Dunia Buku

Romantisisme di Perpustakaan

Bagi generasi milenial ke atas, perpustakaan bisa jadi rekomendasi tempat paling asyik untuk nongkrong. Tapi jangan harap bisa sambil merokok atau ngopi, apalagi ngomongin si A yang habis beli Z, atau si B yang lagi patah hati. Biasanya, murid yang berhasil lewat pintu perpustakaan selalu punya alasan kuat. Meski tak sekuat Gatotkaca.

Aturan pertama, di perpustakaan tidak diperbolehkan makan dan minum. Hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian. Kadang orangtua memang sengaja kasih uang saku mepet. Saking mepetnya sampai habis di jam istirahat pertama. Supaya tidak dianggap tak tahu diri karena keseringan incip-incip jajanan teman, maka masuk perpus akan lebih terhormat. Tinggal pilih buku tebal acak di rak. Ambil tempat di pojokan. Lalu duduk manis, taruh buku di atas meja, maka jadilah bantal keras paling nyaman untuk tidur. Jangan cemas jika tidak ada yang membangunkan. Suara bel tanda masuk biasanya lebih sumbang dan mengagetkan dari bentakan kepala sekolah saat lupa memakai sepatu warna hitam waktu upacara.

Aturan kedua, meminjam buku maksimal hanya 2 dan harus kembali dalam seminggu. Kalau ini bisa untuk sekadar gaya-gayaan. Dulu, cewek yang suka baca biasanya jadi idola. Apalagi cantik. Apalagi pintar. Wah, kalau sudah begitu biasanya akan jadi rebutan. Slogan “siapa cepat dia dapat” akan tiba-tiba menghantui pikiran-pikiran cowok. Kadang, mereka main halus. Sengaja ikut-ikutan masuk perpus untuk pinjam buku, 2 lagi, biar si cewek terkesan. Kalau perlu, buku yang judulnya agak berat, jadi akan maklum kalau tidak pernah berhasil terbaca tuntas yang akhirnya kena denda karena lupa mengembalikan tepat waktu.

Aturan ketiga, wajib mengganti jika buku hilang. Nah ini, biasanya kalau sudah suka dengan 1 buku, apalagi novel, pengarangnya terkenal, lebih lagi pujaan hati ngefans. Kadang pikiran bisa jauh lebih pendek dari akal. Demi bisa punya koleksi novel keren, hilang bisa jadi alasan untuk tidak mengembalikan. Tinggal pasang muka paling melas dan penyesalan mendalam, biasanya penjaga perpus akan luluh. Paling banter hanya akan kasih denda, dan nominalnya pasti di bawah harga buku itu. Biasanya sih, murid-murid begini sudah bestie-an dengan penjaga perpus.

Aturan keempat, di perpustakaan tidak boleh berisik. Lagi-lagi soal perasaan. Pedekate generasi milenial ke atas itu ibarat puisi: singkat, padat, tapi penuh arti. Tidak perlu banyak bicara, cukup tatapan mata dan senyuman tipis sudah bisa menjadi bahasa paling lugas bagi dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Bahkan, buku-buku puisi Chairil Anwar yang tergeletak di atas meja, tidak menarik lagi untuk dibaca. Karena apa yang ada di depan mata jauh lebih puitis dan memabukkan.

Percayalah, perpustakaan memang memiliki sisi semanis itu. Meski kadang banyak sekolah selalu menempatkan ruang perpustakaan di sudut paling jauh, hingga tampak menyeramkan layaknya rumah kosong. Tapi buku-buku yang terlihat masih bersampul rapi, dengan bangku dan meja yang hampir selalu tak pernah penuh sesak, menyimpan banyak kenangan dan kenakalan-kenakalan masa sekolah. Jadi, jika ada di antara kalian masuk generasi Z, apakah kalian pernah punya pengalaman semacam itu di perpustakaan? [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *