Katalog

Cerpen

14.400 Detik Sebelum Aku Lahir

Cerpen Seto Permada

Gemetar guruh menggetarkan dinding-dinding rahim yang menjagaku. Kudengar tetes hujan dari kecil-kecil hingga sebesar jempol. Beberapa detik sebelumnya, aku tidur pulas, bermimpi singgah ke negeri peri. Gadis-gadis berkemban dan bersayap putih menawariku segelas susu ekstra madu yang diambil dari sungai panjang nan lebar. Tawaran itu pun kuterima. Namun, saat kucoba menggapai gagang gelas, tangan mereka menjauh, menjauh, hingga kecil-kecil seperti kuman.

Itu suara Ibu. Suaranya mengaduh. Kedua tangannya mengetukku dari luar. Refleks, kedua tanganku pun meraba-raba dinding gelap ini. Ada apa, Bu? Ia bercerita siang tadi ke warung Mpok Jamilah. Di sana ada Pak Tob. Orang itu meledek, “Apakah kau mau melahirkan anak perempuan lagi, Marni, yang kelima kalinya? Tidak bosan?”

Di sela keluhan Ibu, kutangkap nadanya yang ingin aku lahir sebagai anak laki-laki. Kedua tangannya mengelusku dari luar. Rata. Tak ada benjolan kuat yang mengerucut. Pertanda kelak aku menjadi anak perempuan. Apa salahnya menjadi anak perempuan, Bu? Kakak-kakak perempuanku di luar sana pasti sudah banyak membantu; masak, mencuci, atau bahkan ikut mencari nafkah. Ya, kan, Bu?

Kini, suara keluh Ibu dibarengi suara jatuhnya hujan yang mengetuk dinding rahim keras-keras. Sering kutanya pada Tuhan, Mengapa tak Kau-sediakan lampu? Namun Dia tak menjawab. Barangkali ruangan khusus ini memang diciptakan agar tetap menjadi rahasia besar sepanjang zaman.

Kuhitung-hitung, sudah 8 jam Ibu tak makan apa-apa. Biasanya tidak selama ini. Selang yang menancap ke perutku tampak kempis. Bahkan saat kupencet hanya berisi udara. Apa Ibu ingin jadi pembunuh menjelang kelahiranku?

Dua jam penuh Ibu merintih dan meraung-raung tak tentu di tengah lebatnya hujan. Setelah itu, suaranya semakin lemah dan lemah hingga sepenuhnya tergantikan oleh hujan. Detak jantung Ibu yang berada di bawah kedua kakiku terdengar melambat. Ruangan ini pun terasa sesak dan pengap. Aku lemas.

***

“Marni! Marni! Kenapa kau tiduran di sini tengah hujan-hujan begini?”

“Ah, kau sudah pulang rupanya. Tiba-tiba tadi aku ingin jalan-jalan.”

“Di rumah anak-anak bagaimana?”

“Mereka tidur.”

“Ayo pulang. Jangan sampai dilihat orang. Apa kata Eyang nanti kalau dia tahu kau tergeletak di lapangan sepak bola.”

“Ya jangan bilang-bilang.”

“Kamu belum makan, ya? Wajahmu pucat. Ayo kita pulang.”

“Sudah, kok. Tadi makan ikan kalengan.”

Maaf tadi aku tidur sebentar. Jarang-jarang ada suara Bapak. Percakapan tadi, meski sepotong, kudengar dengan saksama, bahkan kata per kata. Ia jarang pulang karena kerja di luar kota, kata Ibu suatu waktu. Sama dengan Ibu, sebenarnya aku merindukan Bapak dan suara-suaranya yang besar itu. Di rumah, Eyang mendominasi suara-suara yang beredar. Kadang aku malu sendiri. Apalagi, kata Ibu, rumah kami diapit dua rumah dan berada di tengah-tengah puluhan rumah lainnya.

Sesampai di rumah, Ibu diantar ke kamar mandi oleh Bapak. Suara hujan deras tadi tergantikan oleh guyuran air kulah yang terasa jauh lebih hangat. Seakan-akan, air itu menyirami sekaligus menyelimuti seluruh permukaan tubuhku. Samar-samar, di luar juga terselip dengkuran Eyang. Mengapa harus ada dengkuran seberisik itu?

Saat Ibu menggosok gigi, ubun-ubunku terasa berdenyut. Apa ini? Udara asing bertiup di ujung kepalaku, membelai-belai sebagian rambutku. Serta-merta, Ibu menghentikan acara gosok gigi dan berteriak memanggil-manggil Bapak. Kudengar suara panik dan langkah kaki mendekat. Namun kepalaku terlalu pusing, dadaku berdetak kencang, dan tubuhku lemas. Suara-suara itu semakin mengecil seperti para peri yang beberapa jam lalu meninggalkanku….

***

Saat bangun tidur, kudengar Ibu teriak keras-keras, menggetarkanku, membuat ruangan ini semakin sempit dari detik ke detik. Getaran lain berasal dari bawah punggung Ibu, diiringi suara klakson dan derum mobil.

“Sebentar lagi sampai.”

“Eyang tidak ikut, Mas?”

“Masih tidur tadi. Sayang kalau dibangunin.”

“Syukurlah. Kita mau ke mana?”

“Rumah Sakit Kasih Ibu. Ya kan, Mang?”

“Ya, Bos,” itu suara Mang Kholil, tetangga sebelah.

“Tidak ke rumah sakit umum saja? Katanya gratis, kan?”

“Aduh, KIS kita kan belum jadi.”

***

Setelah beberapa kali tarikan ke kanan dan ke kiri diiringi erangan Ibu, akhirnya mobil yang kami tumpangi diam juga. Bapak membopong Ibu. Sedang Mang Kholil diminta ke resepsionis agar kamar bersalin cepat siap.

Setibanya di kamar, Ibu belum langsung melahirkan. Sesuai arahan suster, Ibu harus menjaga ritme pernapasan dulu. Jangan ada tekanan padaku. Lepas saja seperti bernapas biasa. Suster itu benar. Apabila Ibu mengerang dan menekan dirinya sendiri, rasanya aku teremas-remas. Sedangkan saat Ibu bernapas lepas, ruangan ini menjadi lapang dan perasaanku sangat lega. Mungkin Tuhan ingin aku dan Ibu saling bekerja sama dan saling mengerti.

“Anda suami dari Ibu Marni?”

“Saya, Bu Dokter.”

“Sesuai prosedur kami, suami dari pasien yang hendak melahirkan diharap ke luar ruangan.”

Meski agak ragu karena tak ingin meninggalkan Ibu, terdengar juga jawaban, “Baik, Bu Dokter.”

Suara Bu Dokter sangat mirip dengan Elisa, salah satu peri berkemban dan bersayap putih yang pernah mengajakku berdansa di atas lapisan salju dalam cuaca cerah. Kami berdansa di atas gerakan ikan hiu, anjing laut, penguin, dan udang. Gerakan kaki-kaki kami membentuk cetakan-cetakan indah.

“Ayo, terus ikuti langkahku dan lihat cetakan apa yang kauhasilkan,” kata Elisa memberi aba-aba.

“Bunga!”

“Ya, kelak kau akan jadi gadis tercantik di dunia.”

Aku tersipu.

“Lihat ada lagi.”

“Kucing!”

“Ya, kelak kau akan selalu menyayangi binatang dan melindungi mereka dari orang-orang jahat.”

“Sekarang kita menuju langkah terakhir. Gerakkan tanganmu ke atas dan berjinjit. Lihat cetakan yang kauhasilkan.”

Aku agak bingung karena cetakan terakhir berbentuk kotak persegi panjang, terdapat gambar di tengah-tengahnya, dan ada tulisan-tulisan di atasnya. Cetakan itu berbentuk lembaran-lembaran saat angin musim dingin meniupnya.

“Apa itu, Elisa?”

“Menurutmu?”

Kurasakan Bu Dokter menekan perutku dari luar. Tak lama kemudian, tangannya meraih kepala dan tubuhku. Tangan kasar itu tak sama dengan Elisa. Apakah Bu Dokter adalah Elisa versi jahat?

Selama prosesi melahirkan, Ibu kehilangan suaranya. Tak bisa kubayangkan bagaimana wajahnya sekarang. Pasti sangat kecapaian. Bu, besar nanti, aku akan rajin mencuci, memasak, merawat bunga-bunga, dan jadi gadis terpandai di dunia. Aku pasti bisa membuat Ibu bangga.

“Selamat. Bayi laki-laki Anda lahir dengan selamat,” kata Bu Dokter sebelum membawaku ke ruangan lain.

Ibu tidak menjawab apa-apa. Mungkin karena ia terlalu letih sekaligus terkejut. Saat Bu Dokter keluar membawaku, sebenarnya Bapak sudah tak sabar ingin menimangku. Namun Bu Dokter tetaplah Bu Dokter. Ia menyerahkanku ke salah satu suster dan membawaku ke ruang pencucian sekaligus peristirahatan.

Saat suster itu membilasku dengan air sehangat tubuh ini, aku terus bertanya pada diri sendiri. Benarkah aku seorang laki-laki? Laki-laki macam apakah aku nanti? ***

Purworejo, 22 April 2021


Seto Permada adalah nama pena dari Muhammad Walid Khakim. Ia berdomisili di Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa kali karyanya termuat media lokal dan media online.

Buku, Resensi

Populisme Kiri: Menggugat Hegemoni, Meradikalkan Demokrasi

Oleh Muhammad Teguh Saputro

Frasa suci dalam catatan sejarah yang sudah tidak asing lagi kita dengarkan mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah tentang perebutan kekuasaan. Makna besar kekuasaan dalam frasa tersebut tidak semata tentang tahta kepemimpinan, susunan kabinet, atau kursi parlemen, melainkan lebih dari itu, pertarungan ide, gagasan, media, bahkan massa yang terkoneksi menjadi suatu tatanan sistem – ekonomi dan politik – yang bersifat mendominasi dalam segala lini kehidupan.

Perebutan wacana ide besar tatanan kehidupan – sistem, tidak lagi menjadi topik baru dalam altar peradaban manusia. Terhitung sejak lahirnya Revolusi Prancis di abad ke 18 sampai mencairnya Perang Dingin di senjakala abad ke 20 –tarik-menarik dominasi di percaturan politik global tidak pernah berhenti. Sejarah panjang yang populer dikenal dengan perebutan wacana antara Faksi Kanan dan Faksi Kiri perlahan berhenti ketika banyak negara secara bergilir mencapai titik konsensus yang dianggapnya sebuah konklusi dari konflik panjang ini. Konsensus yang dengan sepakat diberi nama demokrasi.

Titik Nadir Demokrasi

Chantal Mouffe, seorang teoritikus politik asal Belgia yang menyandang gelar profesor teori politik di University of Westminster, UK, menguraikan narasi dengan arah arus yang sangat baru dan berbeda. Lewat bukunya yang berjudul Populisme Kiri, Mouffe membeberkan bahwa konsensus demokrasi yang dulu dicita-citakan sebagai titik netral dengan menjunjung nilai kesetaraan dan kedaulatan, hari ini berada di titik nadir dengan semakin dominan dan kuatnya faksi Kanan – populis, yang terus mengglorifikasi politik identitas, sentimen rasial, keagamaan, kesukuan, xenofobik. Sebuah titik yang tidak pernah terbayangkan, titik konsensus yang dianggap netral dan setara hari ini berada di tangan-tangan populis yang mengimani pandangan yang bertolak belakang dari cita-cita.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri juga membeberkan tentang ruang demokrasi yang terkungkung dalam genggaman kaum populis saat ini bukan tanpa alasan. Mouffe lewat catatan dan analisa yang ditulisnya setidaknya mengatakan, titik nadir demokrasi di tangan kaum populis hari ini lahir dari jurang kesenjangan yang dilahirkan ruang demokrasi itu sendiri. Menurutnya, tatanan sistem konsensus demokrasi pasca perang dingin yang mengaburkan batas kanan-kiri melahirkan suatu pondasi sistem yang rentan akan krisis. Liberalisme yang semakin berkembang setelah mendapat tempat di sisi demokrasi pasca-konsensus, sejak awal mempunyai bagian yang saling bersinggungan dan bersifat kontradiktif.

Demokrasi yang berdiri dengan tiang agung kesetaraan dan kedaulatan, bertolak belakang dengan liberalisme yang menjunjung kebebasan individualisme. Perkawinan dua sistem yang mempunyai kontradiksi tersebut seakan tampil menjadi wacanan sistem baru yang bersifat mengakomodir. Dengan dibantu kinerja-kinerja hegemonik oleh berbagai formula hegemoni — seperti birokrasi, media, dan wacana globalisasi – sistem konsensus ini berkembang dengan sangat pesat namun menyimpan kerentanan yang sangat besar di baliknya.

Konsensus yang kemudian hari dikenal dengan istilah demokrasi liberal,berkembang dengan semangat mengalenisasi wacana rakyat– terganti dengan wacana kebebasan individu – mencapai titik nadirnya pada pecahnya krisis ekonomi internasional, seperti di tahun 2008 yang menimpa dan membuat dampak yang fatal bagi negara-negara besar demokrasi.

Ketimpangan dan kesenjangan yang dilahirkan demokrasi liberal semakin jelas pasca-krisis. Imbasnya, momen populis–momen merebut kembali kedaulatan dan wacana rakyat yang ada di banyak negara dan bersifat resistance–lahir dan diikuti meletusnya gerakan besar alternatif melawan hegemoni liberalisme.

Momen populis ini semakin tumbuh. Dengan metodologi redefinisi yang jelas antara makna dan siapa-kita serta makna dan siapa-mereka, (baca: rakyat v.s elit), kaum populis memanfaatkan momen ini dengan dalih memulihkan demokrasi. Alih-alih memulihkan ke cita-cita awal – kedaulatan dan kesetaraan – demokrasi semakin mencapai titik nadirnya dengan politik identitas, intoleransi, dan sentimen rasial di bawah tempurung populis-kanan.

Merebut dan Meradikalkan Demokrasi

Keprihatinan mengenai kondisi demokrasi saat ini yang – kebanyakan – berada di bawah kendali kaum populis – yang semakin menjauhkan tatanan dari kesetaraan – membuat beberapa filsuf dan akademisi politik berdebat dalam merumuskan strategi untuk merebut kembali demokrasi. Di posisi inilah Mouffe tampil dengan gagasan yang tertuang di bukunya; Populisme Kiri. Menurutnya, kondisi hari ini tidak semata gagalnya konsensus demokrasi liberal membendung krisis yang berakibat kesenjangan yang begitu besar, tetapi lebih dari terdapat fenomena realitas lain, yakni matinya gerakan revolusioner (baca:kiri), dan keberhasilan kaum populis memanfaatkan momen – kesempatan yang dihasilkan krisis.

Gerakan revolusioner sibuk menenggelamkan diri dengan perdebatan internal mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk merebut demokrasi. Banyaknya faksi yang terdapat dalam arus ini masih sibuk berdebat mengenai metodologi revolusi yang akan digulirkan. Beberapa memilih revolusi total, beberapa lain menyimpang dan memilih memasuki pusaran sistem dan berusaha merovolusi dari dalam. Imbasnya, ketiadaan keselarasan visi tersebut semakin melemahkan arus gerakan dan mengaburkan tujuan awal.

Sedangkan di sisi lain, faksi tandingan yang dikenal dengan istilah populis berhasil memanfaatkan krisis yang dilahirkan demokrasi liberal. Jurang kesenjangan berhasil dimanfaatkan kaum populis untuk meredefinisi musuh bersama. Wacana rakyat yang selama ini perlahan hilang dari gelanggang demokrasi, direbut dan dimunculkan kembali sebagai kendaraan untuk merebut demokrasi dan mengantarkan pada kemenangan – kekuasaan.

Mouffe, sebagai salah seorang yang prihatin terhadap kondisi yang dilahirkan kaum populis ini mencoba merumuskan dan menawarkan strategi baru untuk kaum revolusioner yang kehilangan arah. Bagi Mouffe, strategi populis yang berhasil tersebut dapat kita adopsi, meski tentu dengan berbagai catatan yang membedakan.

Mouffe menjelaskan, keberhasilan kaum populis sangat dipengaruhi momen populis yang dilahirkan oleh krisis. Momen populis yang dimanfaatkan gerakan untuk meredefinisi realitas guna membentuk wacana publik tersebut harus dimanfaatkan sebagai momen mengonsolidasi perlawanan. Jika kaum populis mendefiniskan dengan garis demokrasi yang jelas antara rakyat dan elit, yang dimanfaatkan untuk meraup suara, kaum kiri haruslah mampu melakukan hal yang sama. Membedakan diri dan menciptakan musuh bersama di wacana publik, serta merangkul berbagai elemen untuk mewujudkan kontra-hegemoni secara bersama.

Mouffe menyadari kemapanan sebuah sistem – termasuk demokrasi liberal – sangat ditopang oleh keberhasilan sebuah formula yang bersifat menghegemoni. Meminjam teori yang pernah diajarkan Antonio Gramsci, Mouffe menjelaskan melawan hegemoni tidak lain dengan menciptakan formula baru yang bersifat kontra-hegemoni.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri ini mengajak pembaca untuk merefleksi strategi yang pernah dilakukan kaum populis – dan berhasil, untuk diadopsi dan dimodifikasi dalam gerakan yang lebih revolusioner guna keluar dari hegemoni liberalisme dan menyelamatkan pilar demokrasi yang diinjak-injak kaum populis sejauh ini.

Mouffe yang percaya bahwa demokrasi dan negara adalah ruang netral untuk saling menciptakan ide-ide yang membentuk formula hegemoni, secara sederhana dia mengajak pembaca untuk menggugat hegemoni yang selama ini melahirkan krisis – liberalisme, dengan menciptakan formula kontra-hegemoni untuk turut mewarnai ruang demokrasi, serta menciptakan perubahan yang radikal dalam sistem demokrasi untuk cita-cita mulia yang pernah dimimpikan bersama. Bahwa demokrasi adalah sebuah konsensus untuk menegakkan kesetaraan dan kedaulatan di tangan rakyat – bukan elit, oligarki, dll. Pentingnya kemenangan kiri untuk menyelamatkan demokrasi harus disertai pentingnya membentuk wacana publik lewat momen populis, menciptakan formula kontra-hegemoni sebagai alternatif, serta meradikalkan sistem demokrasi untuk menciptakan berbagai perubahan-perubahan besar yang dimimpikan rakyat.


Muhammad Teguh Saputro, mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pegiat literasi dan diskusi di Komunitas Lorong.

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Kemah

lihat! malam meninggi menyundul langit, katamu

ombak berlarian dengan kaki-kaki kecilnya

yang sekarang tinggal suara dan dengus gema

kita kemudian menegakkan dua tenda

saling bermuka-muka, di tengah terdapat

kobar api dengan lidah merah menyala

aku mengutuk dingin, ia seperti terlahir dari

ujung daun yang terus melambai nan melandai

ini bulan ke satu, katamu, dingin selalu lewat

dari batas kewajaran manusia di muka bumi

perlahan kita menyederhanakan penyambutan

pada malam. sekadar menolak dingin

mengusir rupa-rupa hening, hingga

mengalungkan hangat di leher masing-masing

sementara lagu-lagu dengan nada berlubang

menusuk kuping. membiarkan kita bertahan

di tengah sengau dingin yang bening

Yogyakarta, 2021


Berpulang

dalam darahku mengalir deru angin

ombak memintal umpama laut kampung halaman

setelah menjauh dan mengunjungi tahun-tahun biru

pulang pelan-pelan, meletakkan batu rindu pertama

aku masih mencintaimu, ternyata

riak-riak kecil di dada meletup

bersorak, benar-benar menyerupai ramai ombak

kulihat kembali, anak kecil di gigir

batu pantai melempar patahan tembikar

ke permukaan laut, mereka menghitung

berapa lompatan sebelum akhirnya

tenggelam sampai dasar

tidak pernah lupa, bendera setengah

robek yang terpancang di tiang sampan

dengan sungguh-sungguh menghantar

pulang seluruh ingatan

Yogyakarta, 2021


Mahabah Bahasa

mula-mula kita menyoal darimana muasal bahasa

kata yang mengendap menjelma epitaf

seumpama duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus pegon di kulit karang

lalu mengirim debar atau debur ke dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

—dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

sebuah suara lantang dari lubang

yang tidak diketahui sebelumnya

semisal kita senantiasa menggali tanah ini

sejengkal demi sejengkal dan tidak sampai satu depa

tetapi terus digali sampai batas paling bawah

menemukan satu dua batu bercampur tanah merah

;tulang dan arwah pohon yang ditarik pada muasal

kita sering bertanya darimana asal seluruh bahasa

cinta dan kesedihan yang tertampung di tulang iganya

dan bila sedikit kau sentuh, akan kau temukan

ketenangan di sana

Yogyakarta, 2021


Senyum Qamariyah

udara berkabut, dingin menyusup ke tulang punggung, qamariyah

kita berdiri di halaman saling tatap dan sangat lekat

umpama masuk ke lubang yang gelap, meski tak kutemukan

bayang-bayang siapa pun lewat walau sekejap

kau mengerdipkan mata, gerak bintang selatan dan awan-awan

merapat ke pundakmu. mereka mengerubungi kita, sementara

kau bertanya; untuk apa senyum diciptakan?

kutemukan bibirmu hanya di tanggal satu, terus-menerus

menyuntikkan senyum, menggetarkan bulu-bulu dada

dan seluruh bangunan kokoh di dalamnya. namun, udara

tetap berkabut, qamariyah, wajahmu timbul tenggelam

bibirmu seperti tumpul menembus nan menebus kegelapan.

batapa pun dunia hanya tercipta dari liang kefanaan

umapa bibirmu yang sepintas lewat di padang pikiran

Yogyakarta, 2021


Tengah Malam Terjaga dan Terpaksa Berdoa

pekarangan berbalut senyap dan kau mengintipnya

dari balik jendela dengan gorden keemasan

serta ulas abu-abu setengah karat

;bulan rebah di padang rumput

sementara pohon di halaman semaput

kau mengangkat tangan seraya meyakini

doa yang mengental di lubang dada

akan dengan mudah mengetuk angkasa

sebelumnya, kau sengaja merebahkan lelah

di dataran ranjang. lalu mengatupkan mata

pelan-pelan sampai tak terdengar bunyi

kedip kelopak yang bersentuhan

kau benar-benar terjaga, kepalamu

seumpama dirasuki deru mesin pabrik

yang berisik sepanjang hari tanpa jeda

kembali kau angkat tangan

Tuhan sedang melambai, meski

sebatas bayang-bayang

Yogyakarta, 2021


Bersalin

apa yang kau tatap? langit-langit kamar sembap

udara berlindung pada ujung bunga di perut pot

tangan kiri menggenggam ujung selimut

tangan kanan kuciumi sampai larut

napas kau tarik lalu diulur

kau tarik lagi diulur lagi

sebuah dunia keluar masuk dari

lubang hidung yang sempit

hanya cukup mencium bau-bau sengit

‘kau pejamkan mata, mengatupkan bibir

lantas mengerang kuat-kuat

itu desis sampai ke langit paling hakikat

doa saya melata di bawah ranjang tua

beserta doa lain dari manusia di luar ruangan

tangis pecah mengusik ubun-ubun

ini dunia baru, anakku, dunia bertemunya

seluruh kesakitan dari kamar rahim

serta, bagimu, bumi yang asing.

Yogyakarta, 2020


Herbsttag

ini musim gugur, hujan tigakali-empatkali

luruh di barat dan timur kota

lalu terhenti, daun maple berwarna

kuning kunyit mendekati merah nanah

terjatuh di tengah-tengah halimun

yang lurus kepala

kau geser kabut-kabur tipis

pohon di halaman minta disunting

kita mengintip dari bibir jendala beruap

bumi seperti padang luas, selalu

menerima sengat terik dengan ikhlas

tetapi, tidak sering kita menemui

lidah matahari menjilat-jilat.

pergantian dari satu musim ke musim lain

tidak pernah bisa ditaksir dengan tepat

Yogyakarta, 2020


Lidah Ibu

itu lidah api, kata ayah

beberapa jenis rasa sudah mengakar di sana

;kopi yang lebih gula satu inci

bisa dipilah lewat lidah paling peka

ia akan berdiri di mulut tungku

sekali-kali duduk menyilangkan kaki

beserta tabah mengakar di dada, menunggu

air dan lapar yang sama-sama mendidih

asap menyundul wuwungan dapur

berkali-kali menyelup ujung telunjuk

sampai kata-kata melekat di kuku

mendekatkan ke mulut, menjilat pelan

pejamkan mata. rasakan, apa yang

berlebihan!

setelah hangat berlalu, sampai

dingin menepi di piring-piring

ibu menjauh, ia hanya menyediakan

lidahnya bagi lidahku

Yogyakarta, 2020


Bahasa Nama

kita duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus epitaf di kulit karang

lalu mengirim debar sekaligus debur pada dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

;dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

rumah ombak, amis ikan, deru-deru kapal

menjemput matahari di dermaga yang majal

tetapi kita selalu duduk dan tetap termangu

duakali-tigakali mengangkat dagu

diiringi angin menggelinding dari ujung bukit

mengacak-acak hitam rambutmu

pikiran ditarik ke masa lalu, beberapa

jengkal dari bahasa kepedihan.

diajari bentuk huruf

hingga menyimpul nama kita

sejakitu pula kauhafalnama-nama

;asma lain kesedihan di lubang dada

Yogyakarta, 2021


Bahasa Laut

beberapa bahasa yang disampaikan laut

pada tebing menjulang atau sebuah tanjung

yang tinggi tidak sampai ke puncak matahari

;isyarat debur kecil yang menghentak

permukaan air

lipatan jalan yang digaris pacu sampan

menerobos dari utara ke selatan

kita tidak pernah menemukan, di laut

yang kekal selain pasang dan surut

bahasa laut umpama telunjuk rasi

menuntun di malam berkabut dan beruntun

menolak segala rupa hingga macam takut

ombak menabuh gendang telinga kita

bertalu-talu sampai di hari ketiga

seluruh yang lahir di laut

kerap berlidung di dada

sampai larut

Yogyakarta, 2021


Moh. Rofqil Bazikh, tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online. Bisa ditemui di surel [email protected] atau twitter rofqil@bazikh.

Cerpen

Seekor Kucing Titipan

Cerpen Ramli Lahaping

Aku tak pernah menduga bahwa kita akan bersama sebagai sepasang kekasih. Aku sama sekali tak punya perasaan spesial kepadamu di awal kebersamaan kita. Aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa. Apalagi, dahulu, kau hanyalah teman dekat seorang perempuan yang menarik perhatianku. Sebab itulah, kau cuma kuanggap sebagai perantara untuk mendekatkan diriku kepadanya.

Tetapi jalan buntu kemudian memupuskan harapanku terhadap teman dekatmu itu. Setelah sekian lama aku menyusun rencana dan menjejaki jalan hatiku, ternyata ia malah jatuh ke dalam buaian lelaki lain. Sampai akhirnya, aku mesti berurusan dengan perasaan yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku harus meredam deru perasaan yang selama ini kupendam terhadapnya.

Namun keseringan bersamamu, ternyata membuatku terjerat dalam perasaan yang sulit kujelaskan. Aku merasa menemukan lahan baru untuk benih cintaku yang tak sempat kusemai di hatinya. Dan kurasa, perasaan itu bukanlah bentuk pelarian semata. Pasalnya, aku merasa semakin nyaman saja bersamamu, dan perasaanku kepadanya perlahan-lahan memudar.

Menjadikanmu sebagai kekasih ketika pada awalnya hatiku mengharapkan dirinya, tentu bukanlah perkara yang mudah. Keteguhanku kadang-kadang goyah, sebab aku kerap menyaksikan kehadirannya bersamamu. Apalagi kalian memang mempunyai banyak aktivitas yang sama, baik dalam soal perkuliahan, atau soal kesenangan semata, khususnya perihal pemeliharaan kucing yang sama-sama kalian gandrungi.

Entah bagaimana perasaanmu kalau tahu bahwa engkau hanyalah ketersesatan yang menyelamatkanku, seumpama cinta kedua setelah aku kalah atas cinta pertama. Barangkali kau akan kesal dan meragukan kesungguhan cintaku yang tumbuh secara perlahan dan semakin menguat. Tetapi kau memang tidak akan pernah tahu, sebab aku akan merahasiakan soal itu selamanya, sehingga kau tetap merasa sebagai yang pertama dan utama di dalam hatiku.

Akhirnya, di balik rahasiaku dan ketidaktahuanmu, hubungan kita berjalan baik-baik saja, seolah-olah kebersamaan kita adalah wujud dari rencana harapan kita sedari awal. Kita menjalani hari-hari yang menggembirakan. Kita terus berusaha untuk saling menyenangkan. Segala hal yang menjadi kepentinganmu, akan menjadi kepentinganku juga. Begitu pun sebaliknya.

Sampai akhirnya, empat belas hari yang lalu, kau pun bertandang ke kos-kosanku, sembari membawa seekor kucing kesayanganmu yang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. “Aku ingin pulang ke kampungku. Aku mendapatkan kabar bahwa sepupuku akan menikah. Aku harus hadir,” terangmu kemudian, sembari mengusap-usap peliharaanmu itu.

Kita lantas duduk bersampingan di teras depan kamar indekosku.

“Apa kau akan lama?” tanyaku, sembari berharap kau hanya sebentar.

Kau menggeleng pelan. “Aku akan kembali ke sini secepatnya,” jawabmu, lantas menyerahkan kucing itu kepadaku. “Tolong jaga dia baik-baik,” pintamu, dengan raut wajah yang redup, seperti menyiratkan keengganan untuk berpisah lama-lama dengannya, ataupun denganku.

Aku lalu mengangguk keras. Berusaha meyakinkanmu. “Aku janji, ia akan baik-baik saja bersamaku.”

Kau pun tersenyum singkat. Tampak memercayaiku sepenuhnya.

Aku balas tersenyum.

Lantas dengan sikap tenang, kau kembali mengelus-elus kepala kucing yang telah berada di dalam dekapanku itu. Kau tampak begitu menyayanginya. Hingga akhirnya, kau mengutarakan tafsiranmu atas hakikat keberadaan kucing, “Kau tahu, kucing adalah makluk yang ajaib. Setiap orang yang hatinya penuh dengan cinta, pasti akan cinta pula pada kucing. Karena itulah, kucing bisa menyatukan cinta orang-orang yang saling mencintai,” katamu dengan raut sayu.

Aku tertawa pendek menyaksikan kemanjaanmu.

Dan akhirnya, hari itu juga, sebuah kapal membawamu ke pulau seberang, ke tanah kelahiranmu.

Sebagai kekasih, aku pun berjuang menjaga kucingmu demi hubungan kita. Aku berusaha memastikan bahwa ia baik-baik saja, sampai aku menyerahkannya kembali kepadamu. Aku berupaya memperlakukannya sebagaimana kau memperlakukannya. Karena itu, di dalam kamar indekosku yang sempit, aku menyediakan tempat tidur sesukanya, makanan sepuasnya, dan belaian-belaian yang manja.

Tetapi aku hanya bertahan selama dua hari untuk memperlakukannya sebagai raja. Aku jadi tak sanggup juga menanggung beban atas air kencing dan tahinya yang menyebar sembarangan di dalam kamarku. Sampai akhirnya, aku mulai melepaskannya untuk menjelajah di sekitar lingkungan kos-kosanku, sembari terus memantau dan membatasi pergerakannya agar tidak pergi terlalu jauh.

Namun kekhawatiranku atas keadaan kucingmu di lingkungan luar, perlahan-lahan memudar. Pasalnya, aku menyaksikan bahwa ia telah mengenali kamarku sebagai tempatnya untuk pulang. Setiap saat, setelah ia menjelajah entah ke mana, ia akan kembali ke dalam kamarku dengan sendirinya, tanpa perlu kupanggil dan kubujuk-bujuk lagi.

Pada hari-hari kemudian, aku pun memperlakukan sepatutnya saja, sebagaimana seharusnya memelihara binatang. Aku membebaskannya bermain di dalam kamarku, tetapi juga membiarkannya menjelajah sesuka hati. Aku menyisakan bagian dari makananku untuknya, tetapi juga membiarkannya mencari makanan semaunya sendiri.

Atas kebebasan yang kuberikan, bebanku atas pemeliharaan kucing itu semakin berkurang.Aku tak perlu lagi repot-repot untuk memanjakan kemalasannya, menyediakan makanan pokoknya, atau mengurus kotorannya. Ia telah beradaptasi dengan lingkungan dan bisa mengatasi semua masalahnya sendiri.

Namun pada waktu kemudian, aku mulai mendengar keluhan penghuni rumah di sekitar kos-kosanku atas ulah para kucing. Mereka kesal pada kucing yang kerap menggarong isi meja makan mereka, membuang kotoran secara serampangan di lingkungan mereka, atau berkelahi dengan kucing-kucing peliharaan mereka. Dan setelah kucermati dan kutilik baik-baik, aku pun tahu bahwa kucingmu adalah salah satu kucing paling berandal yang mereka kutuki.

Tetapi sialnya, permasalahan yang harus kutanggung atas tingkah laku kucingmu itu, sepertinya masih akan berkepanjangan. Pasalnya, kau tak juga datang dari kampung halamanmu. Kau bahkan tak menjanjikan rencana waktu kepulanganmu kepadaku. Sampai akhirnya, di tengah ketidakpastian atas kedatanganmu, sejak tujuh hari yang lalu, kau tak lagi menjawab panggilan teleponku, atau sekadar membalas pesanku.

Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tak bisa memahami kenyataanmu. Awalnya, kukira, kau akan pulang dengan sendirinya, dalam beberapa hari saja, seperti yang engkau janjikan. Atau setidaknya, dalam keberadaanmu yang tanpa kabar itu, kau akan pulang lima hari yang lalu, di hari ulang tahunku, dan memberikan kejutan yang menyenangkan untukku, seperti yang kubayang-bayangkan.

Atas kepergianmu yang entah sampai kapan, aku pun kelimpungan menghadapi perkara kucing kesayanganmu. Hari demi hari, aku terus mendengar kekesalan warga atas kenakalan para kucing. Beberapa di antara mereka bahkan mulai menyebut ciri-ciri dan menuding kucingmu sebagai pelaku kekacauan, sampai aku khawatir kalau-kalau mereka tahu bila akulah yang merumahkan kucingmu itu.

Hingga akhirnya, di tengah kerisauanku, kucingmu pun melakukan tindakan yang sungguh mengkhawatirkan. Sebuah tindakan yang sangat mungkin membuat hubungan baikku dengan para tetangga jadi bermasalah. Pasalnya, tiba-tiba saja,dua hari yang lalu, ia masuk ke dalam kamarku, sembari membawa seekor ikan hias dengan cengkeraman giginya. Seekor ikan yang kutaksir berharga mahal.

Seketika juga, aku jadi kelabakan. Aku dilema, di antara mengurungnya kembali di kamar, atau tetap membebaskannya untuk sekalian menuai buah dari tindakannya sendiri. Tetapi setelah mengingat-ingat janjiku kepadamu, dengan berat hati, aku putuskan mengurungnya kembali, demi menyelamatkannya dari bahaya, sekaligus menghindarkanku dari masalah.

Untuk menyamarkan statusku sebagai wali kucingmu dari pembacaan tetangga, aku senantiasa bersikap ramah kepada mereka. Kuharap, dengan begitu, mereka tidak sampai mencurigaiku, atau setidaknya tidak terlalu membenciku setelah mereka tahu kenyataan yang sesungguhnya. Apalagi, sebagai seorang pendatang yang hadir di lingkungan mereka hanya untuk kepentingan kuliah, aku sungguh tidak ingin dicap buruk.

Sampai akhirnya, kemarin, saat hari sudah sore, aku pun bertamu pada seorang warga yang tinggal seorang diri di rumah pribadinya yang berada di serong kanan depan bangunan indekosku. Aku menghampirinya setelah ia tampak murung saja di halaman depan rumahnya yang kerap menjadi tempat para kucing membuang hajat. Ia seperti masih sangat berkabung sejak kepulangannya dari pulau seberang untuk menghadiri pemakaman wanita yang hendak ia nikahi, setelah wanita itu meninggal akibat kecelakaan kapal tujuh hari yang lalu, sepulang dari kampung halamannya menuju kota ini, sebagaimana informasi yang kudengar dari warga yang lain.

“Aku turut berdukacita atas apa yang telah terjadi,” tuturku, sendu, setelah basa-basi yang singkat, sembari berharap ia lekas berdamai dengan kenyataannya.

“Terima kasih,” balasnya, begitu saja, lantas melayangkan senyuman simpul.

Aku lalu berusaha meramu kata-kata balasan. Aku tak ingin kami duduk bersampingan di dalam suasana yang hening. “Sabar, Kak,” tuturku kemudian, dengan sapaan sebagaimana biasa aku menyapanya.“Semua kejadian, ada hikmah dan tujuannya. Aku yakin, Kakak akan mendapatkan takdir jodoh yang lebih baik.”

Ia pun lekas mendengkus, kemudian menggeleng. “Aku tidak yakin, Dik. Kurasa, dia adalah cinta pertama dan utama bagiku. Aku ragu bisa mendapatkan perempuan sebaik dirinya, apalagi yang lebih baik daripada dirinya.”

Aku lantas menelan ludahku dengan perasaan bersalah kalau-kalau aku telah mengucapkan harapan yang tidak tepat dan tidak menyenangkan baginya. Sampai akhirnya, aku jadi kebingungan meramu kalimat tanggapan selanjutnya.

Tetapi untungnya, ia lekas menimpali, “Kau tahu, dahulu, aku telah berjuang keras untuk menaklukkan hatinya dari lelaki lain. Tetapi setelah aku berhasil, takdir nyawanya malah sampai sebelum aku benar-benar mencintainya dengan cara yang pantas.”

“Sabar, Kak,” tanggapku sekenanya.

Ia balas dengan senyuman singkat, lantas bergeming saja. Ia tampak kembali larut dalam menungannya.

Kami pun saling mendiamkan.

Sampai akhirnya, ia bertutur lagi, “Dan kesedihanku pun semakin bertambah, setelah aku menjumpai bahwa ikan hias yang ia hadiahkan untukku, telah lenyap entah bagaimana.”

Aku tersentak lantas bertanya dengan sikap yang lugu, seolah-olah kenyataan itu tidak akan ada hubungannya dengan kebengalan kucingmu, “Apa yang terjadi dengan ikan hias itu?”

“Entahlah,” katanya, dengan nada lemah. “Setibanya di rumah, aku hanya menemukan stoples akuariumnya pecah berserakan, dan ikan hiasan itu hilang entah ke mana.”

Aku pun terenyuh dengan perasaan bersalah, sebab aku yakin kalau kejadian itu ada hubungannya dengan tindakan kucingmu sehari sebelumnya.

“Aku dengar-dengar dari warga, di lingkungan ini, memang ada kucing pendatang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. Mereka menduga kucing nakal itulah yang memangsa ikan hiasku,” terangnya kemudian.

Seketika, rasa bersalahku berbalut kecemasan dan kekhawatiran. Aku hanya kuasa mengangguk-angguk bodoh dengan perasaan yang kacau.

Sampai akhirnya, setelah basa-basi penutup, aku lantas beranjak ke dalam lingkungan indekosku. Seiring langkah, aku terus menimbang-nimbang perihal tindakan apa yang seharusnya kulakukan terhadap kucing kesayanganmu itu, sebab aku sungguh tak ingin berada di dalam masalah dengan warga.

Tetapi setelah aku berada di depan kamar, aku malah menjumpai bahan pikiran yang baru. Aku melihat lengkungan perak di atas kusen pintu yang entah kapan adanya. Dan akhirnya aku tahu bahwa benda itu adalah gelang yang pernah kuhadiahku untukmu, tepat di hari ulang tahunmu. Maka seketika pula, aku pun semakin bertanya-tanya tentang arti kepulanganmu.

Perlahan-lahan, perkiraan-perkiraan pun bermunculan di dalam benakku tanpa kendali. Aku menduga bahwa keberadaan gelang itu ada hubungannya dengan kepulanganmu yang tanpa kabar. Aku menaksir, kau sengaja pulang untuk meninggalkanku begitu saja. Bahkan aku mulai meyakini bahwa kepulanganmu bukanlah untuk menghadiri pernikahan sepupumu, tetapi untuk menghadiri pernikahanmu sendiri.

Akhirnya, atas tafsiran yang berdasar, aku membulatkan tekad mengeluarkan kucing kesayanganmu dari kamarku. Aku sudah muak dan kehabisan cara untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul karenanya. Pada malam hari, aku memasukkannya ke dalam karung, membawa dan membuangnya di gerbang utama jalan, tanpa peduli lagi tentang apa yang akan terjadi kepadanya.

Waktu demi waktu bergulir. Kekalutanku atas keberadaan kucingmu semakin mereda. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan warga akan mengetahui peranku dan menyalahkanku akibat tindakan-tindakannya. Pun, aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengurusnya demi dirimu, sebab engkau telah meninggalkanku tanpa penjelasan apa-apa.

Sampai akhirnya, pagi ini, ketika aku hanya ingin berbaring di kasur dan tak ingin lagi menjalani hari dengan kenyataan yang memilukan atas dirimu, tiba-tiba, aku mendengar ketukan di daun pintu kamar. Dengan perasaan malas, aku bangkit dari pembaringan, mengayun langkah untuk menyelesaikan ganguan itu selekas mungkin, agar aku dapat segera kembali mengkhidmati dan meredakan kegalauanku sendiri.

Dan setelah menyibak daun pintu, tanpa kuduga, aku pun menemukan dirinya, teman baikmu yang pernah kuidam-idamkan, yang seketika menampakkan senyuman yang begitu manis. “Kucingmu,” katanya, sambil menyodorkan kucing putih dengan bercak-bercak hitam itu.

Aku pun menyambut sodorannya dengan penuh keterkejutan dan keheranan.

“Aku menemukannya di depan kos-kosanku,” terangnya, lantas menunduk dengan senyuman simpul.

Aku lantas menyadarkan diri untuk memberi respons, “Terima kasih.”

Ia pun mengangguk pelan, kemudian berbalik dan melangkah pergi.**


Ramli Lahaping, kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter: @ramli_eksepsi

Cerpen

Burung-burung Origami

Cerpen Heru Sang Amurwabumi

Hampir setiap malam ketika menjelang tidur, Umi selalu membuatkan aku burung-burung origami dari lipatan kertas warna-warni. Kemudian aku menerbangkannya ke langit malam di halaman rumah, berharap bahwa burung itu bisa mengepakkan sayap hingga jauh ke atas sana. Aku berhayal bahwa burung-burung origami itu bisa mencapai tempat paling indah yang sering diceritakan Abi. Membawa pesan kepada Tuhan yang kutulis di punggungnya. Berisi doa dan harapan.

Abi memang sering bercerita kepadaku, hampir setiap malam juga, tentang sebuah tempat yang ditumbuhi kembang beraneka warna. Tempat yang jauh lebih indah dari taman-taman yang ada di kotaku. Di sana, peri-peri baik hati bertempat tinggal.

Sebenarnya bukan hanya kepadaku saja. Abi juga sering bercerita tentang indahnya taman yang dia sebut surga itu kepada dua kakak lelakiku: Azzam dan Azwin. Kebetulan tiga anak Abi dan Umi semuanya laki-laki. Akulah yang bungsu.

Suatu malam, pernah aku mengutarakan sebuah pertanyaan ketika Abi sedang menceritakan taman itu untuk kesekian kali.

“Bagaimana caranya kita bisa sampai ke sana, Bi?”

“Jalan ke taman itu sangat jauh dan berliku, Nak.” Umi menyela, coba menjawab pertanyaanku, yang barangkali juga mewakili pertanyaan semua anak-anaknya.

“Nanti, jika tiba saatnya, Abi akan mengajakmu, Umi, dan kakak-kakakmu ke sana, Nak,” timpal Abi.

Kemudian Umi sibuk melipat kertas menjadi burung-burung origami. Kembali aku menuliskan sebuah pesan kepada Tuhan. Tentang impian. Setelahnya, aku berlari ke halaman rumah, menerbangkan burung dari lipatan kertas itu ke langit malam.

***

Abi baru saja keluar dari sebuah ruangan di sudut rumah kami. Ruang yang selama ini dijadikan tempat bersimpuh kepada Tuhan. Setengah jam yang lalu, Abi memimpin kami di sana.

“Anak-anakku, kemarilah.”

Ada yang berbeda dengan suara Abi. Terdengar serak dan berat. Umi menutup bibirnya dengan ujung kain hijab. Aku menangkap ada yang aneh dengan sikap Abi dan Umi.

“Anak-anakku, bersyukurlah. Kita terpilih menjadi pengantin surga. Setelah ini, Abi akan mengantar kalian ke jalan yang selama ini kita cari,” lanjut Abi, “Azzam, tuntunlah adikmu Azwin. Jangan pernah kau biarkan dia jauh darimu sejengkal pun.”

“Iya, Bi.”

“Zulham, kau masih belum tahu apa-apa. Nanti kau menurut saja dengan Umi. Tak lama lagi kau juga akan bertemu dengan taman yang sering Abi ceritakan. Tentang peri-peri baik hati yang katamu ingin kautemui, Nak.”

Wajah Abah mendadak murung. Dari dua sudut matanya, butiran-butiran bening tampak menggenang. Sementara, Umni terisak-isak sambil memeluk dua kakakku: Azzam dan Azwin.

***

Abi menurunkan kami di depan sebuah gedung yang di hari Minggu pagi itu didatangi para pendoa. Mereka berpakaian rapi dan bersih. Barangkali memang seharusnya begitu ketika kita akan berdoa dan memuliakan Tuhan. Abi mengusap rambutku, lalu menciumnya, sebelum dia memacu mobil, meninggalkan aku dan Umi berdua di depan gedung itu. Aneh. Sempat kutemukan ada air mata Abi yang kembali menetes di pipi Abi. Tentu saja membuat aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Umi menggenggam erat tangan kiriku. Di tangannya yang lain, tampak sebuah benda mirip kotak mainan kecil dengan hiasan lampu—sejak kami berangkat dari rumah, lampu itu sudah menyala. Aku sedikit berat berjalan. Mungkin penyebabnya adalah mainan pipa besi sebanyak 5 batang yang dililit-lilit dengan kabel, lalu diikatkan dengan rapat di perutku.

Iya, setelah Umi menyuapi aku dengan semangkuk bubur ayam tadi pagi, Abi telah memasang mainan itu di perut dan punggungku.

“Kenapa Umi menangis lagi?”

“Maafkan Umi, Nak.”

Kurasakan genggaman tangan Umi semakin erat.

“Tahanlah, Nak. Sakit ini hanya sebentar. Setelahnya, kita tak akan merasakannya lagi. Kita akan berkumpul di taman penuh kembang warna-warni dan burung-burung origami yang setiap malam kau terbangkan untuk mengirimkan harapanmu.”

Terdengar suara ledakan yang asalnya sangat dekat dengan kami. Begitu keras, hingga gendang telingaku seperti pecah dan berdarah. Oh, ternyata aku memang benar-benar berdarah. Bukan hanya darah, panas yang luar biasa juga terasa sedang membakar sekujur tubuhku.

Hanya sesaat sakit itu kurasakan. Perlahan, ia berubah menjadi rasa dingin dan nyaman. Pandangan mataku seperti dipenuhi ribuan kunang-kunang yang turun dari langit. Kunang-kunang beraneka warna. Lalu, mendadak berubah menjadi burung-burung origami warna-warni. Pancaran warna itu melayang-layang, turun mendekatiku.

Sekejap kemudian, dari atas mega-mega, aku bisa melihat tubuhku sendiri, tubuh Umi yang diam tak bergerak dengan bersimbah darah, juga orang-orang yang sedang berdoa di dalam gedung itu berlarian menyelamatkan diri.

***

Aku tersungkur di sebuah taman yang dipenuhi kembang beraneka warna. Entah, taman di kota mana ini? Aku hapal taman-taman yang ada di kotaku. Hampir setiap akhir pekan, Abi dan Umi mengajak anak-anaknya ke sana. Aku yakin, ini bukan taman-taman yang sering kami kunjungi.

Kutebarkan pandangan ke segala arah mata angin. Semua dipenuhi pohon yang kembangnya sedang bermekaran. Sepertinya aku pernah melihat pohon-pohon itu. Tapi di mana?

Oh iya, kini aku mengingatnya. Pohon itu sama dengan pohon yang ada di makam nenek dan kakek. Abi pernah menyebut namanya: kemboja.

Makam? Apakah aku berada di pemakaman? Apakah kini aku sudah mati?

“Zulham …” Terdengar suara memanggil namaku. “Zulham, kemarilah, Nak.”

Aku mencari arah suara. Kembali kutebarkan pandangan ke sekeliling. Nihil. Hingga akhirnya dari balik sebuah pohon kemboja di taman itu, tampak punggung seorang perempuan menggunakan baju panjang berwarna putih. Mirip dengan baju yang biasa dipakai Umi. Perempuan itu berdiri membelakangiku.

“Umi?”

Wanita itu membalikkan badan. Oh, ternyata dia bukan Umiku.

“Aku peri yang tinggal di taman ini, Nak.”

“Di mana Abi, Umi, dan kakak-kakakku?”

“Tenanglah, Nak. Kalian pasti akan berkumpul. Tapi nanti, setelah mereka menyelesaikan perjalanan panjangnya. Perjalanan meniti jembatan penghakiman sebagai manusia yang telah baligh.”

“Kapan?”

“Bisa setahun, dua tahun, bahkan mungkin ribuan tahun. Kelak, kau akan mengetahuinya, Nak.”

“Apakah di tempat ini ada burung-burung origami yang mengirimkan pesanku?”

Perempuan itu menggeleng.

Angin berembus kencang. Gerimis mengundang hujan. Pohon-pohon kemboja bergoyang-goyang, hingga daunnya jatuh berserakan. Mendadak dedaunan itu berubah menjadi burung-burung origami, lepuh oleh hujan yang mengguyur tubuhnya. Mendadak pula aku merindukan Umi. Aku menangis sejadi-jadinya. ***


Heru Sang Amurwabumi, bergiat sastra di Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Pernah menjadi anggota redaksi Harian BERNAS. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019. Bisa disapa di Facebok Heru Sang Mahadewa.

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Menanam Kepercayaan di Lubuk Puisi

kutahu kini di mana-mana bahasa

bersenjata bahaya dan bahaya

menjelma peluru dalam bahasa.

namun puisi tetap hutan hati

menanam pohon kepercayaan diri.

karena puisi tercipta dari lidah

penyair penuh darah dan pedih.

selain puisi tak ada yang kupercayai

selain hati tak ada kebenaran sejati.

karena kenyataan sudah berwajah ganda

dan kemurnian kata telah dicemari

kamus dusta terbitan kezaliman penguasa.

dari itu aku tak lagi bercermin pada

zaman dan kenyataan ini. sebab bercermin

pada kaca pun wajahku berganda.

2021-kutub


Aku Tak Lagi Percaya Kepada Siapa Pun

Selain Tak Kepada Siapa Pun

aku tak lagi percaya kepada siapa pun

selain tak kepada siapa pun. bahkan

kepada hidup sendiri aku ragu: akukah

itu bayang-bayang ilusi kehidupan?

kemarin aku percaya pada puisi

dan kini kupercayai lidah televisi

mungkin esok pagi kuanggap apa

yang kupercayai hanyalah keyakinan

halusinasi.

di luar dinding ketidakpercayaanku

pada kenyataan ini. sungguh betapa

masih banyak orang percaya pada

berita, gambar dan siaran langsung

kehidupan di televisi.

padahal lonceng air mata tidak

selalu berbunyi kesedihan

bahkan perempuan dalam belas-kasih

seorang lelaki selalu waspada

akan bahaya cinta.

betapa zaman dan kehidupan semakin

dewasa kian dituakan oleh tipuan

dan kesemuan kata-kata.

bukankah aku dan kalian lebih suka menjilat

lidah penguasa daripada meyakini bahwa

kebenaran itu datang dari lidah tetangga sendiri.

itulah hidup saat ini.

2021-kutub


Kesemuan Hari-Hari Homo Utopis

1

aku pulang ke minggu untuk memesan hari libur

pada segenap tokoh filsuf pengangguran yang sering

luput dari daftar nama calon penerima penghargaan

internasional sebagai pemikir dengkul terkemuka.

tapi kini sejauh hari berjalan menemui hari-

hari berikutnya: ternyata hanya ada waktu

yang tidak pernah libur bekerja mencatat

kesibukan masa kini mencangkul masa lalu

dalam kesemuan hidupku yang sedang

hancur lebur bersama  facebook, instagram,

tiktok dan sebagainya.

2

dan setelah kuterjemah nama-nama hari dari

minggu sampai sabtu: ternyata tak ada satu

pun lampu hari yang membuat pikiranku terlihat

bercahaya di malam perjalanan hidup dari gelap

ke gelap dalam memburu bayang-bayang hasrat

dunia ini. 

bahkan terasa ambigu sekali hidup ini: aku hari ini

belum tentu aku di hari kemarin itu. mungkin

kini aku adalah pemakan buku –bisa saja esok aku

menjadi pembakar buku-buku sendiri.

namun bukankah peluru kemungkinan tidak

pernah melesat menembus dada hidup kita setiap hari?

bukankah setiap detik kita berpayung kemungkinan

sebelum kenyataan jatuh sebagai hujan di langit

masa lalu.

3

lalu hari pun bergulir dengan segala kekacauannya,

ketakutannya dan kejahatan zamannya –dan sampailah

manusia pada puncaknya pada saat kata “mungkin”

sudah dihapus dari kamus hari-hari kita di masa depan

oleh para filsuf dan dokter teknologi.

kini mereka mulai setiap detik berpikir, mencari dan

menentang kemungkinan-kemungkinan tentang

kehancuran dunia. tentang kepunahan manusia di masa depan.

dan jadilah hari ini –mereka bangun tangga ke langit

demi hidup terus berlanjut –atas nama melestarikan

hidup manusia agar tidak cepat punah di muka bumi.

.

di hari lain mereka ciptakan kebutuhan-kebutuhan

manusia untuk tetap abadi: mulai dari pil hidup abadi –

sampai pada robot yang akan menggantikan manusia

untuk merawat bumi ini dengan segala kecanggihan teknologinya.

tapi lagi-lagi mereka habiskan hidup, keringat dan usia

hanya untuk menolak kiamat berkunjung. sungguh

kesiaan-siaan mereka membuat tuhan tertawa girang di sana.

sungguh pikiran mereka lebih sempit dari lubang

dubur para semut. mereka kira kiamat hanya

kentut gunung merapi atau gunung semeru. mereka

kira kiamat sekadar kemarahan sungai dan laut

menenggelamkan rumah-rumah setinggi pohon randu.

namun aku tak hendak mengatakan bahwa kiamat

lebih besar atau lebih kecil dari itu semua.

sebab bagi penyair setiap hari telah kiamat bila

tak lagi mampu menulis puisi untuk hari ini.

dan penyair selalu berkata: satu-satunya cara bahwa

kita pernah ada di sini adalah menulis puisi.

kutub-2021


Sebelum Rindu Kujelaskan Dalam Puisi

sebelum rindu kujelaskan dalam puisi

kupanggil kau pulang ke rumah asali:

rumah tempatmu menjerit pertama kali

di mana saat itu ketika kau menangis

ibu mendiamkanmu dengan nyanyian

jangkrik dan desis ular.

30 tahun kau pergi,

dibesarkan rindu dan langit jakarta

atau apakah kau sudah lupa

bahwa tanah warisan nenek-moyangmu

telah menjadi kolam-kolam harta

tempat orang asing mencari

rezeki dengan cara mengiris hati.

sebelum rindu kujelaskan dalam puisi

kupanggil kau pulang ke rumah asali:

sebab 50 tahun kemudian

tak akan kau temukan lagi jalan pulang

menuju tanah kelahiran.

karena dungdung: pantat pohon lontar kita

telah menghias pelataran rumah di eropa.

karena pantai telah kehilangan indahnya

sebagai pantai. karena bapak dan ibu

telah melipat sawah, arit serta cangkulnya

ke dalam  dompet tebal di negeri orang.

sementara masa kecil kita tinggal legenda

yang berbiak menjadi dongeng-dongeng

masa tua kita.

2021


Seperti Apakah Warna Masa Depan?

saat tubuh telah berdaging malam

di bangku ini kita resapi dingin

menjilati seluruh tulang-belulang waktu.

namun mengapa kita masih bertahan di sini

saling bunuh hidup di atas meja

dengan segelas kopi dan percakapan api.

mungkin hanya cara itu yang

kita punya –daripada waktu

dan usia gugur tak berguna

habis tak berbekas makna.

bukankah begitu sederhana

cara kita mengunyah waktu

sampai habis ini diri meninggalkan

tawa untuk kita yang telah pergi.

dan setiap merasa bahwa kita sudah

dewasa dan akan segera menuai,

di dalam percakapan, kita saling

mempertanyakan arah hidup

dan warna masa depan.

seperti apakah warna masa depan kita?

kepada siapa dan untuk siapa ini hidup?

dan sampai di situ kita tak bisa

lari kemana mana. sebab di mana mana

segala pertanyaan memagari hidup kita.

pincuk-2021


Mereka Adalah Musuh Yang Sembahyang

kumasuki masjid dari lubang pintu jumat

pada saat takmir telah mendengungkan iqamat.

ternyata di dalam kusaksikan ketakutan sedang

meregang iman pada tuhan: orang-orang

berbibir masker dan berdiri penuh jarak;

memisah batin dari kekhusyukan.

allah, hati ini sembahyang di atas sajadah

kecemasan dan ketakutan. lalu apa mungkin

doa-doaku kau terima, bila ketikdakikhlasan

lagi-lagi mengabuti seluruh rasa kepercayaan.

seusai mengucap salam pada sepasang malaikat

di pundak kanan-kiri. kulihat tangan-tangan mereka

tak lagi bersalaman, silaturrahmi bukan lagi sifat

kemusliman, seolah-olah aku dan mereka adalah

musuh di hadapanmu.

2021


Kepada Unta Berjubah Putih

1

aku berusaha membakar daun-daun imanmu

yang kering dan akhlakmu yang menguning.

tetapi ayah dan bapakmu yang terbuat dari

kotoran ludah dan lidah kaum unta putih telah

menghapus doa-doa baik menuju hatimu.

sampai saat ini, kau masih menuhankan kebodohan.

buktinya, tuhanmu masuk penjara

namun kau sendiri masih bertalu-talu di jalan raya:

allahuakbar!

kami berjuang di jalan allah!

sementara di mataku kau berjuang di jalan kebencian

bahkan anak-anak setinggi lutut kau ajari menyedot kebodohan

di jalan-jalan jakarta –sambil meneriakkan nama tuhanmu

dengan mata nyala api.

2

aku berusaha menjadi tangan tuhan untuk memelihara izrail

sebagai pembunuh bayaran. sebab ia lebih gesit dan rahasia

dari peluru yang menembus enam jantung laskar kebencian.

sejak agama menjadi kantor-kantor ruang rapat kerusuhan

dan agamawan-agamawan picisan yang sok menegakkan keadilan,

mencintai nkri dan membela agama dengan cara melukai.

aku mulai memiliki satu cita-cita:

aku ingin mengupas bibir-bibir mereka, lalu kusajikan pada tuhan.

apakah bibir mereka pantas masuk surga?

2020


Nasib Agama

agama kita sudah kering sayang,

agama kita sudah kurus kurang makan.

agama kita layaknya lapangan bola yang ditumbuhi

rumput iman yang kering dan reranting permusuhan.

apakah kau masih butuh pada agama sayang?

jika orang-orangnya telah bermata api –tapi lidahnya

pandai membicarakan kisah-kisah tauladan para nabi.

tampaknya tuhan sudah pindah agama sayang

agama kita sudah tak bertuhan: kosong dan menjijikkan.

sebab mahkluk-mahkluknya telah menuhankan pikiran sendiri,

menabikan hatinya sendiri dengan iman setipis daun jati.

agama kita sudah bukan lagi sebagai ladang untuk menanam

biji cinta dan batang damai. karena punggung agama kita sudah

menjadi panggung untuk mewartakan ayat-ayat kebencian

sambil memajangkan diri: siapa yang paling alim dihadapan televisi.   

betapa ambigunya agama kita

seperti lidah dan hati yang sudah bertahun-tahun tak lagi satu rumah.

2020


Kita Adalah Tokoh Fiksi di Depan Cermin Oppo

di depan cermin oppo

kita menjadi sepasang kelamin yang seksi

layaknya tokoh-tokoh seks dalam hikayat berahi.

secara sengaja kau buat kaos singletmu berlubang

di sekitar dadanya, agar aku mampu membayangkan

buah-buah kelapa yang segera kuminum airnya. 

di depan cermin oppo

semenit dua menit kita bunuh dosa dan tuhan,

kita buramkan kenyataan dan khayalan.

agar kita merasakan betapa nikmatnya

bercinta dengan bayang-bayang.

di depan cermin oppo

geliat tubuhmu adalah jari-jariku yang nyata

dan tubuhku adalah kesibukan tanganmu

mencari-mencari bagian mana yang ingin

kubayangkan sebagai fantasi kenikmatan belaka.  

2020


Pertanyaan-Pertanyaan Kecil

1

mengapa kita butuh negara untuk ingin disebut warga negara?

apakah tanpa negara kita tidak bisa:

  1. tidur
  2. bangun
  3. makan
  4. berak

apakah sejak kita disebut sebagai warga,

 negara pernah memberi vasilitas perjumpaan setelah kita berpisah?

apakah negara pernah memaafkan palu dan arit di masa lalu?

sampai kapan pun negara tak menjamin kita untuk selalu tertawa.

singkat kata –negara adalah satu-satunya rumus kesedihan

yang tak sanggup kita bahagiakan.

bukankah sudah kukatakan padamu berulang-ulang:

bahwa negara hanya setumpuk kertas-kertas kotor

yang berisi catatan kaki para koruptor, pengecut dan pembohong.

3

mengapa penyair masih menyalakan kata untuk menggoreng negara?

setiap luka manusia ia kabarkan dalam sebaris puisi. seolah-olah

puisi adalah spiker yang melolongkan duka kenyataan.

                        nihil    

sumpah!

            padahal manusia sudah tak kenal pada sanak-saudara kata,

bahkan tuhan pun muak pada bahasa yang terlalu banyak memproduksi

dusta dan alibi. sebab makna sudah kehilangan kaki untuk mengirimkan

kesadaran kepada hati umat manusia.

sebab sejak dini kata sudah dipotong lidahnya,

tubuhnya dibungkus dalam karung kepentingan

raja-raja –sementara bibir televisi terus berbasa-basi

kepadaku setiap pagi sebagai kopi pahit yang kuseduh dengan hati sakit.

2020


Norrahman Alif lahir di jurang ara. menulis puisi, cerpen dan resensi di lesehan sastra kutub yogyakarta. beberapa karyanya bisa dinikmati di: media indonesia, republika, kedaulatan rakyat,  suara merdeka, rakyat sultra, tempo, padang ekspres dll. buku puisi tunggalnya mimpi-mimpi kita setinggi rerumputan (sublimpustaka-2019)–telah mendapat anugerah sebagai buku puisi terbaik dari lomba antologi buku puisi yang diadakan festival musim hujan banjarbaru’s rain day literary festival 2020.

Cerpen

Estradus Membenci Hujan

Cerpen Erwin Setia

Dua belas hari menjelang ulang tahun ketujuh Estradus, Ayah pergi meninggalkan Estradus dan Ibu. Hari itu hujan turun teramat lebat. Tangis Ibu mengucur deras serupa bendungan jebol, sementara Ayah tak mengacuhkan seruan Ibu yang memanggil-manggil namanya. Ayah membawa sebuah payung kecil berwarna biru tua ke luar rumah. Di sana, di depan pagar seorang perempuan seumuran Ibu menunggu Ayah. Perempuan itu tampak cemas dan terburu-buru. Begitu Ayah tiba di luar pagar, Ayah memayungi perempuan itu agar tak kehujanan. Keduanya melangkah cepat, menaiki sebuah taksi yang sudah dipesan. Seperti tetes pertama hujan hari itu, Ayah dan perempuan itu menghilang dengan cepat. Mereka pergi tanpa meninggalkan jejak kaki atau salam perpisahan.

Sejak hari kelam itu, Estradus membenci hujan. Saban hujan turun, ia akan menghindarinya jauh-jauh seperti orang yang takut tertular virus mematikan. Ia mengatupkan jendela, menutup pintu rapat-rapat, dan menyumpal telinga dengan kedua tangan. Ia tak mau melihat hujan, mendengar suaranya, terciprat percikannya, atau mencium bau tanah selepas hujan. Di lain sisi, mata Ibu semakin berkabut dan ia jarang mengeluarkan kata-kata. Tiap kali menatap mata Ibu yang selalu tampak basah, Estradus langsung memeluk Ibu. Ia tak tahan memandangi matanya lama-lama. Ia tak tega melihat Ibu begitu tersiksa. Ibu memang tak banyak bicara dan bergerak. Namun mata Ibu serupa pendongeng bisu yang melontarkan cerita-cerita sendu. Selain hujan, Estradus juga menghindari mata Ibu. Ia mencintai Ibu, tapi ia tidak berani lagi melihat matanya.

Ibu berhenti berjualan pakaian dan mengantarkan Estradus ke sekolah. Ibu telah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Selepas kepergian Ayah, Ibu seperti sosok yang datang dari masa depan yang selalu mengenang hari-hari silam. Ia tidak lagi memasak, mencuci, dan melakukan aktivitas semacamnya. Ibu cuma diam di atas satu di antara empat kursi yang mengelilingi meja makan. Di seberang kursi tersebut adalah kursi Ayah biasa duduk. Ibu sering berbicara dan mengatakan hal-hal yang indah sendirian. Tak sekali dua kali Estradus mendengar Ibu tertawa-tawa dan menceritakan dengan suara tinggi masa-masa manis saat ia dan Ayah masih berpacaran. Tiap kali tawa panjangnya berhenti, Ibu langsung tercekat, kemudian menangis tiba-tiba. Ibu memukul-mukul meja sambil meneriakkan nama Ayah. Memandangi itu, Estradus hanya bisa menahan tangisnya. Berkali-kali ia meminta Ibu berhenti bertindak seperti itu, alih-alih berhenti, Ibu malah semakin meninggikan suaranya dan semakin keras memukul meja.

Pada ulang tahun kesepuluh, Estradus mendapat hadiah yang tak pernah ia harapkan. Hadiah ulang tahun paling menyedihkan yang ia terima. Setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari akibat pendarahan parah di kepalanya, Ibu meninggal dunia. Estraduslah yang memergoki ketika Ibu membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Kepala Ibu sudah bocor dan lantai memerah saat Estradus memergokinya. Meski kepalanya berdarah-darah, Ibu tetap membentur-benturkan kepalanya dengan keras seakan kepalanya terbuat dari baja. Ia melakukan itu sambil meneriakkan nama Ayah. Estradus meminta bantuan tetangga untuk menolong Ibu. Ibu lekas dibawa ke rumah sakit. Saudara-saudara menjenguk Ibu. Tapi nyawa Ibu tak bisa diselamatkan. Pada hari kematian Ibu, hujan turun begitu lebat. Kebencian Estradus terhadap hujan pun semakin kuat.

Selepas kematian Ibu, Estradus tinggal di rumah Kakek Junus bersama Paman Darius. Paman Darius adalah satu-satunya anak Kakek Junus sekaligus adik Ibu yang belum menikah. Sebelum kehadiran Estradus, Paman Darius hanya tinggal bersama Kakek Junus yang pikun dan gampang menangis. Kakek Junus selalu menangis setiap kali ia sadar bahwa dirinya sudah lupa akan banyak hal. Kakek Junus menangis ketika lupa bahwa Paman Darius adalah anaknya, Estradus adalah cucunya, dan istrinya—Nenek Jasiah—telah meninggal dunia. Paman Darius yang mengaku tak ingin menikah merasa senang dengan keberadaan Estradus. Sebab ia tidak lagi hanya tinggal berdua bersama orang yang gampang menangis dan sulit diajak bicara. Paman Darius jelas mencintai ayahnya—Kakek Junus—tapi ia juga butuh teman serumah yang bisa diajak berinteraksi secara normal.

Estradus juga senang dengan Paman Darius. Paman Darius adalah seorang sarjana—entah jurusan apa, Estradus pernah menanyainya, tapi Paman Darius tak pernah mau menjawabnya. Ia pintar. Ia banyak baca buku dan mengenakan kacamata. Begitulah alasan Estradus menganggap Paman Darius pintar.

Estradus menjalani masa remaja di rumah itu. Beberapa hal berubah—Kakek Junus wafat, Paman Darius melanjutkan sekolah, Estradus mulai jatuh cinta—tapi kebencian Estradus terhadap hujan masih sama. Tiap kali hujan turun, ia berlari ke dalam kamar untuk mengurung diri. Ia tidak akan ke luar kamar sampai hujan benar-benar berhenti. Sampai petrichor tak tercium lagi. Kali pertama mengetahui keanehan Estradus, Paman Darius terheran-heran.

“Paman rasa kau mengidap ombrophobia, Estra. Sejenis ketakutan yang berlebihan kepada hujan.”

“Tidak, Paman. Aku tidak takut kepada hujan atau apa pun. Aku hanya membencinya.”

“Tapi kau tidak bisa terus-menerus menghindar dari hujan, Estra. Di negeri ini, hujan datang begitu sering dan tak bisa dicegah.”

“Biarlah, Paman. Aku tetap tidak mau menemui hujan.”

Pada akhirnya Paman Darius memaklumi keengganan Estradus terhadap hujan. Soal keanehan Estradus membuat Paman Darius teringat teman-temannya dan dirinya sendiri. Ia memiliki teman perempuan yang tidak pernah mau bertatap muka dengan lelaki, teman yang ketakutan setiap melihat jalan raya, cemas setengah mati kalau melihat warna merah, tidak mau berbicara lewat telepon, dan sebagainya. Paman Darius sendiri bertekat tidak pernah mau menikah. Suatu hal yang mulanya dianggap tak lazim oleh orang-orang sekelilingnya. Saat Kakek Junus masih hidup dan belum pikun, ia juga sering mengingatkan Paman Darius untuk cepat menikah. Paman Darius hanya menjawab “iya” sekadar untuk menyenangkan Kakek Junus. Kenyataannya, Paman Darius tak pernah menikah sampai Kakek Junus pikun dan meninggal dunia.

Paman Darius sedang mengetik rancangan tesisnya ketika suatu pagi Estradus yang telah menjadi mahasiswa membawa seorang perempuan ke rumah. Perempuan itu berambut lurus panjang, bermata kecil, dan bertinggi sedagu Estradus. Perempuan itu ceria sekali. Estradus memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Paman Darius terlonjak dari tempat duduknya.

“Kau serius, Estra? Rasanya baru kemarin kau lulus SD, sekarang sudah punya kekasih saja.”

“Aku mencintai Helena, Paman. Suatu saat aku pasti akan menikahinya,” kata Estradus. “Kau mau kan nanti menikah denganku, Helena?”

Helena tersipu. Paman Darius menggeleng-geleng dan mencandai Estradus agar menempuh cara hidup seperti dirinya—tidak menikah.

“Helena terlalu cantik dan baik untuk tidak kunikahi, Paman.”

Setelah hari itu, Estradus makin sering membawa Helena ke rumah. Paman Darius yang tengah sibuk dengan tesisnya tidak keberatan dengan kedatangan Helena. Sama seperti Estradus, Helena tipe orang yang enak diajak bicara. Ketiganya bisa membahas apa pun kalau sudah duduk semeja. Meskipun usia Paman Darius berselisih jauh dari sepasang sejoli itu, ia merasa tidak berjarak dengan topik yang keduanya percakapkan. Barangkali karena Paman Darius rajin membaca dan bergaul sehingga ia tak pernah ketinggalan gerbong kereta zaman yang melaju kencang.

 Seiring waktu hubungan Estradus dengan Helena kian dekat. Helena berkali-kali mengajak Estradus main ke rumah, tapi Estradus belum memiliki keberanian untuk itu. Ia mesti mengumpulkan nyali dulu untuk bisa bertemu langsung dengan orang tua Helena. Selain kurang percaya diri, kenangan hitam akan Ayah dan Ibu membuat Estradus tidak sanggup tiap harus berjumpa dengan orang-orang seusia Ayah dan Ibunya. Meskipun Ayah dan Ibu meninggalkannya dengan cara yang berbeda, tapi keduanya menyisakan kesedihan yang sama di hati Estradus.

Sampai suatu hari Estradus memberanikan diri menerima ajakan Helena ke rumahnya. Keduanya telah menetapkan hari itu. Celakanya, tepat hari itu hujan lebat turun. Estradus sudah bersiap-siap ketika hujan turun tiba-tiba. Ia sangat membenci hujan. Ia ingin cepat-cepat mengurung diri di dalam kamar. Namun ia tidak dapat melakukan itu. Helena dan orang tuanya sudah menunggunya. Akhirnya Estradus memilih untuk melawan kebenciannya itu. Setelah sekian lama, ia mau menjumpai hujan.

“Akhirnya waktu ini tiba. Kau memang harus melawan kebencianmu, Estra,” ujar Paman Darius sebelum Estradus berangkat ke rumah Helena dengan mengendarai sepeda motor.

Estadus menerobos hujan. Tiap kali suara hujan tiba di telinganya atau tetes hujan menimpa tubuhnya, Estradus teringat hari saat Ayah pergi dan Ibu mati. Ingatan itu berganti-gantian menyiksanya seperti dua penjahat yang mengeroyoknya di suatu jalan yang sepi.

Estradus tiba di rumah Helena. Di teras, Helena menyambutnya dengan senyum mengembang. Ia lekas mengajak Estradus ke dalam. Sepasang orang tua Helena sudah ada di ruang tamu. Keduanya telah duduk menanti kekasih anak mereka. Begitu Estradus memasuki ruang tamu, Helena memperkenalkan, “Ayah, Mama, ini lelaki yang dari tadi kubicarakan. Ini kekasihku. Namanya Estradus.”

Begitu mendengar ucapan Helena, sepasang orang tua itu terperanjat. Terutama ayah Helena. Matanya mennyipit dan tubuhnya membeku. Sementara itu, leher Estradus menegang. Ia mengenali dua orang di hadapannya. Mereka adalah Ayah yang meninggalkan Etradus bertahun-tahun lampau dan seorang perempuan yang dulu dipayungi Ayah.

Tanpa mengatakan apa-apa kepada Helena, Estradus buru-buru pergi ke luar. Ia memacu sepeda motornya kencang-kencang. Sangat kencang. Hujan masih turun begitu deras. Di tengah jalan, Estradus tak henti-henti mengumpat dalam hati. Sejak hari itu, ia semakin membenci hujan dan Ayah. **

Tambun Selatan, 16 Februari 2020


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Sukab Anak yang Baik

Cerpen T. Sandi Situmorang

Pada awalnya, kupikir hal paling menyedihkan dalam hidup ini adalah melepas suami ke pemakaman. Lima tahun kemudian barulah kusadari bukan itu hal paling menyedihkan dalam hidup, ketika di sebuah senja dipenuhi gerimis kulepas Sukab. Beberapa lelaki mengangkat peti berisi anak sulungku itu sementara aku menimang luka di sudut rumah kami.

Aku berniat mengantar Sukab sampai pemakaman, melihat tubuhnya diturunkan ke lubang, kemudian menabur kembang di atasnya. Orang-orang melarangku. Menurut mereka aku terlalu lelah. Lebih baik kuantar Sukab dengan melepas doa-doa ke langit.

Jangankan melepas doa ke langit. Duduk pun aku tiada mampu. Para lelaki itu seperti membawa jiwaku pergi. Tidak kurasakan apapun dalam tubuhku, dalam hatiku, juga dalam pikiranku. Dua puluh dua tahun Sukab hidup bersamaku, sekarang dia pergi. Sepanjang tahun-tahun itu Sukab kutaburi cinta, sekarang dia mati.

Mati menyedihkan. Dengan alasan menyakitkan, yang tidak bisa kuterima. Tidak mungkin Sukab melakukannya. Sukab anak baik. Sedari kecil otaknya kujejali nasihat serta ajaran agama. Ia tahu apa yang baik juga buruk, apa yang pantas dan tidak pantas ia lakukan. Ia mengerti apa yang harus ia dekati juga apa yang harus ia jauhi.

Sukab selalu mengalah pada ketiga adiknya. Ia memilih perutnya melilit kosong sementara adiknya terbaring kekenyangan. Ia tidak mengeluh padaku. Ia selalu mengadu pada Tuhan, ketika diam-diam malam semakin tebal.

Sukab anakku. Anakku yang sangat baik. Yang paling baik dari keempat anakku. Aku yang paling tidak percaya Sukab mampu melakukan itu. Membunuh nyamuk yang mengisap setetes darah dari lengannya saja ia tidak mampu. Mana pula mampu melumat manusia. Bukan satu atau dua. Melainkan belasan.

Sukab bukan pelakunya. Anak tampanku itu sama seperti pemilik belasan tubuh yang terkapar mengerikan. Sukab hanya kebetulan berada di tempat itu, berada teramat dekat dengan pelaku ketika bom meledak. Itulah penyebab tubuh Sukab lebur, sementara tubuh pelaku menjadi abu.

Aku sedih hidup Sukab berakhir dengan cara seperti itu. Aku tidak terima Sukab dituduh begitu. Aku sakit hati rumah kami diobrak-abrik orang-orang yang tidak kukenal. Aku marah saat mereka sampai menguliti kasur tempat tidur Sukab.

Mereka meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Aku berteriak marah, sudah kubilang Sukab anak baik-baik. Mereka acuh saja. Pergi dengan mulut terkatub. Tidak meminta maaf padaku, apalagi sampai membenahi semua yang mereka obrak-abrik.

Tidak sampai satu jam kemudian, di layar tivi kusaksikan. Orang-orang itu bilang mendapat banyak bukti dari rumah, terutama dari kamar Sukab. Mereka jelas berbohong. Aku menjadi saksi mereka tidak mendapatkan apapun.

Barang-barang bukti ditunjukkan. Aku nyaris terkencing celana karena ledakan tawa. Lucu sekali. Apa mata mereka buta, atau tidak bisa membaca? Yang mereka bilang bukti-bukti itu  adalah buku-buku agama. Jangankan Sukab, aku pun memilikinya.

Ada-ada saja mereka. Bisa-bisanya penemuan buku agama itu mereka jadikan bukti kuat memang Sukab pelakunya. Mereka salah. Karena buku-buku itulah Sukab menjadi anak baik. Selalu berada di jalan Tuhan.

***

Duka masih kutimang-timang dalam hati. Kehidupan Sukab dikorek hingga dasar. Tiba-tiba saja orang-orang asing hilir mudik ke rumah tetangga kami. Tidak sampai sehari, bergantian tetangga muncul di tivi. Mereka bilang, tidak begitu tahu perihal Sukab sebab anakku itu kurang bergaul dengan mereka. Setelah Sukab tidak lagi membantuku di ladang, mereka tidak tahu pasti apa pekerjaan Sukab. Mereka jarang melihat Sukab.

Sukab ….

Ingin kulempar saja tivi itu. Bisa-bisanya mereka bilang begitu mengenai Sukab. Dengan jelas mereka tahu Sukab seorang pedagang yang sering ke luar kota. Mungkin benar Sukab kurang bergaul dengan tetangga. Tetapi Sukab selalu memberi senyuman setiap berpapasan dengan mereka. Apa mereka ingin setiap saat Sukab mendatangi mereka satu per satu ke rumah masing-masing?

Yang benar saja.

Aku memaki-maki tivi. Dua hari kemudian, tivi itu menghilang dari rumah kami. Semula kupikir tivi itu diangkut orang-orang yang mengobrak-abrik rumah kami. Ternyata tidak, salah satu adik Sukab mengungsikannya ke tempat yang tidak kuketahui. Mereka takut pikiranku semakin kacau karena menyaksikan pemberitaan mengenai Sukab.

Aku tertawa dibuatnya. Anak-anakku pun sudah sama anehnya dengan orang-orang itu. Pikiran mereka yang kacau, bukan pikiranku. Sekarang pikiran adik-adik Sukab ikutan kacau. Jauh di palung hati, sebenarnya aku marah pada adik-adik Sukab. Tidak sebutir pun kulihat kesedihan menancap di wajah mereka. Padahal Sukab, orang yang telah membantu mereka supaya tidak mati kelaparan, meninggal dengan cara teramat tragis. Sukab hanya korban, malah dituduh berbuat keji. Bisa-bisanya mereka tenang saja. Andai adik-adik Sukab itu marah besar sampai membakar stasiun tivi dan kantor polisi sekalipun, masih dapat kumaklumi.

Adik-adik tidak berguna mereka itu semua. Untuk apa aku punya anak seperti itu. Sia-sia menghidupi dan membesarkan mereka selama ini. Tahu begitu, kubuang saja mereka ketika lahir dulu. Karena aku masih punya akal, tentu mereka kutinggalkan di depan panti asuhan, atau di depan rumah orang kaya yang tidak memiliki anak. Bukan di tong sampah, atau menggencet lehernya kemudian mencampakkannya ke sungai.

***

Malam itu, ketika anak-anakku pulas sampai termimpi-mimpi, aku merayap keluar rumah. Jauh di puncak kepalaku, langit pekat. Aku berjalan menuju ladang dengan berbekal ingatan di mana tikungan kecil, di mana ada lubang, dan di mana letak tanjakan. Ladang kami tidak sampai satu kilometer jauhnya. Ada yang harus kukerjakan di sana, dan aku tidak ingin seseorang melihatku. Itu sebab senter di tanganku tidak kunyalakan. Aku harus sangat berhati-hati. Barangkali ada pihak yang memantau pergerakanku belakangan ini.

Sehari sebelum Sukab tewas, ia mengajakku masuk ke dalam gubuk reot di ladang kami. Gubuk itu berlantai tanah, Sukab menggalinya tidak terlalu lama. Kemudian memasukkan sebuah kotak besi ke dalam lalu menutupnya dengan tanah.

Aku bertanya apa isi kotak itu. Kenapa Sukab menguburnya di situ.

Kata Sukab, isinya sangat rahasia. Selain dia, hanya aku yang tahu. Sukab mengizinkanku melihat isinya. Tapi tidak saat itu. Sukab bilang akan tiba waktunya aku bisa melihat isinya.

Aku merasa sekaranglah waktunya. Aku sangat penasaran. Bila memungkinkan, akan kuperlihatkan isi kotak itu pada semua orang. Biar mereka tahu, Sukab anak baik-baik. Sukab bukan pembunuh.

Dengan cangkul kukeluarkan kotak itu. Kotak itu terbuat dari besi, jadi lumayan berat walau tidak terlalu besar. Keningku mengerut melihat isinya. Cahaya senter lebih kudekatkan lagi. Ada kertas putih terlipat di samping benda asing itu.

Di sini kutulis cara menggunakan bom ini. Ibu ledakkan saja apa yang ingin ibu hancurkan. Jangan takut, aku menunggu ibu di surga.

Tanganku bergetar memegang kertas itu. Sukab seperti terbangun dari kubur, wajahnya menari-nari di depan mataku. Anakku Sukab, yang sangat baik dan sayang keluarga ….

Kuenyahkan wajah Sukab. Kutimang luka dan sakit hatiku sembari memandang benda dalam kotak. Aku tersenyum. Sebilah rencana menancapi akalku, akan kuhancurkan mereka. Mereka yang telah memfitnah Sukab sebagai teroris. Sukab anakku yang paling baik. ***


T. Sandi Situmorang,  lahir di Hutaraja, sebuah desa kecil di Pulau Samosir. Suka menulis novel, cerpen dan puisi. Sekarang menetap di Binjai, Sumatera Utara.

Cerpen

Mantra Gaib Sanjiwini

Cerpen Nur Khafidhin

/1/ Kematian Sentanu.

Dewa Trimurti yang terdiri dari Siwa, Wisnu, dan Brahma menciptakan dunia menjadi tiga dunia. Mayapada[1], madyapada[2], dan marcapada[3]. Hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan alam semesta. Namun, keseimbangan semesta itu hancur tatkala terjadi peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya. Pintu madyapada dan marcapada terbuka. Awalnya pintu itu hanya dapat dilalui seratus makhluk setiap hari, baik dari madyapada atau dari marcapada. Namun, sekarang pintu keduanya terbuka sangat lebar, ribuan makhluk dapat keluar masuk dengan bebas.

Peristiwa itu pun tak menghentikan peperangan. Pihak dewata tak pernah mau menyerah walau selalu kalah melawan para raksasa dalam peperangan yang berkepanjangan sampai berabad-abad. Mereka akan terus bertempur untuk membawa kembali Kacha—putra dari Resi Brihaspati yang disembunyikan pihak raksasa. Namun, tak ada satu pun kemenangan yang dimenangkan oleh pihak dewata karena Sukrasarya memiliki mantra gaib sanjiwini. Mantra tersebut dapat menghidupkan siapa saja yang mati. Alhasil, para raksasa yang mati dihidupkan kembali dengan mudah.

Resi Brihaspati dengan tipu muslihatnya lantas menyuruh Sentanu untuk berguru kepada Sukrasarya. Diam-diam Resi Brihaspati telah menuliskan kutukan di punggung Sentanu. Hal itu dipergunakan untuk berjaga-jaga jika Sentanu berkhianat. Kutukan itu tak hanya berlaku ketika ia hidup, tetapi juga semua keturunannya. Sentanu disuruh tapa brata sampai tujuh tahun. Bertapa yang tak hanya untuk menyucikan jiwanya. Namun, juga untuk memperkuat kutukan tersebut. Tujuh tahun pun berlalu, ia pergi ke istana Wrishaparwa untuk mengutarakan niat berguru kepada Sukrasarya.

“Hamba Sentanu, hamba ke sini atas utusan Resi Brihaspati. Hamba diutus untuk berguru kepada Sukrasarya.” Sentanu bersujud di hadapan Sukrasarya.

Sesuai tradisi yang luhur, seorang guru tak boleh menolak permintaan dari seorang murid yang hendak berguru. Sukrasarya yang seorang arif bijaksana tak bisa menolak siapa pun yang ingin berguru kepadanya walau seorang utusan dari musuh perangnya. Ia berkata, “Aku menghormati Resi Brihaspati. Aku akan menerimamu sebagai muridku.”

Sentanu seorang murid yang patuh dan mempunyai niat yang murni untuk berguru. Ia selalu melakukan perintah dari Sukrasarya. Alhasil, putri Sukrasarya—Dewi Gangga suka kepadanya. Mereka akhirnya menikah. Namun, kabar itu pun tersebar di kalangan raksasa. Mereka takut Sentanu dapat menguasai mantra gaib sanjiwini. Ilmu tersebut menjadi senjata pamungkas dalam setiap peperangan yang dimenangkan pihak raksasa.

Sukrasarya meminta Sentanu mencari rumput guna makanan sapinya. Kesempatan itu dipergunakan Rukmakala yang sebagai pemimpin raksasa untuk membunuh Sentanu. Rukmakala yang ahli membuat strategi pun dengan mudah dapat menjebak Sentanu. Beberapa raksasa mengikutinya secara hati-hati, menyekapnya, dan lantas memutilasi tubuhnya. Sore harinya, Sentanu tak pulang ke rumah Sukrasarya. Ia merasa khawatir karena biasanya ketika sore hari Sentanu akan pulang. Lantas Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Tubuh Sentanu yang telah terpotong-potong mulai bersatu di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Rukmakala memimpin raksasa untuk membunuhku dan tubuhku dimutilasi.”

Keesokan harinya, Sukrasarya sedang sibuk dan tak bisa melatih Sentanu. Alhasil, memintanya untuk melakukan bertapa brata seorang diri di mebaong[4]. Namun, Rukmakala dan prajuritnya diam-diam mengikutinya. Mereka melakukan hal yang sama, menyekap tubuh Sentanu lantas memotongnya menjadi dua bagian tepat di tengah-tengah pusarnya. Tubuh bagian atas yang terdiri dari kepala, dua tangan, dan setengah perut di kubur ke gunung. Bagian tubuh bawahnya yang terdiri dari perut, dan kedua kakinya di larung ke laut.

Berhari-hari, Sentanu tak pulang dan Sukrasarya mencarinya ke mebaong. Namun, tak bertemu dengan Sentanu. Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Bola mata Sentanu datang di hadapannya. Ia tak bertanya seperti biasanya, memilih untuk mengambilnya, dan melihat semua kejadian yang ada melalui bola mata Sentanu. Sukrasarya melihat kejadian beringas yang dilakukan para raksasa. Sentanu dipukul oleh ratusan raksasa, tubuhnya tak lagi utuh, bola matanya keluar, dan setelah tak bernyawa tubuhnya dipotong Rukmakala menjadi dua bagian. Namun, Sentanu tak mau melawan karena menghormati Sukrasarya. Ia tak mau menyakiti hati gurunya walau risikonya adalah kematian.

/2/ Impian Dewi Gangga.

Dewabrata terlahir menjadi sosok raksasa dalam wujud yang sempurna, sesuai dengan mantra sanghyang sarasija maya hireng[5]. Raksasayang memiliki wajah galak, mata yang melotot, mempunyai taring, serta mempunyai rambut api. Ia langsung dapat berjalan, berlari mengelilingi ibunya, tetapi matanya melihat percikan darah di baju ibunya—Dewi Gangga. Darah itu memicu naluri raksasadalam tubuhnya untuk menggigit ibunya. Namun, Drupada berusaha menghalaunya, tetapi nasib sial menimpanya. Dewabrata menggigit lehernya sampai putus. Hal itu membuat semua orang yang menunggu Dewi Gangga melahirkan menjadi murka.

Dewi Gangga dengan sisa tenaganya menghunjamkan ngad[6] tepat di leher anaknya. Seketika kekuatan raksasadalam tubuh Dewabrata melemah. Ia memeluk anaknya penuh kasih sayang, berusaha melindungi dari amukan warga, dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, semua sia-sia, tak ada yang mau mendengarnya.

“Bunuh bayi sialan itu!” Durna berusaha mengambil Dewabrata dari pelukan Dewi Gangga.

“Dia telah membunuh pamannya!” kata Kresna dengan penuh luapan emosi.

“Dasar anak sialan! Bunuh dia sekarang!” Kripa marah melihat Drupada tergeletak tak bernyawa.

“Aku akan membunuhnya!” kata Rukmakala yang sejak dulu mempunyai rasa iri terhadap Sentanu.

“Kita bunuh dia sekarang!” ujar semua warga.

Dewi Gangga merasa sedih melihat semua orang ingin membunuh anaknya. Ia pun berkata, “Aku tak akan membunuhnya! Aku akan merawatnya.”

“Kalau kau berniat merawatnya, pergi dari desa ini!” kata Durna penuh emosi. Beberapa warga berusaha untuk mengejar Dewi Gangga. Namun, Durna menghentikannya karena Dewi Gangga telah memenuhi janjinya untuk meninggalkan desa.

Dewi Gangga membawa anaknya ke mebaong. Ia bertapa brata untuk meminta pertolongan kepada Sukrakarya. Dewi Gangga memanggil Sukrakarya sampai beberapa kali. Namun, tak ada jawaban. Alhasil, Dewi Gangga menggigit jari telujuk kanannya, menuliskan mantra di tanah dengan darah yang keluar dari jari telunjuknya, dan melafalkan mantra: Segara minaka dasarku, danu minaka rangi ulunku, ih teka engko buta dengen, tluh tranjana, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko lamubu ring sagara danau, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko ring awak sariranku, tan wani engko lumabu ring sagara danau, tan wani engko ring awak sariranku, teka ngeb, teka ngeb, teka ngeb[7].

Seketika di depannya ada Sukrakarya. Ia bersemadi di ranting pohon dengan kondisi kepala di bawah. Dewi Gangga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sukrakarya perlahan turun dengan santai, berjalan di atas udara, dan mengucapkan mantra pamugpug desti[8]: Ono sang bua raja pati, ring kenetasira alungguh, yan ana leyak bebai ring rajianku, poma sira ngapusana ong sing akarya ala ring aku, poma alihakena saguna penaruhe ono sidi rastu tastastu astu, ono lang bang bang nama suaha. Sukrakarya memetik satu daun dan mengikatnya dengan sehelai rambut untuk dijadikan kalung. Hal itu dipergunakan untuk melemahkan kutukan Resi Brihaspati dalam tubuh Dewabrata.

“Anakku jangan bersedih, tak ada ujian yang melebihi ketabahan hati manusia. Kau pasti dapat mengatasi ujian ini!”

“Kutukan dari Resi Brihaspati telah tertanam dalam anakku.”

“Jika kau dapat menghadapi ujian ini. Kau akan berada di alam yang lebih tinggi dari mayapada, anakku!”

“Selama ini tak ada impian yang aku inginkan. Namun, sebelum mati aku hanya ingin anakku terbebas dari kutukan ini. Tolonglah cucumu!”

Sukrakarya mendekat pada Dewi Gangga dan mencium keningnya. “Setiap orang akan menanggung takdirnya masing-masing.” katanya. “Aku merasa orang yang paling bersalah dalam perang yang berkepanjangan ini.” Tubuh Sukrakarya perlahan mulai menghilang untuk menyucikan diri.

***

Lima belas tahun kemudian, Sentanu datang ke tempat Sukrakarya bertapa dengan tatapan yang muram dan tak bergairah hidup. Menceritakan proses ketika dapat hidup kembali. “Air hujan akan bermuara ke laut. Tubuhku yang telah membusuk dan telah bersatu dengan tanah perlahan mengikuti air hujan. Sedikit demi sedikit semua tubuhku telah bertemu di laut dan menjadi satu. Aku pikir aku sudah mati, tetapi mantra gaib sanjiwini dapat menghidupkan aku kembali.”

“Kau menjadi sengsara karena kesalahanku. Maafkan aku!” Sukrakarya bersujud di kaki Sentanu. Namun, Sentanu mencegahnya.

“Sukrakarya telah menjadi guru yang baik. Maafkan hamba yang sebagai muridmu membuat para raksasa murka.” Sentanu hendak bersujud di kaki Sukrakarya, tetapi dicegah.

Sentanu meminta maaf dan meminta izin pamit. Seiring kepergiannya, matahari yang mulai terbenam bergerak ke arah timur, ribuan makhluk dari madyapada dan marcapada bergerak mengikutinya. Semua korban peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya pun juga melakukan hal yang sama.

Sentanu terbang ke langit, tubuhnya berubah menjadi kereta kematian yang terbuat dari tengkorak. Ribuan makhluk yang mengikutinya satu demi satu masuk ke dalam kereta kematian, perlahan meluncur melewati panorama yang sunyi, dan muram. Sejauh mata memandang hanya terlihat ribuan makhluk dari madyapadadan marcapadadalam hamparan lautan api, terombang-ambing dalam ombak api yang menggulung tinggi, tercipta buih api yang terus bergerak mengikuti angin, dan menciptakan suara deburan ombak yang menyayat jiwa. Angin bergerak dengan cepat dan menciptakan angin topan. Mereka tersapu angin topan sampai menggapai langit, terus berputar-putar, meliuk-liuk, dan terdengar raungan kematian yang menyedihkan. Semua makhluk yang ada di dalam kereta kematian seketika diam mematung, tak ada satu pun yang berani bersuara, dan mereka ketakutan.***

                 Di Ruang Sang Hyang Widhi, 31 Desember 2020 – 6 Februari 2021


Nur Khafidhin, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.


[1] Dunia para dewa-dewi.

[2] Dunia bagi demit, jin, dan makhluk halus.

[3] Dunia yang dihuni oleh manusia, raksasa, dan margasatwa.

[4] Hutan yang mempunyai bentuk seperti leher manusia.

[5] Mantra untuk berubah menjadi raksasa berwajah angker dan galak.

[6] Pisau yang terbuat dari bambu.

[7] Mantra yang terdapat pada lontar wrespati kalpa.

[8] Mantra untuk menghidupkan jimat sebelum dipakai.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Bayi-bayi Pabrik

Jam makan siang milik perempuan

dihimpit ruang pabrik yang sesak menekan ubun-ubun

dan bau peluh dari ketiak-ketiak buruh

di gedung sebelah karib-karibnya menjerit

sambil melucuti celana yang penuh air ketuban

pecah, sungsang, buka empat pendarahan pula

tak ada tanda atau bunyi, tak ada ambulance

di jam makan siang yang terik menyengat tubuh

bayi-bayi pabrik menangis kencang meratapi nasib ibu

bayi-bayi menahan lapar di masa harga susu naik tajam

dan buruh perempuan tak dapat cuti bulanan

tak boleh menuntut atau minta jatah tunjangan

di jam makan siang milik perempuan

hanya bungkaman.

21 November 2020


Tasminah

Subuhmu lepas pesat

ditawan keranjang-keranjang tahu mentah yang getir

seperti laku sepuhmu

kau tinggal sembab di depan pawon

menakar terigu dan kacang tanah yang kehilangan kulit

dan kau kehilangan pegangan

masamu lewat diganti keriput tak menawan

di antara dua tungku

kayu bakar yang asapnya membawa sisa mimpimu terbang ke langit-langit dapur

kau koyak dan retak

mirip telur-telur ayam kampung di kandang

hitam pekat dan abu-abu laik masa muda yang sia-sia itu.

22 November 2020


Bocahmu

Dari balik pintu itu

bocahmu mengintip ketakutan

matanya nanar

hanya tangan kirinya bergerak

sambil menutupkan buntalan kaki boneka

pada mulut mungilnya

bocahmu ingin menjerit

melihatmu menggorok bapaknya yang bengis

tapi kau sumpal dengan tangan berdarah-darah

lalu dikisahkan seorang nenek membopong cucunya

menuruni bukit berlari menembus kabut pagi

mencari keadilan di jalan-jalan.

23 November 2020


Kota Muda-mudi

Di kota muda-mudi sengketa cinta bukan tragedi

politik dan hukum kepemilikan bermain fasih

dan semua mafhum, cinta membuat segala jadi buta

lain waktu di kota muda-mudi setia dijual murah

kepercayaan jadi lagu lama yang tak begitu populer dinyanyikan

sebab cinta tak bisa memihak setia dan percaya

lalu di kota muda-mudi yang riuh ramai

semua manusia merasai sepi

kehilangan nurani.

24 November 2020


Jika Tak Ada Orang

Aku adalah aku jika tak ada orang di satu ruang

memakai kemeja, berias dan menari

mengelilingi sudut-sudut peribadatan yang sunyi

seperti bermain di opera

atau menjelma komposer

jika tak ada orang aku menjadi aku

melepas alas kaki dan mengerang semauku

memeluk otoritasku

seperti jasadku

menjelma ruh dan mencintai aku.

25 November 2020


Sepatu Merah

Sepatu merah setengah abad ditikam kusam

keluar dari kardus pitanya

meraih tubuhku

seperti tukang pos meminta bayar beberapa ribu

ongkos kirim dari sepersekian

dimensi waktu

Rasa-rasanya kau reinkarnasi

mewujud Laksmi reformasi ikut meledak

ndakik-ndakik di kejauhan pantang padam selintas jalan

Sepatu merahmu menggoda mata-mata jalang manusia

yang dipikat kehilangan tubuh pongah melulu

menutub aib-aib, mengumpat

Apa kaki bersih mendadak complong?

sebab sadar rupa kaki tangan berakal kosong

berkah kaca, cermin-cermin mengganti posisi.

Desember 2020.


480

Delapan hari

480 mayat siap angkut ke liang

aku bersama seluruh jenazah

tanpa tangis pecah sanak kadang

di samping pembaringan

kulihat liang-liang lain beku

menyerupai wajah peti-peti yang segera ditimbun

ditutup gundukan tanah merah aroma fanbo

aku rebah di hadapan giliran sekian

waktu gerimis membengkokkan hasrat

pendoa yang panik

kami disilakan bergegas turun

membenamkan jasad, menyelamatkan ego.

21 Januari 2021


Pokping

Satu tandan pokping

disisir per biji menunggu tengkulak

pohon terakhir menunggu ajal sepertiga siang yang mamang

Hujan tak jadi hujan

tapi mendung membawa resah

petani-petani menjemur calon nasi menimbun jatah jagung basah

Hujan tak hujan nasib pokping setandan mesti lunas

ditukar pindang atau teri kawat, “harga jatuh, tak mungkin daging.

tak butuh daging buat mengupaya hidup

Satu tandan menguning

di teras menanti jodoh setengah hati

pada pembeli yang meriang, minta selirang

21 Januari 2021


Ada Jasadku di Sampingmu

Sangkar-sangkar diisi penuh jaring laba-laba, sisa belulang serangga

kursi rotan di teras belakang keropos

burung-burung menyisakan bulu di rumah kosong

tapi nyala lilinmu abadi

bertahun-tahun kau melewatinya

melayat pada pinggiran kota yang lusuh

mengubur anak-anak yang tergilas truk-truk

mengabadikan potret tikus-tikus

menyemburkan isi perut dibakar aspal dikubur debu jalan

sampai sirine meraung menemukan aku

di sebelah jasad dan ruhku yang pengelana mengendus maut.

24 Januari 2021


Gimah

Di masa ketiak Gimah mengeluh

pagi-pagi mendadak gerah dan lengket

empat puluh lima kilo bukan soal jarak dan waktu tunggu

tak banyak desing angkot memburu tubuh

orang-orang yang jenak di pinggiran

sebab kaki-kaki bapak tempat bertumpu bermain

kendang kentrung sepanjang terik menyongsong kuasa recopentung

momenmu usah diulang-ulang

pelagu babad tanah jawa, walisongo, nabi-nabi

seorang belia ngentrung bareng bapaknya di lintas kota

tak banyak desing angin menjamah tubuh

orang-orang yang lupa musim dan tanah ibu

dan kaki bapak tak kokoh lagi menyokong cerita-ceritamu

kau, berjalan sorangan

tapi kelak namamu dihiraukan, mbok Gimah

si tukang kentrung pemikul laju mula amanah

pengantar tuntunan yang terseok-seok tontonan.

29 Januari 2021


Rizka Hidayatul Umami, lahir di Tulungagung. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan. uku pertamanya berjudul Dongeng Rukmini (2017). Bisa disapa lewat instagram dan twitter @morfo_biru, juga facebook: Tacin.