Cerpen Yulputra Noprizal

Bersandar pada tiang teras rumah yang belum diplester, Marianus sudah menghabiskan delapan batang rokok murah sedari pukul setengah delapan pagi tadi. Sekarang sudah pukul setengah sembilan. Tek Saijah yang ia suruh membeli bahan instalasi listrik belum juga datang. Marianus menyuruh perempuan berumur 60 tahun itu membeli bahan instalasi listrik di Toko Anggrek Elektronik. Membeli bahan ke mana dia. Kok lama benar, batin Marianus.
Sambil men-scroll tayangan di tik-tok, Marianus tiba-tiba merasa geli. Ia ingat kemarin dapat job juga. Ia beli bahan di Toko Bagas Elektrik. Apa kata Bagas, yang punya toko Bagas Elektrik, kepadanya–ketika Marianus meminta fee dalam membeli bahan–membuat hati Marianus benar-benar emoh sekarang.
“Kau yang belanja masa meminta uang ke aku,” kata Bagas ketika bahan-bahan instalasi listrik sudah masuk ke dalam kresek besar.
“Aku ini anak biro (tukang listrik). Ini bukan kerja borongan. Orang punya rumah yang membeli hahan. Aku hanya membelikan saja. Seharusnya aku dapat uang karena sudah membawa orang belanja ke tempat kau,” kata Marianus, sembari mengambil kresek yang sudah berisi bahan-bahan instalasi listrik. Siap menjinjingnya ke atas sepeda motor. Juga, pipa 5/8 terikat yang tergeletak di lantai teras toko ia akan bawa.
“Untung bahan-bahan instalasi itu tidak sampai 15 persen. Kalau aku beri uang kau tentu saja untungku jadi tak sampai 10 persen.”
“Kan bisa kau naikkan harganya tadi,” kata Marianus mulai geram.
“Itu namanya mark-up. Tak mau lagi nanti orang belanja ke tokoku,” kata Bagas.
Mark-up, apa pula itu? batin Marianus. “Terserah, mau mark-up. Mau untung jualanmu yang kau berikan ke aku. Biasanya orang toko bila berurusan dengan anak biro sama-sama mengertilah,” kata Marianus sambil mencampakkan rokoknya yang tinggal puntung. “Ah, kau ini. Toko baru. Sok kau,” lanjut Marianus sambil meletakkan kresek yang berisi bahan-bahan instalasi listrik di lantai sepeda matic-nya. Sementara tangan kanannya menstater sepeda motor, tangan kirinya menjinjing pipa 5/8.
***
Hari sudah jam sembilan. Marianus melayangkan pandang ke depan, ke pagar bambu rumah. Ia sedikit mengulum liur, belum juga datang Tek Saijah. Sekarang sudah masuk batang rokok kesepuluh yang ia isap pagi ini. Ah, mana kopi tak dibuatkan pula. Pahit rasanya lidahku, batin Marianus.
Sambil terus men-scroll tayangan-tayangan di tik-tok, Marinus ingat pesan gurunya dalam memasang instalasi listrik dulu. Setahun lebih ia ikut Biro Malus pasang instalasi listrik dulu. Kata Biro Malus, kalau anak biro membeli bahan di sebuah toko, jangan lupa minta fee. Kalau tidak dikasih fee, jangan mau lagi belanja ke toko itu lagi. Dan, kalau bisa ketika pemilik toko menulis belanja kita di nota, tambahkan satu atau dua rol kabel. Katakan saja ada satu atau dua rol kabel menganggur di rumah.
Pesan Biro Malus lagi pada Marianus, kalau kerja bukan borongan, yang punya rumah membeli bahan instalasi listrik, lebihkan beli kabelnya. Biar nanti, sisa kabel itu buat kita. Kabel sisa memasang instalasi itu nanti bisa dipakai buat kerja borongan. Atau, bisa dijual ke toko listrik yang lain.
Juga, kalau yang punya rumah beli bahan suruh dia beli kabel yang bagus. Minimal merk Praba, kalau bisa Supreme. Saklar-saklar dan stop kontak suruh dia beli yang merk bagus. Minimal Broco, kalau bisa Schneider. Dengan begitu, kata Biro Malus, orang yang punya rumah akan merasakan mahalnya harga alat-alat instalasi listrik. Tentu saja imbasnya, tujuan sebenarnya, tidak akan mau orang yang punya rumah memberi upah murah ke anak biro. Di benaknya kita beri bayangan, lanjut Biro Malus, betapa tingginya harga bahan-bahan instalasi, tentu saja upahnya harus sebanding pula dengan harga bahan.
Marianus ingat betul pesan gurunya itu. Dan, sedikit pun Marianus tak merasa digurui; apalagi merasa diajari perilaku yang buruk.
Dalam men-scroll tayangan di tik-tok Marinus kadang tertawa, kadang pilu, menyaksikan tayangan-tayangan dari konten kreator di sana. Namun, sekarang jam sudah menunjukkan setengah sepuluh, Tek Saijah belum juga ada tanda-tanda kedatangannya. Marianus pun mulai dilanda bosan. Dan, ia tak berminat menyambung rokoknya.
Mulut Marianus menguap. Ia segera ingat, jam tiga dini hari tadi matanya baru bisa pejam. Sebab pikiran yang menerawang ke mana-mana. Ia pun mengantuk.
***
Tek Saijah merasa bersyukur sekali. Karena adiknya yang tinggal di Muara Gadang sudi meminjamkan uang padanya. Tadi ia sudah datang ke Toko Anggrek Elektronik. Catatan yang dibuat Marianus, berisi jumlah alat-alat instalasi listrik yang harus dibeli, sudah ia berikan. Ternyata total belanja hampir mencapai Rp 2 juta. Sedangkan Tek Saijah hanya bawa uang Rp 1 juta, plus Rp 500 ribu buat gaji Marianus. Bukan rahasia lagi kalau di Toko Anggrek Elektronik tidak boleh mengutang.
Sebelum ke tempat adiknya di Muara Gadang, sudah ke mana-mana Tek Saijah meminjam uang di Koto Marapak, kampungnya–ia berusaha meminjam pada tetangga-tetangga. Rumah baru Tek Saijah itu tak begitu luas. Lebar 7 meter, panjang 10 meter. Kalau dilihat-lihat, hampir menyerupai toko. Itulah hasil jerih payah Tek Saijah selama tiga puluh tahun menabung dari hasil ia berjualan lontong sayur di dekat smp.
Saat kasir Toko Anggrek Elektronik menyebutkan total belanja Tek Saijah sejumlah Rp 1.956.000, hati Tek Saijah seketika merasa ciut dan kecut. Ada anaknya yang bekerja sebagai TU di sma yang punya pengetahuan juga soal listrik. Anaknya itu mengatakan kalau rumah sebesar rumahnya itu belanja bahan instalasinya paling banyak Rp 1 juta. Kenyataan, sungguh jauh meleset dari perhitungan kasar anaknya itu.
Tentu saja Tek Saijah tidak menyalahkan anaknya, karena ia hanya membawa uang–memang itulah yang ia punya–Rp 1 juta plus Rp 500 ribu buat gaji Marianus. Dan, Tek Saijah juga tidak sedikit pun berprasangka yang bukan-bukan kepada Marianus. Lagi pula, Marianus sekampung (sedusun) dengannya.
Kalau dilihat-lihat orang yang mengerti listrik, catatan yang dibuat Marianus sungguh mencengangkan: Pipa 5/8, 8 batang; kabel NYA 1,5, 2 rol (50m), kabel NYA 2,5 2 rol (50m), dan bahan-bahan lain yang kesemuanya jumlahnya dilebihkan Marinus. Belum lagi kabel, kabel mahal pula, Supreme. Saklarnya Schneider.
Baru jam sepuluh Tek Saijah sampai di depan rumah barunya. Ia dengan sepeda motor matic-nya membawa pipa dan bahan-bahan instalasi listrik dalam kantong kresek hitam yang padat, segera menurunkan bawaannya.
Tiba-tiba Tek Saijah merasa bersalah setelah melihat Marinus tertidur sambil bersandar di tiang teras rumahnya yang belum diplester. Ia menyalahkan diri karena begitu lama membeli bahan instalasi.
“Marianus!” kata Tek Saijah, seteleh melangkah lunglai ke tempat Marianus tidur.
Marianus tersentak. Ia segera mengucek-ucek matanya. Dalam pikiran Marinus segera terbayang: ia dapat kabel 2 rol (50m). Sudah masak benar di otak Marinus kalau rumah baru Tek Saijah tak akan menghabis kabel 2 rol. Belum inbowdus yang ia lebihkan. Belum lagi fitting gantung yang ia lebihkan, belum lagi klem pipa yang ia lebihkan, dan lain-lain yang membuat perasaan Marianus gembira bercampur pusing–pusing karena akhir-akhir ini ia kurang tidur malam.
Marianus tersenyum simpul. Ia panjar bungkus rokoknya. Setelah mengambil korek gas, ia segera menyalakan rokoknya.
“Kok lama benar Tek,” kata Marianus, bertambah simpul senyum Marinus setelah melihat bahan-bahan instalasi dalam kantong kresek yang padat isinya terletak di depan ia duduk.
“Uang tak cukup. Habis waktu mencari pinjaman uang. Untung adik etek yang suaminya kerja ke laut di Muara Gadang itu sedang punya uang. Hampir Rp 2 juta kena membeli bahan Marianus. Mahal ya alat-alat instalasi sekarang,” kata Tek Saijah.
“Mahal Tek. Tapi kopi sejak tadi belum Etek buatkan aku,” kata Marinus sembari menghisap dalam rokoknya.
“Mengopi pula dulu. Ndak langsung dikerjakan,” kata Tek Saijah yang langsung berpaling, melangkah ke rumahnya–sebuah rumah papan yang tak jauh dari rumah baru yang belum diplester itu.
Mengopi pula aku tak boleh. Tentu belum akan aku kerjakan memasang instalasi ini, batin Marianus.
Tak lama Tek Saijah datang dengan segelas kopi lengkap dengan piring penadahnya. Menghidangkan di depan tempat Marianus duduk bersandar.
Setelah kopi terhidang, Marinus menyesap kopi itu sedikit. Terasa panas sekali. Lidah terasa melepuh. Tapi ia telan juga. Ia pun lantas berdiri.
“O ya, Tek. Aku lupa. Paluku tertinggal di rumah. Ini rokok juga hampir habis. Tidak tahu aku bekerja kalau tidak ada rokok. Aku pergi dulu sebentar, Tek,” kata Marianus sambil melangkah menuju sepeda motor matic-nya.
***
Tiba di Toko Anggrek Elektronik perasaan Marianus membumbung-bumbung.
“Kabel bagus dan saklar bagus dikasih tadi kan,” kata Marianus kepada Agus, pemilik Toko Anggrek Elektronik.
“Sesuai dengan catatan Marianus saja semuanya,” kata Agus sembari menyerahkan amplop berisi uang yang jumlahnya sekitar 6-7 persen dari jumlah belanja Tek Saijah tadi ke tangan Marianus yang menadah.
“Ingin mengucap kata kotor aku sebenarnya melihat Bagas, yang punya Bagas Elektrik, kemarin. Masa’ aku belanja di sana tidak dikasih fee. Di sini kan enak, sebagai basa-basilah kepada anak biro,” kata Marianus sembari duduk di kursi tak jauh dari meja kasir.
Dan, hari sudah menunjukkan pukul sebelas. Pikiran Marianus mulai bercabang. Apakah sebaiknya sore saja ia mengerjakan pasang instalasi listrik rumah Tek Saijah. Sambil tergelak dalam hati, Marianus membakar sebatang rokok. Dan, memasukkan amplop ke saku celana jinsnya.***
____________________
Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.
