Buku, Resensi

Mengenang Saat Bocah

Oleh M. Ghaniey Al Rasyid

Kata Freud kepribadian seseorang itu dimulai sedari bocah. Meski demikian teori psikonalisa sampai Phalus Envy nya Freud tetap mengundang kritik. The Childhood is the Father of Man, kurang lebih demikian.

Masa kanak-kanak menyiratkan sebuah kisah nan mendalam. Keberadaannya seperti rekaman yang menembus waktu. Beberapa aktivitasnya acap kali teringat mewarnai insan yang sadar. Kita ada dari puing-puing silam yang berlalu. Hari ini dan esok, konon kitalah yang menentukannya.

Kita bertemu dengan kisah silam. Para esais itu merangkai kata, membeberkan pengalaman yang silam, bocah yang meninggalkan masa kanak-kanaknya itu, berujar jujur.

Buku itu aku temukan di toko buku Gladag. Sore nan basah itu, aku menyelinap mengais tumpukan buku yang dimakan jamur. Ganang pemilik toko, setengah sadar tertidur, sambil memutar tape. Lagu gubahan K3S membikinnya mengantuk sambil menekuk tengannya menjadi bantal.

Aku mengangkat buku-buku yang bertumpuk. Tumpukan buku paling bawah seakan berbisik untuk merogohnya. Debu-debu beterbaran, membikinku bersin. Aroma jamur bercampur aroma tetikus dan kecoak yang menguar, memaksaku untuk tersendat-sendat bernafas.

Sebuah buku berjudul ‘Mengenang…’ membikinku terperanjat. Buku itu terbit tahun 2012, oleh penerbit Jagat Abjad. Tersirat di pojok kanan kaver buku bertulis -Bandung Mawardi, sebagai editor.

Buku itu aku selamatkan. Ia nampak mengenaskan. Kavernya hampir lepas, namun sesampainya di tempat mengetik, aku rekatkan kembali dengan lem. Aku mengira buku itu tidak asli atau imitasi. Penerbit memilih kertas buram, seperti kertas koran. Beberapa bagian sisinya lecek seperti terendam oleh air.

Syahdan, aku menghiraukan itu. Aku fokus dalam isinya. Dua puluh empat penulis, membicarakan tentang masa kanak-kanak. Mereka begitu keranjingan. Seluruh ingatannya tentang masa ketika bocah, tepatnya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ditulis dengan rapi.

Para esai itu mengajakku untuk hadir dan menyigi sudut pandang satu ke lainnya. Esai Afrizal Malna terselip di situ. Adalah Rumah Kata dan Menggigit Sapu Tangan. Ia jujur, menulis kisah dirinya sewaktu bocah.

Mulanya adalah Ibu. Ia mengajarkannya untuk berkenalan dengan kata. “Kamu cukup memegang 26 huruf untuk hidupmu,” kata Ibunya. “Bersama bilangan 0 dengan 9 bilangan lainnya,” tambahnya.

Berkenalan dengan kata, membikinnya bersemangat. Setiap merapal kata yang berjejer dengan huruf-huruf lainnya, ia berteriak. Suaranya membikin telujuk ibunya mendarat persis di mulutnya, “jangan berteriak begitu.” Dia malu tetanggannya terusik oleh rasa keranjingan saat berkenalan dengan kata-kata.

Kata-kata itu kemudian terbesit dalam ingatannya. Segalanya yang nampak di mata, akan tersirat dalam rangkaian huruf membentuk sebuah kata, kalimat sampai rentetan paragraf.

Perjumpaannya dengan kata, membikinnya berkembang. Meski demikian, ia mengaku, perjumpaannya dengan bilangan tak seakrab dengan huruf. Ia pergi ke sekolah, dan pulang karena mencret, lantaran bertemu dengan bilangan dan hitung.

Hal senada namun tak serupa, ditulis oleh Rahmah Purwahida. Adalah Kepada Anak-Anak yang Sekarang Telah Dewasa. Kali ini beda dengan Afrizal Malna yang mencret saat bertemu Matematika, sedangkan Rahmah Purwahida sebaliknya. Ia sangat menyukai Matematika.

Perkenalan dengan Sekolah Dasar, lengkap dan bersahabat dengan Matematika. Beberapa kali ia mendapatkan nilai ujian yang unggul di Matematika. Ia begitu mencintai matematika, sampai-sampai lewat matematikan ia berjumpa dengan puisi-puisi.

Perkenalan dengan kata dan puisi tak lahir begitu saja. Ada sebuah perkenalan yang mengantarkannya. Perkenalan itu lewat Matematika. Perjumpaannya tak seperti Wittgenstein. Saat ujian berlangsung, ia berhasil menyelesaikan soal matematika. Teman-temannya masih bergelut dengan angka. Rahmah berhasil keluar ruangan lebih dahulu. Angka-angka itu terlalu gampang baginya.

Walakin, nasib berkata lain. Ia teledor untuk mengerjakan soal esai matematika. Ia berhasil menyelesaikan soal pilihan ganda. Soal esai tak terselip, naas hasil akhir membikinnya murung. Ia mendapatkan nilai 48. Nilai yang mampus bagi seseorang yang mencintai Matematika.

Rahmah merasakan derita. Nilai Matematikanya remuk. Ia mengurung diri di kamar, sampai-sampai kedua orang tuanya gelisah. Bahagia berganti murung, kengerian nampak seperti kisah dalam guratan Edgar Allan Poe. Ia tercabik-cabik. Mukanya jadi pucat pasi, serasa tak berarti untuk digeluti.

Kedua orang tua dan guru tak ingin Rahmah hanyut dalam derita. Sebuah kalimat meluncur, membikin Rahmah untuk menginjak segalanya yang telah terjadi. Ia ingin menghempaskan kengerian itu –nilai matematikanya remuk. Batinnya seperti bergeming, oleh kata-kata indah yang menggulung kengerian. Ia kemudian bertemu dengan chairil anwar. Sebuah sajak berjudul ‘Aku’.

Rahmah membacanya penuh semangat. Kata dan nada yang keluar dari sela-sela giginya, menggetarkan penikmatnya. Kengerian yang menggumpal ia hempaskan dengan membaca sajak-sajak. Sajak itu menggema, membikin pendengarnya bergidik.

Kepiawannya saat bertemu dan membaca sajak, mendapatk perhatian. Saat-saat penting misalnya dalam acara di kelurahan, sekolah, kecamatan, kantor gubernur Bandar Lampug, mengundang Rahmah untuk membaca sajak. Rahmah menemukan teman baru, yaitu kesusastraan.

Saat akan lulus dari SMA, ia tetap mencintai Matematika. Namun, ada satu hal yang membikin bulu kuduknya bergidik. Adalah kejelitaan. Ia tak ingin rambutnya botak seperti Einstein. Ia tak ingin ruwet. Rambutnya ingin tetap lebat, tebal dan harum. Kemudian, aku mengingat Naomi Wolf menyoal kecantikan. Ia kemudian memilih Bahasa Indonesia, ya memilih untuk menjadi guru Bahasa Indonesia.

Kisah-kisah itu tersirat dengan teliti dan jujur. Para esais itu berkisah yang silam meskipun berlalu, tetap hadir dalam hidupnya. Ia bersama dalam elan vital yang menancap dalam kalbunya. Mengais untuk renungan sepi di malam sunyi. Waktu yang berlalu tak akan pernah kembali.

____________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas, Pengkliping dan Penikmat Sastra yang Tinggal di Kota Surakarta

Buku, Resensi

Belajar Hidup dari Malaikat Maut

Oleh Erna Surya

Kadang, kematian bukanlah tentang berakhirnya hidup, melainkan tentang bagaimana seseorang akhirnya benar-benar hidup. Seo Eun-chae menulis novel Seminggu Sebelum Aku Mati (Haru, 2024) dengan kesadaran itu—bahwa manusia sering kali baru memahami arti hidup justru ketika kematian datang mengetuk.

Novel ini dibuka dengan premis sederhana: seorang perempuan bernama Jeong Hee-wan diberi waktu tujuh hari sebelum ia mati. Namun yang membuatnya tak biasa adalah sosok yang datang menjemputnya: Kim Ram-woo, cinta pertamanya yang telah lama meninggal. Ram-woo kini menjelma sebagai malaikat maut.

Malaikat maut di sini bukan sosok mengerikan bersayap hitam, melainkan kehadiran yang tenang—seolah cinta yang belum selesai. Ia datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menemani Hee-wan menutup hidupnya dengan damai. Ia datang bukan dengan sabit, melainkan dengan kenangan.

Hee-wan diberi waktu tujuh hari untuk “menyelesaikan urusannya di dunia”. Dalam rentang waktu itu, ia membuat daftar keinginan kecil: menonton film yang belum sempat selesai, mengunjungi tempat yang pernah ia datangi bersama Ram-woo, menulis surat kepada diri sendiri.

Namun, daftar itu perlahan berubah menjadi perjalanan batin. Setiap hari membawanya ke lapisan baru dari rasa kehilangan—dan penemuan. Ia belajar memaafkan dirinya sendiri, menerima luka masa lalu, dan memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersama selamanya.

Seo Eun-chae menulis dengan nada lirih. Tidak ada letupan besar, tidak ada air mata yang berlebihan. Justru dari kesunyian itu muncul kekuatan emosional yang dalam. Ia membuat pembaca memahami bahwa kesedihan yang paling tajam bukanlah tangisan, melainkan keheningan yang panjang.

Banyak karya sastra Korea modern berbicara tentang kehilangan dan waktu. Namun Seminggu Sebelum Aku Mati membawa nuansa berbeda. Ia memadukan realisme psikologis dengan sentuhan spiritual yang lembut.

Ram-woo bukan hanya figur cinta lama, tetapi juga simbol tentang waktu yang tak kembali. Dalam dirinya, Hee-wan melihat apa yang ia relakan dan sekaligus apa yang tak pernah bisa ia lepaskan. Maka perjalanan tujuh hari itu menjadi semacam ritus perpisahan yang suci: sepasang jiwa yang pernah saling mencintai, kini berjalan berdampingan menuju akhir.

Novel ini menolak pandangan biner antara hidup dan mati. Seo Eun-chae tampak ingin berkata bahwa keduanya hanyalah dua sisi dari keberadaan yang sama. Hidup, seperti halnya kematian, adalah proses pulang.

Di satu bagian, Hee-wan berkata pelan, “Aku tidak takut mati. Aku hanya takut hidup tanpa alasan.”

Kalimat itu sederhana, tapi menembus jantung tema novel ini: ketakutan manusia bukan pada kematian itu sendiri, melainkan pada kemungkinan hidup yang sia-sia.

Seo Eun-chae punya gaya penulisan yang khas—lirih, sinematik, dan penuh udara. Ia tidak terburu-buru. Setiap bab seolah dibuat untuk dibaca pelan-pelan, memberi ruang bagi pembaca untuk ikut bernapas bersama tokohnya.

Dalam terjemahan Dwita Rizki, bahasa novel ini tetap terjaga kepekaannya. Diksi sederhana tapi tajam. Tidak ada kalimat yang ingin terdengar indah secara berlebihan; justru dalam kesederhanaan itu, maknanya menjadi dalam.

Struktur cerita yang dibagi dalam tujuh hari membuat novel ini terasa seperti perjalanan spiritual yang runtut. Setiap hari adalah fase kesedihan: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Seo Eun-chae tidak menuliskannya secara eksplisit, tapi emosi itu terasa jelas di bawah lapisan narasi.

Ia seperti menyusun peta jiwa dalam bentuk kisah cinta.

Ada banyak simbol bertebaran di dalamnya: laut, langit senja, rel kereta, dan jembatan. Semua itu melambangkan perlintasan—antara hidup dan mati, masa lalu dan masa kini, keberadaan dan ketiadaan.

Laut, misalnya, selalu muncul di saat-saat penting: tempat di mana Hee-wan merasa hidup sekaligus mati; tempat di mana Ram-woo mengajarinya arti melepaskan. Laut bukan sekadar pemandangan, tapi lambang tentang kedalaman diri yang harus ia selami sebelum benar-benar pulang.

Simbol-simbol itu tidak disusun dengan pretensi intelektual. Semuanya mengalir alami, seperti ingatan yang muncul di kepala seseorang yang sedang menunggu ajalnya dengan tenang.

Novel ini juga berbicara lembut tentang isu kesehatan mental. Hee-wan digambarkan sebagai sosok yang “hidup tapi tidak sungguh-sungguh hidup.” Ia berjalan di antara rutinitas kosong, kehilangan arah, dan merasa bahwa dunia tidak lagi menawarinya apa pun.

Kehadiran Ram-woo—meski dalam bentuk kematian—justru menjadi pengingat untuk hidup. Inilah ironi yang indah dari novel ini: kematian menjadi penawar bagi keputusasaan. Seo Eun-chae tidak memotret depresi secara klinis, tapi secara eksistensial: rasa kehilangan makna, rasa bersalah, dan ketidakmampuan mencintai diri sendiri.

Maka ketika Hee-wan akhirnya mampu menatap langit tanpa air mata di hari ketujuh, itu bukan kemenangan besar, tapi penerimaan kecil yang menenangkan.

Kelemahan novel ini mungkin terletak pada ritme yang sangat lambat. Bagi pembaca yang terbiasa dengan konflik cepat, kisah ini bisa terasa datar. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia tidak memaksa kita untuk larut dalam drama, tapi mengajak kita untuk duduk diam dan mendengarkan kesunyian.

Setiap kalimat seperti undangan untuk berhenti sejenak—menyadari bahwa hidup kita sendiri pun sebenarnya sedang berjalan menuju ujung, dan mungkin yang kita butuhkan hanya keberanian untuk menerima itu dengan damai.

Seminggu Sebelum Aku Mati bukan kisah romantis dalam arti konvensional. Ia lebih tepat disebut meditasi tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk hidup. Seo Eun-chae menulis seolah ingin membisikkan pesan: bahwa mati tidak selalu berarti berakhir, kadang ia justru awal dari kehidupan yang lain.

Dalam setiap halusnya percakapan antara Hee-wan dan Ram-woo, kita diajak menyadari bahwa yang membuat hidup berharga bukanlah panjangnya waktu, melainkan kesadaran penuh di dalamnya. Tujuh hari dalam novel ini terasa seperti seumur hidup. Dan mungkin memang begitulah hidup: sebentar, tapi bisa sangat penuh.

Ketika novel berakhir, yang tersisa bukan kesedihan, melainkan kelegaan.
Hee-wan telah berdamai dengan kematiannya, dan pembaca—anehnya—ikut merasa tenang.

“Kadang, kematian hanyalah cara cinta untuk pulang,” tulis Seo Eun-chae.

Dan kita pun tahu, setelah menutup buku ini, bahwa mungkin hidup memang seharusnya dijalani seperti itu: dengan kesadaran bahwa setiap hari bisa menjadi yang terakhir, dan justru karena itu, setiap detiknya berharga.

___________________

Erna Surya. Penulis dan pembaca sastra, berprofesi sebagai seorang guru.

Buku, Resensi

Gagal yang Direncana = Keberhasilan

Oleh Yuditeha

​Apa kabar dunia sastra, di mana keberanian dan kegagalan kadang berjalan beriringan? Saya baru saja menyelesaikan buku puisi yang, entah bagaimana, berhasil membuat saya beberapa kali menelan ludah. Bukan karena keindahan baitnya, melainkan karena keanehan, atau lebih tepatnya, kenekatan Beri Hanna, sang penulis. Buku ini bukan seperti kumpulan puisi, melainkan sebuah medan pertempuran aksara yang diberi judul ironis: akhiri patah hati (dramaturgi gagal). Ada sesuatu yang tumpah-tumpah hingga menyerupai tumpukan cat di kanvas, ada yang disusun dari huruf yang tumpang tindih, saling-silang, susunan kode-kode, dan ada pula yang hanya kumpulan simbol, seolah penulisnya tengah menguji batas kesabaran pembaca.

​Uniknya, di halaman-halaman awal, penulisnya dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling menyebut bahwa ia gagal berpuisi. Sebuah pernyataan yang mengejutkan. Seakan ia sedang menawarkan pertunjukan kegagalan yang sangat disengaja. Judul (dramaturgi gagal) menjadi penguat dari pernyataan itu. Sementara di halaman lebih awal lagi, Afrizal, sang pengulas, pun dengan santunnya seakan menyetujui, dan membahas mengapa buku ini pantas menyandang gelar produk gagal. Sungguh, sebuah narasi yang aneh dan membuat saya merasa geli. Apakah ini semacam teater absurd di mana kita semuanya duduk bersama menyaksikan sebuah kegagalan yang dipamerkan?

​Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Saya merasa ada kejanggalan di balik pengakuan ini. Apakah benar sebuah kegagalan? Atau justru sebuah keberhasilan yang disamarkan? Apakah mungkin, dengan segala ironi dan sarkasme yang menyelimuti buku ini, sang penulis sedang menertawakan kita semua, para pembaca dan pengulas, yang terperangkap dalam jebakan definisi puisi yang kuno?

​Coba kita membayangkan, ada seorang koki dengan sengaja menyajikan hidangan yang hangus dan tidak keruan bentuknya, lalu berkata, “Ini hidangan gagal.” Di sampingnya, seorang kritikus makanan pun mengangguk, “Ya, ini memang hidangan gagal. Mari kita bedah kegagalannya.” Aneh, bukan? Namun, di balik kegagalan itu, ada sebuah pesan yang sangat kuat. Bahwa ia berani tampil beda, berani menantang pakem, dan berani tidak menjadi fotokopi dari koki-koki lainnya. Ini sebuah keberhasilan, keberhasilan untuk berdiri sendiri.

​Saya melihat hal yang sama terjadi pada buku puisi ini. Beri mengaku tidak bisa seperti penyair lain—ia menyebutkan beberapa penyair. Tapi ia mengambil jalan ekstrem, jalan yang mungkin terlihat bodoh dan naif, tapi sebenarnya sebuah deklarasi kemandirian. Ini bukan kegagalan, melainkan manifesto keberanian untuk berpuisi di luar zona nyaman. Ini kegagalan yang direncana. Dan judul akhiri patah hati mungkin bukan tentang patah hati dalam arti romansa, melainkan patah hati terhadap norma-norma sastra yang kaku.

​Puisi, pada esensinya, bukan tentang apa yang ingin disampaikan penyairnya. Puisi adalah apa yang tertangkap di kepala pembaca. Artinya, sebuah puisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembaca untuk menjadi utuh, untuk menjadi hidup. Sang penulis mungkin sengaja menyajikan puisi gagal, yang hanya sebagiannya bisa dibaca, sebagiannya lagi kode dan simbol. Namun, di situlah kejenakaannya. Ia memberikan kita ruang kosong untuk diisi, teka-teki yang harus dipecahkan, misteri yang harus ditafsirkan.

​Ada semacam ilustrasi kisah, di mana seorang seniman modern menyajikan karya yang hanya berupa kanvas putih. Kritikus bertanya, “Apa maknanya?” Dan sang seniman menjawab, “Maknanya adalah apa yang kau lihat.” Beri, menurut saya, melakukan hal yang sama. Ia membebaskan kita dari beban harus memahami maksud, dan memberi kebebasan untuk menafsirkan. Sebagian saya bisa memahami, sebagian lagi tidak. Namun, sebagian yang bisa saya pahami terasa jauh lebih kuat dan personal, karena saya yang mencipta maknanya.

Hal pertama yang saya bisa mencipta makna dalam puisi-puisi Beri adalah banyaknya kata vodka. Dalam hal tertentu, disadari atau tidak, penulis memakai bahan yang sama di banyak puisi, dan Beri melakukannya di buku ini dengan kata itu. Kata Vodka kerap hadir. Hal ini semacam petunjuk bahwa secara kritis, kata ini bukan hanya merujuk pada minuman beralkohol, melainkan metafora untuk beberapa hal sekaligus. Vodka dapat melambangkan pelarian atau penghilang rasa sakit; untuk meredam kepedihan emosional, kegelisahan, atau trauma. Selain itu, vodka yang dikenal karena sifatnya bersih dan tawar, bisa mewakili kekosongan atau kenihilan—suatu upaya sia-sia untuk mengisi kehampaan. Di sisi lain, vodka sering diasosiasikan dengan kehangatan dan suasana sosial tertentu, penyair mungkin ingin menyoroti keintiman yang semu atau koneksi rapuh yang dibangun di atas zat alih-alih emosi sejati. Maka, vodka dalam puisi Beri, bukan sekadar detail, melainkan isyarat untuk menyampaikan perihal isolasi, kehampaan, dan pencarian makna yang gagal di tengah realitas yang menyakitkan.

Selain itu, hal lain yang saya merasa dapat mencipta makna tentu saja dari kejelasan tampilan diksinya. Dan salah satu puisi yang masuk dalam kategori tersebut ada di halaman 22. Dalam puisi ini Beri memberi pernyataan radikal yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui fragmen-frahmen, puisi ini menyingkap paradoks mengerikan tentang buku prosa yang menulis dan membakar dirinya sendiri secara bersamaan. Penggunaan kata “bangsat” sengaja dipilih untuk menolak estetika keindahan dan menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi adalah sesuatu yang keji dan brutal. Puncaknya, ia memberi deklarasi nihilistik yang menyatakan bahwa proses kreatif yang paling jujur dan menyakitkan tidak dapat dicerna atau dipahami secara rasional, melainkan sebuah misteri yang melampaui logika manusia.

Puisi di halaman 23 pun, diksinya cukup jelas. Sebuah puisi yang menggambarkan proses pemulihan trauma masa lalu. Cara mengantarkan kepada inti derita sangat halus. Luka emosional yang tak terucap selama bertahun-tahun diungkap melalui metafora brutal di bagian akhir yang melambangkan bekas luka psikologis yang dalam. Sebuah ironi menyakitkan dan pengakuan akan ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan (yang mungkin ia penyebabnya). Namun sepertinya jauh di dasar pengertian ada sebuah penerimaan atas kepahitan itu.

Lalu kembali kepada masalah pengakuan gagal, di sinilah ironi terbesarnya. Dengan mengaku gagal, sang penulis justru berhasil menciptakan karya yang membuat saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih dalam. Dengan mengaku gagal, ia justru berhasil membebaskan saya dari tuntutan harus mengagumi dan memahami. Ia memberikan kebebasan untuk merasakan, untuk menafsirkan, dan bahkan untuk tidak suka. Itu adalah kesuksesan yang sangat langka.

​Mungkin ini adalah sebuah sindiran tajam untuk kita yang terlalu bergantung pada ulasan dan interpretasi orang lain. Kita seringkali terbuai narasi-narasi baku tentang keindahan puisi, tentang makna yang harus dicari. Padahal, makna yang sejati adalah makna yang kita temukan sendiri, yang lahir dari interaksi kita dengan karya itu.  Buku puisi berjudul akhiri patah hati (dramaturgi gagal) yang diterbitkan dengan kendaraan Mesin Rekam (2025) ini bisa jadi adalah seruan untuk mengakhiri cara pandang kita terhadap sastra yang itu-itu saja.

​Ini adalah sebuah protes terhadap kesepakatan atas dasar kebiasaan, sebuah pernyataan bahwa menulis bukan lagi soal keindahan kata-kata yang muluk-muluk. Menulis di era digital, di era banjir informasi, adalah soal bagaimana kita berani tampil beda, bagaimana kita berani menantang pakem, dan bagaimana kita bisa memantik percikan-percikan pemikiran.

​Buku ini mungkin memang kegagalan dalam arti konvensional, tapi ia sebuah keberhasilan dalam arti revolusioner. Sang penulis berhasil membuat kita bertanya, apa itu puisi? Apa itu keberhasilan? Dan yang terpenting, ia berhasil membuat kita tersenyum kecil, karena di balik kegagalan yang dipamerkan, ada sebuah kejenakaan yang sangat cerdas. Di balik keseriusan pengakuan gagal, ada senyum kecil yang tersembunyi, seakan sang penulis tengah berkata, “Tersesatlah dalam karyaku. Aku sengaja membuatnya demikian.”

​Dan itu esensi yang relevan dengan zaman: Menulis bukan lagi soal keindahan, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menertawakan diri sendiri, dan keberanian untuk tidak menjadi seperti yang diharapkan. Buku ini adalah pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah jalan baru. Di balik kegagalan, ada sebuah keberhasilan yang lebih besar. Gagal yang direncana sama dengan keberhasilan.

Karena saya baik hati, di akhir tulisan ini saya akan membocorkan salah satu puisi yang saya suka (semoga punulisnya tidak marah). Puisi ini berada di halaman 25, ditulis dengan format vertikal agak miring. Sementara tampilan puisinya ditulis dua kali, dengan susunan hampir bertupukan.

Menurut saya, ini eksperimen visual dan naratif yang sengaja dibangun di atas ketegangan. Penulis sedang berbicara tentang ketidakmampuan untuk melepaskan atau melupakan suatu peristiwa, seakan ingatan itu terus kembali, berbayang, dan mengganggu. Ada kenyataan tentang posisi yang tidak setara. Perihal trauma masa lalu yang tampaknya konyol tapi justru memiliki daya hancur yang nyata, dan tidak terduga. Ada rasa malu, amarah, atas luka yang disaksikan. Hal ini lebih dari sekadar penderitaan. Adalah sebuah trauma yang tumpang tindih, kebenaran yang absurd, dan keheningan yang tidak pernah benar-benar damai.***

_______________________________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Buku, Resensi

Populisme Kiri: Menggugat Hegemoni, Meradikalkan Demokrasi

Oleh Muhammad Teguh Saputro

Frasa suci dalam catatan sejarah yang sudah tidak asing lagi kita dengarkan mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah tentang perebutan kekuasaan. Makna besar kekuasaan dalam frasa tersebut tidak semata tentang tahta kepemimpinan, susunan kabinet, atau kursi parlemen, melainkan lebih dari itu, pertarungan ide, gagasan, media, bahkan massa yang terkoneksi menjadi suatu tatanan sistem – ekonomi dan politik – yang bersifat mendominasi dalam segala lini kehidupan.

Perebutan wacana ide besar tatanan kehidupan – sistem, tidak lagi menjadi topik baru dalam altar peradaban manusia. Terhitung sejak lahirnya Revolusi Prancis di abad ke 18 sampai mencairnya Perang Dingin di senjakala abad ke 20 –tarik-menarik dominasi di percaturan politik global tidak pernah berhenti. Sejarah panjang yang populer dikenal dengan perebutan wacana antara Faksi Kanan dan Faksi Kiri perlahan berhenti ketika banyak negara secara bergilir mencapai titik konsensus yang dianggapnya sebuah konklusi dari konflik panjang ini. Konsensus yang dengan sepakat diberi nama demokrasi.

Titik Nadir Demokrasi

Chantal Mouffe, seorang teoritikus politik asal Belgia yang menyandang gelar profesor teori politik di University of Westminster, UK, menguraikan narasi dengan arah arus yang sangat baru dan berbeda. Lewat bukunya yang berjudul Populisme Kiri, Mouffe membeberkan bahwa konsensus demokrasi yang dulu dicita-citakan sebagai titik netral dengan menjunjung nilai kesetaraan dan kedaulatan, hari ini berada di titik nadir dengan semakin dominan dan kuatnya faksi Kanan – populis, yang terus mengglorifikasi politik identitas, sentimen rasial, keagamaan, kesukuan, xenofobik. Sebuah titik yang tidak pernah terbayangkan, titik konsensus yang dianggap netral dan setara hari ini berada di tangan-tangan populis yang mengimani pandangan yang bertolak belakang dari cita-cita.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri juga membeberkan tentang ruang demokrasi yang terkungkung dalam genggaman kaum populis saat ini bukan tanpa alasan. Mouffe lewat catatan dan analisa yang ditulisnya setidaknya mengatakan, titik nadir demokrasi di tangan kaum populis hari ini lahir dari jurang kesenjangan yang dilahirkan ruang demokrasi itu sendiri. Menurutnya, tatanan sistem konsensus demokrasi pasca perang dingin yang mengaburkan batas kanan-kiri melahirkan suatu pondasi sistem yang rentan akan krisis. Liberalisme yang semakin berkembang setelah mendapat tempat di sisi demokrasi pasca-konsensus, sejak awal mempunyai bagian yang saling bersinggungan dan bersifat kontradiktif.

Demokrasi yang berdiri dengan tiang agung kesetaraan dan kedaulatan, bertolak belakang dengan liberalisme yang menjunjung kebebasan individualisme. Perkawinan dua sistem yang mempunyai kontradiksi tersebut seakan tampil menjadi wacanan sistem baru yang bersifat mengakomodir. Dengan dibantu kinerja-kinerja hegemonik oleh berbagai formula hegemoni — seperti birokrasi, media, dan wacana globalisasi – sistem konsensus ini berkembang dengan sangat pesat namun menyimpan kerentanan yang sangat besar di baliknya.

Konsensus yang kemudian hari dikenal dengan istilah demokrasi liberal,berkembang dengan semangat mengalenisasi wacana rakyat– terganti dengan wacana kebebasan individu – mencapai titik nadirnya pada pecahnya krisis ekonomi internasional, seperti di tahun 2008 yang menimpa dan membuat dampak yang fatal bagi negara-negara besar demokrasi.

Ketimpangan dan kesenjangan yang dilahirkan demokrasi liberal semakin jelas pasca-krisis. Imbasnya, momen populis–momen merebut kembali kedaulatan dan wacana rakyat yang ada di banyak negara dan bersifat resistance–lahir dan diikuti meletusnya gerakan besar alternatif melawan hegemoni liberalisme.

Momen populis ini semakin tumbuh. Dengan metodologi redefinisi yang jelas antara makna dan siapa-kita serta makna dan siapa-mereka, (baca: rakyat v.s elit), kaum populis memanfaatkan momen ini dengan dalih memulihkan demokrasi. Alih-alih memulihkan ke cita-cita awal – kedaulatan dan kesetaraan – demokrasi semakin mencapai titik nadirnya dengan politik identitas, intoleransi, dan sentimen rasial di bawah tempurung populis-kanan.

Merebut dan Meradikalkan Demokrasi

Keprihatinan mengenai kondisi demokrasi saat ini yang – kebanyakan – berada di bawah kendali kaum populis – yang semakin menjauhkan tatanan dari kesetaraan – membuat beberapa filsuf dan akademisi politik berdebat dalam merumuskan strategi untuk merebut kembali demokrasi. Di posisi inilah Mouffe tampil dengan gagasan yang tertuang di bukunya; Populisme Kiri. Menurutnya, kondisi hari ini tidak semata gagalnya konsensus demokrasi liberal membendung krisis yang berakibat kesenjangan yang begitu besar, tetapi lebih dari terdapat fenomena realitas lain, yakni matinya gerakan revolusioner (baca:kiri), dan keberhasilan kaum populis memanfaatkan momen – kesempatan yang dihasilkan krisis.

Gerakan revolusioner sibuk menenggelamkan diri dengan perdebatan internal mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk merebut demokrasi. Banyaknya faksi yang terdapat dalam arus ini masih sibuk berdebat mengenai metodologi revolusi yang akan digulirkan. Beberapa memilih revolusi total, beberapa lain menyimpang dan memilih memasuki pusaran sistem dan berusaha merovolusi dari dalam. Imbasnya, ketiadaan keselarasan visi tersebut semakin melemahkan arus gerakan dan mengaburkan tujuan awal.

Sedangkan di sisi lain, faksi tandingan yang dikenal dengan istilah populis berhasil memanfaatkan krisis yang dilahirkan demokrasi liberal. Jurang kesenjangan berhasil dimanfaatkan kaum populis untuk meredefinisi musuh bersama. Wacana rakyat yang selama ini perlahan hilang dari gelanggang demokrasi, direbut dan dimunculkan kembali sebagai kendaraan untuk merebut demokrasi dan mengantarkan pada kemenangan – kekuasaan.

Mouffe, sebagai salah seorang yang prihatin terhadap kondisi yang dilahirkan kaum populis ini mencoba merumuskan dan menawarkan strategi baru untuk kaum revolusioner yang kehilangan arah. Bagi Mouffe, strategi populis yang berhasil tersebut dapat kita adopsi, meski tentu dengan berbagai catatan yang membedakan.

Mouffe menjelaskan, keberhasilan kaum populis sangat dipengaruhi momen populis yang dilahirkan oleh krisis. Momen populis yang dimanfaatkan gerakan untuk meredefinisi realitas guna membentuk wacana publik tersebut harus dimanfaatkan sebagai momen mengonsolidasi perlawanan. Jika kaum populis mendefiniskan dengan garis demokrasi yang jelas antara rakyat dan elit, yang dimanfaatkan untuk meraup suara, kaum kiri haruslah mampu melakukan hal yang sama. Membedakan diri dan menciptakan musuh bersama di wacana publik, serta merangkul berbagai elemen untuk mewujudkan kontra-hegemoni secara bersama.

Mouffe menyadari kemapanan sebuah sistem – termasuk demokrasi liberal – sangat ditopang oleh keberhasilan sebuah formula yang bersifat menghegemoni. Meminjam teori yang pernah diajarkan Antonio Gramsci, Mouffe menjelaskan melawan hegemoni tidak lain dengan menciptakan formula baru yang bersifat kontra-hegemoni.

Mouffe lewat bukunya Populisme Kiri ini mengajak pembaca untuk merefleksi strategi yang pernah dilakukan kaum populis – dan berhasil, untuk diadopsi dan dimodifikasi dalam gerakan yang lebih revolusioner guna keluar dari hegemoni liberalisme dan menyelamatkan pilar demokrasi yang diinjak-injak kaum populis sejauh ini.

Mouffe yang percaya bahwa demokrasi dan negara adalah ruang netral untuk saling menciptakan ide-ide yang membentuk formula hegemoni, secara sederhana dia mengajak pembaca untuk menggugat hegemoni yang selama ini melahirkan krisis – liberalisme, dengan menciptakan formula kontra-hegemoni untuk turut mewarnai ruang demokrasi, serta menciptakan perubahan yang radikal dalam sistem demokrasi untuk cita-cita mulia yang pernah dimimpikan bersama. Bahwa demokrasi adalah sebuah konsensus untuk menegakkan kesetaraan dan kedaulatan di tangan rakyat – bukan elit, oligarki, dll. Pentingnya kemenangan kiri untuk menyelamatkan demokrasi harus disertai pentingnya membentuk wacana publik lewat momen populis, menciptakan formula kontra-hegemoni sebagai alternatif, serta meradikalkan sistem demokrasi untuk menciptakan berbagai perubahan-perubahan besar yang dimimpikan rakyat.


Muhammad Teguh Saputro, mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pegiat literasi dan diskusi di Komunitas Lorong.

Buku, Resensi

Punk dan Kisah Lainnya

Oleh Nu’man Nafis Ridho

Ketika kita bergeliat dalam obrolan musik. Para pelaku musik seperti personil band, para pengulas musik, dan manajer tak mungkin dihilangkan dari percakapan. Begitu pula yang coba disuguhkan dari buku History of Punk: Budaya Tanding yang Tak Pernah Padam (2020). Atolah R. Yafi sebagai penulis menghadirkan perbincangan mengenai band-band punk, bagaimana mereka terbentuk dan hidup, para pengulas musik yang mempopulerkan terma punk, juga orang-orang di balik panggung seperti manajer band.

Saat membicarakan band-band punk, pikiran kita akan langsung tertuju pada Sex Pistols, Ramones, The Clash, The Stooges, New York Dolls, juga MC5. Band-band yang menandai semangat awal musik punk. Namun, Atolah mencoba menghadirkan nama-nama lain. Death, Pure Hell, Television, Buzzcock, Warsaw, Blondie ialah segelintir nama lain yang sedikit banyak juga membentuk subkultur punk di awal kelahirannya.

Atolah membagi bukunya menjadi empat bab: Detroit, New York, London, dan Manchester. Empat kota yang menjadi titik awal kemunculan punk di dua negara: Amerika Serikat dan Inggris. Skena punk diringkas Atolah ke dalam empat kota tersebut. Ia coba memisahkan bagaimana punk muncul di keempat kota tanpa menghilangkan keterkaitannya dalam tumbuh bersama.

Para Pengulas dan Orang di Balik Panggung

Ekosistem musik tak mungkin hanya diisi para penyanyi dan personil band lainnya. Kita pernah membaca di buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) yang ditulis Idhar Rhesmadi. Ia menuliskan mengenai aktor-aktor yang memenuhi ruang ekosistem selain musisi. Para pengulas lagu, album, dan band mengisi ruang dengan tulisan yang dicetak menjadi majalah. Beberapa majalah seperti Musika, Diskorina, Hai, Ripple, MTV Trax, Rolling Stone Indonesia, juga Aktuil sempat mengisi ekosistem musik Indonesia melalui ulasan mereka. Dany Sabri jadi salah satu pengulas penting dalam perkembangan musik di majalah Aktuil. Di buku, Idhar menuturkan, “selama tiga belas tahun Aktuil menulis beragam peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air.”

Para pengulas tak hanya membeberkan mengenai musik bagus dan jelek menurut versinya. Mereka juga turut serta dalam perkembangan kultur music yang terbentuk. Meski tak langsung terjun dalam pembuatan karya. Tetapi mereka justru yang menghidupkan musik melalui ulasan-ulasannya di majalah. Seperti Aktuil yang terus hidup selama tiga belas tahun untuk mengulas musik.

Begitu juga yang diterangkan Atolah di buku History of  Punk. Lester Bangs dan Dave Marsh tertuturkan sebagai penulis awal yang mengusung terma punk dalam ulasannya di majalah seperti Rolling Stone dan Crema. Mereka memunculkan terma punk melalui ulasan di majalah. Punk tidak hadir karena para musisi mengakui diri mereka sebagai punk. Namun itu dilekatkan kepada mereka oleh para pengulas musik di majalah.

Misalnya seperti Lester Bangs yang dituturkan Atolah di halaman 28, begini, “ia membeli album MC5 dan membuat ulasan secepat mungkin.” Ulasan yang dibuat Bangs justru melekatkan terma punk pada MC5. Terma punk tidak muncul dari ungkapan para personil MC5. Justru dari para pengulas seperti Lester Bangs, Dave Marsh di Amerika Serikat. Atau Denis Sabri di Indonesia.

Bahkan Death, band yang digadang-gadang sebagai musisi awal yang memainkan musik punk di Detroit tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka sebagai punk. Malah mengungkapkannya sebagai rock n roll. Begini kata vokalis sekaligus basisnya Bobby Hackney, “kami tak tahu apa-apa tentang punk, bro. Kami hanya menyebutnya hard-driving Detroit rock n roll. Itulah yang kami mainkan. Mungkin memang sedikit lebih cepat, lebih agresif, karena semua orang berkata bahwa kita harus memainkan musik lainnya seperti soul ataupun funk.”

Kita juga mendapati di buku bahwa selain para pengulas lagu, album atau band. Para manajer seperti Malcom McLaren amat begitu penting dalam pertumbuhan subkultur punk. Ia menjadi orang yang menyatukan para personil Sex Pistols dan memulai skena punk di London. Atau John Sinclair yang membentuk ruh dalam band MC5 di Detroit. Juga ada Rob Gretton yang memanajeri Joy Division dan New Order di Manchester.

Orang-orang di balik panggung inilah yang juga membentuk subkultur punk. Mereka tak hanya duduk dan singgah di kapal bernama punk, namun ingin diingat sebagai yang paling berjasa dalam perjalanan punk di lautan musik. Merekalah justru yang juga punya andil, namun dipinggirkan dari ingatan. Memang nama-nama itu hanya tercatat sedikit oleh Atolah di bukunya. Ia lebih banyak memfokuskan perihal band-band yang membentuk skena punk di empat kota tersebut.

Namun, fokus itu tidak membawa Atolah untuk menyajikan biografi singkat dan peristiwa musisi yang hidup lebih baik secara spasial dan financial setelah sukses. Kita juga dapat mengetahui bahwa sejarah musik punk ternyata tidak hanya perkara kejayaan para musisi yang nama bandnya bias terus tercetak di kaos-kaos sampai saat ini. Atau musiknya terus didengarkan secara digital. Kisah-kisah band seperti Death, Pure Hell, Buzzcock, dan Television juga ingin hadir dan teringat. Buku History of Punk ini menjadi media yang bias tetap mengisahkan bahwa punk tak melulu soal band seperti Ramones, The Clash, MC5, The Stooges, dan New York Dolls. Atau perihal rockstar yang keranjingan heroin dan narkotika lainnya ketika menjadi mapan.

Kisah-kisah yang terpinggirkan dan ganjil juga terus terkisahkan melalui buku ini. Walau agak sayang, kisah-kisah itu tercetak dengan beberapa kekeliruan secara bahasa. Kesalahan ketik yang akan membuat pembaca sedikit bingung dalam menjelajahi sejarah singkat punk di buku.


Nu’man Nafis Ridho, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan sesekali menulis.

Buku, Resensi

Negara, Peliknya Administrasi dan Hidup Orang-orang Biasa

Oleh Poppy Trisnayanti Puspitasari

La Muli tidak dibuka dengan adegan mengerikan. Lembar-lembar selanjutnya pun, tidak dihiasi orang yang mati bunuh diri, adegan seks tersurat hingga pembantaian. Bagi pembaca yang terbiasa mengonsumsi sastra serius dengan cerita menghentak dan berdarah-darah, La Muli barangkali mengejutkan. Namun bagi pembaca yang sebelumnya pernah membaca karya lain dari Nunuk Y. Kusmiana, ketiadaan hal-hal ekstrim tadi tentu tidak bikin terkejut.

Lengking Burung Kasuari (LBK), menjadi karya perdana Nunuk yang menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 lalu. Nyaris serupa dengan La Muli, LBK menceritakan kehidupan sehari-hari pendatang di tanah Irian Jaya. Jika LBK menceritakan kehidupan keluarga tentara kelas menengah yang pendatang dari Jawa, La Muli sebaliknya. La Muli justru menceritakan kehidupan kelas bawah keluarga nelayan pendatang dari Buton.

Pergulatan keluarga dalam LBK dan La Muli pun nyaris serupa, harus ada upaya bertahan hidup, mengakali penghasilan dan penyesuaian diri dengan budaya-budaya di tanah rantau. Meski tentu saja, persoalan air hingga sanitasi tidak dialami sama sekali oleh kelas menengah dalam LBK, beda betul dengan kelas bawah dalam La Muli yang salah satu permasalahan utamanya adalah hal satu ini.

LBK di awal hingga akhir novel menyajikan sudut pandang putri tertua keluarga tentara yang berusia tujuh tahun. Sedang La Muli sebagai naskah unggulan Sayembara Novel Basabasi 2019, menyajikan sudut pandang orang ketiga dalam sebagian besar jalan ceritanya. Gaya berbahasa dalam La Muli pun tidak berbunga-bunga. Pergantian waktu, latar dan para tokoh yang berhadapan selalu ditandai satu paragraf penjelas tanpa diksi-diksi sukar.

Pantainya landai. Pasirnya hitam. Air lautnya kotor. Mungkin pengaruh dari pasir yang hitam itu. Kampung itu belum benar-benar bangun, kecuali sekelompok kecil nelayan yang baru pulang melaut. (hal 117)

Sinar mentari siang memancar ganas. Seolah ingin menghanguskan apa saja. Di dalam gereja hantaman sinar mentari siang teredam sedikit oleh langit-langit. Angin mengalir masuk dari jendela-jendela yang terbuka. Mengusir pengap yang terperam di dalam ruangan. (hal 124)

Tapi bagaimana La Muli yang tanpa kalimat berbunga dan hampir minim adegan ekstrim menjadi menarik buat terus dibaca? Semua ternyata bertumpu pada lokalitas yang bukan tempelan. Dialog dibuat berbahasa Indonesia kental logat Papua. Meski demikian, Nunuk tidak memaksakan kosakata lokal yang harus dijejalkan catatan kaki agar pembaca mengerti. Lokalitas Papua yang disajikan pun jauh dari koteka, upacara bakar batu dan hal-hal yang biasa dicap primitif dan disajikan di media massa. La Muli justru menunjukkan pergerakan masyarakat urban di tahun 1980an yang ternyata juga terjadi di Papua.

Salah satu poros permasalahan dalam novel ini adalah persoalan administrasi. Dapat dikatakan, peliknya administrasi menjadi sosok antagonis alias penghalang bagi para tokoh utama. La Muli si pendatang mesti dihadapkan dengan kekagetannya soal pembentukan er-te alias Rukun Tetangga. Rutinitasnya sebagai nelayan pun kerap berubah, ketika mesti berkenaan dengan persoalan warga yang katanya wajib jadi tanggungan ketua er-te. La Muli dan sesama pendatang lainnya di tahun tersebut ternyata buta soal perapihan administrasi dan pembentukan perangkat kampung. Hal tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 11 sebagai berikut:

“Apa persisnya tugas ketua er-te?” celetuk salah satu peserta rapat.

“Salah satunya berhubungan dengan administrasi. Mencatat nama-nama penduduk. Membuat rekomendasi kalau penduduk ingin mendapatkan surat rujukan untuk membuat ka-te-pe, atau membuat surat pengantar untuk mengurus surat kelakuan baik. Contoh surat rekomendasinya seperti ini.” kata Obet sambil mengambil selembar blanko isian.    

Tidak jauh berbeda dengan La Muli, suku Kayo Batu mesti juga menyesuaikan diri dengan perapihan administrasi. Persoalan tanah adat dan peralihan pemerintahan dari Belanda hingga akhirnya Indonesia, menjadi hal yang suku asli Jayapura ini mesti perjuangkan. Perjuangan soal tanah adat tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 157.

“Bagaimana kalau saya pelajari lebih teliti berkas-berkasnya?” tambah gubernur. “Lebih-lebih setelah pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia, yang tersisa hanya masa lalu yang sudah selesai. Singkat kata, peristiwa ini terjadi di masa lalu dengan pemerintahan yang bebeda. Saat ini bapak-bapak berhadapan dengan perwakilan pemerintah Republik Indonesia. Akan saya pelajari dan memberikan jawaban tertulis. Begitu lebih baik?”

Tidak ada perang si jahat melawan si baik dalam novel ini. Baik La Muli dan orang-orang suku Kayo Batu hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan usaha apapun yang mereka bisa. Mereka tidak memahami atau terlalu peduli dengan pergolakan politik, peralihan kekuasaan dan sejenisnya. Yang mereka lakukan hanya memerjuangkan hak dan makan dari keringat sendiri. Mula-mula kehidupan pendatang dan suku asli Jayapura ini pun cenderung tanpa gejolak, jika saja perapihan administrasi tidak tiba-tiba hadir kemudian memaksa mereka mengikutinya.

Nunuk telah memotret lokalitas yang betul-betul tidak bisa ditempelkan jika latar belakangnya selain Jayapura. Ada persoalan sejarah hingga peralihan kekuasaan yang goncangannya membuat novel setebal 196 halaman ini bergerak dinamis. Para tokoh yang berprofesi sebagai polisi dan tentara tidak lepas juga dalam jalan cerita. Mereka ini yang diceritakan menjaga perdamaian di tanah Irian Jaya meski ternyata, kebijakan yang dibuat turut pula membikin rumit kehidupan masyarakat kelas bawah karena tidak disesuaikan adat setempat. Tokoh berseragam lain, ada pula yang digambarkan menempuh kebijakan demi mempermudah urusan negara di tempat dirinya bekerja, sekalipun menyadari telah menyalahi hak orang lain.

Kesenjangan antara kebijakan, perapihan administrasi dan juga diterapkannya dua hal tadi tanpa mengindahkan adat setempat yang ternyata menyumbang depresi dalam diri para tokoh La Muli. Semuanya terasa serba tiba-tiba. Dari kehidupan mereka yang dulunya datar dan sekadar memenuhi kebutuhan perut, namun tiba-tiba mesti berlarian memenuhi aturan-aturan baru dari orang-orang berseragam yang digambarkan sangat pula para tokoh ini hormati. Masih orang-orang berseragam ini pula yang ternyata hampir semuanya berasal dari luar Jayapura. Hal demikian yang barangkali juga menyumbang kebijakan-kebijakan yang ditelurkan dan paksa diterapkan pada akhirnya tanpa melihat adat sekitar.

Para penulis yang berambisi mengemukakan tema-tema lokalitas, agaknya mesti betul-betul menguliti La Muli agar apa yang diusung bukan lagi hanya tempelan, apalagi sekadar drama percintaan urban yang paksa diberi latar pantai dan profesi nelayan. Sebuah cerita yang di mana saja latarnya diganti sekalipun, bukan menjadi masalah. Demikian barangkali akan serupa La Muli, yang memang bukan sekadar novel dengan tempelan latar pantai, profesi nelayan dan kosakata berbau daerah yang padanan katanya sukar dicari dalam Bahasa Indonesia.

Halaman terakhir novel ini pun tidak betul-betul menunjukkan kesedihan atau kebahagiaan yang terang. Para tokoh ditunjukkan mesti terus melanjutkan hidup yang tidak tahu bagaimana ujungnya. Mereka yang kemudian tidak sengaja memilih, hidup dipermudah negara atau kemanusiaan antar orang-orang biasa. Kemudian Nunuk dalam La Muli barangkali pula ingin menyampaikan, sastra serius yang apik tidak mesti dibuka dan ditutup dengan kejadian-kejadian tragis.


Poppy Trisnayanti Puspitasari, belajar menulis di Pelangi Sastra Malang. Dapat ditemui di blognya http://semangkaaaaa.blogspot.com

Buku, Resensi

Pendidikan dalam Catatan Soca Sobhita

Oleh Fauzi Sukri

Namanya Soca Sobhita. Waktu bocah, dia gemar membaca, menulis, melamun, ngupil, lalu mulai suka main game, juga gergaji-gergaji bareng Beps (nama panggilan bapaknya), bantu masak Bi Yo, dan lain-lain. Dia termasuk salah satu—bahkan mungkin satu-satunya—bocah yang punya rumah pohon di Rawamangun, Jakarta Timur: tempat favorit yang dibuatkan Beps. Makanan favorit nomor satu terlezat: KKK alias kue kering keju. Cita-cita: jadi ninja, biar bisa jalan-jalan ke sana kemari, nguber-nguber maling, juga penjahat. Tapi, dia pernah bersemangat untuk menjadi menteri pendidikan. Biar bisa membuat kebijakan pendidikan yang membahagiakan siswa-siswa Indonesia.

Yang menarik tapi tak unik, seperti semua murid/siswa sekolah di Indonesia, dalam catatan autobiografisnya yang diterbitkan jadi buku ini, dia punya pendapat sendiri tentang sekolah dan pendidikan di Indonesia. Ini juga sangat terkait dengan pola pengasuhannya di rumah.

Perhatikan catatan autobiografis Soca ini: “Aku tidak suka sekolah, sebetulnya. Aku suka tinggal di rumah bersama Opa dan Beps. Baca-baca cerita, main game, main di rumah pohon bersama Cathy Miauw, mencium kain dua…atau membantu Bi Yo dan Mak David memasak, atau membersihkan rumah.”

Jika kita perhatikan apa yang ditulis Soca ini, kita tahu masalahnya bukan perihal sekolah. Tapi sangat terkait lingkup “pendidikan” itu sendiri dan pola proses pendidikan-pengajaran. Di rumah, Soca sebenarnya terus dalam proses “pendidikan-pengajaran” secara tidak formal. Dari Opa yang mahir banyak bahasa asing, Soca belajar bahasa Jepang, lalu kuliah jurusan Sastra Jepang, bahkan membuat Soca akhirnya tinggal dan bekerja di Jepang. Dari Beps dan orang-orang di keluarga itu, Soca “belajar” perihal keterampilan buat bertahan hidup: memasak, membuat perabot, menjaga rumah. Tentu, juga menikmati hidup, atau “me time”.

Kita bisa merasakan bahwa Soca merasakan lebih senang ‘beraktivitas pendidikan’ di rumah daripada di sekolah. Kuncinya adalah bahagia. Di rumah, jelas Soca bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi proses pendidikan-pengajaran yang dilandasi kasih sayang: kesejahteraan batin psikologis anak didik. Inilah memang tantangan terbesar paradigma pendidikan di Indonesia bahkan di dunia. Masalah ini sudah diperhatikan dengan sangat serius sejak pertama kali Taman Siswa didirikan pada 1922: jadi salah satu asas dasar pedagogi Ki Hadjar Dewantara.

“Kenapa sih anak sekolah harus dikasih PR? Kan pulang sekolah aku sudah capek. Aku mau tidur siang. Mau main dengan Cathy Miaw, mau duduk-duduk santai di rumah pohon, mau baca buku, mau main game sama Om Eri, gergaji-gergaji sama Beps, bantu Bi Yo cuci-cuci, siram tanaman…” kata Soca Sobhita sekali lagi mengeluh tentang pendidikan-pengajarannya.

Yang juga dikritik Soca adalah ulangan.“Aku juga tidak suka ulangan. Karena aku jadi deg-degan waktu menjawab soal-soalnya. Meps bilang, santai aja, kan sudah belajar. Ya sih, tapi deg-deganku tuh nggak bisa ditahan lho, Meps.” Soca punya solusi cesples atas saran dari ibunya: “Meps bilang, kalau aku jadi menteri pendidikan, aku bisa bikin peraturan supaya sekolah tidak usah sering-sering bikin ulangan. Sedikit-sedikit saja, cukup.”

Masalah Soca adalah keluhan umum siswa Indonesia. Barangkali menarik untuk dicatat bahwa pola pendidikan-pengajaran dengan model PR yang terkesan ‘intimidatif’ sudah banyak dipertanyakan bahkan ditinggalkan. Finlandia termasuk negara yang cukup menghindari PR ini.

Tentu saja, Soca akhirnya mendapatkan sekolah SMP yang disukainya setelah dua kali tes masuk tidak diterima. Di sekolah SMP ini, dia ketemu dengan Pak Gondo (kepala sekolah) yang mengetesnya dan menerimanya meski tes belum selesai semua. Soca takjub pada kepala sekolah yang supel ini: akrab dengan siswanya, suka berkumpul dengan siswa dan bercerita. Dia bisa menjadi dalang. Plus, sekolah SMP itu, Soca mendapati seorang guru bahasa Indonesia yang pola pengajaran-pendidikannya menggugah rasa ingin tahunya.

Catatan-catatan autobiografis Soca ini mengingatkan kita pada masalah penting dalam pola pengasuhan dan pendidikan: kebebasan dengan penekanan pada kebahagiaan batin dan inisiatif atau disiplin ragawi yang keras dengan fokus pada kuasa pendidik-pengajar. Negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, secara umum, sering dianggap sebagai kawasan yang lebih menerapkan kebebasan, meski sebenarnya tidak pernah cukup bebas. Sedangkan negara dengan pengaruh Konfusianisme seperti Korea Selatan, Jepang, China lebih menekankan pada disiplin ketat. Dua pola ini punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Barangkali karena hal punya sisi positif dan negatif itu, Indonesia termasuk yang tidak pernah cukup tegas menerapkan pola.Tentu saja, paradigma pendidikan-pengajaran sekolah Indonesia secara umum lebih dekat pada kebebasan. Bahkan, sekarang sedang dipropagandakan “Merdeka Belajar”. Indonesia memang cukup gemar bikin slogan, tapi tidak pernah memikirkan ‘tradisi’ pendidikan-pengajaran dalam jangka panjang. Agar bisa dievaluasi secara mendasar, sebagaimana China yang selama berabad-abad menerapkan tradisi disiplin keras dalam pembelajaran sekarang sudah mulai beralih pada pola pendidikan-pengajaran kebebasan.

Pola pengasuhan Soca khususnya di rumah jelas sekali lebih mengedepankan kebebasan. Sejak mulai dari pola komunikasi keluarga seperti sebutan Meps dan Beps, keakraban anak ayah ibu, termasuk penentuan cita-cita, karier keilmuan/profesi, Soca diberikan hak (kebebasan) untuk menentukan. Salah satu keunggulan dari paradigma kebebasan dalam pengasuhan/pendidikan adalah anak (didik) punya rasa harga diri (self-esteem) dan rasa percaya diri (self-confidence) yang tinggi. Dua hal ini adalah fondasi penting pendidikan karakter manusia.

Ngomong-ngomong, ulasan ini sudah terlalu kaku dan analitis, tidak serenyah dan menggelitik catatan-catatan autobiografis Soca. Duh!


M. Fauzi Sukri, penulis Guru dan Berguru (2015)

Buku, Resensi

Pisau Bedah di Ruang Informasi Serbamedia

Oleh Dwi Alfian Bahri

Saat hidup di era informasi serbamedia, justru kebenaran informasi tidak lagi dipertanyakan. Itu karena yang menjadi kebenaran adalah yang dipercayai. Dengan banyaknya informasi di berbagai media, terutama media sosial, orang tidak lagi bisa mengingat dari  mana informasi tersebut berasal, apa isinya, atau apa distingsinya dengan informasi-informasi lain. Permasalahan inilah yang coba dikumpulkan oleh Wening Udasmoro (editor) dalam buku Gerak Kuasa (KPG, 2020).

Meminjam kacamata Deleuze, masyarakat era informasi serbamedia sebenarnya sedang mengidap skizofrenik. Sebuah masyarakat yang meletakkan yang nyata dan semu pada posisi yang sama. Kondisi ini menjadikan individu mengenggam berbagai kebenaran sekaligus, sehingga ia berbasis pada absurditas. Ini sebagaimana paradoks logika yang berkembang di tengah masyarakat: ingin bebas makan tetapi tubuh tetap langsing, ingin tubuh yang sehat tetapi tetap begadang, dan seterusnya.  Inilah fenomena yang terjadi dewasa ini.

Melalui buku ini, fenomena absurditas dan temporalitas masyarakat informasi serbamedia coba direkam, diulas, dibedah, diuraikan, dan ditawarkan. Buku ini semacam gudang perbekalan untuk mengarungi ruang-ruang informasi serbamedia yang banal tersebut. Persis seperti pendaki yang harus dan wajib menyiapkan perlengkapan safety sebelum menaklukkan medan terjal. Apa yang teruraikan dan tertawarkan dalam Gerak Kuasa inilah alat safety tersebut.

Semua itu coba diurai dengan sederhana, komprehensif, berdasar, dan terarah. Dimulai dari pemahaman mengenai culture studies, buku ini sebenarnya mengajak masyarakat informasi serbamedia untuk mulai berpikir secara mendasar, mengakar, kritis, dan mengakui-hargai perbedaan. Sebab, sekarang ini masyarakat memang sedang krisis atas hal itu.

Selain itu, culture studies sendiri merupakan suatu body of knowledge yang sangat berpotensi menjadi agen penting proyek dekolonasi produksi pengetahuan selain karena sifatnya yang politis; secara metodelogis ia melengkapi diri dengan conjunctural analysis, yang bisa membantu menghindarkan diri dari jebakan-jebakan esensialisme.

Lebih lanjut lagi, buku ini merupakan usaha untuk menjelaskan teori-teori yang banyak dipakai dalam kajian budaya dan media. Kekuatan utama buku ini adalah dihadirkannya konsep-konsep dari berbagai teoritikus kajian budaya dan media yang belum banyak disentuh dalam perdebatan akademis di Indonesia. Mulai pemikiran Hommy Babha, Stuart Hall, Julia Kristeva, Slavoj Zizek, Paul Gilroy, Christian Mets, Andy Benner, Gilles Deleuze, Angela McRobbie, Paul Virilio, Henri Lefebvre, dan Pierre Bourdieu, semua coba dihadirkan untuk mengulas, mengurai, dan mengkritisi fenomena masyarakat informasi serbamedia. Lebih tepatnya, buku ini semacam pisau bedah untuk fenomena informasi serbamedia.

Secara keseluruhan, buku Gerak Kuasa menghimpun 14 tulisan yang terbagi dalam 4 bab. Yang pertama berisi konsep-konsep dasar kajian budaya dan media, kedua berbicara tentang bahasa dan wacana, ketiga mengenai subjek dan identitas, serta keempat menyoal politik ruang dan waktu.

Para  pembaca bisa menjadikan buku ini sebagai landasan berpikir awal dalam olah pemikiran akademisnya maupun non-akademisnya. Tidak hanya itu, ada kebaruan yang ditawarkan dalam pembedahan tiap tulisan dan teorinya. Dapat dibilang, buku ini mencoba memberi jalan alternatif pemikiran yang lebih terarah, mendasar, sistematis, dan segar.

Awalnya, fenomena coba digulirkan, lalu pemikiran teoritikus coba dimasukkan untuk memahami, mengurai, dan mengonstruksi fenomena, kemudian semuanya dipertegas pada bagian penutup. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengatakan bahwa buku ini tepat secara akademis.

Masyarakat informasi serbamedia membutuhkan keadaan berpikir semacam itu. Karena sesungguhnya masyarakat dewasa ini kehilangan atas apa yang disebut pijakan berpikir, bersikap, dan berkritis. Segala hal yang ada sekarang sifatnya rapuh, banal, dan multiplisitas. Akibatnya, masyarakat mentransformasikan dirinya, dari kelompok empati menjadi kelompok antipati (banci sosial). Ini yang sedang terjadi sekarang.

Buku ini hadir mengisi kekosongan itu sekaligus mengurainya secara akademis. Bagaimana pembaca akan diajak berpikir secara teoritis guna menghindari konflik panjang yang tak berakar dan tak berkesudahan seperti yang sedang terjadi saat ini.

Tidak bisa dipungkiri, dalam masyarakat yang tenggelam dalam informasi saat ini, beragam fenomena sosial yang demikian beragam dan tidak sedikit darinya mengejutkan, bisa jadi hanya mampu dibaca dengan meminjam kacamata dari teoritikus dalam uraian buku ini.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan, 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di Instagram @suaraalfian47.

Buku, Resensi

Musik dan Kegilaan

Oleh Gregorius TH Manurung

Dalam penggunaannya, kata gila (selayaknya kata sifat lain) memiliki beragam makna. Pernyataan “Gila ni orang!” bisa berarti orang itu adalah orang dengan sudut pandang, pemikiran, atau praktik hidup yang keluar dari keumuman, atau memang tidak waras.

“Gila” juga bisa menjadi pemakluman. Pemakluman atas tindakan absurd yang dilakukan seseorang karena dia adalah “orang gila”. Namun, seringkali gila mendahului maklum. Kita dibuat merinding terlebih dahulu saat melihat tindakan meminum air seni sendiri atau membakar patung raksasa di tengah galeri seni mewah, sebelum menyatakan “Gila ni orang”.

Kegilaan seperti itulah yang dihadirkan dalam buku Madness Belong to All: Catatan Ganjil Musik Abad 20 karya Aliyuna Pratisti.

Ketika mahasiswa, Aliyuna keranjingan musik dan sering merasa mengetahui lebih dari teman sebaya. Namun, semua berubah ketika ia mengunjungi Perpustakaan Batoe Api di Jatinangor.

Adalah album Raw Power milik band punk pionir The Stooges yang mengubah Aliyuna. Dari mendengar album itu di Perpustakaan Batoe Api, Aliyuna menyadari bahwa ia jauh dari “mengetahui lebih” soal musik. Perjalanan selanjutnya adalah keranjingan musik era 1960-1970 dengan dosis berlebih. Ia jadi lebih menyeriusi musik: mendengar, menyimak, lalu menuliskan catatan atas musik, yang nantinya menjadi buku ini.

Keseriusan Aliyuna terlihat sejak tulisan pertama dalam buku ini, “Legiun Blues Inggris: Dari Idealis hingga Post-Impresionist” (hlm.3-6). Aliyuna menulis interpretasinya atas British Blues,gerakan para musisi blues kulit putih Inggris, utamanya musisi dan penyiar radio BBC, Alexis Korner.

Korner sebenarnya memainkan blues standar. Namun, ia menjadi penting bagi British Blues melalui karya musik, gig di kelab-kelab di London, juga program wawancara para musisi British Blues di radionya. Usaha Korner ini melahirkan banyak musisi yang dari mendengar beberapa nama mereka saja, kita bisa menyadari kehebatan mereka, seperti Eric Clapton, Keith Richard (Rolling Stone), dan Jimmy Page (Led Zeppelin). Yang menarik, Aliyuna membubuhkan aliran Post-Impresionist dari seni rupa untuk menjelaskan interpretasinya atas praktik bunyi Led Zeppelin yang “menggabungkan tradisi blues dengan distrorsi emosional,” – praktik bunyi yang melahirkan heavy metal.

Musik, selayaknya karya seni lain, memang selalu ditafsirkan beragam oleh publik. Interpretasi subjektif atas karya seni adalah keniscayaan. Lalu, muncul pertanyaan: untuk apa ada ulasan musik? Jika memang semua orang memiliki interpretasi, mengapa harus ada seseorang yang ditasbihkan menjadi “jurnalis musik” dan memiliki hak khusus untuk menyampaikan selera dan interpretasinya pada publik?

Aliyuna secara tidak langsung menjawab pertanyaan ini lewat bukunya. Yang dinikmati dari karya jurnalisme musik adalah pendekatan yang digunakan oleh sang jurnalis. Musik, disadari atau tidak, memiliki banyak lapisan yang bisa dikupas dengan beragam pendekatan. Dengan melihat dua unsur musik paling jamak (lirik dan bunyi), kita bisa mengetahui bahwa musik bisa dibahas dari beragam sisi, dan jurnalis musik bekerja untuk mengupas lapisan yang dihadirkan dalam musik yang mereka ulas.

Dari buku ini, kita dapat melihat beragam pendekatan yang dilakukan Aliyuna dalam mengulas musik. Salah satunya dalam esai berjudul “Professor Fripp dan Jukstaposisi Pemikiran (Musik) King Crimson” (hlm.39-47). Di esai ini Aliyuna membahas band mega bintang progressive rock, King Crimson, melalui eksistensi dan kontribusi sang gitaris, Robert Fripp.

King Crimson selama tiga dekade durasi napasnya terus mengalami bongkar-pasang muatan. Keluar-masuk para personel ini terjadi karena perbedaan visi musikal dari masing-masing yang ada di King Crimson. Namun, Robert Fripp, adalah sosok yang selalu hadir di King Crimson. Aliyuna sadar bahwa Fripp adalah arsitek dari band progresif ini.

Robert Fripp adalah sebuah anomali dari stereotipe rock-star yang kita pahami. Ia tidak diberikan anugerah bakat musik (perlu tujuh tahun agar guru gitarnya menyatakan kemampuan Fripp “berkembang”, yang membuatnya menekuni teori musik dari hulu ke hilir). Fripp tidak ketagihan alkohol, narkoba, ataupun seks bebas. Pernyataan Fripp, yang dikutip Aliyuna, bahkan terdengar seperti kutu buku gila: “I have a very modest lifestyle, I don’t have a string of fast cars or fast women, and I don’t take any drugs at all, not even aspirin. My party is: me and books. Me and books and a cup of coffee is an orgy.” (hlm.42). Bagi Fripp, kesadaran yang utuh dapat menghasilkan karya yang sama hebatnya dengan pikiran yang dipengaruhi efek “kapal terbang” zat-zat halusinogen. Dari kesadaran utuh itu, Fripp mengubah perbedaan visi para personel King Crimson menjadi kehebatan band ini. Hasilnya adalah karya yang mengubah lanskap musik rock sejak album debut mereka, In the Court of the Crimson King (1969).

Dalam “Georgia in My Mind: Alih Warna/Alih Media” (hal.119-123). Aliyuna mencatat dan membahas gubahan-gubahan atas lagu “Georgia on My Mind”, musik buatan komponis Hoagy Charmichael dan lirikus Stuartt Gorell, oleh para musisi seperti Spencer Davis, Ray Charles, dan Billie Holiday. Bahkan, diinterpretasikan lebih jauh oleh Rendra dalam puisi Blues untuk Bonnie. Aliyuna menulis bahwa niat awal Charmichael dan Gorell adalah membuat musik manis soal adik Charmichael yang bernama Georgia. Lagu ini lalu diinterpretasikan lebih jauh dan berbeda oleh banyak musisi, juga Rendra yang mengubahnya menjadi puisi lirih soal rasisme atas orang kulit hitam. “Dengan demikian,” tulis Aliyuna, “pengakuan terhadap kehebatan sebuah karya dapat hadir melalui pandangan lain, yaitu ketika ia dapat muncul secara berulang-ulang dalam berbagai bentuk dan ruang-waktu.” (hal.122)

Kegilaan King Crimson, British Blues, juga musisi lain seperti Nick Drake, NEU!, Nirvana, dan The Stooges dicatat oleh Aliyuna dalam 53 esai di buku ini: sebuah kumpulan catatan pendek (kebanyakan tidak lebih dari 6 halaman) atas eksperimentasi gagasan musik selama abad ke-20. Mereka adalah para musisi yang memiliki pengaruh pada perkembangan musik, dan beberapa kurang diterima pada zamannya—bahkan beberapa sampai saat ini kurang terdengar namanya. Mereka adalah orang-orang yang bisa kita kategorikan sebagai “orang gila”.

Dalam lagu All the Madman milik David Bowie (nampaknya lagu ini adalah sumber judul buku), tertulis lirik “They’re all as sane as me” dan “It’s organic minds”. Dalam interpretasi Aliyuna atas lirik lagu ini, kegilaan adalah pemikiran organik yang sebenarnya ada di kepala setiap orang. Yang membedakan adalah seberapa mampu kita menerima dan menikmatinya sebagai anugerah.

Kegilaan itu juga muncul dari Aliyuna. Ia mau dan mampu untuk mendengarkan musik-musik lawas secara serius sambil menggali setiap cerita dan lapisan yang ada di dalamnya – banyak esai di buku ini disertai rujukan pada buku, esai, dan penelitian. Hal yang disayangkan adalah adanya salah ketik pada beberapa esai di buku ini. Ini agak mengganggu pembaca.

Selain itu, mungkin kita akan bertanya: apa pentingnya menuliskan musik atau musisi yang sudah diakui kehebatannya? Saya juga sempat mempertanyakan. Jawaban atas pertanyaan itu terdapat pada sajian tulisan-tulisan di buku ini, yang dengan sangat ambisius mengupas kegilaan dari setiap musik dan musisi yang ada. Sungguh, Aliyuna, kegilaan milik semua orang, terkhusus Anda!


Gregorius TH Manurung, sedang belajar di Sastra Indonesia Universitas Diponegoro. Sehari-hari bergiat di Kelompok Coba-Coba dan menulis musik untuk Highvoltamedia.com.

Buku, Resensi

Catatan, Kisah, dan Pengakuan

Oleh Oscar Maulana

Pada tahun 1994, terbit sebuah buku berjudul Tempat-tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994) garapan Michael Pearson. Michael melakukan perlawatan ke dataran Amerika. Menjelajahi bentangan alam Amerika dengan tujuan menelisik, hal-hal apa saja yang memengaruhi sastrawan Amerika terhadap segala yang ditulis dan dikarangnya.

 Beberapa tokoh sastrawan Amerika fenomenal dan mendunia yang diteliti Michael, semacam William Chuthbert Faulkner (1897) bersama Mississippinya, Georgianya Mary Flannery O’connor (1925), Floridanya Ernest Miller Hemingway (1899), Californianya John Ernst Steinbeck (1920), sampai Missourinya Mark Twain (1835).

Dari beberapa yang ditulis dan dikaji Michael itu, kita patut menduga, para sastrawan moncer tidak bisa lepas dari imaji tempat mukim di sekelilingnya.Baik itu menyoal kota, sejarah, rasialisme, uang, rumah, dan sosial-masyarakat yang lekas dilihatnya. Perkara itu menjadi semacam ramuan yang patut diceritakan dalam sebuah karya, seperti cerita pendek dan novel.

Hal itulah, termaktub dalam novelnya John Steinbeck bertema asal Tortilla Flat (1935), dan diterjemahkan Djokolelono menjadi Dataran Tortilla (2009). Menarasikan rumah dan persahabatan sebagai pergumulan imajinasinya, Steinbeck dalam novel ini berbicara rumah Danny sebagai satu kesatuan manusia-manusia dengan pelbagai macam watak dan tingkah lakunya, kesatuan yang memancarkan kemanisan dan keriaan hidup, kedermawanan. Dan pada akhirnya—kesedihan penuh mistik.

Semacam itulah yang ada pada diri Mahfud Ikhwan. Ketika menulis, Mahfud tidak bisa lepas dari hal-hal yang melekat pada sekelilingnya. Membicarakan sosial masyarakat, desa, perkotaan (urbanisme) dan lingkunganya. Jejak perjalanan kepenulisan, pengakuan dan cerita-cerita yang dialaminya bisa kita tengok lewat buku bertajuk Cerita, Bualan, Kebenaran: Mahfud Ikhwan dan Cerita-cerita yang Ditulisnya.

Dan memang riwayat panjang perjalanan seseorang bisa berujung baik dan nestapa. Berliku, terjal, dan bergelombang. Pelbagai persoalan yang menyergapi diri manusia yang ringkih. Dari perkara bising semacam itu, manusia perlu segera mencari titik ketetapan jati diri (jalan hidup) yang akan ditempuh. Pelbagai macam profesi dewasa ini begitu bejibun banyaknya baik itu berkecimpung di dunia kesenian, menjadi intelektual, politisi, bahkan sastrawan itu sendiri.

Diteror oleh bisingnya deru kota, Mahfud memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang penulis. Kaya akan intrik dan penuh konflik, merajut benang-benang yang kusut dalam pikirannya. Dorongan menjadi seorang penulis, Mahfud mengakui karena rasa kegelisahan. Manakala ditanya kenapa Mahfud menjadi penulis, jawabanya selalu sama: karena saya gelisah. (halaman 7).

Faktor kegelisahan rupanya menjadi penanada awal perjalanan kepenulisannya. Gelisah menghadapi masa depan, gelisah tidak punya uang jajan kala kuliah di perantauan, dan kegelisahan lainya yang menyergap di benak. Dalam proses kegelisahan-kegelisahan yang tak berujung menentu itu, Mahfud berhasil menjadi seorang sastrawan yang cukup moncer dalam jajaran novelis dan cerpenis di Indonesia.

Karya novelnya berjudul kambing dan Hujan (2015) berhasil menyabet penghargaan prestisius sebagai Pemenang Sayembaya Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 lalu. Dan dalam buku terbarunya ini, Mahfud menceritakan proses kreatifnya ketika menulis novel tersebut.

Sama, seperti apa yang diteliti Michael Pearson dalam bukunya, bahwa seorang sastrawan tidak mungkin bisa lepas dari pengaruh lingkungan dalam proses kreatifnya. Pun apa yang dibawa pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini, selain terpengaruh keadaan sosial-kultural di kampung halamannya, juga tersihir oleh pengaruh sastrawan dan sejarawan Indonesia yaitu Kuntowijoyo.

Dalam proses pengerjaan novel Kambing dan Hujan, Mahfud mengakui karya Pak Kunto juga memberi kontribusi secara langsung, misalnya dalam cerpen Rumah yang Terbakar yang menarasikan persinggungan konflik horizontal dua komunitas santri dan kaum abangan, dan pula novel “Pasar” yang bercerita pertentangan halus namun subtil antara nilai-nilai Jawa lama lagi luhur yang diwakili sosok Pak Mantri dengan Kasan Ngali (halaman 68).

Tidak hanya sosok Kunto yang memengaruhi gaya cerita dari Mahfud ini, juga beberapa sastrawan lainya turut serta dalam pergumulan kreativitasnya. Seperti karya terjemahan sosok Koeslah Soebagyo Toer lebih dikagumi Mahfud daripada Pramoedya Ananta Toer (halaman 13), karya Bibhutibhushan Banerji berjudul Pater Pancali turut memengaruhi juga (halaman 14).

Tidak Hanya Kampung

Sitok Srengenge pernah menulis perihal kota. Tulisan itu bertajuk Kota Kata, perkara kata yang diserap menjadi kota. Bagi Sitok, kota-kota itu sebuah nama dipilih lantaran terkait dengan kenangan, tapi tak jarang juga sebagai harapan. Kota-kota semacam Yogyakarta berasal dari kata Ngajogjakarta yang berarti mematut kota atau membangun kota (Tempo, 21 Maret 2010).

Kenangan dan harapan menjadi kata yang pas bagi tercerminnya laku manusia kota. Tidak berbeda jauh dari kenangan-kenangan Mahfud Ikhwan. Dari kota, yang kemudian membesarkan namanya, dan bahkan menggebleng paradigma berfikir. Mahfud mengakui kepengarangannya berasal dari kota ketika membahas desa, bukan sebaliknya (halaman 30).

Kota acap kali mengejawantah lelaku manusianya menjadi urban. Hal itulah yang tercermin dari novelnya berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia, (2009). Di Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud menggambarkan dan menarasikan tokoh utama novel itu, walaupun berlatar desa lantas tidak bisa lepas dari pengaruh kota. Kita lihat fragmen tokohnya begitu menggemari terhadap film kartun dan telenova di televisi (halaman 35).

Lahir dari desa pesisir utara Jawa Timur, Mahfud menyelami pelbagai persoalan yang hinggap pada dirinya. Menceritakan kegelisahan yang timbul manakala hidup di kota, melakoni hidup di kota Yogyakarta selama 20 tahun lebih. Pengalaman di kota turut membekalinya menceritakan kampung halaman, yang sarat akan makna dan peristiwa. Mungkin Mahfud Ikhwan mengikhtirakan semacam para sastrawan dunia dulu lakukan, mengisahkan desa, lingkungan, rumah dan perkara lainnya.


Oscar Maulana, mahasiswa IAIN Surakarta. Bergiat di Komunitas Serambi Kata. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.