Belakang

1922: DUNIA DAN BAHASA

Sejak masa kolonial, anak-anak perlahan mendapat cerita yang berdatangan dari pelbagai negeri. Mereka ada berkat kedahsyatan mesin cetak, yang menghasilkan buku-buku cerita. Yang paling menyenangkan bila mereka menikmati cerita-cerita asing, yang biasanya disebut sebagai cerita terkenal di dunia atau tarafnya internasional. Maka, terjadilah penerjemahan dan penyaduran beragam cerita dari Eropa dan Amerika Serikat.

Pihak penerbit dan percetakan sudah berhitung untung-rugi bila berani menyediakan buku-buku cerita yang bersumber dari sastra dunia. Yang bikin gemas, kita kesulitan menemukan buku-buku terjemahan atau saduran dari masa kolonial. Beberapa buku ada di pasar tapi harganya mahal, yang dipengaruhi nafsu para kolektor. Apakah kita bakal mendapat jatah untuk bertemu dan memiliki buku-buku lawas, yang mengungkap bacaan anak dan remaja berlatar masa kolonial?

Sulit mencari buku-buku berusia seratusan tahun. Kita pun hanya mendapat sedikit keterangan tentang penerbit, nama penerjemah atau penyadur, distribusi, dan lain-lain. Artinya, sejarah sastra masa kolonial menyisakan banyak misteri. Kapan tampil para peneliti dan kesaksian para kolektor agar kita tetap memiliki buku dan masa lalu?

Yang berhasil ditemukan dalam kondisi rusak adalah novel berjudul 2000 Mil Di Dalem Laoet gubahan Jules Verne. Sampulnya masih ada tapi gambar tidak jelas. Jilidan jelek meski tidak ada halaman yang hilang. Penampilan dari depan sebenarnya memikat. Gambar di sampul sudah beragam warna. Mata kita belum beruntung untuk melihatnya dengan kekaguman. Bayangkan sampul itu terlihat oleh para pembaca masa lalu. Mata mereka mungkin tidak berkedip selama tiga menit. Siapa yang membuat gambar di sampul? Pastinya orang asing.

Keterangan yang terperoleh di halaman-halaman awal: “Tertjaritakan di dalem bahasa Melajoe renda oleh WNJG Claasz. Nama yang sangat tidak mungkin disandang bumiputra. Kita pastikan lagi nama itu milik orang asal Eropa atau kelahiran di tanah jajahan dengan sebutan “Indo”.

Buku yang apik itu dicetak di GCT Van Dorp & Co (Semarang-Soerabaia-Bandoeng). Perhatikan tahun kemunculan buku Jules Verne di tanah jajahan! Tercantum tahun 1922. Jadi, kita jangan selalu mengingat masa 1920-an melulu novel-novel terbitan dan selera Balai Poestaka. Ada kubu pembaca yang lain, terlena oleh cerita yang digubah Jules Verne tapi terberikan kepada para pembaca di tanah kolonial melalui bahasa Melayu. Kita menduga itu percampuran penerjemahan dan penceritaan ulang. Apa mungkin sah disebut saduran saja?

Keberuntungan memegang kertas lawas dan mengetahui bau yang aneh ternyata menyisakan “kecewa”. Yang ada di tangan adalah bagian kedua. Di mana bagian pertama? Kita yang membaca wajib membayangkan cerita di bagian awal. Tangan membuka halaman-halaman sambil bersyukur bahwa air tidak menghancurkan buku. Yang tampak adalah kertas-kerta yang pernah terkena air. Kita malah berimajinasi jenis dan rupa air yang pernah mengenai kertas-kertas dari seratusan tahun yang lalu. Kertas itu bertahan. Air hanya menyentuhnya tanpa punya maksud menghancurkan menjadi bubur.

Berapa tangan yang pernah bersentuhan atau memegang buku yang dibuat Jules Verne? Apakah yang membacanya hanya bumiputra yang terdidik bisa berbahasa Melayu? Bagaimana bahasa Melayu dalam kerja penerjemahan atau penceritaan ulang untuk sastra yang datang berbahasa Belanda, Inggris, atau Prancis? Pertanyaan terus bertambah tapi jawaban belum tentu ada.

Kita mengutip beberapa contoh bahasa Melayu yang aneh: “Saknalika itoe kita mengomong sama Ned-Land dan Koenraad. Sabentaran Ned-Land menoedjoek dengen tangannja sarta bertanjak…” Yang sehari-hari berbahasa Jawa mengetahui “saknalika”. Apa kita semestinya menuliskan itu “seketika” agar bisa dimengerti para pembaca tak paham bahasa Jawa. Ingat, buku terbit dalam bahasa Melayu rendah.

Yang bingung menghadapi kalimat: “Na, soedahlah Toean mendinger kita poenja kahendakan, si Koen tiada bolih teranggep orang sebab tiada mempoenja timbangan akan dianja, mangka sekarang kita minta toean goeroe ampoenja timbanhan hal kahendakankoe akan tjari djalaran bisanja minggat dari Nautilus.” Kita menduga “djalaran” itu “sebab”. Yang berani membaca buku sudah berusia seratus tahan adalah orang yang tabah dan boleh menyediakan Bodrex saat tiba-tiba pusing atau marah-marah menghadapi bahasa dari masa 1920-an.

Bagi yang kelelahan membaca cerita dan linglung dalam bahasa Melayu rendah, nikmatilah ilustrasi-ilustrasi yang ada dalam buku. Ada belasan ilustrasi yang cakep. Siapa yang membuat? Nama ilustrator tidak tercantum di buku.

Gambar yang banyak mengartikan biaya cetak tidak murah. Yang ada di kertas bukan hanya huruf-huruf. Ilustrasi itu menjadikan buku tampak mewah. Artinya harga buku pasti mahal. Yang sanggup membeli buku tahu faedah cerita dan kebanggaan terhubung imajinasi global yang dirayakan banyak orang di pelbagai negeri.

Cerita yang dibaca mengantar pembaca menuju dunia yang lain. Ia menyadari sedang berada di tanah jajahan tapi cerita yang membuatnya bergerak sangat jauh. Imajinasi memberi sedikit pembebasan sekaligus ketagihan.

Pada masa berbeda, orang-orang membaca cerita-cerita gubahan Jules Verne melalui terjemahan Mahbub Djunaidi dan Nh Dini. Mengapa dua pengarang terkenal itu mau menerjemahkan buku-buku Jules Verne? Konon, Mahbub Djunaidi memiliki pamrih mendapatkan nafkah dari bekerja sebagai penerjemah. Kita belum mengetahui alasan pasti Nh Dini menerjemahkan Jules Verne. Dugaan saja ia membuktikan kemampuan sebagai penerjemah meski orang-orang mengetahui ia terpuji dalam penerjemahan Sampar gubahan Albert Camus dan cerita-cerita anak berbahasa Prancis.

Bahasa yang digunakan dua pengarang itu sudah bernama bahasa Indonesia. Mereka diyakini mahir dalam penerjemahan meski tetap memerlukan membuka kamus-kamus. Pada saat hasil terjemahan terbit, para pembaca dapat membuat kenikmatan tandingan atau pelengkap dengan menonton film-film yang dibuat dari novel-novel gubahan Jules Verne. Pengalaman baca yang sangat berbeda dari masa 1920-an.

Kita kembali melihat buku lawas yang pantas menjadi sumber obrolan mengenai sastra terjemahan awal abad XX. Bahasa masa lalu tetap memberi pesona selain kita berpikiran mutu terjemahan dan situasi perkembangan sastra “modern” di tanah jajahan. Kutipan yang penting dipikirkan sebelum tidur mendapat mimpi buruk: “Srenta ampir djam poekoel 10 semangkin geter kita poenja ati dan sabentar sabentar kita ingetan hendak tjari pada kapitein Nemo akan membilangken kahendakankoe tetapi sjoekoer tiada kedjadian, mangka sasoedahnja bertjakep kita boeka dingen pelan itoe pintoe jang teroesan ka kamar boekoe akan troos kaloewar di kamar soewaranja argone dan kapitien Nemo berada di sitoe tetapi dia tiada meliat pada kita mangka kita berdjalan plahan djangan sampe dia meliat.”

Pembaca yang sabar dapat mengerti deretan kata dari penerjemah atau penyadur. Sabar yang tidak menghasilkan pengertian utuh, tetap saja ada kata-kata yang bikin tertawa dan menimbulkan capek. Berapa jam diperlukan untuk khatam buku berisi 186 halaman? Yang mau membaca boleh mengaku sedang membuat peristiwa yang sia-sia. Pembaca yang kembali ke masa lalu tapi sebentar gara-gara tidak betah dan lelah.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Samping

JEJAK JALAN PULANG

Ada orang yang tampak seperti benteng. Tegak, tenang, dan selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan hidup orang lain. Mereka bisa menafsirkan rumus rumit, membaca arah bintang, atau menulis teori yang membuat dunia bertepuk tangan. Tapi ketika malam datang dan cermin memantulkan wajah sendiri, tiba-tiba semua pengetahuan itu hilang daya. Segala hal yang dikuasainya ternyata tidak cukup untuk menenangkan badai kecil dalam dada.

Kita sering melihat mereka tersenyum di ruang kerja, tampil percaya diri di panggung, atau bercanda dengan lincah di tengah keramaian. Tapi senyum itu sering kali seperti cat tipis yang menutupi tembok retak. Mereka pandai menghibur orang lain, padahal setiap tawa adalah bentuk paling lembut dari perlawanan terhadap sepi yang terus menguntit. Ironinya, yang paling tampak kuat justru sering paling takut jatuh, sebab mereka tahu: kalau mereka roboh, tak ada siapa pun sanggup menampung reruntuhannya.

Ada yang menyembunyikan luka dengan bekerja tanpa henti, seperti ingin menenggelamkan diri dalam jadwal padat agar tak sempat memikirkan rasa sakit. Ada yang menertawakan segalanya, bukan karena bahagia, tapi karena tawa adalah senjata terakhir sebelum air mata. Ada pula yang tampak dingin dan logis, padahal itu hanya cara bertahan supaya tak perlu merasakan apa pun. Orang menyebut kekuatan mental. Padahal kadang itu cuma nama lain dari lelah yang dipoles rapi.

Kita hidup di zaman yang memuja ketangguhan. Semua orang ingin terlihat kuat, produktif, dan rasional. Kita memotret diri dengan caption bijak, menulis status seolah sudah menaklukkan hidup, padahal yang kita taklukkan baru topeng kita sendiri. Kita melatih otak untuk berpikir cepat, tapi lupa melatih hati untuk merasa pelan. Kita bisa memecahkan algoritma rumit, tapi tak bisa menjelaskan kenapa dada terasa sesak saat melihat orang yang pernah menyakiti kita tampak baik-baik saja.

Mungkin itulah bentuk ironi paling halus dari manusia modern: terlalu cerdas untuk dunia, tapi terlalu kikuk untuk diri sendiri. Kita bisa menjelaskan teori gravitasi, tapi tak tahu bagaimana caranya melepaskan seseorang. Kita hafal cara kerja semesta, tapi tak paham kenapa kehilangan bisa membuat napas terasa terhenti.

Beberapa luka memang tak perlu dramatis. Kadang hanya berupa kalimat tak pernah diucapkan, pelukan yang ditahan terlalu lama, atau kehadiran yang tiba-tiba hilang tanpa pamit. Dan orang-orang pandai itu tahu: tak ada rumus yang bisa menyembuhkan kehilangan, karena rasa sakit tidak tunduk pada logika. Ia hanya bisa ditanggung, dipeluk, atau jika sudah terlalu berat ditertawakan seadanya.

Ada yang mencoba menulis, berpikir dengan pena dan tinta, mengubah duka menjadi diksi. Mereka tak tahu apakah itu penyembuhan atau pelarian. Tapi setidaknya, dengan menulis, mereka masih bisa berdialog dengan diri sendiri tanpa harus terlihat lemah di mata dunia. Sebab di dunia nyata, terlihat rapuh sering dianggap cacat karakter, padahal justru di situlah letak kemanusiaan paling murni.

Lucunya, kita semua tahu kebenaran itu, tapi tetap berpura-pura tidak tahu. Kita saling memberi nasihat untuk ikhlas, move on, positive thinking, seolah hati adalah mesin yang bisa diatur dengan tombol. Padahal di balik semua motivasi itu, banyak di antara kita sedang menahan napas agar tidak pecah di tempat umum. Kita sibuk menolong orang lain yang menangis, sambil diam-diam menunggu ada seseorang yang mau menolong kita juga.

Kita bisa mengurai benang kusut, tapi benang kusut di dalam hati sendiri dibiarkan saja hingga nyesek. Kisah seperti ini ada di mana-mana. Kisah tentang trauma yang memilih untuk diam, bersembunyi di balik tawa renyah, di balik kecerdasan, atau bahkan di balik sikap arogan yang seolah tak tersentuh.

Tentu saja masalah ini juga banyak dikisahkah (di film), salah satunya Good Will Hunting (1997). Sebuah perjalanan ke dalam labirin pikiran seorang jenius yang tersesat, Will yang diperankan oleh Matt Damon. Bukan tersesat di hutan belantara, melainkan di dalam dirinya sendiri. Film ini dengan lugas menunjukkan bahwa seorang individu bisa memiliki IQ setinggi langit, mampu memecahkan persamaan paling rumit, namun pada saat itu, ia tak berdaya di hadapan luka batin yang mengakar dari masa lalu. Ia membangun tembok arogansi, kecurigaan, dan sikap defensif untuk melindungi dirinya dari kemungkinan luka baru. Dia menolak kebaikan, meremehkan orang lain, dan menyabotase hubungannya sendiri. Hal ini bukan karena ia jahat, melainkan karena ia takut.

Seorang tukang bersih-bersih di universitas paling bergengsi di dunia, bisa memecahkan soal matematika terumit, soal yang membuat para profesornya nyaris frustrasi, tapi tak punya keberanian untuk memecahkan persoalan paling sederhana: hidupnya sendiri. Hal seperti ini sesungguhnya bukan cuma kisah Will Hunting, tapi juga kisah kita semua. Trauma masa lalu membuatnya secara otomatis melihat setiap niat baik sebagai ancaman. Ini adalah mekanisme umum terkait pertahanan diri, di mana otak, sebagai upaya untuk melindungi kita dari rasa sakit, membuat kita menjauh dari apa pun.

​Di sinilah peran penting Dr. Sean Maguire muncul. Ia bukan hanya seorang terapis, melainkan representasi dari pendekatan holistik dalam penyembuhan. Sean tidak mencoba memecahkan Will seperti soal matematika. Ia tidak menggunakan teori buku teks untuk menyembuhkan Will. Sebaliknya, ia menggunakan empati, kejujuran, dan paling krusial, rasa kemanusiaan yang setara. Ia tahu betul bahwa hidup tidak bisa dipelajari dari buku-buku tebal, melainkan harus dirasakan. Momen krusial di film, saat Sean mengatakan, It’s not your fault, adalah manifestasi dari pemahaman bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari analisis, tetapi dari pengakuan dan penerimaan. Kalimat sederhana itu memutus lingkaran rasa bersalah yang telah mengikat Will selama ini.

​Ada sebuah sindiran tajam dari Dr. Sean kepada Will, yang selama ini hanya membaca buku dan tak pernah benar-benar hidup. Will, yang tahu banyak tentang teori seni, politik, bahkan perang, disamakan dengan seorang turis yang hanya melihat pemandangan dari balik jendela mobil. Ia bisa menjelaskan lukisan karya Michelangelo, tapi ia tak tahu rasanya jatuh cinta, rasanya mencium aroma rambut kekasih, atau rasa sakit saat hati hancur berantakan. Ini adalah sebuah satir menohok tentang betapa kita sering kali hanya menjadi penonton dalam hidup kita sendiri. Kita terlampau sibuk mengumpulkan pengetahuan yang tercerai-berai, hingga lupa bahwa pengalaman, perasaan, dan keberanian untuk hidup apa adanya adalah ilmu paling berharga.

​Film ini juga dengan indah menggarisbawahi makna persahabatan yang tulus. Persahabatan antara Will dan Chuckie, yang diperankan apik oleh Ben Affleck, adalah potret persahabatan yang tulus tanpa pamrih. Ketika Chuckie mengucapkan harapannya agar Will pergi dan tidak lagi menunggunya setiap pagi, itu adalah sebuah pernyataan cinta yang paling tulus. Cinta yang tidak egois. Ia rela kehilangan sahabatnya demi melihat Will terbang tinggi, mewujudkan potensi yang selama ini ia sembunyikan. Itu adalah sebuah satir menohok, bahwa sering kali, orang-orang yang paling mencintai kita justru adalah mereka yang rela melepaskan kita pergi.

​Good Will Hunting mengajarkan satu hal paling penting: kebahagiaan sejati tidak datang dari penguasaan teori-teori rumit, tapi dari keberanian untuk menguasai diri sendiri. Kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayangan masa lalu yang menyakitkan. Ada saatnya kita harus berani menghadapi trauma, membuka diri, dan menyadari bahwa di balik semua luka, kita tetap berharga dan layak untuk dicintai. Kita boleh saja jatuh, kita boleh saja merasa bersalah, tapi kita tidak boleh membiarkan diri kita terus-menerus terkurung oleh kesalahan yang bahkan mungkin bukan kesalahan kita. Film ini adalah pengingat yang begitu indah dan jenaka, bahwa hidup bukan sekadar kumpulan rumus yang harus dipecahkan, tapi sebuah perjalanan untuk menemukan diri, yang sering kali, dimulai dengan satu langkah sederhana: menerima kenyataan bahwa kita manusia, dan tak apa-apa jika terluka.

Barangkali hidup memang selalu menawarkan ruang-ruang ganjil seperti itu. Tempat di mana yang tampak tangguh sedang berjuang mati-matian agar tidak remuk. Tempat di mana orang paling cerdas justru terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Tempat di mana kita semua sedang berusaha pulang, meski lupa di mana alamatnya.

Pulang, bukan ke rumah, bukan ke seseorang, tapi ke dalam diri sendiri yang dulu pernah sederhana: yang bisa tertawa tanpa alasan, menangis tanpa malu, mencintai tanpa takut kehilangan. Pulang ke masa ketika kita belum perlu pura-pura kuat hanya supaya dunia tidak khawatir.

Mungkin itu sebabnya luka-luka yang disembunyikan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk: menjadi kerja keras, menjadi prestasi, menjadi tawa yang terlalu keras, menjadi kepandaian yang mengagumkan. Semua itu hanyalah cara kita mencari ketenangan.

Dan barangkali, sesekali kita perlu melihat dari samping, menyadari bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah rapuh, tapi berani mengakui bahwa kita memang sedang retak, dan tetap melangkah dengan retakan itu. Karena dari sana cahaya biasanya masuk, pelan-pelan, tak terduga. Sebuah cahaya kecil yang menuntun kita, diam-diam, menuju jejak jalan pulang.

____________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Belakang

DIBUJUK BAHAGIA

Dulu, seorang remaja ketagihan membaca buku-buku gubahan Kahlis Gibran. Ia membaca berulang kali buku yang edisi terjemahan bahasa Indonesia: Cinta, Keindahan, Kesunyian yang diterbitkan Bentang. Pada mulanya, ia bosan dengan hidup. Halaman-halaman di buku itu perlahan membuatnya betah hidup. Yang diyakininya: “Hidup itu kalimat-kalimat yang puitis.” Saat lemah dan puyeng, ia lekas membaca lagi kutipan-kutipan puitis dari Kahlil Gibran. Pada hari yang berbeda, ia lelah dengan yang puitis-puitis. Maka, berpisahlah dirinya dengan buku-buku Kahlil Gibran.

Hidupnya masih amburadul. Ia mengalami gagal, kalah, dan sesat. Di tangannya, ada buku yang dipersembahkan Albert Camus. Remaja itu lekas khatam novel berjudul Sampar. Akhirnya, ia percaya bahwa hidup itu brengsek. Manusia menderita tidak habis-habisnya. Yang diperlukannya adalah kalimat-kalimat filosofis, yang membuatnya masih sadar bahwa hidup tidak terlalu sia-sia. Ia meragu manusia bisa bahagia. Albert Camus telah mengajarinya melalui buku-buku mengenai hidup yang tidak mudah dipatenkan dengan bahagia. Masa remaja berlalu, ia malah bernafsu buku-buku, yang makin membuatnya sulit bahagia.

Pada hari yang tidak dipesan, ia yang menua bertemu buku berjudul Hidup Bahagia susunan M Natsir dan Nasroen AS. Buku yang tidak bersampul, terbitan Van Hoeve, Bandung. Terduga buku terbit masa 1950-an. Pada saat Indonesia sedang ribut demokrasi dan gencar berteriak revolusi, ada dua orang yang mengingatkan agar terpenuhi hasrat bahagia. Buku itu bukan selera Soekarno, Sutan Sjahrir, Njoto, dan lain-lain. Para tokoh penting itu pastinya membaca buku-buku berat untuk “tanding ideologi” di arus sejarah Indonesia.

Natsir dan Nasroen memang menyusun buku bukan untuk bacaan dewasa. Yang dinyatakan: “… edisi ketjil ini dimaksudkan djadi batjaan murid-murid kelas tinggi sekolah rakjat dan madrasa ibtidaijah. Tetapi dapat djuga pada kelas permulaan sekolah-sekolah landjutan pertama.” Buku yang sepantasnya dinikmati remaja. Yang membaca memiliki imbuhan imajinasi saat melihat belasan foto (lama) yang hitam-putih saja. Dua intelektual besar mampu menulis buku yang disantap kaum remaja. Buku itu diharuskan sederhana dan mengesankan, berbeda dari adanya buku-buku pelajaran atau buku-buku merayakan khotbah. Kaum remaja diajak berpikir hidup yang bahagia, bukan hidup yang bopeng, rusak, kotor, dan ruwet.

Di situ, ada cerita mengenai tokoh yang kehilangan bapak, ibu, dan adik pada masa pendudukan balatentara Jepang. “Aku kehilangan akal, kemana hendak pergi,” pengakuannya. Nasib tidak dapat ditebak dan masa depannya samar. Yang terjadi adalah kebaikan: “Untunglah Njonja Go, tetangga kami, kasihan akan daku. Aku dipungutnja dan dibawanja kemana pergi. Suaminja meninggal pula dan ia tidak mempunjai anak. Setelah perang selesai, Njonja Go pulang ke Tiongkok. Aku dibawanja. Di Hongkong, aku dimasukkannja ke sekolah Inggeris. Geli hatiku karena disana namaku ditukar djadi Charles Chang Ie Ming. Enam tahun aku di Hongkong. Setahun sebelum peladjaranku tamat, Njonja Go meninggal pula. Sedih hatiku berulang kembali. Sjukur djugalah karena dapat aku menjelesaikan peladjaran sampai aku memperoleh idjazah di sekolah Inggeris itu. Kemudian atas pertolongan Perwakilan Republik Indonesia di Hongkong, dapatlah aku pulang ke Tanah Air kembali.” Kisah yang mengharukan. Pembaca sudah menemukan arti bahagia? Tokoh kembali ke Indonesia sudah merdeka dan berdaulat. Ia telah melewatkan tahun-tahun penentuan sejarah.

Akhirnya, ia harus mengenali lagi Tanah Air dalam tatapan remaja. Ia tinggal di desa, belum ada keinginan membentuk masa depan di kota. Pengamatannya mengenai peristiwa-peristiwa di hari Minggu: “Orang-orang pergi ke bioskop atau ke taman bunga untuk istirahat. Hari Minggu, pergi keluar kota, menikmati udara dan alam pegunungan. Kami orang desa tak perlu sengadja menikmati alam pegunungan pada hari Minggu. Begitu pula tak ada hasrat orang desa pergi ke taman bunga. Memang di desa tak ada taman bunga, jang sengadja dibuat untuk tempat berkepas lelah. Bioskop pun tak ada pula. Tapi engkau djangan salah kira. Pada orang desa ada pula kelebihan-kelebihan jang tak dirasai orang kota. Kami puas melihat padi menguning emas, anugerah dari Tuhan jang Mahakuasa atas djerih pajah kami. Kami puas melajani anak-anak berebutan nasi dan lauk pauk sambil bersila diatas rumput permadani hidjau jang lembut itu. Air kali beriak-riak ketjil seakan-akan ikut tersenjum bahagia bersama kami.”

Bahagia berada di desa. Pada masa 1950-an, banyak orang yang berpikiran jika ingin berhasil dan bahagia maka memilih hidup di kota. Mereka bekerja mendapat uang banyak. Bahagia diraih dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Mereka yang bahagia di kota berhak menyandang sebagai manusia modern. Tokoh dalam buku susunan Natsir dan Nasroen mengingatkan bahwa desa itu sumber bahagia. Namun, Indonesia sedang bergolak, yang mengakibatkan pendefinisian desa adalah tertinggal, tradisional, miskin, dan sengsara.

Yang turut disajikan berkaitan perubahan-perubahan besar di Indoensia adalah buku. Kita mengikuti cerita dan penjelasan: “Pernah dikatakan orang bahwa buku adalah sekolah tinggi pada abad XX ini. memang banjak orang jang mendjadi madju dan terkenal dalam masjarakat karena menambah ilmunja dengan buku-buku.” Di Indonesia, jumlah buku terus bertambah. Para pembaca pun bertambah setelah pemajuan pendidikan dan pemberantasan buta huruf oleh rezim Soekarno. Buku menentukan perkembangan ilmu sekaligus mengajak orang-orang bisa bahagia.

Kita malah meragukan buku adalah sumber bahagia. Pada masa 1990-an sampai sekarang, toko buku dan pasar buku bekas disesaki oleh ratusan judul buku yang bertema bahagia. Buku-buku terjemahan dari Eropa dan Amerika Serikat memberi tuntunan atau petunjuk agar orang-orang bisa meraih bahagia. Buku-buku itu dipelajari orang-orang Indonesia yang mudah iri dengan kebahagiaan orang-orang di pelbagai negeri asing. Bermunculan juga buku-buku bertema bahagia yang berdasarkan ajaran-ajaran agama. Buku-buku itu laris. Yang membaca dan mempelajarinya beralasan demi iman dan perwujudan bahagia. Pada abad XXI, bahagia itu masih tema terbesar. Buktinya, ratusan judul buku di Indonesia terbit bercap Stoik. Buku-buku jenis itu laris dan dirayakan di media sosial oleh para pendamba bahagia.

Remaja yang dulunya membaca buku-buku Kahlil Gibran dan Albert Camus akhirnya membukan halaman-halaman buku yang berjudul Setiap Hari Stoik (2022) susunan Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. Buku itu dibaca sambil merem dan melek. Buku yang penuh petuah bijak. Buku bergelimang renungan. Yang ingin membaca masalah bahagia dipastikan menemukan di banyak halaman.

Namun, ia akhirnya bernostalgia saja dengan membaca buku berjudul Hidup Bahagia susunan Natsir dan Nasroen. Ia ingin mengetahui gagasan bahasa pernah disampaikan melalui buku-buku yang dianjurkan menjadi bacaan anak dan remaja. Pada masa lalu, anak dan remaja dibujuk bahagia ketimbang remuk dan brengsek saat Indonesia ingin mulia selama-lamanya.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Samping

JEJAK ALIH FUNGSI

Tengoklah ke sekeliling, di kamar atau ruang kerjamu. Ada berapa banyak benda yang tidak digunakan sebagaimana mestinya? Berapa banyak buku hanya jadi hiasan, berapa banyak pulpen sekadar untuk mengganjal pintu, atau berapa banyak kursi difungsikan sebagai gantungan baju? Ini bukan soal kemalasan, tapi soal cara kita, mendefinisikan ulang makna sebuah benda.

​Kita hidup di antara ironi. Sesuatu diciptakan dengan fungsi spesifik, dengan desain yang matang dan tujuan jelas, namun tak jarang kita alih fungsikan sesuai kehendak dan kebutuhan paling remeh. Ambil contoh, sepasang sepatu mahal yang dibeli dengan penuh harap, tapi berakhir sebagai alas kaki untuk menyiram tanaman di pekarangan. Nilai estetika dan fungsinya menjadi luntur, tergantikan oleh kebutuhan pragmatis, jauh dari tujuan aslinya. Sepatu itu tak lagi tentang berjalan jauh atau bergaya, melainkan tentang menghindari tanah becek. Bukankah ini sedikit menyedihkan sekaligus menggelitik? Ada semacam satir di sana: kita memuliakan benda, namun di waktu bersamaan kita merendahkannya.

​Perilaku ini, jika diurai lebih dalam, bukan sekadar soal malas atau tidak rapi. Ada semacam refleksi filosofis di dalamnya. Manusia, dalam perjalanannya, sering kali menciptakan sistem dan aturan sendiri, namun juga tak henti-hentinya mencari celah untuk membengkokkan aturan itu. Menggunakan benda di luar fungsinya adalah pernyataan perasaan dari pemberontakan tersebut. Ini penekanan halus bahwa kita, punya kuasa lebih besar dari sang pembuat. Kita tidak hanya mengonsumsi, tapi juga mendefinisikan ulang. Di situlah letak jenakanya. Senyum kecil muncul saat kita melihat sebuah sendok dipakai untuk membuka tutup botol, atau sebuah remot TV dijadikan alat pemijat jari. Ini bukti bahwa kreativitas, dalam bentuk paling sederhana, selalu menemukan jalannya.

​Di dunia fiksi pun banyak terjadi hal seperti itu. Dalam konteks novela Rumah Kertas, karya Carlos Maria Dominguez,alih fungsi buku melampaui sekadar ironi. Ini pernyataan politis tentang cara pengetahuan dapat ditundukkan dan dimanipulasi. Buku, seharusnya menjadi alat pembebasan pikiran, malah diubah menjadi alat penindasan fisik. Pengetahuan, seharusnya terbuka, kini menjadi penghalang hingga mengisolasi karakter dari dunia luar. Contoh ini menunjukkan bagaimana hal-hal paling fundamental dalam hidup—pengetahuan—bisa jadi tidak diakses sebagaimana mestinya, justru oleh wujud fisiknya sendiri. Ironi di sini bukan lagi sekadar menggelitik, melainkan tajam dan menyakitkan, menggambarkan bagaimana sumber kebenaran bisa menjadi penjara bagi pemiliknya.

​Menggunakan benda di luar fungsinya adalah seni adaptasi tak disengaja. Wujud nyata dari kreativitas naluriah untuk menolak batasan, menunjukkan bahwa manusia makhluk sangat fleksibel. Tindakan-tindakan ini tidak lahir dari perencanaan matang, melainkan dari kebutuhan mendesak, mendorong otak kita untuk berpikir di luar kotak. Fenomena ini juga menyiratkan tentang ekonomi emosional dari sebuah benda. Saat kita mengalihfungsikan benda sering kali memiliki nilai sentimental atau sudah usang. Kita memberi mereka kehidupan kedua, sebuah kesempatan untuk tetap berguna, meskipun dalam bentuk berbeda. Ini bukti bahwa hubungan kita dengan benda tidak hanya fungsional, tetapi juga emosional dan historis.

​Perilaku ini semacam refleksi dari sifat pragmatis manusia tak pernah padam. Kita tidak selalu butuh alat sempurna; kita hanya butuh solusi yang berhasil. Sebuah botol minuman dipakai untuk penumbuk bumbu, atau sebuah peniti menjadi alat pembuka kemasan, adalah manifestasi dari prinsip apa pun yang ada di tangan. Ini pelajaran sederhana namun mendalam: bahwa kebahagiaan dan efisiensi seringkali tidak datang dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan kita untuk memanfaatkan apa yang kita miliki. Dalam ketidaksesuaian itu, kita menemukan kebebasan, humor, dan yang paling penting solusi.

​Kembali ke hidup sehari-hari, hal remeh berbicara banyak tentang cara kita menjalani hidup di era digital. Kita punya smartphone canggih, tapi hanya kita gunakan untuk bermain gim atau sekadar menggulir media sosial. Kita punya aplikasi catatan, tapi lebih sering kita pakai untuk membuat daftar belanjaan yang tak pernah kita beli. Kemajuan teknologi seringkali tidak kita gunakan untuk memberdayakan diri, melainkan untuk melarikan diri dari realitas.

​Namun, di balik semua ironi, ada juga keindahan. Hal itu bukti adaptasi, bukti kreativitas, dan bukti bahwa hidup tidak selalu harus kaku dan sesuai aturan. Esensi dari menulis, yang relevan dengan zaman, adalah menangkap momen-momen remeh itu dan mengungkapkannya dengan kejernihan.

​Menulis bukan lagi soal menggurui, melainkan soal menyajikan sebuah cermin. Cermin yang memantulkan perilaku kita, kebiasaan kita, dan ironi-ironi kecil yang kita ciptakan sendiri. Tulisan bagus adalah yang bisa membuka mata tanpa terasa menghakimi. Mengungkap hal-hal menggelitik, seperti sepasang sepatu menjadi alas menyiram tanaman, atau sebuah pulpen untuk mengganjal pintu, agar kita tersadar: bahwa dalam hal remeh, kita sering menemukan esensi paling hakiki dari kehidupan itu sendiri.

​Maka, inilah perlunya sesekali melihat sesuatu dari samping. Mungkin makna sebuah benda bukan apa yang diciptakan untuknya, melainkan apa yang kita lakukan dengannya. Dan terkadang, ironi adalah semacam cara untuk memahami kebenaran. Jadi, saat melihat pulpenmu dijadikan untuk mengganjal pintu, tersenyumlah. Ada kisah lebih dalam dari sekadar fungsi. Ada sebuah ironi kecil yang menawan.

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Belakang

MENGETIK DI TANAH JAJAHAN

Yang suka membaca buku biografi atau tulisan-tulisan mengenai tokoh kadang penasaran dengan benda-benda yang pernah tergunakan dan menentukan nasib. Benda itu sepeda, baju, piring, mesin tik, kursi, lemari, dan lain-lain. Sekian benda turut membentuk biografi meski benda tak selamanya bersama tokoh. Ada benda yang hilang, dijual, hancur, atau diberikan kepada orang lain.

Kita membayangkan kelak ada pendirian museum sastra. Yang diinginkan adalah hadirnya benda yang pernah bersama Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin, AA Navis, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Remy Sylado, Jakob Sumardjo, Arswendo Atmowiloto, Sindhunata, dan lain-lain. Benda yang dimaksud adalah mesin tik. Para pengarang pernah tekun menggerakkan jari-jari di mesin tik.

Mereka menghasilkan beragam tulisan dengan mesin tik. Ada yang mula-mula menulis dulu di kertas dilanjutkan di mesin tik. Ada yang langsung mengetik, yang segera memunculkan puisi, cerita pendek, atau esai. Sapardi Djoko Damono mengenang pernah menggunakan mesin tik milik kelurahan dalam membuat puisi. AA Navis bercerita rajin mengetik cerita pendek tapi diawali dan dibarengi kenikmatan merokok. Pramoedya Ananta Toer pernah dijanjikan diberi mesin tik oleh Jean Paul Sartre. Arswendo Atmowiloto yang berhasil membeli mesin tik memilih menaruh benda itu di atas kasur: tanda kebahagiaan dan sumpah untuk keranjingan menulis. Jakob Sumardjo sampai usia tua setia bersama mesin tik, membuat ratusan artikel dan resensi.

Kita bakal memerlukan ratusan halaman untuk mencatat penggalan-penggalan kisah para pengarang dan mesin tik. Benda yang ikut menggerakkan sastra di Indonesia. Pada suatu masa, mesin itu nasib pengarang. Ada yang memiliki mesin tik. Ada yang suka meminjam. Ada yang suka mengoleksi mesin tik.

Yang teringat, Gus Dur tampak sedang serius mengetik di kantor Tempo. Konon, ia suka mampir untuk menanti mesin tik yang menganggur, ditinggal para wartawan atau redaktur. Maka, ia lekas duduk di depan mesin tik untuk menghasilkan kolom yang dimuat dalam majalah Tempo. Linus Suryadi, suatu hari dolan ke rumah Umar Kayam, segera duduk dan mengetik. Jadi, ada dugaan Pengakuan Pariyem itu mula-mula diketik di rumah Umar Kaya. Bukunya yang terbit mencantumkan keterangan bahwa Pengakuan Pariyem dipersembahkan kepada Umar Kayam.

Kini, kisah mesin tik measih bertumbuh di tangan Hamzah Muhammad, yang menggerakkan sastra dan perbukuan di Jakarta. Ia biasa menghasilkan puisi di tempat-tempat penyelenggaraan acara sastra atau obrolan buku. Pada abad XXI, mesin tik belum punah. Kita menanti saja Hamzah Muhammad menuliskan seribu cerita tentang mesin tik.

Kita pun memanggil masa lalu melalui buku kecil dan tipis. Buku yang tidak bersampul. Buku terbit pada 1931. Kita mengingat para pengarang, jurnalis, dan pegawai kantor menggunakan mesin tik. Kau pergerakan politik pun menggunakan mesin tik dalam membuat risalah atau seruan melawan kolonialisme. Buku lawas itu membantu kita mengingat masa lalu yang berisi oleh huruf-huruf yang dipukul jari-jari.

Beruntungnya kita masih bisa membaca buku berbahasa Jawa yang berjudul Panoentoen Ngetik Mesin Toelis Nganggo Dridji 10 susunan M Soewardjo. Buku mengenai teknologi menulis, benda yang mengubah lakon tanah jajahan saat terjadi serbuan tulisan berbarengan kapitalisme cetak, yang memiliki banyak suara menyebar ke segala arah. Buku diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta.

Pengakuan Soewardjo: “Moela kita senadjan lagi sawatara wae bab kawroeh ngetik maoe, woes age-age dibeberake, amarga woes wadjibe kita doewe pengerti senadjan moeng lagi setitik koedoe diratakake marang lijan kang soedi meloe nganggo.” Yang menyusun buku hanya memiliki pengetahuan sedikit tapi berani membagikannya kepada orang lain. Artinya, ilmu yang dimiliki agar segera menular yang membuat orang lain berani belajar untuk mahir mengetik.

Penjelasan yang diberikan dilengkapi gambar-gambar. Yang disampaikan Soewardjo: “Gambar iki tak petikake saka gambar nganggo merek iki awit moeng kanggo nggampangake panganggit mitoeroet saka panjinaoekoe bijen. Nanging kang mengkono maoe bareng akoe ndeleng marang mesin toelis lija, djandji kang model anjar wae kaja ora ana bedane toemrap panggonane aksara oetawa pengatoere perkakas-perkakas lijane.” Ia mencontohkan mesin yang pernah digunakan, tidak bermaksud pamer merek yang terkenal pada awal abad XX.

Buku kecil memberi petunjuk agar orang bisa mengetik menggunakan 10 jari, bukan dua jari. Pengertian dan latihan menentukan keberhasilan untuk menjadikan sepuluh jari bergerak. Pesan yang disampaikan Soewardjo: “Dene panjinaoemoe ora kena kesoesoe-sosoe, koedoe kang titi. Perkara ketjepetan ora soesah disinaoe, mengko jen wis koelina mesti bisa tjepet dewe.” Kecermatan diperlukan ketimbang tergesa-gesa dalam menggerakkan jari-jari di huruf-huruf yang ditentukan. Masalah kecepatan tidak perlu dipelajari mati-matian. Yang terbiasa mengetik nanti bakal mengetahui kecepatannya. Pembiasaan penting ketimbang bernafsu untuk cepat tapi sering membuat kesalahan.

Pada masa lalu, benda menghasilkan tulisan di kertas itu berkesan mahal. Benda yang cuma berurusan dengan kaum terpelajar. Benda yang berada di kantor-kantor dengan beragam kemodernan. Benda datang dari negeri-negeri jauh, terutama Eropa. Di tanah jajahan, orang yang mengetik tampak sebagai tokoh yang berani mengubah nasib, mengubah dunia, dan mengubah sejarah.

Siapa yang membuat buku? Apakah ia terbukti turut dalam mengubah arus sejarah (teknologi-menulis) di Indonesia? Pembaca wajib melihat fotonya yang gagah dan terdidik. Di halaman awal ada fotonya, yang menampilkan M Soewardjo dalam posisi berdiri mengenakan jas. Ia mungkin berfoto di studio. Pilihan pakaian warna putih mengartikan sosok modern yang sadar hikmah-hikmah Barat. Foto ikut menjadi penjelasan bahwa yang mengetik adalah manusia modern atau manusia yang mencipta masa depan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

SEJARAH (SAMAR) DAN MELONGO

Pada suatu masa, anak-anak di depan televisi melihat gambar yang bergerak. Gambar itu huruf-huruf, yang anak-anak mengucapnya “te ve er i”. Mereka sedang menatap huruf-huruf yang menjelaskan misi pemerintah. Yang terdengar sedikit senandung merdu: “TVRI, menjalin persatuan dan kesatuan.”

Di jalan atau kelas, anak-anak itu mengulang yang terdengar saat menonton televisi. Mereka sebenarnya terpapar propaganda “murahan” yang diadakan TVRI sebagai kepanjangan tangan rezim Orde Baru. Dulu, menonton televisi inginnya mendapat hiburan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan pemerintah melalui beragam acara terlalu kuat dan “memaksa”. Jadinya, penonton yang masih anak-anak perlahan “jinak” sekaligus membenarkan apa-apa yang diinginkan oleh televisi.

Mereka ingin menjaga persatuan agar tetap boleh menonton TVRI. Mereka bingung dengan pengertian “kesatuan”. Apakah itu sama atau beda dengan persatuan? Yang belajar bahasa Indonesia di kelas agak mengerti: persatuan itu kata dasarnya satu dan kesatuan itu kata dasarnya satu. Mengapa pihak TVRI menggunakan persatuan dan kesatuan, tidak cukup satu saja? Pilih saja persatuan atau kesatuan.

Anak-anak malu menanyakan kepada bapak, ibu, kakek, nenek, bibi, tetangga, atau guru. Yang pernah mengalami masa 1960-an mudah menjelaskan kesatuan. Ia memulainya dengan penamaan organisasi-organisasi yang beranggotan pelajar atau mahasiswa. Dulu, ada organisasi yang dinamakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Banyak yang memilih “kesatuan” meski ada yang pilihannya adalah “persatuan”. Kaum yang tua mencontohkan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Pokoknya, anak-anak dibuat bingung oleh persatuan dan kesatuan meski tetap sregep menonton acara-acara di TVRI, sebelum ada saingan RCTI, SCTV, TPI, dan Indosiar.

Anak-anak yang menonton TVRI pelan-pelan belajar bahasa Indonesia. Banyak acara dan film yang menggunakan bahasa Indonesia. Di desa, anak-anak terbiasa berbahasa Jawa mulai menirukan tokoh-tokoh yang tampak di televisi. Mereka mulai menambahkan kata-kata di kepalanya untuk terucap lewat mulut berupa bahasa Indonesia. Pengucapan yang masih malu-malu. Pengaruh terasakan saat belajar di kelas. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan pemberian pelajaran bahasa Indonesia membuat anak-anak mulai ikhlas masuk dalam “kubangan” bahasa Indonesia. Yang fasih berbahasa Indonesia dianggap pintar. Selanjutnya, ia diakui menganut kebudayaan kota atau modern.

Lupakan masa anak-anak dan TVRI! Kita ingin memasuki buku yang berjudul Bahasa Persatuan: Kedudukan, Sedjarah, Persoalan-Persoalannja (1964) susunan Zuber Usman. Buku yang diterbitkan Gunung Agung berasal dari garapan ilmiah di universitas. Jadi, kita sedang membaca buku yang ilmiah, tidak ada bohong-bohongan atau setumpuk bualan. Siapa mau membuktikan?

Buku terbit sebelum Indonesia terganggu persatuannya dalam malapetaka 1965. Pada masa terdahulu, persatuan Indonesia sering mendapat gangguan yang menimbulkan darah, air mata, kematian, dan lain-lain. Pada masa yang sulit, para tokoh politik malah berdebat mengenai “persatuan” dan “persatean”. Perbincangan berdasarkan perbedaan ideologi dan persaingan meraih kekuasaan. Dulu, persatuan itu politis! Artinya, segala bentrok, perselisihan, pemberontakan, dan perlawanan itu bersumber dari pemaknaan revolusi?

Zuber Usman salah atau khilaf membuat judul? Ia mungkin pernah yakin banget Indonesia terus berkembang dan maju asal menjaga persatuan. Keyakinan berdasarkan fakta-fakta. Ia tidak sedang berkhayal bahwa persatuan itu abadi. Indonesia akan terus bersatu sampai kiamat!

Pada 1949, kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda. Situasi tetap tak menentu. Zuber Usman memiliki rutinitas mengisi acara di RRI dinamakan “Rudjak Bahasa”. Kita lekas mengingatnya itu makanan. Yang diurus Zuber Usman adalah bahasa, bukan makanan yang segar dan pedas. Penjelasan: “Tudjuan siaran itu jang sebenarnja ialah untuk mengawasi dan memberi djalan kepada pertumbuhan bahasa Indonesia, disamping menjelidiki sedjarah, membukakan aliran dan memberi arah kepada kemungkinan-kemungkinan jang dapat ditjapai pada masa jang akan datang.” Tujuan yang mulai saat bahasa Indonesia sudah tercantum dalam UUD 1945 dan diajarkan di sekolah-sekolah. Yakinlah bahwa Zuber Usman sedang melaksanakan tugas yang mulia, bukan mengikuti jalan khayalan.

 Zuber Usman mengenang: “Tahun-tahun permulaan itu merupakan tahun-tahun peralihan. Chusus dalam lapangan bahasa, kita harus memerangi unsur-unsur Hollandisme, sungguh pun bangsa kita telah berhasil menumbangkan pendjadjahannja dan dibidang lain kita harus pula berhadapan dengan golongan kolot jang berpaham pitjik, jang hendak memegang teguh ukuran atau pola bahasa Melaju.” Bayangkanlah sejarah bahasa Indonesia sangat ditentukan politik dan ketangguhan para intelektual dalam bertengkar demi kemajuan bahasa yang dianggap masih muda.

Yang membaca buku mula-mula bersemangat ingin mengetahui sejarah bahasa Indonesia. Namun, yang terbaca adalah sejarah kerajaan-kerajaan. Zuber Usman “berbohong”. Judul bukunya tidak tepat. Ia bertele-tele menyuguhkan sejarah beragam kerajaan, sebelum beralasan bahwa sejarah itu menentukan perkembangan bahasa Melayu, yang nantinya “dijadikan” bahasa Indonesia.

Kecewa! Pembaca mengaku kecewa setelah merasa “dibohongi”. Yang diceritakan dalam buku adalah sejarah yang bukan bercap “persatuan”. Situasi berbeda saat masa kolonial. Gagasan persatuan bertumbuh di kalangan politik, intelektual, seniman, dan lain-lain. Apakah “persatuan” sudah tercantum dalam teks-teks dibuat dalam Kongres Pemuda I (1926), Kongres Pemuda II (1928), dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938) dengan maksud menentukan kedudukan bahasa Indonesia?

Di bab enam, kita membaca penjelasan tentang “pembentukan” bahasa Indonesia. Anehnya, Zuber Usman pintar mengutip pendapat-pendapat dari tiga sarjana Belanda. Pengutipan ada yang berasal dari bahasa Belanda. Zuber Usman menegaskan bahwa usaha menulis sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia tetap memerlukan hasil studi para sarjana Belanda dan pejabat Belanda pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Namun, kita tetap diingatkan setelah pengakuan kedaualatan (1949) harus terjadi pengurangan pengaruh Hollandisme.

Kita percaya saja Zuber Usman sudah mati-matian mencari kepustakaan dalam menyusun buku berjudul Bahasa Persatuan. Buktinya, ia memberi catatan kejadian dan pemaknaannya: “Bulan Mei 1918, Dewan Rakjat (Volksraad) dilantik. Waktu itu jang dipakai ialah bahasa Belanda. Maka timbullah pikiran diantara anggota bangsa Indonesia untuk mempunjai bahasa persatuan. Tjita-tjita kesatuan nasional mulai terasa. Segera, anggota-anggota bangsa Indonesia menjetudjui supaja bahasa Melaju, jang sesungguhnja telah dipakai pemerintah dalam perhubungan dengan rakjat dan radja-radja untuk negeri, didjadikan bahasa pengantar disamping bahasa Belanda.” Usaha menentukan titik-titik sejarah terpenting. Kita menerimanya itu kerja ilmiah, bukan kerja imajinasi. Titik sejarah yang jarang disampaikan saat pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA.

Yang berperan besar dalam perkembangan bahasa Indonesia adalah Balai Pustaka. Pengakuan yang inginnya tidak politis. Namun, kita sadar jika penerbit itu malah politis banget, bentukan pemerintah kolonial Belanda. Konklusi yang dibuat Zuber Usman: “Dengan demikian, Balai Pustaka dapatlah dikatakan dari sedjak berdirinja dengan giat dan sadar terus menjalurkan serta menentukan tjorak bahasa Indonesia, disamping usahanja menjebarkan bahasa itu keseluruh pendjuru Nusantara…” Penyebarannya menggunakan buku dan majalah. Pengakuan yang berlebihan bahwa Balai Pustaka (sangat) berjasa untuk perkembangan bahasa Indonesia. Kita boleh tidak percaya?

Kita akhiri membaca buku yang “mengecewakan” dengan mengutip paragraf di halaman 103, yang mengandung harapan muluk: “… berdasarkan bukti sedjarah dan mengingat sifat-sifat kesederhanaan serta unsur-unsur jang praktis dalam bahasa Indonesia, serta kedudukan Republik Indonesia jang berpolitik bebas dan aktif, bahasa kita akan mendjadi bahasa jang penting dan kuat diantara bahasa-bahasa jang ada di Asia-Afrika.” Pembaca boleh mengucap “amin” atau melongo selama lima menit.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Samping

JEJAK SENYUM

​Di antara sekian banyak ekspresi yang dimiliki manusia, senyum adalah yang paling paradoksal. Ia begitu remeh, sekadar tarikan otot di sudut bibir, namun ia mampu membawa makna lebih berat dari kata-kata. Kita memberikannya pada orang asing di jalan, pada pelayan di kafe, atau pada teman lama yang tak sengaja kita jumpai. Senyum bisa menjadi salam, permohonan maaf, atau bahkan senjata paling mematikan. Ia mata uang universal yang berlaku di setiap budaya, tak peduli bahasa atau keyakinan. Namun, di balik keremehannya, senyum menyimpan sejarah dan ironi yang tak pernah kita sadari.

​Secara filosofis, senyum adalah cerminan dari kompleksitas manusia. Ia bisa menjadi topeng sempurna, menyembunyikan badai dalam hati saat kita berhadapan dengan dunia. Kita tersenyum saat menerima kabar buruk, saat hati kita hancur, atau saat kita merasa sangat lelah. Senyum semacam ini bukan tentang kebahagiaan, melainkan tentang ketahanan. Ia pernyataan bisu bahwa “Saya baik-baik saja,” meskipun alam semesta terasa runtuh. Betapa ironisnya, sebuah ekspresi yang seharusnya melambangkan sukacita justru sering kita gunakan untuk membohongi orang lain—dan yang paling parah, membohongi diri sendiri. Senyum palsu adalah salah satu pilar utama peradaban modern, sebuah keharusan sosial yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, apa pun yang terjadi di balik layar.

​Ada juga senyum jenaka dan menyindir, yang tak pernah kita temukan di buku-buku psikologi. Senyum ini seringkali muncul di wajah para pengamat yang bijaksana, yang melihat kekacauan di sekitarnya dan hanya bisa tersenyum. Senyum itu campuran sarkasme dan kepasrahan. “Lihatlah,” katanya, “betapa lucunya manusia dengan semua keseriusan dan ambisi kosong.” Senyum ini bentuk perlawanan pasif, sebuah cara untuk tidak terlalu peduli pada kekonyolan dunia tanpa harus berteriak atau melawan. Ia adalah kebijaksanaan yang tersembunyi, yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang juga pernah merasakannya.

​Namun, di antara semua senyum itu, ada satu yang paling murni dan paling langka: senyum yang muncul dari hal-hal kecil. Senyum yang muncul saat kita menemukan uang di saku jaket lama, saat kita mencium bau hujan pertama, atau saat kita melihat kucing tidur dengan posisi lucu. Senyum ini tidak direkayasa, tidak memiliki agenda tersembunyi. Ia adalah senyum kejutan yang muncul begitu saja, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati seringkali berada di luar rencana besar kita, tersembunyi dalam momen-momen yang paling remeh. Senyum inilah yang membuat kita terharu, karena ia adalah bukti bahwa di tengah segala kesulitan, masih ada hal-hal kecil yang bisa membuat hati kita hangat.

​Di dunia fiksi, senyum sering kali digunakan penulis untuk menyampaikan makna yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat. Ia bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan simbol yang punya bobot naratif. Di sini, kita akan melihat bagaimana senyum dapat menjadi pilar utama sebuah cerita, tanpa harus menjadi obyek fisik yang bisa disentuh.

​Ambil contoh cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari. Cerita ini sangat sederhana, namun ironi yang disajikannya begitu tajam. Tokoh utamanya, Karyamin, seorang kuli miskin yang hidupnya dipenuhi penderitaan. Namun, ketika ia jatuh dan mengalami kesialan, ia tidak menangis atau mengeluh—ia justru tersenyum. Senyum itu tidak datang dari kebahagiaan, melainkan dari sebuah bentuk penerimaan. Puncaknya, senyum itu ia berikan kepada Pak Pamong yang meminta sumbangan untuk orang-orang kelaparan di Afrika, sebuah ironi yang begitu menusuk hati, karena Karyamin sendiri berada di ambang kelaparan. Di sinilah senyum menjadi metafora yang kuat: ia adalah perlawanan yang sunyi, sindiran yang tak terucapkan, dan cerminan dari kepasrahan yang mendalam. Karyamin tersenyum karena ia telah melewati batas penderitaan, dan yang tersisa hanyalah sebuah ironi pahit yang hanya bisa ia sambut dengan senyuman.

​Lalu, bila hal ini dikaitan dengan menulis di era sekarang, apa esensinya? Menulis yang relevan adalah menulis yang mampu membongkar makna tersembunyi dari hal-hal yang paling remeh. Di tengah gempuran narasi besar dan sensasional, seorang penulis yang baik harus mampu melihat dan mengartikan keajaiban dalam detail-detail kecil. Sama seperti seorang seniman yang bisa menciptakan karya besar dari sebuah titik kecil, penulis juga harus bisa menemukan cerita yang beresonansi dari sebuah senyum, dari sebuah tatapan, atau dari sebuah keheningan.

​Menulis adalah seni untuk mengungkap apa yang tersembunyi. Mengajak pembaca untuk melihat sesuatu yang bisa jadi dari samping. Mengapa Karyamin tersenyum? Pertanyaan itu lebih penting daripada mengapa ia lapar. Karena di dalam pertanyaan itu, ada kemanusiaan, ada tragedi, dan ada perlawanan. Penulis yang mampu membuat pembaca tergelitik untuk bertanya tentang hal remeh seperti itu, berarti ia telah berhasil. Ia telah membuka mata pembaca untuk melihat bahwa di balik setiap gerak bibir, di balik setiap kata yang tidak terucap, ada seluruh alam semesta yang menunggu untuk dijelajahi.

​Mungkin, saat kita membaca ini, kita akan tersenyum. Mungkin senyum itu adalah senyum Karyamin, senyum yang muncul dari sebuah pemahaman. Atau mungkin, itu adalah senyum yang muncul karena kita sadar, bahwa selama ini, kita juga telah menjalani hidup dengan senyum-senyum yang remeh namun penuh makna. Entah itu senyum kesabaran, senyum kepasrahan, atau senyum karena menemukan uang di saku jaket. Dan itulah keindahan dari hal-hal remeh: mereka tidak pernah benar-benar remeh. Mereka adalah bagian dari siapa kita, dan siapa kita di mata dunia.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi

Belakang

HILANG DAN PEMBACA

Satu atau dua lembar hilang, pembaca merasa di jalan yang sesat. Lembaran terlalu penting bagi pembaca yang ingin mendapat judul, nama pengarang, penerbit, dan tahun terbit. Yang terjadi adalah lembaran-lembaran yang memuat keterangan penting justru hilang.

Pembaca hanya menduga buku itu tua. Ia masih berusaha menemukan tanda-tanda dalam buku berupa stempel atau coretan. Ada coretan menggunakan pensil tapi kata-kata tidak terbaca. Rupa tulisan sudah kabur. Buku kecil yang tanpa judul. Buku kehilangan nama pengarang. Buku yang tidak bisa menerangkan penerbitnya. Apakah pembaca menyerah dan memilih buku itu tertutup selamanya?

Kehilangan yang menyedihkan adalah sampul. Yang tampak, sampul buku gantian masih ada. Sampul yang asli hilang. Sialnya, sampul gantian tanpa keterangan. Sampul dan lembaran-lembaran yang hilang tidak untuk ditangisi semalaman. Buku itu mengabarkan kehilangan-kehilangan.

Buku masih bisa dibaca di bawah lampu dengan sinar berwarna kuning atau memilih terkena sinar matahari saat pagi. Buku itu hasil dari kesaktian mesin cetak. Pada awal abad XX, mesin cetak berhasil mengubah lakon tanah jajahan. Mesin menghasilkan beragam bacaan, yang mendatangi orang-orang untuk mengetahui cerita, sejarah, teologi, politik, perdagangan, pendidikan, asmara, dan lain-lain. Di tanah jajahan, mesin cetak yang berisik mencipta “suara-suara” yang menimbulkan “badai” atau “guncangan”. Orang masih meragu boleh membuka matanya selama tiga jam untuk membaca tulisan-tulisan Ben Anderson.

Dulu, mesin cetak itu biasanya dimiliki oleh orang-orang Eropa atau peranakan Tionghoa. Mereka berani menggerakkan modal dalam menghasilkan bacaan-bacaan. Mesin yang menjadikan huruf-huruf di kertas menimbulkan seberan iman, sengketa ideologi, keinsafan sejarah, dan hiburan mendunia.

Pembaca perlahan yakin bahwa buku yang kehilangan sampul dan beberapa lembar itu hasil dari mesin cetak yang diurus peranakan Tionghoa. Penulis buku pastinya peranakan Tionghoa. Penerbit pun menjelaskan kekuatan bisnis bacaan awal abad XX.

Apa yang masih bisa digunakan sebagai bukti bila buku itu masuk dalam derasnya arus bacaan dari kaum peranakan Tionghoa di tanah jajahan? Pembaca malu-malu menunjuk tema dan bahasa “Melajoe” yang digunakan dalam buku. Isi buku mengenai “ilmoe petangan”, yang disajikan melalui “sjair”. Buku bercitarasa sastra. Pembaca mulai ikhlas tidak mengetahui judul, nama pengarang, dan penerbit. Yang terpenting ia bakal klenger membaca “sjair” di seratusan halaman.

Pembaca pilih-pilih kutipan, yang mudah dimengerti dan membenarkan bahwa buku ditulis oleh “orang jang berilmoe”. Kutipan yang memasalahkan nasib atau peruntungan: Beli pisang dari Blitoeng/ Belon beboewa soeda berdjantoeng/ Di dalem kitab soeda diitoeng/ Angkauw berdagang misti beroentoeng. Buku menjadi bacaan orang-orang yang berdagang tapi membutuhkan pengetahuan dan pijakan. Percayalah buku itu laris dan diakui berfaedah bagi para pembacanya yang berdagang atau menunaikan beragam pekerjaan. Yang terpenting adalah “beroentoeng”. Pikirkanlah kerja yang beruntung, bukan pisang yang bisa digoreng atau direbus!

Berlimpahnya “sjair” dalam buku menimbulkan kebingungan untuk memilih. Yang terbaca adalah “sjair” dalam bahasa “Melajoe” yang dicap pasar atau bahasa “Melajoe” yang biasa digunakan kaum peranakan Tionghoa. Kutipan yang terpilih lagi: Kauw maoe taoe artinja kakedoetan/ Boekannja iblis atawa setan/ Dalem dua atau tiga hari poenja boewatan/ Kau misti trima oewang soeda kliatan. Masalah peruntungan memiliki tanda-tanda. Jadi, “sjair” itu mengingatkan gairah atas peruntungan menentukan lakon perekonomian di tanah jajahan. Bisnis tidak selalu berlogika tapi peruntungan sangat penting.

Orang yang sulit tidur mendingan membaca “sjair” berjumlah ratusan. Dibaca pelan-pelan sambil menikmati nada dan rasa bahasa masa lalu. Kata-kata yang digunakan dalam “sjair” berulang-ulang dan polanya sering sama. Yang membaca mungkin “dibunuh” jenuh tapi keinginan mengerti yang silam dapat membuatnya bertahan sampai bulan sabit mengalamai kesepian di dini hari.

“Sjair” yang dibaca: Pengliatan ini terlaloe heran/ Djangan angkauw boeat koeatiran/ Angkau oentoeng dengen atoeran/ Dari sebab mengimpi poenja lantaran. Di situ, ada mimpi. Konon, ilmu tua dinamakan tafsir mimpi. Dulu, kita mudah menemukan buku-buku mengenai tafsir mimpi yang dijual di pasar malam, terminal, makam, dan kios koran. Buku itu biasanya kecil, kertas buram, sampul yang norak, dan harganya murah. Sejak dulu sampai sekarang, tafsir mimpi masih diminati banyak orang. Di mimpi, orang bisa membayangkan dirinya kaya atau dijerat kemiskinan. Mimpi yang memberi tanda-tanda agar diwujudkan atau berlalu dan terlupa saja.

 Siapa pembaca buku itu pada masa lalu? Pembaca yang memiliki pengetahuan sastra, bisnis, sosial-kultural, dan teologi? Pembaca yang menikmati “sjair” sebenarnya sedang belajar beberapa hal, yang mudah atau sulit terpahami. Maka, yang membaca bisa membicarakan dengan keluarga atau teman. Mereka bisa sedikit berdebat sesuai pilihan “sjair” dan kepentingan-kepentingannya. Buku dapat pula sebagai pedoman pengajaran bagi orang-orang yang ikut kursus mengubah nasib. Mereka diajak memikirkan “sjair” yang sakti dan meyakini bakal ada yang terwujud.

Buku itu mungkin tidak pernah terbaca oleh Roestam Effendi, Amir Hamzah, Soetan Takdir Alisjahbana, dan Sanoesi Pane. Buku memang mengambil bentuk “sjair” belum tentu diinginkan oleh kalangan terpelajar dan pengarang. Buku itu bukan selera kaum pergerakan politik kebangsaan. Jangan percaya bila buku dibaca oleh Tan Malaka, Soekarno, Mohammad Hatta, atau Soetan Sjahrir. Namun, buku tetap memiliki banyak pembaca tanpa harus “diejek” atau “dituduh” seleranya rendah. Penerbitan buku yang sejak halaman awal sampai akhir adalah “sjair” sudah keberanian dalam mengandaikan penerimaan dan pemahaman pembaca.

Kini, kondisi buku tidak lagi utuh. Dulu, buku itu dipegang oleh beberapa orang di tenpat-tempat yang berbeda. Buku kecil yang melewati waktu dan tempat. Di tangan pembaca yang memiliki kepentingan-kepentingan berbeda, lembaran-lembaran buku dibuka untuk dibaca. Akibatnya, ada lembaran yang terlipat rusak, ada lembaran mendapat coretan-coretan menggunakan pensil, ada lembaran yang robek.  

Yang membaca pada masa sekarang berhadapan dengan bahasa yang tidak hidup lagi. Bahasa lama yang “menyulitkan” sekaligus memberi ikatan agar pembaca memiliki masa lalu. Gubahan “sjair” yang disajikan pengarang pun susah ditaruh dalam arus kesusastraan yang mendapat perhatian dalam pertimbangan estetika atau politis. Buku tidak diniatkan sebagai persembahan sastra tapi kesengajaan menggunakan “sjair” agar unik dan menghasilkan renungan-renungan tak berkesudahan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Samping

JEJAK LUKA TANPA KELUH

​Di sebuah sudut jalan, kita sering berpapasan dengan orang yang tampaknya biasa saja. Pakaiannya tak mencolok, langkahnya teratur, dan sorot matanya seperti kosong, serupa lukisan yang belum selesai diwarna. Mereka mungkin bekerja sebagai pedagang asongan yang menjajakan rokok, atau pengemudi ojek daring yang menunggu pesanan di bawah terik matahari. Mereka bukan pahlawan super, juga bukan tokoh utama dalam drama yang kita tonton. Mereka hanya orang-orang yang, entah bagaimana, berhasil menelan penderitaan dengan senyum tipis.

​Hidup mereka lekat dengan serangkaian badai yang tak berkesudahan. Suatu hari, mereka bangun dengan kabar rumah kontrakan harus dikosongkan. Esok harinya, anak mereka jatuh sakit, biaya rumah sakit melambung, sementara tabungan sudah lama kering. Saat mereka berusaha bangkit, motor satu-satunya mogok. Setiap kali mereka mengira sudah mencapai dasar, ada saja yang menendang lebih dalam. Namun, keajaibannya, mereka tidak mengeluh. Mereka tidak menumpahkan amarah di media sosial, tidak mengadu pada siapa pun, bahkan pada diri sendiri. Mereka hanya menjalani, seolah semua itu bagian dari kurikulum wajib yang harus diselesaikan.

​Ironi yang paling menyakitkan adalah bagaimana masyarakat memandang mereka. Kita sering melihat keuletan itu sebagai inspirasi. “Lihat, dia begitu kuat! Masalahnya bertubi-tubi, tapi tetap tegar!” Kita mengagumi mereka, memotret mereka, lalu mengunggahnya dengan tagar #motivasi atau #inspirasipagi. Kita seakan lupa bahwa apa yang kita anggap ketegaran mungkin bentuk mati rasa, sebuah mekanisme pertahanan yang tercipta dari luka yang sudah terlalu banyak. Bukan mereka kuat, hanya sudah terlalu lelah untuk berteriak. Mungkin mereka tidak lagi menangis, karena air mata sudah habis terkuras.

​Di balik senyumnya yang tidak menuntut, ada lelucon tragis. “Kenapa kamu tidak mengeluh?” tanya kita, dengan nada kagum yang tulus. “Untuk apa?” jawab mereka, sambil tertawa kecil. “Mengeluh tidak akan membuat harga sembako turun, juga tidak akan membuat anak saya sembuh.” Jawaban itu, sederhana namun menohok, bentuk sindiran paling jenaka sekaligus pedih. Kita, yang sering mengeluhkan hal sepele, seperti lambatnya koneksi internet atau kopi kurang panas, tiba-tiba merasa malu. Mereka mengajari kita, tanpa disadari, tentang proporsi penderitaan yang sesungguhnya.

​Fenomena ini cermin tajam bagi kehidupan modern. Kita hidup di era di mana setiap orang punya panggung untuk mengeluh. Media sosial adalah etalase kesedihan, tempat di mana kita memamerkan luka-luka, berharap mendapat empati dan validasi. Kita menganggap penderitaan kita begitu unik, begitu spesial, sehingga harus diabadikan dalam bentuk utas atau status. Sementara, di dunia nyata, banyak orang menggendong beban jauh lebih berat tanpa pernah mengunggahnya. Mereka adalah bayangan bergerak di antara kita, membisikkan kebenaran yang tidak kita inginkan: bahwa kadang, yang paling menderita adalah mereka yang paling diam.

​ Kisah tentang orang-orang yang terlunta-lunta tanpa keluh juga banyak dalam karya sastra, salah satunya dapat kita temukan di novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di sana ada tokoh Srintil. Penderitaan hidupnya datang bertubi-tubi. Dari kecil ia sudah kehilangan orangtua. Lalu harus menerima nasib sebagai ronggeng, yang dianggap rendah dan menjadi objek eksploitasi. Masalah belum berhenti sudah terseret dalam huru-hara politik yang membuatnya mendekam di penjara dan kehilangan segalanya.

​Namun, Srintil tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang meratapi nasib dengan tangisan atau keluhan panjang. Ia tidak mencari simpati. Penderitaannya seolah sudah menjadi takdir yang harus ia terima. Ia terus berjuang, mencoba mencari jati dirinya yang hilang di tengah kehancuran. Tohari tidak membuat cerita ini jadi melodrama yang menguras air mata. Ia justru menyajikan kisah Srintil dengan gaya dingin dan realistis, seakan ingin menunjukkan bahwa penderitaan sebesar apa pun bisa menjadi bagian dari kehidupan yang biasa. Ini sindiran tajam tentang bagaimana penderitaan bisa membuat orang menjadi mati rasa atau, lebih tepatnya, menjadikan ketabahan sebagai satu-satunya pilihan.

​Maka, apa esensi menulis di zaman yang serba digital ini? Mungkin, bukan lagi tentang mencipta cerita yang sensasional, melainkan tentang merekam cerita nyata, yang sering terlewatkan. Menulis bukan hanya kata-kata yang indah, tetapi tentang keberanian untuk melihat, mendengar, dan menghormati keheningan di balik penderitaan. Kita harus menulis tentang mereka yang tidak bisa menulis kisah mereka sendiri, tentang para penderita yang tidak ingin menjadi pahlawan.

​Ada senyum kecil berselimut haru, ketika kita menyadari bahwa orang-orang yang paling kita kagumi mungkin orang yang paling hancur, kita akan tersentak. Kita mengira mereka kuat, padahal hanya pandai menyembunyikan kerapuhan. Kita mengira mereka bahagia, padahal hanya sudah terbiasa sedih. Senyum mereka bukan tanda kebahagiaan, melainkan tanda bahwa mereka telah menerima nasib buruk sebagai teman seperjalanan.

​Mungkin sesekali kita perlu menyimak dari samping, bukan untuk melihat siapa paling sering mengeluh, melainkan untuk melihat siapa paling sering tersenyum di tengah badai. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Mungkin, kita akan menemukan bahwa di balik wajah yang datar, ada ribuan cerita yang tidak pernah terucap, air mata yang tidak pernah tertumpah. Dan mungkin, keindahan sejati dari hidup terletak pada kemampuan kita untuk menanggung beban tanpa harus membebani orang lain.

​Penderitaan, pada akhirnya tidak selalu butuh suara, kadang hanya butuh keheningan. Dan mereka yang memilih diam, yang terus berjalan meski lututnya sudah lemas, adalah monumen hidup yang harus kita hargai. Mereka mengajarkan kita bahwa satu-satunya cara bertahan dengan menjadikan jejak luka tanpa keluh. Dan kita, sebagai manusia yang masih bisa memilih, harus belajar untuk membaca jejak-jejak itu.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Belakang

GURU ITU BUKU

Para pembaca novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia masa 1920-an dan 1930-an mungkin enggan membuat album ingatan. Konon, pelajaran di sekolah dan omelan para kritikus sastra mengakibatkan kita malas memuliakan sastra bercap Balai Poestaka atau Poedjangga Baroe. Kita capek membaca gara-gara bahasa: ejaan dan gaya. Kita pun dibikin bosan: pengulangan tema atau pemuatan hal-hal yang tidak penting tapi bikin sesak cerita.

Siapa yang masih merawat ingatan setelah membaca novel-novel masa 1920-an dan 1930-an? Yang teringat mungkin nama-nama tokoh dalam cerita selain judul-judul novel (roman). Kini, novel-novel itu makin kehilangan pembaca walau Balai Pustaka beberapa tahun lalu tetap mencetak ulang dengan garapan sampul baru yang jelek dan salah.

Para pembaca yang masih sabar mengasuh masa lalu dan memuliakan novel-novel bisa membuka ingatan untuk membuat catatan-catatan (tidak) penting. Maksudnya, yang teringat lekas dicatat agar bisa dipikirkan sejauh satu meter atau cukup sepanjang penggaris milik murid SD.

Kita berharap ada pembaca yang mencatat jenis-jenis pekerjaan yang terkandung dalam novel. Bayangkan ada orang membaca selusin novel masa 1920-an dan 1930-an. Ia mencatat nama para tokoh dan pekerjaannya. Maka, kita bisa menduga ada kebiasaan para pengarang memunculkan tokoh yang bekerja sebagai guru.

Novel-novel dari masa lalu mengingatkan guru. Pada awal abad XX, pekerjaan sebagai guru memberi kehormatan. Namun, kita memikirkan lagi: guru itu bekerja di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, perkumpulan atau partai politik, atau komunitas agama. Kemunculan guru berbarengan modernitas dan perwujudan Politik Etis. Yang bekerja menjadi guru adalah sosok-sosok yang berilmu. Ia pun wajib memiliki kesopanan, keberpihakan ideologi, dan mengerti gejolak zaman.

Jadi, tokoh sebagai guru muncul dalam berapa novel yang diterbitkan Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir, sejak masa 1920-an? Tugas kita bukan berhitung dan memberi bukti-bukti. Kita meyakini saja bila guru sering dihadirkan dalam novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Para pengarang masa lalu pun ada yang pekerjaan tetapnya adalah guru.

Yang mengisahkan dan menjelaskan guru bukan cuma novel. Buku-buku bertema pendidikan dan guru juga gencar diterbitkan di tanah jajahan, sejak awal abad XX.  Kita yang masih mau lelah membaca gara-gara bahasa dan tidak takut bersin-bersin saat membukan lembaran kertas lawas berdebu bakal menemukan masa lalu dan berdekatan dengan sosok guru.

Buku masih terpegang tangan berjudul Ngelmoe Goeroe. Yang kita hadapi adalah buku berbahasa Jawa. Artinya, buku yang dapat memberi imbuhan bagi kita mengenali guru selain dalam buku-buku yang berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Kita bersyukur yang terbaca adalah buku berbahasa Jawa tidak menggunakan aksara Jawa. Kita bisa mencret dan pusing selama tiga hari jika harus membuka lembaran-lembaran beraksara Jawa.

Buku berjudul Ngelmoe Goeroe disusun R Soedjanaredja, yang berstatus “mantri goeroe ing Karanganjar”. Guru menulis buku itu kemuliaan. Guru yang ikut memajukan usaha pengajaran dan pendidikan membuktikan keseriusan mengubah nasib tanah jajahan.

Buku terbit 1931 berkaitan debat panjang dan pelik mengenai kebijakan pemerintah kolonial terhadap sekolah dan guru partikelir. Guru-guru dicurigai ikut bikin kacau dan keruh gara-gara berpolitik dan melakukan serangan terhadap kolonialisme.

Arti di Jogjakarta, perusahaan yang menerbittkan buku memiliki harapan: “Soemebaripoen serta poenika tamtoe bade mewahi gamblangipoen para goeroe ing pamoelangan alit anggenipoen nindakake padamelan.” Buku petunjuk atau pedoman yang membuat para guru dapat mengajar secara baik dan benar. Buku diakui penting agar pengajaran menemukan hasil-hasil yang diharapkan.

Soedjanaredja menjelaskan jenis-jenis buku atau “lajang” yang digunakan dalam pengajaran di sekolah. Yang pertama disebut “Leerboek”. Keterangan: “Lajang piwoelang ngelmoe boemi, ngelmoe etoeng, woelang basa lan lija-lijane. Kabeh isi kawroeh kang oeroet-oeroetan (samboeng-sinamboeng) kang preloe disinaoe dening moerid.” Buku yang dimaksud adalah yang memuat ilmu bumi, ilmu hitung, pelajaran bahasa, dan lain-lain. Murid-murid mempelajarinya secara berkesinambungan dan berjenjang.

Yang kedua adalah “Leesboek”. Soedjanaredja mengartikan itu “lajang watjan” atau buku bacaan, yang berbeda dengan buku pelajaran. Buku yang dimaksud adalah huku yang berisi “tjarita kang roepa-roepa kang ora mesti oeroet-oeroetan.” Buku memuat cerita-cerita, yang cara menikmatinya berbeda dari buku pelajaran. Biasanya “lajang watjan” mengisahkan lakon kehidupan bocah atau binatang. Cerita-cerita sederhana yang memikat dan merangsang murid belajar banyak hal dalam sukacita.

Yang ketiga disebut “Leerlesboek”. Buku yang digunakan dalam mengajar yang tidak harus urut atau bersambungan tapi menerangkan ilmu-ilmu yang dipelajari murid sekaligus membuat mereka lancar dalam membaca.

Kita penasaran dengan beragam buku yang terbit pada awal abad XX. Buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah demi sumpah maju dalam peradaban. Buku-buku terbit dalam bahasa Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, dan lain-lain. Ingat, sejarah pendidikan di Indonesia adalah sejarah kertas-kertas atau buku. Yang terpenting sejarah memberi peran besar kepada guru.

Di buku lawas hampir berusia seratus tahun kita menemukan halaman-halaman mengenai pelajaran menulis huruf Latin. Dulu, anak-anak di tanah jajahan yang ingin “madjoe” mesti mengetahui huruf Latin. Surat kabar dan buku-buku yang terbit di zaman “kemadjoean” sering berhuruf Latin. Yang ingin mengetahui zaman dianjurkan bisa membaca dan menulis berhuruf Latin. Modernitas itu datang dari Barat, yang mengubah tanah jajahan melalui huruf dan bahasa.

Yang tidak terlewat adalah pengajaran untuk menulis berhuruf atau beraksara Jawa. Dua hal yang berbeda. Murid-murid memiliki kesulitan yang berbeda agar mahir menggerakkan jari dan alat tulis di atas kertas. Jadi, murid-murid yang bisa menulis (Latin atau Jawa) diharapkan memiliki masa depan yang terang. Mereka memiliki bekal untuk bekerja. Yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan yang cukup mapan, yang memerlukan kaum terpelajar atau penerapan ilmu-ilmu.

Bab penting lagi yang ikut memajukan pendidikan di tanah jajahan adalah bercerita. Di halaman 83, Soedjanaredja menjelaskan masalah pengajaran bercerita atau “piwoelang tjarita”. Tujuan guru mengajarkan bercerita: “soepaja moerid seneng atine, soepaja kawroehe moendak, soepaja kelakoeane dadi betjik, soepaja basane moendak betjik, nipisake goegon toehon, bisa mbedakake ala lan betjik, bisa goeneman kang ganep.”

Kita mengartikan bahwa memberi cerita kepada murid-murid itu berkaitan dengan pengetahuan, perasaan, berbahasa, tingkah laku, dan lain-lain Cerita-cerita dianggap mudah diterima dan berkesan kepada murid-murid. Dampaknya besar ketimbang selalu memberi perintah dan larangan dalam pembahasaan resmi.

Yang kita buka adalah halaman-halaman buku lawas, yang mungkin tidak digunakan lagi pada masa sekarang. Buku yang diperoleh adalah jilid dua. Di mana buku yang jilid satu? Apakah buku masih ada di Indonesia atau Belanda?

Bila beruntung buku-buku seharusnya tersimpan oleh anak-cucu-cicit Soedjanaredja. Mereka pasti kagum memiliki leluhur yang guru dan sanggup menulis buku untuk pedoman pengajaran para guru di Jawa atau tanah jajahan. Pada masa lalu, guru yang menulis buku adalah manusia ampuh. Ia berada dalam arus keaksaraan yang menjadikan zaman berubah oleh bacaan-bacaan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.