Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Cerpen Ian Hasan

Ada satu cara manjur, nyaris sempurna kau yakini kebenarannya untuk menyelesaikan kebuntuan ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Cara itu bukan didapat lewat pemikiran yang serba rumit atau semacam pertimbangan yang menguras energi dan kewaspadaan, tetapi lewat pemusatan perhatian dan ketenangan yang memadai untuk memutuskan tindakan. Keyakinanmu itu nyaris sempurna karena belum kau temukan cara lain, sedangkan kau sendiri cukup menyisakan dugaan bahwa mungkin masih ada sebagian orang berkeyakinan lain tentang hal itu.

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Sejak peristiwa itu kau mulai mengamati kecenderungan orang mengambil cara diam-diam demi mendapatkan jalan keluar terbaik di kehidupannya. Seperti halnya ketika beberapa waktu berikutnya kau setengah dipaksa menemani pimpinanmu yang diam-diam menikahi seorang gadis di lereng gunung. Dia putuskan itu karena tak ingin masa depan keluarganya hancur sedangkan istrinya sudah tak sanggup lagi meladeni kebutuhan pentingnya sebagai laki-laki. Hati kecilmu tentu saja berontak, tetapi mengingat hanya cara itu yang bisa menopang keberlangsungan aktivitas yang kalian jalani, kembali kau yakini kalau diam-diam adalah solusi.

“Jika kita pernah buruk pada suatu masa, bukan berarti kita akan mengotori sepanjang hidup kita dengan keburukan,” jelasnya, menjawab kegamanganmu terkait keputusannya, “dan setiap orang pasti memiliki cita-cita yang diperjuangkan, seburuk apapun cara meraihnya,” tambahnya sembari memutar kemudi mobil yang kalian kendarai.

Kau balas penjelasan itu dengan beberapa kali anggukan, sembari matamu menerawang jauh, membayangkan keburukan lain apabila tidak memilih cara diam-diam. Jujur, saat itu keyakinanmu mengenai cara halus itu belum sebulat sekarang. Kau masih terlalu percaya diri untuk berharap mengenai kehidupan yang serba lantang. Segala urusan diselesaikan dengan terbuka tanpa harus ditutupi. Perkara-perkara pelik bisa jadi lebih mudah diuraikan ketika berhadapan langsung dengan sumbernya, tak perlu dihindari dengan mencari jalan lain yang lebih sunyi. Tetapi apakah diam-diam itu juga berarti sembunyi-sembunyi? Sedangkan seorang pengecut pun bukan berarti mampu menguasai cara itu dengan baik, mengingat adanya sederet risiko yang harus disadari sejak awal, sebelum memutuskan bertindak dengan cara diam-diam. Kau pikir, melakukan cara itu juga harus dilandasi kepercayaan diri yang kuat, selain sikap tenang, dan perhatian penuh akan jalan keluar yang memang sudah di depan mata. Ibarat menangkap ikan tak perlu membuat airnya keruh.

Sebagai seorang aktivis, ingatanmu tiba-tiba menggapai satu kisah penting terkait berdirinya republik ini. Saat di mana secara diam-diam pula, para pemuda menculik dua pemimpin yang dianggap mewakili keutuhan bangsa. Dapatkah dikatakan tindakan para pemuda itu sebagai pengecut? Sedangkan pilihan cara lain justru bisa membuat nilai kemerdekaan bangsa ini jadi berbeda. Faktanya, keesokan hari setelah penculikan itu proklamasi kemerdekaan dibacakan, lebih lantang menyuarakan kebebasan dari skenario penjajah, juga terhindar dari kekonyolan cara-cara gegabah. Meskipun pada awalnya, perdebatan dan silang pendapat hampir saja menggagalkan semuanya.

Sebelum hari ini, kau sudah sering diperingatkan orang-orang terdekatmu terkait keyakinan yang ada dalam diri atas cara itu, termasuk oleh istrimu sendiri. Dia berkali-kali memintamu berhenti dari aktivitas bawah tanah yang menurutnya sangat berbahaya, terutama menyangkut keselamatan keluarga kalian.

“Memangnya kamu punya simpanan senjata?” tanya istrimu, ketika mengetahui siapa kekuatan yang sedang kau lawan.

Kau lalu menjelaskan perihal aktivitas kelompok yang belakangan ini bergerak sunyi. Siapa yang mau nyawanya hilang sia-sia ketika teriakan tuntutan dan selebaran protes, justru membangunkan kemarahan harimau dan ular yang bersarang di tampuk kekuasaan? Nyaris tak terhitung lagi berapa nyawa kawanmu yang melayang di keramaian demonstrasi atau cukup sial dengan hanya menjalani bui karena didakwa membahayakan.

“Takut?” Tak kau duga, istrimu bertanya begitu.

“Bukan begitu juga.”

“Lalu?” Istrinya mulai mencium ketidakberesan dan memandangmu penuh curiga.

“Sudahlah, aku tak mau malam ini berantakan sebab anak-anak terbangun oleh suaramu.”

Malam itu, ditemani irama rintik hujan yang menggairahkan, kau ajak istrimu melakukan cara diam-diam di tengah kesibukan yang menghujani malam-malammu sebelumnya.

Keesokan harinya, tatkala istrimu belum selesai menyiapkan kopi dan anak-anak masih tenggelam dalam nyenyak mereka, terdengar salam dan ketukan di pintu depan.

“Kenapa?” tanyamu begitu melihat Seno dan Jalal di depan pintu.

Hawa dingin pagi itu tak sanggup menyembunyikan kepanikan di wajah mereka berdua, membuatmu buru-buru mengajak mereka masuk.

“Kongres belum selesai, Serikat Petani Kang Din didatangi aparat,” setengah berbisik, Jalal menyampaikan kabar dari Salatiga.

“Mama Tata juga, ladang sorgum kelompoknya di Flores kena gasak, padahal tinggal seminggu lagi panen.” Seno menggebu menyampaikan itu seakan tak mau kalah dari Jalal.

“Maksud kalian ke sini?” tanyamu singkat.

“Jejaring gerakan mulai terbaca,” jawab mereka hampir bersamaan. Efektivitas gerakan bawah tanah mulai dipertanyakan beberapa kawan, karena tetap saja denyut sekecil apapun dibungkam dengan dalih penyelewengan kepercayaan. Kalian bersepakat menduga, ada oknum-oknum yang disusupkan. Kedua kawanmu langsung menyarankan agar kau menjauh dari keluarga untuk beberapa waktu sampai situasi aman. Hening beberapa saat membuatmu cukup punya waktu berpikir lantas memutuskan mengikuti mereka.

***

Ketika langit sore belum sepenuhnya berubah kelam, saat kebanyakan orang sibuk menyiapkan kedatangan malam, dua orang lelaki bergegas meninggalkan sepenggal kisah mereka di tepian telaga.

“Apa boleh buat, meskipun kita tahu tunduk dan tidak itu urusan hati.”

“Iya, Kang. Tindakan lahir juga belum tentu mewakili niatan, bisa saja itu siasat yang memang harus dilakukan untuk satu persoalan.”

Tanpa mereka ketahui, diam-diam kau ikuti ke mana pun mereka pergi, menghantui mimpi mereka tentang kebenaran yang diyakini.***


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan) di Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Cerpen

Gasing Tengkorak

Cerpen Siska Amelia

Wajahnya tampak gelisah. Rambut ikal sebahu tergerai dilapih kelembai. Sesekali mulut dibuka lebar, tertawa sambil membelalakkan mata, mengedarkan tatapan liar pada dinding bercat abu-abu. Penat melepas tawa tak beralasan, ia meraung-raung. Ditarik-tariknya rambut, lalu berteriak tidak menentu.

Berkerumun warga saat ini menontonnya. Rupanya pekik wanita itu, beserta bunyi gaduh dari benda yang dilempar sana-sini mengundang rasa tanya tetangga untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pintu terbuka sangat lebar. Satu di antara tetangga yang datang, begitu menyaksikan perilaku tak wajar perempuan berlesung pipi ini, segera menekan tuts gawai dan menghubungi beberapa kawan. Tidak berselang lama, rumah dipenuhi banyak mata memandang, namun tak ada yang kuasa menjadi penenang.

Si wanita semakin menggila tingkah lakunya. Sama sekali tidak memedulikan banyak pasangan mata yang tengah menatap heran. Dia mulai membuka kancing bajunya satu demi satu. Sambil menari-nari, dilempar serampangan baju itu. Perlahan semua yang menutupi tubuh dilepas. Dengan menyuguhi pandangan beringas, ia menempelkan tubuh bagian depan pada dinding, di samping kiri ranjang. Kuku-kuku panjangnya mencakar-cakar dinding, lalu berteriak, menggeliat, mengamuk, tertawa, dan kadang mengeluarkan suara tangisan. Wanita tak berayah-beribu itu, nampak jelas begitu kesakitan.

Rosmayenti. Begitu warga memanggil namanya. Perawan usia 25 tahun, terkenal seantero kampung Karamba karena kemolekan tubuh dan paras dahayu yang Tuhan anugerahi. Tak ayal, berderet lelaki bertandang hendak mempersunting wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Sayang, wajah cantik tak selaras dengan tuturnya saat lelaki datang meminang. Rangkaian kata menghunus ulu hati acapkali terlontar dari bibir bergincunya. Menolak mentah dengan kata-kata pedas adalah hal lumrah baginya.

Hide. Satu di antara puluhan lelaki yang kerap mendapat perlakuan semena-mena dari Rosmayenti. Pria yang telanjur jujur mengungkapkan segala isi hati, malah disiram cerca-maki karena profesinya hanya penjual kayu bakar. Diusahakan Hide meredam hati yang memanas. Bergeming. Lelaki piatu tersebut memutuskan pergi tanpa wacana walau sepatah kata. Setiba di rumah, sengaja dia menutup rapat kejadian merendahkan harga diri, pada bapak yang begitu dihormati. Enggan Hide berbagi pilu dengan bapak yang turut dihina Rosmayenti. Suasana duka seratus hari kehilangan istri masih membekas basirah. Tentu ia tak mau menambah rasa sakit, jika dia bicara perihal apa yang dialaminya. Namun, saat wajah Hide tampak murung, justru bapak menenangkannya. Hide sedikit heran karena hal itu, dia coba menelisiknya mengapa bapak tampak tenang, tetapi diurungkannya, karena dia pikir itu bukan sesuatu yang buruk, justru dia menganggap apa yang ditunjukkan bapak melegakan hatinya. Hanya pada Mandaro, kawan karibnya, Hide menumpah-ruahkan segala isi hati.

Malam ini, langit tidak mengumbar banyak bintang. Hide yang dihubungi temannya agar menyegerakan langkah ke rumah ini, ternganga begitu melihat Rosmayenti berjingkrak tanpa busana, berkelakuan serupa binatang. Kemudian pikirannya mengembara, menjajaki setiap jengkal kejadian tujuh hari lalu.

“Pernah kau dengar tentang gasing tengkorak, Hide?” Mandaro melempar pertanyaan setelah mendengar semua yang Hide ceritakan. Kening Hide mengerut diiringi gelengan kepala, memberi isyarat bahwa dia tak paham dengan apa yang Mandaro ucap.

“Gasing tengkorak adalah gasing yang dibuat dari tengkorak jidat manusia yang mati berdarah,” tutur Mandaro. Ditatap seriusnya Hide yang mendengar dengan saksama.

“Almarhum kakek pernah bercerita tentang lelaki tua yang memiliki gasing tengkorak di kampung kita,” kata Mandaro melanjutkan obrolan.

“Lalu? Apa gunanya gasing tengkorak untukku, hah? Aku ini jatuh cinta, bukan ingin bermain gasing layaknya anak kecil.” Hide mengeluh kesal. Dihempas paksa tubuhnya pada kursi kayu bercorak kuno.

“Dasar bodoh! Tak tahukah kau cerita tentang gasing tengkorak yang mampu membuat wanita idaman kau menuruti maumu, hah?”

“Edan. Mana mungkin aku lakukan hal macam itu untuk taklukkan Rosmayenti?” ucap Hide. Ditekannya pemantik hingga mengeluarkan api kemerahan. Dia menghisap tembakau kuat sampai bara api meremang.

“Jangan naif, Kawan. Aku bisa saja mengantarmu ke rumah lelaki tua pemilik gasing tengkorak. Kakek bilang bahwa ia telah menurunkan ilmu gasing tengkoraknya pada seseorang.” Mandaro menyeruput  dan merasakan sejenak kopi tanpa gula mengalir, membasahi tenggorokan, lantas kembali angkat bicara.

“Kakek tak pernah bilang kepada siapa lelaki tua itu mewarisi ilmu gasing tengkorak. Kau dan aku bisa bertanya langsung pada lelaki tua tersebut.”

“Lalu?”

“Kita temui pemilik gasing tengkorak yang baru dan meminta agar Rosmayenti tunduk padamu.”

“Memangnya di mana rumah lelaki tua itu?”

Rimbo Data.”

Mereka beradu pandang. Bergeming. Hide hafal jalan menuju rimbo data. Beberapa kali bapaknya mengajak dia ke hutan lebat itu, mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Tetapi, Hide tidak mengetahui ada sebuah rumah di hutan yang lengang. Bapak juga tidak pernah bercerita. Barangkali terlalu sibuk dan fokus memilih kayu untuk keberlangsungan hidup.

Pikiran Hide menerawang, mengingat cerca-maki yang Rosmayenti lontarkan, tidak hanya padanya, tapi juga pada bapaknya. Untuk sesaat, darah dendam mengaliri tubuh Hide, namun raib begitu ia mengenang mendiang ibu yang selalu tanamkan nilai-nilai agama.

Mandaro mengambil secarik kertas dan pena bertinta biru. Ia nodai kertas itu, lalu menaruhnya di meja cokelat bermotif dedaunan.

Netra Hide tertuju pada kertas coretan Mandaro yang tertulis ‘Denah Lokasi Rumah Lelaki Tua Pemilik Awal Gasing Tengkorak’. Hide diam. Satu sisi ia menginginkan Rosmayenti, tapi di lain sisi, ia teringat mendiang ibu. Air muka Hide menampakan kebingungan yang sangat.

Rosmayenti kian meradang. Ia menerkam dan menerjang siapa saja yang ingin mendekatinya. Wanita paruh baya yang berniat menutupi tubuhnya dengan sarung, langsung dicekik hingga tak mampu memekik. Beruntung warga bisa melerai. Nahas, beberapa pemuda yang melerai malah dilempari apa saja oleh Rosmayenti. Tatapannya mendelik ke sekeliling, ia mulai menghalau orang-orang yang awalnya diacuhkan. Mereka ketakutan dan berhamburan, tak mau menjadi korban keberingasan wanita angkuh ini.

Pintu kamar telah dikunci Rosmayenti. Derap langkah warga perlahan menjauh, kembali ke-rumah masing-masing. Meninggalkan Rosmayenti yang terus saja mengerang.

***

Hide mengayuh sepeda begitu terburu. Kertas denah pemberian Mandaro digenggam erat. Ia mulai menapaki hutan rimbo data, membelah jalanan yang ditumbuhi banyak pepohonan besar, juga tinggi. Hawa dingin pagi langsung memagut tubuhnya, serta-merta menghujam wajah penasaran lelaki penjual kayu bakar itu.

Hide memutuskan tidak ingin menuruti saran Mandaro untuk menjadikan gasing tengkorak sebagai media menganiaya Rosmayenti dan patuh padanya. Hide hanya berencana menemui lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak, memastikan apakah ada orang lain yang telah mendatangi lelaki tua tersebut. Dia juga hendak menanyakan siapa gerangan pemilik gasing tengkorak yang baru. Menguliti semua hal secara tuntas.

Rasa keingintahuan yang membuncah, membuat Hide semakin menambah kecepatan menga-yuh. Ia mau penderitaan Rosmayenti segera berakhir, walaupun kelakuan gadis berambut pirang itu malah membuatnya menderita. Belum pernah Hide menyayangi wanita begitu tulus, kecuali sayangnya pada Rosmayenti saat ini. Dia juga tidak mau gadisnya merasa sakit lagi.

Hanyalah gubuk reot beratapkan ijuk yang dilihat Hide di lokasi denah. Di sekeliling rumah tumbuh banyak ilalang, hal itu yang membuat Hide tak hirau sebelum-sebelumnya.

Pintu gubuk dibuka lebar seperti menunggu kedatangan tamu. Hide berencana masuk, tapi terhenti ketika melihat Rosmayenti yang berjalan perlahan menuju gubuk. Hide segera menyembunyikan diri di sisi kiri gubuk, memerhatikan langkah Rosmayenti yang memasuki gubuk.

Pintu gubuk ditutup saat Rosmayenti masuk. Hide mengendap-ngendap. Hide mengintip dari lubang gubuk yang ada. Dia melihat lelaki mengenakan topeng tengah memainkan gasing tengkorak. Gasing yang bertali kain kafan terus berputar diiringi sayup nyanyi samar. Asap mengepul dari kemenyan yang dibakar di dalam batok tempurung. Lelaki itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tumpul begitu melihat kedatangan Rosmayenti. Dengan wajah penuh kemenangan lelaki itu berkata, “Ini ganjaran untukmu karena telah berani meludahi wajahku tiga hari lalu.”

Lelaki itu memerintahkan Rosmayenti untuk berbaring pada kasur tipis yang telah disediakan. Rosmayenti bagaikan boneka hidup yang menuruti saja kemauan lelaki bertopeng. Dengan beringas, dia mulai menggerayangi tubuh Rosmayenti.

Tak tinggal diam, Hide berniat menghentikan perbuatan itu. Namun, belum sempat hal itu dilakukannya, lidah Hide terasa kelu, hatinya getir, badan serasa kaku ketika melihat lelaki itu melepas topengnya dan mencium bibir Rosmayenti.

B … ba … bapak,” ujarnya terbata. Masih sulit hati Hide memercayai lelaki itu ialah orang yang dikenal, disayang, dan sangat dihormatinya.

Seseorang menepuk pundak Hide dari belakang. Segera Hide membalikkan badan. Di depannya berdiri seorang kakek dengan tongkatnya. Dialah lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak. Dia menatap Hide tajam sembari menyisir jenggot yang telah memutih, lalu berkata, “Apa yang kau lakukan di gubuk yang telah aku wariskan kepada muridku?”


Siska Amelia, beberapa tulisannya pernah memenangkan lomba, yang terbaru adalah cerpen berjudul ‘Palasik’, menjadi juara favorit lomba menulis cerpen nasional yang diadakan lomba online tahun 2020.

Cerpen

Kari

Cerpen Sasti Gotama

Saya benci kari. Namun, hari ini saya terpaksa memasaknya. Kari yang saya maksud bukan kari ala India, tapi kari ala Indonesia. Shanti, kekasih saya yang memperkenalkannya. Ia berasal dari sana. Namun, seperti kari Indonesia yang menyimpan potongan ayam di balik kentalnya kuah santan, Shanti menyimpan banyak kisah rahasia yang dapat membakar isi koran lokal Warburton di musim salju yang beku.

Musim dingin di Warburton sangat menyedihkan. Kota yang berjarak tujuh puluh dua kilometer dari Melbourne ini di musim panas saja sudah sepi, apalagi di musim dingin seperti sekarang. Beberapa jalanan ditutup dan digunakan oleh anak-anak untuk berseluncur atau bermain bola salju.

Di salah satu jalan utama Warburton itulah, pertama kali saya bertemu dengan Shanti. Suatu hari di musim gugur, ia menggelar lapak makanan Indonesia dalam bazar komunitas. Kala itu, ia terlihat cantik sekali. Rambut hitam panjangnya sesekali dipermainkan angin  sehingga melayang menutupi matanya. Kulitnya yang sewarna kulit gandum tampak begitu menggoda. Bibirnya yang setebal bibir Kim Kardashian tampak sensual. Serasi dengan gaun merah berpotongan rendah yang dikenakannya.

Ia yang menyapa saya lebih dulu kala itu.

“Hai, Tuan. Anda harus mencoba kari kami.”

Awalnya saya tak peduli. Saya takut ternyata ia tak memanggil saya, melainkan lelaki lain di sekitar saya. Saya terbiasa tak terlihat, serupa hantu gentayangan. Namun, ia sepertinya tak menyerah. Ia keluar dari stan dan menghadang saya.

“Kari kami istimewa, Tuan!” katanya dalam bahasa Inggris beraksen Asia. “Ini khas Indonesia,” lanjutnya.

“Apa istimewanya?”

“Kari kami tidak sepekat kari India atau Malaysia. Selain itu juga banyak khasiatnya. Kami menggunakan daun jeruk dan serai segar. Bagus untuk daya tahan tubuh terutama di musim gugur seperti ini.”

“Saya tak suka masakan Asia.”

“Anda belum mencoba.”

“Saya tak ingin mencoba.”

“Anda harus mencoba. Aku beri cuma-cuma.” Ia memandang saya penuh arti. Pupilnya langsung tertuju pada mata saya.

Ia menarik tangan saya menuju stannya dan memberikan satu wadah plastik berbentuk bundar yang saya yakini bukan khusus untuk mengemas makanan. Pastinya kari di dalamnya sudah berubah menjadi makanan beracun yang 
terkontaminasi BPA.

“Aku yakin Anda akan menyukainya. Trust me!” Ia meletakkan bungkusan itu di tangan saya, lalu tersenyum puas.

Sesampai di rumah, bungkusan itu langsung saya lempar ke keranjang sampah. Buat apa? Hanya sekumpulan racun yang akan menyebabkan sel-sel saya bertransformasi menjadi sekumpulan alien ganas.

Namun, esoknya kami bertemu lagi di rumah makan tempat saya biasa sarapan. Rupanya ia bekerja sebaik pramusaji di sana. Ia yang mengantarkan kopi dan panekuk saya.

“Bagaimana karinya?” tanyanya. Hari itu ia memakai pakaian kasual: kaus putih sederhana dan jeans, membuatnya tampak lebih menarik. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda.

“Lumayan,” gumam saya. Saya harap, ia tak punya antena untuk mendeteksi kebohongan. Sebetulnya, saya ingin ia segera menyingkir dari saya.

“Ah, syukurlah. Itu pertama kali aku memasak kari. Biasanya ibuku di Indonesia yang memasaknya. Ia pandai membuat kari. Aku terpaksa belajar kilat membuatnya gara-gara teman satu apartemen memaksaku untuk mengisi stannya.”

Dalam hati, saya mengucapkan syukur banyak-banyak, lolos dari jebakan menjadi kelinci percobaannya.

“Jika Anda suka,  akan kubuatkan lagi. Besok aku antar ke rumah Tuan.”

Oh, tidak! Saya harus membuat alasan. Tapi saya urungkan niat saya. Gadis ini cukup menggoda. Ia sedikit membungkuk di depan saya sehingga dadanya agak terbuka.

“Boleh. Rumah saya di pojok sana.” Saya tunjukkan rumah bercat kelabu  yang tak jauh dari rumah makan ini. Terlihat jelas dari jendela di hadapan saya. “Dan, panggil saya Mark, jangan Tuan.”

Gadis itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Shanti,” katanya.

Sejak kejadian setahun lalu itu, kami semakin sering bertemu. Ia kadang mampir ke rumah membawa semangkuk kari, menaruhnya di pantri, dan membiarkannya mendingin sembari kami berbincang. Dan saya selalu membuangnya setelah Shanti pulang.

Ia gadis yang pintar. Bahasa Inggrisnya cukup lancar. Banyak hal yang ia ceritakan, termasuk awal mula ia datang ke Warburton.

“Aku ingin melihat salju.”

Sudah kukatakan, alasannya  aneh. Tapi mungkin sama anehnya dengan alasan kami, warga Warburton, ke Bali hanya karena ingin berjemur di bawah sinar matahari.

Namun, tak lama, alasan Shanti ini berubah. Tepatnya setelah saya memberikan kunci duplikat dan menyilakannya tinggal di rumah.

“Aku melarikan diri,” katanya sambil bergolek malas di tempat tidur, memunggungi saya.

“Dari apa?”

“Pembedaan. Pengucilan.”

“Di?”

“Di rumah, lingkungan, kota, negara, semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Ia berbalik badan dan melihat saya dengan mata redup. “Saat lahir, namaku Santo. Padahal, sejak berumur lima tahun, aku merasa sebagai Shanti. Dokter membantuku mengubah cangkang.”

Ia mengatakannya dengan lugas, satu menit sebelum kami bercinta. Hasrat saya sudah memuncak sebelum ia mengatakan hal itu, jadi untuk apa saya menghalangi  apa yang tertunda? Saya tak pernah dekat dengan siapa pun. Bagi saya, ia tetap Shanti yang saya kenal.

Di lain kesempatan, ia juga mulai terbuka tentang perasaannya. Malam itu kami sedang duduk di sofa,  menonton film Pursuit of Happiness.

“Aku  juga ingin bahagia,” bisiknya. Tangannya terbenam dalam mangkuk besar berisi popcorn.

“Berbahagialah.”

“Iya. Kupikir sekarang aku bahagia. Tidak seperti dulu.”

“Kenapa?”

“Karena dulu tidak ada yang mau mengerti. Menurut mereka, aku harus seperti cangkangku. Padahal, aku bukanlah kelomang yang bisa mudah berpindah cangkang. Jika cangkangnya sudah tak sesuai, ia bisa mencari cangkang siput, tutup botol, atau kerangka bulu babi.”

“Hmm ….” Saya tidak terlalu peduli dengan ceritanya. Mata saya lebih fokus ke akting Will Smith yang membosankan.

Shanti menyandarkan kepalanya di lengan kiri saya.

“Di negara asalku, mereka hanya melihat ini sebagai dosa, tanpa peduli apa yang kurasa. Misalnya ini pun memang dosa, lebih baik Tuhan yang menghukumku, karena Dia yang menciptakan dan tahu betapa berat cobaan yang kuhadapi. Aku pun tak ingin seperti ini. Sudah berkali-kali kucoba berlaku seperti cangkangku. Tapi, aku tak mampu.”

Sepertinya ia menangis. Suaranya bergetar. Namun, akting Will Smith yang memuakkan lebih menyita perhatian saya. Memang kenapa kalau dulu ia menderita? Toh, semua telah dilewatinya. Sekarang ia bebas menjadi apa saja yang ia mau.

“Kadang aku iri dengan yang senasib denganku di belahan dunia lain. Di sana, paling tidak mereka masih dianggap manusia. Mereka bisa menjadi pegawai pabrik, pilot, bahkan pramugari. Tapi, aku cukup bahagia saat ini. Hanya saja, aku rindu kampung halaman. Rindu kari buatan ibu.”

Tiba-tiba ia bangkit. “Akan kubuatkan kari!” ucapnya dengan suara serak yang diriang-riangkan. Jemarinya yang lentik mengusap air mata hingga tanpa sisa. Ia segera beranjak ke dapur. Aduh, sepertinya saya harus pura-pura tertidur atau mati saja sekalian. Saya benci kari!

***

Setelah enam bulan bersama, lambat laun ia mulai berubah. Semakin lama ia semakin mengekang. Bahkan untuk hal-hal kecil yang tak penting.

Misalnya saat kami berbelanja di supermarket kota untuk mengisi kulkas kami yang kosong. Ia mempertanyakan mengapa saya tak mau menggandeng tangannya.

“Apakah kamu malu terlihat bersamaku?”

Saya menggeleng. Ayolah, ini bukan masalah malu atau tidak. Memang inilah saya, biasa tak terlihat. Rasanya tidak nyaman, menunjukkan kemesraan di tempat umum. Namun, hal ini membuat Shanti berpikir lain. Ia mengomel di sepanjang lorong-lorong supermarket. Ia mengambil barang-barang di rak dengan kasar dan mencampakkannya ke keranjang belanjaan. Beberapa orang di sekitar memandangi  kami. Saya merasa risih. Saya paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Apalagi di kota kecil seperti ini. Sudah saya katakan, hal-hal kecil bisa  membakar halaman-halaman gosip koran lokal.

Sifat paranoidnya semakin menjadi. Ia banyak menuduh saya ini dan itu. Saya pikir, ini berasal dari pikirannya sendiri. Ia merasa tidak aman hanya karena ketakutan-ketakutannya sendiri, bukan karena sesuatu yang nyata.

Puncaknya saat ia menuduh saya berselingkuh dengan rekan kerja saya di perpustakaan kota. Ayolah, saya ini hanya bayangan, tak menarik perhatian. Hanya pria paruh baya yang hampir botak dan membosankan. Tak ada yang melihat saya. Sheila, rekan kerja saya yang berdada rata dan berkaca mata itu paling hanya menanyakan katalog-katalog buku tersimpan di mana. Wajahnya juga biasa saja. Keunggulannya hanyalah ia benar-benar wanita. Namun, hal sederhana ini cukup menyulut kemarahan Shanti.

Saat marah, ia seperti beruang. Ia akan melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya. Matanya melotot dan wajahnya berubah merah padam. Ia  banyak memaki dan menggeram.

Seperti pagi ini, ia kalap saat menemukan pesan dari Sheila yang mengharapkan kedatangan saya di pesta ulang tahunnya. Shanti mengamuk dan melempar semua benda di sekitarnya. Termasuk sebuah asbak dari kayu, oleh-oleh teman saya saat ia pulang berlibur dari Bali. Asbak itu cukup berat, dan sukses menghantam sisi kanan kepala saya.

Saya marah! Sudah banyak yang saya korbankan untuknya. Uang yang cukup banyak untuk menutup semua utang-utangnya, juga perlindungan dari jerat deportasi. Saya juga mendengarkan semua keluh kesahnya yang tak penting. Seharusnya ia berterima kasih atau bahkan menyembah saya sebagai dewa penyelamat. Tapi, rupanya ia hanya memandang saya sebagai alat. Atau lebih tepatnya saya diperalat olehnya.

Makanya, hari ini saya harus memasak kari. Harum rempahnya akan menutupi proses pembusukan. Baru kaki dan tangannya yang saya masak. Kepala dan organ dalamnya masih di kotak pendingin. Atau mungkin saya harus coba memasak rendang?


Sasti Gotama, seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi. Beberapa cerpennya telah tersiar di media massa cetak maupun online.