha menutupi kepalaku agar tidak dipukul bertubi-tubi.

“Berhubung kau sudah mendengar pembicaraan rapat tadi, kau harus ikut ambil bagian.” Hardik Jenderal Trisna keras, membuat jantungku kembali berdegup lebih kencang.

“Mulai besok kau harus dieksekusi.”

“Ampun Jenderal. Jangan eksekusi saya.” Tangisku sambil memegang kakinya.

“Jika kau tidak mau dieksekusi, kau harus ikut mengeksekusi. Paham!”

Aku hanya bisa menangis. Malam itu malam yang mencekam. Aku tidak bisa menikmatinya dengan tenang, Aku tidak tahu, apa yang menjadi rencana Jenderal? Tapi sekilas tadi aku mendengar ada gudang yang dijadikan tempat penyimpanan narkotika jenis sabu-sabu.  

***

Selama perjalanan bersama supir, ajudan dan petinggi di dalam mobil, kami semua lebih banyak diam. Aku terlihat gugup dan terus meremas tanganku. Aku diberi sebuah pistol untuk mengeksekusi seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa yang akan dieksekusi.

Sejam yang lalu, aku ingin menelepon bapak, tapi aku dijaga ketat oleh salah seorang polisi. Ketika aku akan menelpon, polisi itu melarangku. Ketika aku melihat HP, tidak diperbolehkan. Aku tidak bisa apa-apa. Tapi aku tidak kekurangan akal, aku ketik nama bapakku, kemudian aku masukkan HP ke dalam saku celanaku dan jariku menelepon bapak diam-diam. Dari seberang sana, bapak bisa tahu, kalau aku tidak berbicara, itu artinya bapak tahu bahwa situasinya gawat.

Jadi saat ini pun, meski aku terlihat cemas, tapi aku merasa bapakku ada di sampingku. Beliau dapat mendengar semua pembicaraan yang ada di dalam mobil dan dapat mengetahui perjalananku menuju ke arah mana. Ketika sampai di tempat, aku di suruh Jenderal masuk duluan. “Kamu masuk ke rumah itu?”

            “Rumah siapa pak?” tanyaku heran.

            “Kamu akan tahu, setelah kamu berjumpa orangnya.”

            Aku melangkah perlahan-lahan dan mengetuk pintu rumah itu. “Assalamualaikum.” Tampak tak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi. “Spada.”

            “Sebentar.” Suara dari dalam terdengar dan langkah kaki.

            “Ibu.” Aku terkejut menyaksikan Bu Nani yang membuka pintu.

            Belum sempat Bu Nani menjawab, Jenderal Trisna langsung muncul di belakangku dan menodongkan pistol ke pinggangnya.

            “Pak, apa yang kau lakukan? Aku tidak mengganggu kehidupanmu. Aku juga tidak melapor kau telah menikah berapa kali.” Bu Nani terlihat cemas. Suaranya gemetaran.

            “Benarkah?” Jenderal Trisna mendekatkan wajahnya ke Bu Nani.

            “Iya pak. Jangan bunuh aku, Pak,” pinta Bu Nani.

            “Siapa yang akan membunuhmu? Saya tidak akan membunuhmu.” Suara Jenderal tertawa terkekeh. “Sinda,” panggil Jenderal dengan suara keras.

            “Siap, Pak,” sahutku.

            “Kau tembak dia,” perintah Jenderal.

            “Sekarang, Pak?”

            “Iya, tembak dia.”

            Tanganku gemetaran, tapi karena Jenderal terus menyuruhku, sehingga tanpa sadar aku menembak ke bagian pinggir dada Bu Nani.

Door….

“Maafkan aku, Bu.” Seraya menembak, aku langsung meminta maaf. Aku menangis tidak tega. Tanganku gemetaran, aku hanya menembak sekali saja.

            “Tembak lagi. Tembak. Tembak!” teriak Jenderal semakin keras.

            Terpaksa aku menembak lagi, tapi kutembak kakinya saja. Aku tidak berani menembak ke jantungnya, meski sudah pernah berlatih. Tidak berapa lama, beberapa anggota polisi datang. Jenderal Trisna melaporkan bahwa aku telah menembak Bu Nani, sehingga mereka memborgol tanganku. Mereka lantas membawaku ke mobil polisi dan memenjarakanku.

***

            “Nduk.” Bapakku menjengukku di kepolisian. “Bapak sudah mendengar semua peristiwa. Dan bapak sudah menyerahkan rekaman suara itu ke kepolisian. Kamu tenang saja. Kamu pasti bebas, Nak,” hibur bapak sambil mengelus kepalaku.

            “Pak, mereka mengintaiku terus.”

            “Bapak juga mengintaimu terus.” Bapak tersenyum.

            Aku tersenyum mendengar lelucon bapak, yang tampak sungguh-sungguh melindungiku.

            “Nduk, bapak tahu, ketika kau dipersunting Jenderal. Bapak sudah melobi beberapa petinggi Polri. Bapak sudah merasa, pasti ada yang tidak beres dengan Jenderal, tapi bapak takut jika menolak permintaan Jenderal menikah denganmu, maka nyawa bapak terancam. Maafkan bapak, Nduk.”

            “Bukan salah Bapak.”

            “Tapi kau hebat, Nduk. Kau akan menjadi saksi kejahatan yang dilakukan oleh Jenderal Trisna.”

            “Bapak yang hebat. Bapak sudah mempersiapkan rekaman semuanya. Aku yang harusnya berterima kasih kepada Bapak.”

            “Nduk, persidangan ini perlu waktu agak lama, karena harus mempersiapkan saksi-saksi.”

            “Gak apa-apa, Pak. Oiya, Pak, aku sempat ditawarin Jenderal uang 10 M, asalkan aku mau menembak mati Bu Nani, tapi aku gak mau. Aku hanya menembak pinggiran dada dan kaki saja pak.”

            “Iya, Bapak tahu. Kamu gak mungkin tega membunuh Bu Nani.”

            “Oiya, Bapak kok bisa kenal Bu Nani? Kenal dari mana?” tanyaku penasaran.

            Bapak hanya tersenyum, tidak menjelaskan, tapi aku memakluminya. Mungkin bapak merasa bersalah saat Jenderal meminta aku untuk bekerja di tempat Jenderal, sebagai gantinya bapakku.

            “Bapak yang menolong Bu Nani waktu sekarat itu. Dan bapak mencari rumah kost untuk ditempati Bu Nani.”

            “Ow pantas. Tapi kenapa Bapak tidak beritahu saya?”

            “Kalau bapak beritahumu, nanti Jenderal bisa tahu. Kan teleponmu disadap.”

            Kamipun tertawa bersama-sama.

***

            Barang bukti yang dibawa bapakku sudah diamankan oleh tim pengacara untuk dibawa ke persidangan. Hasil persidangan tidak semudah yang dibayangkan, meski ada barang bukti, Jenderal Trisna bisa berdalih. Ketika Bu Nani muncul di persidangan, beberapa petinggi menjadi ketakutan.

            Selama ini Bu Nani yang dikenal lembut, selalu melindungi kebusukan suaminya dengan mengatakan hal yang baik-baiknya saja. Jika ada yang mencurigai Jenderal Trisna mempunyai selingkuhan, atau menikah diam-diam, maka Bu Nani menutupi dengan cara menghajar selingkuhan suaminya. Bu Nani ingin menjaga harkat dan martabat suaminya.

Tapi melihat sifat suaminya semakin brutal dan ancamannya membuat Bu Nani gentar, maka dia melaporkan ke pimpinannya. Berharap Kepala Divisi Polri dapat menindaklanjuti pengaduan dirinya itu. Tapi malah dirinya terkena ancaman pembunuhan. Bu Nani berharap Institusi yang seharusnya punya peranan menegur dan memberi sanksi kepada anggota polri yang menyimpang, malah laporan itu berbalik menjadi senjata yang menghantam dirinya.

“Demi menikahi wanita itu, Jenderal tega membunuhku, Yang Mulia,” jawab Bu Nani.

“Lantas siapa yang menolong Bu Nani?” cecar Hakim Adi, sambil menatapnya tajam.

“Brigadir Lukas, Yang Mulia.”

“Siapa dia?”

“Beliau dulu ajudan saya.”

“Mengapa dia sudah tidak menjadi ajudan Anda?”

“Dia takut di bunuh Jenderal, Yang Mulia.”

“Mengapa dia takut dibunuh?”

“Karena beliau tahu permainan bisnis haram yang dijalankan suami saya. Juga mengetahui wanita-wanita selingkuhannya adalah salah satu pion bandar narkoba.”

Brigadir Lukas membocorkan rahasia pada Bu Nani tentang bisnis apa saja yang dijalani Jenderal, rencana jahat apa yang sedang direncanakan, serta dunia gangster yang dipimpinnya. Selain itu Jenderal Trisna menggunakan kekerasan di dalam menyelesaikan masalah yang mengganjal dirinya.

Meski Bu Nani tahu rahasia yang dibuka di persidangan akan membahayakan posisi suaminya seorang Jenderal, yang akan terkena sanksi pemecatan terkait kasus pembunuhan dirinya sebagai istri pertamanya, tapi Bu Nani tidak khawatir.  Baginya jabatan adalah amanah, yang tidak berarti jika dilumuri dengan darah orang-orang tak bersalah.

            Bu Nani juga bersaksi selama disiksa dan disekap di dalam gudang, Brigadir Lukas, yaitu bapakku, telah menolongnya. Awalnya Bu Nani dikiranya meninggal, karena kepalanya dihantam benda keras, tapi nyawanya terselamatkan. Berkat kesaksian Bu Nani dan bukti-bukti yang memberatkan, Jenderal Trisna dicopot jabatannya. Meski aku pernah menjadi istri Jenderal, tapi Bu Nani-lah istri Jenderal yang sejati. Beliaulah yang layak disebut Istri Jenderal. Kewibawaan dan keberanian Bu Nani mengungkap fakta kebusukan suaminya, mengantarkan dia sebagai wanita yang dikagumi orang-orang.  

“Yang Mulia, saya tahu, suami saya melakukan kejahatan terencana itu sebenarnya memiliki kerapuhan jiwanya. Saya tidak ingin menyakitinya tapi saya tidak bisa membiarkan kesalahan yang terus dilakukan. Mohon yang Mulia mengeksekusi dengan adil,” jelas Bu Nani.***

Curug, 7 Nopember 2022

____________________

Moony Tan. Seniman sejati, penuh semangat dan kreativitas. Ia mengekspresikan dirinya melalui tulisan, lukisan, fotografi, hingga desain. Pernah pula ia menorehkan jejak di panggung fashion show, mempersembahkan beberapa rancangan busana karyanya sendiri. Pernah juga menyutradarai  opera & teater comedi. Penyuka udara sejuk ini tengah menempuh studi sambil menyalurkan hobinya: traveling, fotografi, serta menjelajahi museum dan galeri seni. Bagi Moony, seni bukan sekadar hobi, melainkan napas yang menghidupkan kreativitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *