Kemunculan
buku ini di pengujung tampuk jabatan kementerian NKRI, cukuplah menjadi goresan
memorabilia. Tahun politik ini segera akan mengubahnya kembali. Isi buku tak begitu
istimewa, tetapi lentingan dan pijar pikir si perempuan Susi justru menjadi
bara bagi para perempuan di Indonesia. Kodrat perempuan tidak semata-mata
ditakdir menjadi babon yang kolot. Atau melulu menjadi pecundang di tengah
kemiskinan perempuan cerdas tanah air. Kinilah saat zaman perempuan melenting
menjadi jago.
Miskinnya
figur trengginas (visioner) di tanah air menggugah Presiden Jokowi jengah
mengolah bahari. Cap negara maritim adalah jemawa para pakar. Panen ikan
melimpah milik cukong dan tengkulak yang menjadi pecundang negara. Nelayan
tetap nelangsa. Kemelut ini menyulut insting Jokowi mengincar perempuan “beride
gila” Susi Pudjiastuti. Semula Susi kontroversi menjadi Menteri Kelautan dan
Perikanan.
“Pak
Jokowi, saya surprised, Bapak angkat
saya jadi menteri. Bapak kok percaya pada saya?” kata Susi.
“Ya,
saya memang butuh orang “gila” untuk melakukan terobosan. Saya senang cara
kerja Bu Susi dalam jam-jam pertama, membuka kesadaran publik tentang potensi
laut Indonesia yang dicuri asing. Saya yakin Bu Susi berkarakter melayani,
seperti sigap menggendong ibu yang sudah sepuh ini,” kata Jokowi seraya
mengunggah foto Susi ke medsos.
“Saya
terima pekerjaan ini, dengan pengalaman 33 tahun di perikanan dan 10 tahun di
penerbangan, mudah-mudahan membantu Indonesia menjadi lebih baik. Membangun
ekonomi mandiri dan menumbuhkan kebanggaan diri,” pungkas Susi (hlm 138).
“Kegilaan”
Susi bagi Jokowi adalah visinya yang out
of the box. Karakter ini gayut dengan gaung slogan: kerja, kerja, kerja!
“Ide gila”-nya menjadi fighting spirit,
kawah candradimuka inspiring woman, super
woman, atau wadona pinunjul yang
menyabet puluhan gelar penghargaan lokal, nasional, pun internasional. Susi
menjadi orang ketiga peraih gelar Doktor Honoris Causa dari ITS Surabaya
setelah Hermawan Kertajaya dan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.
Buku
ini menjadi bernas bagi generasi milenial yang sadar berpikir kritis dan tidak
dibuai gawai teknofil. Biarlah Rhenald Kasali atau Hermawan Kertajaya berkoar
tentang ancaman era disrupsi 4.0 yang serba digital dan melelahkan bibir.
Anutlah visioner Menteri Susi dari kecil, remaja, dewasa, muda, tua, hingga
ribuan tahun ke depan. Susi berani melakukan pilihan “gila” dan memimpikan hal
besar yang dinilai “gila” menurut segelintir pakar.
Filosofi
keheranan sebagai warisan buah kecerdasan dari filsafat Yunani seakan-akan
menaungi langkah Susi. Susi kecil hobi berdiri berlama-lama di tepi pantai
Pangandaran. Heran, kagum, takjub ia menatap laut lepas tanpa batas. Angan
melambung tinggi, ia membayangkan diri sebagai ratu penjaga laut dengan sekian
kapal selam yang bisa mengawasi rahasia alam di palung samudra. Ketika dewasa,
ia sungguh menguasai luasnya lautan dan dipercaya menjaganya (hlm 2).
Dari
SD, SMP, hingga kelas II SMA, Susi berprestasi. Ia jago berbahasa Inggris,
bahkan suka belajar bahasa Belanda. Kosakata dan dialog bahasa asing diperoleh
dari hobi membaca novel classic romance
seperti karya-karya William Shakespeare dan Agatha Christie. Ia haus literasi
seperti komik, majalah, seri filsafat, Mahabarata. Gilanya lagi sewaktu kelas
VI SD, ia sudah menyukai filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jusuf Muda
Dahlal, Frederich Engels, Das Kapital
Karl Max, Adam Smith, Il Principe-nya
Machiavelli pun dibacanya (hlm 44). Junilnya Susi ini diinisiasi teman sebangku
kelas I SMA, Dwikorita Karnawati, yang menjadi Guru Besar Teknik dan Longsoran
serta mantan rektor UGM.
Susi
remaja kukuh meninggalkan bangku kelas II SMA, padahal orangtuanya juragan
tajir. Susi membundel banyak impian. Berawal dari jatuh-bangun bakul ikan, ia
menjadi pengusaha sukses yang bisa mengekspor sendiri hasil tangkapannya.
Impian terbesarnya memiliki pesawat terbang sendiri untuk mengoperasikan
usahanya. Fakta mencatat, Susi sukses memiliki puluhan pesawat terbang perintis,
Cessna Caravan, dengan jenama Susi Air beserta sekolah penerbangan, Susi Flying School berdiri tahun 2008.
Ia sukses mengekspor hasil tangakapan lautnya dengan merek Susi Brand.
Susi
disindir tidak nasionalis. Nalarnya, dari 179 pilot, 175 pilotnya asing. Ia
beralibi cerdas, banyak pilot Indonesia lulusan terbaik tidak berminat gabung Susi Air. Mereka bermental feudal dan
gengsi. Mereka prestisius jika langsung memiloti Boeing Airbus. Mereka enggan terbang ke daerah-daerah pelosok
Indonesia. Pilot asing bervisi beda: Indonesia eksotis, Susi Air menjamin kesejahteraan lebih. Manajemennya banyak orang
asing. Butakah anak bangsa tercinta?
Hikmah
kesuksesan ini, Susi menjamin dengan resolusi kritis. Memimpikan hal besar
(yang menurut sebagian orang) dianggap “gila” dan tak mungkin terwujud bukanlah
sesuatu yang salah. Kesalahan terbesar justru jika kita hanya berhenti pada
mimpi tanpa mau berusaha mewujudkan impian. Pendidikan memang penting, tetapi
mengarungi hidup yang terpenting adalah integritas atau kejujuran dan dibarengi
sikap disiplin dalam segala hal (hlm 51).
Buku ini mengantar pembaca ke tapak-tapak Susi masa kecil, keberanian, jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan empati pada Indonesia. Misi-visi Susi: kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas; “jalasveva
jayamahe”, di laut kita jaya!***
Anton Suparyanta, alumnus FIB UGM, editor buku PT Intan Pariwara Klaten-Jateng
0 Komentar