
Pernahkah kamu mendadak urung membaca buku hanya karena hal-hal sepele? Seperti posisi duduk yang kurang nyaman. Tetangga karaoke dangdut koplo, padahal kamu lebih suka membaca dengan iringan musik keroncong. Pencahayaan ruangan terlalu terang seperti di acara kondangan, atau terlampau temaram bak candle light dinner di restoran. Atau persediaan kopi di lodongmu telah habis. Tidak apa-apa. Hal seperti itu lumrah dan sangat wajar terjadi.
Membaca itu perlu amunisi, dan amunisi itu tidak harus hal-hal yang bersifat motivasi. Terkadang mood itu swing: sepoi-sepoi seperti angin di pegunungan, lalu mendadak hujan badai hingga mampu merobohkan pohon kelapa yang berdiri tegak sekokoh tekadmu mendekati gebetan. Jadi, membaca bukan sekadar kemauan, tapi juga kenyamanan. Masalahnya, level nyaman setiap orang berbeda-beda, tidak seperti siaga 1-2-3 pada letusan gunung berapi yang sudah punya standar sendiri. Untuk bisa berada di level gemar membaca buku apa saja dan di mana saja, memang tak butuh bakat, melainkan jam terbang.
Salah satu benda kecil yang sebenarnya bisa dibilang penting dan tidak penting adalah pembatas buku. Sering kita melihat seseorang melipat ujung halaman buku untuk menandai sampai di mana kita membaca. Semakin sering jeda membaca, maka semakin banyak juga bekas-bekas lipatan di lembaran buku. Kalau buku itu milik sendiri sih suka-suka hati ya. Bagaimana kalau itu buku pinjaman? Bisa-bisa dianggap tidak bisa menempatkan diri.
Membaca itu hampir serupa dengan menonton film di rumah. Akan selalu ada gangguan. Baru menonton drama korea 20 menit, tetangga ketok pintu minta tolong diantar ke bengkel karena sepeda motornya rusak. Otomatis, harus pause dulu dong. Sama halnya saat membaca. Baru saja membalik halaman ke-7, tiba-tiba ponsel berdering. Kalau hanya panggilan dari agen asuransi atau kartu kredit, mungkin bisa dipercepat. Tapi bagaimana kalau dari pacar? Tentu butuh waktu berjam-jam yang pada akhirnya membuat buku harus kembali terabaikan. Di sinilah peran pembatas buku menjadi penting.
Pada satu kesempatan, seseorang bisa menggunakan media apa pun untuk menggantikan peran itu. Pulpen, penggaris, daun, juga kertas. Apa saja bisa. Bahkan kalau kamu termasuk orang yang susah move-on, foto mantan juga bisa dipakai sebagai pembatas buku. Tentu saja efek samping ditanggung sendiri oleh pelaku.
Sayangnya, setiap buku belum tentu ada pembatasnya. Jadi bagi pembaca yang memang menganggap pembatas buku ibarat micin di kuah bakso, maka selalu ada cara untuk bisa menyimpan jeda baca tanpa harus merusak buku: entah itu terlipat, tercoret, atau kotor. Dan yang paling penting, pembatas buku itu seperti asisten pribadi: tidak pernah protes menunggu, bahkan cekatan menunjukkan dengan segera di bagian mana kita harus mulai kembali membaca. [] Redaksi
