
Cerpen M Arif Budiman
Pada mulanya Pras belum menyadari bahwa ia telah berada di alam keabadian. Ia baru benar-benar memahami setelah sebuah ambulans datang. Empat petugas medis berpakaian hazmat turun dari ambulans, memasukkan tubuh Pras ke dalam kantung mayat, lantas membawanya pergi. Ambulans pun meraung-raung membelah jalanan kota.
Aneh, begitulah yang ada dalam pikiran Pras ketika menatap orang-orang berpakaian layaknya astronaut itu di dalam ambulans. Mereka memperlakukan tubuhnya selayaknya orang-orang yang terkena wabah menular. Padahal masih ingat betul bahwa ia hanyalah seorang pengidap penyakit narkolepsi akut. Bahkan ia masih ingat kapan terakhir kali berkomunikasi secara sadar dengan Maya dan dokter saraf, sebelum dokter saraf menyuntikkan obat bius ke dalam tubuhnya.
Sesampainya di rumah sakit, petugas medis segera membawa tubuh Pras ke kamar mayat. Setelah mendapat arahan dari penjaga kamar mayat, tubuh Pras langsung dimasukkan ke dalam salah satu lemari pendingin. Pras hanya terdiam ketika melihat tubuhnya perlahan membeku. Kini ia sepenuhnya menyadari bahwa tak mungkin kembali ke dalam tubuhnya. Ia telah sepenuhnya menjadi arwah. Arwah tanpa wadah.
Pras benar-benar terpukul dengan nasibnya. Ia tak pernah menyangka bahwa akan mati dengan cara yang sedikit aneh dan kurang masuk akal. Padahal semasa hidup ia merasa tak pernah merugikan orang lain. Adapun permasalahannya dengan Maya hanyalah persoalan biasa. Pertengkaran-pertengkaran kecil, silang pendapat, beradu argumen yang tak lain merupakan bumbu-bumbu dalam rumah tangga.
Ketidaktahuan Pras akan penyebab kematiannya mendorongnya untuk terus mencari tahu. Ia terus mencoba berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya, termasuk Sarkum, si penjaga kamar mayat.
Pada mulanya Sarkum tak merespon setiap perkataan Pras. Butuh berjam-jam hingga Sarkum menyadari akan kehadirannya setelah Pras menjatuhkan sebuah gunting bedah ke lantai.
“Selamat datang,” ujar Sarkum, santai. Seolah apa yang Pras lakukan tak membuat Sarkum tersita perhatiannya. Ia tetap bergeming menonton acara televisi kesukaannya.
Melihat respon Sarkum, Pras tak lantas putus asa. Ia mencoba mencuri perhatian lelaki paruh baya itu dengan menggeser sebuah kursi.
“Kamu pikir aku takut? Kalau mau ikut nonton, nonton saja. Tak perlu berisik,” ujar Sarkum, acuh.
Pras merasa dirinya tak dihargai oleh Sarkum. Ia pun mencoba menjatuhkan benda lain yang menurutnya akan menyita perhatian si penjaga kamar mayat.
“Sontoloyo!” dengus Sarkum, beranjak dari tempat duduknya sembari berkacak pinggang setelah melihat gelas kopinya jatuh berderai. “Dari sekian banyak tamu yang mampir ke kamar ini, kamu yang paling kurang ajar! Kamu pasti Pras kan? Aku tahu itu sebab hanya kamu tamuku malam ini.”
Melihat tingkah Sarkum, Pras pun tersenyum. Meski demikian ia sangat beruntung karena apa yang dilakukannya mendapat respon.
“Kamu boleh bahagia malam ini dengan mengacak-acak ruanganku. Tapi besok pagi, setelah kamu kumandikan dan kumasukkan ke dalam peti mati, kamu tak akan berbuat banyak. Dengan catatan itu semua atas perintah Dokter S. Namun jika ia menghendaki kamu dibuang begitu saja seperti tempo hari, apa boleh buat. Kamu tak perlu protes!”
Pras terdiam mendengar perkataan Sarkum. Ia bertanya-tanya siapakah sebenarnya Dokter S yang disebut-sebut Sarkum. Apa hubungannya dengan kematiannya. Apakah Dokter S merupakan nama lain dari Dokter Saraf?
Pras pun kembali memutar otak bagaimana caranya agar ia dapat berkomunikasi langsung dengan Sarkum layaknya manusia pada umumnya. Namun sepertinya Tuhan tak merestui usaha Pras untuk berkomunikasi secara langsung dengan Sarkum. Ia hanya bisa menyentuh benda-benda di sekitarnya.
***
Hari menjelang siang ketika Sarkum dan Markum, seorang penjaga kamar mayat lainnya mengeluarkan tubuh Pras dari dalam lemari pendingin. Tubuh Pras benar-benar telah membeku. Uap es perlahan menguar dari tubuhnya. Dengan penuh kesabaran, Sarkum membawa tubuh Pras menuju meja pemandian.
“Untung badanmu ringan. Jadi aku tak perlu repot-repot minta bantuan banyak orang.”
Sesampainya di meja pemandian, Sarkum dengan penuh kehati-hatian memindahkan tubuh Pras.
“Asal kamu tahu. Meski tamu-tamu yang aku hadapi sudah tak bernyawa lagi, tapi pantang bagiku untuk berlaku kasar. Aku tahu, sebelum para jasad dikuburkan, maka pemiliknya masih menunggui. Termasuk kamu.”
Setelah tubuh Pras berada di meja pemandian, Sarkum dan Markum mulai memandikan tubuh Pras. Dengan perlahan ia menyirami tubuh Pras, lalu mengeramasi rambut Pras dengan sampo juga menyabuni seluruh tubuhnya.
Melihat perlakuan Sarkum, Pras merasa sungkan. Seumur-umur, setelah dewasa, baru kali ini ada yang memandikannya.
“Kamu cukup beruntung karena Dokter S tak jadi membuangmu lagi. Kamu tahu kenapa?”
Pras yang semula berdiri dikejauhan, segera mendekati Sarkum.
“Itu semua karena permintaan istrimu. Aku dengar istrimu yang meminta agar kamu disuntik mati. Kamu tahu kenapa? Sebab kamu tukang selingkuh.”
Mendengar perkataan Sarkum, Pras pun terkesiap. Meski ia kerap berlaku kasar pada Maya, tapi Maya tak mungkin berlaku sekejam itu.
“Ah, tapi itu tadi kabar burung. Kamu boleh percaya, boleh tidak. Mmm… Tapi tunggu dulu.” Tiba-tiba Sarkum memegang-megang kemaluan Pras. “Astaga… Bagaimana mana mungkin istrimu setega itu? Lihat saja, rudalmu ini tak ada tanda-tanda bahwa kamu tukang selingkuh. Ukurannya saja tak lebih besar dari jempolku!”
Seketika Sarkum dan Markum terkekeh. Sementara mendengar ejekan Sarkum, Pras pun tersinggung. Lalu menghempaskan gayung ke lantai.
“Wah, maaf. Aku tak bermaksud mengejekmu. Percayalah, aku hanya bercanda. Tapi untuk perihal kematianmu, kamu boleh cari sendiri penyebabnya. Kamu bisa temui Dokter S, atau bahkan istrimu sendiri.”
***
Setelah dimandikan, Sarkum pun mendandani Pras sesuai permintaan Dokter S dan tentu saja Dokter S sesuai permintaan Maya.
“Sesuai permintaan Dokter S. Kau tak perlu kupanggilkan tukang rias. Cukup aku saja. Aku juga cukup lihai mendandanimu. Lagipula, kau tak perlu memakai gincu, bukan?”
Pras cukup gusar mendengar pernyataan Markum. Kali ini Pras tak menjatuhkan apapun untuk membuktikan ketidaksukaanya.
“Ssstt… kau tak perlu berlebihan, Pras. Biasa sajalah. Toh aku hanya bercanda,” tukas Markum. Lalu melanjutkan mendandani Pras.
“Wah, kamu gagah juga ternyata setelah memakai setelan jas. Aku dengar jas ini merupakan jas pernikahanmu dulu ya?”
Dasar tukang gosip! Dengus Pras melihat tingkah polah Sarkum.
“O iya, aku dengar istrimu tak menghendaki kamu dibungkus dengan kain mori. Ia takut kamu akan berubah jadi setan lemper atau arem-arem. Ia juga tak menghendaki kamu di kremasi. Selain baumu nanti seperti satai bakar, ia juga takut abu dari sisa-sisa tubuhmu akan tercecer kemana-mana dan bikin batuk orang lain. Makanya, ia lebih memilih kamu didandani seperti ini. Selain lebih manusiawi, kamu biar terlihat ganteng di hadapan Tuhan. Tapi itu kata istrimu, bukan kataku.”
Dasar tukang gosip! Dengus Pras lagi.
“Nah, sekarang kamu sudah rapi, sudah wangi. Tinggal dimasukkan ke dalam peti. Tapi sepertinya aku tak bisa sendiri. Aku mesti cari bantuan orang lain. Tunggu sebentar, aku panggilakan Markum dan sopir ambulan.”
Sarkum meninggalkan tubuh Pras di meja pembaringan. Sebentar kemudian ia Kembali lagi bersama Markum dan seorang sopir ambulan. Mereka pun segera memasukkan Pras ke dalam peti mati.
“Nah, purna sudah tugasku sekarang. Kau terlihat gagah di dalam sini. Berbaringlah dengan tenang. Sebentar lagi seseorang akan menjemputmu.”
***
Matahari baru sepenggalah ketika ambulans memasuki kawasan pemakaman elit Budi Pekerti. Enam pria berbadan tegap bergegas menghampiri ambulan untuk menurunkan peti mati.
“Hati-hati. Tak perlu terburu-buru,” ujar pria berkaca mata gelap. “Pastikan bagian kepala di depan,” tegasnya.
Keenam pria berbadan tegap meletakkan peti mati di atas stan penyangga di samping liang lahat.
“Kalian boleh menyingkir.”
Enam pria berbadan tegap mengangguk.
Tak lama berselang, sebuah BMW berwarna hitam datang. Pras yang sedari tadi terus memandang peti jenazahnya, kini mengalihkan pandangannya ke sepasang pria dan wanita yang baru saja datang.
“Mari kita berdoa bersama. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Tuan Pras,” ajak pria berkacamata gelap.
Setelah doa bersama selesai, enam pria berbadan tegap menurunkan peti mati ke liang lahat dan menimbunnya dengan tanah. Sementara Pras tampak terpaku menatap satu-satunya wanita yang ada dipemakamannya. Ia tak menyangka bahwa kematiannya tak sepenuhnya sempurna, sebab Maya bersama dokter saraf menghadiri pemakamannya.
Ngablak, Juli 2023

M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.


