Dunia Menulis

Saat Remeh-temeh Menjadi Emas

Orang sering berpikir bahwa ide tulisan harus datang dari wahyu besar. Seakan-akan kalau bukan tentang revolusi dunia, cinta yang menggetarkan semesta, atau perjalanan heroik melawan monster berkepala tujuh, maka idenya tidak layak ditulis. Padahal, seringkali, yang paling menarik justru hal-hal remeh yang biasanya kita abaikan begitu saja.

Coba lihat sekeliling. Apa yang ada di depanmu sekarang? Segelas kopi yang mulai mendingin? Kenapa kopi selalu dibiarkan dingin saat orang sibuk? Apakah kopi yang dingin itu merasa tidak dihargai? Bisa saja ada teori konspirasi bahwa kopi sebenarnya lebih suka diminum dalam keadaan dingin, tapi manusia yang keras kepala memaksanya untuk tetap panas. Nah, ini bisa jadi ide tulisan.

Atau, pernahkah kamu memperhatikan orang yang mengetik dengan sangat keras di keyboard, seakan mereka sedang marah pada dunia? Apakah mereka sedang menulis email penuh emosi, atau mungkin hanya memainkan Minesweeper dengan penuh semangat? Bisa saja ada cerita tentang seorang hacker yang menulis kode dengan penuh dendam, atau seorang penulis novel yang mengetik keras hanya agar tampak produktif di hadapan orang lain.

Intinya, ide menulis tidak harus berasal dari pengalaman besar. Justru, hal-hal kecil yang sering diabaikan bisa jadi tambang emas bagi tulisan yang unik. Sebuah lampu yang berkedip di kamar? Mungkin ia adalah morse dari dimensi lain. Sebuah sandal jepit yang hilang sebelah? Bisa saja ia bosan dengan pemiliknya dan memutuskan mencari kehidupan baru. Atau mungkin ada sindikat sandal jepit sebelah yang punya ambisi besar perihal pembunuhan?

Kalau kamu masih merasa buntu mencari ide, coba ambil benda acak di dekatmu. Misalnya, tisu. Apa yang bisa ditulis tentang tisu? Seberapa sering tisu terjebak dalam saku baju lalu ikut masuk ke mesin cuci, hancur berkeping-keping, dan menciptakan miniatur badai salju di seluruh pakaian? Apakah tisu punya perasaan dan merasa gagal menjalankan tugasnya?

Menulis itu tidak harus selalu serius. Tidak perlu menunggu momen ketika petir menyambar dan ilham turun dari langit. Cukup lihat sekeliling, pilih hal yang tampak sepele, lalu tanyakan: Bagaimana kalau? Bagaimana kalau stopkontak di rumah punya kepribadian dan selalu bersedih saat tidak ada yang mencolokkan kabelnya? Bagaimana kalau ada spesies kucing yang hobi mencuri kata-kata dari kepala manusia, membuat orang lupa apa yang ingin mereka katakan?

Jadi, kalau kamu ingin mulai menulis, berhentilah mencari “ide besar.” Sebaliknya, mulailah memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Ide tidak harus masuk akal sejak awal. Kadang yang paling ngawur justru yang paling menarik. Yang penting, tulis saja dulu. Karena kalau kamu tidak menulis, ide itu hanya akan tetap jadi sekadar ide, dan itu jauh lebih sia-sia daripada segelas kopi yang keburu dingin. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *