Curhat

Potong Kuku

Curhat Padmi

Sebenarnya aku tidak terlalu suka bicara. Lebih tepatnya, hal itu karena aku tidak terbiasa. Aku mengalami kesulitan saat diminta berpendapat terkait pikiranku. Berbeda ketika aku diberi pertanyaan untuk menjelaskan perbandingan siklus pergantian cuaca di negara empat musim dan dua musim. Tentu kamu tahu maksudku. Ya, aku selalu kehabisan kata untuk memahami diriku sendiri.

Aku tahu, setiap orang (tanpa kecuali) memiliki celah sama besar untuk mengalami masalah kepercayaan diri. Namun, aku butuh pendapat kalian. Apakah setelah membaca ceritaku nanti, aku sudah perlu mendapat bantuan dari tenaga profesional? Kuharap kalian bisa memberi masukan kepadaku di kolom komentar. Sungguh, itu akan sangat berarti untukku. Ucapan terima kasih saja menurutku tidak akan cukup untuk membalas kebaikanmu.

Hari ini hari Sabtu. Seperti biasa, tiga keponakanku yang masing-masing berusia sepuluh, tujuh dan empat tahun duduk di dekatku: menunggu giliran untuk ritual potong kuku.

Pertama adalah giliran F, keponakanku yang berusia empat tahun. Melihat kuku-kukunya yang mungil, menempel pada jemari gemuk, membuatku harus lebih berhati-hati. Aku sering memintanya menyanyi atau bercerita. Celotehnya membuatku sejenak lupa kalau semalam aku bertengkar dengan pacarku.

Kami menjalani hubungan jarak jauh. Aku di Surabaya, sedangkan dia di Yogyakarta. Bisa dibilang, kami jumpa tidak tentu kapan. Mungkin saat libur semester saja. Jika aku sedikit beruntung, kadang kami bisa bertemu pada kegiatan atau acara tertentu.

Semalam, aku tidak bisa membendung rinduku padanya. Aku mengirim pesan dan mengutarakan perasaanku dengan apa adanya. Bahwa aku sangat mencintainya, lalu bertanya apakah dia merindukanku juga.

“Aku memilih biasa saja,” jawabnya, seketika membuatku seperti dihempas dari tebing.

“Aku benci kata-kata seperti itu. Cukup kamu tahu di awal tentang perasaanku. Tidak perlu kamu memaksaku untuk terus mengulanginya,” lanjutnya lagi.

“Terima kasih, Tante,” ucap F dengan suara imutnya. Aku tersadar ternyata telah selesai memotong kuku F. Seperti biasa, aku akan memintanya mencium kedua pipiku sebagai imbalan jasa.

Tibalah giliran M, keponakanku yang berusia sepuluh tahun. Kukunya sangat kotor. Meski begitu, aku tetap telaten membersihkannya.

“Buruan, Tan. Aku mau mabar nih,” desak M. Dia memang si paling tak sabaran. Aku hanya menggeleng sembari tersenyum dan melanjutkan proses pembersihan kukunya. M terus saja menggerutu.

Ditemani dengan omelan menggemaskan itu, ingatan semalam kembali lanjut. Pacarku, jika sudah lama merespon pesanku, itu artinya dia sedang malas meladeniku. Aku yakin dia tetap membaca pesanku, entah dari notifikasi pesan belum terbaca. Atau memang sengaja menunda untuk membacanya. Yang pasti, aku terus memberondong dengan pesan-pesan pengharapan agar dia mau menghargai perasaanku, kemudian melontarkan kalimat-kalimat manis yang bisa menenteramkan hatiku. Tapi pacarku tak semudah itu mengalah. Dan semalam, aku berakhir meratap sendirian ditemani rasa sakit tak berkesudahan yang tidak bisa kudeskripsikan rasanya, hingga pagi. Kamu tahu, bagiku kangen memang sebangsat itu.

“Sudah, sudah, sudah. Cepetan, Tan!” omel M lagi. Kali ini aku kecolongan hingga M telah berhasil kabur sebelum aku sempat menghaluskan kukunya. Sebenarnya aku bisa saja mengejarnya, tapi tampang Z sudah memelas ingin segera kulayani. Jadi aku membiarkan M lolos dengan selamat kali ini.

Z memang selalu menjadi yang terakhir. Hal itu karena dia selalu ingin dikuteks setelah kukunya dipotong rapi. Pink, itu warna favoritnya. Aku melakukan treatment spesial sembari ngobrol dengan Z.

Bocah itu mengaku kalau sebenarnya tidak suka menunggu lama. Baginya waktu sangatlah berharga. Z hanya punya kurang dari dua hari sebelum Senin berangkat sekolah, dan aku harus kembali menghapus kuteks itu. Tentu saja karena guru kelasnya pasti marah jika melihat kukunya berwarna.

Z tersenyum bangga melihat hasil pekerjaanku. Ia berjalan meninggalkanku sembari meniup-niup lapisan warna pink penuh glitter di kukunya itu. Aku yakin sebentar lagi dia akan memamerkannya pada ibu dan neneknya. Kemudian, dia juga akan main keluar untuk menunjukkan kepada teman-teman sepermainan tentang betapa cantik kukunya itu. Z pasti akan menjadi sangat berhati-hati memperlakukan kedua tangannya.

Aku meraih ponsel milikku yang masih sepi. Pacarku tidak menghubungiku. Bahkan dia sama sekali tidak membalas pesanku, padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Mustahil dia belum bangun. Aku kesal. Karenanya aku bangkit mengambil alat potong kuku milikku yang sudah tumpul dan berkarat untuk memotong kukuku sendiri.

Entah, aku menikmati kesulitanku. Memang perlu waktu berkali lipat lebih lama jika dibandingkan dengan kegiatan potong kuku ketiga ponakanku sebelumnya. Aku merenung. Apakah lelaki memang seperti itu? Sangat mudah mengatasi masalah, dan menganggap perihal kerinduan adalah sebuah kehinaan untuk diperjuangkan?

Dengan susah payah, aku masih terus saja menekan kuku jari tengah yang telah panjang itu. Hingga refleks aku menariknya paksa dan membuat daging jari sebelah dalam nampak dan terluka. Aku meringis perih. Gegas aku menuju wastafel untuk mencuci darah yang terus menetes. Sial, begitu terkena air, aku merasa ada sengatan kecil namun terasa tajam menusuk ke hatiku. Nyeri yang sama seperti semalam. Sesuatu yang membuatku menangis tanpa air mata, namun ajaibnya, kini air mata itu sudah bisa keluar.

Aku bangga pada diriku sendiri. Kurasa, kini aku sudah menemukan cara untuk mengatasi serangan yang dianggap lemah oleh pacarku. Semakin nyeri kurasakan, maka semakin tenang hatiku. Aku bahkan sejenak lupa, kalau pacarku, mungkin sudah tidak pernah merindukanku lagi.***

Padmi

Perempuan yang takut gelap.

Curhat

Permainan Favorit

Curhat: Lintani Noor

Hari ini anakku mendapat tugas sekolah dari guru kelasnya untuk melakukan wawancara kepada orangtua tentang permainan yang biasa dimainkan ketika sekolah dulu. Ada beberapa poin pertanyaan yang sudah ditentukan, jadi anakku hanya membacakannya saja.

Pertanyaan pertama, aku diminta menyebutkan tiga permainan yang biasa kumainkan bersama teman-teman saat SD. Aku menjawab: gobak sodor, lompat tali, dan kasti. Anakku mencatat di bukunya.

“Mengapa Ibu suka memainkan permainan itu? Sebutkan satu saja alasannya!” tanya anakku lagi.

Aku mencoba mengingat-ingat masa kecil dulu. “Soalnya menyenangkan banget. Ibu bisa seru-seruan dengan teman-teman. Mengatur strategi, kerja tim, dan tentu saja sehat, karena sudah pasti berkeringat,” jawabku yang disambut protes dari anakku. Menurutnya aku terlalu cepat bicara sehingga membuatnya kesulitan menuliskan di buku catatan. Akhirnya aku mengulang jawabanku dengan pelan-pelan.

“Pertanyaan terakhir. Kapan biasanya Ibu memainkan permainan itu?”

“Saat istirahat sekolah, atau sore hari sepulang sekolah,” jawabku.

Anakku mengangguk-angguk senang karena tugasnya selesai. Setelah memberesi buku dan alat tulis, dia menghampiriku lagi dan minta dijelaskan tentang permainan lompat tali. Katanya kalau kasti dan gobak sodor, di sekolah saat olahraga dia sudah pernah memainkannya. Aku menjelaskan dengan kalimat-kalimat yang kemungkinan mudah dimengerti. Namun karena memang sulit ditangkap, aku membuka Youtube dan memperlihatkan kepadanya.

“Kapan-kapan aku diajari, ya, Bu?” sahut anakku.

“Siap. Besok ibu beli karetnya dulu ya, biar kita bisa main bareng. Memangnya Kakak belum pernah memainkannya sama teman-teman?”

Anakku menggeleng.

Tidak lama terdengar salam dari arah pintu. Anakku berlari menyambut ayahnya yang baru saja pulang. Dia muncul bersama ayahnya sembari menenteng bungkusan martabak manis cokelat keju kesukaannya. Tak sabar dia ingin segera menikmatinya.

Usai suamiku mandi, dia menyusul kami ke meja makan. Turut menikmati martabak manis yang memang sengaja disisihkan untuknya sedari awal. Anakku menceritakan ulang perihal tugas yang tadi sudah dikerjakan bersamaku. Dia menanyakan ulang kepada suamiku, sekadar ingin tahu.

“Ayah dulu suka main kelereng. Ayah tuh jagonya. Banyak sekali koleksi kelereng ayah waktu kecil dulu,” jawab suamiku semangat.

“Ayah nggak suka main roblox?” tanya anakku.

“Waktu ayah sama ibu kecil dulu belum ada HP, jadi kalau main sama teman-teman pasti di luar rumah. Kadang di lapangan, atau kebun luas milik orang,” jawab suamiku panjang. Ia masih melanjutkan lagi dengan menceritakan beberapa permainan masa kecilnya yang lain. Tampak anakku memerhatikan dengan asyik. Hingga akhirnya suamiku mulai usil dengan menyebut “jelangkung”. Tentu saja anakku semakin dibuatnya penasaran.

Mulailah suamiku bercerita dengan suara yang sengaja dibuat pelan dan rendah. Aku melotot menatap suamiku, memberinya isyarat untuk tidak perlu membahasnya terlalu dalam. Aku khawatir ceritanya akan membuat anaknya malah sulit tidur nanti.

Tapi memang suamiku suka usil, melihat anaknya terlihat tidak takut dan penasaran, dia semakin semangat bercerita. Hingga akhirnya aku yang memutuskan untuk mengajak anakku tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Meski sempat dibalas dengan bibir manyun anakku, namun aku berhasil membujuknya untuk menurut.

Di tempat tidur, aku sedikit kewalahan karena anakku masih saja mengingat cerita ayahnya. Banyak hal yaang membuatnya masih penasaran. Beralasan kalau aku tidak pernah mengetahui atau melakukan permainan itu, anakku menyerah dan terlelap tidak lama kemudian.

Aku kembali keluar dan menyusul suamiku di meja makan. Dia baru saja menyelesaikan makan malamnya. Sembari mencuci piring dan gelas kotor yang baru saja digunakannya, aku mengatakan pada suamiku agar tidak lagi membahas permainan-permainan mistis begitu. Hal itu dijawab dengan tawa menyebalkan dari bibirnya

“Aku kan cuma bercanda. Lagipula anakmu semangat sekali dengarnya,” katanya.

Aku duduk di kursi samping suamiku, mencomot martabak manis yang tersisa satu, lalu memakannya. Kami berbincang kembali soal permainan-permainan kecil kami dulu. Sejenak aku terlupa dengan kekesalanku sebelumnya. Larut dalam nostalgia masa kecil.

“Aku pernah diajak maling mangga sepulang sekolah. Aku yang kebagian menampung mangga-mangga curian itu di tas. Sering tanpa sengaja ada ulat ikut masuk ke tasku. Menyebalkan!” kisahku.

Suamiku menimpali dengan cerita kenakalan saat ia kecil dulu. Katanya dia pernah jatuh saat mencuri jambu milik tetangga. Akibatnya, tangannya patah dan harus menggunakan gips selama beberapa minggu. Dan itu membuatnya tersiksa karena tidak bisa bebas bergerak dan bermain bersama teman-temannya.

Aku merenung. Ternyata waktu terlewat dengan cepat. Kini zaman benar-benar sudah berubah. Menyenangkan sekali jika mengingat masa-masa kecil dulu. Meski hidup tanpa HP, kami tidak pernah terlambat jika sudah membuat janji temu untuk bermain. Saat melihat jangka di rak, aku mengambilnya.

“Kalau jelangkung model ini aku pernah memainkannya,” kataku sembari menunjukkan jangka di depan wajah suamiku. “Ayo main!”

Aku meraih kertas, membuat lingkaran di kertas itu dengan jangka, lalu menuliskan alfabet dari A sampai Z di dalamnya. Lalu aku mengambil tutup pulpen yang akan kuletakkan di atas jangka sebagai pegangan saat mulai permainannya nanti.

Suamiku terlihat memperhatikanku. Meski tidak pernah melakukan, tapi dia pernah melihat teman-teman perempuan di kelasnya sering memainkannya untuk mencari tahu siapa laki-laki yang sedang disukai mereka saat itu.

Aku mulai membacakan mantra untuk memanggil roh sebanyak tiga kali.

“Siapa namamu?” tanyaku pada jangka. Tidak lama jangka itu berputar, menunjuk pada beberapa huruf dan membentuk satu nama: Sinta.

“Dari mana asalmu?” tanyaku lagi. Jangka kembali berputar dan menunjuk huruf-huruf yang menyusun kata: Semarang.

Aku kembali mengajukan beberapa pertanyaan pada roh yang mengisi jangka. Termasuk siapa perempuan yang dicintai suamiku saat ini. Suamiku nyengir keheranan saat susunan huruf memperlihatkan namaku.

“Ah, aku nggak percaya. Pasti tanganmu sengaja kau arahkan sesuai maumu,” protes suamiku.

Aku menggeleng dan memintanya bertanya sesuatu yang mungkin aku tidak tahu. Lalu dia menanyakan siapa nama guru matematikanya saat kelas satu SMA. Saat jangka menunjukkan nama yang sesuai dengan nama gurunya, suamiku mulai tertarik. Dia mulai usil menanyakan terkait siapa cinta pertamanya, siapa cinta pertamaku, juga siapa saja yang pernah menjadi pacarku.

Ketika suamiku bertanya siapa lelaki yang benar-benar kucintai, aku agak terkejut, hingga tanpa sengaja pegangan tutup pulpen di tanganku terlepas. Jatuhlah jangkanya di kertas itu. Permainan akhirnya selesai.

Suamiku sempat ngomel-ngomel dan minta permainannya diulang kembali. Tapi aku menolak, mengatakan padanya kalau aku khawatir akan membuatnya ketagihan dengan permainan yang sebelumnya dia anggap konyol itu. Suamiku tertawa renyah, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya. Kurasa, aku tidak akan pernah memainkan permainan itu lagi nanti.***

Lintani Noor

Perempuan biasa

Curhat

Misteri Bangkai Tikus Tanpa Kepala

Curhat  Sal Sabilah

Aku memiliki seekor kucing angora jantan yang kuberi nama Dol. Menurut orangtuaku, penampakan Dol mengerikan. Bulu hitam legam dengan kedua bola mata yang juga berwarna hitam, seringkali membuat mereka kaget saat malam hari. Dol yang memang tidak berada di kandang, membuatnya bebas berkeliaran di dalam rumah. Pernah suatu malam, tanpa sengaja aku menginjak buntutnya saat hendak mengambil minum di dapur. Dol mengeong keras. Aku terjingkat. Selain memang kaget karena suaranya, wujudnya yang hitam di ruangan gelap hanya memperlihatkan taring dan kilatan mata bercahaya. Ya, mama benar, Dol seperti monster kecil.

Dulu, aku mengadopsi Dol dari temanku saat usianya baru tiga bulan. Dibanding ketiga saudara lainnya, Dol satu-satunya yang memiliki bulu hitam pekat. Entah warna itu didapat Dol dari mana, karena kedua induknya berbulu putih. Menurutku dia lucu. Jadi temanku membiarkan aku membawanya pulang.

Kini Dol berusia hampir empat tahun. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, lincah dan meski tidak lagi menggemaskan seperti saat kecil dulu, sesekali dia tetap manja. Dol senang tidur di dekat kakiku. Kadang, dia juga melakukan gerakan seperti sedang memijat. Seperti kebiasaan kucing pada umumnya, Dol lebih banyak menghabiskan waktu siangnya untuk tidur.

Suatu hari, Dol tidak terlihat selama dua hari. Mangkuk pakan dan minuman yang kusiapkan untuknya juga masih utuh. Aku mencari di sekeliling rumah sembari terus memanggil-manggil namanya. Biasanya, Dol akan langsung menghampiri jika mendengar suaraku. Karena tidak juga muncul, maka aku meyakini kalau dia tidak berada di rumah. Jadi aku mencari keluar. Berkeliling kompleks perumahan dan bertanya pada tetanggaku, barangkali mereka pernah melihat Dol. Sayang, hampir semua tetangga yang kujumpai mengatakan tidak pernah melihatnya. Aku mulai cemas. Dia kucing rumahan manja yang tidak pernah berada di luar rumah. Apakah dia bisa mencari makan sendiri? Aku berharap dia bertemu orang baik yang mau merawatnya. Atau jangan-jangan, sebenarnya Dol hanya sedang jatuh cinta dengan seekor kucing betina yang tinggal jauh dari rumah. Mungkin kelak dia akan pulang bersama anak-anaknya. Ah, semoga Dol baik-baik saja.

Seminggu berlalu. Aku terbangun di pagi hari mendapati Dol tidur di bawah kakiku. Tentu saja aku senang melihatnya pulang. Kupikir Dol tidak akan pernah kembali lagi. Aku mengelus-elus tubuhnya. Bulu-bulu Dol lembab dan rontok. “Kemana saja kamu, hah? Bau sekali,” gerutuku. Aku memutuskan membawanya ke pet shop. Dol butuh mandi.

Hari-hari terlewat. Saat sarapan, mama bercerita kalau Dol sekarang agak aneh. Menurutnya, makannya sedikit. Selain itu, kebiasaannya menguntit orang saat ke dapur sudah tidak pernah lagi terlihat. Dol kini lebih cuek. Dan yang paling mencolok, Dol sudah tidak pernah mengeong. Aku menyimak cerita mama sambil merenung. Sepertinya selama ini aku kurang peka. Tapi mungkin saja Dol begitu karena kemarin sempat menghilang. Tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan dan dihadapi Dol di luar sana. Bagaimanapun, sejak kecil Dol terbiasa dilayani.

“Astaga, Dol!” teriak mama suatu pagi.

Aku terbangun dan gegas menuju ruang tengah di mana Dol biasa tidur saat siang hari. Aku melihat penampakan seekor tikus tanpa kepala di sisi Dol. Sisa-sisa darah segar masih nampak. Mendadak perutku mual. Mama memanggil papa untuk membuang bangkai tubuh tikus itu.

“Lihat itu, Dol sudah mulai bisa makan sembarangan sekarang. Pantas saja makannya sedikit. Ternyata sudah berani makan tikus,” omel mama pada Dol yang dilampiaskan padaku.

Dol terlihat seperti tidak berdosa. Biasanya, saat mendengar kami marah, Dol akan mendekat dan mengendus-endus kaki seolah sedang meminta maaf. Tapi saat mama marah-marah, Dol diam saja. Matanya justru memandang tajam bergantian ke arah kami. Papa mengambil potongan tubuh tikus itu dengan kresek hitam, mengikatnya kuat lalu membuangnya ke belakang. Gegas aku berlari mengambil pel untuk membersihkan bekas darah yang menempel di lantai. Setelahnya aku duduk di dekat Dol, mengelus-elus tubuhnya sembari mengajaknya bicara.

“Jangan diulangi lagi, ya? Kamu boleh menangkap tikus, tapi hanya untuk bermain-main. Jangan dimakan, oke? Binatang itu jorok, nanti kamu sakit. Mengerti?” Dol merespons ucapanku dengan merebahkan tubuh di dekat kakiku. Aku mengartikan sikapnya itu sebagai ungkapan penyesalan.

Esok pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Tenggorokanku kering. aku menuju dapur untuk mengambil segelas air dan membawanya ke ruang tengah. Belum sempat aku meminumnya, aku melihat Dol berbaring ditemani tikus tanpa kepala di sampingnya. Spontan aku meletakkan gelasku begitu saja di meja. Aku mengambil kresek dan mendekat ke arah Dol. Meski jijik, aku memaksakan diriku untuk mengambil tubuh tikus itu dengan kresek, membungkusnya rapat-rapat, lalu membuangnya ke tong sampah belakang rumah. Setelah itu aku kembali masuk dan mengambil alat pel untuk membersihkan ceceran darah segar yang tertinggal.

“Ya Tuhan, kenapa kamu makan kepala tikus lagi? Untung mama belum bangun. Kalau tidak, habis kita kena omelannya.” Dol tidak bereaksi. Dia hanya duduk dan melihatku.

Sejak saat itu, aku sering mendapati bangkai tikus tanpa kepala di ruang tengah. Setiap pagi aku harus berpacu dengan waktu agar bisa membereskan kekacauan itu sebelum mama bangun. Aku menjadi sering memarahi Dol. Kesal karena dia sekarang memiliki kebiasaan buruk. Selama ini aku merawatnya dengan baik. Memberinya makan makanan bersih, membawanya vaksin, serta rutin memandikannya. Kalau sekarang dia begitu, rasanya aku sendiri jijik. Karena bagiku, tikus binatang kotor, tempat tinggal dan makanannya juga kotor. Apa jadinya kalau Dol memakannya?

Sepulang kuliah, aku mencium aroma tidak sedap saat masuk ke rumah. Bersama mama, aku mencari sumber bau itu.

“Ada cicak mati kali ya?” tebak mama.

Aromanya memang tidak menyengat, jadi sepertinya bukan berasal dari bangkai binatang besar. Namun karena hanya lamat-lamat itulah, kami menjadi kesulitan mencari di mana letak sumber masalahnya. Mama memintaku membuang sampah. Berharap jika sampah di dalam rumah sudah dikeluarkan, mungkin saja baunya hilang.

Aku menuju kebun belakang. Bau busuk mulai tercium. Aku berjalan lebih jauh menuju pojokan. Dol meringkuk di dekat pagar. Aku terkejut, mengira Dol telah mati. Dengan menahan napas karena bau semakin menyengat, aku berlari ke arahnya. Dol bangkit dan menggeram dengan suara mengerikan. Semakin aku mendekat, Dol mengeong keras. Dan, betapa terkejutnya aku saat itu. Aku melihat pemandangan kepala tikus berserak di lubang tanah. Dengan mengabaikan rasa takut dan jijik, segera aku meraih tubuh Dol untuk membawanya masuk ke rumah. Beruntung, Dol tidak berontak.

Aku menceritakan kepada mama apa yang kulihat di belakang rumah. Rupanya selama ini Dol tidak memakan kepala tikus. Entah apa yang ada di pikirannya. Untuk apa coba selama ini dia melakukan itu? Mama akhirnya memberikan opsi padaku untuk membeli kandang dan mengurung Dol di sana. Karena aku juga tidak ingin Dol membuat masalah lagi, aku menuruti usul mama.

Malam hari, rupanya Dol kembali berulah. Kami dibuat tidak bisa tidur semalaman karena Dol terus saja mengeong sembari mencakar-cakar kandangnya. Akibatnya, mama dan papa memintaku untuk menyerahkan Dol agar diadopsi orang lain saja. Rasanya sedih, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kami sudah kebingungan bagaimana menghadapinya. Jadi, aku memutuskan menghubungi temanku. Dia seorang dokter hewan. Sejak saat itu, jika aku kangen pada Dol, maka aku akan ke pet shop milik temanku itu. Meski sikap Dol sudah benar-benar berubah, seolah tidak lagi mengenaliku, aku telah memastikan dirinya aman di rumah barunya. Setidaknya hal itu bisa membuatku merasa tidak begitu berdosa padanya.***

Sal Salbilah

Perempuan biasa yang suka melamun.

Curhat

Nasi Padang Paling Nikmat

Curhat Lituhayu

Setelah menidurkan anak lelakiku, aku menyusul suamiku di ruang tengah. Saat aku duduk bersandar di bahunya, dia sedang sibuk memencet-mencet tombol remot. Mungkin karena kesal tidak menemukan saluran televisi yang menarik, remot itu diserahkan padaku. Pilihanku berhenti pada layar yang menunjukkan acara kuliner.

“Halah, apa sih enaknya makan? Bikin tambah gendut kalau cara makannya begitu,” komentar suamiku saat melihat ada banyak sekali piring tertata di meja, sedangkan hanya satu orang saja yang akan mencicipi makanannya.

Aku tidak menanggapi omelan suamiku. Dia memang selalu begitu. Baginya, makan hanya sarana untuk memenuhi kebutuhan energi, tidak penting apakah makanan itu enak atau tidak. Bahkan, tidak harus selalu kenyang, yang penting ketika lapar, ya makan. Menariknya, sebanyak apa pun makanan yang ada di piring (jika tidak sedang sakit), pasti akan selalu tandas. Salah satu keuntungan juga, karena aku tidak terlalu pandai memasak. Tentu memiliki suami dengan sensitivitas indera perasa kurang baik seperti itu menjadi berkah tersendiri untukku. Beban pikiran untuk mendapat komentar pedas hampir tidak pernah ada.

“Ngomong-ngomong, lihat orang makan nasi padang, aku kok jadi kepengin juga,” kataku.

“Nah, buruan beli. Aku juga sudah lapar,” sahut suamiku.

Gegas aku mengeluarkan ponsel untuk membuka aplikasi pesan makanan. Cukup lama aku menghabiskan waktu scrolling. Dan pada akhirnya, aku memutuskan ingin langsung ke warung saja. Rasanya lebih puas jika aku bisa melihat dan memilih langsung.

“Lah, cepat sekali. Sudah sampai?” tanya suamiku saat melihatku beranjak dari sofa.

Aku menggeleng. “Mau langsung ke depan saja, Ayah mau lauk apa?”

“Ya sudah, ayo, bareng saja,” sahutnya.

“Anakmu kalau bangun gimana? Sudah biar aku saja. Nanti Ayah kutelepon ya, ada lauk apa saja.”

Suamiku menyerah. Dia tahu kalau urusan selera, aku setingkat lebih tinggi darinya. Jika ingin selamat dari komplain, memang sebaiknya dia mengalah.

“Yawis, hati-hati kalau begitu,” balas suamiku pasrah sembari memberi selembar uang lima puluh ribuan padaku. Aku menerima ulurannya. Spontan punggung tangannya diarahkan ke mulutku. Aku meringis.

Dengan mengendarai vespa milik suamiku, aku menuju warung nasi padang. Awalnya aku ingin ke tempat langgananku, tapi belum jauh aku berkendara, aku melihat warung di sisi sebelah kiri yang terlihat sepi. Aku memutuskan berhenti.

Seorang pegawai perempuan berhijab menghampiriku. “Dibungkus atau makan sini?”

“Dibungkus,” jawabku pendek. Aku menelepon suami untuk menanyakan lauk yang tersedia dan apa yang diinginkannya. Setelah itu, dua bungkus nasi telah siap. Gulai tunjang untukku, ayam goreng untuk suamiku.

Sampai di rumah, suamiku masih saja sibuk memainkan remot di tangannya. Aku menuju dapur mengambil dua piring. Suamiku menyusul untuk mencuci tangan. Kami sempat berdebat karena dia ingin makan di meja makan saja, sedangkan aku tetap ingin makan di ruang tengah agar bisa sambil menonton televisi. Tentu saja aku yang memenangkan perdebatan itu.

Suamiku telah mulai makan lebih dulu. Aku mencari-cari saluran dengan tangan kiri dan pilihanku jatuh pada acara komedi. Sepertinya gabungan antara ajang pencarian bakat dan stand-up comedy. Salah satu yang berperan sebagai juri adalah Deddy Corbuzier. Kontestan yang muncul pertama adalah Uus bersama rekannya. Atraksi panggung yang mereka suguhkan adalah menyanyi diiringi gitar akustik. Sesekali, riuh tawa penonton terdengar. Aku pun turut tertawa kecil.

“Kenapa ya, aku selalu nggak bisa ikut ketawa lihat begituan?” Suamiku menggumam. Mungkin sebenarnya hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Empuknya gulai tunjang, serta kuah berempah dengan tambahan bumbu rendang dan serundeng membuatku tidak berhenti menyuapkan nasi ke mulut. Begitu pun suamiku.

“Selera humorku terlalu tinggi kayaknya. Menuntut harus selalu lebih,” lanjut suamiku.

Aku tidak menanggapi ucapannya. Tetap makan dengan lahap, juga tetap menonton acara itu, termasuk ikut tertawa bersama penonton di studio. Sedangkan suamiku, bertahan dengan teguh menampilkan ekspresinya yang datar itu.

Pernah suatu kali kami menonton acara yang berisi cuplikan-cuplikan video lucu. Entah menampilkan seseorang yang jatuh karena ulahnya sendiri. Seseorang dengan mimik wajah terkejut yang sangat menggelikan. Atau sekelompok orang sedang berjoget lucu diiringi lagu viral. Aku sering dibuat terpingkal-pingkal hingga sakit perut. Tidak jarang sampai keluar air mata. Dan suamiku, tetap saja datar. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, atau malah tersenyum mengejek melihat reaksiku.

Kadang aku menuduhnya sedang akting. Mengatakan padanya kalau sebenarnya dia ingin ikut tertawa, tapi gengsi, jadi lebih memilih menahan diri. Lalu suamiku menjawab tegas kalau itu tidak benar. Kenyataannya memang begitu. Ekspresi yang ditunjukkannya alami dan tanpa dibuat-buat.

Pernah juga, saat kami berdua menonton pertandingan badminton, aku berteriak semangat saat menyaksikan perang smash antar kedua lawan, lalu memekik girang saat poin berhasil diperoleh atlet Indonesia. Sedangkan suamiku, hanya terlihat sesekali tersenyum. Terkadang malah meledekku, mengatai aku lebay. Kalau sudah begitu, biasanya ada dua respons yang kutunjukkan. Pertama diam saja, tetap santai menonton tanpa memedulikan komentarnya. Kedua kutanggapi, entah dengan pura-pura jengkel atau balik meledek. Respons apa pun yang kupilih, ada kalanya malah bisa membuat suamiku tiba-tiba tertawa lepas, memperdengarkan suara khasnya yang besar itu.

Sebenarnya, menonton televisi hanya salah satu cara kami menikmati kebersamaan. Aku tahu meski suamiku tidak tertarik dengan tontonannya, dia tetap mau menemaniku. Termasuk saat dia sedang asyik menonton film yang mungkin saja aku tidak suka, tapi aku tetap menemaninya. Kadang ada sesuatu, entah candaan atau bahasan yang tiba-tiba muncul di sela-selanya. Itulah yang membuatku merasa tidak diabaikan dan betah berlama-lama duduk menonton televisi bersama suamiku.

“Gimana, enak tidak?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. Suamiku hanya mengangguk.

“Kapan-kapan kita makan langsung di sana saja ya. Tempatnya sepi, bersih, jual teh talua juga. Tadi aku ingin bungkus, tapi mana enak minuman begitu dibungkus,” lanjutku panjang lebar yang dibalas dengan satu kata saja oleh suamiku, oke.

Aku kembali menikmati makananku yang hampir habis. Sesekali aku melirik ke arah suamiku. Tersenyum melihatnya kepedasan karena tadi aku lupa mengatakan pada mbak-mbaknya untuk menaruh sedikit saja sambal pada bungkusan suamiku. Aku agak menyesal, tapi aku diam saja. Sengaja, barangkali sebentar lagi akan ada omelan kecil dari mulutnya. Tapi sampai suapan terakhir, meski butir-butir keringat membasahi keningnya, tidak ada kalimat apa pun yang terlontar. Hal seperti itu justru menunjukkan ekspresi yang paling ekspresif dari suamiku.***

Lituhayu

Ibu rumah tangga

Curhat

Lorong Kesadaran

Curhat M.A. Edpe

Jika aku mengaku sebagai seorang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), apakah kalian percaya? Mungkin sebagian orang tidak akan percaya bahwa aku adalah bagian dari mereka. Dilihat dari ciri fisikku yang terlihat seperti orang pada umumnya, bisa berkomunikasi dengan cukup baik, serta pakaian yang tidak compang-camping seperti ODGJ yang sering berkeliaran di jalanan. Sebelum aku bercerita tentang pengalaman sebagai ODGJ, aku ingin menjelaskan sedikit tentang disabilitas mental.

Menurut undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disabilitas mental merupakan gangguan fungsi pengendalian emosi dan atau perilaku. Dikutip dari Halodoc, gangguan kesehatan mental merupakan gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi pola pikir, emosi, dan perilaku seseorang. Menurut WHO (2022), gangguan kesehatan mental dicirikan dengan kondisi kombinasi abnormal pada pikiran, emosi, perilaku dan hubungan dengan orang lain. Contohnya adalah gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, gangguan stress pascatrauma, skizofrenia, gangguan makan, perilaku mengganggu dan gangguan disosialisasi, serta gangguan perkembangan saraf.

Akhir bulan Februari tahun 2022, beberapa hari menjelang ulang tahun ke 27, aku menunjukkan gejala yang tidak normal. Hampir satu hari penuh tidak tidur, emosi yang tidak terkontrol, bicara yang tidak runut dan terstruktur, serta mengalami delusi. Saat itu aku di basecamp, tempat tinggal yang disediakan oleh tempat kerjaku di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Surakarta. Hari itu seakan melambat bagi teman-teman yang datang ke sana, sebab harus menghadapi kelakuan tak wajarku. Dariyanto, Wachid, dan Maulana adalah saksi hidup yang melihat serta menceritakan padaku setelah beberapa bulan.

Bagong dan Ronggo datang malam hari ke basecamp untuk melihat kondisiku, mereka datang setelah ditelepon oleh Daryanto. Setelah ajakan yang cukup alot, akhirnya malam dini hari di awal Maret, aku mau dibawa ke Solo, alasannya jalan-jalan.  Aku baru tahu saat tiba di lokasi bahwa aku dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta. Spontan aku mengucap, “Jancok, aku dibawa ke RSJ, dikira aku gendeng!”

Menurut penuturan Ronggo, Aku tidak bisa masuk menjadi pasien saat itu karena bukan keluarga yang membawa ke sana. Peraturan mewajibkan untuk mendapatkan rekomendasi dari salah satu keluarga agar aku bisa dirawat inap. Akhirnya aku hanya diberi obat penenang dan dibawa ke kantor yang letaknya di Karanganyar.

Sempat dapat beristirahat sejenak, gejala yang aku alami di Klaten kembali lagi, meracau tidak jelas, membuat keributan di kantor. Ada beberapa bagian cerita yang tidak aku ingat, semuanya blank. Menurut cerita bosku, seorang praktisi kesehatan mental kenalan dari bosku didatangkan. Ia mengajak berbicara dan menemani apapun kegiatan yang aku lakukan. Dari hasil pengamatannya dan persetujuan keluargaku, akhirnya aku dirujuk ke RSJD Surakarta. Hari-hari berat harus kulalui di sana, tiga kali sehari harus minum obat dan tidak boleh dijenguk karena masih waspada dengan pandemi Covid. Bahkan aku merasa seperti robot, badan kaku semua.

Setelah melewati proses pengobatan selama kurang lebih tiga minggu, dokter mendiagnosaku sebagai orang dengan skizofrenia. Kau tahu apa pertama kali yang muncul dipikiran aku? “Betapa keren nama penyakitku ini.” Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendapat obat untuk 10 hari dan kembali lagi untuk kontrol. Setelah kontrol selesai, satu hari sebelum puasa, aku diantarkan pulang ke Mojokerto oleh Bagong, Daryanto, dan Ronggo. Orang tua sangat terkejut melihat kondisiku, ibuku berkata bahwa aku tidak seperti diriku sebelumnya, pandangan mata sayu dan fisik yang tidak normal-bergerak seperti robot.

Selama bulan puasa aku minum obat sebelum sahur dan saat berbuka, secara rutin tanpa putus. Setiap jam 9 pagi, ditemani ibuku, aku keluar rumah untuk bergerak, menghirup udara pagi dan yang paling penting adalah terkena sinar matahari. Orang tuaku meyakini bahwa dengan terpapar sinar matahari bisa membantu proses penyembuhan lebih cepat.

Setelah hari raya, Ibuku bercerita bahwa dulu setelah melahirkan kakakku yang pertama sekitar tahun 90-an, pernah mengalami gangguan mental. Mungkin orang sekarang menyebutnya sebagai baby blues syndrome. Di lain kesempatan, Bapak bercerita bahwa saat itu belum ada psikiater di kota kecil kami, adanya dokter umum. Ibuku diberi obat untuk meredakan gejala gangguan kesehatan mentalnya, tetapi ia memutuskan untuk tidak lagi minum obat. Dengan tetap hidup bersosial, bertemu dengan teman-temannya, berangsur-angsur keadaannya membaik. Sampai saat ini penyakit Ibu tidak pernah kambuh. Bapak dan Ibu memintaku untuk tidak meminum obatnya, diganti dengan minum degan ijo atau kelapa wulung saja.

Suatu ketika kawanku KKN menjenguk di rumah, Cahyo beserta istrinya dan Puput memberiku motivasi. Selain itu ada tukang pijit yang memberi saran untuk mandi wuwung-mandi jam 5 pagi sisa air bak semalam. Setelah beberapa hari tidak minum obat dan memilih untuk minum degan ijo, keajaiban Tuhan datang padaku. Aku tidak tahu mana yang menjadi lantaran aku sembuh. Tiba-tiba aku kembali seperti semula, bisa bergerak normal tidak seperti robot, dan wajah yang memancarkan kecerahan. Di situlah aku memutuskan tidak minum obat lagi. Aku takut ketergantungan terhadap obat, dan masih denial bahwa kejadian kemarin adalah faktor obat (Ibuprofen) dan kopi yang aku minum sehari sebelum kejadian.

Setelah kembali ke kantor, aku belum dilibatkan dalam pekerjaan berat seperti pendampingan di lapangan. Orang-orang masih takut untuk melepaskanku kembali bekerja seperti dulu. Singkat cerita, Februari-Juni 2023 aku mulai turut dalam kegiatan pemetaan di Klaten. Kepercayaan diriku muncul kembali, aku bisa melakukan tanggung jawab yang diberikan. Mulai cukup nyaman aku di sana. Rentang bulan tersebut, aku berkonsultasi dengan seorang hipnoterapi untuk mengatasi masalahku. Selang beberapa waktu itu juga aku meminta tolong kepada teman untuk menjadi Caregiver-orang yang merawat orang lain yang memiliki keterbatasan untuk merawat diri sendiri, baik sebagian atau keseluruhan, karena keterbatasan fisik atau mental. Hal ini aku lakukan karena melihat informasi di internet bahwa Skizofrenia bisa kambuh sewaktu-waktu.

Sekitar awal Juli 2023 aku dipindahkan ke Wonosobo, aku sangat ingin ke sana membantu kegiatan teman-teman di kantor cabang tempatku bekerja. Ada salah satu senior yang aku rasa cukup dekat dan itu menjadi alasanku mau dipindahkan ke sana. Aku merasa sudah baik-baik saja saat itu. Namun, akhirnya nasib berkata lain, hampir masuk akhir Agustus, seniorku diterima di Bawaslu Pekalongan. Aku mendapatkan limpahan pekerjaan yang ditinggalkannya. Aku juga merasa seperti ditinggalkan begitu banyak masalah. Awalnya aku menerima dengan lapang dada, namun entah kenapa ada perasaan yang begitu mengganjal dan terpendam.

Singkat cerita, seperti menyimpan bom waktu, kemarahanku meledak saat aku berada di kantor pusat pada 24 November 2023. Dengan sangat sadar, semua orang yang mendekat kumaki-maki, aku seperti menjadi orang lain, atau ini memang diriku yang lain. Saat itu, ada dua temanku namanya Imam Fathori alias Bejo dan Hanung. Mereka menjadi saksi dari beberapa hari sebelum kejadianku kambuh, hingga aku dibawa ke RSJD Surakarta untuk kedua kalinya,

Sebelum kambuh, aku seperti sudah memprediksi akan kembali ke RSJD lagi. Walaupun digiring secara paksa, dengan tangan diborgol, aku masuk ke dalam mobil. Jika Bejo tidak meredam amarahku dengan ikut masuk ke mobil, aku mungkin akan melakukan perlawanan yang brutal.

Aku masuk kembali ke RSJD dengan kesadaran penuh, dalam arti menerima bahwa memang kondisiku tidak baik-baik saja. Sangat berbeda dengan kejadian yang pertama. Di bangsal perawatan hampir setiap hari aku berkaraoke, menghibur pasien lain dan juga mantri jiwa-perawat. Aku minum obat dengan teratur, berkomunikasi dengan mahasiswa magang, membantu pasien lain yang kondisinya lebih parah dariku, dan konsultasi dengan dokter.

Setelah dirawat selama 3 minggu, diagnosa dokter adalah Bipolar, berbeda dengan dokter yang kejadian pertama. Implikasinya obat yang aku minum berbeda dengan obat yang dulu tahun 2022 diberikan. Sampai detik ini aku berusaha untuk minum obat dengan rutin, kontrol setiap bulan ke RSJD, dan menjaga diri untuk tidak kambuh lagi. Kambuh ternyata merepotkan banyak orang, dan aku membenci itu.

Isu kesehatan mental mungkin masih menjadi hal yang dianggap tidak penting dan belum dipahami oleh banyak orang.  Keterbatasan pengetahuan dan stigma soal orang dengan gangguan jiwa sama dengan ‘gila’ masih mengakar kuat yang menjadi penyebabnya. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, “mengapa aku mengalami ini?” Ternyata, setiap orang, siapapun itu bisa mengalaminya. Setidaknya, semoga tulisan ini bisa menggerakkan orang lain untuk tertarik dengan isu kesehatan mental. Sehat secara fisik belum tentu dibarengi dengan sehat jiwa, maka mari bersama-sama untuk aware dengan masalah ini. Salam sehat jiwa.

Palur, 2024

M.A. Edpe

Leleki sederhana penikmat gerimis dan suka bernyanyi.

Curhat

Bermain Korek Api

Curhat Dhatu Jenar

Hari ini, setelah lebih dari 14 hari usai membaca satu tulisan di kolom Curhat media sastra Nomina, aku memutuskan menulis juga. Bagiku, iming-iming dari redaktur: apresiasi karya hanyalah “pemuatan”, sangat keren. Bagaimana tidak, aku bisa bercerita tentang apa pun: yang kulihat, kurasa, kupikir, bahkan kulakukan, tanpa harus terselip beban bahwa tulisanku haruslah “nyastra”. Jadi, meski karyaku belum tentu lolos kurasi, rasanya bukan hal berlebihan jika aku tetap ingin menyampaikan terima kasih kepada redaktur. Bilik khusus yang sengaja diciptakan ini, sangat berarti bagi orang berkebutuhan khusus sepertiku, perempuan pendiam yang tak mudah percaya orang lain, tapi ingin tetap waras.

Sebelum mulai, aku akan membuat sebuah pengakuan: nama yang kucantumkan hanyalah nama samaran. Jika hal itu tidak dianggap penting, tidak apa-apa. Menurutku, ini adalah cara menghargai diriku, juga menghargai siapa saja yang kelak membaca ceritaku. Kuharap, hal itu bisa dimaklumi. Aku akan mudah bercerita setelahnya, seperti merasa tidak berdosa karena itu.

Lima hari lagi, aku akan bertunangan. Lalu, sebulan setelahnya, aku akan menikah. Menurut teman-teman dan keluarga, aku termasuk perempuan beruntung. Di usiaku yang ke-25, aku sudah menyandang gelar magister dan langsung diminta bekerja sebagai dosen di kampusku dulu. Pria yang akan menikah denganku juga pacar yang telah membersamaiku sejak 5 tahun lalu. Bisa dibilang, kami berdua telah mapan dan dianggap siap untuk berumah tangga. Terlihat cukup menyenangkan, bukan? Sepertinya begitu, jika saja tadi sore aku tidak bertemu dengan R, lelaki yang dulu pernah sangat kusayangi, jauh sebelum aku mengenal pacarku.

Kata orang, sebelum menikah, orang-orang di masa lalu akan hadir kembali untuk menguji seberapa tangguh dirimu. Mungkin memang tidak bermaksud merusak sebuah hubungan, tapi bagi jiwa yang lemah sepertiku, hal itu bisa sangat mengganggu, bahkan berhasil membuatku sempat berpikir ulang. Apakah keputusanku untuk segera menikah sudah tepat? Ah, sepertinya aku memang sedang benar-benar diuji. Aku selemah itu. Sampai-sampai cinta pertamaku saat SMA, berhasil membuat perasaanku berantakan.

Sore tadi, sepulang mengajar, aku menyempatkan mampir ke kafe tidak jauh dari kampus. Sembari menunggu pesanan kopi dan croissant-ku diantar, aku menekuri ponsel di tangan. Seseorang mendekat dan memanggil namaku. Aku ingat suara itu, bahkan selama beberapa detik aku belum berani mengangkat wajah untuk memastikan siapa pemilik suara itu.

“Ya, aku tidak salah. Tentu saja itu kamu,” katanya lagi.

Meski jantungku barusaja berhenti, dan kini mulai memompa jauh lebih cepat dari sebelumnya, aku memantapkan hati menatap wajahnya. Benar, dia R, lelaki yang pernah meninggalkanku pergi begitu saja. Jarak. Sesuatu yang sejak diperkenalkan R padaku, sejak itu pula aku menjadi sangat membencinya.

“Apa kabar?” tanya R basa-basi. Atau memang bukan sekadar basa-basi. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, tentu saja pertanyaan itu sangat wajar terlontar. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

R bercerita panjang tentang kegiatannya saat ini. Ia memutuskan pulang dari luar negeri, dan menggunakan tabungannya untuk membangun perusahaan miliknya sendiri. Rupanya ia sudah hampir setahun di kota ini, tapi Tuhan baru mempertemukan kami sekarang. Betapa ajaibnya. Termasuk reaksi tubuhku terhadap R. Suaranya membuatku seolah kembali ke masa itu. Masa-masa di mana aku menghabiskan tiga tahun belajar di SMA dengan penuh warna.

Seorang waitress mendekat, meletakkan pesananku di atas meja. Membuyarkan lamunan yang sempat membawaku seperti jet, kembali dari masa lalu. Aku menawarkan R untuk memesan sesuatu, tapi ia tolak. R menjelaskan kalau barusaja ia selesai meeting bersama klien.

“Lama sekali ya kita nggak ketemu? Kamu masih tetap sama seperti dulu. Irit bicara.” R berkomentar sembari mengeluarkan tumbler hijau tua dari dalam tasnya.

Ya Tuhan, tumbler itu pemberianku. Apa yang ada di pikiran lelaki itu dengan masih menyimpannya, bahkan tetap menggunakannya. Aku merutuki diriku sendiri karena menganggapnya istimewa. Bisa saja tumbler itu hanya mirip. Lagipula barang itu bukan sesuatu yang eksklusif, hingga hanya aku saja yang pernah memilikinya untuk kuberikan pada R.

“Awet ya, ini tumbler pemberianmu,” kata R usai meneguk sedikit air dari tumbler.

“Kenapa kamu masih menyimpannya?” tanyaku yang sesaat kemudian kusesali. Seharusnya aku tidak perlu membahas sesuatu yang sangat sentimentil begini.

“Tidak hanya tumbler, hampir semua barang pemberian darimu masih kusimpan. Termasuk kenangan-kenangan bersamamu.”

Nah, kan. Mampuslah aku yang tidak bisa menutupi rasa canggung. Lelaki itu memang benar-benar membuatku tidak nyaman. Beruntung ponselnya tiba-tiba berdering, jadi aku bisa sedikit leluasa untuk menguasai perasaan dan diriku kembali. Setelah R mengakhiri telepon, buru-buru dia pamit karena harus segera kembali ke kantornya. Ia juga mengatakan kalau akan menghubungiku lagi nanti.

Sesampainya di rumah, grup WhatsApp alumni SMA yang sebelumnya kuarsipkan, kini kembali kubuka. Aku tidak berminat untuk menyimak ribuan percakapan yang selama ini terlewat kuikuti. Entah, aku hanya tiba-tiba ingin mencari nomor kontak R. Berhasil. Aku menemukannya. Cukup lama aku hanya memandangi jendela chat kosong tanpa percakapan itu. Hingga tiba-tiba terlihat keterangan “mengetik”, membuatku terkejut dan buru-buru keluar dari beranda chat kontaknya.

Hai, sudah sampai rumah?

Kuharap kita bisa bertemu lagi besok sore di kafe.

R

Aku tidak langsung membuka pesannya. Hanya membaca lewat notifikasi yang sempat terbaca. Ini benar-benar konyol. Aku salah tingkah. Perasaanku tidak keruan. Ada rasa senang, sekaligus bimbang. Merasa ada sesuatu di masa lalu yang belum benar-benar tuntas. Ada hal yang ingin kupastikan, dan rasa penasaran itu tidak bisa kukendalikan.

Foto pacarku muncul di layar. Setelah dering ke-3, aku menjawab panggilannya. Dia mengingatkanku untuk menemaninya ke rumah eyang sepulang kerja. Sejenak aku berpikir.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya pacarku.

“Ah iya, aku lupa. Apakah bisa lusa saja? Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku agar bisa tenang menjalani cuti,” jawabku berbohong. Ini adalah kali pertama aku membohonginya. Bodohnya, hanya karena terngiang pesan R yang sempat kubaca tadi. Aku cemas menunggu respons pacarku. Ketika dia tidak mempermasalahkan, aku menjadi sangat lega. Lalu dia pun mengakhiri telepon sesaat setelah mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Aku membalasnya dengan kalimat yang sama.

Setelah itu, aku kembali membuka pesan WhatsApp. Tanpa ragu aku membuka pesan R, lalu mengetik sebuah balasan, Oke. Sampai jumpa besok sore. Usai menekan tombol kirim, aku meletakkan ponsel di atas nakas. Apakah aku jahat? Apakah ini termasuk sebuah pengkhianatan? Jika benar begitu, bolehkah aku khilaf sekali saja? Aku benar-benar merasa perlu untuk menyelesaikan masa laluku. Hanya itu. Aku yakin hanya akan seperti itu. Tidak lebih.

Aku meraih kembali ponselku. Mencari kontak pacarku dan mengetik sebuah pesan untuknya, Sayang, izinkan aku selingkuh sekali saja, ya? Ada sesal di hatiku. Tapi aku berusaha mengabaikannya. Setelah membaca berulang kali pesan itu, aku memutuskan untuk menghapusnya. Meletakkan ponselku di atas nakas, lalu menuju kamar mandi. Berharap guyuran air dingin akan mengembalikan kesadaranku.***

Dhatu Jenar

Perempuan penyendiri yang suka buah duku.

Curhat

Ketika Jiwa Melankolis Belanja di Pasar

Curhat Zoe Lora

Minggu pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Kupikir mulai sekarang aku akan mengisi pagiku dengan olahraga. Ada sepeda statis di teras yang entah baru berapa kali kupakai sejak awal dibeli. Baru sekitar lima belas menit berlalu, bahkan keringatku juga belum sempat keluar, mama muncul dengan kantong belanja terlipat di tangan kanan, serta dompet di sebelah tangannya yang lain.

“Ke pasar ya, Mah? Aku ikut ya.” Tanpa menunggu jawaban, aku turun dari sepeda statis dan mengintilnya. Jarak rumah dengan pasar tradisional terdekat sekitar setengah kilometer. Jadi lumayanlah, aku bisa berjalan kaki sejauh satu kilometer pagi ini. Awal yang cukup baik untukku. Lain halnya dengan mama, setidaknya 3-4 kali seminggu pasti belanja ke pasar.

Saat itu kami berjalan mengambil rute ke selatan, melewati SD-ku dulu. Karena belum terlalu jauh dari lingkungan rumah, tentu saja sesekali kami berjumpa dengan tetangga. Ada yang sedang duduk di teras, sengaja berjemur matahari pagi. Ada yang sedang menyapu halaman. Ada juga yang berpapasan di jalan karena hendak pergi ke suatu tempat. Pemandangan normal yang memang akan sering dijumpai saat tinggal di kampung. Aku sering mengistilahkannya dengan basa-basi. Eits, bukan dalam hal buruk. Bukankah memang begitu kodrat hidup bermasyarakat? Menjadi manusia sosial yang peka terhadap sesama sebagai bentuk kepedulian.

Sepanjang perjalanan, mama sudah seperti kaset yang memperdengarkan kisah hidup anak si A yang barusaja lulus S2 Psikologi di UGM. Atau suami si B yang pulang kerja dari kapal pesiar dengan membawa mobil baru. Termasuk tentu saja perihal si C, janda tak beranak yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini, ia memutuskan pindah agama karena diduga sedang dekat dengan pria kaya. Tanpa terasa, bangunan pasar sudah mulai terlihat. Obrolan kami akhirnya terputus. Sepertinya aku bisa cukup terhibur juga dengan cerita hidup orang lain. Beruntung, mama tidak mempertanyakan soal perkembangan skripsiku yang sampai saat ini masih bertahan pada Bab III.

“Kerapunya berapa sekilo?” tanya mama pada pria penjual ikan laut. Keduanya terlibat dalam prosesi tawar menawar. Aku tidak begitu memperhatikan karena mataku tertuju pada simbah penjual jenang tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mendekatinya setelah sebelumnya pamit pada mama dengan mengatakan kalau aku akan menunggu saja di dekat penjual jenang hingga mama menyelesaikan belanjanya.

Kulihat dagangan simbah masih cukup banyak dan lengkap. Aku mengatakan padanya kalau aku ingin seporsi lengkap yang kurang lebih berisi: biji salak, jenang sumsum, jenang mutiara, ketan hitam, dan jenang gempol. Simbah mengangguk tersenyum sembari menyiapkan pincuk daun pisang sebagai wadah. Aku menerima ulurannya, lalu menikmati dengan sendok yang juga terbuat dari daun pisang, atau biasa orang sebut suru. Tidak lama, banyak pelanggan datang mengerubung. Aku sampai tidak enak dan bermaksud duduk menjauh, namun simbah mengatakan bahwa aku tidak perlu ke mana-mana. Jadi aku memutuskan menurut, menyantap jenang lezat di hadapanku sembari sesekali melihat interaksi antar manusia di pasar.

“Berapa, Mbah?” tanyaku setelah ibu-ibu pembeli terakhir pergi.

“Limaribu,” jawabnya singkat.

Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan dan mengatakan tiga porsi lainnya dibungkus saja. Simbah mengangguk.

Perhatianku berpindah pada seorang pria paruh baya penjual pepaya dan pisang yang berada tepat di samping kiriku. Ia sedang bernegosiasi dengan seorang calon pembeli yang berniat memborong. Namun karena harga yang diminta masih terlampau rendah, penjual sepertinya belum rela melepas dagangannya. Hingga pada satu titik, telah terjadi kesepakatan harga meski kulihat wajah penjual tidak terlalu senang dengan keputusannya sendiri. Hal itu tampak nyata sesaat setelah pembeli berlalu dengan membawa puluhan papaya dan lima tandan pisang raja di mobilnya, lalu penjual bergumam, “Lebih baik tidak untung daripada merugi.”

Tidak lama, simbah memanggil dan menyerahkan bungkusan pesananku. Usai mengucapkan terima kasih dan pamit, aku memutuskan menyusul mama ke dalam pasar. Aku berjalan cukup pelan. Selain karena penuh sesak dengan manusia, semalam juga hujan, jadi masih ada sisa-sisa genangan air yang memungkinkan lantai menjadi licin. Sepanjang pencarianku akan keberadaan mama, sesekali aku memusatkan perhatian pada interaksi antar penjual dan pembeli. Tentu saja prosesi tawar menawar tidak terhindarkan. Hanya saja, seringkali aku merasa tidak nyaman ketika pembeli menawar seenaknya pada penjual yang sebagian besar telah lanjut usia. Bukan ingin sok-sokan, hanya saja aku kesal. Aku merasa penampilan ibu-ibu pembeli itu tidak sepantasnya dipakai saat ke pasar, maksudku, aku melihat mereka mengenakan perhiasan yang sangat mencolok. Selain itu, kalimat yang terlontar juga seperti tanpa filter. Tidak lagi memandang sedang bicara dengan orang tua yang sepatutnya bisa lebih sopan, bukan dengan berteriak-teriak atau memaksa begitu. Aku curiga, mungkin saja sebenarnya mereka sedang memiliki masalah di rumah, lalu melampiaskan kekesalan dengan menindas orang-orang tak berdaya berkedok alasan belanja ke pasar. Bisa juga, sebenarnya emas-emas yang melingkari tubuh mereka bukanlah emas asli. Mereka hanya ingin mencari perhatian. Bukan mencari perhatian pencopet tentunya, karena menurutku, pencopet sekarang sudah lebih pintar memilih target mana yang memang benar-benar berdompet tebal dan beremas asli.

“Loh, katanya nunggu di luar,” tegur mama yang seketika mengalihkan perhatianku. Aku hanya nyengir. Kulihat tentengan di kedua tangannya sudah cukup banyak. Aku mengambil salah satu kantong belanjaan terbesar. Mama berjalan menuju lapak penjual tahu tempe. Kebetulan, penjualnya simbah-simbah. Aku memperhatikan mama dengan perasaan cukup was-was. Aku tidak ingat kapan terakhir ikut mama belanja ke pasar. Sepertinya sudah lama sekali, mungkin waktu masih kecil.

“Satunya berapa, Mbah?” tanya mama.

“Delapan ribu, Den,” jawab penjual.

Aku melihat mama mengambil lima papan tempe dan menyerahkan ke penjual untuk dibungkus. Perutku mulai mulas menantikan apa yang akan terjadi setelahnya. Mama mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dalam dompet, lalu memberikannya ke penjual.

“Tidak usah kembali ya, Den? Saya kasih tujuh saja bagaimana?” tawar penjual.

Mama mengangguk dan meraih bungkusan berisi tujuh papan tempe, lalu memasukkannya ke kantong belanjaan yang kupegang. Seketika aku berpikir, ternyata ada juga cara menawar yang cukup elegan. Setelahnya kami berlalu pergi. Mama memutuskan memanggil tukang becak untuk kembali pulang mengingat belanjaan kami yang banyak. Aku menurut saja. Sepertinya, untuk beberapa waktu ke depan, aku akan olahraga dengan memanfaatkan sepeda statis di teras rumah saja. Tidak akan ikut mama belanja ke pasar lagi sampai aku benar-benar mengerti dan telah siap.***

Zoe Lora

Seorang mahasiswi semester akhir yang hobi traveling dan mengamati hal-hal di sekitar. Penikmat roti tawar yang dicelup cokelat panas.