Cerpen

Di antara Nada-Nada yang Hilang

Cerpen Era Ari Astanto

Malam merayap perlahan, membalurkan kesenyapan di seluruh penjuru rumah. Dinding-dindingnya seperti menyimpan rahasia. Ada bayangan masa lalu yang enggan pergi. Ada sesuatu yang berbeda dalam keheningannya, seperti luka yang tetap menganga.

Aku duduk di sudut kamar, memandangi gitar ayah yang diam di sana. Dawai-dawainya dulu adalah sumber kehidupan bagi kami, mengalirkan melodi yang menenangkan, menaburkan cerah pada wajahku yang lelah setelah seharian di sekolah. Ayah akan duduk di kursi kayu itu. Jemarinya menari di atas gitar, sementara ibu sibuk di dapur, seringkali bersenandung mengikuti nada. Tapi sekarang, helai-helai dawai itu bisu. Rumah ini kehilangan suaranya. Kini hanya ada gelap yang merangkul kami dengan kesepian yang dingin, terasa seperti selalu malam.

“Ayah kapan pulang?” gumam pertanyaanku menggantung di udara tanpa jawaban.

Ibu masuk ke kamar tanpa bicara. Langkah kakinya berat, seperti menyeret beban tak kasat. Di wajahnya ada sesuatu yang tampak asing, sesuatu bersembunyi di balik tatapan matanya yang kerap kali kosong. Ia berdiri di ambang pintu, memandangku dengan penuh ketidakpastian. Ia duduk di tepi ranjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku menunggu. Tetapi, ibu tak kunjung bicara. Mungkin karena sudah terlalu lelah dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, atau mungkin karena kata-kata yang tersimpan di dadanya terlalu berat untuk diucapkan.

“Ayahmu tidak bisa memberi kita apa yang kita butuhkan,” gumamnya perlahan. Suaranya lirih, nyaris tenggelam di antara suara hujan di luar. “Dia terlalu sibuk dengan gitarnya, dengan buku-bukunya. Apa yang bisa kita makan dari nada-nada dan kata-kata?”

Aku menatapnya, bibirku ingin bergerak, tapi aku tak tahu apa yang harus dikatakan. Bagaimana mungkin aku menjelaskan kepada ibu bahwa bagi ayah, nada dan kata-kata adalah hidupnya? Bahwa, ketika ia duduk di kursi kayu itu dan mulai memainkan gitar, ia sedang berbicara dalam bahasa yang tak semua orang mengerti. Bahasa yang hanya dipahami oleh orang-orang yang hidup dari mimpi, yang percaya bahwa seni adalah sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan.

Tapi bagiku, ayah tak pernah mengabaikan kami. Ia menciptakan sesuatu—sesuatu yang tak bisa diukur dengan uang, tetapi memiliki makna yang dalam, sesuatu yang terasa nyata meski tak terlihat.

Semenjak kepergian ayah, rumah ini terasa makin asing. Setiap sudutnya seperti panggung kosong tanpa aktor, hanya bayangan-bayangan yang bergerak tanpa arah. Dulu, tawa dan canda memenuhi ruangan ini, menciptakan kehangatan di setiap incinya. Tapi sekarang, hanya tersisa hening yang perlahan menjelma sembilu.

Aku ingat malam itu, malam terakhir ketika ayah masih bersama kami. Ia duduk di kursi kayu itu, seperti biasa, memetik gitar dengan lembut. Ibu mendekat, berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat, wajahnya kaku seperti patung yang kehilangan ekspresinya.

“Berhenti memetik gitar itu, kita butuh uang, bukan lagu!” suara ibu meledak, seperti petir yang memecah keheningan malam.

Ayah menatap ibu, matanya yang tenang kini mulai menunjukkan retakan-retakan kecil, seperti kaca yang perlahan hancur.

“Apa kau tak sadar? Apa kau tak peduli pada kami?”

Ayah tidak membalas. Hanya diam, membiarkan petikan gitar terakhir menggantung di udara, lalu berhenti sepenuhnya.

“Musik ini takkan membuat kita kenyang, takkan membayar sewa rumah, takkan membuat hidup kita lebih baik!” Ibu terus berbicara, seolah ada badai yang bergolak di dalam dirinya, badai yang telah lama ia tahan dan kini meledak ke segala arah.

Aku hanya bisa mematung di sudut ruangan, menyaksikan pemandangan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Hatiku mencelos, seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak pernah bisa kembali.

Kini, setiap kali aku memandang gitar ayah yang diam di pojok kamar, aku merasakan kehilangan yang sulit diungkapkan. Seperti nada yang tak lagi bisa dimainkan, seperti lagu yang terputus di tengah-tengah, tanpa penyelesaian. Mungkin itulah yang dirasakan ayah, hidupnya adalah lagu yang belum selesai, tetapi dipaksa berhenti.

Aku tahu ayah tidak pernah menyerah. Meski ia harus pergi, ia tetap berkarya. Dari surat-surat yang ia kirimkan, aku tahu ia masih terus menulis, terus bermain musik di kafe-kafe kecil di pinggir kota, meski penontonnya hanya segelintir orang. Di dalam setiap kata yang ia tulis, aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam, tapi ia tutupi dengan kata-kata yang memintaku tetap tegar dan doa agar aku selalu dalam bahagia.

Tak ada cara lain bagi ayah selain dengan surat yang ia kirimkan ke sekolahku. Dulu, ayah memberiku ponsel, tapi disita ibu agar aku tak berkomunikasi dengan ayah.

“Aku tidak pernah meninggalkan kalian, Nak,” tulisnya dalam salah satu suratnya. “Aku hanya sedang mencari cara untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik. Musikku adalah caraku berbicara, dan tulisan-tulisanku adalah suaraku. Mungkin kau belum mengerti sekarang, tapi suatu hari nanti kau akan tahu bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang.”

Setiap kali surat dari ayah datang, aku akan membacanya di depan ibu. Awalnya, ia marah karena aku masih berkomunikasi dengan ayah. Tapi, aku tak peduli. Seiring waktu ibu mau mendengarkan meski dengan wajah datar, seolah kata-kata ayah tak berarti apa-apa. Tapi perlahan, aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Setiap kalimat dari ayah mulai meninggalkan jejak di matanya, meninggalkan bayangan yang tak bisa ia singkirkan.

Suatu malam, aku melihat ibu duduk di depan meja makan, memegang surat dari ayah dengan tangan gemetar. Air mata jatuh satu per satu ke atas kertas, menciptakan bercak-bercak seperti luka.

“Mungkin aku salah,” gumam ibu pelan, hampir seperti bisikan. “Mungkin aku terlalu keras pada ayahmu. Aku hanya ingin hidup yang lebih baik untuk kita, tapi mungkin aku lupa apa yang sebenarnya membuat hidup ini berharga.”

Aku mendekati ibu, mencoba memahami apa yang terjadi di dalam benaknya. Tangannya menggenggam surat itu begitu erat, seolah surat itu adalah satu-satunya hal yang bisa memberinya harapan.

“Mungkin kita tidak pernah benar-benar mengerti satu sama lain,” lanjutnya, suaranya tersendat oleh isak yang tertahan. “Aku terlalu takut pada kemiskinan, terlalu takut pada ketidakpastian, hingga aku melupakan cinta yang dulu menyatukan kami.”

Di sisi lain, aku tahu ayah tetap berusaha tegar. Meski hidupnya tak lagi bersama kami, ia tidak pernah benar-benar pergi. Setiap nada yang ia mainkan, setiap kata yang ia tulis, adalah cerminan dari cinta yang tak pernah hilang dan terus terpatri dalam ingatanku.

Aku ingat suatu malam, ketika aku akhirnya memutuskan untuk menemui ayah di tempatnya bekerja. Ia sedang tampil di sebuah kafe kecil, memainkan gitar dengan mata yang memejam. Suaranya lirih, tetapi setiap nada yang ia petik terasa begitu penuh makna. Aku melihatnya dari sudut remang, melihat ayah yang dulu kukenal, tapi dengan kesedihan yang lebih mendalam di wajahnya.

Saat pertunjukannya usai, aku berjalan mendekat. Ayah menoleh, bangkit, dan tersenyum kecil saat menyambutku. Tapi aku bisa melihat bayangan pilu di balik senyumnya.

“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanyanya, suaranya serak, seperti seseorang yang telah terlalu lama berbicara tanpa didengar.

“Aku rindu ayah,” jawabku pelan, menahan tangis yang selama ini kusembunyikan. Aku rindu malam-malam ayah membacakan cerita untukku, rindu saat-saat kami duduk bersama di ruang tamu, mendengarkan petikan gitar yang membuat segalanya terasa lebih baik.

Ayah mengangguk, lalu menatapku dengan mata yang penuh kehangatan, tapi juga kesedihan yang sulit dijelaskan. “Aku juga rindu kalian,” katanya sambil mengusap kepalaku beberapa jenak. “Kau tahu, Nak, rindu adalah satu-satunya cara kita bisa tetap dekat, meski berjauhan?”

Kami terdiam lama, hanya suara hujan di luar yang meningkahi kesunyian di antara kami. Aku ingin bertanya banyak hal, ingin tahu kenapa semua ini harus terjadi. Tapi dalam hening itu, aku menemukan jawabannya sendiri, bahwa cinta tak selalu berarti harus bersama. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan, tentang memberi ruang bagi yang lain untuk menemukan jalannya sendiri.

Ketika aku pulang malam itu, ibu menungguku di ruang tamu. Ia menatapku dengan mata yang bengkak, wajahnya pucat. Aku tahu, ia telah membaca surat terakhir dari ayah. Perlahan, ibu mengulurkan surat itu padaku, tangannya gemetar.

“Mungkin, kita bisa memulainya lagi,” suaranya hampir terseret angin, seolah-olah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan. Aku mengambil surat yang ibu ulurkan. Tangan ibu dingin, getarannya mencerminkan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Surat ayah singkat, lebih pendek dari biasanya. Isinya terasa seperti senandung pelan di malam yang hening, di antara harapan dan kenyataan yang kadang saling bertolak belakang.

Aku tidak akan pernah berhenti mencintai kalian. Mungkin aku tak pernah bisa memberi kehidupan yang kalian inginkan, tapi aku ingin kalian tahu, setiap nada yang aku mainkan, setiap kata yang aku tulis, semuanya untuk kalian. Jika ini memang jalannya, aku sangat berharap kalian menemukan kebahagiaan, dengan atau tanpaku.

Aku membaca surat itu berulang-ulang, setiap kalimatnya menorehkan perasaan pilu di hati. Saat aku menatap ibu, dia terisak. “Aku… aku tak pernah tahu dia merasakan ini,” gumamnya, suaranya putus-putus. “Aku pikir, selama ini dia tak peduli… aku pikir dia hanya mementingkan musiknya.”

Aku mendekat, duduk di samping ibu, tangan kami bersentuhan, saling menguatkan. “Ibu… mungkin kita tidak pernah benar-benar mengerti ayah,” kataku pelan, suaraku bergetar. “Tapi aku tahu dia selalu berusaha untuk kita, dengan caranya sendiri.”

Ibu terdiam, matanya kosong menatap ke depan, seolah sedang menembus dinding di hadapannya, mencari sesuatu yang tak bisa dia temukan. Aku bisa merasakan kecamuk dalam dirinya, kecamuk antara kemarahan yang telah lama dipendam, rasa kehilangan, dan penyesalan yang perlahan muncul ke permukaan. Dia telah terlalu lama hidup dalam ketakutan, dalam kekhawatiran yang menenggelamkan perasaan cinta yang dulu ada.

“Aku hanya ingin kita hidup lebih baik…” katanya lirih. “Aku ingin kalian punya masa depan yang cerah, bukan tenggelam dalam mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud.”

Aku paham kekhawatiran ibu, meski rasa marah dalam diriku belum sepenuhnya hilang. Tapi sekarang, saat melihat betapa rapuhnya ibu, aku mulai mengerti bahwa tak semua orang bisa memahami dunia seperti yang ayah lihat. Baginya, realita adalah sesuatu yang harus dihadapi, bukan diimpikan. Dia takut kehilangan kami, takut tersesat dalam dunia ayah yang tak bisa dia pahami.

Waktu berlalu pelan demi pelan, tapi luka kami masih terasa segar. Namun, sesuatu mulai berubah antara ibu dan aku. Percakapan kami kini lebih dalam, tidak lagi diselimuti kemarahan dan penolakan. Ibu mulai belajar mendengarkan, dan aku pun belajar memahami ketakutannya. Kami berdua mulai menerima bahwa cinta itu bisa berwujud dalam bentuk yang berbeda-beda meski kadang harus berkorban untuk bisa memahami wujud cinta yang lain.

Suatu hari, di pagi yang dingin dan kelabu, aku mendengar suara petikan gitar. Suara itu samar, tapi cukup untuk menghentikan langkahku. Aku berdiri di ambang pintu kamar ibu, mengintip dengan hati-hati. Di sana, duduk di kursi kayu yang biasanya ditempati ayah, kulihat ibu memegang gitar itu dengan kikuk.

Ia mencoba memainkan sebuah melodi, meski jari-jarinya kaku, seolah-olah ia baru pertama kali memegang gitar itu. Suaranya serak saat ia bersenandung kecil, dan ada kepedihan yang tergambar di wajahnya. Lagu yang ia coba mainkan adalah lagu favorit ayah, lagu yang dulu selalu ayah mainkan untuk kami.

Aku berdiri terpaku, dadaku terasa sesak melihat ibu yang selama ini menolak musik, kini mencoba merangkai kembali melodi yang hilang. Di balik air mantanya, ada kerinduan yang begitu dalam. Mungkin dia sadar, meski terlambat, bahwa nada-nada itu adalah bagian dari cinta yang pernah dia abaikan.

“Ibu…” suaraku menggantung. Aku berjalan mendekatinya, duduk di sebelahnya.

Ibu menatapku dengan mata yang merah dan bengkak, lalu tersenyum kecil, senyum yang getir. “Aku tidak pernah benar-benar mengerti dia,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Tapi sekarang, mungkin aku tahu kenapa dia tak pernah bisa melepaskan musiknya. Itu… adalah bagian dari dirinya.”

Aku mengangguk. “Ayah tak pernah berhenti mencintai kita, Bu. Dia hanya punya caranya sendiri untuk menunjukkan itu.”

Kami duduk berimpit di sana, di antara gitar yang senar-senarnya kini mulai bergetar lagi, membawa pulang melodi yang pernah hilang. Di luar, hujan turun dengan tenang, seolah mencoba menghibur hati yang selama ini penuh badai.***

____________________

Era Ari Astanto. Lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali. Telah menerbitkan beberapa novel. Novel terbarunya Sesepuh dan Sebuah Dukuh (Diomedia).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *