
Origami di Antara Rautan dan Pensil
Sepasang tangan melipat emosi,
pada kertas origami berwarna marun.
Sudut amarah bertemu sudut keputusasaan,
sisakan garis kegelisahan sepanjang harapan.
Tak peduli segerombolan ilusi terbahak-bahak.
Sepasang tangan itu terus membuat lekukan.
Sampailah ia pada sudut lipatan terakhir,
terbentuk balon udara.
Bagaimana bisa terlupa?
Kosong tanpa mantera.
Sepasang tangan itu beralih di kepala.
Menarik helaian sesal,
berusaha merontokkan nyeri di dada.
“Tuhan, rasa apakah ini? Sangat sakit,
hingga seingin apa pun menangis tetap tak bisa,” gerutunya.
Sisi mata hati murni menatap lekat
pada pensil tumpul di atas loker.
Cepat-cepat ditangkis bisikan sisi hati lainnya,
yang coba butakan di mana letak rautan.
Sepasang tangan meraih keduanya,
membiarkan mereka bercumbu membabi buta.
Ia kembali lupa,
hasrat tanpa kendali membuat pensil kerdil,
dan ujungnya terlalu runcing.
Rautan berbalut lembaran kayu tipis,
menggigit isi pensil yang sempat patah.
Sepasang tangan itu lunglai di meja,
menatap nanar pada ketiganya.
Pengharapan apa yang masih mungkin ditulis?
Ketika waktu tak lagi berpihak,
sepasang tangan itu meraih pensil,
ditusukkan ke balon udara.
Lubang kecil menganga.
Kembali pensil dan rautan disatukan,
kali ini bergumul mesra.
Napas terengah teratur.
Merapal doa capai kepuasan.
Rautan dan pensil kerdil menjaga balon udara.
Serutan dirauk, dimasukkan ke lubang terbuka.
“Aku memang tak sempat menuliskan mimpi.
Namun telah kutitipkan embusan rindu dalam serbuk kayu itu,” katanya lagi.
___________________
Perjalanan
dua buku terbaca judulnya saja
bahkan keripik kentang lenyap
seiring kopi panas yang menghangat
pikiran terbawa laju pada kecepatan 100 kilometer per jam,
bandung – yogyakarta
sayang, bayangmu justru bergerak melebihi cahaya
mengajak berputar-putar bak tornado
membawaku ke perjalanan lain di atas angin
“tenang, aku telah memintal jaring laba-laba serupa jembatan,” bisikmu
decit rem disertai klakson panjang menyentak,
disusul serapah juru kemudi
kami akhirnya menepi,
sejenak selaraskan irama jantung dengan napas
kupasang headset dan bantal leher
musik belum dimainkan,
tapi ajakanmu bercumbu sudah lebih dulu terdengar
sial, rupanya kau masih saja berani menggodaku
___________________
Mabuk Parfum
berlarian
melompat-lompat
berteriak
terbahak-bahak
bahkan kita telah lupa ledakan travo di seberang,
yang sempat buyarkan urutan angka di bangunan mimpi kita
lemon
kayu manis
sweet pea
sedikit koral
dan apel
kau yakin dengan rasa pikiran itu,
digerus dalam drum berbau anyir
hingga tanpa kau sadari, kumasukkan perisa anggur
kau mulai mempertanyakan keaslian aroma tubuhku
seperti buah berri,
juga pasir pantai yang barusaja tersapu gelombang
kupikir kau tak suka
aku menjauh,
dan kau menarikku
merobek kemejaku, persis saat kau berceloteh
aku kedinginan,
kau malah asyik ciprati asaku dengan parfum ciptaanmu itu
aku marah
tapi kau menciumku,
mengendus-endus seperti pudel peliharaanku
kurasa kau mabuk
jarimu menggambar masa depan di dadaku
desahmu seperti doa-doa panjang
kepalaku mulai pening
“bukankah kita sedang mabuk parfum?” tanyamu
ruang kosong ini kian pekat
“ya, dan aku ingin bercinta denganmu,” sahutku sambil menelanjangi perasaanmu
__________________
Ingatan Senja
Langkahku terhenti
Bangsal Kenanga, ruang 207
Sekilas siluet 3 tahun lalu memanggil
Meringis menertawakanku
Semalaman aku menimbang isi pesanmu
Kamu benar, lelaki sejati adalah sesiapa yang menuntaskan mulanya
Meski kita tak pernah nyata
Selangkah masuk, aku membatu
“Pertahankan jarak itu!” perintahmu
Manusia-manusia di pinggiran melirik, matanya menjerit-jerit
Cantik, hatiku riuh bersahut memujimu
Tulang-tulang menonjol, tak ingin kalah sibuk dengan pikiranmu yang terus mencipta rumus
Aku telah mantap
Sekotak masa depan koyak kususun kembali pada warna terang
Bukan biru gelap kesayanganmu itu
“Aku senang kamu datang.
Merah akan membuatku semakin indah,” sahutmu lagi
Enggan aku menunggu lebih lama
Sesaat aku sempat mencuri ingat warna sosokmu, kuning
Kusambar pistol di saku celana
Detail kuarahkan pada kaki cahaya terakhir netramu
Merah dan kuning berhamburan
Memutuskan lebur jadi satu
Tepat saat pistolku terjatuh, senja mengetuk dari jendela
Mimpiku biarlah menjadi impian
Meski di ujung napas namaku tak kau sebut
Aku berhasil menjadi pahlawan
Oranye adalah selimut keabadianmu
___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.
