Cerpen

Pagi yang Indah dan Sebuah Adegan Bunuh Diri yang Gagal

Cerpen Ludira Lazuardi

Saat itu pukul empat dini hari. Indrian berdiri di balkon lantai dua rumahnya untuk menikmati ranum pagi. Dia masih kepikiran tentang pernikahan mantan kekasihnya yang dilangsungkan kemarin. Sungguh beruntung dirinya yang sudah terbebas dari jerat palsu si jalang, sekaligus merasa kasihan kepada laki-laki yang menjadi suami wanita itu sekarang. Jika memang punya otak, seharusnya laki-laki itu berlari sekencang-kencangnya, bukannya malah melamarnya. Tinggal menunggu waktu sampai si laki-laki masuk penjara karena melakukan sesuatu di luar kendali karena saking muaknya akan kelakuan si wanita, seperti dirinya.

Indrian berdiri diam di balkon yang baru selesai dibangun empat bulan lalu tetapi baru bisa dia tempati satu bulan kemudian. Ia memandang takjub sekitarnya. Padahal dia hanya berada beberapa meter lebih tinggi dari tanah. Namun, dari atas situ rasanya segalanya tampak lebih indah. Gemintang tampak lebih gemerlap tanpa terhalang pohon atau atap sementara rumah-rumah tetangga di bawah sana hanya berupa bayang-bayang tanpa makna. Keheningan yang melingkupi dan udara segar yang mengalir lembut ke paru-paru membantu Indrian memaafkan masa lalunya. Kadang dia masih bisa merasakan dinginnya lantai penjara menyengat kulit. Darahnya masih sering mendidih yang mungkin bisa memicu hipertensi dan penyakit jantung jika saja nasihat ustaznya dia abaikan. Sudah tiga bulan ini Indrian bangun sebelum azan subuh berkumandang untuk melaksanakan salat sunah menyambut fajar, memperbanyak zikir, dan berhenti merokok. Dia adalah mantan narapidana yang saleh, terus belajar agama, dan tidak pacaran.

Tak berselang lama, kedamaian Indrian di bawah gemintang itu mesti terusik. Secara naluriah, ia memandang ke arah barat daya di mana asap mulai mengepul di atas atap rumah salah satu tetangganya. Bukan, bukan pada asapnya, tetapi pada sepasang mata yang Indrian pikir sedang menatapnya. Manusia diberikan kepekaan untuk menangkap isyarat samar lingkungan dan ilusi persepsi tubuh sebagai respons kewaspadaan alami. Jadi, bahkan dari jarak dan suasana itu, Indrian bisa merasakan ancaman dari tatapan sepasang mata. Indrian pun tak bisa memalingkan muka ketika orang yang menatapnya mulai beranjak dari depan pintu dapur yang terbuka, menuju ke arahnya.

Firasat buruk lebih dulu menghampiri Indrian sebelum Bu Yem sampai di rumahnya. Dari dulu, Indrian tidak pernah menyukai Bu Yem. Tetangganya itu seperti memiliki karakteristik yang sama dengan Reni si mantan. Diawali dari pengakuan Bu Yem—sambil tertawa bangga—bila ia sudah berhasil meracuni kucing liar yang sering diberi makan oleh Indrian, padahal sebelumnya Bu Yem pernah memuji-muji Indrian yang begitu peduli kepada kucing liar itu. Sejak itulah benih ketidaksukaan terhadap janda beranak satu itu tertanam di bawah sadar Indrian. Tiap kali ia melihat Bu Yem—yang mana sulit untuk tidak terjadi karena mereka tetangga—alarm bahaya selalu menyala terang, seperti sekarang ini.

Indrian turun dari lantai dua dan keluar rumah tepat saat Bu Yem sampai di halaman. Dengan begitu, dia bisa menghindarkan Bu Yem memasuki teras.

“Ada apa, Bu?” Indrian tak bisa memikirkan kata-kata lain yang lebih pas untuk ditanyakan. Bukannya langsung menjawab, Bu Yem malah terisak. Indrian maju satu langkah dan refleks menengok ke kanan dan ke kiri sebelum ia mengulangi pertanyaannya.

“Kenapa, Bu?”

Kini isakan Bu Yem berubah jadi teriakan histeris seiring azan subuh berkumandang. “Saya mau mati saja!”

“Lo, lo. Istigfar, Bu. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Allah tidak akan menguji hambanya di atas batas kemampuannya.” Indrian terngiang kata-kata ustaznya dan mengucapkannya begitu saja.

“Saya sudah tidak kuat. Saya capai harus main kucing-kucingan terus. Saya capai dikejar-kejar. Mereka terus memaksa saya padahal saya memang benar-benar tidak mampu. Saya mau mati saja.”

Mendengar hal itu, Indrian mulai bisa menerka apa inti pokok masalah yang membelit Bu Yem. Memang dia sering melihat beberapa laki-laki berjaket kulit yang bau parfumnya bisa tercium dari jarak puluhan meter mendatangi rumah Bu Yem. Ganti hari ganti orang, tetapi dengan ciri yang khas dan sama—bank plecit. Yang masih membuatnya bingung, kenapa Bu Yem, pagi buta begini, memilihnya untuk diajak curhat.

“Anak saya satu-satunya tidak menyayangi saya. Andai dia setuju menjual tanah, saya tidak perlu menanggung malu seperti ini. Semua ibu PKK sekarang membenci saya, Mas. Nasib saya memang buruk karena punya anak durhaka seperti dia.” Bu Yem meraung-raung.

“Jangan begitu, Bu. Ucapan seorang ibu kepada anaknya itu sakral. Tidak boleh sembarangan.” Tanpa sadar, Indrian menggunakan kata-kata ustaznya lagi untuk mencoba menenangkan si tetangga. Bu Yem pun diam, ia memandang Indrian dengan memelas.

Hening yang tiba-tiba—hanya suara azan yang masih menggema—membuat bulu kuduk Indrian meremang. Dia celingukan seperti cacing yang disiram air sabun. Lalu terlontar kata, “Maafkan saya, Bu, saya tidak bisa bantu.”

Azan selesai. Bu Yem bangkit dan berlari menuju rumahnya sambil terus berteriak, “Saya mau mati saja!”

Indrian masih membutuhkan waktu untuk mencerna keadaan. Kedamaian dan keheningan yang baru saja ia nikmati dengan penuh syukur, seketika lesap karena kejadian tak masuk nalar. Tiba-tiba sebuah kesadaran menyergapnya. Bu Yem tampak tidak sedang bercanda. Dia khawatir Bu Yem akan melakukan tindakan nekat, lalu saat itu juga Indrian berlari mengejar Bu Yem.

Pak Yono yang rumahnya paling belakang, yang jika hendak ke masjid akan melewati rumah Indrian dan Bu Yem, penasaran dengan kegaduhan yang terjadi. Ia makin kaget saat beberapa meter di depan matanya, ia melihat Bu yem berlari sambil menangis dari arah rumah Indrian, sesaat kemudian disusul Indrian yang berlari mengejar di belakangnya. Kecurigaan mencuat. “Ya Allah, jangan-jangan kejadian lagi,” ucapnya sambi mengelus dada. Pak Yono adalah orang yang dituakan di dusun itu. Dia tidak mungkin berpangku tangan dan cuek saja dengan kejadian luar biasa ini. Dia pun mengejar Bu Yem dan Indrian.

Apa yang dikhawatirkan Indrian benar terjadi. Bu Yem sudah berpegangan di bibir sumur timba yang ada dalam dapurnya. Ia berteriak, “Bu Yem, jangan lakukan. Allah paling membenci tindakan ini. Ibu tidak akan dimaafkan. Istigfar, Bu.”

“Saya mau mati, saya sudah tidak sanggup.” Sekedip mata, Bu Yem sudah duduk di bibir sumur. Indrian tak bisa memikirkan tindakan lain selain mendekat dan mendekap Bu Yem dari belakang.

“Jangan menyentuhku! Lepaskan! Jangan menyentuhku!” Bu Yem meronta-ronta. Indrian masih memeluknya dengan erat.

“Masyaallah, Indrian! Apa yang kamu lakukan?” Di antara sekian banyak pertanyaan yang bisa diajukan, Pak Yono mengeluarkan pertanyaan yang membuat Indrian sontak melepaskan pelukannya. Memang pertanyaan Pak Yono masih lazim saja, tidak aneh betul, dan tidak begitu kontradiksi dengan keadaan. Namun, kata-kata memojokkan itu memicu ketakutan dalam diri Indrian. Kata-kata itu yang terus terlontar ketika ia yang sudah dengan penahanan diri luar biasa, memukul Reni yang ketahuan selingkuh. Pukulan tak seberapa, tetapi berhasil menyeretnya masuk penjara.

Indrian, apa yang kamu lakukan? Indrian melepaskan pelukannya dan Bu Yem jatuh ke dalam sumur.

Kegaduhan itu tidak hanya menarik perhatian Pak Yono. Seluruh calon jamaah salat Subuh sudah berkumpul dalam dapur Bu Yem, menjadi saksi kejahatan yang dilakukan Indrian.

“Ya, ampun, sekali sudah jadi penjahat, susah tobatnya. Padahal kupikir dia sudah kapok, lo. Kayaknya sudah rajin ke masjid, kok masih tega menyakiti perempuan tak berdaya,” komentar ibu-ibu yang rukuhnya disampirkan ke bahu, diikuti komentar-komentar lain yang terdengar seperti dengungan sekelompok lalat hijau.

Bisik-bisik busuk itu memenuhi kepala Indrian. Awalnya dia mencoba bicara, menjelaskan kronologi kejadiannya. Tidak ada yang mau mendengar. Tidak ada yang mau percaya. Bisik-bisik busuk itu tidak memerlukan penjelasan apa pun. Indrian berteriak dan marah pada keadaan, pada orang-orang, pada dirinya sendiri, pada dunia.

“Dengarkan aku dulu brengsek!” teriaknnya akhirnya.

Pak Yono maju dan berusaha memegangi lengan Indrian, entah maksudnya untuk menenangkan atau mencegah Indrian kabur meski tidak ada tanda-tanda Indrian akan kabur tapi mungkin pikir Pak Yono bisa saja Indrian kabur. Indrian yang emosi menampis Pak Yono dan membuat laki-laki kecil setengah baya itu terempas ke belakang.

Beberapa calon jamaah salat subuh yang laki-laki maju dan menggantikan Pak Yono untuk menakhlukkan Indrian yang mulai tak terkendali.

 “Telepon polisi!” teriak salah satu di antaranya. “Telepon ambulans! teriak satunya.

Beberapa yang lain melongok ke dalam sumur. Bu Yem ada di sana, tidak mati hanya syok. Separuh badannya terendam air. Sepertinya dia berhasil menemukan pijakan atau memang sumurnya tidak sedalam yang ditakutkan orang-orang.

“Telepon damkar!” teriak entah siapa entah.

Betapa ini adalah sebuah pagi yang indah dan adegan bunuh diri yang aneh. Bu Yem segera dibawa ke rumah sakit setelah dinaikkan dengan katrol damkar. Wartawan berdatangan, memotret sana mewancarai sini, mengulik informasi dari Pak Yono yang paling mengerti dan paling peduli kepada warganya dan yang menjadi saksi utama kejadiannya.

Indrian diinterogasi di kantor polisi. Dan, seperti halnya para warga yang tidak mau mendengarkan, polisi lebih parah lagi. Lagi pula Indrian kalah suara. Semua saksi mata memberatkannya. Masa lalunya sebagai residivis tindak kekerasan terhadap perempuan memberatkannya. Undang-undang memberatkannya. Satu-satunya hal yang bisa melepaskan Indrian dari semua tuduhan hanyalah Bu Yem, yang sepertinya, sudah sejak semula, Bu Yem memang menginginkan adegan pagi buta itu terjadi.***

____________________

Ludira Lazuardi. Perempuan yang memelihara naga betina dalam kepalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *