Dunia Menulis

Kisah Bangsat yang Tak Butuh Penebusan

Orang sering berkata, “Tulis yang indah-indah, yang menginspirasi, yang penuh harapan.” Seakan-akan menulis hanya boleh menjadi lentera di tengah gelap. Tapi bagaimana kalau justru yang ingin kutulis adalah kegelapan itu sendiri? Bagaimana kalau aku ingin menulis tentang luka yang membusuk, bukan yang sembuh? Tentang tokoh yang tidak bangkit dari keterpurukan, melainkan tenggelam lebih dalam, mencium dasar kehancuran tanpa ada tangan yang menariknya naik?

Menulis adalah cermin. Dan cermin tidak selalu menampilkan wajah yang cantik. Kadang-kadang ia memantulkan wajah seseorang yang baru bangun tidur, dengan rambut acak-acakan dan mata bengkak karena tangisan semalam. Kadang ia menampilkan noda yang sudah kita coba hapus, tapi tetap ada di sana, membandel, mengingatkan bahwa beberapa hal memang tidak bisa dihapus begitu saja.

Kenapa cerita harus berakhir bahagia? Kenapa tokoh utama harus menemukan makna hidupnya di akhir cerita? Bagaimana kalau ia justru makin tersesat? Bagaimana kalau, di halaman terakhir, ia tidak menjadi lebih baik, tapi lebih buruk? Kita suka berpura-pura bahwa dunia ini penuh harapan, padahal kita tahu tidak semua orang mendapat akhir yang baik. Tidak semua korban mendapatkan keadilan. Tidak semua cinta menemukan jalannya. Tidak semua luka bisa sembuh.

Dan itu tidak apa-apa.

Kadang, menulis kisah buruk justru lebih jujur. Menulis tentang seseorang yang berusaha melawan hidup, tapi tetap kalah. Tentang seseorang yang mencintai, tapi dikhianati. Tentang seseorang yang memimpikan sesuatu, hanya untuk melihatnya hancur di depan mata. Dunia nyata penuh dengan itu semua, dan menulisnya bukanlah dosa. Justru, menulis adalah cara untuk tidak berpaling dari kenyataan.

Barangkali ada yang berkata, “Tapi bukankah kita harus menyebarkan hal baik?”

Tentu, jika itu yang ingin kau tulis. Tapi jangan paksakan semua tulisan untuk menjadi pelipur lara. Sebab dunia ini tidak hanya tentang yang baik-baik saja. Dunia juga milik mereka yang gagal, mereka yang jatuh, mereka yang dikhianati, mereka yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat lagi.

Menulis bukanlah pekerjaan untuk menutup-nutupi kenyataan. Kadang ia harus menjadi pisau yang mengiris, menunjukkan luka dengan kejujuran yang menyakitkan. Dan kalau itu terasa menyesakkan, mungkin karena kita tidak terbiasa melihat kenyataan tanpa filter.

Tapi menulis bukan untuk membuat nyaman. Menulis adalah untuk membuat kita merasa sesuatu—apa pun itu. Bahkan jika yang kita rasakan adalah sesak, kecewa, atau bahkan marah.

Jadi kalau kau ingin menulis kisah yang buruk, yang pahit, yang tidak ada pembelajaran moral di ujungnya, yang tidak memberikan secercah harapan… silakan. Tidak ada yang melarang. Karena menulis bukan hanya soal memberikan harapan. Menulis adalah soal merekam kenyataan—bahkan yang paling bangsat sekalipun. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *