Terjemahan

Si Pencuri Kuda (Bagian 2)

Anton Chekhov

Ketika lagu berhenti, Lyubka terhuyung dan jatuh ke dada Merik. Lelaki itu memeluknya erat, menatap matanya, dan berkata lembut—dengan nada main-main tapi mengandung sesuatu yang gelap: “Nanti aku akan tahu di mana ibumu menyembunyikan uang. Aku akan bunuh dia, bunuh kau, lalu kubakar penginapan ini. Orang-orang akan bilang kalian terbakar. Dengan uang itu aku akan ke Kuban, punya kuda dan domba, hidup bebas.”

Lyubka hanya memandangnya, setengah takut, setengah rindu.

“Apakah di Kuban indah, Merik?” katanya pelan.

Merik diam. Ia duduk di peti, menatap kosong, seolah sedang melihat padang rumput di jauh sana.

Kalashnikov berdiri, mengenakan mantel. “Aku harus pergi. Filya menunggu. Selamat malam, Lyuba.”

Yergunov ikut keluar untuk memastikan kudanya tak dibawa. Salju masih turun, tapi lebih lembut. Angin meniup reranting, membuatnya berderit seperti doa patah. Di balik pagar, dunia tampak penuh bayangan putih menari, seperti roh-roh yang kehilangan tubuh.

Kuda Kalashnikov lenyap di tengah kabut, dan Yergunov kembali ke dalam. Lyubka sedang merunduk di lantai, memunguti manik-manik yang berserakan. Merik sudah tak ada.

Yergunov berbaring di bangku, menatap tubuh Lyubka yang bergerak pelan di lantai.

“Andai Merik tak ada…” pikirnya. “Malam ini pasti berbeda.”

Lyubka berdiri, membawa manik-manik itu ke kamarnya. Lilin padam. Hanya lampu ikon yang masih berkelip, seperti mata malaikat yang menonton dosa manusia.

Yergunov memejamkan mata, tapi pikirannya tak tidur. Ia melihat Lyubka menari lagi—kali ini di dalam kepalanya sendiri.

“Oh, kalau setan mau menjemput Merik malam ini,” gumamnya, “aku akan berterima kasih.”

Malam menua perlahan, seperti arak yang kehilangan hangatnya. Yergunov tak tahu berapa lama ia tertidur di bangku. Kadang ia merasa masih mendengar derak api di tungku; kadang ia merasa dirinya sudah mati dan tubuhnya membeku di bawah salju.
Tiba-tiba pintu berderit. Seseorang masuk. Suara langkah berat. Asap tembakau memenuhi ruangan.

Dalam kegelapan, percikan kecil menyalakan pipanya—dan sejenak wajah Merik muncul: separuh terang, separuh hitam, noda gelap di pipinya seperti tanda kutuk.

Bau tembakau membuat tenggorokan Yergunov gatal.

“Tembakau busuk apa itu?” gumamnya, setengah marah. “Kau mau membuatku mati mual?”

“Campur bunga gandum,” jawab Merik tenang. “Baik untuk dada.”

Ia mengisap, meludah, lalu pergi lagi. Sunyi. Beberapa saat kemudian, cahaya lilin kembali menari di lorong. Merik muncul dengan mantel dan topi. Di belakangnya, Lyubka membawa lilin, wajahnya separuh tertelan gelap.

“Tinggallah malam ini, Merik,” katanya, suaranya lirih, seperti permintaan anak kecil yang tahu akan ditolak.

“Tidak, Lyuba. Aku ingin sedikit hiburan.”

“Kau tak punya kuda. Bagaimana kau akan pergi?”

Merik membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya. Lyubka tertawa di antara air mata.

“Dia sedang tidur, si bajingan sombong itu,” katanya pelan. “Pergilah cepat.”

Mereka berpelukan, mencium dengan tergesa—seolah tahu ciuman itu yang terakhir. Lalu Merik menghilang di pintu.

Yergunov mendadak sadar. Ia mendengar sesuatu di luar, derap langkah di salju. Jantungnya memukul rusuknya sendiri. Ia meraih pistol, bangkit, dan berlari ke lorong.

Lyubka berdiri di sana, membelakangi pintu, tubuhnya seperti bayangan api.
“Menjauh!” teriak Yergunov. “Aku mau melihat kudaku!”

Lyubka menatapnya dengan mata setengah redup, separuh nakal.
“Untuk apa melihat kuda, Tuan?” bisiknya. “Lihatlah aku saja.”

Ia menyentuh rantai di dada Yergunov, jemarinya dingin tapi gemetar seperti burung. “Kuncinya bagus,” katanya. “Beri aku.”

“Berikan jalan!” teriak Yergunov. “Dia akan pergi dengan kudaku, kau dengar?!”

Ia mendorongnya. Tapi Lyubka tetap di tempat, tangannya menahan palang pintu seperti besi hidup.

“Tidak akan,” katanya, napasnya berembus di wajahnya. “Merik tak akan mencurinya.”

“Lepas! Kau perempuan gila!”

Ia mendorong lebih keras. Bahunya menghantam bahu Lyubka. Tubuh mereka beradu, napas bertemu. Dan tiba-tiba, dari amarah tumbuh sesuatu lain: keinginan yang lebih panas daripada vodka.

Ia memeluknya. “Cukup, biarkan aku pergi,” katanya lagi, tapi suaranya sendiri terdengar seperti rayuan.

Lyubka tak menolak. Matanya berubah. Suaranya menurun menjadi desah.
“Tadi kau dengar aku bilang aku cinta Merik,” bisiknya. “Tapi hatiku tahu siapa yang benar-benar kucintai.”

Ia menyentuh kunci di rantai leher Yergunov sekali lagi. “Berikan ini padaku,” katanya pelan.

Yergunov menuruti tanpa sadar. Saat itu, wajah Lyubka tiba-tiba berubah: tatapannya jadi dingin, mata penuh perhitungan. Ia menegakkan tubuh, menajamkan telinga—seolah mendengar sesuatu di luar.

Dan sebelum Yergunov sempat berpikir, ia sudah mendorong perempuan itu ke samping, menyingkap pintu, dan berlari keluar.

Udara menggigit seperti pisau. Ia menyalakan korek, menyorot kandang. Tak ada kuda. Hanya seekor babi yang meringkuk di pojok, mendengus malas. Seekor sapi memukul kandang dengan tanduk. Dan anjing-anjing yang tadi menggonggong kini berlari mengelilinginya, menggigit udara, mengolok-oloknya.

Ia menembakkan pistol ke arah mereka. Sekali. Dua kali. Pelurunya meleset semua.
Lalu berlari ke pagar, menatap kegelapan. Tak ada apa pun selain salju yang berputar, membentuk wajah-wajah aneh—kadang wajah Lyubka, kadang Merik, kadang mayat kuda yang berlari tanpa kepala.

Ia menjerit, tapi suaranya tenggelam dalam angin.

Ketika kembali ke rumah, ia mendengar langkah tergesa dari dalam—seseorang menutup pintu kamar. Ia menendang. Terkunci. Ia menyalakan korek, menyusuri ruangan, dari dapur ke kamar kecil, hingga akhirnya menemukan Lyubka.

Perempuan itu berbaring di atas peti, tubuhnya diselimuti kain tambal warna-warni, seolah sedang tidur. Yergunov menatapnya dengan marah.

“Di mana kudaku?” katanya pelan, tapi suaranya menggigil.

Lyubka tak menjawab.

“Jangan berpura-pura tidur, pelacur kecil,” katanya. “Di mana kudaku?”

Ia menarik selimut itu. Lyubka bangun, menegakkan tubuh, memegangi pakaian yang robek di leher. Matanya menyala marah dan takut bersamaan.

“Pergi, binatang kotor!” bentaknya.

Yergunov menyeretnya dengan kasar. Kain di pundaknya robek. Ia ingin menakut-nakuti, tapi darahnya sudah terlalu panas untuk berhenti. Ia memeluknya—keras, buta. Tapi Lyubka, dengan tenaga yang lahir dari jijik dan amarah, menghantam kepalanya dengan kepalan tangan. Sekali. Lalu sekali lagi.

Dunia berputar. Kepalanya berdenging. Ia tersandar ke dinding, meraba darah di pelipisnya. Tak bisa berpikir, ia tersandung ke ruang depan, mengambil korek, menyalakan api satu per satu tanpa tujuan—seolah setiap nyala kecil bisa menenangkan malu dan rasa kalah.

Korek terakhir padam. Langit di luar mulai biru. Ayam berkokok. Yergunov mengenakan mantel, tapi pelana dan barang belanjaannya sudah tak ada. Tasnya kosong. Semua lenyap—mungkin bersama Merik.

Ia mengambil batang besi dari dapur untuk menakut-nakuti anjing, lalu keluar.
Salju sudah berhenti. Dunia tampak mati—putih dan sunyi, seperti surat kabar yang kehilangan berita. Di kejauhan, deretan hutan muda tampak biru.

Yergunov berjalan tanpa arah. Ia berpikir tentang apa yang akan dikatakan dokter kepadanya nanti: kehilangan kuda pinjaman, barang, dan harga diri sekaligus. Tapi semakin ia mencoba memikirkan alasan, semakin buyar semua. Yang tertinggal hanya wajah Lyubka, gerak rambutnya, bau kubis di kamarnya, dan suara tinjunya di pelipisnya.

Ia berhenti di bawah pohon birch, menancapkan batang besi ke salju, dan bersandar.

“Kenapa manusia harus seperti ini?” gumamnya. “Kenapa harus ada dokter, bawahan, pegawai, dan rakyat? Kenapa tidak cukup jadi manusia saja, seperti burung atau kuda? Mengapa kebebasan harus tampak seperti dosa?”

Ia menatap langit yang dingin dan tak menjawab.

“Kalau hidup cuma untuk bangun, makan, bekerja, tidur, lalu mati,” katanya pelan, “maka Merik benar. Yang berdosa justru mereka yang tak pernah hidup.”

Ia tertawa. Suaranya tenggelam di salju, dan tak ada yang tahu apakah itu tawa manusia, atau suara setan yang akhirnya merasa kasihan.

Musim-musim berputar seperti kuda tua di kandang sirkus: berjalan, berhenti, berjalan lagi. Setahun lebih telah lewat sejak malam itu. Yergunov tak lagi bekerja di rumah sakit. Ia dipecat—bukan karena kuda yang hilang, tapi karena nasib yang sudah bosan menunggu. Kini ia hidup di pinggiran, menggantungkan diri pada keajaiban yang tak datang-datang: menjadi buruh musiman, penagih obat keliling, peminum tetap di kedai Ryepino.

Malam itu, selepas Paskah, ia keluar dari kedai dengan langkah goyah. Angin musim semi meniup bau tanah basah dan bunga liar. Bintang-bintang menetes di langit seperti mata yang belum sempat menangis. Udara hangat—hangat yang menusuk, karena mengingatkannya pada malam dingin itu, pada Lyubka, pada kuda yang lenyap di salju.

Ia berjalan tanpa arah. Di hadapannya terbentang padang luas, terbuka seperti dada dunia. Angin berdesir, menyentuh rumput, dan entah kenapa Yergunov merasa seolah bumi baru saja disucikan.

Ia menatap langit, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, langit terasa tak berujung.

“Betapa besar dunia ini,” katanya dalam hati. “Tapi mengapa manusia mengisinya dengan aturan kecil?”

Ia teringat pada semua pembeda yang diciptakan manusia: antara yang mabuk dan yang sadar, yang berpangkat dan yang dipecat, yang kenyang dan yang lapar. Mengapa mereka yang berperut penuh tidur nyenyak di rumah, sementara yang kelaparan harus berjalan tanpa arah di malam begini? Ia menatap seekor burung melintas di langit.

 “Lihat,” katanya pada dirinya sendiri, “burung itu tak punya pekerjaan, tak punya gaji, tapi hidupnya penuh.”

Ia terus berjalan. Jauh di ufuk timur, ada cahaya merah bergetar, membentang seperti luka besar di langit. Api. Yergunov berhenti, mengernyit, lalu tertawa kecil—tawa yang dingin, seperti logam digesek batu.

Dua kereta melintas di jalan. Dalam salah satunya, seorang perempuan tertidur. Di kereta satunya, lelaki tua tanpa topi duduk, menatap api dari jauh.

“Pak tua,” sapa Yergunov, “api apa itu?”

“Penginapan Andrey Tchirikov,” jawab si tua. “Terbakar habis.”

Yergunov membeku. Nama itu mengguncangnya seperti gong di dada.
Ia menatap cahaya merah di langit. Di baliknya, ia bisa membayangkan rumah beratap jerami, dindingnya yang dulu hangat oleh lilin dan dosa, kini ambruk dalam kobaran api.
Ia membayangkan suara Lyubka—tawa kecilnya, tangannya yang dingin menyentuh rantai di dadanya.

Mungkin perempuan itu kini terbakar bersama ibunya. Mungkin Merik menepati janjinya: membunuh mereka, mencuri uang, lalu pergi ke Kuban, menunggang kuda bebas di padang rumput, tertawa seperti orang gila yang akhirnya dimenangkan takdir.

Yergunov menatap api itu lama sekali. Tak ada rasa sedih di wajahnya, hanya semacam iri yang aneh—iri kepada keberanian yang tak pernah ia miliki.
Ia berbalik, berjalan kembali ke arah kedai, tapi pikirannya tetap di langit timur, di warna merah yang menodai malam.

Di sepanjang jalan, rumah-rumah orang kaya berdiri sepi: pedagang besar, pandai besi, pemilik ternak. Setiap rumah punya pintu besi dan jendela tebal, seolah seluruh dunia harus dijaga dari keinginan. Dan di setiap langkah, Yergunov merasakan sesuatu tumbuh di dadanya—rasa yang belum pernah ia kenal: dorongan untuk mengambil, untuk mencuri, untuk merebut sedikit kebebasan yang selama ini hanya ditonton.

“Bagaimana rasanya,” pikirnya, “masuk ke rumah orang kaya itu, membungkam malam dengan napas sendiri, dan pergi membawa sesuatu—apa pun—yang bukan milikku?”

Ia menatap langit. Api di ufuk perlahan padam, tapi nyalanya berpindah ke dadanya sendiri.

Yergunov tahu ia bukan pahlawan, bukan penjahat. Ia hanya manusia yang terlambat mengerti bahwa kebebasan bukan soal hukum, tapi keberanian untuk melawan nasib.
Di dunia di mana para dokter menulis resep, para pelayan tunduk, dan para pencuri berkuda ke langit, siapa yang bisa mengklaim dirinya benar?

Ia berhenti di pinggir jalan, menatap gelap, lalu tersenyum samar.

“Mungkin,” katanya pada dirinya sendiri, “yang berdosa bukan mereka yang mencuri. Tapi mereka yang menolak kesempatan untuk hidup.”

Malam hening. Seekor burung melintas di atas kepala, sayapnya bergetar seperti helaian kertas terbakar.  Dan entah dari mana, suara tawa Lyubka terdengar di telinganya—pelan, menggoda, seperti dari dunia lain.

____________________

Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.

Cerpen

Sebelum Surga Jadi Gundul

Cerpen Indah Fai

Tidak ada yang mengajarinya—seperti saat dulu, orang-orang mengatakan padanya agar menggosok daki di lipatan selangkangan dengan batu kali yang permukaannya berpori, dan kemudian orang-orang itu juga mengajarinya agar cebok menggunakan tangan kiri, dan menyuap makanan dengan tangan kanan, dan mencucup remah-remah nasi di pucuk jemari hingga resik, sebab, kata mereka, itu merupakan sunnah nabi. Tidak seorang pun dari mereka memberitahunya, bagaimana ia sepatutnnya mengelak, ketika—sekarang—ibunya mengirim foto permohonan santunan perbaikan langgar disertai pesan:  Le, tahun ini kamu akan jadi donatur kehormatan lagi, kan? 

Ia mematikan ponsel itu. 

Orang-orang itu, dahulu, dengan suara lantang dan mimik penuh kesungguhan mengatakan, maka apabila ibumu memerintahkan padamu suatu hal lalu kamu berkata uf, berdosalah kamu, tertutuplah seluruh kebaikan dari timur dan barat untukmu hingga ibumu rela. 

Usianya tiga puluh sembilan dan belum sekalipun ia mengatakan uf, af, if, atau humph. Untuk ibunya ia mengatakan ya yang paling santun dalam tata krama berbahasa Jawa, njih, Bu, setiap saat, sejak ia kanak-kanak dan hingga kini, ketika uban semakin gemar bermain cilukba di kepalanya dan garis kerutan di sudut matanya bertambah tiga yang semula cuma ada dua. 

Ia menyalakan kembali ponselnya. Ada dua belas pesan dari sang ibu dan lima belas panggilan tak terjawab. Sebentar kemudian, ibunya kembali menelepon. 

Ia ragu-ragu. Namun, ia seakan melihat raut kecewa ibunya dari layar kecil yang menyala itu. 

Setelah dering ponselnya berhenti. Ia memutuskan untuk membuka aplikasi M-banking, menekan huruf, simbol, angka-angka, dan sandi. Lalu ia mendengar dering pemberitahuan singkat dan nyaring seperti suara seonggok sendok yang jatuh ke lantai. Suara itu membuat senyumnya tampak ringkih dan sedih. Uangnya baru saja berpindah ke rekening ibunya di desa. Tiga juta lima ratus ditambah enam ribu lima ratus rupiah sebagai tambahan biaya admin. 

Kenapa tidak memberitahunya kau di-PHK? 

Istrinya tak kalah murung, berkacak pinggang di hadapannya, merengut kepada jendela. 

Ponselnya berdering lagi. Itu nada pesan. Ibunya memfoto selembar kertas bertuliskan nama-nama donatur perbaikan langgar di desanya. Namanya berada di baris nomor dua, di bawah nama juragan jagal sapi. Juragan itu bersedekah lima juta lima ratus rupiah. Le, peringkatmu disalip Pak Sumitro. Tulis sang ibu di bawah gambar. Eman, Le. Padahal kurang sedikit. 

Aku akan memberitahu ibu. Tetapi bukan sekarang

Lelaki itu memberi istrinya penghiburan. Ia mengelus perut buncitnya dengan lembut. Ia tahu istrinya sedang kesal dan itu bukan sandiwara panggung, tetapi di seberang sana, ibunya juga sedang dongkol setengah mati pada juragan jagal sapi. Ia yakin ibunya belum siap mendengar kabar tak mengenakkan. 

Orang-orang itu, dahulu, mengatakan—jangan kau menyakiti hati ibumu sebab di telapak kakinya terbentang surga yang sejuk dan hijau. Ia tidak mau surga di kaki ibunya menjadi gersang dan tandus. Maka lelaki itu, demi memberi penghiburan kecil untuk sang ibu, mengetik pesan di ponsel, kelak ia akan menambah jumlah santunannya, setelah gajinya dibayarkan kantor. 

Maturnuwun, Le. Mugi-mugi rejekimu diparingi lancar. 

Ibunya menelepon lagi. Dua pekan kemudian.

Njih, Bu? 

Nanik–bulan depan kehamilannya sudah masuk tujuh bulan. Kapan dipitoni, Le? Tanggal satu bulan depan hari baik kata si Mbah. Kemarin Ibu ikut pitungan. 

Njih, Bu. 

Pulang, ya. Mitoninya di rumah. 

Njih, Bu. 

Le? 

Njih, Bu. 

Ini Ibu pulang kondangan dari piton-pitonnya menantunya Pak Ismail. Meriah. Ngundang kyai besar. Ada panggungnya, Le. 

Njih, Bu. 

Istrinya menggerutu. Upacara empat bulanan waktu itu, katanya, masih menyisakan utang di koperasi simpan pinjam. 

Biar kupikirkan, sahut suaminya, saat ia menyarankan agar acara tujuh bulanan nanti cukup dengan bersedekah nasi kotak ke tetangga dekat. 

Jawaban itu. Bukan seperti itu seharusnya lelaki itu menjawab. Istrinya menatap sangsi. 

Sisa tabungan ada berapa? Kata lelaki itu tanpa menoleh si perempuan. Ia enggan melihat mata yang bersedih dan marah itu. Ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan, sebab surga itu ada pada kaki ibunya—bukan pada wajah istrinya yang tidak ramah. 

Dua puluh lima juta dua ratus lima puluh ribu—jumlah keseluruhan uangnya ketika ia menumpang bus malam yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Ia menuju rumah bersama sang istri yang mendengkur halus di sisinya. Kepala perempuan itu bersandar di bahu kirinya sepanjang perjalanan. Tangannya kebas. Tulang punggungnya meronta menuntut rasa nyaman. Namun ia merasa malu membangunkan perempuan itu perkara bahu. 

Ia sedang membongkar isi koper ketika ibunya tiba-tiba menyibak gorden, menerobos ke dalam kamarnya, membuat sang istri yang semula bersila, segera menurunkan kakinya. Ia mengambil sikap duduk yang manis. Dua tangannya menumpang anggun pada paha. 

Ibunya membuka halaman buku yang sedari tadi ia apit di ketiak kanan. Kertasnya agak lecek, beberapa pojoknya menguning, menua. Matanya menelusuri deretan nama dengan pelan, membaca masa lalu.

Ini Bu Yatini, yang nyumbang satu kwintal beras waktu kamu sunat. Ini Pakdhe Lan, yang nyumbang kelapa dan pisang waktu empat bulanan jabang bayimu kemarin. Waktu kalian menikah dulu, beliau yang bayar uang rokok perewang. 

Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.

Mereka semua bakal datang kalau diundang. Tapi ya gitu… kalau enggak diundang, orang desa itu ingatnya seumur hidup.

Anak lelakinya diam. Sementara sang menantu menunduk, pura-pura sibuk melipat baju. 

Undang mereka, ya, Le. Selama Ibu masih bisa masak dan ngurusin dapur, Ibu pingin nunjukin kita ini orang yang nggak lupa utang budi.

Ia menepuk bahu anaknya. Kali ini tidak keras. Tangannya agak gemetar. Anak lelakinya menoleh pelan, lalu melihat: di balik nada tegas dan tubuh yang selalu kelihatan sigap itu, ada wajah yang mulai keriput dan mata yang seperti menyimpan cemas.

Kadang Ibu mikir, kalau nanti sudah nggak bisa ngapa-ngapain, orang-orang ini masih inget Ibu, tho?

Sang ibu  meremas bahu anaknya. Lelaki itu mengaduh. Tetapi suara itu, cuma ia sendiri yang dengar. 

Waktu mapati kemarin, balik kan modalmu, Le? 

Lelaki itu diam. 

Saat acara empat bulanannya rampung, dulu, sisa sembako setelah dibagikan kepada para perewang, perempuan itu tawarkan ke warung kelontong milik seorang cina peranakan,Tacik, begitu orang-orang di desa memanggilnya. 

Ibunya memberitahu, sebagian uangnya habis untuk menambal keperluan upacara jabang bayi lelaki itu. Saat itu bertepatan dengan waktu keberangkatannya dan sang istri ke kota rantau. 

Uang hasil jualan gula dan beras ini boleh buat bekal Ibu, Le? 

Begitu sang ibu mengakhiri keluh kesahnya. 

Di sisinya, sang istri mendelik. Perempuan itu berpesan agar memberitahu ibunya: mereka juga membutuhkan uang itu untuk menambal utang. Sungguh, ia ingin menyampaikan pesan itu kepada ibunya, tetapi, njih, bu—adalah tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sekali lagi. 

Ia mendapatkan pisuhan sepanjang perjalanan dari istrinya setelah adegan itu. Perempuan itu mogok bicara nyaris empat puluh lima hari, dan ketika ia telah mau bicara pendek-pendek dan ketus, sang ibu kembali menelepon, mengatakan tagihan listrik di kampung menunggak, menunggu dibayar. 

Njih, Bu. Kata suaminya. Sekali lagi. Maka perempuan itu tirakat, mencegah diri bicara selama berbulan-bulan. 

Maka—mengapa tak kau katakan saja kau di-PHK adalah suara pertamanya waktu itu, ketika sang mertua menyinggung nama Sumitro dan langgar di telepon. Saat mereka masih di kota rantau. Namun, suara itu keluar bagai ledakan dibuntuti pula denting kasar benda pecah belah yang menimpa lantai. 

Bilang pada ibumu, mengundang tiga puluh orang saja sudah cukup. Bisik istrinya, malam saat mereka duduk beralas tikar pandan di ruang tengah, membahas kesiapan upacara tujuh bulanan yang akan datang pekan depan. 

Lelaki itu merasakan cubitan menyakitkan di lengannya sebab tak kunjung menyahut. Ia menoleh sang istri yang matanya telah akan keluar dari wadahnya. Wajah itu, seperti rona malam yang mistis dan intens. 

Namun, apa ada yang lebih sakral selain air mata ibu yang menitik dari pelupuk, lalu jatuh sebagai pemantik yang membakar surga dan segala sesuatu? 

Maka, njih, bu, sekali lagi, adalah sahutan bakti yang keluar dari mulutnya ketika perempuan tua itu menyodorkan dua ratus nama tamu padanya. 

Pekan itu tiba. Ibunya menyambut para perewang dengan senyum sumringah dan berbangga. 

Dan lelaki itu, yang saban waktu disapa para perewang dengan kebanggaan yang mencolok, sedang berupaya setengah mati menghindari berpapasan dengan sang istri. Maka ia terjebak di bantaran kali, menjadi satu-satunya penonton dewasa bagi para perewang yang sedang membersihkan potongan daging dan ayam. 

Perempuan-perempuan itu mencerabut bulu dengan tangkas dengan tertawa-tawa, dan ayam-ayam yang terkulai itu tampak gundul dalam waktu singkat. Ia menyaksikan semua itu dengan kengerian yang tak terperi, seakan bulu-bulu itu adalah sisa tabungannya yang dicerabuti sang ibu. 

Ia—bak rasul yang diilhami wahyu—kemudian merasa perlu melakukan sesuatu agar tak bernasib persis seperti ayam-ayam mati itu. 

Kemudian tibalah hari itu. 

Seorang kyai kondang didatangkan untuk memberi ceramah dan berkat.Tamu-tamu undangan duduk santun dan sedikit gelisah di bawah naungan terob berwarna oranye sebab nyala kipas yang tidak bersungguh-sungguh. Penjaja makanan dan mainan berimpitan menggelar lapak di tepi jalan. Saat itu matahari cerah dan langit berwarna biru tanpa setitik pun noda putih. Pawang hujan kenamaan desa tetangga menyapu bersih awan di atasnya. Namun lelaki itu tidak di sana, memasang diri, menyambut para tamu. 

Sang istri menanyakan keberadaannya melalui obrolan ponsel. Semua juga tahu, betapa nada bicara perempuan itu menyiratkan kefrustasian yang nyata. Lelaki itu mengatakan terdesak sebuah urusan. Ia menjanjikan akan datang sesaat sebelum prosesi siraman dan pemecahan kelapa gading bergambar wayang Kamajaya dan Dewi Ratih, untuk menebak kelamin bakal bayinya. 

Ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia sedang memanen peluang, mendatangi sebuah masjid dan langgar-langgar di desa itu yang sedang lengang, mencungkil kotak-kotak amalnya, lalu memasukkan isinya ke dalam tas jinjing hitam. 

Semula ia malu. Setiap saat tanpa sengaja melihat kaligrafi bertuliskan lafaz Tuhan di dinding, ia akan menarik kembali tangannya. Ia merasa berdosa. Namun ia diburu waktu. Dan ia sudah berdiri di situ. Maka ia memantapkan niatnya, mendapatkan kembali haknya. 

Lalu ia melakukannya sambil memejamkan mata. 

Kepada Tuhan ia meminta ampun sebab niat menggandakan tabungannya di akhirat luruh begitu saja. Ia hanya sedang mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dengan begitu ia tidak perlu menjadi seperti ayam-ayam mati yang dikerubungi perewang pada saat itu, sementara di sisi lain, di bawah kaki sang ibu, surga itu tetap akan berwarna hijau dan menawan. Dan istrinya yang selalu mengkhawatirkan biaya persalinan akan merasa sedikit lega. 

Ia mengendap keluar dari pintu belakang setelah menguras isi kotak amal di langgar kelima, dekat rumahnya. Namun, mendadak tas jinjing yang katanya menampung haknya itu terjatuh, merosot dari gendongan, ketika ia melihat sosok perempuan dalam balutan kebaya ungu berdiri mematung di tengah gerbang, di bawah naungan rumpun bambu. Di sisinya, seorang penjaga langgar menganga, terpana oleh perbuatannya. 

Perut perempuan itu buncit. Riasan di wajahnya luntur oleh air mata. Di belakang mereka arak-arakan warga bergerak mendekat. Ia menoleh ke sekeliling. Ia mencari sosok itu. Ibu. Namun ia tak menemukannya. Di manakah surganya yang sejuk dan hijau itu berada? 

__________________

Indah Fai, Penulis kelahiran Banyuwangi, tinggal  bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Cerpennya disiarkan beberapa media daring dan cetak.  Mengikuti projek kebudayaan penulisan cerpen Singaraja Berkisah bersama penulis pemuda Bali lainnya pada 2023. Perempuan di Kaki Langit adalah kumpulan cerita pendeknya yang pertama di penghujung tahun ini. Seorang guru memberitahunya, belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan ia setuju. Kini ia berupaya terus-menerus meskipun banyak gagalnya.

Ragam

PINJAM BUKU LAGI

Oleh Ferdi

“Kak, mau pinjam buku lagi.” Itu Syanun yang berbicara. Bersamanya, perempuan lain yang ingin meminjam buku Bandit-Bandit Berkelas yang ditulis oleh Tere Liye.

Mereka berdua masih kelas IX. Atau, mungkin sebaiknya kukatakan sudah kelas IX. Mengingat tak lama lagi mereka lulus dan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

Aku selalu berpikir bahwa mereka lebih beruntung dariku. Dalam hal ini, mereka bisa membaca buku sampai halaman terakhir sejak SMP. Bagiku, kali pertama saat itu adalah tahun pertama berseragam putih-abu-abu.

Buku pertamaku pun bukan pinjaman dari perpustakaan sekolah, tetapi dari teman kelas. Seingatku, tak ada buku bacaan di perpustakaan sekolah. Memang, meski dibaca juga, aku yakin buku pelajaran yang digunakan guru sebagai bahan ajar di kelas tidak dikategorikan sebagai buku bacaan.

Coba bayangkan, siapakah gerangan yang mau baca buku Pendidikan Pancasila kelas IX ketika sedang duduk santai di warkop, ditemani es kopi susu, ketika langit sedang merona merah-jingga di atas sana? Aku jelas tak mau!

Meski begitu, aku memang mengenal seseorang yang keranjingan buku pelajaran cap Orde Baru, Orde Lama, hingga yang lebih awal dari itu. Ia terus mencari dan memungut buku-buku seperti itu di toko-toko buku bekas di Gladag, Solo.

Temanku itu pun tak henti-hentinya menjadikan buku-buku pelajaran berusia paruh baya itu tulisan-tulisan. Tak lama lagi, kukira, akan genap satu juta resensi dan esai yang ia tuliskan tentang dan dari buku-buku pelajaran tua.

Kutegaskan: orang itu adalah pengecualian. Tentu saja. Dia bukan orang normal yang menganggap buku pelajaran hanya berarti sepanjang pemiliknya belajar di sekolah. Yang kalau sudah lulus bisa dihibahkan ke orang lain atau ditimbang demi uang.

Dengan begitu, sebagai orang normal, Syanun datang ke perpustakaan sekolah pada hari ini, Senin, 27 Oktober 2025, bukan untuk meminjam buku Pendidikan Al Islam kelas IX. Namun, ia ingin meminjam lagi buku Re: dan Perempuan garapan Maman Suherman. Katanya, ia belum khatam. Maka, dengan senang hati, buku itu kupinjamkan lagi padanya.

___________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju

Terjemahan

Si Pencuri Kuda (Bagian 1)

Anton Chekhov

Salju turun seperti kutukan yang lupa berhenti. Langit mengembuskan napas panjang, dan dunia pun membeku di bawahnya. Seorang lelaki—Yergunov, asisten rumah sakit, pemabuk dan pembual yang disegani hanya oleh kesepiannya sendiri—berusaha menembus badai. Dokter meminjamkan padanya kuda terbaik, kuda yang katanya bisa menembus malam tanpa tersesat. Tapi kuda, sebaik apa pun, tetaplah makhluk yang butuh arah. Dan malam itu, jalan lenyap ditelan putih.

Mula-mula hari tenang. Lalu sekitar pukul delapan, angin datang seperti roh jahat yang menyalak dari segala arah. Salju memutar, menggigit kulit. Yergunov tak tahu ke mana harus pergi—tak tahu cara mengemudi, tak tahu jalan pulang. Ia hanya berharap kuda tahu arah sendiri, seperti manusia berharap hidup bisa berjalan tanpa keputusan. Dua jam berlalu. Kuda kelelahan. Napasnya mengembun seperti jiwa yang putus asa. Sementara Yergunov, beku dari kepala hingga lutut, mulai merasa bahwa ia tak sedang menuju rumah, melainkan kembali ke masa lalunya sendiri.

Tiba-tiba, di sela jeritan badai, terdengar suara anjing. Samar, jauh, seolah datang dari dunia yang lain. Lalu tampak cahaya merah di tengah kabut—sebuah noda hangat di dada malam. Sedikit demi sedikit, bayangan pagar tinggi tampak, di atasnya deretan paku runcing berkilau seperti gigi iblis. Di balik pagar, tampak sumur tua dengan kerekan yang miring. Dan di balik itu, muncul rumah beratap jerami, kecil, miring, dengan tiga jendela. Satu jendela memantulkan cahaya merah dari dalam, seperti mata yang tak mau tidur.

“Tempat macam apa ini?” gumam Yergunov, menggigil.

Ia mengingat: di sisi kanan jalan, kira-kira empat mil dari rumah sakit, ada kedai milik Andrey Tchirikov—lelaki yang mati dibunuh para kusir mabuk. Setelah kematiannya, kedai itu dijaga oleh janda tua dan anak gadisnya, Lyubka. Dulu, dua tahun lalu, gadis itu pernah jadi pasien di rumah sakitnya. Orang-orang bilang kedai itu sarang pencuri dan pembunuh, tapi malam dan salju tidak memberi pilihan lain.

Yergunov mencari pistolnya di tas, menegakkan tubuh, dan mengetuk jendela dengan gagang cambuk. “Hey! Siapa di dalam? Hei, nenek! Bukalah! Aku ingin menghangatkan tubuhku!”

Tiba-tiba, dari bawah kaki kuda, muncul seekor anjing hitam, lalu putih, lalu hitam lagi—belasan ekor, menggonggong gila seperti makhluk neraka yang lapar. Yergunov menebaskan cambuk, memukul satu, dua kali. Seekor anak anjing kurus melolong, nyaring, seperti suara manusia yang diseret ke alam lain.

Ia terus mengetuk jendela. Lama. Lalu akhirnya, salju di dahan pohon di dekat rumah berpendar merah. Dari dalam, muncullah sosok perempuan membawa lentera.

“Biarkan aku masuk, nenek,” kata Yergunov. “Aku tersesat. Tuhan saksi betapa jahat cuaca malam ini. Aku orang baik, jangan takut.”

Suara perempuan itu kaku, dingin: “Semua orang baik sedang di rumah. Tak ada yang memanggil orang asing di sini. Dan pintu pagar itu tak dikunci.”

Yergunov masuk ke halaman. Kuda berhenti di dekat tangga. “Suruh buruhmu urus kudaku, nenek,” katanya.

“Aku bukan nenek,” jawab suara itu, dan lentera menyorot wajah muda: alis hitam, kulit pucat, bibir keras—Lyubka.

“Para buruh mabuk atau sedang ke Ryepino,” katanya sambil berjalan mendahului. “Hari ini libur.”

Yergunov menuntun kudanya ke gudang. Dalam kegelapan, ia mendengar ringkikan kuda lain. Ia meraba pelana: pelana Cossack. Ada orang lain di rumah ini. Ia pun membawa masuk belanjaan dan pelananya sendiri—jaga-jaga.

Ruangan pertama hangat seperti rahim. Lantainya basah—baru dipel. Bau arak dan asap menempel di udara. Di bawah ikon suci, duduk seorang lelaki berwajah keras, berjanggut pirang, mengenakan kemeja biru tua. Ia memandang gambar dalam buku usang dengan mata tajam dan tak percaya. Di dekat tungku, seorang lain terbaring berselimut kulit domba, hanya sepasang sepatu barunya yang tampak, basah oleh salju.

Yergunov mengenali lelaki itu: Kalashnikov, pencuri kuda terkenal dari Bogalyovka, lelaki yang hidup dari dosa seperti petani lain hidup dari tanah. “Heh, cuaca,” sapa Yergunov, menggosok lututnya. “Salju sudah sampai leher. Aku nyaris mati beku, sumpah. Bahkan pistolku ikut membeku.”

Ia mengeluarkan revolver, memeriksanya, lalu mengembalikannya ke tas. Kalashnikov tidak peduli, tetap membaca.

“Kalau bukan karena anjing di sini,” lanjut Yergunov, “mungkin aku sudah jadi mayat es di jalan.”

“Perempuan tua ke Ryepino,” jawab Kalashnikov datar. “Anaknya sedang menyiapkan makan malam.”

Keheningan menebal. Angin menyalak di cerobong. Bau kayu terbakar. Dari luar, lolongan anjing makin panjang, seperti doa yang tak pernah didengar Tuhan.

Yergunov menggigil, pura-pura sibuk meniup tangannya. Ia bertanya pelan, “Kau dari Bogalyovka, kan?”

“Ya.”

Maka dalam diam itu, pikirannya melayang ke desa itu—Bogalyovka yang terletak di lembah gelap, di mana bulan tampak tergantung di ujung dunia. Desa pencuri kuda dan pemetik ceri, tempat perempuan duduk di depan rumah sepanjang siang, mencari kutu di kepala satu sama lain, tertawa tanpa alasan, sementara lelaki mereka berkeliaran seperti bayangan.

Dan kemudian, langkah lembut terdengar. Lyubka masuk dengan kaki telanjang, mengenakan gaun merah. Ia berjalan pelan-pelan, seperti air yang tahu kemana harus jatuh. Kakinya menyentuh lantai dingin yang basah; ia sengaja menanggalkan sepatu, karena suka mendengar bunyi kulitnya sendiri.

Kalashnikov tertawa kecil, memanggilnya dengan jari. Ia menunjukkan gambar Nabi Elia terbang ke langit dengan tiga ekor kuda. Lyubka menunduk di sampingnya, rambutnya—panjang dan cokelat—jatuh ke lantai. Mereka berdua tertawa, seolah dunia di luar tidak sedang tertelan badai.

“Gambar yang indah,” kata Kalashnikov. “Indah,” bisik Lyubka, matanya memantulkan cahaya lilin.

Angin meraung di tungku. Kayu berderak. Dari celah dinding, terdengar suara seperti hewan dicekik.

“Roh jahat berkeliaran,” kata Lyubka sambil menyilangkan tangan di dada.

“Itu cuma angin,” balas Kalashnikov. Lalu menatap Yergunov.

“Kau orang berilmu, Osip Vassilyitch. Menurutmu, ada setan di dunia ini?”

Yergunov mengangkat bahu. “Kalau pakai ilmu, tidak ada. Tapi kalau pakai hidup, tentu ada. Aku pernah melihatnya.”

Mata Kalashnikov menyipit. “Di mana?”

“Di dekat jurang Zmeinoy, tahun lalu,” kata Yergunov. “Ia menghentikan kudaku, menatap mataku, lalu berkata: ‘Vaksinasi aku.’ Aku lakukan. Setelah itu, pisaunya berkarat.”

Dari dekat tungku, lelaki yang tadi berbaring bangkit. Rambutnya hitam, wajahnya gelap seperti jelaga, dan di pipi kanannya ada noda bulat seperti luka lama. Ia tersenyum dingin.

“Ya, aku memang memegang tali kiri kudamu,” katanya. “Tapi soal cacar, kau bohong, tuan.”

Yergunov menatapnya, tercekat. Dunia tiba-tiba mengecil menjadi satu napas dingin.

Nama lelaki berwajah hitam itu Merik. Dan ketika ia duduk di samping Kalashnikov, aroma asap dan logam terasa berubah—seolah udara kehilangan keperawanannya.

Lyubka menata meja: bacon asin, acar mentimun, daging rebus yang sudah dingin, dan wajan berisi kubis tumis bercampur sosis. Dari botol kristal, vodka mengalir ke gelas-gelas kecil, dan seisi ruangan langsung berbau kulit jeruk dan dosa.

Yergunov ingin bicara, ingin disambut sebagai kawan seperjamuan, tapi dua lelaki itu bicara tanpa menoleh padanya. Ia seperti hantu yang tak diundang. Ia ingin bercakap, tapi hanya kesunyian yang menatap balik.

Lyubka mondar-mandir, menaruh piring, menunduk, tersenyum sekilas. Setiap kali lewat dekat Yergunov, bahunya yang telanjang menyentuh pundaknya. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat darah di kepalanya berdegup seperti genderang perang.

Ia minum segelas. Lalu segelas lagi. Tubuhnya menghangat, lidahnya mulai ingin bersuara.

“Kalian orang Bogalyovka memang hebat,” katanya, berusaha ramah. “Ahli kuda, ahli  mencuri.”

Kalashnikov mengangkat alis. “Hebat? Tak ada yang hebat di sana. Cuma maling dan pemabuk.”

Merik menatap api. “Mereka sudah punah,” katanya. “Sekarang cuma ada Filya si buta. Itu pun tinggal satu mata.”

Kalashnikov mengangguk. “Ya. Dulu, polisi kalau lihat dia selalu berteriak, ‘Hei, Shamil!’ Semua orang tahu dia. Tapi sekarang, cuma ‘Filya Si Satu Mata’. Dulu ia pernah mencuri sembilan kuda dari barak tentara dalam satu malam. Kini tak bisa melihat kudanya sendiri. Dunia berubah jadi lelucon yang pahit.”

Lyubka tersenyum, menggigit bibir. “Tapi Merik tak kalah dari mereka,” katanya, nakal.

“Merik bukan orang kami,” ujar Kalashnikov. “Dia dari Mizhiritch, dekat Harkov. Tapi ya, dia lelaki berani. Setidaknya belum takut mati.”

Lyubka memandang Merik lama, matanya seperti bara yang tahu ke mana akan jatuh.
“Tidak sia-sia mereka dulu mencelupmu ke air es, Merik,” katanya menggoda.

Yergunov menatap, ingin tahu. “Air es?”

Merik tertawa pendek. “Begini ceritanya,” katanya, menyulut pipa. “Filya mencuri tiga kuda dari penyewa tanah di Samoylenka. Tapi mereka pikir aku pelakunya. Tiga puluh orang Molokan menjerat tanganku di pasar. Mereka bilang, ‘Kami tunjukkan padamu kuda baru kami.’ Aku dibawa ke sungai. Di sana mereka potong dua lubang di es, tujuh langkah jaraknya. Mereka masukkan tongkat panjang di bawah es, dengan tali di ujungnya. Mereka ikat tali itu di bawah ketiakku. Lalu—dor!—aku dicemplungkan di lubang pertama, diseret di bawah es, dan diseret keluar di lubang kedua.”

Lyubka menutup mulutnya, ngeri. “Beku, rasanya seperti surga yang membalas,” lanjut Merik. “Tubuhku kaku. Tapi mereka belum puas. Mereka memukuli lutut dan sikuku dengan tongkat sampai aku tak bisa berdiri. Lalu pergi, meninggalkanku di salju. Untung ada perempuan lewat, menjemputku. Kalau tidak, mungkin aku tak sempat menyesal.”

Yergunov menelan ludah. Vodka terasa getir. Ia ingin mengatakan sesuatu yang membuat mereka kagum, agar tak lagi dianggap beku di pojok ruangan. Maka ia mulai bercerita, dengan mulut yang mulai berat karena alkohol.

“Kalau kalian tahu apa yang pernah kualami di Penza—” katanya. Tapi suaranya tenggelam. Kalashnikov dan Merik tak mendengar, atau pura-pura tak peduli.

Mereka bicara lagi, tapi kali ini tak hati-hati. Mereka bicara tentang pencurian, tentang pelarian, tentang malam yang menelan kuda dan manusia seperti lumpur. Yergunov mengerti: ia sedang makan malam bersama dua pencuri, mungkin pembunuh. Tapi anehnya, ia tak takut. Ia hanya merasa iri.

Lalu Lyubka datang lagi, membawa dua botol anggur manis, sepinggan kacang dan biji labu. Ia duduk, menyalakan lilin baru. Cahaya lilin bergetar di pipinya. Kalashnikov mengangkat gelas, bersulang.

“Untuk Andrey Grigoritch, ayah Lyuba,” katanya. “Semoga arwahnya tenang. Dulu, kalau dia masih hidup, kita berkumpul di sini, dengan Filya, Martin, Fyodor. Malam-malam kita penuh tawa. Sekarang, hanya bayangannya yang tersisa.”

Lyubka keluar sebentar. Ketika kembali, ia mengenakan kerudung hijau dan kalung manik-manik berkilau. “Lihat, Merik,” katanya sambil menatap cermin kecil di dinding, “ini pemberian Kalashnikov hari ini.”

Ia menggeleng-gelengkan kepala agar manik-maniknya berderak, lalu membuka peti, mengeluarkan gaun bermotif bunga, syal biru tua berkilau benang emas. Setiap benda ia tunjukkan seperti anak kecil memamerkan mainan.

Kalashnikov memetik balalaika. Senarnya mengaduk udara dengan nada yang tak jelas: setengah gembira, setengah duka. Lalu Merik berdiri. Ia mulai menari. Tumitnya mengetuk lantai, cepat dan keras. Ia melompat, memutar, menekuk lututnya hingga tampak seperti setan kecil yang siap terbang.

Lyubka berseru kecil, ikut menari. Gaunnya yang merah berputar, seperti api yang lupa padam. Rambutnya terurai, memantulkan cahaya lilin. Mereka menari seperti dua nyala lilin yang saling menjilat.

Yergunov, yang setengah mabuk, menatap dari pojok ruangan. “Perempuan itu seperti api,” pikirnya. “Untuknya, seluruh dunia pun bisa terbakar.”

Ia ingin ikut berdiri, ingin ikut menari, tapi tubuhnya tak berani. Ia hanya duduk di atas peti, menatap Lyubka yang menari seperti roh dari legenda lama—seolah tubuhnya bukan daging, melainkan nyanyian. BERSAMBUNG

____________________

Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.

Cerpen

Kembang Api di Atas Kota Kosong Menyedihkan

Cerpen Titi Setiyoningsih

Perempuan itu menelepon tepat satu minggu setelah foto pertunanganku terunggah di Instagram. Setelah lima tahun kami menjaga jarak dengan cara yang sopan, kini dia ingin bertemu denganku.  Aku sebetulnya enggan tapi penasaran setengah mati. Pasti hal luar biasa telah terjadi. Layaknya setiap pertemuan yang dipaksakan terjadi, kami canggung berbasa-basi. Dia menanyakan bisnis toko buku yang kukelola, mengucapkan selamat atas buku terbaruku yang sebetulnya sudah setengah tahun lalu release.

“Tiga hari yang lalu aku datang kemari,” katanya kikuk. “Tapi kulihat kamu sangat sibuk dengan para pelangganmu.”

Aku berusaha terlihat kaget. “Oh ya? Seharusnya kamu menyapaku saja.” Ini baru permulaan dan aku mulai kelelahan. Jelas-jelas dia sering mampir ke toko ini. Para karyawan yang mengatakannya. Perempuan ini selalu datang dengan raut gelisah, kebingungan, dan tak pernah membeli apa pun. Seolah dia tersesat, terkejut mendapati dirinya di toko buku dan bukan di butik baju.

Dia berusaha membuka obrolan lagi, kali ini tentang kekagumannya pada tulisanku. Aku sudah tak tahan. “Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?”

Wajahnya yang ramah kini berubah tegang dan putus asa. “Tidak, aku sangat kacau. Seharusnya aku tidak kemari,” dia hendak berdiri dan spontan ku tarik tangannya. Aku mengajaknya ke atap lantai tiga.

“Cuma ada kita berdua,” kataku mencoba menenangkan. Dia memunggungiku menatap lalu lintas di bawah sana. Kunyalakan sebatang rokok dan mulai mengisapnya perlahan. “Masih merokok?” tanyaku menawarkan sebatang padanya.

“Kent masih mencintaimu,” ujarnya spontan.

Kuisap lagi rokokku dalam-dalam. “Tidak, dia tidak pernah mencintaiku.”

“Dia masih membicarakanmu di belakangku,” perempuan itu berbalik dan menerima tawaran rokokku. Kami menyemburkan asap rokok bergantian. Di trotoar sana seekor kucing rupanya berhasil menggondol ikan dari dapur restoran.

“Kupikir kucing itu sudah mati,” gumamku.  Angin di atap gedung mulai mengibarkan rambut kami berdua. “Ngomong-ngomong aku bukan kucing itu. Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku.”

“Aku tahu. Aku ke sini bukan untuk menuduhmu,” katanya dengan nada yang lebih tenang daripada tadi.

“Kent tidak pernah mencintaiku. Dia hanya berasumsi dia mencintaku,” kataku sungguh-sungguh. Perempuan itu masih diam menunggu penjelasan. “Dia seolah-olah mencintaku, tapi tidak. Dia menciptakan konsep tentang diriku dan dia mencintai konsep itu. Bukan aku. Jadi ketika kami bersama, itu pun kau tahu tidak lama, banyak kekecewaan dalam hubungan kami. Dia belum menerima realita tentang diriku seutuhnya dan aku cukup frustrasi karena merasa diperlakukan tidak layak,” jelasku.

“Aku tidak paham, dia selalu memujimu,” ujarnya terdengar malu.

“Nah itu maksudku. Dia berpikir aku seperti ini dan itu. Dia mendekatiku karena berpikir aku begini dan begitu. Lalu saat kutunjukkan lapisan terdalamku, dia mundur. Dia tidak ingin menerimanya, dia hanya ingin aku yang ada dalam imajinasinya. Yah begitulah, kamu tahu sendiri kelanjutannya,” jelasku lagi.

Jika aku boleh jujur. Hubunganku dengan Kent adalah hubungan paling melelahkan yang pernah kujalani. Rasanya seperti tercekik berbulan-bulan. Dia selalu punya cara untuk melambungkanku ke angkasa sebelum akhirnya menjatuhkanku kembali ke bumi. Berkali-kali. Menarik dan mengulurku serupa karet gelang yang sengaja dimainkan. Terlalu sering dia melukiskanku langit biru, lalu mendadak mengubahnya menjadi hujan. Aku hidup dalam permainan caturnya yang dia ganti aturannya setiap hari. Aku terlalu optimis kala itu untuk membuat hubungan kami berhasil.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya lagi.

Ingin kujawab, kabur dan larilah sekencang-kencangnya! Tapi percuma jika perempuan ini masih dibutakan oleh kilau kembang api Kent. Ya, Kent seperti kembang api yang bersinar di atas kota kosong menyedihkan setiap perempuan yang kesepian. Kent hanya ingin perhatian, bukan cinta. Dia tidak pernah menginginkan cinta. Aku beruntung berhasil melarikan diri sebelum laki-laki itu lebih menyakitiku.

“Kau tahu jawabannya,” ujarku enggan. Aku selalu benci pada perempuan yang dibutakan perasannya, segala petuah akan terlihat seperti comberan saat kau sedang jatuh cinta.

“Dia menangis saat melihat foto pertunanganmu,” katanya akhirnya.

“Seperti itulah Kent. Suatu hari dia juga akan menangis melihat fotomu bersama laki-laki yang bukan dirinya. Dia selalu menangisi yang bukan miliknya.”

“Begitu ya?” Perempuan itu tersenyum kecil menatapku. Dari wajahnya aku tahu Kent telah memaksanya meminum air dari lautan, yang justru membuatnya makin kehausan, hingga berakhir meminta Kent memberinya lagi dan lagi. “Selamat ya atas pertunanganmu!” katanya.

“Hadirlah ke pernikahanku,” kataku meyakinkannya.

Perempuan itu menggeleng, “Kau pasti tahu jawabanku.”

Dalam diam kami berdua telah bersepakat, setelah malam ini kami akan kembali menjaga jarak seperti sebelumnya. Aku juga berharap dia mulai berhenti memikirkan cara untuk menyingkirkanku. Sudah lama aku memutuskan keluar dari arena permainan Kent, bahkan jauh sebelum mereka berdua saling mencumbu.

____________________

Titi Setiyoningsih. Dosen di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Cerpen

Legawa Berpikir untuk Bunuh Diri

Cerpen Danang Febriansyah

Akhirnya setelah minta transfer uang dari ibunya, Legawa pulang naik bis. Ia kecewa sebab koordinator unjuk rasa membiarkannya kelaparan. Pun uang lelah tak juga dibayarkan. Keringat yang bercucuran di siang yang panas dan berteriak menolak penutupan rumah ibadah besar di ibukota seakan menjadi antiklimaks karena makan siang tak ada, bayaran juga sirna. Bahkan koordinator unjuk rasa tak nampak setelah polisi membubarkan pengunjuk rasa dan sempat terjadi kerusuhan. Legawa bahkan sempat tersulut emosi mudanya karena terkena gebuk dari polisi. Ia sempat membalas dan memukul salah satu petugas keamanan.

Sebenarnya Legawa adalah seorang pemuda penakut. Tapi karena jiwa mudanya sudah dibakar sedemikian rupa, dibakar bahwa menolak penutupan rumah ibadah adalah bentuk ajaran agamanya dan akan mendapat pahala, emosinya meledak. Pemerintah yang akan menutup bahkan menghancurkan tempat ibadah di ibukota adalah pemerintah yang ateis. Maka sepenakut apapun Legawa, jika banyak pemuda lain yang telah mendapatkan semangat serupa dirinya, Legawa akan nekat.

Pada akhirnya unjuk rasa bubar. Dan ia telah ditandai oleh petugas keamanan. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan ibu yang sakit sesak napas. Ketika ingin diajak ke rumah sakit beberapa waktu lalu, ibu menolak. Sebab takut sakitnya yang menahun itu didiagnosa terkena pandemi.

Sampai di rumah, ia melihat ibunya masih tertidur ditemani dua adiknya. Ia masuk kamarnya dan merebahkan badan di lantai. Legawa mengambil beberapa buku dan digunakan untuk bantal.

Matanya menerawang, ia sangat kecewa dengan unjuk rasa yang diikutinya. Apa yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Sehari kemudian kabar unjuk rasa itu sudah beredar di koran dan televisi. Dan yang paling mengecewakan adalah bara yang dibawa koordinator unjuk rasa bahwa pemerintah akan menutup rumah ibadah itu ternyata hanya berita bohong. Hanya untuk membakar semangat mudanya yang menggelegak, agar segera bergerak melawan apa yang dianggap sebagai ketidakadilan oleh orang yang tak bertanggungjawab.

Adiknya masuk kamar dan memintanya untuk membelikan obat untuk ibu. Ia bangkit, ia akan mengambil sisa uang yang ditransfer tadi untuk obat ibunya. Di teras rumah, ia sekilas melihat gerobak bapaknya dulu untuk jualan sayur. Dengan motor tua milik almarhum bapaknya, ia berangkat ke apotek.

Legawa berpikiran untuk melamar kerja beberapa hari kemudian. Ibu butuh banyak obat demi kesembuhan. Tapi ternyata banyak perusahaan menolak lamarannya meski ijazahnya sarjana dari univeritas yang baik. Tapi karena ia terlibat unjuk rasa, Legawa tidak mendapatkan surat keterangan berkelakuan baik. Ia merasa kuliahnya menjadi sia-sia gara-gara berteriak di siang yang terik dalam unjuk rasa.

Ia embuskan asap rokok saat duduk di teras rumahnya sambil memandangi gerobak milik bapaknya. Terbersit harap memanfaatkan kembali gerobak yang mulai rapuh itu seteleh ditinggal bapaknya meninggal dunia setahun yang lalu.

Legawa membersihkan kembali gerobak itu serta memperbaiki dan mengganti bagian-bagian yang rapuh. Besok ia berencana menjual sayur. Meneruskan usaha bapak.

Jam tiga pagi dia bangun tidur. Dengan mengendarai sepeda motor tua, ia mengikat gerobak sayur di belakang motor. Legawa menuju pasar untuk kulak berbagai macam sayur. Menggunakan gerobak yang di atasnya telah ditata berbagai macam sayur, Legawa mencari tempat yang sesuai di dalam pasar. Namun setiap tempat dan los di dalam pasar tak ada lagi ruang untuknya. Ia berusaha meminta sedikit tempat pada pedagang yang telah menempati los pasar, namun tak ada satupun yang mengizinkan. Akhirnya ia menggelar dagangan di tengah persimpangan di dalam pasar. Satu dua pembeli menjadi pembelinya. Tapi kemudian petugas pasar datang dan memintanya pergi, sebab ia mengganggu pejalan dan pengunjung pasar jika ia berdagang di tengah jalan.

Legawa pun pergi, keluar dari pasar. Ia menarik gerobaknya dengan motor tua. Sayurannya tak terlihat berkurang. Ia coba masuk kampung untuk menjual dagangannya. Tapi ternyata setiap kampung yang ia masuki telah ada penjual sayur yang lain yang memintanya tak masuk kampung tempat mereka berjualan.

Ia pulang dengan sedikit hasil. Sayuran dagangannya masih menumpuk. Ibu menyarankan untuk dibagikan pada tetangga.

“Setiap doa dari orang yang kau beri adalah pupuk hidupmu.” Begitu kata ibu.

Setelah semua dagangan ia bagikan ke tetangga, ia kembali duduk di teras dan menyalakan rokok. Ia bosan di teras, lalu masuk ke dalam rumah, sebentar melihat ibunya di kamar, kemudian masuk kamarnya sendiri. Mengambil beberapa buku untuk bantal dari tumpukan buku di samping tempat tidurnya.

Legawa berpikir untuk menjual buku-bukunya saja. Sebab jika tak terjual hari ini, maka buku tak layu seperti sayuran.

Pagi berikutnya ia menarik gerobak menggunakan motor seperti kemarin, tapi isi gerobak bukan sayur, tapi buku-buku. Ia juga tak lagi masuk ke dalam pasar, sebab ia pasti akan terusir karena berjualan di tengah jalan. Legawa memilih menjual buku-bukunya di luar pasar. Ia menata buku-buku di gerobak.

Satu dua orang datang membaca buku lalu berlalu. Belum ada yang datang untuk membeli. Beberapa waktu kemudian datang petugas keamanan. Yang menginterogasinya.

“Sejak kapan jualan buku?” tanya petugas.

“Baru hari ini,” jawab Legawa agak gemetar.

“Kenapa kau jual buku-buku kiri?” tanya petugas lagi sambil mengambil buku Aksi Massa Tan Malaka.

“Maksudnya apa?”

“Ini kamu juga jual buku-buku teroris?” Petugas mengambil buku-buku agama.

“Tolong lah, Pak. Baca dulu. Jangan mudah menuduh.” Legawa mulai kesal.

“Apa! Kamu melawan petugas!”

Seketika dua petugas itu menghajar Legawa hingga terjungkal. Orang-orang di pasar memusatkan perhatian pada kejadian itu.

“Kamu itu nggak bisa lari dari kami. Kamu itu dalam pantauan kami! Mau main-main, hah!” Sebuah tendangan telak mengenai perutnya. Seketika napasnya menjadi sesak.

Ia ingat ibunya yang menderita sesak napas di rumah. Legawa di area pasar ini juga sesak napas karena tendangan petugas.

Seorang petugas mengobrak-abrik dagangannya, hingga gerobaknya terguling. Kemudian buku-buku yang mereka anggap terlarang diambilnya. Gerobak diangkut ke dalam truk dan membiarkan buku-buku lain berserakan. Legawa merasa kalah. Apalagi setelah unjuk rasa beberapa waktu lalu, hari-harinya terasa ada yang terus mengawasi kesehariannya. Ia takut. Sifat penakutnya telah kembali dalam kesendirian. Ia hanya berani jika bersama dengan orang yang bersikap sama dengannya. Ia mengusap darah yang menetes di ujung bibirnya.

Beberapa orang mencoba menolongnya untuk bangkit dan menghibur dirinya. Ia benci pada petugas keamanan. Ia ingin kembali berunjuk rasa seperti dulu. Tapi ia telah kecewa karena janji koordinator unjuk rasa dan si pembakar semangat. Upah unjuk rasa tidak diberikan. Makan siang pun tak ada. Ia membenci itu.

Karenanya, ia ingin berunjuk rasa sendirian. Tanpa koordinator. Ia hanya ingin memperjuangkan nasibnya saja. Maka masih disertai rasa takutnya, Legawa berangkat ke kantor petugas keamanan.

“Aku ingin mengambil gerobakku, Pak,” ucap Legawa gemetar di bagian depan kantor petugas keamanan.

Di sudut lain, ia melihat gerobaknya. Gerobak peninggalan bapak.

“Kamu yang jual buku-buku terlarang?” tanya petugas.

“Itu hanya buku-buku sejarah dan agama, Pak. Demi ibuku aku jual buku.” Legawa mencoba menerangkan.

“Alasan saja. Kamu itu yang ikut unjuk rasa. Jadi alasan apapun, kamu pasti punya niat menggulingkan pemerintah!” tegas petugas.

“Tidak, Pak. Aku hanya ….”

“Sudah! Pergi sana! Sebelum kami tangkap karena menyerang petugas!”

Legawa surut. Ia kembali. Pulang. Sekilas ia melihat gerobaknya. Ingin saja ia ambil. Langkahnya berbelok ke arah gerobak. Tapi petugas meneriakinya. Legawa kembali menuju jalan keluar. Dadanya bergemuruh.

Sampai rumah, adik-adiknya diminta untuk tidak memberitahu ibunya kalau ia pulang tanpa gerobak. Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk kamar, menyalakan rokok dan merebahkan badannya.

Ia ingat kejadian di sebuah negara, seorang pemuda miskin yang mampu mengobarkan semangat revolusi meski dia harus mengorbankan dirinya sendiri. Kejadian yang nyaris seperti yang dialaminya. Ia ingin negara ini tidak semena-mena pada rakyat miskin seperti dirinya. Ia merasa tidak salah, tapi petugas keamanan selalu memata-matai dirinya.

Unjuk rasa waktu itu terjadi karena ia terprovokasi seseorang. Ia hanya ikut-ikutan. Karena hal itu, ia tak bisa melamar pekerjaan. Ia coba meneruskan usaha bapak yang telah lama ditinggalkan, tapi semua keadaan sudah berubah. Ia mencoba menjual buku-buku koleksinya, petugas keamanan malah menganggapnya memberontak. Dunia menjadi sempit. Jika sudah begini, melakukan hal yang sama dengan pemuda di negara lain itu, mungkin juga akan membakar seluruh negeri ini untuk menuntut keadilan.

Ia yakin dengan hal itu.

Malam hari ia melihat ibunya tertidur dengan napas yang tampak berat. Dua adiknya menemani ibu. Ia mengambil botol air mineral bekas, lalu mengutak atik selang aliran bahan bakar motornya, sehingga bahan bakar motornya keluar dan ditampung di botol air mineral yang dibawanya.

Setelah selesai, ia mengeluarkan motornya dan pergi mewujudkan tujuannya. Masih terlalu dini, ia sampai di kantor petugas keamanan. Di bagian depan, ia melihat petugas yang kemarin mengusirnya. Matanya tampak menahan kantuk. Ia mendekatinya.

“Pak, aku mau ambil gerobakku. Itu gerobak peninggalan bapak. Aku mau jualan dengan gerobak itu,” kata Legawa pelan. Ia terlalu takut untuk bicara keras.

            “Kamu yang kemarin? Pemberontak itu?” tanya petugas merasa terganggu.

“Pak, aku hanya ingin gerobakku kembali. Aku bukan pemberontak.”

“Pergi sana! Sikapmu pada pemerintah sudah buruk. Itulah akibatnya jika melawan petugas!”

“Tapi, Pak ….”

Dan sebuah pukulan dengan tongkat mengenai lengan Legawa. Ia gemetar, takut. Tak berani jika ia sendirian. Ia hanya berani jika banyak teman seperti dalam unjuk rasa waktu itu. Karenanya, Legawa berencana melakukan rencana keduanya. Ia mengambil sebotol bahan bakar di tasnya. Ia ingin seluruh rakyat melakukan revolusi menuntut keadilan bagi rakyat kecil seperti di negara lain. Ia akan membakar tubuhnya yang akan memicu aksi besar-besaran seluruh negeri karena membaca latar belakang aksi bakar dirinya.

Di sebelah gerbang kantor keamanan, ia mengguyurkan bahan bakar dari kepalanya. Ia ambil korek api dari sakunya. Ia ingat sebuah novel yang pernah dibacanya, ‘Dalam Kobaran Api’, seorang pemuda di sebuah negeri menjadi obor api sekejap setelah korek api menyala. Lalu tubuhnya gosong dan beberapa waktu kemudian tewas.

Membayangkan itu, rasa takut Legawa membesar. Ia begidik ngeri membayangkan rasa panas dan perih di sekujur badan. Sekejap kemudian, Legawa ingat, setelah pemuda mati, aksi besar-besaran terjadi di seluruh negeri. Betapa pemuda itu menjadi pahlawan. Sungguh heroik. Ia ingin seperti itu.

Namun, rasa takut makin memeluknya. Korek api dilihatnya. Dan kenekatannya padam.

___________________

Danang Febriansyah. Mengenal lebih banyak karya sastra dan belajar menulis dari Komunitas Sastra Alit, Solo. Beberapa karyanya telah dimuat di media dan dibukukan. Novel “Arundaya: di Masjid Kuserahkan Cintaku” terbit 2019 dan diterbitkan dalam Bahasa Jawa tahun 2021 oleh Penerbit Diomedia. Kumpulan Cerpen “Ia yang Menjelma Bunga Matahari”, terbit 2025 di lini Penerbit Andi Jogja. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri sambal mengelola Taman Baca Fatiha

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (3. Terakhir)

Charles Dickens

Aku belum sempat menatap miniatur itu, yang masih terkurung di dalam loket perak, ketika sosok itu beringsut di antara kami. Ia membelah ruang dan daging manusia, mengambil tempat di antara aku dan juri di sebelahku. Ia meneruskan benda itu, dan dari tangan ke tangan miniatur itu berpindah, berputar melewati dua belas orang kami, lalu entah bagaimana kembali lagi ke tanganku.

Dan anehnya, tak seorang pun dari mereka menyadarinya. Mereka memandang ke depan dengan wajah letih dan mata beku, seolah tidak ada hantu yang barusan menyentuh mereka.

Di meja makan, dan hampir setiap kali kami terkurung bersama di bawah penjagaan Tuan Harker, kami, dua belas orang juri, selalu saja membicarakan jalannya persidangan hari itu. Sejak hari pertama, percakapan kami berputar-putar di sekitar bukti, saksi, dan dugaan, seperti roda gerobak tua di jalan berlumpur.

Namun pada hari kelima, ketika pihak penuntut menutup kasusnya dan segala perkara terbuka jelas di hadapan kami, suasana pembicaraan menjadi lebih berat, lebih serius, dan lebih panas.

Di antara kami ada seorang anggota dewan gereja, makhluk paling dungu yang pernah dibiarkan berkeliaran di muka bumi. Ia menentang bukti yang paling jelas dengan keberatan yang paling tolol. Ia didukung pula oleh dua parasit paroki yang lembek dan berminyak wajahnya, seperti roti yang tengik. Ketiganya berasal dari sebuah distrik yang begitu akrab dengan Demam dan Kematian, hingga semestinya merekalah yang diadili atas lima ratus pembunuhan yang tak kasatmata.

Malam itu, menjelang tengah malam, ketika beberapa dari kami sudah menyiapkan diri untuk tidur dan ketiga orang itu berdebat seperti tiga lonceng rusak yang bersahut-sahutan, aku melihatnya lagi. Ya, lelaki yang dibunuh itu berdiri di belakang mereka, diam dan kelam, memanggilku dengan isyarat jarinya yang dingin.

Aku berdiri, mendekat, pura-pura ikut dalam perdebatan mereka, dan seketika itu juga sosok itu menghilang, seperti asap yang disapu oleh napas Tuhan.

Sejak saat itulah muncul serangkaian penampakan baru, yang hanya terjadi di ruangan panjang tempat kami dikurung itu. Setiap kali sekelompok juri menundukkan kepala, berbisik-bisik menyusun penilaian, kepala si terbunuh muncul di antara mereka.

Setiap kali mereka bersepakat bahwa si terdakwa bersalah, ia—sang arwah—menatapku dalam-dalam, dan dengan gerak tangannya yang berat, memanggilku lagi, seperti seseorang yang memohon agar kebenaran tak dikubur bersama tubuhnya.

Perlu diingat, hingga munculnya miniatur pada hari kelima persidangan itu, aku tak pernah melihat sosok itu di ruang sidang. Tapi ketika sidang beralih ke pihak pembela, tiga perubahan terjadi. Dua di antaranya akan segera kuceritakan.

Pertama, sosok itu kini selalu hadir di pengadilan. Ia tak lagi muncul sesekali seperti kabut yang datang dan pergi; ia menetap di ruang itu, mendengarkan, menatap, menyelidik, seolah turut menimbang perkara di dalam pikirannya yang tak lagi dimiliki dunia.

Kedua, ia tak lagi menoleh padaku seperti sebelumnya, tapi mengarah sepenuhnya pada orang yang berbicara. Ketika seorang pengacara pembela berdiri dan menyatakan bahwa si terbunuh mungkin telah menggorok lehernya sendiri, sosok itu muncul di sampingnya. Lehernya terbelah lurus, menganga seperti celah pada bumi setelah gempa.

Dengan tangan kanan, lalu kiri, ia menyayat udara berulang-ulang di lehernya sendiri, memberi isyarat getir yang berarti bahwa tidak mungkin manusia hidup menggores dirinya sedalam ini. Darah tak lagi menetes dari luka itu, tapi udara di sekitarnya terasa seolah berbau besi dan takut.

Lalu ketika seorang saksi perempuan berdiri—seorang yang menyatakan bahwa terdakwa adalah “manusia paling lembut dan penuh kasih di dunia”—sosok itu melangkah ke depannya.

Ia berdiri tepat di bawah cahaya gas yang berkedip redup, menatap wajah perempuan itu dalam-dalam, dan dengan tangan panjangnya yang pucat seperti malam di bawah bulan, menuding wajah si terdakwa. Seolah ingin berkata tanpa suara, “Lihatlah baik-baik. Wajah kebaikan itu telah menenggelamkanku dalam darah.”

Perubahan ketiga inilah—yang paling dalam, paling menggetarkan di antara semuanya. Aku tidak hendak menafsirkan, apalagi menenun teori dari kabut. Aku hanya akan menyampaikan sebagaimana adanya, dan biarlah misterinya berdiri sendiri, seperti batu nisan tanpa nama di tengah kabut London.

Meski sosok itu tak pernah tampak bagi orang-orang yang disapanya, kehadirannya selalu meninggalkan getar, sebuah kegelisahan samar yang menyeret bayangan ke wajah siapa pun yang disentuhnya. Seolah ada hukum alam yang menghalangi dirinya menampakkan diri secara penuh, namun tak sanggup mencegahnya menyelimuti jiwa manusia dengan kehadiran yang sunyi dan gelap.

Ketika pengacara pembela mengajukan gagasan bahwa korban mungkin bunuh diri, Sosok itu berdiri di sampingnya. Lehernya masih terbuka, mengiris udara seperti gergaji yang kesakitan. Pengacara itu tiba-tiba terhenti. Ucapannya patah. Tangan gemetarnya mengusap peluh di dahi, dan wajahnya memucat seperti kertas pengadilan yang belum ditulisi kesaksian.

Begitu pula dengan saksi perempuan—ia yang menyebut si terdakwa sebagai lelaki paling suci. Ketika Sosok itu menatapnya dan mengarahkan jarinya ke wajah si terdakwa, mata perempuan itu mengikuti isyarat itu dengan ragu dan ngeri yang tak bisa disembunyikan.

Ada dua kejadian lain yang menegaskan semua itu. Pada hari kedelapan persidangan, setelah jeda makan siang, aku dan sebelas juri lainnya kembali ke ruang sidang lebih awal. Aku berdiri, memandang ke sekeliling, dan sempat mengira Sosok itu tidak hadir hari itu—sampai mataku terangkat ke arah galeri. Di sana ia berdiri, membungkuk di atas bahu seorang perempuan sederhana, seolah ingin memastikan apakah para hakim sudah kembali ke kursinya atau belum.

Perempuan itu menjerit keras, lalu pingsan, digotong keluar seperti boneka kain yang kehilangan jiwanya.

Dan ketika akhirnya Hakim Tua—yang bijak dan sabar itu—mulai membacakan simpulan persidangan, Sosok itu muncul dari pintu khusus para hakim. Ia mendekati meja tinggi itu, menunduk, menatap penuh dahaga pada catatan-catatan yang tengah dibalik satu per satu.

Wajah sang hakim berubah. Tangannya berhenti menulis. Getaran dingin—yang sudah kukenal dengan ngeri—menyusuri tubuhnya. Ia tergagap, suaranya parau seperti keluar dari kabut: “Maafkan saya, Tuan-tuan… udara di sini terasa menyesakkan.”

Setelah meneguk segelas air, warna pipinya kembali. Tapi aku tahu, bukan udara yang mencekiknya, melainkan tatapan kematian yang berdiri di belakang bahunya.

Selama enam dari sepuluh hari yang seolah tak berujung itu, segala sesuatu membeku dalam kebiasaan yang menjemukan. Para hakim yang sama duduk di bangku tinggi mereka; si pembunuh yang sama berdiri di kandang terdakwa; para pengacara yang sama mengatur berkas dan memelintir kalimat; suara tanya dan jawab yang sama bergema di langit-langit ruang sidang, mengulang diri seperti gema yang kehilangan arah.

Tiap hari pena hakim mencakar kertas dengan suara serupa gerit tulang; para juru sidang datang dan pergi dengan langkah yang sama; lampu-lampu dinyalakan di jam yang sama saat sinar matahari menyerah pada kabut yang menempel di jendela-jendela besar; hujan menetes dengan ritme yang sama; kunci berputar dalam lubang yang sama; pintu berat itu terbuka dan tertutup dengan keluhan besi yang sama.

Semua itu—keseragaman yang beku dan menekan—membuatku merasa seakan telah menjadi Ketua Juri sejak zaman Babilonia berdiri di tepi Piccadilly. Waktu terasa lumpuh; setiap napas hanyalah pengulangan dari napas kemarin.

Namun di tengah kebosanan yang menjemukan itu, sosok si terbunuh tak pernah memudar. Ia tetap sejelas cahaya lilin di ruang penuh kabut, sama nyatanya dengan siapa pun di hadapanku. Ia tidak pernah menghilang, tidak pernah menjadi bayang samar di pinggir kesadaranku.

Dan ada satu hal yang selalu kucatat dengan gentar: tak sekalipun aku melihat sosok itu menatap ke arah si pembunuh. Berkali-kali aku bertanya dalam hati, “Mengapa tidak? Mengapa matanya tak menusuk wajah orang yang telah mengakhiri hidupnya?”
Namun ia tak pernah melakukannya.

Seolah dalam diamnya, tersimpan rahasia yang bahkan maut sendiri tak sanggup mengucapkannya. Ia pun tak pernah lagi menatapku—sejak miniatur itu dihadirkan—hingga saat-saat terakhir dari pengadilan panjang dan melelahkan itu tiba.

Kami, dua belas orang juri yang nyaris kehilangan rasa waktu, diperintahkan untuk berunding pada pukul sembilan lewat tiga menit malam. Namun si penjaga gereja yang dungu itu—beserta dua parasit parokinya—membuat kami tersiksa seperti roh-roh yang tersesat di lingkaran api. Dua kali kami harus kembali ke ruang sidang, memohon agar catatan hakim dibacakan ulang.

Sembilan di antara kami tak sedikit pun meragukan makna catatan-catatan itu—bahkan kurasa tak seorang pun di pengadilan meragukannya—namun tiga orang tolol itu, yang hanya mengenal keonaran, terus bersikeras menentang karena mereka tak tahu apa lagi yang harus mereka lakukan.

Akhirnya kami menang. Pada pukul dua belas lewat sepuluh malam, kami kembali memasuki ruang sidang. Dan di sanalah ia—si terbunuh itu—berdiri tepat di seberang kotak juri, memandang lurus ke arah kami. Ketika aku duduk, mata itu menancap padaku dengan kesungguhan yang menggetarkan, seolah menakar segala yang telah terjadi.

Ia tampak puas—atau mungkin lega—lalu dengan gerakan perlahan ia mengangkat sebuah tirai kelabu besar yang menggantung di lengannya. Dengan lirih dan khidmat, ia menyelubungi dirinya dari kepala hingga kaki.

Dan ketika aku menyerahkan putusan kami—“Bersalah.” Tirai itu runtuh. Ia lenyap tanpa jejak. Ruang tempatnya berdiri menjadi hampa.

Hakim, dengan suara resmi yang menua di udara malam, bertanya kepada terdakwa apakah ia ingin mengatakan sesuatu sebelum hukuman mati dijatuhkan. Lelaki itu bergumam tak jelas—kata-katanya terputus, separuh tergelincir dari akal sehatnya.

Keesokan harinya, surat kabar besar menulis bahwa ia mengeluh karena merasa tidak diadili secara adil; katanya, ketua juri telah memusuhinya sejak awal.

Namun apa yang sesungguhnya diucapkannya malam itu—kata-kata yang menembus tulang dan membuatku menggigil—adalah ini:

“Yang Mulia, aku tahu aku sudah ditakdirkan mati, sejak ketua juri itu melangkah masuk ke kotak tempatnya duduk. Yang Mulia, aku tahu ia tak akan pernah melepaskanku, karena sebelum aku ditangkap, entah bagaimana, ia telah datang ke sisi ranjangku di tengah malam, membangunkanku, dan menjeratkan tali ke leherku.”

____________________

Judul asli: The Trial for Murder

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

_____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Belakang

MERAH DAN SUMPAH

Malam-malam yang sering hujan. Oktober yang basah. Oktober yang membuat tubuh kedinginan dan malas. Padahal ada mata yang merindukan bulan mesem di langit. Bulan yang tidak akan selalu purnama. Mata kadang melihat sabit, yang mengingatkan hidup dalam sisa atau cuilan. Purnama yang indah malah kadang disumpah oleh orang-orang yang kasmaran dan meratap atas hidup yang dihinakan.

Dingin yang dirasakan dan malam yang nelangsa akan sempurna dengan dangdut. Duduk atau berbaring, telinga diberikan kepada lagu yang berjudul “Tujuh Purnama”. Bergantian yang didengar adalah lagu yang dibawakan Nur Halimah dan Rita Sugiarto. Dangdut yang menyiksa ketimbang seribu puisi.

Yang mendengar dengan mata terpejam: Genaplah tujuh purnama/ diriku engkau tinggalkan/ sendiri sekeping hati/ di dalam kehampaan// Mana janji dan sumpahmu/ yang kau tulis di kalbumu/ di saat benih yang engkau taburkan/ di tanah yang rawan/ yang masih rawan. Lagu yang tidak memberi keselamatan atau kebahagiaan saat malam bertambah malam. Malam pun jahanam.

Beberapa purnama setelah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang terbit adalah merah. Yang melewati purnama-purnama pada masa lalu tidak disiksa asmara tapi nasionalisme. Mereka ingin purnam-purnama menjadi saksi adanya Indonesia. Pada saat menatap purnama, yang terbayang adalah Indonesia yang mulia dan terang.

Setelah beberapa purnama, mereka yang ikut Kongres Pemuda II memang memutuskan hidup bersama. Dulu, mereka pernah membuat siasat untuk menjadi Indonesia. Siasat itu perkawinan yang mempertemukan suku-suku berbeda. Konon, siasat perkawinan itu mengesahkan persatuan atau bhinneka tunggal ika. Perkawinan yang tidak masuk dalam laril-larik Sumpah Pemuda atau diberitakan di surat kabar.

Namun, ada yang menemukan merah setelah beberapa purnama dari peristiwa yang bersejarah. Merah itu buku. Merah bukan warna bulan purnama. Pada 1929, terbit Kitab Arti Logat Melajoe susunan D Iken dan E Harahap. Buku berwarna merah diterbitkan oleh Boekhandel Visser & Co, Weltevreden-Bandoeng. Buku itu mungkin terbaca oleh kaum muda yang telanjur bersumpah demi Indonesia.

Mengapa kaum muda memilih sumpah? Yang dicantumkan dalam buku merah halaman 289 adalah “soempah”. Kita membaca arti yang berdekatan dengan peristiwa 28 Oktober 1928. Apakah sebelum mengumumkan, kaum muda sibuk buka kamus-kamus untuk akhirnya keputusan atau resolusi itu dinamakan Sumpah Pemuda?

D Ikeh dan E haraha mengartikan “soempah” adalah “koetoek, teloeh, bila melangkah djanji, kena koetoek oleh salah pengakoean.” Arti-arti yang bikin gemetar. Apakah kaum muda tidak salah pilih kata dalam sejarah? “Bersoempah” adalah “mengangkat perdjandjian dan pengakoean akan benar dan setia, akan membenarkan diri, demi Allah.” Dulu, sumpah ada dalam sejarah. Selanjutnya, sumpah diumbar dalam lagu-lagu asmara picisan. Sumpah dala lagu-lagu dangdut dan pop itu membuat kita tidak terbebani sejarah tapi dihabisi perasan-perasaan.

Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928) menghasilkan keputusan yang mengandung kata-kata butuh ditilik pengertiannya setelah beberapa purnama. Di buku merah, kita membaca lema “bangsa” yang berarti “soekoe, djenis berasal moelia, sedjati, jang sebahasa seadat dan seagama.” Kita diingatkan tentang seruan bangsa Indonesia, yang membesar, dari masa ke masa.

Yang bikin pensaran adalah penyebutan “kami”. Di teks Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi (1945), “kami” dicantumkan dalam deru sejarah yang penuh gairah. Siapa yang mengusulkan agar dicantumkan “kami” pada 1928? Apakah itu usulan M Yamin, yang gandrung sastra dan berhasrat memajukan bahasa? Apakah yang mengusulkan malah WR Soepratman? Namun, kita yang akrab dengan lagu berjudul “Indonesia Raya” cuma menemukan “aku” dan “kita”. Yang teringat: “Marilah kita berseru Indonesia bersatu.” Penggubah dan pengarang novel itu tidak memberi lirik: “Marilah kami berseru Indonesia bersatu.”

Di buku susunan D Iken dan E Harahap, “kami” diartikan “diri kesa lebih seorang; jang berkata dengan temannja ketjoeali pendengar, lagi dipakai ganti akoe.” Jadi, kita mengingat 1928 dengan “kami” dan “kita”. Lagu gubahan WR Soepratman itu berkaitan Sumpah Pemuda.

Yang cukup membingungkan lagi adalah sebutan pemuda, dan putra, putri. Kita yang membaca buku merah terbitan 1929 berimajinasi kata-kata digunakan dalam peristiwa 1928. Kita pilih melacak “pemuda”. Yang ditemuukan adalah “moeda” di halaman 206. Artinya: “ketjil oesia, sedikit oemoer, mentah, belia, lawan toea.” Buku lawas itu bikin kita tambah pikiran saat mengingat sejarah menyebut adanya kaum muda dan kaum tua.

Buku merah usianya akan selalu mengikuti peringatan Sumpah Pemuda. Ia bisa saja berusia melewati seratus tahun jika pemiliknya merawat secara tulus dan penuh kasih. Buku dalam kondisi agak rusak, Punggung buku hilang. Jahitan masih agak kuat. Tampilan sampul tebal pun tampak tidak mulus. Sampul itu pernah menderita oleh binatang. Bekas-bekas kerusakan terlihat.

Yang membaca pengantar sehalaman bakal mengetahui buku merah itu cetakan yang kelima. Jadi, buku itu mula-mula terbit? Yang terbaca di pengantar: 26 November 1914. Berarti buku cetakan pertama mendahului Sumpah Pemuda. Kita mulai menebak ada beberapa orang yang membaca dan menggunakannya sebelum turut Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Pada masa lalu, Kitab Arti Logat Melajoe mungkin buku yang penting bagi orang-orang yang belajar di sekolah, bekerja di birokrasi, sibuk di pergerakan politik kebangsaan, dan pengabdian sastra di tanah jajahan. Buku yang ikut berpengaruh dalam perkembangan bahasa “Melajoe”. Pada masa yang berbeda, kita belum mendapat kabar adanya cetak ulang yang berjudul “Kitab Arti Logat Indonesia”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (Bagian 2)

Charles Dickens

Kepada diriku sendiri, aku memastikan satu hal: wajah itu belum pernah kulihat sebelumnya, selain di jalan Piccadilly, di antara pusaran daun musim gugur. Ketika aku membandingkan ekspresinya malam itu, ketika ia memanggilku dari pintu, dengan tatapan yang dulu dilemparkannya ke jendelaku, aku sadar satu hal. Pada pertemuan pertama, ia mencoba menanamkan dirinya di ingatanku. Pada pertemuan kedua, ia datang hanya untuk memastikan bahwa aku tak mungkin melupakannya lagi.

Malam itu aku berbaring, tak nyaman. Namun anehnya, di dalam kegelisahan itu, tumbuh keyakinan samar bahwa sosok itu takkan kembali. Mungkin karena ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya: tempat tinggal di dalam ingatan manusia.

Menjelang fajar, aku akhirnya terlelap dalam tidur berat. Cahaya pagi menetes lewat tirai ketika aku dibangunkan oleh suara langkah pelan. John Derrick berdiri di tepi ranjang, wajahnya masih pucat, tangannya menggenggam selembar kertas koran. Di atasnya, aku tahu, dunia baru saja menuliskan bab berikut dari mimpi burukku.

Ternyata kertas di tangan Derrick itulah sumber keributan kecil di depan pintu, antara dirinya dan pengantarnya. Kertas itu bukan sembarang surat. Itu adalah panggilan resmi agar aku hadir sebagai anggota juri pada sidang berikutnya di Central Criminal Court, Old Bailey.

Selama hidupku, aku belum pernah dipanggil untuk tugas semacam itu. Derrick, yang mengenal tiap kebiasaanku seperti mengenal lipatan wajahku sendiri, tahu benar hal itu. Ia percaya, entah dengan alasan masuk akal atau tidak, bahwa para juri biasanya diambil dari lapisan masyarakat dengan kualifikasi yang lebih rendah dariku. Karena itu, ketika petugas datang menyerahkan surat, Derrick menolaknya mentah-mentah, yakin bahwa panggilan itu pasti salah alamat.

Namun petugas itu tenang saja, nyaris dingin. “Hadir atau tidak, bukan urusanku,” katanya. “Surat ini sudah di tanganmu; risiko selebihnya milikmu sendiri.”

Ia pun pergi, meninggalkan keheningan yang terasa seperti gema dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kewajiban hukum.

Sehari-dua hari aku bimbang. Antara patuh atau mengabaikan. Tak ada dorongan misterius, tak ada tarikan gaib yang menuntunku ke satu arah. Aku sepenuhnya sadar dan waras ketika memutuskan. Dan akhirnya, setelah berpikir panjang, aku memilih untuk pergi.

Mungkin karena ingin menuruti kebosanan hidupku yang membatu. Mungkin karena di dasar jiwaku ada sesuatu—sesuatu yang belum bernama—yang sudah menunggu di ruang sidang itu. Sesuatu yang ingin menatapku balik dari kursi terdakwa dan berkata tanpa suara:
“Kau sudah kupilih sejak pertama kali aku menoleh di Piccadilly.”

Pagi yang ditentukan itu datang dalam keadaan mentah dan menggigil, sebuah pagi bulan November yang seolah tak selesai dilahirkan. Kabut tebal berwarna coklat menggantung di atas Piccadilly, menyelimuti dunia seperti paru-paru yang kehabisan udara. Semakin jauh ke arah timur, melewati Temple Bar, kabut itu menebal menjadi hitam, berat, dan menekan dada seperti tangan dingin yang tak mau lepas.

Gedung pengadilan tampak menyala oleh gas yang berdesis di pipa-pipa logamnya. Lorong-lorong dan tangganya berpendar seperti napas api di dalam tenggorokan batu. Bahkan ruang sidang sendiri, tempat segala nasib dijatuhkan, bercahaya dengan cara yang tak wajar, seperti teater neraka yang berlatih sunyi.

Aku tak tahu sebelumnya—demi Tuhan, aku sungguh tak tahu—bahwa hari itu adalah hari sidang pembunuh itu. Aku bahkan tak pasti ruang mana dari dua ruang sidang yang sedang berjalan akan menjadi tempat tugasku. Para petugas membimbingku dengan susah payah melewati kerumunan hingga aku duduk di tempat yang diperuntukkan bagi para juri yang menunggu giliran.

Kabut merayap masuk melalui celah-celah jendela besar, berpadu dengan uap napas manusia yang menumpuk. Aku melihat gumpalan hitam menggantung di luar jendela, seperti tirai yang menolak disingkap. Dari luar terdengar suara roda kereta yang teredam jerami, dan dari kejauhan terdengar dengung orang banyak yang kadang teriris oleh siulan tajam atau teriakan yang terlalu bersemangat.

Kemudian dua orang hakim masuk. Gemuruh suara tiba-tiba padam, seperti lilin yang disiram. Setelah beberapa aba-aba yang kaku, terdengar perintah: “Hadirkan si pembunuh di bar.”

Ia muncul, dan saat mataku jatuh padanya, seolah seluruh kabut menyingkir hanya untuk memperjelas wajah itu. Darahku berhenti mengalir. Di sana, berdiri di bawah cahaya gas yang kekuningan, adalah lelaki pertama dari dua sosok yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly. Yang menoleh ke belakang. Yang diikuti oleh wajah sewarna lilin.

Seandainya namaku dipanggil pada saat itu juga, aku ragu aku masih sanggup menjawab dengan suara yang terdengar. Jantungku berdentam seperti hendak menerobos tulang rusuk. Namun kebetulan namaku baru disebut keenam, atau mungkin kedelapan, dalam daftar. Dalam waktu sesingkat itu, aku berhasil memulihkan sedikit keberanian dan menjawab, “Hadir!”

Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika aku melangkah masuk ke kotak juri, si terdakwa, yang sedari tadi tampak tenang dan matanya mengamati ruang sidang dengan dingin yang nyaris sopan, tiba-tiba terguncang hebat. Ia menegang, wajahnya memucat, lalu memberi isyarat gelisah kepada pengacaranya.

Keinginannya untuk menolak kehadiranku di juri begitu jelas hingga ruang sidang sempat terdiam. Sang pengacara mencondongkan tubuh, meletakkan tangan di pinggiran dock, dan berbisik dengan kliennya. Ia sempat menggeleng, pelan namun tegas. Belakangan aku tahu dari pengacara itu sendiri bahwa kata-kata pertama yang bergetar dari bibir si pembunuh adalah: “Apa pun risikonya, tantang orang itu!”

Namun ketika ditanya alasannya, ia tak memberi satu pun jawaban. Ia mengaku bahkan tak tahu siapa aku, tak pernah mendengar namaku sebelum petugas memanggilnya, sebelum aku berdiri di hadapannya. Sang pengacara tak mengindahkannya, dan aku tetap di sana, di kursi yang akan menjadi saksi antara hidup dan mati.

Sekarang biarlah aku katakan: aku tak berniat menghidupkan lagi kenangan busuk tentang si pembunuh itu. Cerita tentang sidangnya panjang, penuh detail yang menghitamkan ingatan. Tak semuanya perlu kalian tahu. Yang ingin kusampaikan hanyalah sepuluh hari dan sepuluh malam itu, waktu ketika kami, para juri, dikurung bersama, dan sesuatu yang jauh lebih ganjil dari kejahatan manusia mulai menyusup di antara kami.

Karena bukan pada si pembunuh letak misteri ini, melainkan pada apa yang terjadi padaku. Dan yang kumohon dari kalian bukan simpati untuk seorang terdakwa, melainkan perhatian untuk bayangan yang, sejak hari itu, tak pernah benar-benar meninggalkan ruang di dalam kepalaku.

Aku terpilih menjadi ketua juri. Pada pagi kedua persidangan, setelah dua jam mendengarkan saksi-saksi yang berbicara seperti gema yang jauh dan berdebu, aku mendengar lonceng-lonceng gereja berdentang dari kejauhan. Suara itu mengiris udara lembap seperti pengingat waktu yang sudah mati.

Tanpa sengaja, mataku menyapu barisan rekan-rekan juri di sekelilingku. Di sanalah keganjilan itu bermula. Aku mendapati kesulitan yang tak bisa kujelaskan untuk menghitung kami semua. Sekali kuhitung, tiga belas. Kuulangi, tetap tiga belas.

Kupejamkan mata, kubuka lagi, kutelusuri wajah demi wajah dengan hati-hati, dan tetap saja, ada satu kepala terlalu banyak. Aku menyentuh bahu rekan di sebelahku dan berbisik pelan, “Boleh tolong hitung kita semua?”

Ia menatapku dengan alis berkerut, seolah tak mengerti mengapa aku menanyakan hal yang sepele. Tapi kemudian ia berpaling dan menghitung satu per satu. Lalu, tiba-tiba ia berhenti. Ekspresinya berubah. “Kenapa… kita tiga be—” katanya, lalu mendadak menelan ucapannya dan menatap ke meja di hadapan.

“Tidak mungkin. Tidak. Kita dua belas.”

Namun aku tahu, dari getar kecil di suaranya, dari tatapan kosong yang tak berani menatapku lagi, bahwa ia juga sempat melihatnya. Bahwa untuk sekejap yang mengerikan itu, kami berdua telah menghitung tiga belas juri.

Menurut hitunganku hari itu, kami selalu benar dalam rincian, tetapi selalu berlebih satu dalam keseluruhan. Tak ada wujud apa pun, tak ada bayangan, tak ada sosok yang bisa menjelaskan kejanggalan itu. Namun di dalam diriku, perlahan tumbuh bayangan samar akan sosok yang pasti akan datang.

Para juri ditempatkan di London Tavern. Kami tidur bersama di satu ruangan besar, masing-masing di atas meja panjang yang disulap menjadi tempat tidur darurat. Kami selalu berada di bawah pengawasan seorang petugas yang disumpah untuk menjaga kami agar tidak berhubungan dengan dunia luar.

Aku tidak melihat alasan untuk menyembunyikan nama petugas itu. Ia seorang yang cerdas, sopan, dan menyenangkan, dan begitu kudengar, dihormati banyak orang di kota. Wajahnya enak dipandang, matanya jernih dan tajam, cambangnya hitam dan tebal seperti garis pena yang percaya diri. Suaranya dalam dan berat seperti gonggongan lembut di lorong batu.

Namanya Tuan Harker.

Malam itu, ketika kami bersiap menempati dua belas ranjang sejajar, ranjang Tuan Harker ditarik menutup pintu, seolah ia, tubuh manusia itu sendiri, adalah gembok yang hidup.

Pada malam kedua, aku tidak ingin segera berbaring. Melihat Tuan Harker duduk di tepi ranjangnya, aku berjalan menghampirinya dan menawarkan sekepal tembakau dari kotakku. Ketika tangannya menyentuh tanganku, sebuah getaran aneh melintas di tubuhnya, seolah hawa dingin dari kubur menyelinap melalui pori-porinya.

Ia bertanya pelan, suaranya mengandung keheranan, “Siapa itu?”

Mengikuti arah pandang matanya, aku menatap ke seberang ruangan, dan di sana berdiri sosok yang telah lama kutunggu, sosok kedua dari dua lelaki yang dulu melintas di Piccadilly.

Aku berdiri, melangkah beberapa tapak, lalu berhenti. Menoleh ke arah Harker. Tapi ia justru tertawa ringan, seolah tidak melihat apa pun, dan berkata ramah, “Untuk sesaat aku kira kita punya juri ketiga belas—tanpa ranjang. Tapi rupanya cuma cahaya bulan.”

Aku tidak mengatakan apa pun padanya, hanya mengajaknya berjalan pelan ke ujung ruangan. Kami berdiri di sana, mengintai gerak sosok itu. Ia berjalan perlahan di antara ranjang-ranjang yang berbaris seperti peti mati menunggu giliran.

Di setiap ranjang, di sebelas ranjang saudaraku sesama juri, ia berhenti. Berdiri di sisi kanan tiap kepala, membungkuk sedikit, menatap wajah mereka yang terlelap dengan tatapan murung, seolah mengenang dosa-dosa mereka sendiri. Setelah itu, ia menyeberangi kaki ranjang dan melanjutkan langkahnya ke ranjang berikutnya.

Ia tidak menoleh padaku. Tidak pula pada ranjangku, yang paling dekat dengan Harker. Dan akhirnya, ia lenyap ke arah cahaya bulan yang menetes masuk dari jendela tinggi, seakan menapaki tangga tak terlihat menuju udara, menuju tempat di mana roh-roh tidak lagi butuh pijakan.

Keesokan paginya, saat kami duduk di meja sarapan, di antara aroma teh yang hangat dan bunyi sendok yang menyentuh piring, terungkap sesuatu yang ganjil. Semua orang di ruangan itu mengaku bermimpi tentang lelaki yang telah dibunuh semalam, kecuali aku dan Tuan Harker.

Dan saat itulah, sebuah keyakinan menyusup ke dalam kepalaku—sunyi, tapi mutlak—bahwa sosok kedua yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly adalah jiwa dari lelaki yang dibunuh itu sendiri. Seakan ia sendiri telah membisikkan pengakuan itu ke telingaku dari celah antara hidup dan mati.

Namun cara kebenaran itu datang padaku—Tuhan tahu—tak pernah kusangka.

Hari kelima sidang. Kasus penuntutan hampir usai. Suara hakim, jaksa, dan penasihat hukum berkelindan di udara pengap. Lalu dibawalah sebuah benda kecil—miniatur wajah sang korban. Miniatur itu sebelumnya hilang dari kamar tidurnya, lalu ditemukan terkubur di tempat di mana si pembunuh pernah terlihat menggali.

Miniatur itu diperlihatkan kepada saksi, lalu diserahkan ke bangku hakim, dan dari sana diteruskan kepada kami, para juri. Seorang petugas berseragam hitam membawa benda mungil itu melintasi ruang pengadilan menuju tempatku duduk.

Dan tiba-tiba—ia muncul lagi. Dari tengah kerumunan, sosok itu menerjang ke depan: lelaki berwajah lilin, yang dulu memanggilku lewat pintu kamar, yang berdiri di sisi ranjang-ranjang malam itu. Ia merebut miniatur dari tangan petugas, menyerahkannya langsung kepadaku, dan dengan suara serak, seperti dari kedalaman sumur, ia berbisik, “Aku masih muda waktu itu… wajahku belum dikeringkan dari darah.” BERSAMBUNG

____________________

Judul asli: The Trial for Murder

____________________

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Belakang

BAHASA: 1926, 1928, 1930

Yang pernah belajar bahasa dam sastra di universitas berkenalan nama-nama dari masa silam. Ada yang bisa mengingat tiga atau sebelas nama. Yang diajarkan atau tercatat dalam buku perkuliahan adalah nama-nama besar, yang memberi warisan terpenting dalam perkembangan bahasa dan sastra. Namun, tulisan-tulisan mereka membingungkan bagi orang-orang yang belajar dalam kesadaran (beda) negara.

Satu nama yang mungkin mudah teringat: Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Yang belajar masalah bahasa, sastra, atau sejarah mengetahui namanya, belum dijamin pernah memegang bukunya. Yakinlah hanya sedikit orang yang berani khatam tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Sejak masa 1950-an, buku-bukunya diusahakan terbit di Indonesia tapi pembacanya sedikit saat godaan sastra modern memberi pikat-pikat yang berbeda. Situasinya berbeda dengan buku yang terbit di Malaysia atau Singapura.

Pada suatu masa, tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji disajikan lagi kepada para pembaca di Indonesia, yang dibuat oleh KPG dan EFEO. Nama peneliti yang memungkinkan munculnya lagi tulisan-tulisn itu minta terbaca dengan pelbagai tambahan keterangan: Amin Sweeney. Buku tiga jilid, yang besar dan tebal. Siapa betah membaca dan sanggup khatam? 

Amin Sweeney mengatakan mengenai buku-buku Abdullah bin Abdul Kadir Munsji: “… merupakan warisan kepada seantero alam Melayu, bahkan kepada seluruh bangsa Indonesia. Orang Indonesia memilih bahasa Melayu untuk dikembangkan sebagai bahasa nasional karena bahasa itu telah berabad-abad berfungsi bukan hanya sebagai lingua franca, tetapi juga sebagai khasanah dan penyebar ilmu pengetahuan serba jenis. Bahasa Melayu yang dipilih itu bukan suatu tabula rasa atau medium yang netral dan pasif seperti dibayangkan oleh beberapa sarjana Belanda. Bahasa itu membawa sertas segala pandangan hidup, sistem pengolahan ilmu, dan warisan sesuatu budaya.”

Kita memerlukan kutipan itu membekali saat membaca buku tipis. Yang kita baca adalah buku berjudul Melajoe Oemoem, terbitan Boekhandel Visser & Co, Weltevreden, 1930. Perhatikan tahun terbit! Bayangkan buku itu masih dipelajari setelah ada peristiwa bersejarah: 28 Oktober 1928. Tahun itu terjadi persumpahan bahasa, yang dinamakan bahasa Indonesia. Namun, bahasa Melayu masih ada: diajarkan di sekolah dan mendapat pengakusan secara sosial-politik-kultural. Maka, kita menduga belum ada pengajaran bahasa Indonesia atau pembuatan buku pelajaran bahasa Indonesia setelah 1928 dan masa 1930-an. Jadi, pengajaran bahasa Melayu tetap terselenggara di sekolah-sekolah.

Buku itu sebenarnya selesai disusun pada 1926. Artinya, buku ada duluan sebelum Kongres Pemuda II (1928). Buku disusun oleh tim, yang kita tidak dapat mengetahui nama-namanya. Pada 1930, buku cetak ulang kedua, yang memuat keterangan: “Lain dari pada itoe banjak peribahasa dana pepatah jang koerang oemoem, ditinggalkan, tidak dimasoekkan lagi kedalam tjetakan jang kedoea ini. Setengahnja ada jang diganti dengan jang lebih oemoem.” Apa arti “oemoem” yang tercantum dalam kamus-kamus masa 1920-an dan 1930-an?

Buku pelajaran itu memang ramai dengan petikan-petikan dari sastra lama. Para murid yang belajar bahasa Melayu juga mendapat contoh dari  buku-buku terbitan Balai Poestaka masa 1920-an. Yang “modern” mungkin mulai diperlukan dalam pengajaran bahasa Melayu, yang belum dinamakan bahasa Indonesia.

Yang dikutip dari novel (saduran) berjudul Si Djohan dan Djamin agak mudah terbaca oleh kita yang hidup dalam abad XXI: “Pada soeatoe hari, ketika matahari hendak masoek keperadoeannja, hawa jang panaspoen bertoekarlah mendjadi agak sedjoek dan angin jang lemah lemboet bertioep sepoi-sepoi dari arah tenggara, pokok kenari jang besar-besar dengan tingginja, pada kiri kanan djalan besar menggerakkan ranting dan daoen-daoennja ditioep angin itoe gemoelai-gemoelai seolah-olah bersoeka hati karena matahari jang memantjarkan tjahajanja jang panas itoe, soedah hendak terbenam kebalik laoet Djawa jang lebar, dan hawa oedara pada waktoe petang hari itoe sedap dan njaman rasanja.” Yang belajar bahasa memang merasa asyik bila bersumber teks-teks sastra. Kita yang membaca petikan itu dibikin senewen. Peristiwa yang biasa terjadi dibahasakan secara panjang dan indah.

Setelah pemuatan bacaan, para murid diminta mengganti kata-kata. Artinya, ada ajakan belajar sinonim. Bacaan yang indah sengaja diajukan agar murid-murid berani memberi jawaban-jawaban. Yang dicantumkan dalam buku: “Kata peradoean itoe perkataan sehari-harikah? Tahoekan engkau lagi kata-kata jang seperti itoe?” Pada masa sekarang. “peradoean” atau “peraduan” masih hidup dalam bahasa Indonesia. Kita kadang tanpa sadar menggunakannya mirip dengan apa yang ada dalam bacaan di buku berjudul Melajoe Oemoem. Selanjutnya, ada pertanyaan: “Perkataan istirahat itoe perkataan apakah itoe? Tahoekah poela engkau beberapa perkataan Arab jang lain jang terpakai dalam bahasa Melajoe?”

Kita sekarang membaca kutipan yang diambil dari Hikajat Abdoellah. Bacaan lama yang memerlukan kecermatan: “Sejogianja bahwa mengabil ibarat kiranja, hai saudarakoe jang berboedi, akan segala perkara jang amat dahsjat jang terseboet itoe. Akan mendjadi soeatoe peringatanlah bagi segala orang jang hendak mentjari orang kepertjajaan dan jang boleh tempat diharap lagi amanat. Maka adalah perkara jang demikian itoe mahal dibeli soekar ditjari pada zaman ini.” Belajar bahasa, belajar “jang sama atau bersamaan” artinja. Bahasa Melajoe pada masa lalu menampilkan kata-kata yang berasal atau dipengaruhi dari bahasa Arab.

Yang kita baca adalah buku yang terbit pada 1930. Bahasa Indonesia sudah ada tapi yang dipelajri murid-murid adalah bahasa Melayu. Artinya, bahasa Indonesia adalah penamaan bagi yang berkesadaran politik dan kebudayaan “baroe”. Kaum muda itu masih menantikan waktu yang lama agar terjadi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Situasi masa 1920-an dan 1930-an mungkin mengandung kebingungan dan perselihan bagi yang menyebut bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Pada akhirnya, sebutan bahasa Indonesia makin dipentingkan dan kuat saat masa pendudukan balatentara Jepang: 1942.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.