
Dulu, orang yang hobi baca dijuluki kutu buku. Identik dengan kacamata tebal, rambut lepek, dan kehidupan sosial yang sekering daun gugur. Tapi zaman sudah berubah, Bung! Sekarang, orang berkacamata belum tentu doyan baca, bisa jadi cuma buat gaya atau sekadar menutupi mata panda akibat begadang nonton serial. Lagipula, siapa sih yang masih ribet bawa buku tebal kalau semua bisa diakses lewat gawai?
Buku fisik mulai tergeser. Baca berita? Tinggal buka portal online. Butuh resep masakan? Google punya segalanya. Mau baca novel? E-book banyak, audiobook lebih praktis, tinggal dengerin sambil rebahan. Bahkan ada yang malas baca tapi pengen pintar, akhirnya cuma ngandelin thread X atau video singkat yang katanya mencerahkan. Tanpa perlu khawatir buku lecek, terlipat, atau kena tumpahan kopi. Cuma satu musuh: baterai habis!
Tapi tunggu dulu, bukan berarti buku musnah dari peredaran kayak dinosaurus. Masih ada perpustakaan, toko buku, dan kios buku bekas yang setia menunggu pembeli. Sekolah pun masih pakai buku paket dan LKS, meski muridnya lebih sering mengandalkan hasil copy-paste dari internet. Intinya, buku fisik dan digital punya penggemarnya masing-masing. Tidak ada yang lebih unggul, semua tergantung selera dan kebutuhan.
Dulu kita percaya, membaca adalah jendela dunia. Sekarang? Jendelanya udah makin banyak: podcast, video, infografis, bahkan komentar-komentar netizen yang kadang lebih seru dari berita utamanya. Setiap orang punya cara sendiri untuk menyerap informasi. Ada yang suka membaca dalam diam, ada yang lebih nyaman mendengar orang lain bercerita, ada juga yang tidak bisa diam sambil baca, harus sambil ngemil atau goyang-goyang kaki.
Bahkan dunia pendidikan yang dulunya bergantung pada buku cetak, sekarang sudah mulai beralih ke materi digital. Tugas sekolah bisa diketik di Google Docs, PR tinggal difoto pakai aplikasi, dan kalau malas membaca, ada AI yang bisa merangkum isi buku dalam hitungan detik. Dengan kemudahan ini, buku cetak memang makin tersingkir, tapi bukan berarti kehilangan makna.
Meski begitu, buku tetap punya nyawa. Dia bukan sekadar benda mati yang tergeletak di rak. Buku bisa menyimpan sejarah, mengabadikan cerita, dan menjadi saksi perjalanan peradaban. Hidup ini memang tentang hari ini, tapi buku bisa membawa kita ke masa lalu dan masa depan dalam sekejap. Dan yang menarik, buku tidak pernah memaksa dibaca. Dia cuma diam, menunggu seseorang membukanya. Seperti jendela kamar, kadang dibuka lebar, kadang ditutup rapat. Semua tergantung penghuninya, mau menikmati udara segar atau betah dalam kegelapan sendiri?
Pada akhirnya, membaca tetap menjadi cara terbaik untuk memahami dunia, entah itu lewat buku fisik atau digital. Yang penting, jangan sampai kita lebih sering membaca komentar media sosial ketimbang buku. Karena kalau begitu, yang ada bukan membuka jendela dunia, tapi malah nyangkut di jendela gosip dan hoaks! [] Redaksi
