Belakang

HILANG DAN PEMBACA

Satu atau dua lembar hilang, pembaca merasa di jalan yang sesat. Lembaran terlalu penting bagi pembaca yang ingin mendapat judul, nama pengarang, penerbit, dan tahun terbit. Yang terjadi adalah lembaran-lembaran yang memuat keterangan penting justru hilang.

Pembaca hanya menduga buku itu tua. Ia masih berusaha menemukan tanda-tanda dalam buku berupa stempel atau coretan. Ada coretan menggunakan pensil tapi kata-kata tidak terbaca. Rupa tulisan sudah kabur. Buku kecil yang tanpa judul. Buku kehilangan nama pengarang. Buku yang tidak bisa menerangkan penerbitnya. Apakah pembaca menyerah dan memilih buku itu tertutup selamanya?

Kehilangan yang menyedihkan adalah sampul. Yang tampak, sampul buku gantian masih ada. Sampul yang asli hilang. Sialnya, sampul gantian tanpa keterangan. Sampul dan lembaran-lembaran yang hilang tidak untuk ditangisi semalaman. Buku itu mengabarkan kehilangan-kehilangan.

Buku masih bisa dibaca di bawah lampu dengan sinar berwarna kuning atau memilih terkena sinar matahari saat pagi. Buku itu hasil dari kesaktian mesin cetak. Pada awal abad XX, mesin cetak berhasil mengubah lakon tanah jajahan. Mesin menghasilkan beragam bacaan, yang mendatangi orang-orang untuk mengetahui cerita, sejarah, teologi, politik, perdagangan, pendidikan, asmara, dan lain-lain. Di tanah jajahan, mesin cetak yang berisik mencipta “suara-suara” yang menimbulkan “badai” atau “guncangan”. Orang masih meragu boleh membuka matanya selama tiga jam untuk membaca tulisan-tulisan Ben Anderson.

Dulu, mesin cetak itu biasanya dimiliki oleh orang-orang Eropa atau peranakan Tionghoa. Mereka berani menggerakkan modal dalam menghasilkan bacaan-bacaan. Mesin yang menjadikan huruf-huruf di kertas menimbulkan seberan iman, sengketa ideologi, keinsafan sejarah, dan hiburan mendunia.

Pembaca perlahan yakin bahwa buku yang kehilangan sampul dan beberapa lembar itu hasil dari mesin cetak yang diurus peranakan Tionghoa. Penulis buku pastinya peranakan Tionghoa. Penerbit pun menjelaskan kekuatan bisnis bacaan awal abad XX.

Apa yang masih bisa digunakan sebagai bukti bila buku itu masuk dalam derasnya arus bacaan dari kaum peranakan Tionghoa di tanah jajahan? Pembaca malu-malu menunjuk tema dan bahasa “Melajoe” yang digunakan dalam buku. Isi buku mengenai “ilmoe petangan”, yang disajikan melalui “sjair”. Buku bercitarasa sastra. Pembaca mulai ikhlas tidak mengetahui judul, nama pengarang, dan penerbit. Yang terpenting ia bakal klenger membaca “sjair” di seratusan halaman.

Pembaca pilih-pilih kutipan, yang mudah dimengerti dan membenarkan bahwa buku ditulis oleh “orang jang berilmoe”. Kutipan yang memasalahkan nasib atau peruntungan: Beli pisang dari Blitoeng/ Belon beboewa soeda berdjantoeng/ Di dalem kitab soeda diitoeng/ Angkauw berdagang misti beroentoeng. Buku menjadi bacaan orang-orang yang berdagang tapi membutuhkan pengetahuan dan pijakan. Percayalah buku itu laris dan diakui berfaedah bagi para pembacanya yang berdagang atau menunaikan beragam pekerjaan. Yang terpenting adalah “beroentoeng”. Pikirkanlah kerja yang beruntung, bukan pisang yang bisa digoreng atau direbus!

Berlimpahnya “sjair” dalam buku menimbulkan kebingungan untuk memilih. Yang terbaca adalah “sjair” dalam bahasa “Melajoe” yang dicap pasar atau bahasa “Melajoe” yang biasa digunakan kaum peranakan Tionghoa. Kutipan yang terpilih lagi: Kauw maoe taoe artinja kakedoetan/ Boekannja iblis atawa setan/ Dalem dua atau tiga hari poenja boewatan/ Kau misti trima oewang soeda kliatan. Masalah peruntungan memiliki tanda-tanda. Jadi, “sjair” itu mengingatkan gairah atas peruntungan menentukan lakon perekonomian di tanah jajahan. Bisnis tidak selalu berlogika tapi peruntungan sangat penting.

Orang yang sulit tidur mendingan membaca “sjair” berjumlah ratusan. Dibaca pelan-pelan sambil menikmati nada dan rasa bahasa masa lalu. Kata-kata yang digunakan dalam “sjair” berulang-ulang dan polanya sering sama. Yang membaca mungkin “dibunuh” jenuh tapi keinginan mengerti yang silam dapat membuatnya bertahan sampai bulan sabit mengalamai kesepian di dini hari.

“Sjair” yang dibaca: Pengliatan ini terlaloe heran/ Djangan angkauw boeat koeatiran/ Angkau oentoeng dengen atoeran/ Dari sebab mengimpi poenja lantaran. Di situ, ada mimpi. Konon, ilmu tua dinamakan tafsir mimpi. Dulu, kita mudah menemukan buku-buku mengenai tafsir mimpi yang dijual di pasar malam, terminal, makam, dan kios koran. Buku itu biasanya kecil, kertas buram, sampul yang norak, dan harganya murah. Sejak dulu sampai sekarang, tafsir mimpi masih diminati banyak orang. Di mimpi, orang bisa membayangkan dirinya kaya atau dijerat kemiskinan. Mimpi yang memberi tanda-tanda agar diwujudkan atau berlalu dan terlupa saja.

 Siapa pembaca buku itu pada masa lalu? Pembaca yang memiliki pengetahuan sastra, bisnis, sosial-kultural, dan teologi? Pembaca yang menikmati “sjair” sebenarnya sedang belajar beberapa hal, yang mudah atau sulit terpahami. Maka, yang membaca bisa membicarakan dengan keluarga atau teman. Mereka bisa sedikit berdebat sesuai pilihan “sjair” dan kepentingan-kepentingannya. Buku dapat pula sebagai pedoman pengajaran bagi orang-orang yang ikut kursus mengubah nasib. Mereka diajak memikirkan “sjair” yang sakti dan meyakini bakal ada yang terwujud.

Buku itu mungkin tidak pernah terbaca oleh Roestam Effendi, Amir Hamzah, Soetan Takdir Alisjahbana, dan Sanoesi Pane. Buku memang mengambil bentuk “sjair” belum tentu diinginkan oleh kalangan terpelajar dan pengarang. Buku itu bukan selera kaum pergerakan politik kebangsaan. Jangan percaya bila buku dibaca oleh Tan Malaka, Soekarno, Mohammad Hatta, atau Soetan Sjahrir. Namun, buku tetap memiliki banyak pembaca tanpa harus “diejek” atau “dituduh” seleranya rendah. Penerbitan buku yang sejak halaman awal sampai akhir adalah “sjair” sudah keberanian dalam mengandaikan penerimaan dan pemahaman pembaca.

Kini, kondisi buku tidak lagi utuh. Dulu, buku itu dipegang oleh beberapa orang di tenpat-tempat yang berbeda. Buku kecil yang melewati waktu dan tempat. Di tangan pembaca yang memiliki kepentingan-kepentingan berbeda, lembaran-lembaran buku dibuka untuk dibaca. Akibatnya, ada lembaran yang terlipat rusak, ada lembaran mendapat coretan-coretan menggunakan pensil, ada lembaran yang robek.  

Yang membaca pada masa sekarang berhadapan dengan bahasa yang tidak hidup lagi. Bahasa lama yang “menyulitkan” sekaligus memberi ikatan agar pembaca memiliki masa lalu. Gubahan “sjair” yang disajikan pengarang pun susah ditaruh dalam arus kesusastraan yang mendapat perhatian dalam pertimbangan estetika atau politis. Buku tidak diniatkan sebagai persembahan sastra tapi kesengajaan menggunakan “sjair” agar unik dan menghasilkan renungan-renungan tak berkesudahan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

GURU ITU BUKU

Para pembaca novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia masa 1920-an dan 1930-an mungkin enggan membuat album ingatan. Konon, pelajaran di sekolah dan omelan para kritikus sastra mengakibatkan kita malas memuliakan sastra bercap Balai Poestaka atau Poedjangga Baroe. Kita capek membaca gara-gara bahasa: ejaan dan gaya. Kita pun dibikin bosan: pengulangan tema atau pemuatan hal-hal yang tidak penting tapi bikin sesak cerita.

Siapa yang masih merawat ingatan setelah membaca novel-novel masa 1920-an dan 1930-an? Yang teringat mungkin nama-nama tokoh dalam cerita selain judul-judul novel (roman). Kini, novel-novel itu makin kehilangan pembaca walau Balai Pustaka beberapa tahun lalu tetap mencetak ulang dengan garapan sampul baru yang jelek dan salah.

Para pembaca yang masih sabar mengasuh masa lalu dan memuliakan novel-novel bisa membuka ingatan untuk membuat catatan-catatan (tidak) penting. Maksudnya, yang teringat lekas dicatat agar bisa dipikirkan sejauh satu meter atau cukup sepanjang penggaris milik murid SD.

Kita berharap ada pembaca yang mencatat jenis-jenis pekerjaan yang terkandung dalam novel. Bayangkan ada orang membaca selusin novel masa 1920-an dan 1930-an. Ia mencatat nama para tokoh dan pekerjaannya. Maka, kita bisa menduga ada kebiasaan para pengarang memunculkan tokoh yang bekerja sebagai guru.

Novel-novel dari masa lalu mengingatkan guru. Pada awal abad XX, pekerjaan sebagai guru memberi kehormatan. Namun, kita memikirkan lagi: guru itu bekerja di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, perkumpulan atau partai politik, atau komunitas agama. Kemunculan guru berbarengan modernitas dan perwujudan Politik Etis. Yang bekerja menjadi guru adalah sosok-sosok yang berilmu. Ia pun wajib memiliki kesopanan, keberpihakan ideologi, dan mengerti gejolak zaman.

Jadi, tokoh sebagai guru muncul dalam berapa novel yang diterbitkan Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir, sejak masa 1920-an? Tugas kita bukan berhitung dan memberi bukti-bukti. Kita meyakini saja bila guru sering dihadirkan dalam novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Para pengarang masa lalu pun ada yang pekerjaan tetapnya adalah guru.

Yang mengisahkan dan menjelaskan guru bukan cuma novel. Buku-buku bertema pendidikan dan guru juga gencar diterbitkan di tanah jajahan, sejak awal abad XX.  Kita yang masih mau lelah membaca gara-gara bahasa dan tidak takut bersin-bersin saat membukan lembaran kertas lawas berdebu bakal menemukan masa lalu dan berdekatan dengan sosok guru.

Buku masih terpegang tangan berjudul Ngelmoe Goeroe. Yang kita hadapi adalah buku berbahasa Jawa. Artinya, buku yang dapat memberi imbuhan bagi kita mengenali guru selain dalam buku-buku yang berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Kita bersyukur yang terbaca adalah buku berbahasa Jawa tidak menggunakan aksara Jawa. Kita bisa mencret dan pusing selama tiga hari jika harus membuka lembaran-lembaran beraksara Jawa.

Buku berjudul Ngelmoe Goeroe disusun R Soedjanaredja, yang berstatus “mantri goeroe ing Karanganjar”. Guru menulis buku itu kemuliaan. Guru yang ikut memajukan usaha pengajaran dan pendidikan membuktikan keseriusan mengubah nasib tanah jajahan.

Buku terbit 1931 berkaitan debat panjang dan pelik mengenai kebijakan pemerintah kolonial terhadap sekolah dan guru partikelir. Guru-guru dicurigai ikut bikin kacau dan keruh gara-gara berpolitik dan melakukan serangan terhadap kolonialisme.

Arti di Jogjakarta, perusahaan yang menerbittkan buku memiliki harapan: “Soemebaripoen serta poenika tamtoe bade mewahi gamblangipoen para goeroe ing pamoelangan alit anggenipoen nindakake padamelan.” Buku petunjuk atau pedoman yang membuat para guru dapat mengajar secara baik dan benar. Buku diakui penting agar pengajaran menemukan hasil-hasil yang diharapkan.

Soedjanaredja menjelaskan jenis-jenis buku atau “lajang” yang digunakan dalam pengajaran di sekolah. Yang pertama disebut “Leerboek”. Keterangan: “Lajang piwoelang ngelmoe boemi, ngelmoe etoeng, woelang basa lan lija-lijane. Kabeh isi kawroeh kang oeroet-oeroetan (samboeng-sinamboeng) kang preloe disinaoe dening moerid.” Buku yang dimaksud adalah yang memuat ilmu bumi, ilmu hitung, pelajaran bahasa, dan lain-lain. Murid-murid mempelajarinya secara berkesinambungan dan berjenjang.

Yang kedua adalah “Leesboek”. Soedjanaredja mengartikan itu “lajang watjan” atau buku bacaan, yang berbeda dengan buku pelajaran. Buku yang dimaksud adalah huku yang berisi “tjarita kang roepa-roepa kang ora mesti oeroet-oeroetan.” Buku memuat cerita-cerita, yang cara menikmatinya berbeda dari buku pelajaran. Biasanya “lajang watjan” mengisahkan lakon kehidupan bocah atau binatang. Cerita-cerita sederhana yang memikat dan merangsang murid belajar banyak hal dalam sukacita.

Yang ketiga disebut “Leerlesboek”. Buku yang digunakan dalam mengajar yang tidak harus urut atau bersambungan tapi menerangkan ilmu-ilmu yang dipelajari murid sekaligus membuat mereka lancar dalam membaca.

Kita penasaran dengan beragam buku yang terbit pada awal abad XX. Buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah demi sumpah maju dalam peradaban. Buku-buku terbit dalam bahasa Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, dan lain-lain. Ingat, sejarah pendidikan di Indonesia adalah sejarah kertas-kertas atau buku. Yang terpenting sejarah memberi peran besar kepada guru.

Di buku lawas hampir berusia seratus tahun kita menemukan halaman-halaman mengenai pelajaran menulis huruf Latin. Dulu, anak-anak di tanah jajahan yang ingin “madjoe” mesti mengetahui huruf Latin. Surat kabar dan buku-buku yang terbit di zaman “kemadjoean” sering berhuruf Latin. Yang ingin mengetahui zaman dianjurkan bisa membaca dan menulis berhuruf Latin. Modernitas itu datang dari Barat, yang mengubah tanah jajahan melalui huruf dan bahasa.

Yang tidak terlewat adalah pengajaran untuk menulis berhuruf atau beraksara Jawa. Dua hal yang berbeda. Murid-murid memiliki kesulitan yang berbeda agar mahir menggerakkan jari dan alat tulis di atas kertas. Jadi, murid-murid yang bisa menulis (Latin atau Jawa) diharapkan memiliki masa depan yang terang. Mereka memiliki bekal untuk bekerja. Yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan yang cukup mapan, yang memerlukan kaum terpelajar atau penerapan ilmu-ilmu.

Bab penting lagi yang ikut memajukan pendidikan di tanah jajahan adalah bercerita. Di halaman 83, Soedjanaredja menjelaskan masalah pengajaran bercerita atau “piwoelang tjarita”. Tujuan guru mengajarkan bercerita: “soepaja moerid seneng atine, soepaja kawroehe moendak, soepaja kelakoeane dadi betjik, soepaja basane moendak betjik, nipisake goegon toehon, bisa mbedakake ala lan betjik, bisa goeneman kang ganep.”

Kita mengartikan bahwa memberi cerita kepada murid-murid itu berkaitan dengan pengetahuan, perasaan, berbahasa, tingkah laku, dan lain-lain Cerita-cerita dianggap mudah diterima dan berkesan kepada murid-murid. Dampaknya besar ketimbang selalu memberi perintah dan larangan dalam pembahasaan resmi.

Yang kita buka adalah halaman-halaman buku lawas, yang mungkin tidak digunakan lagi pada masa sekarang. Buku yang diperoleh adalah jilid dua. Di mana buku yang jilid satu? Apakah buku masih ada di Indonesia atau Belanda?

Bila beruntung buku-buku seharusnya tersimpan oleh anak-cucu-cicit Soedjanaredja. Mereka pasti kagum memiliki leluhur yang guru dan sanggup menulis buku untuk pedoman pengajaran para guru di Jawa atau tanah jajahan. Pada masa lalu, guru yang menulis buku adalah manusia ampuh. Ia berada dalam arus keaksaraan yang menjadikan zaman berubah oleh bacaan-bacaan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

NEGARA: KAMUS DAN TIKUS

Negara dibuat dari kata-kata. Kalimat yang gagah tapi bisa salah. Kita tidak sedang membayangkan peristiwa membuat roti. Beberapa hal digunakan dan dikerjakan agar tersaji roti itu tampak mata. Benda-bendanya bisa disentuh dan dipegang tangan. Rasa yang bisa dicicipi. Pilihan rupa dan warna yang mengikuti selera. Padahal, selera cepat berubah jika tidak menyadari adanya ketetapan atau pembakuan.

Negara dan roti itu berbeda! Kalimat yang gampang dimengerti murid di SD, tidak perlu meminta tanggapan dari sarjana. Negara bukan dibuat dari adonan tepung, telur, coklat, dan gula. Negara bukan makanan yang disukai anak-anak. Pada situasi yang misterius, negara sangat sulit dimengerti oleh anak yang memiliki pengetahuan beragam roti: nama, harga, rasa, dan lain-lain, Negara itu tidak menarik. Yang lezat adalah roti.

Kita mengulangi lagi kalimat yang gagah mungkin mengandung salah: “Negara dibuat dari kata-kata”. Yang kita pikirkan adalah Indonesia. Ingatan sebagai negara merujuk 1945. Tahun itu memiliki kejadian-kejadian bersejarah, yang memunculkan tokoh-tokoh yang nasibnya sulit ditebak untuk mulia atau terpuruk. Indonesia itu 1945.  Negara itu teks proklamasi dan undang-undang dasar. Kita menyangka itu kebenaran yang terjadi dalam sejarah.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia,” kalimat penentuan sejarah. Yang terimajinasikan adalah tulisan tangan Soekarno ketimbang kertas berisi teks hasil mesin tik yang dikerjakan Sajoeti Melik. Sejarah ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang sedang bertumbuh dan sangat dipengaruhi oleh politik.

Pada 1945, bahasa Indonesia “beruntung” setelah Jepang membuat kebijakan mengandung dusta: pelarangan penggunaan bahasa Belanda dan “merestui” bahasa Indonesia. Ingat, yang disampaikan Jepang adalah taktik mencipta jinak, patuh, dan tertib. Bahasa Indonesia masuk dalam kepentingan membenarkan hasrat kekuasaan meski terselenggara dalam waktu yang singkat.

Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang duduk bareng dan bercakap di waktu menegangkan sebelum perwujudan teks proklamasi adalah sosok-sosok yang memiliki penguasaan beberapa bahasa. Yang pasti mereka mampu berbahasa Belanda. Kebiasaan membaca buku dan pergaulan intelektual membenarkan mereka untuk mengetahui atau menguasai bahasa Inggris, Prancis, Arab, Jerman, Latin, dan lain-lain. Di arus pergerakan politik, mereka tentu memuliakan bahasa Indonesia.

Mereka berada dalam zaman pergolakan bahasa yang ikut menentukan pembentukan Indonesia. Maka, sumber-sumber belajar beragam bahasa memberi bekal mengolah identitas dalam laju politik, yang masuk lakon besar Perang Dunia II. Yakinlah bahwa Soekarno punya keseriusan memajukan bahasa Indonesia! Percayalah bahwa Mohammad Hatta membuktikan kemahiran berbahasa Indonesia melalui tulisan-tulisan, tidak cuma pidato!

Jadi, Indonesia dibuat dari kata-kata? Sementara kita menganggap itu benar sambil melacak asal kata-kata yang akhirnya dipilih dalam penulisan teks proklamasi. Konon, bahasa Indonesia cepat bertumbuh disokong oleh pelbagai bahasa, yang berdatang sejak berabad-abad lampau. Bahasa Indonesia itu “bahasa baru”, yang bergerak lincah sekaligus salah tingkah dalam masa kolonial Belanda, berlanjut pada masa pendudukan Jepang.

Apakah membentuk negara dari kata-kata memerlukan kamus? Kita belum bisa menjawabnya secara tepat. Yang bisa dilakukan adalah mundur ke masa perang untuk menilik produksi dan penyebaran kamus-kamus. Pentingkah kamus dalam pembuatan sejarah yang bimbang dan menakjubkan?

Kita menemukan buku kecil yang memiliki judul dalam tiga bahasa: Inggris, “Melajoe”, dan Belanda. Kita sodorkan yang berbahasa “Melajoe” saja berkepentingan mengingat 1945. Buku itu berjudul “Kamoes ketjil terdiri dari 25.000 kata-kata Melajoe, Belanda, Inggeris”. Buku di tangan adalah cetakan kedua. Kita menyebutnya “Kamoes Ketjil” sambil mencarikan tempat dalam pembentukan negara (Indonesia).

Dulu, “Kamoes Ketjil” tersedia di Boekhandel Sunrise yang beralamat di Klenteng Pekapoeran 3, Batavia. Kita mengetahuinya di stempel warna merah yang terdapat di halaman awal. “Kamoes Ketjil” pernah dimiliki dan dipelajari oleh Liem Hok Soen, yang tinggal di Petjienan Keitjil 32, Malang. Buku yang pernah berada di Malang, yang disahkan melalui stempel pemilik. Pada suatu masa, buku adalah kepemilikan yang membuat orang mafhum kehormatan intelektual dan kebangsaan. 

Yang membuat buku itu mengejutkan adalah tempat terbit. Siapa pernah menyangka “Kamoes Ketjil” menghubungkan Indonesia dan Australia? Buku diterbitkan di Melbourne, Australia. Pergaulan tiga bahasa yang turut dalam lakon pembentukan Indonesia memiliki alamat yang jauh. Maka, penjual dan pemilik buku yang berada di Indonesia berarti melakukan proses yang tidak mudah. Buku datang dengan kapal menyeberangi laut atau samudera. Yang belum kita ketahui adalah harga. “Kamoes Ketjil” berasal dari Australia mungkin berharga mahal berdasarkan jalur distribusi, kualitas cetakan, dan jumlah eksemplar. Ada nama yang kita perlu mengetahui biografinya atau sumbangsih dalam keilmuan. “Kamoes Ketjil” disusun oleh N Helsloot, yang diberi keterangan: “Head Malay Department Netherlands Indies Government Information, Service, Melbourne.”

Apakah “Kamoes Ketjil” pernah dipegang oleh kaum pergerakan politik atau kaum terpelajar dalam hari-hari penentuan Indonesia, sebelum dan setelah 17 Agustus 1945? Apakah kamus itu berguna bagi para pedagang, militer, seniman, atau mata-mata? Yang pasti tahun penerbitan membuat kita penasaran dalam meragukan atau meyakini bahwa negara disusun dari kata-kata.

Di kata pengantar cetakan kedua, kita cuma mendapat sedikit keterangan. Yang kita baca adalah yang berbahasa “Melajoe”. Kamus itu belum menyebut bahasa Indonesia. Penyusun menerangkan: “Soenggoehpoen kamoes ketjil ini djaoeh dari pada sempoerna, tetapi didalam peraktek njata pergoenaannja. Kenjataan itoe tampak bahwa didalam tempoh satoe tahoen tjetakan jang pertama jang tiada sedikit banjaknja, sama sekali habis terdjoeal dan tjetakan jang kedoea dipandang telah perloe poela.” Kita menduga cetakan pertama: 1944. Penganta untuk cetakan kedua ditulis di Melbourne, 30 April 1945.

Kita mengutip paragraf yang terpenting: “Bahagian daftar kata-kata bahasa Belanda dan bahagian bahasa Inggeris pada tjetakan jang kedoea ini tiadalah beroebah. Bahagian daftar kata-kata bahasa Melajoe diloeaskan dengan kira-kira seriboe perkataan. Berhoeboeng dengan demikian, maka nama boekoe ketjil ini diganti.” Pengumuman bahwa ada penambahan jumlah yang banyak untuk kata-kata dalam bahasa “Melajoe”. Artinya, bahasa itu bertumbuh subur dalam beragam sisi hidup. Kita mengingat dua peristiwa penting menandakan perkembangan bahasa “Melajoe” atau Indonesia: Kongres Pemoeda II (1928) dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938). Pembuat buku kecil ditentukan jumlah kata, yang dibuktikan dengan pemberian judul. Bila kita membaca di judul ada 25.000 kata, yang memberi tambahan banyak adalah bahasa “Melajoe”.

Kita mulai dulu dengan mengambil satu kata dalam peengantar: “tempoh”. Di teks proklamasi (17 Agustus 1945), kita pun menemukan “tempo”. Namun, kita jangan tergesa menganggap Soekarno atau Hatta menggunakan “Kamoes Ketjil” dalam keputusan memilih diksi “tempo”. Mereka pasti sudah berurusan dengan “tempo” melalui beragam bacaan atau percakapan. Yang membedakan adalah penulisan. Di “Kamoes Ketjil”, kita membaca itu “tempoh”. Mana penulisan yang benar: tempoh atau tempo?

Kita membuka “Kamoes Ketjil”. Di halaman 56, “tempoh” dalam bahasa Belanda adalah “tijd”. Di bahasa Inggris: “time”. Konon, “tempoh” itu berasal dari bahasa Latin, yang datang dalam bahasa Indonesia lewat bahasa Italia. Terbuktilah bahasa Indonesia bertambah oleh kedatangan bahasa-bahasa dari segala arah. “Tempo” tercantum dalam teks proklamasi. “Tempo” terdapat dalam kamus-kamus. Pada suatu masa, “Tempo” dijadikan nama untuk terbitan majalah dan koran. Penulisan bukan “tempoh” seperti dalam “Kamoes Ketjil”.

1945 itu penentuan revolusi. Istilah yang sudah muncul sejak lama, akhir abad XIX atau awal abad XX. Para jurnalis, pengarang, dan tokoh politik di tanah jajahan terbiasa menulis dan berseru revolusi. Pastilah diksi itu berasal dari bahasa asing untuk diterima dalam bahasa Indonesia. Dulu, ada yang menulis “revolusi” dan “repolusi”.

Di “Kamoes Ketjil”, halaman 98, kita menemukan lema “revolution”. Kata itu diterjemahkan “pemberontakan”. Di bahasa Belanda, ditulis “revolutie”. Pada masa kolonial, “revolusi” itu bikin gejolak dan guncangan. Para tokoh atau partai politik dituduh “revolusi” biasa berkaitan dengan “radikal”, “kiri”, “pemberontak”, “komunis”, dan lain-lain.

Pada masa bergolak, Soekarno yang mengaku paling paham revolusi. Ia sering mengucap revolusi dalam pidato. Jumlah diksi revolusi dalam tulisan-tulisannya mungkin mencapai ribuan. Ia menghendaki revolusi Indonesia. Padahal, kita tidak menemukan “revolusi” di teks proklamasi. Namun, peristiwa-peristiwa sesudahnya, Soekarno sering menginginkan pengulangan dalam penggunaan revolusi. Kita bisa membayangkan itu kata paling dahsyat di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno. Kini, revolusi adalah kenangan yang tidak perlu mengikutkan adanya “Kamoes Ketjil”.

Kemarin, orang-orang membuat peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Yang dirayakan adalah teks proklamasi. “Kamoes Ketjil” cetakan kedua juga berusia 80 tahun. Apa ada yang mau membuat peringatan meski kecil-kecilan?

Yang merayakan adalah tikus. Setahun yang lalu, “Kamoes Ketjil” dibeli dan masuk menghuni rumah bersama ribuan buku. Pembeli dan pemilik sembarangan menaruh “Kamoes Ketjil”. Buku yang menua ditaruh di tumpukan buku di bawah ranjang (amben). Di situ, tikus-tikus berkeliaran, meninggalkan telek, dan berani mengencingi buku-buku. Tikus-tikus membuat “peringatan” dengan merusak punggun buku. Kain di punggung buku rusak parah. Sebagian kain mungkin masuk ke perut tikus. Sisa-sisanya berceceran.

Yang pasti, tikus tidak makan huruf. Ia hanya makan kain yang digunakan di punggung buku. Tikus tidak doyan kata-kata dalam bahasa Inggris, “Melajoe, dan Belanda. Urusannya dengan “Kamoes Ketjil”, bukan untuk belajar bahasa. Tikus pun tidak ingin menengok sejarah.

Akhirnya, buku yang berusia 80 tahun tak mulus lagi. Ia tetap tampak memikar meski terluka. Kita melihatnya sebagai kamus yang teluka, belum kamus yang terlupa. Yakinlah, jumlah kata dalam kamus tetap 25.000, tidak ada yang dimakan tikus atau dihilangkan oleh tikus. Yang payah adalah pembeli dan pemilik “Kamoes Ketjil”. Ia hampir berdosa besar saat membiarkan “Kamoes Ketjil” menjadi mangsa tikus-tikus. Ia yang berlagak mau mengerti sejarah justru biadab dalam kehancuran buku.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.