Puisi

Puisi S. Prasetyo Utomo

Mantera Cucu

Cucuku lahir dari mantera kecemasan     

bayi merah yang dipuja harta     

dan tiupan angin mengendapkan suratan

untuk sebuah kisah yang memendam teka-teki

Kau berada dalam sebuah panggung    

yang menggelar  harapan palsu

masa depan dan kenangan    

terpilin selubung rahasia    

Tanganmu memainkan lakon   

yang mungkin sudah usang  

dalam hamparan waktu penuh kegaduhan

akankah kau tegar dalam pertikaian?    


Mantera Kakek  

Telah kauendapkan petualangan    

pengalaman yang sia-sia    

dalam pusaran zaman        

dihadapkan ketamakan anak     

Kaususupi titian waktu  

dengan gagah      

dengan tangguh      

tapi pewarismu penghisap candu          

Ketika pohonmu lapuk

anak-cucu abai  petunjuk   

segala ikatan luruh    

tumbang dan terpuruk  


Mantera Pencari Tahta 

Masih tersisa sihir  pencari tahta     

tiap tokoh menebar sugesti    

untuk merenggut kuasa      

dan cuan lebih berharga daripada surga     

hidup melulu didera kegusaran  

berlumur keculasan      

dan tai asu dikais      

dikemas sebagai riasan  

Tiap orang tertambat resah      

berhambur mantera penaklukan    

gugup mencari perlindungan    

tak ada ruang bernaung   

untuk menghindar dari penistaan.    

Kecemasan serupa kudis menggerogoti tubuh        

lesap terisap lembab      

tersembunyi dalam pengap     


Mantera Rubah    

Serupa rubah yang malih rupa   

kaudekati siapa pun yang berkuasa  

mengabdi pada mereka yang punya cuan  

sebagai raja, mungkin sebagai dewa   

dan kau menghambakan diri serupa kacung   

yang culas memainkan kesetiaan

untuk ikut menikmati mangsa  

yang ditangkap raja hutan   

setelah menerkam binatang buruan   

Kau hanya bisa hidup sebagai rubah  

yang berlindung di bawah penguasa rimba  

dengan segala pengabdian

dengan segala pengkhianatan

Kau selalu berada dalam pusat pesta   

mengabdi siapa pun yang bermahkota    

sambil mengendus mangsa   

dan kau akan merenggutnya.


Mantera Ratu Adil        

Labirin  mengendap di sepanjang jalan   

ruang yang kini senyap dari propaganda    

dan kisah penuh janji    

tebaran gugus fantasi       

yang tak mungkin terpenuhi      

dalam lakon  yang menawarkan dusta   

Tak ada lagi cuan, beras, dan kaos    

bergambar  Ratu Adil    

dalam daya pikat fantasi       

kau kembali mengarungi musim-musim getir     

hidup dalam kubangan comberan   

mengais nasib seorang diri.     

Tak seorang pun mengenang janji

kau tersekap ruang sunyi     

dalam lelah menanti   

mereka berpesta lagi.    


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

1 thought on “Puisi S. Prasetyo Utomo”

  1. Saya lebih mengenal Mas S. Prasetyo Utomo dalam prosa. Sepuluh(-an) cerpen dalam setahun yang dimuat Suara Merdeka tahun 99-an pernah saya pelajari. Waktu itu saya lebih tertarik pada pendeskripsian setting tempat. Semacam pegunungan, perbukitan, rerimbun hutan, perdesaan, pematang, dan seterusnya yang lekat dengan kealamian alam. Sekian puluh tahun berikutnya, aktivitas kesastrawanannya kian memesona. Konsistensi dan kreativitas Mas Pras moncer. Wah, tahniah pokoke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *