
Curhat Padmi
Sebenarnya aku tidak terlalu suka bicara. Lebih tepatnya, hal itu karena aku tidak terbiasa. Aku mengalami kesulitan saat diminta berpendapat terkait pikiranku. Berbeda ketika aku diberi pertanyaan untuk menjelaskan perbandingan siklus pergantian cuaca di negara empat musim dan dua musim. Tentu kamu tahu maksudku. Ya, aku selalu kehabisan kata untuk memahami diriku sendiri.
Aku tahu, setiap orang (tanpa kecuali) memiliki celah sama besar untuk mengalami masalah kepercayaan diri. Namun, aku butuh pendapat kalian. Apakah setelah membaca ceritaku nanti, aku sudah perlu mendapat bantuan dari tenaga profesional? Kuharap kalian bisa memberi masukan kepadaku di kolom komentar. Sungguh, itu akan sangat berarti untukku. Ucapan terima kasih saja menurutku tidak akan cukup untuk membalas kebaikanmu.
Hari ini hari Sabtu. Seperti biasa, tiga keponakanku yang masing-masing berusia sepuluh, tujuh dan empat tahun duduk di dekatku: menunggu giliran untuk ritual potong kuku.
Pertama adalah giliran F, keponakanku yang berusia empat tahun. Melihat kuku-kukunya yang mungil, menempel pada jemari gemuk, membuatku harus lebih berhati-hati. Aku sering memintanya menyanyi atau bercerita. Celotehnya membuatku sejenak lupa kalau semalam aku bertengkar dengan pacarku.
Kami menjalani hubungan jarak jauh. Aku di Surabaya, sedangkan dia di Yogyakarta. Bisa dibilang, kami jumpa tidak tentu kapan. Mungkin saat libur semester saja. Jika aku sedikit beruntung, kadang kami bisa bertemu pada kegiatan atau acara tertentu.
Semalam, aku tidak bisa membendung rinduku padanya. Aku mengirim pesan dan mengutarakan perasaanku dengan apa adanya. Bahwa aku sangat mencintainya, lalu bertanya apakah dia merindukanku juga.
“Aku memilih biasa saja,” jawabnya, seketika membuatku seperti dihempas dari tebing.
“Aku benci kata-kata seperti itu. Cukup kamu tahu di awal tentang perasaanku. Tidak perlu kamu memaksaku untuk terus mengulanginya,” lanjutnya lagi.
“Terima kasih, Tante,” ucap F dengan suara imutnya. Aku tersadar ternyata telah selesai memotong kuku F. Seperti biasa, aku akan memintanya mencium kedua pipiku sebagai imbalan jasa.
Tibalah giliran M, keponakanku yang berusia sepuluh tahun. Kukunya sangat kotor. Meski begitu, aku tetap telaten membersihkannya.
“Buruan, Tan. Aku mau mabar nih,” desak M. Dia memang si paling tak sabaran. Aku hanya menggeleng sembari tersenyum dan melanjutkan proses pembersihan kukunya. M terus saja menggerutu.
Ditemani dengan omelan menggemaskan itu, ingatan semalam kembali lanjut. Pacarku, jika sudah lama merespon pesanku, itu artinya dia sedang malas meladeniku. Aku yakin dia tetap membaca pesanku, entah dari notifikasi pesan belum terbaca. Atau memang sengaja menunda untuk membacanya. Yang pasti, aku terus memberondong dengan pesan-pesan pengharapan agar dia mau menghargai perasaanku, kemudian melontarkan kalimat-kalimat manis yang bisa menenteramkan hatiku. Tapi pacarku tak semudah itu mengalah. Dan semalam, aku berakhir meratap sendirian ditemani rasa sakit tak berkesudahan yang tidak bisa kudeskripsikan rasanya, hingga pagi. Kamu tahu, bagiku kangen memang sebangsat itu.
“Sudah, sudah, sudah. Cepetan, Tan!” omel M lagi. Kali ini aku kecolongan hingga M telah berhasil kabur sebelum aku sempat menghaluskan kukunya. Sebenarnya aku bisa saja mengejarnya, tapi tampang Z sudah memelas ingin segera kulayani. Jadi aku membiarkan M lolos dengan selamat kali ini.
Z memang selalu menjadi yang terakhir. Hal itu karena dia selalu ingin dikuteks setelah kukunya dipotong rapi. Pink, itu warna favoritnya. Aku melakukan treatment spesial sembari ngobrol dengan Z.
Bocah itu mengaku kalau sebenarnya tidak suka menunggu lama. Baginya waktu sangatlah berharga. Z hanya punya kurang dari dua hari sebelum Senin berangkat sekolah, dan aku harus kembali menghapus kuteks itu. Tentu saja karena guru kelasnya pasti marah jika melihat kukunya berwarna.
Z tersenyum bangga melihat hasil pekerjaanku. Ia berjalan meninggalkanku sembari meniup-niup lapisan warna pink penuh glitter di kukunya itu. Aku yakin sebentar lagi dia akan memamerkannya pada ibu dan neneknya. Kemudian, dia juga akan main keluar untuk menunjukkan kepada teman-teman sepermainan tentang betapa cantik kukunya itu. Z pasti akan menjadi sangat berhati-hati memperlakukan kedua tangannya.
Aku meraih ponsel milikku yang masih sepi. Pacarku tidak menghubungiku. Bahkan dia sama sekali tidak membalas pesanku, padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Mustahil dia belum bangun. Aku kesal. Karenanya aku bangkit mengambil alat potong kuku milikku yang sudah tumpul dan berkarat untuk memotong kukuku sendiri.
Entah, aku menikmati kesulitanku. Memang perlu waktu berkali lipat lebih lama jika dibandingkan dengan kegiatan potong kuku ketiga ponakanku sebelumnya. Aku merenung. Apakah lelaki memang seperti itu? Sangat mudah mengatasi masalah, dan menganggap perihal kerinduan adalah sebuah kehinaan untuk diperjuangkan?
Dengan susah payah, aku masih terus saja menekan kuku jari tengah yang telah panjang itu. Hingga refleks aku menariknya paksa dan membuat daging jari sebelah dalam nampak dan terluka. Aku meringis perih. Gegas aku menuju wastafel untuk mencuci darah yang terus menetes. Sial, begitu terkena air, aku merasa ada sengatan kecil namun terasa tajam menusuk ke hatiku. Nyeri yang sama seperti semalam. Sesuatu yang membuatku menangis tanpa air mata, namun ajaibnya, kini air mata itu sudah bisa keluar.
Aku bangga pada diriku sendiri. Kurasa, kini aku sudah menemukan cara untuk mengatasi serangan yang dianggap lemah oleh pacarku. Semakin nyeri kurasakan, maka semakin tenang hatiku. Aku bahkan sejenak lupa, kalau pacarku, mungkin sudah tidak pernah merindukanku lagi.***
Padmi
Perempuan yang takut gelap.






