Cerpen

Bunga-Bunga yang Tidak Pernah Layu

Cerpen Erna Surya

Aku pertama kali bertemu Rendra Kusumah di sebuah galeri di Jakarta. Saat itu aku bekerja sebagai staf kuratorial. Pekerjaanku sederhana: mengurus lukisan, menyusun pameran, menjawab pertanyaan pengunjung. Sesekali mendengarkan seniman menjelaskan karya mereka dengan kata-kata yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak mengerti.

Rendra berbeda. Ia datang memakai sepatu lusuh. Celananya sedikit kepanjangan. Rambutnya tidak disisir dengan baik. Ia membawa satu gulungan kanvas di bawah ketiak. Tidak ada yang mengenalnya. Ia juga tidak berusaha membuat dirinya dikenal. Lukisannya dipasang di sudut ruangan. Tidak besar. Tidak berwarna mencolok. Hanya sebuah pohon. Tetapi pohon itu tidak tumbuh dari tanah. Akarnya menggantung di udara. Di bawahnya terdapat lubang hitam.

Aku berdiri cukup lama di depan lukisan itu.

“Bagus?” tanya Rendra dari belakangku.

“Orang-orang bilang begitu.”

“Orang-orang biasanya tidak tahu apa yang mereka bilang.”

Aku menoleh. Wajahnya pucat. Matanya seperti orang yang kurang tidur.

“Itu pohon apa?” tanyaku.

“Bukan pohon.”

“Lalu?”

“Rumah.”

Aku kembali melihat lukisan itu.

“Rumahmu?”

Rendra tersenyum. “Rumah semua orang.”

Malam itu kami mulai berbicara.

***

Rendra tinggal di sebuah rumah petak di belakang pasar lama Cikini. Aku baru tahu ketika ia mengajakku ke sana beberapa minggu kemudian. Rumahnya sempit. Cat dinding mengelupas. Lantainya lembap. Bau minyak tanah bercampur dengan bau cat. Tetapi ada satu benda yang menarik perhatianku. Sebuah akuarium besar. Ukurannya hampir setinggi tubuhku. Di dalamnya tidak ada ikan. Hanya air kehijauan dan bunga-bunga plastik.

“Kenapa bunga plastik?” tanyaku.

“Tidak mati.”

“Tidak hidup juga.”

Rendra tertawa.

“Justru itu.”

Aku mendekati akuarium. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, dan putih. Sebagian sudah kusam. Ada yang terendam seluruhnya. Ada yang mengapung di permukaan.

“Bunga ini tidak pernah layu,” katanya.

Aku tidak menjawab. Rendra kemudian mengambil dua gelas. Kami minum kopi di ruang tamunya. Di dinding terdapat banyak lukisan. Sebagian berupa wajah. Sebagian berupa mata. Ada satu wajah perempuan yang membuatku berhenti.

“Siapa?”

Rendra tidak langsung menjawab.

“Istriku.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kau menikah?”

“Dulu.”

“Sekarang?”

“Sekarang dia tinggal di sini.”

Aku mengira ia sedang bercanda. Tetapi wajahnya tetap serius.

Di samping lukisan itu ada sebuah kursi. Di atasnya terlipat pakaian perempuan. Blus. Rok. Selendang. Semuanya rapi. Seperti baru saja dilepas.

***

Aku datang lagi seminggu kemudian. Wajah perempuan di dinding itu berubah. Aku yakin. Matanya lebih terbuka. Bibirnya lebih pucat. Aku bertanya kepada Rendra.

“Kenapa lukisan ini berubah?”

Ia sedang mencuci kuas.

“Tidak berubah.”

“Berubah.”

“Barangkali kau yang berubah.”

Aku tidak menjawab. Sejak saat itu aku mulai memperhatikan lukisan itu setiap kali datang. Kadang matanya seperti melihat ke arah pintu. Kadang seperti melihat kepadaku.

Suatu malam, aku menemukan Rendra sedang menghapus wajah perempuan itu. Kuas basah bergerak perlahan di atas cat.

“Kenapa dihapus?”

“Dia marah.”

“Siapa?”

Rendra menunjuk lukisan itu.

“Dia.”

Aku tertawa kecil. Rendra tidak.

***

Beberapa minggu kemudian Rendra mengatakan sedang membuat karya terakhir.

“Apa?”

“Belum tahu.”

“Lukisan?”

“Bukan.”

“Patung?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Ia menatap akuarium.

“Aku ingin membuat kehidupan.”

Aku mengira ia sedang mabuk. Tetapi Rendra tidak minum malam itu.

Seminggu kemudian ia meneleponku. “Datang malam ini.”

Aku datang sekitar pukul sebelas. Rumahnya gelap. Hanya lampu kecil di dekat akuarium yang menyala. Air di dalamnya sudah berubah. Tidak lagi hijau. Hampir hitam. Aku melihat sesuatu di dalam air. Benda itu panjang. Putih. Aku tidak tahu apakah itu kain. Atau sesuatu yang lain.

“Jangan takut,” kata Rendra.

Aku mundur.

“Ini apa?”

“Warna baru.”

Tangannya berlumur merah tua.

“Cat?”

Ia melihat tangannya.

“Darah.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau pergi. Rendra mendekati akuarium.

“Cat tidak bisa membuat orang hidup.”

Ia menatap bunga-bunga plastik. “Tapi darah bisa mengingat tubuh.”

Aku pergi malam itu. Aku tidak mengucapkan selamat tinggal.

***

Setelah itu aku tidak melihat Rendra selama dua minggu. Aku mencoba menelepon. Tidak diangkat. Aku datang ke rumahnya. Pintu terkunci. Tetangganya mengatakan Rendra jarang keluar.

“Kadang malam-malam terdengar suara perempuan.”

“Perempuan?”

“Iya.”

“Ngapain?”

“Menyanyi.”

Aku memandang pintu rumah Rendra.

“Bagus?”

Tetangga itu menggeleng.

“Bagus sekali.” Lalu ia menambahkan, “Itu yang membuat takut.”

Aku mengetuk pintu. “Rendra.”

Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Dari dalam terdengar suara air. Tetes demi tetes. Kemudian suara kaca bergetar. Aku memanggil namanya sekali lagi. Kali ini terdengar suara Rendra.

“Jangan datang dulu.”

“Kenapa?”

“Aku hampir selesai.”

***

Dua minggu kemudian, aku membaca berita tentang kematiannya. Rendra ditemukan meninggal di rumahnya. Tubuhnya berada di dalam akuarium. Bunga-bunga plastik masih ada di sana. Airnya berwarna kehijauan.

Polisi menyebutnya bunuh diri. Aku membaca berita itu berulang kali. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa masuk ke dalam akuarium sebesar itu. Aku lebih tidak mengerti mengapa ia melakukannya.

Di meja kerjanya ditemukan selembar kertas. Hanya satu kalimat. Warna baru sudah jadi. Tapi dunia ini buta.

Aku menyimpan salinan berita itu. Entah untuk apa.

***

Tiga bulan kemudian, galeri mengadakan pameran Rendra. Orang-orang datang. Banyak sekali. Orang-orang yang dulu tidak mengenalnya sekarang berbicara tentangnya seperti sahabat lama. Mereka membicarakan kematian, tubuh, air, kehidupan, kematian.

Beberapa bahkan menyebut Rendra jenius. Aku hanya diam. Salah satu lukisan yang dipamerkan berjudul Bunga-Bunga yang Tidak Pernah Layu.

Aku mengenalnya. Akuarium. Air hijau. Bunga plastik. Dan sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang samar. Aku menaruh keterangan pendek di bawah lukisan. Rendra Kusumah, 1989–2024. Bunga-Bunga yang Tidak Pernah Layu.

Aku tidak menulis tentang darah. Aku tidak menulis tentang istrinya. Aku tidak menulis tentang suara perempuan yang menyanyi. Tidak ada gunanya. Tidak seorang pun akan percaya.

***

Pada malam ketiga pameran, aku melihat sesuatu. Air di dalam lukisan bergerak. Aku berdiri cukup dekat. Kanvas itu kering. Tetapi airnya bergerak. Pelan. Seperti ada sesuatu di dalamnya yang sedang bernapas.

Aku mundur. Gerakan itu berhenti. Aku mendekat lagi. Bergerak. Aku memejamkan mata. Ketika membukanya, aku melihat wajah perempuan. Bukan wajah istri Rendra. Wajahku sendiri.

Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding. Di lantai, sebuah bunga plastik tergeletak. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku mengambilnya. Bunga itu basah.

***

Sejak malam itu aku sering mencium bau cat. Di kantor. Di rumah. Di kamar mandi. Bahkan ketika sedang tidur. Aku juga mulai bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di depan akuarium. Rendra berada di dalamnya. Ia tidak berbicara. Ia hanya menunjuk bunga-bunga plastik. Kemudian dari dalam air muncul tangan. Tangan perempuan. Tangannya pucat. Kukunya panjang.

Aku selalu terbangun sebelum tangan itu menyentuhku. Setiap pagi aku menemukan sesuatu di telapak tanganku. Kadang serpihan cat. Kadang noda merah. Pernah juga sehelai benang putih. Aku membuang semuanya.

Tetapi setiap pagi selalu ada lagi.

***

Orang-orang terus memuji Rendra. Namanya mulai masuk majalah. Lukisannya dibeli kolektor. Orang-orang menyebutnya seniman yang melampaui zamannya. Aku pernah mendengar seorang kritikus berkata, “Kematian membuat karya Rendra menjadi lebih hidup.”

Aku ingin tertawa. Tetapi tidak jadi. Sebab saat itu aku melihat air di dalam lukisan bergerak lagi. Kali ini lebih kuat. Seperti seseorang sedang mengetuk dari dalam.

Tok. Tok. Tok.

Aku berdiri di depan lukisan. Tidak ada orang lain. Aku ingin pergi. Tetapi kakiku tidak bergerak. Kemudian aku mendengar suara perempuan. Sangat pelan.

“Bunga tidak pernah layu.”

Aku menutup telinga. Suara itu tetap terdengar.

“Karena tidak pernah hidup.”

Aku melihat ke dalam lukisan. Wajah perempuan itu muncul lagi. Wajahku. Tetapi kali ini ia tersenyum.

***

Malam ini galeri sudah kosong. Aku masih di sini. Di depan lukisan Rendra. Lampu dimatikan. Hanya satu lampu kecil menyala di atasnya. Aku tidak tahu mengapa aku belum pulang. Mungkin karena aku sedang menunggu sesuatu. Atau seseorang.

Air di dalam lukisan mulai bergerak. Bunga-bunga plastik bergoyang.

Satu. Dua. Tiga.

Kemudian aku melihat tubuh seseorang di bawah air. Rambutnya panjang. Tangannya menempel pada kaca. Ia mengetuk.

Tok. Tok. Tok.

Aku mendekat. Perempuan itu mengangkat wajah. Aku mengenalnya. Ia adalah perempuan dalam lukisan Rendra. Istrinya. Ia membuka mulut. Tidak ada suara.Tetapi aku tahu apa yang dikatakannya. Masuk.

Aku mundur. Terlambat. Sesuatu yang dingin menyentuh tenggorokanku. Aku mencoba berteriak. Tidak ada suara. Aku mencium bau air. Bau cat. Bau tanah basah. Lalu semuanya menjadi gelap.

Pagi nanti, mungkin petugas kebersihan akan menemukan galeri tetap terkunci. Mereka akan melihat lukisan itu. Mereka akan melihat bunga-bunga plastik. Mereka akan melihat air yang tetap tenang. Mereka mungkin juga akan melihat sesuatu yang baru. Seorang perempuan berdiri di dalam akuarium. Tidak ada yang tahu siapa dia. Tidak ada yang tahu bagaimana ia bisa masuk ke sana. Dan bunga-bunga itu tetap tidak layu.***

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *