Dunia Buku

Buku Pertama

Jika buku bisa bicara, mereka tentu akan sepakat dengan kalimat don’t judge a book by its cover. Sebenarnya, buku itu sama persis seperti manusia: tidak bisa memilih terlahir dari siapa, berwarna apa, serta bernasib bagaimana. Mungkin justru lebih tepat jika buku-buku itu sendiri yang mengatakan kalimat saktinya di depan manusia. Syukur-syukur berhadapan, jadi bisa adu lama main melotot-melototan. Siapa yang lebih dulu berkedip, dialah yang kalah.

Beruntung buku memang tak bisa bicara secara langsung. Coba bayangkan jika mereka bisa menyuarakan dirinya. Mungkin buku kumpulan cerpen Cara Jitu Korupsi akan jadi salah satu utusan rakyat yang berhasil duduk di kursi parlemen. Atau novela Tugasmu Hanya Bersolek akan menjadi brand ambassador produk kosmetik dari Korea. Persaingan akan ada di mana-mana. Manusia versus buku. Mungkin buku-buku itu akan menjambak rambut manusia. Lalu manusia akan membalas dengan merobek-robek halaman buku sampai hancur. Atau bisa saja keduanya justru saling mendukung satu sama lain hingga terciptalah persahabatan bagai kepompong.

Ada lagi kesamaan manusia dengan buku. Mereka punya kelebihan dan kekurangan. Tentu kelebihan dan kekurangan itu sangat relatif. Pada dasarnya, buku juga ingin diperhatikan. Masing-masing buku di atas rak selalu berharap untuk dilirik, dipegang, lalu dibawa pulang. Mereka ingin jadi nomor satu. Meski setelahnya, mereka harus bisa menerima kenyataan perihal nasib: terus dibaca, disimpan, atau justru berpindah tangan. Tapi bagaimanapun, mau tidak mau, suka tidak suka, sampul tetap akan menentukan jalan hidup buku-buku itu berikutnya. Seperti manusia yang diciptakan berpasang-pasangan, buku juga kelak akan menemukan jodohnya.

Seseorang pada akhirnya pasti memiliki alasan untuk memilih sebuah buku. Ada yang memilih memang karena butuh: sedang merintis usaha warung, maka beli buku resep sambal dan masakan. Ada yang memilih karena penasaran: suka cerita-cerita horor, lalu beli novel tentang misteri dan pembunuhan. Bahkan ada juga yang pada akhirnya menentukan pilihan karena dijodohkan, misalnya wajib menggunakan buku dengan judul tertentu sebagai penunjang pendidikan atau pekerjaan.

Namun, di antara tumpukan buku yang berjejer rapi di rak toko, selalu ada satu buku yang akhirnya terpilih sebagai buku pertama. Buku pertama yang menemani perjalanan seseorang dalam dunia literasi. Buku pertama yang mungkin dibeli dengan uang tabungan sendiri. Buku pertama yang mungkin membuat seseorang jatuh cinta pada membaca. Buku pertama yang membuat seseorang tersadar bahwa ada dunia lain yang lebih luas dari sekadar rutinitas sehari-hari.

Buku pertama mungkin bukan menjadi buku yang paling disuka. Bisa jadi, isinya terasa membosankan atau sulit dipahami. Tapi buku pertama akan selalu bisa meninggalkan kesan bagi pembacanya. Layaknya ciuman pertama bersama kekasih, penuh kejutan dan menggelora. Ada rasa penasaran, ada sedikit kegugupan, tapi ada juga kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Seiring berjalannya waktu, koleksi buku bertambah, rak mulai penuh, dan pilihan bacaan berubah. Namun, buku pertama akan selalu punya tempat istimewa di hati. Ia adalah pintu gerbang menuju petualangan baru, guru pertama, dan saksi bisu perjalanan seseorang dalam menemukan dunia yang lebih luas dalam lembaran kata. Jadi, buku pertama kamu apa? [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *