Cerpen Ruly R

Rustam Efendi datang ke angkringanku di malam gerah. Dia memesan secangkir kopi hitam tanpa gula, duduk di kursi panjang, tepat bersisihan gerobak, depan ceret, seperti biasanya. Dia adalah pelanggan pertamaku hari ini. Tiga hari belakangan sepi pengunjung, yang datang ke sini tak lebih dari jumlah jari di kedua tangan. Kutanyakan pada Rustam Efendi sekadar basa-basi semata tentang dari mana dia tadi, hanya jawaban pendek yang kudapat. Wajahnya tampak kusut, persis telur puyuh sundukan lupa direbus lagi.
Jari Rustam Efendi sibuk mengetik di ponsel yang setengah layarnya retak. Kusajikan pesanannya, dia mengucap terima kasih begitu lirih—lebih lirih dari suara rebusan air yang matang. Kutaruh pantatku di sampingnya dan mencomot kretek yang ada di toples bekas biskuit lebaran.
“Tumben kau sendiri. Biasanya bersama Herman Gentong.”
Rustam Efendi hanya menatapku, mulutnya masih saja terkunci. Wajahnya tampak tak senang ketika aku menyebut nama lelaki bertubuh gendut mirip Big Show dalam acara Smack Down. Aku coba mengerti karena bagi siapa saja yang mengenal Herman Gentong tentu akan merasa sebal. Dia sering mengatakan hal yang sedikit tentang kenyataan, selebihnya hanya bualan saja. Herman Gentong juga kerap melayangkan ejekan yang memerahkan telinga padaku, terlebih pada Rustam Efendi. Ada satu ejekannya pada Rustam Efendi yang membayang di kepalaku dan membuatku marah. Itu terjadi empat bulan lalu, saat kuburan ayah Rustam Efendi belum kering dan dengan gampangnya Herman Gentong mengucap bahwa kami bisa bekerja sama mendirikan Yatim Park. Tawa berhambur dari mulut Herman Gentong, sementara Rustam Efendi hanya diam sama denganku, seperti sebelum-sebelumnya. Jika saja Rustam Efendi menghitung ejekan Herman Gentong, maka dia seperti menghitung jumlah rambut di kepalanya sendiri.
Pikiranku melayang pada bualan-bualan Herman Gentong, meski aku dan Rustam Efendi masih sama-sama menyimpan suara masing-masing, hanya ada bunyi reretak arang, sekali-dua deru motor kencang, dan berisik serangga malam di pohon mangga samping gerobak.
“Berapa utang Herman padamu?”
Aku tercekat karena Rustam Efendi tiba-tiba bertanya itu. Kujawab dua jutaan dan itu sebenarnya modal untuk memperbaiki gerobakku.
“Kau membencinya?”
Aku hanya diam. Mengisap kretekku dalam tarikan napas panjang, mengembuskannya teramat perlahan. Dia menyenggol tanganku.
“Apakah ada orang yang tak benci pembual itu?” Aku sudah menagih berkali-kali dengan alasan apapun. Kebohongan tentang biaya obat untuk anakku dan semacamnya, namun yang kudapat hanya janji-janji yang menjadi bualan sempurna milik Herman Gentong.
“Sempurna. Aku tahu di sini sepi.”
“Memang. Seperti menunggu angin,” jawabku.
“Kau orang yang sabar.”
“Hanya itu yang bisa kulakukan. Bagaimana bisnismu?”
Kami kembali diam.
“Aku sudah punya rencana,” ucap Rustam Efendi menjeda keheningan yang ada di antara kami.
Aku semringah mendengar itu. Akhirnya dia akan mengatakan pilihan rencana bisnisnya. Itu adalah celetukan yang akan menjadi kenyataan. Tiga bulan lalu, Rustam Efendi mengantongi uang tiga belas juta hasil jual dua motor dan beberapa perabot warisan bapaknya. Dia bertanya padaku tentang usaha apa yang cocok dijalankan olehnya. Kukatakan dia harus memulai bisnis kecil-kecilan dan peluang terjualnya besar, yaitu berdagang beras. Kuanjurkan untuk melayani pembelian online dengan model pesan-antar. Malam itu juga, di angkringanku, dia meng-instal WhatsApp Business. Siap memulai pertaruhannya bersama putihnya beras. Namun, Herman Gentong yang mendengar ideku justru mengatakan bisnis itu terlalu berat. Dia mengajak Rustam Efendi berjualan ikan hias saja. Bagi Herman Gentong yang memang hobi mancing, itu adalah ide yang gilang gemilang dalam memulai usaha.
Sedikit bujukan dan selebihnya bualan, membuat hati Rustam Efendi goyah akan pilihannya. Herman Gentong begitu getol merayu si pemilik modal agar memulai usaha dengannya. Begitulah yang tiap kali kudengar ketika mereka di angkringanku. Waktu-waktu lalu tiap kutanya tentang bisnisnya, Rustam Efendi hanya mengangkat kedua bahunya. Sempat kuucapkan percuma WhatsApp Business yang dia miliki, sementara dia tak memiliki bisnis. Herman Gentong yang menjawab kelakarku bahwa bisnis ikan hias akan berjalan dalam waktu dekat. Dua bulan berlalu, dan bualan tentang bisnis memang hanya bualan semata.
Bunyi dasar cangkir menyentuh alas lepek membuyarkan lamunanku.
“Kau sudah tentukan kepastian rencana bisnis apa?” tanyaku.
“Ini bukan tentang bisnis.”
“Lantas?”
Rustam Efendi menggeser pantatnya beberapa jengkal, kepalanya mendekat. Dia bisikkan tentang keinginan membunuh.
“Kau sudah gila!” ucapku.
“Ini tidak gila! Pembual itu harus dibunuh!” katanya, lantas menceritakan rencananya.
Pertama, dia akan membunuh dengan cara membokong. Di kebun pisang belakang rumah, Rustam Efendi akan menjerat leher Herman Gentong menggunakan kawat baru hingga mati. Mayatnya akan dibuang di antara selokan setengah kali di dekat kebun pisang itu atau memutilasinya langsung, lalu membuang potongan tubuh dengan cara ecer, di beberapa tempat, utamanya di TPA Mrican.
Aku mengatakan kalau rencana itu terlalu berisiko dan makan waktu, terlebih jika diketahui Herman Gentong kalau Rustam Efendi membokongnya. Pun, jika tak diketahui, aku yakin kalau tenaga Rustam Efendi kalah jauh dibanding Herman Gentong, dia tidak akan berhasil menjerat hingga mati apalagi memutilasnya, yang ada, justru Rustam Efendi yang mati dibunuh Herman Gentong, atau minimal dia akan babak belur disikat Herman Gentong.
Rustam Efendi kembali menyesap kopinya.
“Bagaimana kalau rencana kedua?”
Aku diam, sementara Rustam Efendi melanjutkan cerita tentang rencananya. Dia akan mengajak Herman Gentong ke Magetan dengan mobil. Rustam Efendi akan berada di belakang setir, sementara Herman Gentong di sampingnya. Dengan suatu alasan yang belum terpikirkannya, Rustam Efendi akan membawa mobil itu meluncur ke jurang sementara dia melompat lebih dulu. Menurutnya, dengan begitu, bisa dianggap sebagai kecelakaan semata.
Aku tertawa mendengar rencana itu karena terbayang film-film yang dibintangi Beri Prima atau Jackie Chan.
“Apa yang lucu?!” bentak Rustam Efendi.
“Kau bisa menyetir?”
Dia mengangguk pelan.
“Mobil siapa yang akan kau bawa?”
Rustam Efendi diam saja. Tawaku meledak lebih keras, persis penjudi yang menang banyak.
“Bagaimana kalau rencana ketiga?” tanyanya lantas berpanjang lebar menjelaskan rencanaya sebelum aku mengiyakan.
Rustam Efendi akan mengajak Herman Gentong memancing ke tebing laut Pacitan. Di tengah malam dia akan mendorong Herman Gentong dan membayangkan kepala lelaki itu menubruk karang tebing laut, lantas Rustam Efendi akan membuang mayatnya supaya tidak diketahui siapapun dan dianggap hilang begitu saja.
Aku tertawa lebih kencang karena kelewat sederhana dan paham rencana itu tak akan berhasil. Jelas, kalau perkara tempat memancing yang bagus, tentu Herman Gentong lebih tahu dibanding Rustam Efendi.
“Kau tahu hari ini Herman ke mana?” tanyaku.
Rustam Efendi menggeleng.
“Barangkali dia sedang mancing. Meski tak mati dan besok akan berbual lagi.”
Aku tertawa sampai perutku sakit.
“Bagaimana kalau dia kuracun?” tanya Rustam Efendi.
Dia jelaskan kalau akan membeli racun di toko bahan kimia dekat Toko Murni 2 lalu memasukkan racunnya di arak jawa yang sengaja dia hadiahkan pada Herman Gentong agar diminumnya di rumah.
Aku beringsut dari dudukku, hendak ke belakang gerobak.
“Aku serius,” ucapnya.
Aku masih saja tertawa.
Dia setengah teriak memanggilku yang masih tertawa.
“Mana rencana yang kau pilih?” tanyaku.
Rustam Efendi hanya terdiam. Tawaku berhamburan.
Pandangan Rustam Efendi mengilatkan kesumat yang dalam, untukku.***
____________________
Ruly R, penjaga kandang Rusamenjana Books Store yang suka nonton sepak bola.
